[JALAN-JALAN] Membangun Mimpi lewat Membaca

Penulis: Yosepin Sri 

Indonesia dan membaca, adalah tema dasar dari tulisan ini. Indonesia terdiri dari gugusan kepulauan yang membentang di garis khatulistiwa diapit oleh dua benua dan samudra luas, menjadikan negara ini begitu cantik dan menarik akan bentang alam serta keanekaragaman sukunya. Lalu bagaimana dengan masyarakatnya yang tinggal tersebar di pulau-pulau tersebut? Apakah mereka semua suka membaca?

Buku merupakan sumber informasi dari hasil pemikiran penulisnya, baik itu buku yang berisi kumpulan cerita pendek, dongeng-dongeng, maupun buku yang berisi pengalaman langsung sang penulis, semuanya sama-sama membutuhkan usaha yang tidak mudah untuk menerbitkannya sebagai sebuah buku. Melalui buku, pembaca dapat mengembangkan imajinasinya serta membuka pintu-pintu di kepalanya akan pengetahuan baru yang telah ada di belahan dunia lain. Melalui buku, kita juga dapat mengetahui bagaimana cerita Indonesia bisa merdeka, usaha dari para tokoh di daerah yang bersatu melawan penjajah, hingga usaha dari berbagai ilmuwan untuk menciptakan peralatan yang ada sekarang ini seperti pesawat terbang, lampu, jam tangan, kamera, televisi hingga teknologi informasi seperti internet. Sehingga melalui buku, seorang anak akan bisa membangun mimpinya.


Lahir dan tumbuh di kota besar seperti Jakarta, membuat penulis hidup dalam kemudahan mengakses buku. Toko-toko buku, baik itu bekas maupun baru, banyak terdapat di kota, perpustakaan keliling, perpustakaan di sekolah, hingga café-café cantik yang menyediakan buku menarik sekaligus akses internet tersedia di berbagai sisi jalan Ibu Kota. Namun bagaimana dengan kondisi daerah-daerah lainnya di Indonesia, khususnya daerah-daerah yang terletak di luar pulau Jawa, apakah masyarakat di sana juga mendapatkan fasilitas yang sama?

Pengetahuan penulis akan kegiatan membaca di Indonesia banyak diberikan oleh tokoh-tokoh pustaka yang berkegiatan di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa tokoh tersebut adalah Nirwan Arsuka yang melakukan ekspedisi dengan berkuda membawa berbagai buku menarik ke daerah-daerah di Pulau Sumba hingga Papua, tidak terbayang sang kuda bisa berjalan menempuh ratusan kilometer dan menyeberang lautan dengan kapal sambil membawa buku-buku di sisi punggungnya. Aldo, kuda jantan Sumbawa bersama Asep sang pemilik, berkeliling 3 kali dalam seminggu membawa buku-buku di daerah Lebak, Banten. Juga Ontel Pustaka yang terdapat di Majene, Sulawesi Barat dan Sidoarjo, Jawa Timur, bersepeda sembari membawa buku-buku dan berhenti di desa-desa hingga dikerumuni anak-anak yang penasaran ingin melihat buku. Serta perahu pustaka yang berlayar ke pulau-pulau terpencil, membawa berbagai macam buku menarik penuh warna menghadirkan senyuman bagi anak-anak yang tinggal di pesisir pantai Sulawesi.

Meskipun jenis kendaraan yang digunakan bervariasi namun tetap memiliki kesamaan tujuan, yakni memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengakses berbagai buku menarik. Di balik tujuan tersebut, terdapat keunikan akan setiap jenis kendaraan yang digunakan. Dengan menunggang kuda pergerakan akan lebih perlahan melalui daerah pegunungan dan lembah, dengan bersepeda dapat melewati jalan kecil di kampung-kampung, dan dengan perahu layar akan dapat menjangkau pesisir-pesisir di pulau-pulau kecil di Indonesia.

https://www.facebook.com/pg/Onthel-Pustaka-Majene-1368463523171103/photos/?ref=page_internal
https://www.facebook.com/pg/Onthel-Pustaka-Sidoarjo-RIM-605558259594452/photos/?ref=page_internal

https://www.facebook.com/aldo.tea.3511

http://www.bbc.com/travel/story/20161013-a-library-that-brings-books-by-sailboat
Pada artikel ini, karena sifatnya online, maka para pembacanya mungkin akan lebih banyak berada di kota-kota besar sehingga kurang mendapat bayangan akan kegiatan filantropi di daerah yang seringkali jauh dari akses baik itu listrik apalagi internet. Dengan alasan ini maka penulis akan lebih menceritakan tentang perahu pustaka yang digagas oleh salah satu tokoh literasi Indonesia yakni Nirwan Arsuka dan pergerakannya dalam memanfaatkan wilayah laut sebagai pemersatu pulau-pulau di Indonesia, karena sering kali ‘orang kota’ memandang laut sebagai pemisah pulau-pulau ini.

