Showing posts with label Hilda Lionata. Show all posts
Showing posts with label Hilda Lionata. Show all posts

[Pikir] Riwayat Gerakan Lingkungan

Gerakan lingkungan lahir pada abad ke-19, dibidani oleh mereka yang peduli pada kelestariannya. Awal gerakan lingkungan terjadi pada tahun 1890, John Muir dan Robert Johnson sukses melobi Kongres untuk melestarikan Yosemite sehingga lahirlah Yosemite National Park. Keduanya kemudian bergabung membentuk Sierra Club, salah satu organisasi lingkungan pertama dan leluhur bagi banyak organisasi lingkungan modern. Di tahun yang sama, Gifford Pinchot kembali ke Amerika setelah belajar Kehutanan di Prancis. Dia terkejut sekali melihat penghancuran sumber daya alam di Amerika. Dia kemudian menata sistem pengelolaan sumber daya yang berfokus pada tebang pilih dan dibuatnya Hutan Lindung Nasional.
Di usianya yang dini, gerakan lingkungan di dunia dipengaruhi amat kuat oleh Pinchot dan Muir-Johnson. Pinchot menekankan pada konservasi, yaitu penggunaan sumber daya dengan pengelolaan yang baik, sementara Muir menekankan pada preservasi, yaitu alam yang sungguh-sungguh terjaga dan tidak diganggu oleh aktivitas manusia. 
Pada masa Perang Dunia di abad ke-20, gerakan lingkungan sempat tenggelam dan tidak terperhatikan. Usai PD II dan terjadi transformasi masyarakat pertanian menjadi industri, gerakan lingkungan mulai menggeliat kembali. Salah satu fokus perhatian berbagai pihak waktu itu adalah karya tulis Rachel Carson yang berjudul Spring di tahun 1962. Saat itu, intensifikasi pertanian dilakukan secara masif. Rachel Carson mengulas dampak kimia pestisida untuk lingkungan serta bagi kesehatan mahluk hidup dalam bukunya.
Pada tahun 1970, setelah merebaknya berbagai bencana lingkungan buatan manusia; Senator Gaylord Nelson mengusulkan sebuah demonstrasi akar rumput dengan mengatasnamakan lingkungan. Akhirnya, Hari Bumi pertama berlangsung, membawa gerakan lingkungan ke tahap kedewasaan yang baru. Tantangan yang dihadapinya berubah dari jenis hingga skalanya. Dalam kurun waktu yang sama pula, filsuf Norwegia Arne Naess mulai mengenalkan gerakan lingkungan dengan konsep deep ecology. Konsep ini menyatukan konsep preservasi, ekologi dan spiritual.
Di Indonesia sendiri, keberadaan gerakan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari isu politik. Pada masa Soekarno, pembangunan tidak diorientasikan pada aspek-aspek yang padat modal. Yang terjadi, justru Soekarno menolak dana asing yang menawarkan model pembangunan dengan mengenjot aspek ekonomi berbasis ekstraktif sumber daya alam. Dengan demikian, saat itu gerakan lingkungan boleh dikatakan tidak berkembang baik di Indonesia. Namun, pada periode tahun 1970-1980, setelah masa kepemimpinan Soekarno (Orde Lama) beralih ke masa Soeharto (Orde Baru), gerakan lingkungan mulai berkembang di Indonesia.
Pola pembangunan yang diterapkan Soeharto berlaku kebalikan dari Soekarno. Pada kepemimpinan Soeharto, pihak asing mulai berinvestasi di Indonesia, terutama industri-industri ekstraktif. Persoalan-persoalan lingkungan dikesampingkan demi peningkatan ekonomi dan menggenjot Gross Domestic Product (GDP), indikator perekonomian yang digunakan banyak negara di dunia. Istilah gerakan lingkungan di Indonesia, baru disebut dalam sebuah simposium tentang ‘15 tahun gerakan lingkungan Indonesia, menuju pembangunan berwawasan lingkungan’ di Jakarta, pada tahun 1972.
Periode gerakan lingkungan di Indonesia terbagi dalam 4 kurun waktu. Yang pertama, sekitar tahun 1970-1980, ditandai dengan masuknya agenda persoalan lingkungan dalam rumusan Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun 1973 dan Repelita II (1974-1979). Hal ini terjadi karena tekanan internasional dari Deklarasi Stockholm tahun 1972 tentang Biosphere. Tindak lanjutnya adalah pembentukan Kementerian Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup oleh Pemerintah Indonesia. Tujuan pembentukan kementerian terkait di atas adalah mengusung pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan efisien. Menteri pertamanya adalah Emil Salim, seorang ekonom lulusan University of Berkeley yang kemudian banyak mempelajari ilmu lingkungan. Emil mendorong munculnya LSM-LSM lingkungan di masa kepemimpinannya sekitar tahun 1978-1993. Pada masa itu, tiba-tiba ratusan organisasi lingkungan muncul di Indonesia, dari yang sebelumnya tidak ada.
Saat itu, organisasi lingkungan yang ada cenderung mengarah pada kegiatan pecinta alam, sekedar hobi maupun bersifat akademis. Sifat pemerintah yang represif membuat kehadiran organisasi berbasis massa saat itu harus berhati-hati. Bahkan untuk mencari atau membuat nama pun, sebuah organisasi lingkungan pun harus dipikirkan secara matang. Organisasi lingkungan tak boleh memprovokasi massa untuk melawan kebijakan Pemerintah, tapi mereka juga tak ingin dicap sebagai underbow partai ataupun kepanjangan tangan Pemerintah. Akhirnya, pada tahun 1980, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) terbentuk, menjadi salah satu wadah gerakan lingkungan di Indonesia. Dalam setiap aktivitasnya, WALHI mendorong organisasi-organisasi lain untuk mulai membentuk jaringan atau kelompok-kelompok kerja untuk Iingkungan. Jaringan kerja sama ini yang di kemudian hari menjadi atap bagi pemikiran gerakan lingkungan di Indonesia.
Gerakan lingkungan mulai memasuki periode kedua di Indonesia, yaitu periode tahun 1980-1990. WALHI mulai bermain di area advokasi. Beberapa kasus pengrusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia diperkarakan sampai ke meja hukum. Tuntutan pertama adalah kasus pencemaran lingkungan oleh PT. Indorayon.  Meskipun kalah, tuntutan ini merupakan satu loncatan besar untuk gerakan lingkungan di Indonesia. Itulah kali pertama, pada masa Orde Baru, sebuah lembaga dapat mewakili lingkungan atau masyarakat. Keberanian WALHI dalam menuntut PT. Indorayon patut diperhitungkan karena perusahaan tersebut didukung dan dimiliki oleh kerabat pucuk pimpinan pemerintah saat itu.
