[TIPS] Makanan Sehat Itu Murah

Penulis: Maya A. Pujiati

            Produk organik telah menjadi populer beberapa tahun belakangan ini. Demi kesehatan, orang mau bersusah payah untuk mendapatkannya. Namun seiring dengan popularitasnya yang menanjak, harga produk organik di pasaran ternyata lebih mahal dari sayuran biasa.  Satu ikat kangkung, misalnya,  jika berlabel organik bisa berharga 2 sampai 3 kali lipat daripada kangkung tak berlabel.

            Secara logika, biaya pertanian dengan cara alami seharusnya  lebih murah dibandingkan dengan cara modern. Pupuk dan pestisidanya bisa berasal dari bahan-bahan yang tersedia di alam. Terlebih di masa sekarang,  telah ditemukan berbagai teknik pembuatan kompos dari sampah organik yang sangat mudah dan sederhana. Setiap orang bisa membuatnya dan biaya bertanam bisa semakin berkurang. Penyebab  paling mungkin dari mahalnya produk organik adalah berlakunya hukum pasar: makin diminati, harga makin tinggi.

            Pada dasarnya,  semua itu hanyalah pilihan. Masanubo Fukuoka (praktisi pertanian alami dari Jepang) memberi contoh yang indah tentang hal itu. Ia justru menolak dan marah besar ketika sayur dan buah-buahan organiknya dijual lebih mahal oleh bandar di kota. Fukuoka berprinsip, bertani bukanlah semata untuk mencari keuntungan, melainkan demi sebuah nilai yang lebih tinggi, yaitu berkontribusi dalam menyediakan pangan bagi manusia lainnya. Jika produk pertanian organik menjadi mahal maka hanya orang-orang kaya yang  mau membelinya, sedangkan mereka yang miskin tetap memilih makanan yang tidak sehat. Hal itu tidak adil bagi kemanusiaan1.

Menghindari Mahal
            Sejak kecil saya dibiasakan ibu untuk menyantap makanan alami. Kehidupan di kampung mungkin pada umumnya memang sama seperti itu. Sekalipun mulai dikenal vetsin dengan merek yang sangat klasik dan pewarna makanan serbuk untuk membuat warna makanan camilan menjadi menyala,  namun tingkat penggunaannya relatif lebih kecil dibandingkan sekarang.

            Di masa itu, orang-orang kampung masih mewarisi kebiasaan leluhurnya untuk menanam segala macam kebutuhan pangan di sekitar pekarangan, tanpa pestisida. Menanam dalam skala kecil memang lebih aman dari hama dibandingkan pertanian massal. Bumbu-bumbu dan sayuran, juga kebutuhan protein dari telur dan daging “ditabung” di halaman. Kebutuhan  pupuk dipasok dari kandang  ternak  dan dedaunan kering yang jatuh dari pohon buah-buahan mereka.

Makanan Alami (Foto: dokumentasi penulis)
            Jika menginginkan penambah rasa, orang cukup  menggunakan kaldu ayam kampung atau santan kelapa hasil parutan sendiri dari pohon di kebun sendiri. Kebutuhan lemak tak perlu mengandalkan mentega, namun cukup dengan lemak kambing atau lemak sapi yang dikeringkan. Pewarna dan pewangi makananpun terkumpul di dalam tanaman pandan dan suji yang tumbuh subur di sudut kolam. Itulah kehidupan sehat yang sedang saya coba tiru kembali.

            Persepsi bahwa produk organik itu harus mahal, jelas menjadi gugur jika kita mau melakukan kebiasaan orang-orang di masa lalu semacam itu. Modalnya, hanyalah kemauan.

Berkebun
Terkait berkebun, ada ulasan menarik dari  Nina Planck, dalam bukunya berjudul, “Real Food, Hidup Bebas Penyakit dengan Makanan Alami.”

            Nina yang dibesarkan di daerah pertanian bercerita bahwa pertanian tradisional dan pertanian modern (pabrikan) itu berbeda. Buah-buahan pabrik tidak bisa dipetik saat masak, karena tidak akan bisa bertahan lama dalam perjalanan yang bisa jadi mencapai ribuan mil. Tomat misalnya, dipetik saat “masih hijau” dan “keras” dan dibuat masak dengan gas etilena. Anggur atau buah-buahan dalam keluarga beri bisa tetap segar dan cemerlang warnanya selama 3 minggu karena diberi radiasi. Efek radiasi menguntungkan supermarket namun melenyapkan aneka vitamin penting di dalam buah-buahan2.

            Sayuran dan buah yang ditanam secara massal untuk kebutuhan komersial diproses dengan begitu banyak paparan bahan-bahan kimia yang mengancam kesehatan. Kalau label organik pun tak menjamin kemurnian produk pertanian, maka wajarlah jika orang akhirnya cenderung berusaha menanam sendiri.

