[MASALAH KITA] BERSAMA PARA AKTIVIS DAN RELAWAN: SEBUAH PERCAKAPAN MENGENALI DIRI


“Kenalilah dirimu!” ujar filsuf Socrates dalam dialognya, Phaedrus. "Aku tidak punya waktu luang untuk menjelaskan hal-hal yang luas dan besar itu. Sebuah hal yang aneh bagiku untuk meneliti hal-hal itu ketika aku saja belum bisa mengenali diriku sendiri.”

KONSEP DIRI DALAM SUDUT PANDANG PSIKOLOGI
Mengenali diri adalah penting karena diri kita sendirilah yang mempengaruhi bagaimana kita memahami dunia. Konsep diri, dalam sudut pandang ilmu Psikologi, mempengaruhi kerja-kerja dan pandangan kita. Alvieni Angelica, seorang Psikolog dan pegiat di Capacitar Indonesia, menjelaskan bahwa di dalam konsep diri ada berbagai kumpulan ide antara lain self-image[i], ideal self[ii], self-esteem[iii]. Lebih lanjut, konsep diri adalah bagaimana seseorang memandang, mempersepsikan dan mengevaluasi dirinya.

Konsep diri terbentuk dari pengalaman awal kita sebagai janin, lingkungan pertumbuhan seperti rumah dan sekolah, interaksi dengan orang-orang terdekat hingga pengalaman-pengalaman hidup yang kita lalui. Otak manusia terdiri dari otak bahasa (otak berpikir) dan otak emosi. Pengalaman-pengalaman di atas membentuk konsep diri di dalam otak emosi kita, bahkan sebelum otak berpikir tumbuh sempurna.

Banyak mekanisme diri yang mengubah ide-ide internal kita menjadi sebuah aksi di dunia nyata. Salah satunya, menurut Alvieni adalah proses proyeksi/formasi. Dalam proses proyeksi ini, manusia seringkali mengubah kelemahan dirinya menjadi tampilan sebaliknya. Kelemahan yang kita mudah amati di orang lain, seringkali adalah kelemahan diri kita juga. Sebagai contoh: seseorang yang sangat sensitif terhadap kritik orang lain justru menjadi seorang motivator yang mampu mengubah cara pandang orang lain untuk berpikir positif.

Dalam bekerja maupun berkegiatan di berbagai bidang, siapa saja termasuk aktivis pasti mengalami proses pembentukan maupun pengenalan konsep diri. Menurut Alvieni, salah satu cara untuk mengenal diri sendiri adalah dengan berlatih kesadaran. Di sela-sela kesibukan kita, menyisihkan waktu untuk refleksi dan berlatih kesadaran adalah penting.

BAGAIMANA PARA AKTIVIS MEREFLEKSIKAN DIRI?


Hal serupa diceritakan oleh Sri Suryani, seorang arsitek yang bekerja di Divisi Tata Ruang Ciliwung Merdeka. Dalam berproses mendampingi penggusuran warga Bukit Duri bersama rekan-rekan satu tim, Sri mengutarakan bahwa salah satu komponen penting adalah penyadaran diri. Sebagai pribadi, Sri mencoba menyadari seberapa luas konflik yang terjadi, apa saja yang dia alami dan keterbatasan diri baik sebagai anggota tim kerja maupun dalam keprofesian arsitek. Kesadaran itulah yang membentuk kerja dan pikirnya sehingga terwujud dalam suatu keberpihakan tertentu.
Tauhid Aminulloh, salah satu pendiri kolektif Wikikopi di Yogyakarta, menyebutkan bahwa dia sangat menikmati agenda kepedulian di bidang pendidikan dan pertanian dengan media kopi. Namun sesekali, Tauhid memerlukan waktu untuk berkontemplasi dan mengambil jarak. Mengambil nafas bagi Tauhid penting sembari memperluas objektivitas. “Aku melihat banyak masalah di antara para pendaku idealis adalah mereka tidak pernah memperluas objektivitas,” ujarnya. “Kian lama sebuah idealisme bisa jadi menyempit; hanya terkait hal yang kita pedulikan tapi lantas abai pada idealisme yang lain.”

