Showing posts with label Angga Dwiartama. Show all posts
Showing posts with label Angga Dwiartama. Show all posts

[PIKIR] ILUSI INDUSTRI 4.0: SEBUAH TELAAH KRITIS ATAS TEKNOLOGI ZAMAN NOW

Oleh: Angga Dwiartama


Pendahuluan
Sekarang, saya tidak perlu lagi khawatir soal kekurangan makanan di malam hari. Cukup pilih beragam menu di aplikasi gawai pintar saya, dan dalam 15-30 menit, seseorang akan mengetuk rumah saya membawa sebungkus makanan. Tidak perlu keluar uang tunai, karena semua pembayaran sudah dilakukan di aplikasi pintar saya. Saya juga tidak perlu khawatir saat berkelana seorang diri ke daerah antah berantah. Tanyakan saja pada Google Maps, dan dia akan memberitahukan beragam alternatif jalan untuk ditempuh, termasuk jalan-jalan tikus, beserta estimasi waktu tempuhnya.

Ini jelas belum seberapa. Petani di AS, Australia atau Eropa sana bekerja laiknya manajer kantor, mengendalikan semua aspek pertanian dari komputer pintarnya di ruang kantornya yang sempit. Sensor mendeteksi kadar air tanah dan kelembaban udara, misalnya, dan menginstruksikan sprinkler untuk menyemprot air secara otomatis apabila dianggap terlalu kering. Pestisida dan herbisida sudah tidak diperlukan lagi, karena setiap hama dan gulma dapat dideteksi oleh sensor dan ditembak menggunakan laser.  Di peternakan, setiap ekor domba yang digencarkan di lahan memiliki taggeospasial di telinganya yang sinyalnya ditangkap oleh satelit, sehingga perilaku domba yang sedikit berbeda saja dari gerombolannya dapat dianggap sebagai kelainan. Pesawat tanpa awak kemudian akan melihat lebih jelas apa yang terjadi dan melaporkan temuan lapangan melalui foto atau video ke sang manajer. Tersadar untuk bergerak, sang manajer memasukkan koordinat si domba ke motor ATV-nya, dan motor tersebut akan membawa petani untuk mengunjungi ternak tersebut dan memberi perlakuan[1].

[OPINI] MENYOROTI SISI GELAP RANTAI NILAI GLOBAL INDUSTRI SANDANG

Oleh: Angga Dwiartama


Sandang, Pangan, dan Peradaban

Di awal tulisan ini saya ingin menegaskan bahwa saya bukan pakar di bidang fashiondan industri pertekstilan. Tulisan-tulisan saya, termasuk di Pro:Aktif Online, banyak berkutat di bidang pertanian dan pangan. Satu hal yang awalnya saya pikir sama antara pangan dan sandang adalah bahwa keduanya berangkat dari hasil bumi, sehingga saya bisa sedikit banyak bercerita tentang sejauh mana peradaban manusia telah mendorong pertanian dunia untuk menghasilkan kedua hal ini. Meskipun demikian, saat saya mencoba menelusuri lebih dalam tentang bagaimana dunia saat ini menghasilkan pakaian, perbedaan antara pangan global dan sandang global makin lama makin saru. Bahwa di tengah keglamoran dunia fashion ataupun industri makanan, tersembunyi sisi gelap yang melibatkan berbagai bentuk pengerukan, perusakan dan pencerabutan lingkungan hidup dan masyarakat dari akarnya. Kalau para pemerhati masalah pangan melihat film dokumenter Food, Inc.(2008) sebagai ikon kritik terhadap industri pangan modern, saya menyarankan teman-teman menonton The True Cost (2015) yang menjadi ikon kritik terhadap industri sandang modern.

Poster The True Cost

Di dalam beberapa paragraf ke depan, saya akan mencoba merefleksikan hasil bacaan saya tentang industri sandang global, sambil sesekali mengunjungi beberapa temuan saya di industri pangan global. Seperti di tulisan saya yang lain tentang pangan (misal: link ke Pangan dalam Cengkeraman Kapitalisme dan Pangan sebagai Politik yang Menubuh), semoga akhir tulisan ini bisa sedikit mencerahkan.

