Showing posts with label Rumah KAIL. Show all posts
Showing posts with label Rumah KAIL. Show all posts

[RUMAH KAIL] PERJALANAN KAIL MEMPRAKTEKKAN KESADARAN AKAN KEMANDIRIAN

Oleh: Deta Ratna Kristanti


Menjadi berdaya merupakan sebuah kemewahan. Menjadi berdaya berarti memiliki kebebasan untuk menentukan arah dan langkah yang dipilih untuk tujuan kehidupan yang lebih berkualitas. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menjadi berdaya adalah menciptakan kemandirian untuk diri sendiri. Jika kita mengusahakan hidup mandiri artinya kita dengan berkesadaran berusaha tidak tergantung pada pihak lain dalam pemenuhan kebutuhan kita. Sebab, jika masih tergantung pada pihak lain,mungkin saja pihak lain tersebut menyumbangkan hal yang berdampak negatif atau tidak sesuai dengan prinsip atau kualitas hidup yang ingin kita capai.

Tentu saja, bukan berarti ketika kita mengupayakan kemandirian, kita menjadi tidak peduli dengan keberadaan pihak lain. Sulit juga membayangkan bahwa kita akan mampu 100% memenuhi semua kebutuhan hidup kita. Yang dapat kita perbuat adalah meningkatkan kesadaran dan aksi kita untuk mengurangi ketergantungan sampai sekecil mungkin. Ingatkah anda dengan salah satu peringatan di pesawat: Pa
kailah dulu masker Anda sebelum menolong yang lain? Kira-kira seperti itulah gambaran kemandirian yang kita upayakan. Ketika kita mampu menolong diri sendiri dan sudah  berdaya, maka kita juga bisa menolong pihak yang lain.

Perkumpulan KAIL didirikan dengan misi dan tujuan untuk membantu para aktivis mengembangkan diri sehingga dapat berkontribusi lebih baik bagi dunia. Oleh karena itu, KAIL sebagai sebuah organisasi perlu mengupayakan kemandirian terlebih dahulu di dalam dirinya sendiri agar mampu menolong para aktivis atau lembaga yang membutuhkan layanannya. Selain itu, setiap upaya kemandirian yang dilakukan KAIL juga bertujuan memberikan kontribusi bagi dunia yang lebih baik, utamanya lingkungan alam dan makhluk di sekitarnya.


Rumah KAIL dan pekarangan yang ditanami tanaman pangan
 
Kesadaran KAIL untuk mengusahakan kemandirian telah berlangsung lama. Selama 17 tahun berkarya, KAIL tidak pernah tergantung pada satu
pun lembaga donor dalam pendanaan program-program internalnya. Hal ini merupakan salah satu upaya KAIL untuk membebaskan diri dari ketergantungan dari pihak yang lain. Jika pendanaan KAIL bergantung pada lembaga donor, mungkin akan mengganggu kontinuitas KAIL untuk berkarya selama ini. Selain itu, ketergantungan tersebut mungkin dapat mengganggu perjalanan KAIL ke arah pencapaian visi dan misi organisasi.

Sejak tahun 2013, KAIL membangun tempat permanen untuk melakukan segala aktivitasnya, yaitu Rumah KAIL. Memiliki tempat yang permanen berarti harapannya KAIL dapat lebih banyak mempraktekkan ide-ide kemandirian yang selama ini telah diketahui. Langkah pertama yang dilakukan KAIL sebagai wujud memprakt
ikkan kemandirian adalah merancang bangunan dengan sistem rumah yang selaras dengan alam. Misalnya, memilih bahan kayu bekas untuk membangun rumah KAIL. Memilih menggunakan ulang bahan bekas sehingga mengurangi timbulan sampah serta menghemat biaya merupakan wujud kemandirian di mana KAIL melepaskan ketergantungan terhadap bahan baru dan barang baru. Selain itu, pembuangan Rumah KAIL juga dirancang tersambung dengan kompor biodigester sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap gas elpiji.