Sikap gerakan lingkungan hidup di Indonesia saat itu cukup jelas, tidak takut berseberangan dengan Pemerintah Orde Baru. Di saat bersamaan, gerakan lingkungan yang bekerja dengan mengacu pada kerangka kerja perundangan juga terus merangsek. Pada masa itu, dua undang-undang, yaitu UU No. 4 tahun 1982 mengenai Pokok Peningkatan Lingkungan Hidup serta UU No. 5 tahun 1984 tentang Perindustrian dalam Pembangunan Industri Berwawasan Lingkungan dikeluarkan. Penguatan perangkat Undang-undang diturunkan dalam PP No. 26 tahun 1986 tentang AMDAL.
Periode gerakan lingkungan di Indonesia yang ketiga adalah sekitar tahun 1990-1999. Dalam periode ini, Deklarasi Rio tahun 1992 tentang biodiversitas ikut diratifikasi oleh Indonesia dan kemudian terintegrasi dalam GBHN tahun 1993. Bappedal (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan) terbentuk dalam kurun waktu ini, membawa angin segar bagi gerakan lingkungan di Indonesia.
Sementara itu, WALHI telah menuntut sembilan kasus pengrusakan lingkungan lainnya ke pengadilan. Kasus yang diperkarakan antara lain adalah pengrusakan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar bermodal asing dan lokal, maupun oleh Pemerintah (kasus kebakaran hutan dan pengembangan lahan gambut sejuta hektar). Dari sepuluh kasus gugatan lingkungan, hanya satu kasus yang dimenangkan, yaitu Hak Atas Informasi melawan PT. Freeport Indonesia. Dalam putusannya, Majelis hakim hanya sebagian mengabulkan gugatan WALHI dan mengakui bahwa PT Freeport Indonesia telah melakukan perbuatan melawan hukum. Kemenangan ini menjadi catatan sejarah, bahwa lingkungan hidup dapat dimenangkan meskipun harus melewati perjalanan panjang. 
Masalah lingkungan mendapat perhatian serius dari hampir semua negara di dunia karena masalah dan krisis lingkungan tersebar di setiap negara dengan ragam dan derajat yang berbeda. Seluruh negara terlibat dalam mencari solusi terhadap persoalan tersebut. Agenda lingkungan yang awalnya menjadi isu minor kali ini masuk dalam isu dunia, dan dibicarakan dalam agenda politik internasional, mendampingi agenda keamanan dan ekonomi. Pada tahun 1992, diadakan Earth Summit di Rio dengan dihadiri oleh para kepala negara dan para perwakilan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Pencapaian yang terpenting saat itu adalah kesepakatan akan Konvensi Perubahan Iklim yang berujung pada Protokol Kyoto. Konvensi Keragaman Biologis juga diratifikasi pada pertemuan ini. Meskipun begitu, terdapat banyak kritik bahwa perjanjian yang dibuat di Rio tidak terwujud karena berbenturan dengan isu lainnya seperti pemberantasan kemiskinan.
Memasuki periode keempat, di tahun 1999, gerakan lingkungan di Indonesia berada dalam kesesakan yang disebabkan oleh masa Reformasi. Saat itu, keadaan perekonomian Indonesia amat terpuruk dan lagi-lagi lingkungan dikorbankan untuk menjawab masalah kemiskinan secara cepat. Pada masa pemerintahan Megawati banyak terjadi alih fungsi lahan atas nama kemiskinan. Pembalakan hutan kembali marak, belum lagi ditambah dengan warisan masalah lingkungan dari masa Orde Lama.
Gerakan lingkungan pada periode ini mengalami tantangan yang lebih kompleks. Krisis lingkungan tidak hanya terjadi di tingkatan individu atau lokal seperti bencana lumpur Lapindo misalnya. Krisis lingkungan yang berskala global juga semakin nyata terasa di Indonesia, seperti perubahan iklim, degradasi lahan dan hutan, kelangkaan air serta berkurangnya daerah tangkapan ikan. Gerakan lingkungan di Indonesia bergantung pada sistem politik, ekonomi dan sistem militer yang diterapkan di negara ini. 
Bila dicermati, gerakan lingkungan dunia akhirnya bekerja dengan strategi yang berbeda. Para pemerhati lingkungan hidup bermain dalam kerangka undang-undang dan politis akademis seperti yang dilakukan dalam konvensi lingkungan atau pertemuan yang diselenggarakan oleh UNEP. Belum lagi tulisan seperti The Limits to Growth, Our Common Future, One Planet yang mengingatkan terbatasnya sumber daya yang kita miliki dan meningkatnya tekanan akibat kegiatan manusia pada sumber daya tertentu.
Gerakan lingkungan juga sering bermain di ranah aksi nyata dan langsung. Bisa berupa bentuk protes langsung dengan memblok jalan atau memeluk pohon, juga dengan bentuk yang lebih halus berupa membuat budaya alternatif yang baru. Strategi gerakan lingkungan yang terbaru juga disukai oleh orang-orang yang sudah jenuh dengan  gaya hidup modern dan konsumtif, kalangan yang peduli kesehatan dan berusaha berada sedekat mungkin dengan sumber makanan mereka serta kaum spiritualis yang memandang keberadaan yang Maha di setiap benda di alam ini. Contohnya konsep ecovillage dan kembali ke kelompok subsisten.
Di umurnya yang sudah cukup tua, gerakan lingkungan berharap jalan keluar yang damai dan tenang. Sama halnya ketika perbudakan akhirnya dihapuskan dan menghilangnya gerakan anti apartheid. Ataupun ketika gerakan perempuan berhasil memperoleh hak suara, dan gerakan perempuan pendukung hak suara kemudian menghilang setelah pergerakannya yang hampir 100 tahun. Tantangan yang dihadapi agar gerakan lingkungan dapat berakhir dengan damai masih cukup banyak. Tantangan itu berbeda dari tantangan gerakan perempuan atau anti perbudakan. Selama sistem perekonomian dunia masih menguntungkan para pemilik modal dan selama manusia hidup tanpa berusaha selaras dengan alam, tampaknya gerakan lingkungan harus tetap eksis. Setiap strategi yang digunakan baik adanya, dan dari sejarah perjuangannya, yang terpenting adalah menyesuaikan ide tentang pencarian solusi atas masalah dengan konteksnya. Kebijakan terus berubah, media kampanye dan penyadaran semakin kreatif, kategori permasalahan lingkungan semakin lebar, dan semuanya dapat menjadi peluang untuk mencapai akhir gerakan lingkungan hidup yang tenang. Perkara siapa yang menjadikannya peluang, siapa lagi kalau bukan kita?

