[MASALAH KITA] Krisis Mutu Pangan di Indonesia

Penulis: Agustein Okamita dan Navita Astuti

Makanan merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Makanan yang masuk ke dalam tubuh berperan penting dalam mendukung kehidupan kita dan segala aktivitas yang kita lakukan. Agar pertumbuhan dan regenerasi sel-sel di dalam tubuh berlangsung dengan baik, sel-sel tubuh membutuhkan berbagai vitamin dan mineral yang diperoleh dari makanan dan minuman yang kita konsumsi.

Makanan mendukung vitalitas manusia. Namun, dari makanan jugalah penyebab utama munculnya penyakit-penyakit yang diderita manusia. Baik itu penyakit yang timbul secara langsung setelah makanan dikonsumsi (keracunan akibat mengonsumsi makanan tertentu), maupun penyakit menahun akibat gaya hidup seseorang dengan pola makan tidak sehat yang ia jalani selama bertahun-tahun.

Kita mungkin sering mendengar, kasus-kasus keracunan makanan. Tragedi Minamata (http://en.wikipedia.org/wiki/Minamata_disease)di Jepang
merupakan salah satu kasus yang paling terkenal. Pembuangan limbah merkuri oleh pabrik kimia Chisso Corporation selama bertahun-tahun (1932-1968) mengakibatkan akumulasi bahan berbahaya tersebut di dalam tubuh ikan dan hewan air yang hidup di teluk Minamata dan laut Shiranui. Penduduk lokal di sana banyak yang mengalami kematian dengan gejala kelumpuhan syaraf karena mengonsumsi ikan-ikan dan hewan laut tersebut.

Tangan yang lumpuh akibat tragedi Minamata
Kasus lainnya adalah keracunan tempe bongkrek yang terkontaminasi oleh bakteri Burkholderia galdioli yang terjadi di Jawa Tengah beberapa tahun yang lalu (http://www.indosiar.com/patroli/3-warga-tewas-6-orang-kritis-diduga-keracunan_58711.html).Bakteri Burkholderia galdioli menghasilkan asam bongkrek dan toksoflavin, yang meracuni sel-sel tubuh dan mengakibatkan kematian.

Umum pula diketahui bahwa pola makan tidak sehat, dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit-penyakit fatal seperti penyakit jantung, kanker dan diabetes.
Melihat semakin tingginya penyakit akibat rendahnya mutu pangan maupun pola makan tidak sehat dewasa ini, maka cukup penting bagi kita untuk mengembangkan sikap kritis dan waspada terhadap pangan yang kita konsumsi. Apakah masyarakat telah menyadari pentingnya memilih pangan yang aman, sehat dan bermanfaat bagi kehidupan mereka? Mari kita tengok sebentar apa yang sesungguhnya sedang terjadi dalam kancah industri pengadaan pangan di negara kita.

