Showing posts with label Editorial. Show all posts
Showing posts with label Editorial. Show all posts

[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO. 24/DESEMBER 2019


Salam transformasi!
Di penghujung tahun 2019 ini, Pro:aktif Online kembali hadir di tengah-tengah Anda. Sejalan dengan momen akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020, Pro:aktif mengajak pembaca sekalian untuk merenungkan kembali keterlibatan kita masing-masing dalam perubahan dunia serta secara khusus menggali kembali isu kesadaran diri dan kemandirian di dalamnya. Renungan tersebut dapat kita refleksikan bersama dengan membaca artikel-artikel pada edisi no. 24/Desember 2019 ini, dengan tema “Self Awareness, Kemandirian dan Perubahan Dunia”.

Berikut ini sekelumit gambaran artikel pada edisi no 24/Desember 2019 ini. Rubrik PIKIR yang ditulis oleh Umbu Justin, menawarkan sebuah perjalanan atas dinamika pemaknaan menjadi manusia dalam sebuah peradaban sejak jaman prasejarah sampai dengan era digital saat ini, apa artinya menjadi manusia di saat industri memetakan manusia sebagai informasi dan mengolahnya melalui algoritma bernama artificial intelligence?

Dalam rubrik MASALAH KITA, Any Sulistyowati akan mengajak kita untuk memperluas kesadaran diri dengan menelusuri piramida kebutuhan Maslow. Salah satu yang disorot oleh penulis adalah bahwa mungkin ketidaknyamanan kita selama ini karena cara kita memenuhi kebutuhan hidup belum tepat.

Pada Rubrik OPINI yang dibawakan Anthony Dalimarta, mengulas persoalan yang dihadapi aktivis, terlebih di zaman modern yang idealnya tiap individu memiliki kesadaran tinggi tentang persekusi, namun ternyata tetap rentan terkena persekusi secara sporadis. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menemukan dan mengenali diri sendiri.

Anastasia Levianti membawakan rubrik TIPS tentang berbagai jenis konflik yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengurai konflik yang terjadi, diperlukan langkah-langkah berbasis self awareness terhadap situasi konflik tersebut.

Pada rubrik MEDIA, Jeremia Bonifasius Manurung mengungkapkan tentang tren baru media saat ini, yang disebut sebagai New Media. Jika di jaman old media, dibutuhkan banyak wartawan untuk menggali berita. Di jaman New Media, hanya dibutuhkan segelintir orang dengan kemampuan IT di atas rata-rata untuk memonopoli sebuah informasi dan menggunakannya untuk suatu tujuan tertentu.

Pada rubrik JALAN-JALAN, Ombri Kaho memaparkan tentang tradisi masyarakat Belu yang turut membentuk kemandirian dan kesadaran diri pada masyarakat Belu.

Rubrik PROFIL kali ini mengangkat kisah sepak terjang Ceu Nden dalam membantu orang-orang memperluas kesadaran diri melalui program-program yang digagas oleh Initiatives of Changes (IoC), sebagaimana dituliskan oleh Lindawati Sumpena.

Pada rubrik RUMAH KAIL, Deta Ratna Kristanti menuturkan mengenai jatuh bangun KAIL dalam menerapkan kemandirian di setiap kegiatan di KAIL. Sesungguhnya telah banyak ide kemandirian yang lahir dari kesadaran akan pentingnya kemandirian. Namun, tak sedikit pula tantangan dihadapi KAIL dalam mewujudkan ide-ide tersebut.

Akhir kata, keseluruhan artikel yang diusung dalam edisi no.24/Desember 2019 ini, diharapkan dapat menginspirasi pembaca dalam hal (1) Sejauh mana diri kita menyadari potensi dan kemandirian di dalam diri, (2) Sejauh mana kemandirian tersebut telah kita sumbangkan kepada perubahan dunia yang selaras alam dan sesama?

Selamat tinggal 2019, selamat datang 2020!

Tim editor:
Ari Ujianto
David Ardes Setiady
Navita Kristi Astuti

[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO. 23/ AGUSTUS 2019



Salam Semangat Kemerdekaan!