(Hilda Lionata)

[Media] Menengok Proyek Kebahagiaan dari Sustainable Seattle

Uang, kapal pesiar, banyak uang, uang dan keamanan di masa tua. Itulah jawaban yang keluar dari lima orang responden Amerika yang diberi pertanyaan, “Apakah yang membuatmu bahagia?”. Wawancara ini dilakukan oleh wartawan televisi King5 News di Seattle, Amerika Serikat. Ketika pertanyaan serupa diberikan oleh wartawan Aljazeera di tempat umum  di Seattle, jawaban yang muncul adalah sehat dan kemampuan untuk memberikan kembali ke masyarakat.
Meskipun kebahagiaan diinginkan secara universal, bentuk dan nuansanya amatlah bervariasi secara budaya, filosofis dan sejarah. Kebahagiaan dapat berupa sesuatu yang dianggap hedonisme budaya barat, kepuasan materi bagi masyarakat miskin Afganistan atau ketenangan bagi para pemeluk Budha misalnya. Dari jawaban responden di Amerika akan pertanyaan apa yang membuatmu bahagia, uang hampir mendominasi jawaban mereka. Seolah uang berbanding lurus dengan kebahagiaan. Di banyak negara maju yang berfokus pada perkembangan ekonomi, begitulah hipotesisnya. Benarkah? Menurut Penncock, seorang pakar kesehatan umum di Vancouver,
meskipun negara maju mengalami fakta perkembangan ekonomi di 20-25 tahun terakhir, persentase individu yang menyatakan dirinya puas dengan hidupnya sama saja dan bahkan menurun dalam kurun waktu yang sama. Bhutan, yang merupakan salah satu negara yang paling terisolasi dan berkembang, masuk dalam 10 besar negara paling bahagia di dunia dengan parameter kesehatan, kesejahteraan serta akses untuk pendidikan. 
Kerajaan Bhutan memang pelopor untuk masalah kebahagiaan di dunia. Di tahun 1972, Bhutan menjadi negara pertama yang mengukur kemajuan negaranya menggunakan Gross National Happiness (GNH) alih-alih menggunakan Gross Domestic Product (GDP). Pusat Kajian Bhutan telah menyusun survei ilmiah yang secara holistik mendefinisikan sembilan area kebahagiaan. Kesejahteraan materi berupa uang hanyalah salah satu diantaranya. Kesejahteraan psikologis, kesehatan, keseimbangan waktu, vitalitas dan hubungan sosial, akses pada seni dan budaya, pendidikan dan pengembangan kapasitas, standar hidup, pemerintahan yang bersih serta vitalitas ekologi merupakan delapan area kebahagiaan lainnya. Raja Wangchuck diusianya yang ke-16 bahkan mengubah Bhutan menjadi negara republik demokratis untuk memenuhi indikator GNH ini. SurveiGNH dapat memetakan kebahagiaan Bhutan dalam suatu ukuran yang memungkinkan kebijakan ekonomi menyeimbangkan kebutuhan spiritual dan materi sesuai dengan nilai-nilai negara yang kental dipengaruhi agama Budha. Di tahun 2011, PBB membuat kebahagiaan sebagai suatu indikator kunci untuk agenda pembangunan di seluruh dunia.
Walaupun secara etimologi kebahagiaan lebih lekat dengan keberuntungan, ilmu kebahagiaan menjelaskan tindakan menentukan 40% kebahagiaan kita dan bahwa kebahagiaan dapat dibuat dan terbentuk dalam kebiasaan. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, orang mulai terlibat dalam kegiatan pemicu kebahagiaan seperti meditasi, aktivisme, partisipasi budaya, dan lain sebagainya. Tak hanya di tingkatan individu; komunitas, universitas, pusat riset, pemerintah serta juga institusi mulai menciptakan ruang publik, profesional serta pribadi agar tercipta kehidupan yang lebih berbahagia. Dalam kasus Bhutan, di tingkat pemerintahan sudah diciptakan ruang untuk terciptanya kebahagiaan warga negaranya.
Sementara di belahan negara yang lain, suatu organisasi bernama Sustainable Seattle (S2) juga mulai mengembangkan alternatif lain selain GDP; yaitu indikator lokal kebahagiaan. Terinspirasi dari Bhutan, S2 mencoba membuat alternatif dari trend global. Di tahun 1991, Sustainable Seattle menjadi organisasi pertama di USA yang mengembangkan indikator lokal kebahagiaan sebagai pilihan lain dari GDP. Saat ini Sustainable Seattle telah menjadi rujukan dan inspirasi untuk lebih dari 100 kota di Amerika dan banyak kota di seluruh dunia. S2 diakui sebagai organisasi berkelanjutan selama lebih dari 20 tahun sejarah berdirinya. 