Kompor biodigester

Kubah biodigester yang ditanam di bawah tanah

Area yang cukup luas di Rumah KAIL selain terdapat rumah, juga tanah yang dimanfaatkan untuk kebun. Kebun KAIL dirancang untuk mendukung kemandirian pangan di Rumah KAIL. Berbagai tanaman konsumsi ditanam di area Kebun KAIL, termasuk bumbu-bumbu yang dapat dimanfaatkan untuk membuat masakan menjadi lebih sedap. Saat sedang dilaksanakan pelatihan atau workshop, ataupun rapat-rapat di Rumah KAIL, sebisa mungkin makanan yang disajikan untuk peserta pelatihan maupun staf dan relawan KAIL berasal dari kebun KAIL. Talas, daun singkong, daun, bunga dan buah papaya, cabe rawit, daun pseudo ginseng, serta bumbu-bumbu seperti kunyit, jahe, kencur, dan pandan disulap menjadi minuman jamu yang menyehatkan. Tak ketinggalan buah-buahan seperti pepaya, pisang, jambu, atau nangka menjadi sajian snack sehat jika kebetulan sedang panen.

Kebun KAIL dikelola dengan prinsip selaras dengan alam. Sisa-sisa makanan maupun bagian kulit bahan makanan yang tidak terpakai dibuang kembali ke kebun KAIL hingga menjadi kompos yang meningkatkan kesuburan tanah di kebun KAIL. Perlu diceritakan bahwa awalnya tanah di kebun KAIL adalah tanah berjenis lempung atau seperti tanah liat yang lengket, yang sulit untuk diolah dan ditanami. Di awal pengolahannya, Kebun KAIL membutuhkan media tanam dari luar yang dicampurkan dengan tanah di Rumah Kail, serta melakukan pengomposan langsung di tanah KAIL sehingga pada akhirnya tanah kebun di rumah KAIL menjadi subur sehingga dapat ditanami dan dinikmati hasilnya kemudian.

Beraneka jenis tanaman di kebun KAIL

Kebun KAIL menjadi pintu masuk yang paling memungkinkan untuk mempraktekkan upaya kemandirian di Rumah KAIL karena tanah yang telah diolah, diatur, ditanami, dan dirawat kemudian dapat menghasilkan panen yang bisa dikonsumsi. Untuk memberi perhatian khusus dalam pengelolaan kebun, KAIL membuat sebuah divisi khusus bernama Kebun KAIL. Ada orang- orang yang bertugas memperhatikan perawatan Kebun KAIL. Namun, apakah selanjutnya proses pengelolaan Kebun KAIL menuju kemandirian menjadi mudah? Ternyata tidak.
.
Banyak juga hambatan yang dijumpai yang membuat Rumah KAIL belum dapat mencapai kemandirian pangan dengan upaya maksimal. Ada banyak faktor yang memengaruhi. Salah satunya urusan menyesuaikan jadwal produksi dan panen pangan dengan jadwal pelatihan yang ada di rumah KAIL. Maksudnya bagaimana? Seringkali ketika di KAIL sedang tidak ada jadwal pelatihan atau workshop, buah-buahan yang sudah siap panen jumlahnya banyak. Akibatnya, jumlah panenan terlampau banyak, sedangkan orangnya sedikit. Sementara ketika ada jadwal pelatihan, hasil kebun yang dapat dipanen saat itu jumlahnya sedikit, sehingga mau tidak mau sebagian konsumsi harus dipenuhi
dari warung atau pasar. Staf yang berinisiatif untuk menambah pengetahuan serta waktu untuk bereksperimen belum tersedia sehingga program pengolahan pasca panen yang dapat memanfaatkan hasil kebun yang berlebih ketika panen  juga belum terlaksana. Meskipun sistem sudah dibuat oleh Divisi Kebun KAIL, pada praktiknya ditemui kendala juga karena koordinasi dan komunikasi antar staf yang bertugas tidak terlalu berjalan dengan lancar. Jadi selain sistem yang diatur pada kebun, ternyata ada sistem lain yang terkait, yaitu sistem komunikasi antar staf yang bertugas mengurus Kebun KAIL.