Di bulan Agustus, bulan kemerdekaan ini, Proaktif Online kembali terbit. Kemerdekaan kali ini diterjemahkan sebagai kemandirian dan kedaulatan diri untuk memilih berbagai hal penting dan kebutuhan mendasar dalam kehidupan. “Mandiri Memilih: Berdaulat untuk Memenuhi Kebutuhan Diri” menjadi tema yang dipilih untuk Proaktif Online edisi no.23/2019 kali ini. Bisa memilih berarti merdeka untuk meningkatkan kualitas hidup, meski pilihan yang diambil tidak umum dipilih oleh masyarakat. Peningkatan kualitas hidup berarti tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun meningkatnya juga kepedulian pada makhluk lain dan keselarasan hidup dengan alam semesta. Para aktivis yang menjadi penulis di edisi kali ini menyadari betul akan hal ini.

Pada rubrik MASALAH KITA, Kristien Yuliarti menceritakan kegelisahannya tentang upaya menjaga kebersihan tanpa mencemari lingkungan. Ia yakin, ada bahan lokal yang ramah lingkungan yang dapat digunakan sebagai alternatif sabun pabrikan. Berkenalanlah ia dengan lerak, berdirilah Omah Hijau sebagai jalan baginya mensosialisasikan lerak. Namun demikian, bergerak sendiri, ternyata tidaklah mudah. Seringkali tanpa teman menjadikan perubahan sulit dilakukan. Inilah permasalahan yang dialami Karina Adistiana, penulis dalam artikel kedua pada rubrik MASALAH KITA. Ternyata kemandirian memilih tidak serta merta membuat perubahan jadi mudah. Psikolog dan aktivis pendidikan ini memaparkan bahwa keberadaan teman dalam melakukan perubahan menjadi aspek penting bagi keberhasilan kita dalam upaya memperjuangkan kedaulatan pangan dan hidup selaras alam.

Di rubrik PIKIR, ada Mayang Manguri yang mengajak kita berpikir bersama dalam memilih gaya hidup. Apakah memilih gaya hidup yang tren di masyarakat membuat kita menjadi berdaulat? Atau pilihan gaya hidup yang lain dan tidak populer, seperti frugal living membuat kita menjadi lebih sejahtera? Ternyata kemandirian dalam memilih pun ada resikonya. Karena, menjadi mandiri berarti bertanggung jawab dengan pilihan hidup kita. Hal inilah yang disampaikan Any Sulistyowati dalam Rubrik OPINI.

Di rubrik TIPS kali ini, Fitri Kusnadi berbagi kiat-kiat berdasarkan pengalamannya ketika memilih menyelenggarakan pendidikan mandiri bagi keluarganya. Konsekuensi bahwa kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap pendidikan dan anak adalah salah satu tips yang disampaikannya. Sedangkan penulis artikel selanjutnya di rubrik TIPS, Rensti Raharti, memaparkan cara-cara menjalankan gaya hidup minim sampah yang sederhana dan dapat dimulai dari rumah, sekaligus memberi contoh gaya hidup ini kepada anak, agar kemandirian dan kedaulatan hidup dapat dilanjutkan pada generasi selanjutnya.

Siapa yang tak kenal SHINE?  Platform pendidikan informal yang memberdayakan masyarakat dengan pelatihan-pelatihan terutama produk sehari-hari yang selama ini menimbulkan ketergantungan masyarakat pada produk berkemasan. Dalam rubrik PROFIL, Kandi Sekarwulan mengangkat sepak terjang Ines Setiawan, pendiri dan penggerak SHINE. Kita tentu dapat belajar dan menerima inspirasi dari Ines tentang bagaimana ia bisa sampai kepada pemikiran dan lakunya untuk menjadikan sebanyak mungkin orang berdaulat atas dirinya untuk memenuhi kebutuhan diri.
Sedangkan pada tulisan yang kedua pada rubrik PROFIL, Kukuh Samudra mengangkat kisah Mbah Paiman, seorang petani “kolot” di daerah Karanganyar, yang mempertahankan cara bertani dengan berdaulat: organik, menanam dari bibit hasil panen serta membuat kompos sendiri. Keputusan ini diambil secara mandiri oleh Mbah Paiman, sekalipun dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya.

Pada rubrik MEDIA, Sally Anom Sari mengangkat beberapa film yang mengangkat kemandirian hidup dan pemenuhan kebutuhan diri. Dalam rubrik JALAN-JALAN, Debby Josephine mengajak kita ke sebuah tempat yang mengupayakan kemandirian dan kedaulatan pangan, sebuah tempat di perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, yang bernama Kebun Belakang.