Tahun 1993, S2 mengeluarkan set indikator keberlanjutan yang pertama. Indikator yang mengukur Masyarakat Berkelanjutan ini berbentuk laporan dengan 20 indikator yang dipelajari dengan detil. Indikator keberlanjutan ini terus berevolusi, disusul oleh set kedua yang dikeluarkan dua tahun setelahnya. S2 mengeluarkan set ketiga indikator keberlanjutan regionalnya di tahun 1998. Setelah merilis Indikator 1998, Sustainable Seattle memutuskan untuk meninjau kembali program indikator-nya. Hanya menerbitkan indikator seperti yang dilakukan di tahun 93, 95 dan 98 membuat Dewan prihatin upaya tersebut tidaklah cukup. Program yang sukses perlu melibatkan dukungan aksi oleh warga negara, bisnis dan pembuat kebijakan sehingga mempengaruhi tren yang didokumentasi oleh indikator.
Bekerja dengan indikator sendiri cukup menantang karena indikator amatlah bervariasi sebagaimana sistem yang dimonitornya. Meskipun demikian, ada beberapa karakteristik serupa yang dimiliki oleh indikator yang efektif; relevan, menampilkan nilai-nilai komunitas, menarik untuk media lokal, terukur secara statistik, mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan logis, dapat diandalkan, terdepan serta relevan dengan kebijakan.
Ada dua pendekatan umum untuk mengembangkan indikator untuk seluruh populasi (misalnya, kota, negara, atau negara). Salah satu pendekatan bergantung pada para ahli untuk menentukan indikator yang sesuai untuk mengukur tren. Yang lainnya bergantung pada pendekatan akar rumput dan terikat pada nilai-nilai warga negara. Banyak program menggunakan kombinasi dari keterlibatan warga dikombinasikan dengan saran dari para ahli teknis. Dalam model Sustainable Seattle, nilai-nilai dan kebutuhan warga negara mendorong proses namun data ilmiah dan metode memberikan dasar untuk indikator sehingga ukuran yang dipilih dapat dimengerti dan valid.
Set indikator yang keempat baru diterbitkan sembilan tahun setelah yang ketiga. Sustainable Seattle juga menerbitkan kartu Laporan Komunitas Berkelanjutan untuk dua lingkungan (RT) sebagai proyek pilotnya. Di ulang tahunnya yang ke-20, bersama para mitranya, S2 menciptakan model Happiness Initiative dari hasil survei dan pengukuran untuk kebahagiaan serta keadilan sosial sehingga dapat direplikasi di kota manapun di Amerika. S2  terinspirasi oleh Deklarasi Kemerdekaan yang menyatakan bahwa “setiap orang berhak atas hak yang melekat padanya, kebebasan, hidup dan mengejar kebahagiaan.”
Happiness Initiative (HI) menyediakan perangkat, bantuan teknis, pendidikan, kampanye kesadaran serta layanan untuk mendukung proyek kebahagiaan. HI menawarkan suatu cara berpikir mengenai kesejahteraan dan memulai konservasi berkelanjutan untuk semua faktor yang mempengaruhi kesejahteraan dalam hidup di komunitas, tempat kerja atau bahkan di kampus. Di bulan Juni 2011, lebih dari 7000 orang sudah mengerjakan surveinya. Survei HI mengukur kondisi dan kepuasan hidup respondennya dalam 10 area kebahagiaan. Area tersebut adalah; kesejahteraan materi, kesehatan fisik, keseimbangan waktu, kesejahteraan psikologis, pendidikan dan pembelajaran, kualitas dan vitalitas lingkungan, vitalitas budaya, pemerintahan, vitalitas komunitas, pengalaman kerja.
Hasil survey menunjukkan bahwa rata-rata skor dari kesembilan parameter di Seattle sama atau lebih besar daripada di tempat-tempat lain di luar Seattle. Kesejahteraan psikologis diwakili dengan indikator tingkat bunuh diri, kesejahteraan materi diwakili oleh GDP area metropolitan, kesehatan diwakili oleh tingkat obesitas, vitalitas komunitas oleh laporan kekerasan, vitalitas budaya oleh persentase populasi orang non kulit putih yang teridentifikasi, tata pemerintahan oleh kehadiran pemilih di pemilihan presiden yang terakhir, vitalitas ekologis oleh emisi gas rumah kaca dan keseimbangan waktu oleh waktu tempuh rata-rata ke tempat kerja.
S2 menawarkan layanan berupa kuliah, seminar serta konsultasi. Donasi yang diharapkan dibedakan berdasarkan siapa yang menjadi klien mereka. Ketika klien mereka adalah suatu kelompok mahasiswa misalnya, donasi yang dipatok hanya sepersepuluh donasi untuk klien korporasi perjamnya. Kesemua bentuk layanan S2 pada dasarnya meliputi langkah-langkah melakukan suatu inisiatif kebahagiaan.
 