Beberapa orang mengambil waktu untuk menyegarkan diri dengan bepergian atau travelling. Niniek Febriyanti dan Russelin Edhyati, dua sahabat yang mendirikan Book for Mountain, sama-sama mengaku menyukai travelling. Book for Mountain sendiri merupakan kelompok yang memiliki kegiatan mengumpulkan dan menyalurkan buku ke daerah terpencil, salah satunya ke Agandugume, Papua. Niniek senang bepergian sendiri sehingga dia terpaksa bertemu banyak orang baru dengan cerita yang seru. Bepergian sendiri pun memberinya waktu mengamati hal yang tidak teramati jika pergi beramai-ramai.

“Aku travelling tidak disengajakan untuk mengenal diri saja. Tapi ternyata di dalamnya, aku juga bisa mengenal diri sendiri," ujar Niniek. Rekannya, Russelin berbagi bahwa interaksi dengan banyak orang pun akan menumbuhkan kepedulian di dalam diri kita. Dengan travelling, kita dapat bertemu banyak orang yang berbeda-beda. “Semakin luas, semakin baik.”

"Tips mengenali diri adalah mengenali orang lain," jelas Tauhid, "Sedangkan mengenali kepedulian adalah dengan bermain pengandaian—adakah kondisi yang lebih baik?” Kepedulian yang datang dari dalam diri juga disorot oleh Russelin. Salah satu masalah dunia modern adalah rasa apatis dan hidup yang terkotak-kotak. “Kalau tidak ada kesamaan dengan diri kita, maka kita tidak usah ambil pusing untuk peduli. Banyak yang masih berpikiran seperti itu,” tutur Russelin, “Aku mencoba menempatkan diriku di posisi orang lain. Kalau bukan kita, siapa lagi?" tutur Russelin.

Kepedulian serupa pula yang mendorong Fajar Nurmanto untuk menjadi relawan media. Sebagai lulusan Komunikasi yang sedang mengambil pascasarjana di bidang Sosiatri, Fajar aktif menjadi relawan media untuk Panti Sosial Hafara. Panti Hafara aktif merawat orang terlantar seperti lansia dan anak-anak. Sebagai pekerja media, Fajar melihat bahwa sekarang media gerakan sosial pun harus bisa nge-pop selayaknya media-media lain yang tersohor. “Biar nurani masyarakatnya bisa terbangun dari melihat aktivitas-aktivitas sosial. Agar kita tidak individualis," terangnya.

KEPEDULIAN DARI DIRI AKTIVIS DI DUNIA MODERN

Sri bercerita bahwa dia tumbuh besar di kampung pinggiran Jakarta-Bekasi. Saat harus bersekolah di daerah Jakarta Pusat, perjalanan pulang-pergi setiap hari menyuguhkan pemandangan lanskap kota yang berbeda-beda. Hal tersebut turut membentuk kepedulian dirinya. "Dari lingkungan rumahku, sebuah kampung pinggir kota, aku melihat transisi wajah kota di jendela bis setiap menuju pusat Jakarta selama tiga tahun. Lalu, pengalamanku mengunjungi kantor saudara yang bekerja di daerah Sudirman, aku terpapar dengan beragam bentuk dan ruang yang berbeda."

Identitas, bagi Sri, terbatas pada konteks ruang dan waktu. Identitas diri kita bisa jadi berubah di masa depan. Namun, selalu ada benang merah yang ia temui di tahap-tahap kehidupannya. "Aku lebih merasa bahwa selama ini aku adalah seorang storyteller, aku mencoba membuat diriku tidak ada dan terus bercerita," ujar Sri. "Sekarang aku sedang mencoba menghubungkan kerja praktek lapangan dengan teori dan dunia akademis."

Seringkali Sri mendapati label-label disematkan kepadanya seperti aktivis (dalam konotasi negatif) atau penentang pemerintah, dsb. “Kalau kita mau menghimpun label, so what?” sahutnya. Tantangan modernitas baginya adalah bagaimana orang semakin haus akan visual, citra, rupa, dan derasnya arus informasi. “Padahal rupa, yang tampak itu adalah hasil pergumulan ide dan batin yang tidak tampak,” pungkasnya.

