[TIPS] Cara Memelihara dan Meningkatkan Kesehatan Mental

Oleh: Any Sulistyowati

Di kehidupan modern yang penuh tekanan, banyak orang menderita penyakit psikosomatis. Penyakit ini sebetulnya merupakan sebuah ekspresi penyakit fisik yang dipengaruhi oleh persoalan psikologis (mental). Masalahnya banyak penderita psikosomatis tidak menyadari bahwa permasalahan fisik yang mereka alami sebetulnya dipengaruhi oleh persoalan mental. Banyak dari mereka yang bolak balik ke dokter, mengkonsumsi obat tanpa pernah menyentuh penyebab persoalan yang sebenarnya.

Sebagai aktivis, banyak tekanan yang kita hadapi dalam menjalankan misi hidup kita. Berbagai tekanan tersebut potensial menyebabkan berbagai persoalan kesehatan mental. Padahal kesehatan mental ini sangat penting untuk kualitas hidup kita. Tanpa kualitas hidup yang bagus, kekuatan kita untuk membuat perubahan menjadi melemah. Kita tidak dapat secara penuh memberikan diri kita untuk perubahan yang kita cita-citakan.

Kesehatan mental berperan sangat penting dalam hidup kita. Tanpa kesehatan mental, kualitas hidup kita akan merosot tajam. Kesehatan mental akan lebih baik jika disirami dengan emosi positif. Emosi positif dibangun dari cara berpikir positif. Cara berpikir positif lahir dari cara pandang positif terhadap diri sendiri dan kehidupan.

Berikut ini adalah beberapa tips memelihara dan meningkatkan kesehatan mental:

Sayangi diri sendiri

Banyak kasus persoalan kesehatan mental terkait dengan penerimaan diri. Kita tidak bahagia dengan hidup kita. Kita merasa ada banyak yang salah dan kurang dalam diri kita. Kita membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain dan mengganggap orang lain lebih beruntung, lebih hebat dan lebih berbahagia daripada kita. Semua ini adalah virus-virus yang menjadi sumber penyakit mental. Langkah pertama untuk menghalau virus-virus tersebut adalah melihat diri kita apa adanya. Betapa luar biasanya diri kita ini. Betapa banyak hal yang baik yang ada padanya yang selama ini kita abaikan. Betapa banyak hal yang tidak kita syukuri karena kita lebih silau pada cahaya yang ada pada orang lain ketimbang di dalam diri kita sendiri. Itulah yang disebut sebagai konsep diri positif. Konsep diri positif adalah satu langkah penting untuk membangun kesehatan mental. Bagaimana cara membangun konsep diri positif? Pertama fokuskan diri pada kekuatan-kekuatan kita, kesenangan-kesenangan kita. Jujurlah pada kebutuhan-kebutuhan diri kita. Terima dan penuhi dengan rasa sayang kebutuhan-kebutuhan itu. Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain atau terlalu fokus pada keinginan untuk menyenangkan dan memenuhi harapan orang lain. Percayalah bahwa diri kita memiliki kebijaksanaannya sendiri.


Berdamai dengan realitas

Masalahnya tidak semua yang kita inginkan dapat terpenuhi. Terlebih apabila pemenuhan keinginan tersebut perlu melibatkan orang lain. Mereka juga memiliki kehendak bebas untuk mendukung atau tidak mendukung kita, memenuhi atau tidak memenuhi harapan kita. Ketika hal ini terjadi, maka yang perlu dilakukan adalah berdamai dengan realitas. Penting sekali bagi kita untuk tetap merasa damai dan bahagia dengan diri kita apapun situasi yang terjadi di luar sana. Larut dalam kekacauan situasi di luar tidak akan menolong diri kita sendiri dan apalagi orang lain. Meskipun mungkin kita tidak memperoleh yang kita inginkan atau tidak satupun orang yang menolong kita, setidaknya kita tetap dapat menolong dan mendukung diri kita sendiri dengan tetap fokus pada kedamaian dan kebahagiaan kita.

Menerima dan melepaskan emosi negatif

Ketika harapan kita tidak terjadi atau kita tidak memperoleh yang kita inginkan tentu mendorong kita untuk merasa kecewa, putus asa, sedih, marah dan berbagai emosi negatif lainnya. Semuanya ini adalah normal. Yang tidak normal adalah ketika kita menekan, menolak, menutup emosi-emosi tersebut sehingga seolah-olah tidak ada atau hilang. Ketika itu dilakukan sebetulnya emosi-emosi tersebut tidak hilang, ia hanya terkubur di bawah sadar kita dan bertumpuk seperti uap panas di dalam ketel tertutup. Ketika ia terkubur dan jumlahnya semakin banyak, tekanannya pun semakin kuat dan sewaktu-waktu dapat meledak dalam bentuk ledakan emosi atau muncul dalam bentuk lain seperti berbagai penyakit psikosomatis.