Ada banyak ide kemandirian di Rumah KAIL yang belum dapat dipraktikkan secara konsisten hingga saat ini. Dalam rangka menambah pengetahuan tentang pengolahan dan pemanfaatan bahan-bahan alami, serta melepaskan ketergantungan pada produk pabrik, memang pernah diadakan beberapa workshop yang menghadirkan narasumber, misalnya membuat kombucha jus enzim, kimchi, serta pembuatan pembersih alami untuk lantai, kaca, dan meja. Beberapa staf sudah memiliki pengetahuan melalui workshop-workshop tersebut.  Tapi saat ini, praktiknya belum dilakukan di rumah KAIL. Padahal, misalnya cuka kombucha dapat dimanfaatkan sebagai pengganti sabun dalam mencuci piring. Pernah dicoba, namun saat ini tidak lagi.

Dalam hal pengelolaan sampah, Rumah KAIL juga belum sepenuhnya mencapai kemandirian. Memang, sampah organik yang dihasilkan dari dapur Rumah Kail sudah 100% dapat dikembalikan ke kebun dan bermanfaat untuk menambah kesuburan tanah KAIL. Namun, untuk sampah anorganik, meskipun sejak awal KAIL berkomitmen untuk sesedikit mungkin menggunakan barang yang berkemasan plastik. Namun, pada prakteknya tetap masih terkumpul sampah plastik terutama dari pembelian barang-barang yang masih dibutuhkan KAIL dari luar, misalnya plastik pembungkus spidol, kaplet obat-obatan, sisa potongan sampul plastik dan banyak lagi.  Kadang-kadang ketika membersihkan Rumah KAIL ditemukan juga sampah-sampah dari makanan dan minuman berkemasan yang mungkin dibawa angin atau dibuang oleh orang yang lewat di halaman rumah KAIL. Hal ini terkadang menambah sampah yang ada di rumah KAIL. Untuk penanganan sampah non-organik, Rumah KAIL masih tergantung pada tukang sampah atau tempat pembuangan sampah yang ada di sekitar Kail. Meskipun begitu, KAIL tetap mengupayakan untuk mereduksi jumlah sampah non-organik misalnya jika perlu membeli bahan makanan
, staf KAIL akan membawa tas belanja sendiri. Juga ketika membeli makanan di warung, KAIL selalu membawa tempat bekal sendiri untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang masuk ke Rumah KAIL. Rumah KAIL juga mencari warung-warung yang menjual bahan pokok yang dapat dibeli dengan sistem curah, sehingga kebutuhan  beras atau gula dapat dibeli menggunakan wadah sendiri. Setidaknya ini upaya yang dapat dilakukan Rumah KAIL untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan sampah di luar, yaitu dengan sesedikit mungkin menghasilkan sampah anorganik yang perlu dibuang.

Dalam hal sumber air, KAIL juga masih tergantung pada air yang berasal dari mata air yang disalurkan lewat pipa kolektif. Ini berlaku untuk semua keperluan, dari memasak sampai urusan menyiram tanaman. Untuk air minum sehari-hari, KAIL menggunakan air dari keran yang dimasukkan ke filter air dari tanah liat yang kemudian dapat langsung diminum. Namun, jika kegiatan di Rumah KAIL melibatkan puluhan orang, KAIL masih tergantung pada air galon isi ulang. KAIL sebenarnya mempunyai bak tampungan air hujan, tetapi belum berfungsi karena bocor.