Sementara itu, Fajar memiliki kepedulian untuk meneliti program pensiun berkelanjutan. Program pensiun masa kini masih jamak berbentuk santunan, namun tidak sustainable di jangka panjang. Kepedulian Fajar muncul dari melihat dan merefleksikan masa depan orang tuanya. Fajar tinggal di kota Yogyakarta, di mana indeks kesenjangan sangatlah tinggi. Agenda pembangunan kota modern pun ia soroti. Sebaiknya orientasi pembangunan terintegrasi secara setara; bukan hanya pembangunan budaya untuk mengejar ekonomi dan sebaliknya. Menurutnya lagi, ada hal yang lebih mendesak dari kesenjangan ekonomi, yaitu akses sumber daya produksi untuk semua.

Lain cerita dengan Tauhid. Semenjak duduk di bangku SMA, Tauhid merasa ada yang aneh dengan pendidikan yang dia dapatkan. “Aku melihat ada arah gerak pendidikan yang perlu diubah. Bisa oleh siapapun, dan sudah ada yg berusaha. Aku pun melibatkan diri; dengan caraku,” jelasnya. Arah gerak pendidikan kini pun bergerak seiring dengan arah gerak dunia.

Dunia masa modern ini bagi Tauhid akrab dengan segala yang kuantitatif atau dapat dihitung. “Aku mencoba mengakrabkan diri dengan hal-hal yang kualitatif,” jawabnya. “Aku percaya tiap orang punya kepedulian. Hanya saja pengalaman dan lingkungan yang akan membedakan sasaran kepedulian tiap orang.” Dunia pendidikan, bagi Tauhid, mewadahi kegemarannya untuk bertanya.

Russelin menemukan banyak hal yang mendorongnya melakukan banyak kegiatan kerelawanan sembari bekerja. Salah satunya, Russelin merasa membutuhkan interaksi dengan orang lain yang dapat membagikan pesan dan ilmu untuknya, "Bertemu orang lain artinya kita mendapat ilmu baru."  Rasa senang untuk berkompetisi secara positif pun mendorongnya melampaui batasan diri setiap hari.
Satu yang penting bagi Russelin adalah bahwa kepedulian tidak bisa dibentuk di akhir. “Level pendidikan yang pertama yang mengajarkan kepedulian adalah keluarga,” ujarnya. Seturut dengan penjelasan Alvieni dan Russelin, pengalaman Niniek tumbuh di keluarganya pun membentuk konsep diri dan kepeduliannya, “Ada perasaan bahwa aku ingin pekerjaanku berbeda dari pekerjaan orang tuaku. Bukan karena mereka salah, tetapi karena aku melihat bahwa hidup di sisi lain juga bisa menyenangkan,” Niniek bercerita.

“Aku lekat dengan hal-hal yang menantang; sehingga aku selalu bekerja di mana permasalahan itu ada terus. Aku merasakan rasa tanggung jawab yang kuat, terutama setelah memulai suatu gerakan atau organisasi,” tutur Niniek. Sewaktu masih menjadi siswa SMA, Niniek pun membaca buku Solitaire Mystery karya Jostein Gaarder. “Dari buku itu aku memahami bahwa menjadi berbeda itu tidak apa-apa,” pungkasnya.

APA YANG MEMBUATMU TERUS BERKEGIATAN?
Para aktivis dan relawan yang diwawancarai untuk artikel ini, memberi jawaban beragam untuk pertanyaan, “Apa yang membuatmu terus berkegiatan?” Russelin dan Fajar memberi jawaban serupa: keseimbangan. “Aku butuh untuk jadi tetap seimbang. I need that balance. Melakukan kewajiban kerja mencukupi kebutuhan sehari-hari dan mencukupi kebutuhan jiwa,” jawab Russelin. Sedangkan Fajar mengaku sudah menemukan rumus keseimbangan sejak dulu, yaitu keseimbangan 3 hal : hati, pikir, dan perut. “Kalau hilang satu, jadi ada yang kurang,” jelas Fajar.