Saya mulai cerita ini dari zaman dahulu kala. Sandang maupun pangan berperan besar di dalam pembangunan peradaban masyarakat. Di saat manusia prasejarah berburu dan meramu untuk memperoleh pangan, mereka juga mengembangkan pakaian untuk menghangatkan badan mereka. Kulit hewan dan serat tumbuhan dipintal secara sederhana menjadi kain pelindung tubuh. Saat produksi pangan ditopang oleh pertanian fase awal, demikian halnya dengan sandang. Serat dari tanaman-tanaman seperti kapas, kapuk, rami, dan linen mulai diolah menjadi lembar-lembar pakaian sederhana. Pakaian juga dihasilkan dari bahan baku yang berasal dari hewan seperti wol dan sutera[1].

Di sisi lain, pertanian yang lebih kompleks dan rumit menghasilkan pakaian yang lebih mahal dan berkelas. Pakaian para dewa dan raja-raja, sebagai contoh, dipintal dari sutera alam yang halus, yang proses produksinya membutuhkan keahlian dan ketekunan tingkat tinggi. Tidak banyak pengrajin yang bisa menghasilkan kain sekelas sutera. Di titik ini, produksi yang terkonsentrasi di wilayah yang peradabannya maju seperti China (sutera), India (katun) dan Eropa (linen)serta permintaan yang kian tinggi dari penjuru dunia menjadi pondasi dibangunnya industri sandang dalam skala global. Jalur sutera, orang-orang bilang, adalah jejak nyata sandang di dalam peradaban manusia. Hal ini sejalan dengan perdagangan komoditas pangan mewah seperti rempah-rempah, kopi, teh, kakao dan gula dari pengrajin di Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk raja-raja di Eropa dan Timur Tengah. Sandang, seperti pangan, memiliki fungsi pelengkap, tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga menjadi simbol identitas kelas.

Fase ini di dalam cerita peradaban manusia tentunya belum seberapa gelap ketimbang saat revolusi industri mulai menggeliat di abad ke-18. Kolonialisme yang dibangun di atas pengerukan sumberdaya pertanian diperparah dengan upaya untuk mentransformasi sumberdaya ini secara massal dan cepat. Apabila pemintal benang dan perajut kain dulu dikenal sebagai artisan berketerampilan tinggi, mesin-mesin industri saat itu mampu menggantikan produksi kain secara lebih cepat, lebih seragam dan lebih efisien. Peran manusia direduksi menjadi sekedar tenaga kerja. Hal ini berlaku baik untuk pangan maupun sandang. Kolonialisme dan revolusi industri (yang nantinya juga diikuti dengan revolusi hijau) meninggalkan petani dan pekerja tercerabut dari identitas unik mereka. Petani gurem, buruh murah, mereka adalah kolateral dari efisiensi produksi. Mereka menjadi tergantikan, dispensable.

Industri Sandang Global dan Fast-Fashion
Maka sampailah kita ke wajah industri sandang di dunia modern ini. Di depan mata, nama-nama seperti GAP, CJ Penney, Marks & Spencer jamak dilihat sebagai brand-brand besar yang menjual pakaian dengan harga premium. Apa yang menyebabkan mereka bisa menguasai industri fashion global? Apakah teknologi yang mumpuni? Ataukah asset produksi yang besar dengan mesin-mesin yang efisien? Sebelum menjawab ini, kita perlu melihat dua bentuk rantai nilai global di dalam industri modern kita. Gary Gereffi[i], seorang sosiolog dari Amerika Serikat, menjelaskan bahwa ada industri yang didorong oleh produsen, dan industri yang didorong oleh pembeli. Industri yang didorong oleh produsen mengandalkan kehandalan teknologi dan asset produksi yang pada akhirnya membangun pasar. Di sisi lain, industri seperti pakaian tidak membutuhkan inovasi teknologi yang tinggi. Perusahaan-perusahaan ternama yang saya sebutkan di atas bahkan tidak memiliki asset produksi. Mereka mengedepankan aspek marketing, jalur ritel, ide desain fashion dan nilai jual branduntuk menjamin penangkapan rantai nilai sebesar mungkin di rantai industri globalnya. Laiknya industri pangan global yang dicirikan oleh makanan siap saji (fast food), industri sandang global dicirikan oleh pakaian siap saji (fast fashion) -- industri yang mengedepankan pergantian mode yang cepat dan, konsekuensinya, alur produksi yang cepat pula.