Meskipun ide-ide dan pengetahuan tentang kemandirian telah diketahui dan disadari selama bertahun-tahun, dan KAIL telah memiliki tempat sendiri yang permanen, nyatanya tidaklah mudah mewujudnyatakan ide-ide tersebut. Tidak lantas mudah pula melepaskan diri dari ketergantungan pada pihak lain dan menjadi mandiri dalam memenuhi kebutuhan.  Beberapa hambatan di Rumah KAIL antara lain pengetahuan staf yang tidak sama, belum dibangunnya atau dijalankannya sistem untuk masing-masing hal yang diupayakan untuk kemandirian
, serta belum adanya fokus perhatian dan kesediaan yang cukup dari semua orang yang terlibat di KAIL terhadap upaya ini. Saat ini, karena aspek kebun mendapat perhatian paling dominan maka sudah dapat dilihat hasilnya. Jika ingin aspek-aspek lain di rumah KAIL juga berkembang untuk mendukung upaya kemandirian, maka perlu dibangun sistem-sistem pendukung termasuk keterlibatan orang-orang di dalamnya secara bersama-sama.



[RUMAH KAIL] UPAYA DAN TANTANGAN MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN HIDUP MELALUI RUMAH KAIL



Belum lama ini, kita merasakan pemadaman listrik di sebagian pulau Jawa, termasuk Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Yang terjadi selama pemadaman tersebut, dalam aktivitas rumah tangga, orang-orang menjadi terbatas aktivitasnya, misalnya, tidak dapat menanak nasi menggunakan penanak nasi yang bertenaga listrik. Kebutuhan air pun tersendat, karena sebagian besar menggunakan pompa air untuk mengalirkan air dari saluran pipa air ke dalam rumah. Beberapa orang yang menggunakan kompor listrik tidak dapat melakukan aktivitas memasak. Untuk memesan makanan via ojek online, tidak bisa, karena sinyal HP mengalami gangguan akibat pemadaman listrik, atau ponsel sudah terlanjur kehabisan daya, tidak bisa mengisi daya karena pemadaman listrik. Betapa besar ketergantungan manusia pada listrik!

Ketergantungan yang cukup besar kepada suatu benda, seringkali membuat kita mati kutu, ketika benda tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jika pada paragraf di atas contoh yang disebutkan sebagai sumber ketergantungan adalah listrik, maka sebetulnya ada lebih banyak hal di dunia ini yang menimbulkan ketergantungan. Seperti ketergantungan seseorang pada produk makanan, pakaian atau gadget tertentu. Ketergantungan tersebut seringkali menutupi kesadaran bahwa sesungguhnya kita punya kemampuan untuk memilih. Memilih apa? Memilih untuk hidup lebih berkualitas sesuai dengan kemauan kita, lebih bahagia, lebih sehat dan selaras dengan alam. 

Mungkin saja,  manusia di zaman ini memang tidak 100% dapat menghasilkan produk-produk kebutuhan hidupnya sendiri. Berbagai kondisi, misalnya, sumberdaya, waktu dan tenaga, membuat manusia mengalami kesalingtergantungan dengan pihak lain untuk mendapatkan produk-produk kebutuhan hidupnya. Namun sejauh mana kesalingtergantungan ini, antara sesama manusia maupun hubungan antara manusia dan alam memberikan manfaat bagi kedua belah pihak? Sejauh mana hubungan saling membutuhkan itu justru saling mengisi, bukan mengeksploitasi salah satu di antaranya? Apakah benar, dengan menyadari dan membuka peluang untuk memilih pola dan gaya hidup,  kita justru memiliki kualitas hidup yang tinggi dan tetap menjaga harmonisasi kita dengan alam?

Rumah KAIL dan Material Pendukungnya

Sejak Rumah KAIL dibangun tahun 2013, hingga saat ini di Kampung Cigarukgak, KAIL mengutamakan langkah-langkah yang mendukung kepada kemandirian. Sejak awal, kemandirian tersebut tercermin dalam proses memilih dan menentukan rancangan bangunan dan pemilihan material untuk bangunan.  Rumah KAIL dibangun dengan menggunakan bahan bekas. Hingga saat Rumah KAIL sudah berdiri, KAIL berupaya mandiri dengan memilih material pendukung yang digunakan saat pelaksanaan kegiatan-kegiatan di  Rumah KAIL. Misalnya, menggunakan perabot makan yang dapat dicuci dan dipakai ulang daripada perabot makan yang sekali pakai. Menggunakan kertas bekas print yang bagian belakangnya masih kosong untuk menulis saat pelatihan, dibandingkan menggunakan kertas baru. Membuat meja dan kursi yang berasal dari kayu bekas layak pakai sehingga jika rusak di kemudian hari, sampahnya tidak membebani bumi.