Perahu Pustaka bernama Pattingalloang ini sering disingkat dengan P3, dikelola oleh Muhammad Ridwan Alimuddin, yang memutuskan untuk berpindah dari pekerjaan tetapnya sebagai jurnalis berita lokal menjadi pekerja ‘fulltime’ berlayar membawa buku dengan perahu jenis ba’go khas Mandar. Muhammad Ridwan Alimuddin yang kerap disapa dengan Ridwan dalam berbagai tulisan yang mengulas pelayarannya, telah lama aktif melakukan penelitian terkait dengan topik maritim dan menulis 10 buku mengenainya. Ridwan memilih jenis perahu ba’go dengan pertimbangan bentuk dan ukurannya, “Jenis perahu ba’go, kalau masuk sungai lebih aman, bentuk lambung perahu lebar, sehingga tidak khawatir kandas” ungkap Ridwan dalam artikel berjudul ‘Perahu Pustaka Menyediakan Buku ke Pulau-Pulau’ oleh BBC Indonesia. Perahu berukuran panjang 10 m dan lebar 3 m ini pun dibuat dengan menggunakan jenis kayu Tipuluh yang ditebang di hutan, ditunggu kering, lalu dilanjutkan dengan upacara membuat perahu tradisi Mandar. Upacara ini berisikan harapan dan doa, agar proses pembuatan perahu berjalan dengan baik dan juga perahu dapat berlayar dengan selamat bersama nahkodanya sesuai dengan kegunaannya yakni sebagai perahu pustaka.

Sumber: artikel berjudul ‘Nahkodai Perahu Pustaka bawa 4000 Buku’ pada https://perahupustaka.com/page/2/ 
Setelah melalui proses pembuatan dengan menjaga tradisi Mandar, Perahu Pustaka Pattingalloang mulai berlayar pada Juni 2015. Perahu yang dapat mengangkut sekitar lima ribu buku ini, selain berfungsi sebagai perpustakaan perairan, juga dapat berfungsi sebagai sarana edukasi maritim, khususnya bagi wilayah Sulawesi yang sebagian besar terdiri dari wilayah perairan. Dengan melihat perahu yang membawa buku-buku bacaan berkualitas, anak-anak semakin tertarik, sebab perahu yang mungkin biasanya membawa ikan ataupun sebagai alat angkutan, ternyata juga bisa membawa sumber pengetahuan, dengan laut sebagai jalur transportasinya. Mengelola perpustakaan berwujud perahu tentunyamembutuhkan skill yang tidak gampang , pengelola perlu memiliki pengetahuan akan perahu sebagai alat transportasi sekaligus tempat tinggalnya ketika di perairan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah jam terbang dalam pelayarannya. Seorang nelayan Mandar sudah sangat awam dengan arah mata angin, arah angin berhembus sesuai waktu dan tempatnya, hingga pengetahuan akan rasi bintang. Walaupun telah melakukan penelitian selama 17 tahun akan kemaritiman, dan dapat mengoperasikan GPS serta kompas, Ridwan masih terus mempelajari cara berlayar lewat bertambahnya jam palayaran dengan Perahu Pustaka Pattingalloang.

Perahu Pustaka yang telah lama digagas dan mulai dibangun semenjak awal 2015, telah menjadi isu menarik sedari acara MIWF (Makassar International Writers Festival) yang diadakan setahun sekali di Makassar. Pada tahun 2015 tersebut, MIWF mengangkat tema ‘Karaeng Pattingalloang: Knowledge and Universe’ yang juga sesuai dengan nama perahu pustaka yakni Perahu Pustaka Pattingalloang. Nama Pattingalloang sendiri dipilih dengan alasan bahwa beliau adalah salah satu pahlawan ilmu pengetahuan yang berasal dari Sulawesi. Kecintaan akan ilmu pengetahuan mendorong Pattingalloang untuk dapat terus mengakses pengetahuan terbaru yang saat itu masih terpusat di Eropa. Bernama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang yang disebut sebagai ‘The Galilleo of Macassar’, mampu berbicara dalam delapan bahasa asing : Latin, Yunani, Italia, Prancis, Belanda, Portugis, Denmark, Arab, serta memiliki perpustakaan pribadi yang menyimpan hampir semua buku pengetahuan pada zaman itu yang terbit di Eropa. Beliau juga merupakan orang yang memesan teleskop pertama setelah ditemukan oleh Galileo, serta globe terbesar dengan diameter 4 m, sehingga jarak dan waktu tidak menjadi penghalang bagi kekuatan niat Pattingalloang untuk dapat membaca serta memiliki berbagai buku dan peralatan.

https://www.facebook.com/pg/Perahupustaka-Pattingalloang-369475573245045/photos
http://www.bbc.com/travel/story/20161013-a-library-that-brings-books-by-sailboat

Berbagai tantangan ke depan, terutama pendanaan akan pelayaran P3 terus dihadapi oleh Ridwan dengan sikap optimistik. Buku-buku yang ia bawa sebagian merupakan hasil koleksi pribadi, sebagian berasal dari donasi. Begitupun dengan dana operasional pelayaran P3, donasi berdatangan dari pengusaha, teman-teman, serta dari orang-orang yang telah melihat kegiatan P3, baik secara langsung maupun via sosial media. “Dengan melihat wajah anak-anak tersenyum lalu membuka buku, semua perasaan akan kekhawatiran mendadak lenyap”, tutur Ridwan dalam artikel BBC berjudul Library that Brings Books by A Sail Boat.

Upaya yang dilakukan oleh Ridwan merupakan salah satu dari sekian filantropi lainnya. Menyebarkan budaya literasi, semangat membaca, dan membuka berbagai jalan baru akan akses terhadap dunia pengetahuan adalah ikhtiar dari Muhammad Ridwan Alimuddin sebagai pengelola perahu pustaka. Selagi mewujudkan mimpi, di lain pihak, kegiatan ini juga memunculkan mimpi-mimpi baru dalam diri anak-anak yang mendapatkan kesempatan melihat buku-buku dari perahu pustaka. Sangat mungkin, setelah melihat berbagai buku yang ada, cita-cita mereka menjadi lebih beragam akan profesi yang belum mereka ketahui sebelumnya.

Tulisan merupakan hasil olahan dari berbagai sumber:
https://perahupustaka.com/
http://www.bbc.com/travel/story/20161013-a-library-that-brings-books-by-sailboat



No comments:

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...