Cara yang lebih sehat menangani emosi negatif adalah dengan menerimanya sebagai bagian dari diri kita. Menyayanginya karena ia telah hadir dan memperkaya hidup kita. Berterima kasihlah karena emosi tersebut telah mengajarkan sesuatu pelajaran berharga dalam hidup kita. Setelah semua itu, barulah emosi tersebut dapat kita lepaskan. Kita tidak dapat melepaskan dengan sukarela sesuatu yang tidak kita terima, miliki dan akui keberadaannya. Ketika emosi telah kita lepaskan, kita tetap dapat mengingat peristiwa terkait emosi tersebut, hanya saja muatan emosinya sudah hilang atau berkurang. Yang ada hanyalah rasa sayang dan syukur pada diri kita dan kehidupan yang luar biasa kaya ini.

Ada banyak cara untuk melepaskan emosi negatif. Di antaranya adalah dengan berdoa, menangis,mendengarkan musik, membuat karya seni, serta mengikuti berbagai bentuk terapi, seperti hipnoterapi, egostate-terapi, emotional freedom technique (EFT) dan banyak lagi. Apapun metode yang anda pilih, pilihlah yang cocok untuk anda masing-masing.


Lepaskan keyakinan-keyakinan penghambat kebahagiaan

Masalahnya melepaskan emosi negatif seringkali tidak mudah. Saat kita ingin melepaskan emosi, pikiran kita mulai melayang-layang dan memutar film kenangan kehidupan masa lalu yang menjadi sumber emosi negatif, seperti kemarahan, kebencian, ketakutan dan banyak lagi, serta film masa depan yang menjadi sumber kecemasan/kekuatiran dan ketakutan.

Ketika hal tersebut terjadi, kita tercerabut dari fokus hidup di saat ini menjadi larut dalam impian masa depan dan kenangan masa lalu. Ketika hal ini terjadi, yang perlu kita lakukan adalah berjarak dari pikiran kita dan memposisikan diri sebagai pengamat atas pikiran tersebut. Amati bagaimana pikiran-pikiran itu berseliweran dan memunculkan berbagai emosi yang terkait dengan berbagai peristiwa yang dimunculkan oleh pikiran-pikiran tersebut. Amati pikiran-pikiran itu dan simpulkan beberapa keyakinan yang menyebabkan pikiran-pikiran tersebut muncul.

Ketika kita menemukan beberapa keyakinan tesebut, periksalah apakah keyakinan-keyakinan tersebut memang kita butuhkan dalam hidup kita yang sekarang? Atau justru akan menghambat perkembangan hidup kita? Kita bebas untuk memilih untuk menyimpan keyakinan tersebut atau melepaskannya dan menggantinya dengan yang baru yang lebih sesuai dengan tujuan hidup kita.

Jika kita telah menentukan sikap, terapkan secara konsisten di dalam hidup kita. Hidup dengan keyakinan yang baru memang tidak mudah. Seringkali kita terjebak dan kembali menganut keyakinan lama. Semua ini normal dan perlu latihan panjang untuk menjadikannya kebiasaan alami hidup kita.



Ambil waktu untuk kegiatan yang bermakna

Salah satu cara untuk membangun emosi positif adalah dengan mengambil waktu untuk kegiatan-kegiatan yang bermakna. Kegiatan-kegiatan ini berbeda-beda untuk setiap orang. Ada orang yang melakukan meditasi, berjalan-jalan di alam, menghabiskan waktu bersama orang-orang yang disayangi, berbuat amal, mengikuti berbagai kegiatan sosial dan menyalurkan hobi.

Apa pun bentuk kegiatannya, pastikan melalui kegiatan tersebut anda mengalami stress-release (melepas ketegangan), dan bukannya menambah ketegangan. Dengan mengambil waktu untuk kegiatan-kegiatan yang bermakna, kita akan merasa hidup kita lebih berarti dan kita lebih merasa positif terhadap diri kita dan hidup kita.

Demikianlah beberapa kiat untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mental. Berhasil tidaknya kiat-kiat tersebut dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mental kita akan sangat tergantung pada diri kita sendiri. Bersediakan kita mempraktekkan kiat-kiat ini dalam hidup kita sehari-hari? Berapa lama kita mau mempraktekkannya? Sebagaimana kebiasaan hidup positif lainnya, keberhasilan baru akan lahir dan perlu dibangun dari praktek dalam kurun waktu yang panjang.

***

No comments:

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...