[PIKIR] MENEMUKAN DIRI DI PUSAT KEBERADAAN

Oleh: Umbu

“To be or not to be, that is the question..” 
 Hamlet, Act III, Scene 1, William Shakespeare 


Pangeran Hamlet dari Denmark dalam cerita drama Shakespeare berbicara pada dirinya sendiri, sebuah soliloqui, atas rasa tak berdaya menjalani kehidupan dan mempertimbangkan apakah sebaiknya ia mengakhiri hidupnya. Ia merasa putus asa terjebak pada tekanan hidup akibat terbunuhnya sang ayah oleh pamannya dan keinginan untuk membalas dendam. Sekali pun terujar dalam sebuah frame yang sangat melankolis, kalimat tersebut menginspirasi begitu banyak karya sastra dunia sesudahnya dan menjadi sebuah warisan literer yang sering diungkap kembali justru sebagai afirmasi eksistensial untuk memberi semangat pada perjuangan memenangkan kehidupan.

Di Indonesia kita mengenal penggalan puisi Chairil Anwar: “Sekali berarti, sudah itu mati”, Sajak Diponegoro, 1943, — sebagai sebuah pernyataan semangat untuk menjadikan hidup yang cuma sekelebat ini tidak berlalu begitu saja. Hidup yang meski cuma secuil dalam pergolakan dunia yang serba absurd, pantas jadi cara untuk memperjuangkan makna.

Dalam soliloqui Hamlet dan sajak Diponegoro kita melihat ciri kehidupan yang paling penting, ketika dihadapkan pada persoalan bereksistensi manusia selalu berhadapan dengan realitas krisis hidup dan mati, bukan sekedar bernyawa atau tak bernyawa, tetapi soal makna yang pantas mengisi jalannya hidup. Begitu individu menyadari eksistensinya, ia sekaligus menangkap makna, bukan dalam konsep atau pengertian, melainkan dalam rasa, dalam seluruh atmosfer keberadaan yang melingkupinya. Rasa berada yang intens, yang hanya bisa tertangkap sepenuhnya ketika seseorang menghadapi kondisi ekstrim, entah sesuatu yang sangat menakjubkan atau pun menakutkan. Di hadapan realitas yang mengancam kehidupan, seseorang merasa berada di batas hidup dan mati, entah ia akan putus asa atau melakukan tindakan ekstrim untuk menyelamatkan hidupnya. Di hadapan sesuatu yang sangat menakjubkan, sesuatu yang melampaui daya tangkapnya, seseorang akan merasa kecil, hilang, dan tak berarti. Hamlet merasa putus asa dan cenderung memilih tidur dalam kematian agar realitas berlalu tanpa tanggung jawabnya, sedangkan penyair sajak Diponegoro yang telah melalui semua penindasan mampu melihat celah sempit bagi masa depan bangsanya yang harus ia perjuangkan dengan menghimpun roh sang pahlawan.

****

Enigma eksistensi, teka-teki keberadaan adalah tugas terpenting kita: “To be or not to be, that is the question..”. Di tengah dunia kita bertanya tentang hakekat keberadaan kita dan mempersoalkan kemampuan pembebanan yang bisa kita pikul untuk melayani hidup. Pertanyaan dasar inilah yang sejak dulu telah coba dijawab oleh mitologi, agama-agama, filsafat, ilmu pengetahuan dan bahkan politik.

Agama dan mitologi terbangun dari pengalaman krisis eksistensial dan rasa tak berdaya manusia di hadapan kondisi ekstrim, di hadapan yang maha menakutkan dan maha menakjubkan. Agama memerintahkan manusia untuk menyembah, mitologi mengharuskan kita untuk melayani kekuatan kosmik dalam berbagai ritual. Politik, dalam hal ini negara atau kekuasaan, berusaha menghadirkan krisis ekstrim tersebut dengan menjadi sangat menakutkan atau mengagumkan dan meniru agama dan mitologi untuk menundukkan manusia menjadi individu-individu yang taat demi ‘kebaikan bersama’.

Filsafat bisa menjadi jalan keluar dari tekanan agama dan mitologi serta politik yang menekan eksistensi namun filsafat tidak dapat menggunakan doktrin apa pun untuk mengajarkan pendapatnya. Filsafat sesungguhnya memang bukan pengajaran, filsafat lebih merupakan sebuah tindakan, sebuah ciri manusia berkesadaran untuk terus memandang ke dalam eksistensinya secara rasional. Pernyataan filsafat terpenting tentang eksistensi datang dari Filsuf Immanuel Kant (…) dari masa renaisans yang menegaskan keberadaan manusia sebagai syarat terakhir dari seluruh pelaksanaan tugas manusia di dunia. Makna manusia tidak didasarkan pada ajaran apa pun, baik dari agama maupun mitologi dan ideologi. Keberadaan manusia itu sendiri sudah cukup untuk menjadi alasan bertindak benar dalam hidup.

****

Belajar dari Dua Pangeran
Soliloqui Hamlet adalah krisis eksistensial, apa artinya terus bernyawa, sementara hidup menjadi beban tak tertahankan, sedangkan roh Diponegoro yang dipanggil penyair adalah api semangat untuk mengatasi krisis kehidupan yang direndahkan kekuasaan kolonial. Chairil Anwar dalam sajak Diponegoro berbicara tentang kesadaran bereksistensi: “Sekali berarti, sudah itu mati”. Makna, keberartian adalah soal terpenting dari persolalan eksistensi. Makna bukan dalam frame mitologis yang menjanjikan kekekalan heroik dengan bahagia di kahyangan, atau agama-agama doktrinal yang menawarkan upah surga bagi yang berbuat baik. Makna dalam gagasan eksistensial penyair ini adalah makna otentik ala Kant, yang tidak meminta referensi supranatural, ‘… sudah itu mati’ selesai tanpa embel-embel janji apa pun.


Humanisme Kant yang tidak menggantungkan eksistensi manusia pada kebenaran di luar kebenaran faktual, adanya kemanusiaan tidak bisa kita lihat sebagai doktrin atau ideologi dogmatik yang biasa kita lihat pada asas paham-paham agama atau politik. Kebenaran Eksistensi manusia adalah daya, energi, tenaga yang menggerakkan seluruh kebenaran. Kita hanya bisa menerimanya dalam tataran dinamis, melalui kegelisahan yang sungguh kita rasakan. Kebenaran ini bukanlah dogmatis atau ideologis, ia adalah kita yang hidup dan gelisah mencari makna kehidupan.

Eksistensi tidak dapat dibuktikan oleh sains atau ideologi. Ia bukanlah jargon yang bisa dilihat di pamflet-pamflet politik atau ulasan filsafat. Eksistensi dalah kebenaran yang dirasakan masing-masing individu, ia adalah hidup itu sendiri. Eksistensi adalah ruang otentik dimana kita menyadari bahwa kita hidup, menyatakan pada diri kita, “kita ada”.

Pada kebenaran ini kita menemukan diri, bahwa kita berada dan merasakan seluruh indera kita terbuka mencerap dunia yang meliputi kita, dunia yang dekat pada detak jantung kita, ruang-ruang kecil di rumah kita, di lorong-lorong kota di antara seliweran kehidupan, manusia sesama yang memerlukan kehadiran kita di dalam dunia maha luas yang tak bisa lagi diukur dengan daya tempuh cahaya… kita tetap di pusat semua kebenaran, kita yang berada di antara krisis Hamlet dan teguh berjuangnya sang Diponegoro. Kitalah sang penyair, eksislah!!

No comments:

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...