Kebun (Foto: dokumentasi penulis)
            Saya belum sepenuhnya mengandalkan pasokan sayuran dari  kebun sendiri. Namun secara prinsip, saya menyadari betapa pentingnya untuk berusaha ke arah itu. Kebun saya yang tetap belum rapi meski selalu saya bayangkan bisa rapi, kini sedang berisi tanaman labu siam, roay/kara (sejenis kacang-kacangan), singkong (untuk diambil daunnya), katuk (sejenis tanaman perdu yang bisa diambil daunnya), cabai rawit, tomat, kacang tanah, bayam merah, bayam belang, pepaya, basil, kemangi, terong ungu, dan oyong (sayuran buah yang tanamannya merambat).

            Hal yang menarik,  anak-anak saya memiliki satu kesan yang sama ketika menyantap sayuran hasil tanam sendiri, yaitu  terasa lebih enak, manis, dan gurih. Jadi, berkebun memang “tetangga dekat” dari  hidup sehat dan kaya makanan lezat.

Beli Instan atau Memasak Sendiri?
            Tidak semua bahan pangan bisa disediakan sendiri di kebun. Namun kita tetap harus memilih, makanan jenis apa yang kita beli. Produk siap makan ataukah bahan mentah dan kita memasaknya sendiri?

            Sebagai sebuah perbandingan, harga jajanan instan  makin terjangkau. Makanan jenis keripik atau kerupuk yang dibungkus dalam kemasan menarik bisa dibeli dengan harga seribu atau dua ribu. Akan tetapi, makanan itu  tidak mengenyangkan. Anak-anak akan cenderung melakukan pembelian berulang atau menjajal jenis lainnya dalam waktu yang berdekatan. Alhasil, anggaran jajan sebenarnya bisa jauh membengkak jika dibandingkan dengan membuat camilan sendiri.

            Saya coba contohkan mie instan. Saya sudah tidak ingat persis kapan terakhir kali menyantapnya. Awalnya, kami masih menjadikan mie instan sebagai alternatif hidangan hiburan di akhir pekan atau sebulan sekali. Makan bareng di teras atau di dalam rumah saat hujan turun sangat menyenangkan. Sayangnya, sekalipun sudah ditambahi sayuran kebun di dalam hidangan mie, dampak zat aditifnya tidak hilang begitu saja. Sariawan, batuk, dan radang tenggorokan, paling sering menjadi indikasi ke arah itu pasca makan mie instan.  Karena itu, kami memutuskan berhenti mengonsumsinya.

            Karena anak-anak sudah terlanjur menyukai mie, sebagai penggantinya saya ajak mereka membuat mie sendiri. Anak-anak senang karena lewat kegiatan itu mereka akan punya kegiatan yang menantang.  Dan yang menarik, setelah dihitung-hitung, biaya yang kami keluarkan untuk membuat mie sendiri jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli mie yang sudah siap masak.

            Cukup bermodalkan ¼ kg terigu, 1 butir telur, ½ sdm garam, dan sesendok minyak goreng, kami bisa mendapatkan stok mie yang lebih sehat untuk 6 porsi. Walaupun bahan bakunya tetap diproduksi pabrik, setidaknya dari sisi  bahan, beberapa unsur yang dianggap berbahaya bisa dihilangkan. 

Membuat Mie Bakso (Foto: dokumentasi penulis)

            Anak-anak  juga senang mencoba membuat camilan lain yang mereka sukai. Sebagian adalah makanan modern dan sebagian lainnya makanan tradisional. Saya belikan buku resep makanan tradisional atau mencari resep gratis di internet. Kami sudah mencoba membuat kue cucur, roti,  serabi, urap talas, nagasari, bugis, bakso ayam, siomay, dan bahkan membuat minyak goreng dari santan kelapa. Singkong goreng, ubi rebus, talas kukus, atau kolak labu kuning, juga jadi favorit anak-anak .

            Bagi saya, proses pembuatan makanan di rumah memberikan 3  keuntungan: pertama, anak-anak mendapat makanan yang lebih sehat; kedua, keterampilan mereka juga bertambah; dan ketiga, mengakarkan kebiasaan sehingga lidah mereka dan selera mereka terbentuk melalui pengalaman yang berulang-ulang terjadi.

            Membuat makanan sehat mungkin terlihat ribet dan menghabiskan waktu. Namun semuanya akan menjadi mudah dan terasa setimpal saat kita ingat betapa mahalnya biaya yang harus kita keluarkan jika tubuh kita atau anak-anak kita menjadi sakit.***


Keterangan:
1 Masanubo Fukuoka, “Revolusi Sebatang Jerami”, 2012.
Nina Planck, “Real Food,  Hidup Bebas Penyakit dengan Makanan Alami”,  2006, hal. 133

No comments:

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...