APA YANG SESUNGGUHNYA TERJADI DI DAPUR INDUSTRI PANGAN SAAT INI?
Revolusi Industri memberikan perubahan besar terhadap perkembangan teknologi di berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam industripenyiapan, pengolahan, dan pengemasanbahan-bahan pangan. Manfaat dari kemajuan teknologi industri adalah kita bisa mendapatkan makanan dengan lebih mudah dan lebih cepat. Tetapi dampak negatif dari teknologi industri adalah penurunan kualitas bahan makanan tersebut. Dampak negatif tersebut antara lain disebabkan oleh hal-hal berikut:
  • Teknologi pertanian menghasilkan pupuk-pupuk dan pestisida  sebagai sarana untuk mengoptimalkan hasil pertanian dan melindungi tanaman dari hama.  Namun, apakah para petani menggunakan pupuk dan pestisida dalam jumlah yang tepat? Penggunaan pupuk kimiawi dalam dosis berlebihan akan mengakibatkan gangguan pada struktur kimiawi tanah dan kerusakan ekosistem dalam jangka panjang.Sementara itu, pestisida kimia sintetik (non organik) yang digunakan memang terbukti efektif membunuh hama, tetapi residu pestisida  tertinggal di sayuran dan buah yang akan kita konsumsi. Mengonsumsi sayur dan buah yang mengandung pestisida non organik menyebabkan timbulnya penyakit dan gangguan fisik baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sayur dan buah yang sejatinya menyehatkan tubuh manusia, justru menjadi racun bagi tubuh, akibat penggunaan pestisida secara berlebihan.
  • Teknologi pakan ternak menciptakan makanan dan hormon-hormon pertumbuhan bagi hewan-hewan di peternakan. Peternak skala besar mengganti makanan ternak alami dengan makanan olahan yang berasal dari pabrik, karena lebih murah dan lebih mudah didapat dibandingkan dengan makanan ternak alami. Untuk dapat memenuhi pesanan industri makanan siap saji, mereka menggunakan hormon-hormon pertumbuhan agar ternak mereka dapat memenuhi persyaratan berat dan ukuran tertentu. Ternak penghasil susu juga diberi makanan dan hormon-hormon tertentu untuk dapat menghasilkan lebih banyak susu. Hormon-hormon itu disuntikkan ke dalam tubuh hewan ternak atau dicampurkan ke dalam makanannya, agar pertumbuhannya menjadi lebih cepat atau menghasilkan susu yang lebih banyak. Sayangnya hormon itu tidak dapat terurai dengan mudah di dalam tubuh ternak, dan ketika kita mengonsumsinya, zat tersebut masuk ke dalam tubuh kita. Apakah kita menyadari dampaknya terhadap kesehatan kita.
  • Susu bukanlah bahan pangan yang asing bagi kita, karena sebagian besar di antara kita minum susu sapi sejak kecil, bahkan mungkin sejak bayi kita sudah harus minum susu sapi. Dahulu susu sapi segar bisa diperoleh dengan gampang, para peternak langsung mengantarkan susu yang baru dari pemerahan ke rumah-rumah kita. Sekarang ini perusahaan-perusahaan susu mengambil peran sebagai perantara antara peternak dengan konsumen. Mereka mengolah susu dari peternak dan mengemasnya sedemikian rupa sebelum dikirim ke toko-toko dan dibeli oleh konsumen. Proses pengolahan dan pengawetan juga menurunkan nilai nutrisi yang dikandung oleh susu, selain penambahan zat-zat kimiawi yang sulit dicerna oleh tubuh kita. Penggunaan hormon bagi sapi penghasil susu juga membuat konsumsi susu sapi menjadi perdebatan saat ini.
  • Teknologi industri pangan membuat proses penggilingan padi dan gandum menjadi lebih cepat. Jika dulu padi ditumbuk untuk menjadi beras, sekarang beras diperoleh dengan proses penggilingan. Proses penambahan pemutih (bleaching) juga dilakukan untuk menghasilkan warna putih yang menarik bagi konsumen. Akan tetapi, beras dan gandum yang dihasilkan dari proses penggilingan sudah kehilangan banyak nutrisi alami yang terkandung di dalam padi.
  •  Tepung terigu yang berasal dari gandum yang telah kehilangan nutrisi alami diolah menjadi roti. Untuk menggantikan nutrisi yang hilang, roti yang dibuat diperkaya dengan berbagai zat kimia sintetik dan vitamin-vitamin kimiawi (enrichment). Zat-zat kimia sintetikyang ditambahkan ke dalamnya sulit dicerna dan diserap oleh tubuh. Bahkan bahan-bahan kimia sintetis yang ditambahkan ke dalam beras atau terigu untuk mengawetkan dan menghasilkan warna yang menarik justru berbahaya bagi kesehatan kita.
  • Industri yang membuat mesin-mesin pengolahan dan pengemasan makanan mempermudah manusia dalam memperoleh makanan yang lebih awet dan lebih praktis untuk dibawa ke mana-mana. Salah satu hasil teknologi industri pangan yang sangat kita kenal saat ini adalah mi instan. Saat ini mi instan merupakan salah satu makanan yang paling banyak dijual dan dikonsumsi masyarakat, mulai dari kalangan ekonomi lemah sampai orang kaya. Dengan kemajuan industri, mi dikeringkan dan dikemas sedemikian rupa agar mudah dibawa ke mana saja dan disajikan kapan saja.
  • Industri kimia membuat berbagai bahan-bahan kimia sintetik seperti pewarna, penyedap, dan pengawet, yang ditambahkan ke dalam bahan-bahan makanan. Daging olahan dan makanan siap saji memang terasa enak di lidah. Tetapi tahukah kita bahwa setiap proses pengolahan akan mengurangi nutrisi yang terkandung di dalam daging dan makanan tersebut? Selain itu, penambahan zat-zat artifisial seperti pengawet, pewarna, dan penyedap rasa, juga memberi dampak negatif bagi tubuh kita. 