Terakhir, Navita Kristi Astuti bercerita tentang bagaimana selama ini KAIL menjalankan kemandirian di Rumah KAIL, dengan memanfaatkan bagian rumah dan kebun. Masih banyak tantangan untuk mewujudkan KAIL sebagai rumah nol sampah (zero waste). Namun ada beberapa sistem yang telah berjalan di Rumah KAIL yang secara perlahan-lahan tapi pasti ikut mendukung peningkatan kualitas hidup anggota KAIL, relawan dan mitra yang berkunjung maupun makhluk hidup yang lain yang juga tinggal di Rumah KAIL.

Semoga artikel-artikel di dalam edisi ini menambah permenungan bagi para pembaca terkait kemerdekaan dan kedaulatan dalam menentukan kehidupan yang sehat dan selaras alam.
Editor:

[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO. 22 / APRIL 2019


Salam Transformasi!

Pro:aktif Online kembali hadir di tengah pembaca sekalian. Dalam edisi kali ini, KAIL membawakan tema “Ekonomi Baru: Peluang dan Tantangannya”. Ekonomi secara bahasa berakar dari Bahasa Yunani “oikonomia” yang berarti seni mengatur rumah tangga. Mengatur rumah tangga di sini, erat kaitannya dengan pengaturan sumberdaya, yang bertujuan agar manusia memperoleh kesejahteraan. Namun demikian, upaya manusia untuk memperoleh kesejahteraan tersebut bergeser hingga akhirnya sistem ekonomi dipandang sebatas pada perdagangan, hal-hal terkait dengan uang, maupun usaha eksploitasi sumber daya materi.

Ekonomi di masa kini mengalami bentuk baru yang ditopang oleh kemajuan di bidang teknologi informasi atau komunikasi atau yang lebih sering kita kenal dengan istilah dikenal sebagai ekonomi digital. Ekonomi digital ini menjadi menarik karena sifatnya yang mengganggu (bahasa kerennya disrupt) semua bentuk praktik ekonomi konvensional. Hampir semua aspek kehidupan kita sehari-hari pun terpapar oleh teknologi digital. Dalam abad yang disebut sebagai abad disrupsi (the age of disruption), diktum yang beredar adalah terdigitalisasi atau terlindas zaman.

[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO 21/ DESEMBER 2018


Salam Transformasi!

Di penghujung tahun ini, Pro:aktif Online kembali hadir di tengah-tengah Anda. Setelah pada dua edisi sebelumnya kita merefleksikan kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan dan papan, kini kami mengajak pembaca sekalian untuk merefleksikan ”sandang" sebagai kebutuhan dasar manusia.
Manusia mengenakan sandang atau pakaian untuk berbagai hal antara lain: melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas, kesopanan, mendukung tubuh untuk melakukan berbagai aktivitas tertentu (misalnya: perenang, penyelam, koki (chef), tukang las, pegawai pabrik, dan sebagainya) atau sebagai penunjuk identitas budaya atau kelompok tertentu. Namun demikian, dalam proses produksi sandang terdapat beberapa masalah terkait lingkungan maupun manusia yang mendukung pengadaan sandang tersebut.

Maka, dibalut dalam tema “Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Sandang di Masa Kini” kami sajikan artikel-artikel yang diharapkan dapat membuka wawasan para pembaca sekalian untuk memahami lika-liku proses penyediaan kebutuhan sandang dikaitkan dengan isu lingkungan yang berkelanjutan maupun kesetaraan bagi manusia yang terlibat di dalam setiap tahap prosesnya. Mari kita simak gambaran artikel edisi kali ini.

Rubrik PIKIR yang dibawakan oleh Umbu Justin menggelitik kita dengan pemikiran tentang sandang sebagai alat pendukung pencitraan manusia, namun di saat yang bersamaan, ia begitu cepat dan mudah dilucuti, sehingga citra manusia seolah-olah cepat pula berganti. Hal yang paling menggelitik dari artikel ini, adalah hubungan antara martabat manusia dengan sandang yang dikenakannya. Apakah martabat manusia dapat berubah-ubah secepat atau semudah bergantinya sandang di tubuh kita?