(Hilda Lionata)

[Profil] Putu Oka Sukanta Progresif dengan Kesehatan Alternatif

Profil Proaktif kali ini mengangkat tokoh yang tidak asing lagi. Putu Oka Sukanta, sosok yang lebih terkenal di luar negeri karena karya sastranya daripada di dalam negeri. Terkait dengan kesehatan alternatif, saat ini beliau sedang menyelesaikan buku “Akupresur Tangan yang Aman dan Bermanfaat.”
Sejak kecil beliau terbiasa hidup di antara masyarakat miskin, petani, nelayan dan perempuan pekerja. Ayah dan ibunya, petani yang buta huruf beserta Bude-nya, memberikan contoh keseharian bagaimana menghormati manusia lain, terutama yang lebih miskin. Salah satu hasil dari nilai yang ditanamkan oleh ketiga sosok yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupannya adalah Taman Sringanis. Lelaki kelahiran Singaraja, 29 Juli 1939 ini merupakan penggagas Taman Sringanis yang terletak di Bogor. Dari sebidang tanah yang dibeli berkat uang warisan orang tua, dibentuklah tempat yang dibuka untuk umum. Di sini publik dapat belajar berbagai jenis penguatan diri di berbagai bidang kehidupan yang tidak menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Untuk menghormati orang tua beliau yang berasal dari Bali maka diberilah nama kegiatan dan tempat tersebut Taman (nama ibu Ni Ketut Taman) dan Sringanis (nama kakak perempuan ibu yang tidak menikah, Ni Ketut Sringanis).

