[TIPS] FASILITATOR dan BIDAN: Beda peran satu metodologi

Peran fasilitator memiliki perbedaan yang sangat jelas dengan peran narasumber dan peran penceramah. Banyak orang menyebut dirinya sebagai fasilitator, namun seluruh metode pendidikannya tidak lebih dari seorang pembicara dalam sebuah seminar atau khotbah seorang Kiyai dalam sholat Jum’at.

Berikut ini beberapa tips untuk menjadi seorang fasilitator dalam arti yang sebenarnya.

Belajar dari Bidan
Peran fasilitator tidak ubahnya dengan peran seorang Bidan. Pengalaman bidan dalam membantu kelahiran seorang anak, merupakan filosofi dasar yang kiranya perlu direnungkan oleh seorang fasilitator. Kita tentunya pernah melihat bagaimana seorang bidan membantu proses kelahiran seorang anak, yang sudah jelas bukan anaknya sendiri. Namun dengan segala totalitas dan kompetensinya, semua itu dikerahkan semata-mata untuk kelahiran si bayi. Namun begitu si bayi lahir, ibunyapun langsung menggendongnya dan mendekapnya. Bidan pun cukup bahagia ketika dia dapat membantu proses kelahiran itu dan ketika melihat semua orang bahagia dengan keberhasilan proses kelahiran tersebut.
Seorang fasilitator dalam menjalankan peranannya juga tidak berbeda dengan seorang bidan. Peran fasilitator adalah berfungsi untuk memfasilitasi sebuah proses penemuan makna-makna baru dalam hidup partisipan, sama dengan bidan yang bekerja untuk memfasilitasi sebuah proses kelahiran. Ketika sebuah proses tersebut berhasil, hendaknya fasilitator pun seperti seorang bidan, yang cukup merasa bahagia ketika telah berhasil.
Penting juga untuk diperhatikan bahwa seorang fasilitator hendaknya menjauhkan diri dari pemikiran untuk menjadi yang paling didengarkan, yang paling diperhatikan, dan yang paling paling lainnya, karena memang keberhasilan proses terletak pada kedua belah pihak. Seperti pada proses melahirkan anak, Ibu adalah merupakan partisipan dan bidan adalah seorang fasilitator. Dapatkah proses kelahiran itu berhasil jika si bidan hanya berteriak-teriak namun si ibu tidak mengikutinya? Begitu juga sebaliknya, dapatkah si ibu melahirkan seorang diri tanpa bantuan bidan?

Menjadi Pelajar dari Pengalamannya Sendiri
Perhatian utama dalam proses memfasilitasi yang perlu diberikan oleh seorang fasilitator adalah pada kemampuan belajar masing-masing partisipan. Karena partisipan terdiri dari latar belakang serta kemampuan yang cukup beragam. Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang fasilitator dalam menjalankan perannya:
1. Melibatkan diri dengan partisipan secara penuh dan terbuka. Hal ini untuk mengantisipasi adanya prasangka yang berlebihan dari partisipan terhadap pengalaman barunya.
2. Melibatkan partisipan dalam proses berefleksi serta menyimak pengalamannya
3. Menyatukan konsep dengan percermatan ke dalam teori yang logis
4. Menggunakan teori untuk memicu partisipan dalam membuat keputusan dan menyelesaikan masalah.

SiMaK (Sigap, cerMat, peKa)
Dalam proses memfasilitasi sebuah proses, tentu akan ada banyak problem yang muncul. Hal ini biasanya kemudian dihubungkan dengan masalah personal dan kemampuan dari fasilitator. Beberapa karakteristik di bawah ini dapat digunakan untuk mengembangkan hal tersebut, yakni:
1. Kepribadian yang menyenangkan, dengan kemampuannya untuk menunjukkan persetujuan dan apa yang dipahami partisipan
2. Kemampuan sosial, dengan kecakapan untuk menciptakan dinamika kelompok secara bersama-sama dan mengotrolnya tanpa merugikan partisipan
3. Mampu mendesain cara memfasilitasi yang dapat membangkitkan, menggunakan pengetahuan dan ketrampilan partisipan sendiri selama proses berlangsung
4. Cermat dalam melihat persoalan pribadi partisipan.
5. Fleksibel dalam merespon perubahan kebutuhan belajar partisipan
6. Pemahaman yang cukup atas materi pokok pendidikan
Uraian singkat di atas, dapatlah dikerucutkan dengan satu kalimat, yakni: Seorang pelayan bagi sesamanya manusia. Inilah kiranya nilai dasar yang perlu direnungkan bagi seseorang yang ingin mengambil peran sebagai fasilitator. Fasilittaor bukan sebagai tokoh, sebagai ahli, apalagi sebagai artis, namun sebagai pelayan. Semoga dengan belajar dari seorang pelayan, kita dapat menjadi seorang fasilitator sejati. Selamat memfasilitasi.
Daftar Pustaka:
Fakih, Mansour, Roem Topatimasang dan Toto Rahardjo (2001). Pendidikan Popular Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Patricia Siswandi

No comments:

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...