Wajar kiranya apabila dibalik hingar bingar industri pakaian siap saji ini, di saat dunia fashion dan retailer mengambil porsi nilai terbesar, para petani, buruh pabrik dan pengusaha tekstil berebut nilai tambah dari sisa-sisa yang ada -- aktivitas yang tidak jarang mengorbankan lingkungan hidup dan masyarakat lokal. Dalam banyak tulisan[ii], industri tekstil digadang sebagai penyumbang pencemaran lingkungan kedua terbesar di dunia setelah industri minyak bumi. Ini yang disebut dengan perlombaan menuju dasar (race to the bottom) di dunia bisnis. Hal ini mengawali bagaimana kita membongkar sisi gelap dari industri apparel (pakaian) dunia[iii], sambil kita coba runut mata rantai demi mata rantai.

Rantai nilai industry apparel

Jeratan Hutang di Sektor Pertanian Kapas
Cerita gelap industri sandang dimulai dari hulu, di bentangan lahan pertanian di pusat-pusat produksi bahan baku tekstil dunia. Saya ingin mengangkat satu komoditas pertanian yang menjadi bahan baku utama kain dunia: katun, yang terbuat dari tumbuhan bernama kapas (Gossypium spp.). China adalah penghasil kapas terbesar, disusul oleh India dan Amerika serikat. Ketika China diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomi yang pesat dan produksi pertanian massal, India memiliki cerita yang berbeda. Pertanian kapas di India memiliki sejarah  panjang dari 5000 tahun yang lalu di lembah sungai Indus, dan dari sana industri katun berkembang di dunia. Semua berjalan baik hingga masa kolonialisme di mana kerajaan Inggris menerapkan politik dagang yang ketat terhadap katun di India. Sejak saat itu, sekalipun industri katun di India berkembang baik, kesejahteraan petani semakin menurun. Buku A Frayed History: The Journey of Cotton in India tulisan Meena Menon dan Uzramma menceritakan secara gamblang tentang perjalanan getir ini.

Untuk mengilustrasikan ini lebih jauh, coba teman-teman cari di Google menggunakan kata kunci ‘farmer’s suicide’, dan berita pertama yang keluar adalah kisah tentang para petani kapas di India. Sejak tahun 1995, telah ada lebih dari 200.000 kasus bunuh diri petani. Menurut artikel yang ditulis di kantor berita CNN[iv], ada 2-3 orang petani di India yang bunuh diri setiap harinya! Keterjeratan para petani dengan hutang adalah penyebab utamanya. Iklim muson sangat berpengaruh terhadap produksi kapas, disertai rentannya kapas akan hama yang menuntut penggunaan pestisida besar-besaran. Saat cuaca tidak bersahabat, produksi kapas bisa hancur seketika. Di sisi lain, saat produksi membaik, harga kapas seringkali anjlok di bawah harga dasar bagi petani. Pengenalan kapas transgenik, yang semula diharapkan memberi solusi, justru memperburuk keadaan karena petani semakin terikat oleh harga bibit kapas transgenik dan hama ulat buah yang mulai menunjukkan resistensi, sebagaimana dilansir kantor berita The Guardian[v].

Merefleksikan fenomena ini pada produksi pangan dunia, cerita petani India dan kapas adalah kisah klasik petani yang bergantung pada komoditas global. Di Indonesia, cerita ini jamak didengar untuk komoditas seperti kopi, kakao, karet, pala atau cengkeh, yang harganya mengikuti harga internasional, sehingga para petani bergantung pada pasar yang berada di luar jangkauan mereka, dan  mereka tidak bisa mengkonsumsi produk itu sendiri. Hasil akhirnya adalah keadaan di mana para petani menjadi price-taker dan sangat rentan terhadap berbagai faktor di luar kuasa mereka. Hal yang sama juga bisa kita lihat pada para buruh di pabrik-pabrik tekstil.