Asam garam telah mewarnai perjalanan hidupnya. Pada tahun 1968, beliau di penjara terkait dengan isu G30SPKI. Di penjara Salemba, beliau ditempatkan satu sel dengan seorang dokter bernama Lie Tjwan Sen yang mempelajari akupunktur di Korea Utara. Dokter inilah yang pertama kali mengenalkan dunia akupunktur kepadanya. Dengan segala keterbatasan yang ada di penjara, keduanya berusaha memberikan dan menerima ilmu sebaik-baiknya. Tidak ada catatan karena tidak ada buku ataupun alat tulis. Semua falsafah, teori dasar dan cerita tentang akunpunktur berpindah dari otak sang guru ke otak sang murid. Keterbatasan jarum diganti dengan usaha membuat jarum dari senar gitar no. 5. Praktek langsung dilakukan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan petugas. Para tahanan yang sakit menjadi pasiennya dan jumlahnya banyak.
Setelah keluar dari penjara Salemba ke penjara seluas tanah air di tahun 1976, Pak Putu memperdalam akupunktur dan mengikuti ujian pembakuan yang diselenggarakan Dinas Kesehatan pada tahun 1978. Pada tahun yang sama, Pak Putu meminta izin praktek dan menjadikan akupunktur sebagai sumber kehidupan. Dua tahun kemudian, Pak Putu menggandeng beberapa akupunkturis Tionghoa untuk membuka klinik dan menampung banyak bekas tahanan yang sudah lulus ujian negara akupunktur dan memperoleh izin praktek.
Di awal tahun 80-an, Pak Putu sudah dikenal oleh masyarakat internasional. Beliau dipanggil ke Bangladesh dan Srilanka untuk mengajari akupresur pada peserta pelatihan. Tak hanya pada peserta pelatihan, Pak Putu juga masuk ke desa-desa untuk mengajari akupresur untuk para petani di sana. Kegiatan seperti ini berlanjut sepulangnya ke Indonesia. Tahun 1984, Pak Putu mengembangkan pelatihan akupresur untuk kader-kader kesehatan (PKK) dengan sepengetahuan Dinas Kesehatan. Namun di tahun 1989, Orde Baru yang dimotori oleh Golkar dan militer menggulung yayasan Pak Putu dengan alasan menampung terlalu banyak bekas tahanan.
Pak Putu mengalami tahanan lagi, digebuki dan disetrum karena sering ke luar negeri tanpa izin dan dianggap mengembangkan metode komunis. Beliau dituduh dibiayai oleh gerakan komunis bawah tanah untuk melakukan perjalanan. Pada awalnya beliau menempatkan praktik akupunktur sebagai mata pencaharian, tetapi peristiwa penahanan kedua mengubahnya. Sejak itu beliau secara konsisten menghadapi dan melawan apa yang disebut diskriminasi dan stigmatisasi. Akupunktur dijadikannya media perjuangan untuk membuktikan bahwa ada ilmu kesehatan lain selain ilmu kesehatan modern. Dan ilmu non kedokteran modern ini dapat menjadi media pemberdayaan bagi setiap orang. Dalam teori akupresur, setiap orang tidak cepat-cepat menyerahkan dirinya ke pelayanan pengobatan, melainkan mencoba kemampuan dirinya terlebih dahulu, dengan mengaktifkan potensi yang ada di dalam tubuhnya.
Beliau ingin mengubah stigma bahwa tidak ada ilmu kesehatan lain selain ilmu kedokteran. Pak Putu ingin menghentikan pemberangusan budaya dan tradisi berkesehatan masyarakat yang menuduh pengobatan tradisonal itu tidak ilmiah dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Yang Pak Putu inginkan adalah pengobatan tradional dapat berkembang secara wajar sehingga dapat membuktikan dirinya sebagai ilmu kesehatan yang memiliki cara berpikir sendiri (baik itu terminologi, falsafah maupun paradigmanya). Dengan demikian, pengobatan tradional dapat terintegrasikan dalam pelayanan kesehatan, tidak diposisikan sebagai pengobatan komplementer semata. Biarlah semua obat kimia kedokteran dan tradional terintegrasi dalam sebuah atap pelayanan, berjalan harmonis dengan mengetahui keterbatasan masing-masing. Untuk mewujudkan keinginannya, Pak Putu masih sering memperbanyak kajian, membuat pendidikan secara teratur dan terencana dan mempraktekkannya, termasuk di Taman Sringanis.
Beliau membuka pelayanan akupunktur dan herbal di klinik pribadi selama 3 hari per minggu. Namun, akupunktur adalah profesi yang beliau kembangkan ke masyarakat. Tidak hanya mengobati, beliau juga mengajarkan cara-cara akunpunktur kepada publik. Berbekal pengalaman (tradisi) dan ilmu yang diperoleh secara otodidak dan learning by doing, beliau bersama istri yang tadinya penari kemudian beralih profesi menjadi akupunkturis dan herbalis.
Sejak tahun lalu, Pak Putu Oka Sukanta menjadi Direktur Program Komplementer untuk HIV/AIDS, sebagai bagian dari program Care, Support and Treatment, yang didukung oleh IHPCP/Aus AID. Kegiatannya adalah memberikan informasi, latihan dan terapi dengan cara akupresur, olah napas dan meditasi serta minuman sehat (jamu enak) kepada orang-orang yang terinfeksi HIV di Rumah Sakit Sulianti Saroso Jakarta, Penjara Bulak Kapal Bekasi, Penjara Paledang Bogor, dan Puskesmas Balimester Jakarta, serta menerbitkan buletin KOMPLEMENTER.
Sehat menurutnya adalah sebuah manifestasi terbentuknya keseimbangan (harmoni) relatif antara semua nilai kehidupan, baik itu fisik, mental, spiritual dan lingkungan.
Menurut Pak Putu, kendala yang sering dihadapi para aktivis adalah susahnya berkata tidak terhadap pekerjaan dan tantangan yang ada. Akibatnya, banyak aktivis sering mengalami kenaikan tekanan darah sering, nafas pendek dan emosional.
Menurut beliau, kendala tersebut dapat diatasi dengan berdamai dengan diri sendiri, serta menyadari keterbatasan kemampuan, ruang dan waktu. Selain itu, mengatur pola makan dan minum yang lebih sehat, berolah raga, beristirahat lebih banyak dan berani mengatakan TIDAK dengan santun dan hormat terhadap hal-hal yang diperkirakan akan membuat kondisi kesehatan terganggu.
Beliau melihat bahwa banyak sekali aktivis yang berpikiran maju, bersemangat tinggi, dan punya wawasan politik luas; tetapi sayang, dalam bidang kesehatan mereka masih lebih banyak berorientasi (bahkan ada yang bergantung total) kepada pelayanan kesehatan modern (industri kedokteran dan industri farmasi). Kesehatan tidak dirawat sebagaimana merawat organisasi dan programnya. Para aktivis sering lupa bahwa mereka mempunyai potensi diri dan alam yang dapat dijadikan pendukung,- alternatif perawatan kesehatan. Lupa punya sinar matahari pagi, lupa punya udara segar (oksigen), lupa punya bumbu dapur, lupa punya berbagai jenis buah dan sayuran dalam negeri, lupa punya jari tangan yang dapat difungsikan untuk kesehatan. Komentar guyonan beliau tentang para aktivis itu adalah; “Politik progresif, tapi kesehatan konservatif bahkan reaksioner”.
Namun Pak Putu tidak hanya berseloroh. Beliau berpendapat bahwa hal tersebut memang terjadi karena selama ini kita terkooptasi pada anggapan bahwa hanya ada satu ilmu kesehatan yaitu ilmu kedokteran modern. Pandangan seperti ini adalah dampak dari agresi industrialisme dalam bidang kesehatan yang sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda. “Ilmu kedokteran modern mempunyai keunggulan yang harus dibayar dengan uang banyak, tetapi masih ada ilmu kesehatan non kedokteran modern (non konvensional) yang belum diaktualisasikan dan dioptimalkan pemanfaatannya”, ujarnya.
Beliau mengajar kita semua untuk menyadari hak dan kewajiban kita dalam membina kesehatan diri sendiri dan masyarakat. Caranya yaitu dengan mempelajari ilmu-ilmu kesehatan non konvensional dan memilih mana yang paling mungkin dilakukan, artinya aman, bermanfaat, rasional, mudah dilakukan, tersedia cukup banyak dan harganya terjangkau.
Beliau juga membagikan tips-tips bagi para aktivis agar tetap sehat dan prima untuk membuat perubahan, di antaranya:
Olah napas: Tarik napas dalam-dalam, simpan di dalam tubuh (bisa di paru-paru, di perut atau bagian tubuh lainnya) sekuatnya (sampai setengah menit), kemudian keluarkan perlahan-lahan lewat mulut. Lakukan di mana saja, kapan saja dan berulangkali. Maknanya: penyerapan oksigen lebih banyak bisa sampai 80% untuk memperkuat Natural Killer di dalam tubuh.

