[MASALAH KITA] – Peran Ayah Dalam Keluarga Masa Kini


Pengantar


Foto: dokumen pribadi Navita
Peran seorang ayah kerap diasosiasikan dengan peran sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah yang harus berada di luar rumah. Selain itu, sosok ayah yang dingin dan kurang dekat dengan anak-anaknya kerap menjadi pemandangan umum dalam keluarga di Indonesia. Namun, seiring dengan perkembangan jaman dan dinamika sosial masyarakat, peran ayah dalam keluarga sedikit demi sedikit mulai bergeser. Desakan finansial sedikit banyak telah menempatkan ayah dan ibu sebagai pencari nafkah untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan keluarga. Pada situasi yang lain, seorang ayah tidak lagi harus mencari nafkah dengan berada di luar rumah, bekerja bisa dilakukan dari dalam rumah, maka di sini ayah bisa turut berperan dalam mengerjakan tugas rumah tangga “yang biasanya” dikerjakan oleh para ibu. Secara umum, para ayah semakin banyak terlibat dalam pekerjaan domestik yang biasanya hanya dikerjakan oleh para ibu, seperti mengasuh dan mendidik anak.
Dalam edisi Proaktif Online kali ini, kami menyebarkan kuesioner kepada beberapa responden untuk mendapatkan gambaran mengenai peran ayah masa kini di dalam keluarga. Bagaimana tantangan yang dihadapi oleh para ayah tersebut dengan kondisi yang unik, serta menjadi bahan permenungan kita bersama tentang posisi dan peran ayah dalam keluarga masa kini.

Tugas Rumah Tangga : Keterlibatan Ayah dan Fleksibilitas
Dewasa ini, ayah dan ibu yang bekerja menjadi pemandangan yang semakin umum di Indonesia. Salah satu faktor penyebabnya adalah desakan ekonomi yang menuntut ibu untuk turun tangan dalam menambah pemasukan bagi neraca keuangan rumah tangga. Untuk itu, kami mengajukan pertanyaan kepada responden tentang bagaimana pembagian tugas rumah tangga di antara ayah – ibu.
Pada umumnya, para responden tidak memaparkan prinsip pembagian tugas yang jelas. Pembagian tugas tidak lagi didasarkan pada peran gender, di mana ayah wajib mencari nafkah sementara ibu yang wajib mendidik dan mengasuh anak. Umumnya para responden, sebagai ayah, terlibat dalam tugas rumah tangga. Namun skala keterlibatannya yang berbeda-beda sesuai kesepakatan dengan pasangannya masing-masing.
Di sinilah peran ayah menunjukkan fleksibilitas, di mana ayah tidak lagi sebatas sebagai pencari nafkah semata yang tidak terlibat dalam tugas rumah tangga. Seorang ayah bisa saja mencuci pakaian, memandikan anak, menemani anak belajar, menidurkan anak. Ayah semakin hadir dalam kehidupan anak-anak. Keterlibatan ayah dapat dimungkinkan karena pekerjaan tidak lagi mengharuskan seseorang untuk keluar dari rumah.
Dalam hal pembagian tugas rumah tangga, seluruh responden menyatakan terlibat dalam pekerjaan domestik rumah tangga, terutama dalam hal pengasuhan anak.

Peran Ayah  Ideal yang Diharapkan di Masa Kini
Setiap pria dulunya adalah seorang anak yang memiliki kesan tersendiri tentang ayahnya, yang sedikit banyak menjadi dasar ataupun pedomannya untuk mengambil perannya ketika menjadi ayah. Peran ayah yang lebih fleksibel dan lebih terlibat dalam tugas rumah tangga, terkait erat dengan pemahaman akan peran sebagai ayah dalam keluarga. Interaksi antara kesan (kenangan) dan kesadaran gender, sepertinya berpengaruh pada pemahaman tentang peran ayah di dalam keluarga. Para responden, secara umum, mengamini bahwa peran ayah ideal adalah sebagai mitra bagi istri dan sebagai teman bagi anak.
Hal ini teridentifikasi dari pernyataan-pernyataan sebagai berikut :
  •           Menjadi rekanan yang sejajar bagi istri
  •           Ayah harus hadir di tengah urusan keluarga dengan prinsip : ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani
  •           Ayah dan ibu mengurus anak secara bersama
  •           Bisa berkomunikasi dengan anak
  •           Sebagai sahabat, teman, saudara
  •           Menjadi pendengar yang baik
  •           Intens memberikan perhatian dan pendampingan