Perlombaan ke Dasar di Industri Tekstil dan Konveksi
Kini kita bergeser ke bagian tengah dari rantai industri sandang. Industri tekstil menerima kapas, wol, linen atau kepompong sutera dari para petani, memintalnya menjadi benang, menenun dan mewarnainya menjadi kain siap olah. Industri konveksi kemudian memola, memotong, menjahit dan menyablon kain ini menjadi pakaian siap pakai. Di sepanjang proses ini, industri menekan biaya produksi hingga serendah-rendahnya atas dasar efisiensi. Bahan baku ditarik dari pusat-pusat produksi yang paling efisien (atau yang mau menawarkan harga paling murah), dan oleh karena itu menyebabkan banyak petani menjadi korban. Semi-mekanisasi produksi membutuhkan tenaga kerja tanpa keterampilan khusus (buruh pabrik) yang dapat dibayar semurah mungkin. Studi Gereffi tentang industri sandang global menunjukkan bahwa manufaktur tekstil dan konveksi akan cenderung mengarah pada negara-negara yang dapat menawarkan harga tenaga kerja termurah. Alhasil, industri pakaian di Jepang, China dan Korea meng-outsource-kan produksinya ke India, Bangladesh, dan negara-negara Asia tenggara (termasuk Indonesia), industri Eropa ke Afrika, dan  Amerika Serikat dan Kanada ke Amerika Latin. Saat undang-undang ketenagakerjaan di negara-negara tersebut diperketat, perusahaan akan bereaksi dengan memindahkan pabriknya ke negara lain.

Banyak tulisan telah menunjukkan bahwa race to the bottom untuk tenaga kerja di industri tekstil dan konveksi telah banyak memakan korban. Kebakaran besar di pabrik garmen di Amerika Serikat sekira satu abad yang lalu yang menewaskan lebih dari 100 pekerja menjadi catatan sejarah kelam. Satu abad kemudian, kejadian serupa terjadi di Rana Plaza di Bangladesh di mana runtuhnya bangunan pabrik menewaskan lebih dari 1000 pekerja (10 kali lipat dari kejadian di AS). Polanya serupa. Pengusaha tidak memerhatikan kondisi bangunan dan keselamatan pekerja demi mengejar keuntungan. Kejadian di Rana Plaza tahun 2013 lampau membukakan mata banyak orang tentang kondisi kerja dan kesejahteraan para buruh pabrik di banyak negara-negara berkembang di mana industri tekstil dan konveksi bertahan. Belum lagi apabila kita hitung segala dampak dari limbah bahan-bahan kimia yang digunakan sebagai pemutih, pewarna, dan enzim untuk tekstil atau pewarna sablon yang dibuang ke badan sungai di banyak tempat, termasuk di sekitar Bandung.

Tanggung Jawab Konsumen di Ujung Rantai
Baik pertanian serat maupun industri garmen mungkin bisa disalahkan di balik segala kerusakan lingkungan dan eksploitasi buruh di negara-negara berkembang di dunia. Akan tetapi, kita sebagai konsumen memiliki andil yang sama besarnya. Perlombaan menuju dasar di dalam industri sandang bersumber dari pola hidup masyarakat yang serba cepat dan murah. Ada harga yang mahal di balik pakaian murah yang kita beli di pasar. Meskipun demikian, pakaian mahal juga tidak menjamin bahwa produk yang kita beli lebih berkelanjutan. Retailer dan industri fashion mengambil nilai sangat banyak dari tren dan mode tanpa mengindahkan para pelaku usaha di bagian hulu mereka. Jadi, harga mahal yang kita bayarkan mungkin tidak pernah kembali kepada para petani dan buruh pabrik. Lebih parah lagi, fashionyang cepat berganti berimplikasi pada perputaran barang yang semakin cepat pula. Ujung dari rantai industri ini adalah tempat pembuangan sampah akhir yang dipenuhi oleh bergulung-gulung pakaian-pakaian bekas yang bisa jadi masih layak pakai. Semua mungkin hanya karena tren mode tahun ini sudah berbeda dengan apa yang in tahun lalu.