Rubrik MASALAH KITA dibawakan oleh Any Sulistyowati, yang menuturkan tentang permasalahan seputar produksi hingga konsumsi sandang dikaitkan dengan dampaknya terhadap lingkungan dan peradaban manusia. Ia menghadirkan sejumlah faktor penghambat manusia dalam mengonsumsi sandang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, penulis memberikan saran untuk menyikapi hambatan-hambatan tersebut agar tercapai pemenuhan kebutuhan sandang yang lebih ramah bagi lingkungan maupun masyarakat.

Rubrik OPINI menghadirkan artikel dari Angga Dwiartama yang menelisik rantai produksi sandang di masa kini. Ia mengajak pembaca untuk kilas balik perjalanan industri sandang dunia sejak sebelum revolusi industri hingga diciptakannya mekanisme yang memungkinkan sandang tersaji dengan cepat di hadapan konsumen. Dalam proses penyajian secara cepat itu, Angga memotret berbagai ketimpangan yang rupanya merugikan lingkungan maupun manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Di akhir artikel, Angga menekankan pentingnya peran pada ujung rantai produksi-konsumsi sandang, yaitu konsumen itu sendiri.

Rubrik TIPS menghadirkan artikel yang ditulis oleh Any Sulistyowati. Artikel ini membahas tentang penggunaan popok bayi. Ia menuliskan tentang kelebihan dan kekurangan dua jenis popok, yaitu popok sekali pakai dan popok kain. Titik berat utama dari artikel ini adalah pada langkah-langkah praktis penggunaan popok kain yang diyakini meminimalkan potensi kerusakan lingkungan dibandingkan penggunaan popok sekali pakai.

Rubrik MEDIA dibawakan oleh Jeremia yang menulis ulasannya tentang sebuah film berjudul True Cost. Di dalam film tersebut digambarkan mengenai biaya produksi sandang yang meningkat pesat dalam 15 tahun terakhir, namun produk sandang yang dihasilkan dijual dengan harga murah dan perusahaan pakaian masih mendapatkan untung yang cukup besar. Pembuat film ini, Andrew Morgan dan para pendukungnya, melakukan penelitian dan pendokumentasian tentang biaya-biaya ”lainnya” yang ditekan secara luar biasa demi meraup keuntungan yang demikian besar.

Rubrik JALAN-JALAN dibawakan oleh Yosepin Sri Ningsih. Dari carut marut industri sandang yang membawa kita semua pada keprihatinan isu lingkungan maupun keadilan dan kesetaraan manusia, Yosepin membawa kita pada geliat aktor-aktor yang membawa harapan baru terwujudnya proses produksi ramah lingkungan, serta memberdayakan manusia yang terlibat di dalamnya. Dua aktor yang digambarkan dari artikel ini, yaitu Kana Goods dan Bixa Batik, telah mewakili sekian banyak pelaku produksi sandang yang keluar dari mainstream produksi sandang masa kini.

Kait Nusantara, yang dibawakan oleh Nita Roshita dalam Rubrik PROFIL, juga merupakan aktor pembaharu dalam gerakan produksi sandang ramah lingkungan. Didukung oleh lima perempuan dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, Kait Nusantara bergerak memberdayakan masyarakat di pedesaan untuk secara arif menyelamatkan sumber daya alam yang ada di desa, sekaligus manfaatkan sumber daya alam sebagai produk yang bernilai pakai.

Sebagai pendukung gerakan sandang ramah lingkungan dan setara bagi manusia yang terlibat di dalamnya, Kail tentu mempraktekkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan produk sandang di Rumah Kail. Oleh karena itu, Rubrik RUMAH KAIL yang dibawakan oleh Didit Indriati membagikan pengalaman Kail dalam pemanfaatan produk sandang. Pengalaman ini tertuang dalam kegiatan-kegiatan bersama warga sekitar, aktivis maupun dalam praktek keseharian di Rumah Kail itu sendiri.

Akhir kata, keseluruhan artikel dalam edisi ini diharapkan menginspirasi kita semua,yaitu: (1) dimulai dari penelusuran sejarah produksi sandang dunia, hingga perubahan yang terjadi di masa kini yang telah berperan dalam penurunan kualitas alam dan manusia. (2) berlanjut pada tawaran solusi yang perlu segera dipraktekkan, yaitu penyadaran bagi tiap individu, yang dalam hal ini merupakan konsumen sandang. Sebagai konsumen, kita sadar, bahwa dalam setiap pilihan dan tindakan kita telah turut berkontribusi kepada kualitas alam maupun sesama manusia, dan (3) penyadaran tersebut telah membuahkan beberapa aksi nyata dari beberapa pihak yang mengupayakan produksi sandang ramah lingkungan, kita perlu mendukung dan sebisa mungkin menularkan aksi positif tersebut kepada semakin banyak orang.

