[PIKIR] MENJALANKAN PERIKEMANUSIAAN

Oleh: Umbu

… ia menyewa taksi ke Bandung dan minta diturunkan di jalan Braga. Hari sudah malam. Ia meninjau-ninjau dan mengintip-ngintip ke dalam kantor redaksi Medan. Tak seorang pun dikenalnya. Ia ragu-ragu untuk masuk, juga tidak berusaha untuk bertanya. Kemudian ia pergi berjalan kaki….

Seperti burung patah sayap ia berjalan merasuk, memasuki sebuah dangau kosong di pinggir jalan … ia mengenangkan segala-galanya yang sudah lewat. Betapa kedekut Tanah Air dan bangsanya pada dirinya. Di Hindia ini betapa orang mudah melupakan, seperti tulang- belulang paling keras pun, rapuh melenyap oleh kelembapan tanah tropis…

(Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer)

—— Menjalankan Peri-kemanusiaan

Sebuah perspektif bagi para relawan

Kemanusiaan kita terikat pada berbagai narasi, bukan saja pada kisah-kisah besar alam semesta, kisah penciptaan baik dalam mitologi, agama, pada cerita ilmiah tentang jadinya galaksi dan bintang-bintang, evolusi, dan terbangunnya spesies manusia, sejarah, kebangsaan, suku golongan dan sebagainya—tetapi juga pada kisah-kisah kecil yang spesifik seperti sejarah keluarga, kisah pribadi, detail keseharian, pada cerita tentang kejadian-kejadian personal, karakter, sifat-sifat dan bahkan pandangan hidup pribadi. Tentang setiap kita, selalu bergantung pertanyaan tentang siapakah kita, berdasarkan asal-usul, suku, asal tanah air, ikatan keluarga, sejarah pendidikan dan seterusnya. Bahkan secara pribadi, setiap orang menginginkan hidupnya terbangun dari sebuah narasi yang bermakna — kita seakan selalu ingin menuliskan otobiografi yang sungguh memberi nilai pada kemanusiaan, kita ingin bercerita tentang kisah kita dan ingin menjawab pertanyaan besar tentang siapakah kita dalam narasi yang bermakna.


Inilah energi terpenting kita, bangkit ke dalam narasi, bereksistensi berarti berada dalam paparan cerita, entah dalam cerita riwayat keluarga, kita terlahir sebagai anak dalam keluarga dengan runutan kisah yang sangat tua, kisah yang pasti terekam dalam warna kulit, DNA, tempat lahir, nama keluarga, kebangsaan, impian-impian dan trauma-trauma yang teronggok dalam lapisan kolektif yang dalam. Tetapi kita pasti bangkit dalam narasi, ke dalam cerita yang harus kita tulis sendiri, yang kita rangkai sebagai cara kita masuk ke dalam kehidupan, mungkin tidak lewat pintu yang tersedia, lewat kesempatan-kesempatan yang senantiasa ditawarkan, melainkan melalui celah-celah tak terduga yang kita buat sendiri atau yang terjadi begitu saja akibat kejadian-kejadian atau narasi-narasi tersembunyi yang luar biasa.

*******

Penggalan kisah jalan Braga di atas, yang dinarasikan oleh Pramoedya adalah tentang Raden Mas Minke (R.M. Tirto Adhi Soerjo, 1880 - 1918) yang kehilangan segalanya setelah kembali dari pembuangan. Ia pulang ke Bandung dengan kopor kaleng tua tak berisi untuk menengok kantor surat kabar yang ia dirikan semasa perjuangan, dan tak ada yang dapat dia temukan lagi.

Raden Mas Minke yang jadi tokoh utama tetralogi pulau Buru, bangun dari narasi feodal yang diwarisinya, membaca dengan cermat narasi tersembunyi yang diderita bangsa pribumi Hindia Belanda, seperti Multatuli, ia tersadarkan oleh suatu semangat untuk memberi diri ke dalam sebuah narasi baru, narasi perlawanan terhadap sistem penindasan oleh para intelektual dan birokrat Belanda. Ia adalah sang pemula dalam seluruh sejarah perlawanan intelektual pribumi terhadap kolonisasi atas tanah Hindia Belanda. Ia memperkenalkan narasi tersembunyi yang selama ini hanya bisa dirasakan rakyat jelata, Minke menulis, menuturkan narasi sedih ketertindasan dalam semua tulisannya pada koran yang ia terbitkan bersama kawan-kawannya, Medan Prijaji (1903). Ia lantas ditindas dan dibuang jauh agar tak dapat didengar lagi.

*****

Minke menjadi sadar akan narasi tersembunyi, yang hanya bisa dibaca dengan membangun kepekaan kemanusiaan yang penuh penyerahan diri. Narasi yang tertimbun oleh kebisuan penderitaan rakyat jelata hanya bisa dibaca dan didengar oleh jiwa yang membuka mata, dan menyendengkan telinga, yang terbangun dari tidur panjang kebodohan.