Menjadi konsumen pakaian yang bertanggung jawab di Indonesia, di masa sekarang, memang lebih sulit ketimbang menjadi konsumen pangan yang bertanggung jawab. Dalam hal pangan, kita selalu bisa mulai dari tanaman di pekarangan kita sendiri, atau membeli produk-produk dari petani lokal. Tapi bagaimana dengan pakaian? Apakah membeli baju dari toko di sebelah rumah berarti bahwa kita telah membantu memutus mata rantai industri sandang global? Atau apakah kita perlu memintal benang dan menenun kain sendiri agar bisa lebih berkelanjutan? Tentunya tidak semudah itu pula.

Menjadi konsumen pakaian yang bertanggung jawab membutuhkan beberapa pengorbanan kecil. Hal ini dimulai dengan menyadari bahwa kita tidak membutuhkan pakaian sebanyak itu. Selain itu, berbeda dengan pangan yang bersifat perishable, kita bisa memilih pakaian yang lebih tahan lama bagi kita. Memilih pakaian yang sedikit lebih mahal karena daya tahannya jelas lebih baik daripada memilih pakaian yang murah tetapi cepat sekali rusak -- tidak hanya karena kita menghasilkan lebih sedikit limbah, tetapi juga karena kita mungkin membayar lebih besar bagi para pelaku di tingkat hulu. Ini juga jelas lebih baik ketimbang memilih pakaian mahal karena mode, penjahit atau brand-nya.  Apabila kita mau dan mampu, mulai banyak pakaian-pakaian berlabel hijau (eco-fashion)yang dijual di pasaran. Tetapi seandainya pun harganya tidak terjangkau, kita bisa lebih bertanggung jawab dengan apa yang kita punya -- kurangi konsumsi kita, dan perlama pemakaian pakaian kita.


[1]Minyak bumi datang belakangan, menghasilkan produk serat sintetik seperti polyester, nilon, dan spandex.



Rujukan
[i]Gereffi, G. (1999). International trade and industrial upgrading in the apparel commodity chain. Journal of international economics48(1), 37-70.
[ii] Salah satu tulisan tentang kontribusi industri tekstil terhadap pencemaran lingkungan dapat dilihat di https://www.alternet.org/environment/its-second-dirtiest-thing-world-and-youre-wearing-it
[iii]Gereffi, G., & Memedovic, O. (2003). The global apparel value chain: What prospects for upgrading by developing countries(pp. 5-6). Vienna: United Nations Industrial Development Organization.

[PIKIR] PANGAN SEBAGAI POLITIK YANG MENUBUH

Oleh : Angga Dwiartama

Sudah menjadi norma umum bahwa ketahanan dan kedaulatan pangan mensyaratkan agar masyarakat mampu mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan pangan, atau beralih dari sistem pangan global ke penyediaan pangan di tingkat lokal. Tapi, pernahkah teman-teman menanyakan mengapa berbagai program pemerintah untuk mendiversifikasi pangan melalui sumber karbohidrat non-beras disinyalir gagal total? Atau mengapa gerakan membangun pangan lokal di berbagai belahan dunia – sekalipun tumbuh subur – tidak benar-benar menggaet massa yang cukup untuk membuat perubahan yang berarti? Dan mengapa sebagian besar masyarakat masih terperangkap di dalam pola makan yang tidak sehat, instan dalam kemasan, tidak jelas dibuat dari apa, dan memiliki jejak ekologis yang tinggi?

Bagi para aktivis, sangat mudah menyalahkan korporasi dan pasar bebas. Perusahaan-perusahaan besar menawarkan segala kemudahan dan kemurahan untuk mengakses pangan olahan, menekan petani dengan harga beli bahan pangan murah yang bisa didapat dari mana saja, dan menjajakan massa dengan makanan instan rendah nutrisi dan belum tentu aman. Memang, harus kita akui bahwa kita hidup di dalam suatu rezim pangan global yang menenggelamkan sistem-sistem pangan lokal di berbagai pelosok. Meskipun demikian, ini baru satu sisi dari mata koin dominasi pangan global kita. Satu sisi lagi, dalam pandangan saya, terletak pada diri kita sendiri, sebagai konsumen dan anggota masyarakat.

