[TIPS] YOGA SEBAGAI CERMINAN DIRI

Oleh: Dyah Synta


Untuk sebagian besar orang, yoga adalah salah satu alternatif olah raga yang menyenangkan. Umumnya dilakukan di dalam ruangan sehingga tidak perlu terhambat oleh cuaca, termasuk salah satu olah raga yang low impact sehingga terkesan mudah untuk dilakukan, dan tidak memerlukan peralatan khusus sehingga lebih murah. Sekitar enam tahun yang lalu, saya sendiri adalah salah satu orang yang mulai tertarik untuk melakukan yoga karena alasan-alasan tersebut.

Sayangnya, banyak orang yang enggan memulai beryoga karena satu alasan yang seragam, yaitu malu. Tentunya rasa malu ini bukan semata-mata timbul karena belum mengenal siapa-siapa di dalam komunitas yoga. Yang lebih sering terjadi adalah muncul rasa malu karena merasa tidak jago, sehingga takut mempermalukan diri di sendiri di dalam kelas yoga. Tentu saya juga pernah berada dalam fase ‘malu’ tersebut, tapi tidak perlu waktu lama sampai akhirnya saya menyadari bahwa fase itu sebenarnya hanya bentuk kekhawatiran yang tidak pada tempatnya.

Kenyataannya, kelas yoga tidak pernah diperlakukan sebagai sebuah kompetisi dan saya belum pernah berada di dalam kelas yoga yang diakhiri dengan pengumuman ranking peserta mulai dari yang paling jago sampai yang paling tidak jago. Kenyataannya, sebagai peserta kelas, setiap kali mengikuti kelas yoga saya tidak pernah mempedulikan siapa yang jago dan siapa yang tidak. Bukan berarti saya menganggap peserta lain tidak penting. Saya justru sangat semangat untuk memiliki teman-teman baru dari setiap kelas—baik yang saya ikuti sebagai peserta maupun sebagai pengajar. Tapi untuk saya, ketika saya melakukan suatu bentuk postur atau asana, saya tidak melakukannya untuk dilihat atau dinilai oleh orang lain—saya melakukannya untuk saya sendiri.

Ketika menyadari ini, saya sebenarnya ragu untuk meyakini kebenarannya. Sulit untuk menerima bahwa saya diperbolehkan untuk menyikapi setiap asana dengan cara yang saya rasa terbaik untuk saya. Mungkin karena sejak kecil segala sesuatu yang berhubungan dengan kata ‘kelas’ hampir selalu diikuti dengan kata ‘nilai’, ‘peringkat’, dan lain sebagainya. Jadi bukan hal yang mudah untuk menerima bahwa dalam kelas yoga, saya tidak diminta untuk mendapatkan ‘nilai’ yang setinggi mungkin.

Lama kelamaan, kesadaran tentang hal inilah yang membuat saya semakin mencintai yoga. Ketika saya menyadari bahwa sekian belas jam setiap hari saya habiskan untuk berkomunikasi dengan orang lain dalam berbagai bentuk, satu atau dua jam beryoga menjadi sebuah kemewahan dimana saya—akhirnya—bisa berkomunikasi dengan diri saya sendiri.

Dalam satu sampai dua jam, saya tidak perlu khawatir tentang persepsi yang terbentuk tentang saya dan tidak perlu mengkhawatirkan penilaian orang lain terhadap saya. Saya menemukan keasyikan tersendiri ketika saya diperbolehkan untuk ngobrol dengan diri saya, menciptakan koneksi dengan irama napas saya, merasakan segala perubahan dinamika detak jantung dan suhu tubuh saya. Meskipun hanya untuk waktu yang terbatas, tapi saat itulah saya merasa bisa ‘melihat’ banyak hal tentang diri saya. Karena jika diibaratkan dengan sebongkah gunung es, ‘siapa saya’ yang saya komunikasikan dengan orang lain hanyalah sebagian kecil dari diri saya. Sebagian besar diri saya yang lainnya—pemikiran, perasaan, emosi, dan bahkan energi—adalah ‘PR’ yang harus saya selami dan cari tahu sendiri, salah satunya melalui yoga.

Pengalaman inilah yang selalu ingin saya bagikan dalam setiap kelas yoga saya, bahkan melalui setiap kesempatan yang memungkinkan. Ada banyak sekali cara untuk mengeksplorasi diri kita melalui yoga. Beberapa contoh sederhananya adalah:

1. Pernapasan

Napas adalah kegiatan yang paling setia menemani keseharian, namun juga paling sering kita abaikan. Karena itu, tidak salah jika dikatakan bahwa salah satu cara termudah untuk mengenali diri kita adalah dengan menyadari bagaimana kita bernapas. Duduklah dalam posisi yang nyaman dengan posisi tulang belakang (spine) netral, jauhkan bahu dari telinga untuk menghilangkan ketidaknyamanan yang mungkin muncul di area bahu dan leher.