Berbagai upaya telah dilakukan KAIL  dalam mewujudkan kemandirian hidup yang selaras dengan alam di Rumah KAIL maupun lingkungan sekitar. Ada kalanya upaya tersebut membawa hasil yang memuaskan. Namun ada kalanya meski usaha telah dikerahkan, namun belum membawa hasil yang diharapkan hingga saat ini. Itu artinya, proses pembelajaran masih belum selesai.

Tantangan Pola Hidup di Masyarakat Sekitar Rumah KAIL

Rumah KAIL menjunjung nilai praktek hidup yang selaras dengan alam. Dalam kegiatan sehari-hari, Rumah KAIL mengupayakan penggunaan produk-produk alami, dan sebisa mungkin menghindari terbuangnya sampah, terutama sampah anorganik (sampah yang tak dapat diurai) ke tanah. Materi yang bersifat organis, seperti sisa-sisa makanan dijadikan kompos atau ditimbun di dalam tanah sebagai sumber makanan biota tanah.

Masyarakat di sekitar Rumah KAIL belum memiliki sistem pembuangan sampah yang terorganisir. Sehingga, banyak rumah tangga di lingkungan sekitar Rumah KAIL mengambil jalan pintas untuk meniadakan sampah yaitu dengan membakarnya. Namun demikian, pembakaran sampah menimbulkan dampak yang buruk. Selain asapnya menyebabkan polusi udara,  unsur hara pada tanah yang digunakan sebagai tempat membakar sampah akan hilang. Apabila ada material plastik yang turut dibakar, maka asap pembakarannya menghasilkan racun yang dapat memicu penyakit bagi manusia yang menghirupnya. Kebiasaan membakar sampah di sekitar Rumah KAIL menjadi tantangan bagi KAIL untuk mengedukasi masyarakat sekitar tentang bagaimana pengelolaan sampah yang lebih selaras dengan alam.

Lahan pembakaran sampah rumah tangga di dekat Rumah KAIL


Sementara itu, KAIL selalu meminta semua pengunjung Rumah KAIL, baik itu peserta pelatihan, staf dan relawan KAIL, maupun tamu untuk membawa kembali sampah anorganik yang mereka bawa ke Rumah KAIL.Di Rumah KAIL sengaja tidak disediakan fasilitas kotak sampah anorganik. Aturan ini mengedukasi pengunjung agar sebisa mungkin tidak membawa makanan dan minuman yang berkemasan plastik ke Rumah KAIL. Jika KAIL perlu memesan makanan ringan untuk konsumsi kegiatan, KAIL memilih jenis makanan yang tidak berkemasan plastik. Jika makanan tersebut adalah makanan yang berbungkus, KAIL akan memilih kue dengan bungkus daun pisang, misalnya nagasari atau lemper. Ketika akan membeli makanan, KAIL membawa  kotak makan untuk wadah kue-kue tersebut. Ketika memesan makanan, KAIL akan menitipkan kotak makanan terlebih dahulu kepada si penjual, agar mengurangi plastik atau kresek pembungkus. KAIL juga mengupayakan untuk memesan makanan di tetangga sekitar Rumah KAIL. Selain berguna untuk menjalin silaturahmi, pemesanan makanan di tetangga sekitar Rumah KAIL juga bertujuan agar sisa material organis yang mungkin digunakan sebagai bahan makanan dibuang masih di sekitar Rumah KAIL, sehingga mendukung  meluasnya area tanah subur di sekitar Rumah KAIL. Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk mengurangi jejak karbon yang mungkin ditimbulkan jika memesan makanan dari tempat yang jauh.  Jadi, untuk satu aksi yang dipilih dengan mandiri, ada banyak tujuan yang disasar.  Tentu saja, dengan membiasakan tidak memilih makanan dan minuman berkemasan, kita juga berlatih untuk membebaskan diri dari bentuk ketergantungan terhadap makanan dan minuman berkemasan anorganik.