Sejarah konsumsi pangan tidak bisa lepas dari apa yang oleh Michael Carolan, seorang sosiolog dari Amerika Serikat, sebut sebagai politik pangan yang menubuh. Teman-teman mungkin langsung memicingkan mata ketika mendengar kata politik. Politik yang sering kita lihat umumnya kita sebut sebagai politik praktis, politik yang dipraktekkan oleh kader-kader partai, calon anggota legislatif, dan calon pemimpin daerah untuk memperoleh kursi kekuasaan. Politik dalam pengertian yang lebih luas berhubungan dengan perilaku penguasa dalam memperluas pengaruh dan kekuasaannya ke khalayak luas. Tulisan-tulisan lain di dalam edisi ini (Baca artikel oleh Fictor Ferdinand bertajuk Makanan dan Politik: Bagaimana Hubungan Makanan, Negara dan Kedaulatan Diri) menangkap dengan tajam bagaimana pangan terjalin erat dengan politik dan kekuasaan, bahkan sejak zaman kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara – dan bagaimana pilihan komoditas acapkali berhubungan dengan cara pemerintah memastikan hubungan patronasinya dengan rakyat jelata. Akan tetapi, politik pangan ini belum cukup menjelaskan, mengapa pola-pola interaksi manusia dan pangan tertentu (sebut saja, gandum atau beras, atau segala bentuk makanan siap saji) bisa lebih mendominasi hidup kita ketimbang yang lain?

Tentang selera dan politik yang menubuh
Di sinilah maksud dari pangan sebagai politik yang menubuh. Untuk bisa berdampak luas, politik harus meresap ke dalam tubuh setiap warga, dan apa yang bisa meresap dengan lebih baik ke dalam tubuh selain pangan? Kita tahu bahwa pangan melekat pada manusia melalui kebutuhan dasarnya dan nilai gizi yang terkandung di dalam pangan. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah bahwa pangan melekat melalui rasa dan selera. Upaya pemerintah mendorong warganya untuk membaca buku atau menerapkan Keluarga Berencana, sebagai contoh, tidak bisa seefektif dorongan untuk memakan nasi, karena, sekalipun dimulai dari paksaan, konsepsi tentang nasi mampu meresap ke setiap warga melalui pengalaman dan proses internalisasi nasi sebagai pangan yang ‘baik’. Hal inilah yang menyebabkan beras pada akhirnya bisa diterima di Papua dan kepulauan timur sekalipun itu bukan makanan pokoknya. Tapi rasa dan selera tidak berhenti di sini – selera, lebih lanjut, adalah produk kelas sosial.

Adalah Pierre Bourdieu, seorang filsuf dan sosiolog Perancis, yang mengedepankan teori di mana selera mencerminkan dan menjadi simbol bagi kelas atau kelompok masyarakat tertentu. Di dalam bukunya, La Distinction, Bourdieu berargumen bahwa selera tidak diciptakan oleh individu, tetapi dibangun dari nilai-nilai yang ingin dipertahankan oleh suatu kelas masyarakat, untuk membedakan (distinguish) antara kelasnya dan kelas lain yang lebih rendah. Kita tumbuh dan menyukai satu dan lain hal melalui cerapan kita terhadap lingkungan sosial di sekitar kita. Individu memiliki kecenderungan untuk berada sejalan dengan kelas sosial di mana ia berada (atau di mana ia ingin berada). Kelas yang berkuasa kemudian bisa mendikte selera mana yang bagus, dan mana yang tidak. Kelas jelata, pada akhirnya, menerima ini sebagai sesuatu yang membedakan mereka, dan mendorong individu-individu untuk pindah ke kelas yang dianggap lebih baik melalui upaya untuk mencerap selera itu.