Akhir kata, seiring dengan semangat pergantian tahun, mari mulai upayakan agar kita semua semakin mengambil tanggung jawab terhadap pilihan dan tindakan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan sandang untuk mendorong tercapainya kualitas hidup manusia yang lebih baik serta selaras dengan alam.

[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO 20/AGUSTUS 2018


Salam Transformasi!

Di bulan Agustus ini, Pro:aktif Online kembali hadir di tengah-tengah Anda. Setelah pada edisi sebelumnya kita merefleksikan salah satu kebutuhan dasar, yaitu pangan, kini kami mengajak pembaca sekalian untuk merefleksikan ‘papan’ yang juga merupakan kebutuhan mendasar dalam hidup manusia.

Papan (shelteratau hunian) yang memadai adalah salah satu kebutuhan paling mendasar manusia. Manusia butuh tempat untuk bermukim: beristirahat, berlindung, dan berkegiatan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan baik secara individu maupun kolektif. Papan yang memadai akan mendukung kondisi jiwa dan raga manusia yang tinggal di dalamnya. Sehingga, kondisi hunian serta pemukiman yang memadai hendaknya dapat mendukung pencapaian kualitas hidup kita sebagai manusia. Tercapainya kualitas hidup yang baik, mengoptimalkan kemampuan manusia untuk beraktivitas, mewujudkan visi dan misi hidupnya di dunia.

Oleh karena itu, dengan mengusung tema “Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Papan (Hunian) di Masa Kini” kami mengajak Anda untuk menelusuri artikel-artikel di dalam edisi ini.
Rubrik PIKIR menghadirkan tiga buah tulisan, yang mengajak pembaca untuk merefleksikan makna sebuah rumah atau tempat tinggal. Dua artikel yang dibawakan oleh Eventus Ombri Kaho dan Umbu Justin mengungkapkan tentang makna sebuah rumah bagi masyarakat tradisional di kedua tempat berbeda di Indonesia, yaitu di Besikama (Kabupaten Malaka) dan Weelewo (Kabupaten Sumba Barat Daya). Bagi masyarakat di kedua tempat tersebut, rumah tak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung semata. Rumah merupakan pusat aktivitas spiritual, yaitu ruang pertemuan manusia dengan Sang Pencipta sekaligus perwujudan daya juang manusia di tengah alam semesta ini. Setiap bagian dari rumah yang mereka bangun memiliki maknanya masing-masing yang terhubung dengan pengalaman spiritual tersebut. Artikel ketiga dari rubrik ini, masih oleh Umbu Justin, mengajak pembaca untuk merenungkan sebuah seni membangun ‘papan’ atau bangunan tempat tinggal menurut sudut pandang almarhum Romo Mangunwijaya Pr., seorang rohaniwan sekaligus arsitek. Bagi Romo Mangun, membangun sebuah rumah adalah pemaknaan kembali hidup manusia yang bertarung dalam kompleksitas hidup sekaligus merayakan keindahan dari kehidupan itu sendiri.

Rubrik MASALAH KITA dibawakan oleh Kristoporus Primeloka, membawakan permasalahan yang dihadapi sebagian besar masyarakat Indonesia dalam pemenuhan tempat tinggal, yaitu fenomena terpusatnya lokasi pembangunan perumahan yang pada lokasi mata pencaharian, yang berakibat pada terjadinya arus perpindahan masyarakat mendekati lahan pencaharian, yang kemudian mengakibatkan masalah lainnya, seperti terbentuknya perkampungan kumuh-padat penduduk dan terjadinya penggusuran. Penyebab lain dari kepadatan pemukiman adalah terdapatnya paradigma bahwa satu keluarga perlu memiliki satu rumah. Penulis menggugah pembaca dengan pemikiran tentang alternatif lain yang bisa dilakukan terkait dengan pengadaan rumah bagi keluarga.