Makanan Olahan Biasanya diberi tambahan bahan pengawet dan penyedap http://himikaung.files.wordpress.com/2011/03/bahan-kimia-dalam-makanan11.jpg

Tanpa makanan kita tidak bisa menjalani kehidupan dengan baik. Di dalam makanan terdapat komponen-komponen yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh kita. Tetapi, apa jadinya jika makanan yang kita makan sehari-hari justru merusak kehidupan normal kita?

APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN?
Pengadaan pangan yang aman, sehat dan bermanfaat bagi kehidupan merupakan tugas seluruh lapisan masyarakat, mulai dari produsen, konsumen, hingga aparatur negara. Oleh karena itu, untuk menghindari semakin merosotnya mutu pangan di negara ini, hendaknya masing-masing pihak mengambil langkah berikut :
  • Di pihak produsen, hendaknya tidak mementingkan keuntungan bisnis semata dalam mengolah bahan pangan. Produsen hendaknya mematuhi etika dan ketentuan produksi  pangan yang berkualitas. Di kalangan industri pangan dan pertanian kini telah dikenal sistem pengawasan mutu pangan yang disertai dengan standar dan parameter tertentu yang harus dipatuhi, misalnya ISO 9000, ISO 14000. Hal itu hendaknya juga disertai dengan praktik-praktik seperti Good Agricultural Practice (GAP), Good Handling Practice (GHP) dan Good Manufacturing Practice (GMP) yang kesemuanya merupakan prinsip-prinsip yang perlu dijalankan dalam upaya menaikkan mutu pangan yang aman dan berwawasan lingkungan hidup.
  • Di pihak konsumen, hendaknya juga mulai mengembangkan sikap kritis dalam memilah pangan yang akan dikonsumsi. Pepatah mengatakan, “You are what you eat” atau “Dirimu mencerminkan apa yang kamu makan” patut menjadi pegangan. Orang yang sehat dan segar jasmaninya, adalah orang yang selektif mengonsumsi makanan berkualitas bagi tubuhnya. Sebaliknya, orang-orang yang telah mengidap penyakit-penyakit seperti diabetes, hipertensi, adalah orang-orang yang semasa hidupnya tidak mengontrol asupan makanannya. Selain itu, kesadaran akan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengawasan mutu pangan juga penting untuk dibangkitkan. Sikap kritis masyarakat dalam pengawasan mutu pangan tentu akan menjadi dorongan positif bagi para produsen untuk melakukan proses produksi pangan yang sesuai dengan peraturan dan etika yang berlaku.
  • Di pihak pembuat kebijakan, pemerintah dan penegak hukum, hendaknya memberlakukan sistem manajemen mutu pangan yang terintegrasi, dari hulu hingga hilir, disertai peraturan yang jelas, pengawasan menyeluruh serta sanksi-sanksi bagi yang tidak mematuhi.

Konsumen yang kritis dan peduli terhadap mutu pangan akan mendorong terciptanya produsen yang juga patuh pada proses produksi yang aman dan bermutu. Pada akhirnya, tanggung jawab terhadap upaya pengendalian mutu pangan terletak di tangan kita semua. Maka, sudah saatnya segenap lapisan masyarakat senantiasa mengembangkan sikap kritis terhadap produk pangan yang ada, dari proses pengadaannya di lahan pertanian, hingga proses pengolahan dan pendistribusian produk pangan tersebut. 

·  

No comments:

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...