Bourdieu
Sumber: https://twitter.com/emmcdonell/status/529458797425610752
Kita ambil contoh dengan kopi. Sejak lama di Jawa (di zaman penjajahan Belanda di abad ke-18 lebih tepatnya), kopi menjadi minuman bagi para elite bangsawan dan tuan tanah. Buruh kebun bahkan tidak diperbolehkan membawa biji kopi keluar dari area perkebunan. Tidak semua suka kopi mungkin, tapi kenyataan bahwa kopi mencitrakan kelas telah membangun selera baru bagi orang-orang di dalam kelas penguasa. Kelas jelata pun memimik apa yang dicitrakan oleh kelas di atasnya, tentu dengan cara dan kapasitas yang mereka miliki. Terbangunlah apa yang disebut dengan kopi kampung, cukup kompleks hingga menjadi satu paket budaya kopi. Tiga abad kemudian, gelombang baru kopi dunia masuk ke Indonesia dan kembali mendikte selera. Sekarang, sebagian masyarakat kelas menengah ke atas di negeri ini mencerap expresso atau cappuccino lebih dekat ketimbang kopi tubruk – kopi, dan cara tertentu meminum kopi, kembali menjadi simbol kelas di masyarakat. Agaknya kita boleh bertanya apa yang menggugah selera kita pada kopi: rasa inherent-nya atau karena kita ada di lingkungan yang demen kopi? Cerita yang sama berlaku untuk komoditas bernilai tinggi lain seperti teh, tembakau, dan kakao yang punya sejarah kolonialisme kelam di belakangnya.

Coffee snob
Sumber: http://www.spanishdict.com/answers/277763/la-palabra-del-dia-particular
Membangun politik pangan yang baik
Cerita tentang transformasi pangan di seluruh dunia dan di setiap masa selalu melibatkan perlawanan dan habituasi tubuh, serta pemaksaan, peniruan, penolakan dan penerimaan. Di Indonesia timur, masyarakat mencerap rasa dan selera atas beras sebagai lebih baik (baca: berkelas) daripada sagu (Baca artikel Fictor Ferdinand), dan proses ini dimulai dari persepsi kelas elite yang ditiru oleh kelas sosial di bawahnya. Konsumsi produk-produk instan dalam kemasan diimajikan di dalam pariwara melalui keluarga kelas menengah ke atas yang menikmati waktu berkualitas bersama keluarga sambil makan di restoran siap saji, atau anak muda gaul yang meneguk minuman bersoda dengan nikmatnya. Atau jika kita kembali ke kasus kopi, pertumbuhan berbagai café kelas menengah yang membawa gaya baru dalam konsumsi kopi semakin meningkatkan konsumsi kopi di masyarakat kelas pekerja, sekalipun kopi yang mereka minum (kopi instan dengan kandungan gula tinggi) berbeda dengan kopi di kelas menengah atas.

Lalu, kembali ke pertanyaan pertama, apabila pengaruh konsumsi pangan modern, yang notabene dianggap tidak baik, bisa sebesar itu, mengapa konsumsi (dan produksi) pangan yang baik dan sehat tidak bisa? Sebagaimana saya ungkapkan di paragraf-paragraf awal, politik pangan bermuara pada politik yang terwujudkan di dalam tubuh kita. Bayangkan tubuh Anda sebagai arena perlawanan politik: di satu sisi, Anda dihadapkan pada dorongan untuk mengonsumsi makanan siap saji, di sisi lain Anda didorong untuk menginternalisasi nilai organik ke dalam gaya hidup Anda – makanan mana yang Anda pilih? Sejauh mana Anda menentukan pilihan, sejauh itu pulalah politik pangan menubuh.

Tapi seperti yang diangkat oleh Bourdieu, politik rasa dan selera tidak berhenti di dalam diri individu; ini adalah fenomena kelas sosial. Kita bisa melihatnya dari dua arah. Pertama, kita tahu bahwa gaya hidup organik dan pangan lokal akan lebih mudah disebarluaskan apabila itu menjadi selera yang dibangun oleh kelas sosial elite di masyarakat.  Tokoh-tokoh ternama, selebriti dan pemimpin negara dalam hal ini berperan penting untuk mengkonstruksi selera baru di dalam masyarakat, yang akhirnya diadopsi oleh kelas jelata. Pemerintah selayaknya meninggalkan pendekatan lama (sebagai Bapak Angkat yang menyediakan bantuan bagi anak-anaknya) dan beralih ke cara budaya baru bekerja. Dalam konteks ini, pertarungan politik meluas ke berbagai media (massa dan sosial). Di Indonesia, selebriti-aktivis seperti Nugie dan Nadine Chandrawinata punya andil menyuarakan gaya hidup yang ramah lingkungan. Para celebrity chef global seperti Jamie Oliver dan Hugh Fearnley-Whittingsall juga menembus pasar Indonesia untuk mengenalkan cara mengolah makanan secara sehat. Tetapi, mereka mungkin kalah pamor dibandingkan selebriti lain yang lebih terkenal dan menjadi duta konsumerisme dalam posisi mereka sebagai bintang pariwara.