Makanan dan minuman sehat: hindarkan zat penyedap, zat pengawet dan zat pewarna, nikotin. Jadikan makanan dan minuman sebagai obat, dan obat sebagai makanan dan minuman.
Jari-jari tangan: gunakan untuk memijat titik-titik penting di permukaan tubuh sesuai dengan teori akupresur.
Berpikir positif: perbedaan adalah kekuatan, dan kesetaraan adalah dasar hidup bermitra.
***
(Ditulis berdasarkan wawancara via email oleh Hilda Lionata)

[Profil] La Via Campesina, gerakan global untuk kedaulatan pangan petani kecil

“Beli gula sih gula import aja, harganya lebih murah loh daripada harga gula lokal... lumayan kan ngirit!”
“Bukannya ngga cinta produk dalam negeri, tapi beras Thailand sudah lebih enak harganya juga ngga jauh beda sama beras kita...”
“Mana bisa menanam pada musim tanam sekarang? Harga pupuk dan bibit makin mahal! Harga panen makin murah saja!”

Begitulah komentar yang sering kita dengar terlontar dari masyarakat kita. Keadaan dengan berlimpahnya produk luar negeri di pasaran lokal, kalah bersaingnya produk lokal hingga ketidakberdayaan petani di suatu negara yang katanya negara agraris.