Pilihan Makanan yang Lokal dan Sehat

Dalam memenuhi kebutuhan pangan, baik untuk operasional sehari-hari maupun kegiatan pelatihan, Rumah KAIL pun berupaya mandiri dengan penyediaan pangan dari kebun sendiri. Ada berbagai tanaman di Kebun KAIL yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, walaupun belum 100%. Kebun tersebut dijalankan dengan prinsip ramah lingkungan dan berkelanjutan, yaitu menggunakan material organis yang berasal dari kebun itu sendiri, maupun hasil olahan biodigester untuk menjaga kesuburan tanah. Proses-proses kemandirian Rumah KAIL dalam pemenuhan kebutuhan pangan, dapat dilihat pada artikel ini: http://proaktif-online.blogspot.com/2018/04/rumah-kail-kebun-pangan-di-rumah-kail_20.html .


Untuk mengupayakan hidup yang lebih sehat, selain memperkenalkan makanan yang berkemasan minim sampah, KAIL juga memilih untuk sebisa mungkin menyajikan makanan dan minuman berjenis lokal yang enak dan sehat dalam kegiatan-kegiatan di Rumah KAIL. Kue nagasari, kacang dan singkong rebus, rujak tahu, bubur kacang hijau, buah-buahan, bandrek dan jamu adalah beberapa penganan ringan yang sering muncul dalam kegiatan pelatihan di Rumah KAIL. Tumis daun pseudo-ginseng dan perkedel talas merupakan hasil Kebun KAIL yang kerap menjadi sajian lauk makan siang di Rumah KAIL. Sesekali, makanan-makanan ini masih disajikan berdampingan dengan gorengan tahu isi dan cireng buatan tetangga Rumah KAIL. Namun, sudah dapat dipastikan bahwa semua makanan-makanan ini dibuat tanpa menggunakan MSG, pengawet dan pemanis/ pewarna buatan.

Perlu dicatat, KAIL juga menularkan prinsip-prinsip hidup berkelanjutan dan selaras dengan alam ini kepada anak-anak yang tinggal di sekitar Rumah KAIL. Dalam kegiatan Hari Belajar Anak yang diselenggarakan setiap bulan, anak-anak diajak untuk mengurangi jajanan berkemasan dengan mengenalkan snack sehat dan minim sampah.  Cukup mengejutkan awalnya, ternyata snack kesukaan anak-anak adalah buah-buahan. Jika disajikan buah potong seperti pepaya, pisang dan buah naga,  biasanya piring langsung licin tandas, tak bersisa. Merupakan hal yang penting bagi KAIL bahwa anak-anak pun terpapar dengan prinsip-prinsip hidup sehat dan selaras dengan alam, karena anak-anak justru merupakan generasi yang akan meneruskan kehidupan hingga puluhan tahun ke depan. Seperti apa pengalaman yang mereka terima saat ini, tentunya berperan dalam pola hidup yang akan mereka jalankan saat dewasa nanti.