Cara pandang kedua adalah seperti yang dilakukan oleh Bourdieu – melihat fenomena ini sebagai suatu kritik sosial. Tidak etis agaknya bagi kita, aktivis, untuk mencekoki nilai organik dan pangan lokal kepada masyarakat awam menggunakan gaya hidup yang mengumbar diferensiasi kelas. Alih-alih menanam romaine lettuce, kale, atau iceberg lettuce di kebun organik kita atau mengolah pangan lokal menjadi burger atau pizza – jenis-jenis pangan dan masakan yang, harus kita akui, mencerminkan kelas –, kita bisa menanam kangkung, genjer atau jaat yang mencerminkan kelas sosial yang berbeda. Biar bagaimanapun, kelas jelata di titik tertentu akan memiliki resistensi terhadap sesuatu yang asing bagi mereka; alih-alih meniru, mereka akan membangun tembok identitasnya sendiri.

Sebagai masyarakat kelas yang berkesadaran, kita bisa membalik cara dunia bekerja, atau setidaknya tidak membiarkan perbedaan kelas mengacak-acak identitas kelas sosial yang lemah. Coba lihat contoh-contoh ini: (1) menguatnya identitas pasar tradisional di kawasan marjinal, yang meluas menjadi kampanye untuk mempertahankan pasar tradisional di tengah desakan supermarket dan pasar modern; (2) gerakan kopi kampung sebagai counterhegemony atas pertumbuhan specialty coffee gaya barat di kota-kota besar di Indonesia, atau (3) sistem pangan lokal yang terbangun sebagai reaksi masyarakat marjinal terhadap desakan pertumbuhan perkotaan dan isu-isu agraria. Ketiganya mengisyaratkan bahwa pergulatan menuju sistem pangan yang lebih baik tidak harus berangkat dari atas.

Ada banyak cara untuk membangun sistem pangan lokal yang baik, sehat dan berkelanjutan. Meskipun demikian, pada akhirnya semua akan tergantung pada politik yang ada di tubuh kita. Pangan adalah sesuatu yang personal, tapi juga kolektif. Perjuangan membangun sistem pangan yang lebih baik harus melangkah lebih dari sekedar logika, tetapi melalui suatu proses yang menggugah dan menginternalisasi rasa dan selera secara mendalam (visceral). Menyadari pergulatan politik pangan pada diri kita dan di kelas yang ada di masyarakat akan membawa kita untuk bertindak lebih bijak di dalam mengadvokasi sesuatu yang baik bagi seluruh lapisan masyarakat.



Daftar Pustaka :

1. Berdasarkan data dari FiBL, badan riset organik Swiss (2017), sekalipun laju pertumbuhan pertanian organik di dunia lebih cepat dari pertumbuhan pertanian konvensional, secara keseluruhan lahan pertanian organik hanya berkontribusi pada 1% dari total lahan pertanian; FiBL. (2017). The World of Organic Agriculture 2017. https://www.fibl.org/fileadmin/documents/en/news/2017/mr-world-organic-agriculture-2017-english.pdf

2. Carolan, M. (2011). Embodied Food Politics. Ashgate Publishing. ‘Embodied’ di dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai mewujud, tetapi dalam hal ini ‘embodied’ dikaitkan dengan materialisasi politik di dalam tubuh, yang mana kata menubuh menjadi lebih tepat. 

3. Bourdieu, P. (1979). La Distinction: a social critique of the Judgement of Taste. Routledge.

4. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, konsumsi kopi per kapita di Indonesia mencapai 1,7 kg/kapita/tahun di tahun 2017, meningkat sebesar 7% per tahun  (http://www.kemenperin.go.id/artikel/15421/Menperin:-Gaya-Hidup-Dorong-Industri-Kopi-Tumbuh.
Dari hasil wawancara dengan AEKI, konsumsi kopi kemasan yang meningkat merupakan ripple effect dari pertumbuhan café dan konsumsi kopi segar di masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...