Minke priyayi menjalankan diri sebagai kelas menengah yang aktif, merelakan hidup, menjadi aktivis, menjadi relawan, bukan dengan menjadi peneriak persoalan, melainkan dengan membangunkan semua orang, yang ditindas, yang menindas, dan terutama kaum kelas menengah, yang menikmati privilese priyayi dengan menekan dan menjilat. Ia menuliskan opininya yang tajam, membangun kesadaran dan menyerahkan seluruh hidupnya pada perjuangan di antara bangsa yang belum terjaga.

*****

Ketika sesosok jiwa terbangun, menyadari pentingnya menuliskan hidupnya dalam narasi yang bermakna, ia pasti akan melekatkan narasi hidupnya pada konteks narasi terpenting yang ia yakini dengan segenap jiwanya. Jiwa yang demikian akan merelakan kehadirannya pada cita-cita perubahan, semangat untuk mengubah dunia, memperbaiki dan menggembalakan kehidupan. Satu-satunya bahaya pada penuturan narasi kehidupan adalah kecenderungan narsisistik yang terjadi akibat keengganan merelakan hidup. Kaum perambah kehidupan yang ingin menuliskan namanya dengan ujaran kemegahan, kaum cinta-diri yang menjadikan persoalan masyarakat sebagai tangga mencapai cita-cita pribadi, tentu tidak memiliki kerelaan pada hidup.

Tentang hal ini pun dituliskan Pramoedya dalam lelakon Minke yang mengeluh: Di Eropa, terutama di Perancis, setiap orang yang melakukan sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi masyarakatnya, dengan sendirinya mendapatkan tempat dalam masyarakatnya. Lain halnya di Hindia, di sini orang berebut tempat dengan cemas, seperti takut tak kebagian, tanpa mau melakukan hal yang bermanfaat… Karakter kaum priyayi yang tidak mampu merelakan diri pada narasi kehidupan, yang hanya cemas pada tempatnya dalam narasi tua penindasan adalah bahaya yang membisukan bangsa. Kaum intelektual yang berdiam diri, yang hanya asyik mencari posisi, dan membiarkan hidup terperosok dalam kesalahan adalah bencana bagi masyarakat. Kaum intelektual semestinya adalah energi kesadaran masyarakat, daya penggerak dalam komunitas yang beradab. Kaum inilah yang seharusnya memperdengarkan narasi-narasi tersembunyi dalam sistem kemasyarakatan yang tidak adil, dan sekaligus membangun narasi baru menuju kehidupan yang bermartabat.

Merelakan kehidupan adalah menjalankan peri-kemanusiaan, yakni daya empati pada nasib manusia, nasib bangsa, yang tak mampu membaca sendiri narasi tersembunyi yang melumpuhkan martabatnya. Daya empati yang menggerakkan jiwa para aktivis di mana pun di seluruh dunia, merelakan hidupnya untuk pengharapan pada keharusan kehidupan yang beradab. Inilah energi yang membebaskan kita dari narasi bawaan kita: warna kulit, nasib kolektif, keturunan, asal-usul, DNA dan catatan biologis di badan kita, impian-impian dan trauma-trauma bawah sadar, perangkap golongan dan kelompok, riwayat politik, stigma-stigma kronis yang sengaja direkatkan— agar kita bangkit menuliskan narasi humanisme baru yang beradab bagi semua orang.

Seorang aktivis adalah dia yang dilahirkan kembali oleh ibu kehidupan. Warisannya adalah kesadaran akan berbagai narasi baru yang ia temukan sendiri pada realitas kepahitan di dunia, dan ia akan meninggalkan tanah lama tempat seharusnya ia bisa nyaman berakar, masuk merasuk pada tantangan hidup yang mesti berarti. Ia akan merelakan jiwanya, menjalankan peri-kemanusiaannya, melawan arus yang menidurkan orang, mengekalkan kekuasaan dan mematri penderitaan.

*****

Lantas adakah ganjaran yang pantas bagi seorang relawan kehidupan, bagi dia yang terbangun dan menjadi aktif untuk membangunkan komunitasnya? Ganjaran bukanlah ukuran keberhasilan, apalagi ukuran nilai hidup, seperti sebuah cerita yang baik biasanya masih meninggalkan tanya dan keraguan tetapi menyiratkan keteguhan hati pada sang pelakon utama untuk menghadapi hidup dengan berani. Narasi tidak harus berakhir indah bahagia. Lagi pula, apa itu akhir cerita? Seperti cerita Raden Mas Minke di malam hari di dangau kecil setelah melepas harap di jalan Braga, ia tidak mendapatkan apa-apa. Kesenduan di ujung buku Rumah Kaca tersebut adalah tembang sedih Pramoedya tentang hidup yang terlupakan. Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, sang pemula kebangkitan kesadaran humanisme kita yang dilupakan oleh penulisan sejarah Indonesia, dia yang mendahului Boedhi Oetomo….

*****

No comments:

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...