Pejamkan kedua mata, lalu fokuskan perhatian pada napas. Mulai dengan irama napas yang alami tanpa berusaha mengontrolnya, lalu sadari bagaimana tubuh Anda bereaksi pada setiap tarikan dan hembusan napas. Selama 3-5 menit, Anda bebas untuk menikmati cara Anda bernapas.

2. Twisting

Dalam posisi duduk bersila, tarik napas yang dalam sambil berusaha meninggikan ubun-ubun ke arah langit-langit sekaligus memanjangkan spine. Pastikan tulang duduk tetap stabil di atas lantai atau matras sehingga Anda bisa merasakan ruas-ruas tulang punggung yang menjauh satu sama lain.

Letakkan tangan kanan di atas lutut kiri, dan tangan kiri di lantai, di belakang tubuh, lalu perlahan hembuskan napas sambil membawa kedua bahu Anda menghadap ke kiri. Tahan 3-5 napas dalam posisi memuntir tulang belakang ini, lalu lakukan ke arah yang sebaliknya.

Gerakan twisting ini bisa memberikan pemahaman luar biasa tentang tubuh kita, mulai dari seberapa kuat otot-otot di bagian torso, menginformasikan bentuk bahu yang sering tidak kita sadari membungkuk ke depan atau terlalu terbuka ke belakang, bahkan apakah kita sedang masuk angin atau tidak.

3. Keseimbangan

Berdiri dengan kedua telapak kaki lurus menghadap ke depan, lalu letakkan telapak kaki kanan di bagian dalam paha kiri atau di betis (hindari meletakkannya di samping lutut). Pastikan panggul lurus menghadap ke depan dan tidak terangkat di satu sisi, begitu pula dengan kedua bahu. Kuatkan otot perut dengan cara menarik masuk pusar ke arah spine, pastikan tulang ekor tidak melenting ke luar dan punggung tidak melengkung baik ke arah depan (rounding) maupun belakang (arching). Satukan kedua telapak tangan di depan dada. Tahan 3-5 napas, lalu lakukan sisi sebaliknya.


Tree pose atau Vrksasana ini adalah salah satu pose keseimbangan yang sederhana. Melalui asana ini, kita dapat mengenal postur tubuh dan spine, kekuatan otot perut dan kaki, apakah kita cukup beristirahat di malam sebelumnya, dan bagaimana kualitas fokus serta konsentrasi kita.

4. Ambisi

Rentangkan kedua tangan lurus ke samping, lalu buka kedua telapak kaki selebar jarak antara kedua pergelangan tangan. Pastikan seluruh jari kaki menghadap lurus ke depan, lalu putar telapak kaki kanan 90 derajat ke arah kanan. Condongkan tubuh ke arah kanan semaksimal mungkin, seolah-olah ada yang menarik tangan kanan Anda. Perlahan-lahan, tanpa menekuk lutut kaki kanan, turunkan telapak tangan kanan Anda dan letakkan di paha/tulang kering/matras/lantai. Minta bantuan seseorang untuk memfoto Anda dari samping kanan atau kiri (bukan dari depan atau belakang). Lihat bentuk yang Anda hasilkan.

Dalam melakukan Trikonasana atau Triangle pose, seringkali orang berlomba-lomba untuk meletakkan telapak tangan di lantai sehingga mengorbankan integritas upper body. Akibatnya, bentuk yang tercipta adalah dada yang membungkuk, atau panggul yang menungging ke belakang.

Ada begitu banyak manfaat yang ‘tersembunyi’ di balik setiap asana yoga, bahkan banyak pula rahasia tentang diri kita yang kadang baru bisa kita ketahui ketika kita beryoga. Mudah-mudahan tulisan singkat saya ini bisa menambah motivasi untuk mencoba beryoga, ya. Tidak perlu malu, karena toh tidak ada yang akan memberi skor. Yang perlu kita lakukan di atas matras hanya bersikap jujur dan menerima diri kita sendiri apa adanya.

Keempat bentuk asana yoga yang saya paparkan di atas merupakan gerakan dasar yang kiranya bisa dipraktekkan di rumah. Yang paling penting adalah dari setiap asana yang kita lakukan, dapat membantu kita merefleksikan atau melihat cerminan diri kita yang mungkin sebagian telah tersesat dalam rutinitas kita. Memeriksa kembali pilihan yang telah kita ambil dalam hidup ini dalam setiap tarikan nafas yang kita lakukan melalui asana yoga tersebut. Dari proses tersebut, mungkin kita bisa memfokuskan diri kembali pada apa yang sesungguhnya kita cari, namun terdistraksi karena berbagai rutinitas yang semakin banyak.

Namasté.

No comments:

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...