Rubrik OPINI menghadirkan artikel dari Ari Ujianto yang mengungkapkan permasalahan yang sama seperti di rubrik sebelumnya, yaitu kurangnya akses perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Di dalam artikel tersebut, Ari Ujianto mengajukan dua terobosan bagi pemenuhan hak atas tempat tinggal yang layak bagi masyarakat, pertama, melalui perbaikan kebijakan pemerintah atas penataan perumahan bagi rakyat, kedua, melalui peningkatan keswadayaan masyarakat dalam mencukupi kebutuhan tempat tinggalnya.        

Rubrik TIPS menghadirkan tiga artikel. Dua artikel ditulis oleh Any Sulistyowati. Artikel pertama, berdasar pengalaman pribadinya, Any Sulistyowati menulis tentang langkah-langkah membangun rumah impian sesuai dengan kondisi aktual sumberdaya maupun finansial yang dimiliki. Sedangkan pada artikel kedua, masih ada hubungannya dengan artikel pertama, adalah tentang langkah-langkah membangun tempat tinggal dengan biaya hemat dan selaras alam, yaitu dengan material bekas. Pembaca dapat mempelajari latar belakang pemilihan material membangun rumah yang selaras dengan alam di dalam artikel ini. Artikel ketiga, ditulis oleh Jaladri, yang menuliskan tentang gaya hidup hemat dan selaras alam yang perlu dilakukan oleh aktivis dalam bertempat tinggal.

Rubrik MEDIA dibawakan oleh Kukuh Samudra yang menulis resensi sebuah buku berjudul Halaman Rumah/YARD, dari Tanah Indie, sebuah komunitas pemerhati isu papan di Makassar. Buku tersebut memuat esai-esai terkait pekarangan atau halaman rumah sebagai bagian dari tempat tinggal manusia, yang dibidik dari berbagai tema, yaitu antara lain: tradisi, interaksi sosial dan ruang hidup.

Rubrik JALAN-JALAN dibawakan oleh Any Sulistyowati. Artikelnya membawa pembaca untuk melihat sebuah komunitas bernama Cobb Hill Community Co-housing di Amerika Serikat.  Cobb Hill merupakan sebuah komunitas yang bertempat tinggal bersama sekaligus menjalankan pola hidup bersama untuk hidup selaras alam. Komunitas tersebut memenuhi kebutuhan harian mereka secara mandiri. Oleh karena itu, selain membangun rumah-rumah tempat tinggal, komunitas ini melengkapinya dengan lahan pertanian dan peternakan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup.
Rubrik PROFIL dibawakan oleh Fransiska Damarratri yang menulis profil 4 komunitas dan organisasi pemerhati isu papan yang ada di Indonesia.  Dari artikel tersebut, kita dapat mengetahui bahwa terdapat sepak terjang berbagai pihak di Indonesia maupun di dunia, yang mengupayakan tercapainya ruang hidup yang lebih baik, swadaya, dan bersama (komunal) bagi seluruh masyarakat.

Rubrik RUMAH KAIL dibawakan oleh Didit Indriati yang membagikan pengalaman KAIL dalam merawat dan memelihara rumah dan kebun dengan cara yang selaras dengan alam.

Keseluruhan artikel dalam edisi ini diharapkan menginspirasi kita semua, dimulai dari pemetaan masalah-masalah yang muncul seputar pemenuhan kebutuhan akan tempat tinggal. Untuk mengatasi masalah, disajikan berbagai tawaran solusi antara lain : (1) alternatif cara mengorganisir diri dan masyarakat agar swadaya dalam pemenuhan kebutuhan tempat tinggal, (2) penerapan gaya hidup bertempat tinggal, (3) cara-cara membangun dan merawat rumah yang selaras alam. Kita dapat mengetahui berbagai pihak baik individu maupun komunitas telah mengupayakan langkah-langkah pemenuhan ruang hidup yang lebih baik dari hari ke hari, demi tercapainya kualitas hidup manusia yang semakin baik serta selaras dengan alam.

Akhir kata, seiring dengan gempita peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada bulan ini, kami berharap bahwa kita semua semakin merdeka terhadap pilihan dan tindakan yang kita ambil sehubungan dengan pemenuhan ruang hidup yang mendorong tercapainya kualitas hidup manusia yang lebih baik serta selaras dengan alam.

MERDEKA!

Navita Kristi Astuti
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...