Mengolah sendiri kopi hasil kebun di Rumah KAIL



Tantangan Alam di Sekitar Rumah KAIL

Halaman belakang Rumah KAIL tepat bersisian dengan sebuah sungai kecil, yang merupakan bagian dari sub-DAS (Daerah Aliran Sungai) Cikeruh, yang kemudian menyatu dengan bagian DAS Citarum. Beberapa bagian dari tebing yang bersisian dengan sungai telah terkikis sedikit demi sedikit akibat kikisan air sungai saat alirannya deras. Pun tanah bagian atas pernah mengalami longsor agak banyak, disebabkan tiadanya akar-akar pohon yang mengikat struktur tanah tersebut. Sementara di tempat lain di sekitar Rumah KAIL, staf KAIL pernah menyaksikan penebangan pohon untuk pembangunan rumah yang lokasinya persis di tepi sungai. Praktek penebangan pohon untuk berbagai keperluan, tanpa tanggung jawab untuk menanami kembali masih terjadi di sekitar Rumah KAIL, padahal seperti yang dipaparkan sebelumnya, bahaya longsor mengintai. Menjadi tantangan bagi KAIL untuk menggugah kepedulian dan kesadaran masyarakat tentang bahaya yang mungkin terjadi, bukan sekarang, tapi di kemudian hari.

Sungai di halaman belakang Rumah KAIL


KAIL merancang kebun dengan prinsip berkelanjutan. Bagian terluar Kebun KAIL dirancang dengan kondisi alam menyerupai ekosistem hutan atau zona liar, di mana siklus alam memegang peranan utama. Akar tanaman yang tumbuh di zona liar Kebun KAIL, seperti pala, aren dan bambu saat ini menjadi penahan laju air di tanah yang dapat mempercepat erosi dan longsor.

Tantangan lainnya dalam perawatan kebun, antara lain tantangan kondisi tanah dan sumber daya manusia dalam pengelolaan kebun. Jenis tanah di Kebun KAIL sebenarnya merupakan jenis tanah lengket seperti tanah liat. Setelah diolah dan dirawat, tanah di Kebun KAIL menjadi subur untuk ditanami. Terutama di musim hujan, kebun KAIL menghasilkan panen cukup banyak dan beragam, sehingga hasil tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di Rumah KAIL. Namun, di musim kemarau, sebagian tanah menjadi kering dan pecah-pecah. Tidak terlalu banyak  panenan yang dapat dimanfaatkan dari Kebun KAIL.

Sistem di Rumah KAIL sesungguhnya telah disiapkan untuk mandiri dalam perawatan kebun, yaitu dibangunnya biodigester sebagai pengolahan kotoran sehingga menghasilkan material organis yang dibutuhkan untuk kesuburan tanaman. Namun demikian, biodigester belum berfungsi sepenuhnya, karena belum cukupnya jumlah kotoran yang dihasilkan dari WC atau toilet di Rumah KAIL  yang dapat diolah oleh biodigester, sehingga penggunaannya belum maksimal.
Dalam perawatan Rumah KAIL, KAIL menghadapi tantangan lainnya, yaitu dalam menghadapi rayap dan tikus. KAIL mengupayakan untuk tidak menggunakan obat-obatan kimia untuk mengusir hewan-hewan tersebut . Upaya yang pernah dilakukan adalah menggunakan cairan tembakau untuk mengusir rayap.  

Penutup

Upaya KAIL untuk mewujudkan pilihan hidup berkualitas dan selaras dengan alam masih terus dilakukan. Berbagai tantangan masih dihadapi KAIL dan belum semuanya dapat teratasi. Melalui praktek di Rumah KAIL, masing-masing anggota KAILpun tengah berproses dan belajar untuk  mengembangkan kemandirian menentukan pilihan-pilihan untuk mencapai hidup yang lebih berkualitas . Dan semoga, nantinya, tidak hanya di KAIL saja hidup yang berkualitas tinggi dan selaras alam dapat diwujudkan, namun juga dapat dicapai di lingkungan sekitar dan menjangkau tempat-tempat yang lebih luas lagi.

[RUMAH KAIL] BELAJAR MANDIRI DI RUMAH DAN KEBUN KAIL

Oleh: Any Sulistyowati


Sejak tahun 2014, KAIL telah menyelenggarakan kegiatan anak di Rumah KAIL. Kegiatan ini antara lain bertujuan untuk membangun kemandirian anak. Setiap bulannya, tepatnya setiap hari Minggu ketiga, sekitar 15-30 anak-anak berkumpul di Rumah KAIL. Mereka berasal dari kampung-kampung di sekitar Rumah KAIL. Kegiatan ini dikenal dengan nama Hari Belajar Anak (HBA).