Masalah ini muncul tak lepas dari perubahan sistem pertanian dari pertanian organik yang menggunakan sarana produksi yang dibuat petani sendiri ke sistem pertanian kimia, yang menggantungkan pada sarana produksi buatan pabrik. Petani mulai tergantung pada Negara dari mulai pengadaan dan harga bibit, pupuk, insektisida dan infrastruktur lainnya. Padahal, dengan sistem pertanian kimia ini, banyak sekali kerugian yang dialami oleh para petani. Beberapa diantaranya adalah rusaknya kesuburan dan struktur tanah, hilangnya keseimbangan alam, rusaknya lingkungan serta rusaknya suatu sistem pertanian yang berkelanjutan.

La Via Campesina
Berangkat dari keprihatinan akan nasib yang dialami oleh petani hampir di seluruh belahan dunia, maka terbentuklah La Via Campesina. La Via Campesina merupakan suatu gerakan yang mengorganisir para petani kecil hingga menengah, para pekerja tani, perempuan desa dan penduduk asli di Asia, Afrika, Amerika dan Eropa. Gerakan ini merupakan gerakan yang bersifat otonomi dan pluralis, tidak terikat oleh kepentingan politik, ekonomi atau kepentingan lain. Sampai saat ini, La Via Campesina bergerak di delapan wilayah,- Eropa, Asia Tenggara, Asia Utara, Asia Timur Laut, Amerika Utara, Wilayah Karibia, Amerika Tengah, Amerika Selatan serta Afrika.

Kedaulatan Pangan
Konferensi La Via Campesina Internasional yang ke-4 diadakan di Sao Paulo, Brazil, tahun .... Tujuan umum dari konferensi ini adalah untuk mengembangkan hubungan antara organisasi-organisasi serta gerakan-gerakan para petani sehingga mereka memiliki kesamaan visi tentang bentuk perjuangan dan siapa lawan mereka; untuk membuat suatu lompatan dalam hubungan internal dan eksternal mereka sendiri dalam melawan situasi internasional.

Dalam konteks ini, isu kedaulatan pangan menjadi isu yang paling penting untuk mengerti proses-proses pengorganisasian dunia petani. Kedaulatan pangan adalah hak yang menyatakan bahwa semua orang berhak untuk mendefinisikan kebijakan sistem pertanian dan kebijakan pangan mereka tanpa adanya pengaruh dari negara lain. Definisi ini merupakan definisi politis penting yang oleh La Via Campesina telah disetujui dalam pertemuan World Food Summit di tahun 1996,- yang berseberangan dengan konsep “Keamanan Pangan” FAO.

Saat ini para petani dunia menghadapi model ekonomi yang berdasarkan pada konsentrasi kekayaan dan kekuasaan yang membuat berakhirnya kemerdekaan dan keamanan pangan secara mendunia; matinya keanekaragaman budaya dan ekosistem-ekosistem yang telah menyangga kehidupan di planet kita ini. Karena alasan ini, La Via Campesina tidak melupakan bahwa prioritas petani baik pria maupun perempuan adalah untuk menghasilkan makanan yang sehat, bebas dari organisme yang sudah dimodifikasi secara genetic (GMOs) dan tidak terlibat dari kepentingan perdagangan yang merusak yang diberikan oleh WTO.

Oleh karena itu, kedaulatan pangan menandakan partisipasi aktif dari gerakan-gerakan petani dalam proses mendefinisikan sistem pertanian mereka dan kebijakan-kebijakan pangan yang mana kapasitas produksi pangan didasarkan dari sistem produksi yang beragam yang akan menjamin kedaulatan dan kemandirian pangan penduduk dunia. Pada kenyataannya, masalah pelik ini semakin hari semakin problematik. Terlebih dengan adanya kontradiksi yang semakin meruncing seperti adanya kesepakatan perdagangan bebas.

Dengan tidak adanya pajak dan ketiadaan kebijakan kuota dari pemerintah, produksi petani lokal kita harus bersaing harga menghadapi gempuran produk petani luar yang datang. Sulit untuk memenangkan persaingan ini karena modal mereka lebih besar sehingga produk mereka dapat dijual dengan harga relatif lebih murah. Ditambah lagi dengan perdagangan berlandaskan politik dumping, harga produk pertanian di dunia sekarang dijual dengan harga lebih rendah daripada harga produksinya. Hal ini merupakan salah satu penyebab kesulitan untuk pertanian keluarga di seluruh dunia.

Sebagai manusia, sebagai organisasi dan sebagai petani, ada senjata-senjata yang dapat digunakan untuk melawan setan kapitalisme. Kemampuan untuk memegang kendali atas benih, bebas dari pestisida dan pupuk kimia menjadi salah satu kunci penting menuju ke arah kedaulatan pangan. Untuk meraih sukses dalam semua hal-hal ini, para petani yang bergabung dalam La Via Campesina merasa amatlah perlu untuk mengorganisir diri dan membangun gerakan global. Kemampuan untuk mengorganisasir diri tidak dapat diprivatisasi dan akan terus menjadi hak yang dimiliki oleh setiap orang di dunia.
(Sumber: www.viacampesina.org, ditulis oleh Oda)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...