Para responden juga menyadari bahwa peran ayah yang ideal adalah terlibat dalam proses tumbuh kembang anak, intinya adalah hadir dalam hidup mereka. Kehadiran tersebut terwujud dalam komunikasi yang terjalin di setiap hari, di sinilah ayah berperan sebagai teman bagi anak. Namun hubungan pertemanan ini menghendaki ayah yang tegas, bukan keras dalam artian otoriter, sebagaimana yang diungkapkan oleh 2 orang responden.

Father and child in arms
Tantangan Menjadi Seorang Ayah
Menjadi seorang ayah seperti yang diharapkan menemukan tantangannya pada setiap pribadi dan keluarga. Tantangan yang bervariasi yang diungkapkan oleh para responden, di antarnya :

  • Soal waktu untuk bersama dengan keluarga (istri dan anak). Ketersediaan waktu yang dimiliki seorang ayah dipengaruhi oleh beban pekerjaan yang ia kerjakan ataupun manajemen waktu yang dilakukan. Menyediakan waktu bagi keluarga, termasuk di dalamnya adalah hadir di dalam proses tumbuh kembang anak, hadir di kala anak membutuhkan sosok ayahnya. Terkadang dengan jenis pekerjaan yang menuntut waktu di luar rumah, hal pengasuhan anak terpaksa dipindahtangankan atau membutuhkan bantuan dari tenaga pengasuh.
  • Soal pengendalian emosi.Terkadang pada saat beban kerja sedang tinggi, ataupun pada kondisi yang kurang menyenangkan, bersikap tenang dan berkepala dingin menjadi tantangan. Terutama pada saat menghadapi anak-anak. Tidak jarang, anak-anak mendapatkan pelampiasan emosi negatif orang tua tanpa sempat memahaminya dengan bijaksana. Pengendalian emosi ini mungkin terkait dengan persoalan pengenalan diri dalam pribadi sang ayah. Salah seorang responden mengemukakan bahwa dengan mengenal diri akan membantu ayah untuk dapat berpartisipasi dalam mengelola keluarganya dengan baik.
  • Soal nilai-nilai yang berbeda dari lingkungan pergaulan.Setiap anak-anak tidak dapat terhindarkan untuk bergaul dengan lingkungan tempat tinggalnya, di mana interaksi nilai-nilai terjadi dan kemungkinan memiliki pertentangan dengan nilai-nilai yang telah diajarkan kepada anak-anak.
  • Soal gadget smartphoneDewasa ini hampir semua keluarga memiliki smartphone yang menawarkan berbagai fitur canggih, terutama untuk hiburan. Terkoneksi dengan internet setiap hari, kerap menyita perhatian orang tua dari perhatian. Di sisi lain, ketika anak-anak terpapar dengan smartphone menyebabkan mereka jauh dari realitas hidup sehari-hari dan kurang bergerak. Hal ini turut menurunkan kualitas kesehatan anak-anak. Disiplin dalam penggunaan smartphone dan kesepakatan antara ayah-ibu menjadi kunci dalam penegakan disiplin tersebut.
Tantangan-tantangan tersebut mungkin tidak dialami oleh semua ayah (keluarga), karena setiap keluarga memiliki tantangannya masing-masing.

Penutup
Dengan berbagai tantangan kehidupan di jaman sekarang ini, peran seorang ayah di dalam keluarga tidak lagi cukup sebatas pencari nafkah. Keterlibatan ayah dalam mengasuh anak dan mendampingi mereka dalam proses tumbuh kembang menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Di samping itu, relasi antara ayah-ibu semakin mengarah pada hubungan kemitraan yang setara, di mana ayah dan ibu bekerja sama untuk mengelola rumah tangga dengan pembagian tugas yang fleksibel.
Ke depannya, peran ayah dan ibu merupakan hasil kesepakatan di antara pasangan, bukan sesuatu yang diharuskan oleh masyarakat. Bagaimanapun, ayah dan ibu adalah yang paling mengerti apa yang mereka hadapi di dalam hidup sehari-hari. Ayah pun diharapkan dapat semakin hadir dalam hidup anak-anaknya.


Ayah - ibu - anak

No comments:

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...