Fajar pun menambahkan, “Ketiganya harus dapat ruang untuk berkembang. Prinsip utamanya adalah migunani tumraping liyan.” Falsafah migunani tumraping liyan (Jw) memiliki arti berguna untuk sesama. Russelin pun punya konsep berbagi dengan sesama melalui ilmu, “Bertemu banyak orang memperkaya diri. Bertemu orang lain artinya mendapat ilmu baru, mendapat tempat berbagi ilmu. Berbagi adalah bagian dari jiwa sosial, ya. Hal-hal ini membuat hidupku lebih seimbang.”

Tauhid memberikan jawaban yang penuh harap akan masa depan. Tauhid kini sedang berproses bersama kawan-kawan Wikikopi dengan menggelar berbagai kelas dan residensi dengan media belajar kopi dan pangan. “Aku tetap berlanjut karena 2 bocahku. Aku sekadar ingin agar mereka dapat menikmati dunia yang lebih baik saja,” jelasnya.

PENUTUP
Mengenali diri penting bagi kegiatan dan kerja kita untuk dunia yang lebih baik. Dalam mengenali diri, kita memberi ruang bagi diri kita untuk mempertanyakan konsep diri dan berbagai mekanisme pikiran yang mendasari hal-hal yang kita lakukan. Berkaitan dengan itu pula, kepercayaan-kepercayaan serta sudut pandang yang diri kita pilih untuk melihat dunia di sekitar kita.

Konsep-konsep di dalam diri kita mempengaruhi kerja-kerja dan kegiatan yang kita pilih di dalam hidup. Memperluas objektivitas, memperluas ilmu, memperluas hati dan pikir baik dilakukan secara berkala untuk mendukung kerja-kerja kita. Kita bisa melakukannya melalui berlatih kesadaran di waktu luang, berinteraksi secara luas dengan sesama maupun mengambil jarak dari keseharian kita untuk refleksi diri.

Satu cara mengenali diri adalah dengan mengenali orang lain juga, usul Tauhid di sela percakapan mengenali diri. Hal tersebut didukung juga oleh Alvieni yang mengusulkan bahwa salah satu latihan mengenali diri adalah untuk, "Membaca biografi orang-orang, ya." Membaca kisah hidup para tokoh merupakan satu cara untuk mengenal konsep diri mereka dan apa yang mereka perjuangkan di berbagai konteks dan budaya yang berbeda dengan kita. Dengan latihan kepekaan dan kecerdasan emosional tersebut, kita akan mendapatkan bekal untuk perjalanan diri kita masing-masing.

“Pertama-tama, tentukanlah dirimu ingin menjadi apa; lalu kerjakan apa yang harus kamu kerjakan,” Epictetus berujar, tiga abad kemudian setelah Socrates.




[i] Self-image: adalah gambaran mental yang sudah bertahan dalam pikiran seseorang tentang dirinya. Gambaran diri ini tidak hanya sifat dan deskripsi yang dapat dilihat saja(seperti bentuk fisik, warna kulit), tetapi juga hal-hal yang dia pelajari tentang dirinya dari pengalaman pribadi atau proses internalisasi penilaian dari orang lain. (disarikan dari Self-image, https://en.wikipedia.org/wiki/Self-image, diakses 27 Maret 2017)
[ii] Ideal-self adalah representasi sifat-sifat yang diinginkan untuk diri kita, baik oleh kita atau orang lain (aspirasi atau harapan orang untuk diriku). Diri ideal biasanya mendorong seseorang untuk berubah menjadi lebih baik. (disarikan dari Self-discrepancy theory, https://en.wikipedia.org/wiki/Self-discrepancy_theory, diakses 27 Maret 2017)
[iii] Sedangkan self-esteem adalah evaluasi emosional yang menyeluruh dan subjektif terhadap diri kita sendiri, termasuk penilaian diri dan sikap kita akan diri kita sendiri. (disarikan dari Self-esteem, https://en.wikipedia.org/wiki/Self-esteem, diakses 27 Maret 2017)

No comments:

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...