Biasanya kegiatan-kegiatan HBA dimulai di pagi hari sekitar pukul 9 dan berakhir sebelum pukul 12 siang. Selama sekitar 3 jam mereka berkegiatan bersama. Kegiatan HBA biasanya terdiri dari beberapa jenis aktivitas yang menarik untuk anak-anak. Biasanya sesi dibuka dengan berolahraga bersama di labirin Kebun KAIL. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan favorit anak-anak. Setelah itu barulah masuk ke materi. Seusai sesi materi, biasanya ada proses kerja mandiri untuk mengolah materi tersebut secara pribadi. Bagian ini dapat berupa kegiatan menggambar, membuat karya, mengisi jurnal atau berbagai kegiatan lainnya yang disukai anak-anak. Setelah itu dilanjutkan dengan menyantap makanan sehat yang disiapkan oleh Rumah KAIL.   

Olahraga pagi di labirin kebun KAIL

Materi ini biasanya disampaikan dengan berbagai metode penyampaian sehingga anak tertarik dan memahami materi dengan lebih baik dan mudah. Metode pembelajaran yang digunakan di HBA sangat beragam. Ada yang melatih kemampuan motorik anak, ada yang untuk mengembangkan kepekaan rasa, ada juga yang mengembangkan kemampuan kognitif. Dengan variasi metode ini, diharapkan keseluruhan aspek kehidupan anak dapat tumbuh dan berkembang. Mereka juga belajar lewat permainan. Lewat permainan-permainan ini, anak-anak belajar berbagai hal dengan senang hati.

[RUMAH KAIL] PEMANFAATAN SANDANG DI RUMAH KAIL


Sandang merupakan kebutuhan pokok manusia untuk melindungi tubuh dari cuaca panas atau dingin dan untuk menampilkan diri sebagai mahluk yang berbudaya.

Sandang lebih dari sekedar pakaian; sandang juga menunjukkan semangat, atau paham dari si pemakainya. Sandang pun menjadi cara seseorang atau sekelompok orang menyatakan identitas mereka. Misalnya dokter berpakaian khusus, tentara berseragam khusus, anak sekolah berseragam, ulama memakai jubah atau peci, perempuan muslim memakai jilbab,  tukang masak menggunakan celemek dan tutup rambut, semua memiliki ciri sandang yang khas. Sandang juga berbeda sesuai fungsi seperti untuk olah raga, renang, mendaki gunung, menyelam, balap motor, menjelajah angkasa sebagai astronot, dan semua memiliki standar yang sesuai dengan peruntukannya.

Sandang sebagai identitas diri?

Namun,dalam proses produksinya, sandang berpotensi menurunkan kualitas alam karena penggunaan bahan-bahan kimia yang dapat mencemari tanah dan udara. Ditemukannya bahan-bahan sandang sintetis yang tak dapat diurai di alam,  berpotensi membahayakan alam di masa mendatang, jika pemakaiannya tidak diiringi dengan pemikiran yang arif terkait alam.

Seringkali seseorang membeli produk sandang karena dianggap sedang tren pada jaman tersebut, namun segera dibuang ketika tren tersebut telah lewat. Padahal, untuk menghasilkan satu bahan sandang tersebut sekian banyak bahan yang berpotensi merusak alam telah terbuang, mulai dari proses pembuatan sampai dengan pemasaran. 

Visi Perkumpulan Kail terhadap Sandang

Rumah Kail mengedepankan visi keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan. Selain pangan dan papan, sandang yang berkelanjutan merupakan harapan utama dari Rumah Kail.

Kail membentuk jaringan sosial dengan para sahabat melalui relawan Kail maupun mitra-mitranya dalam mewujudkan visi Kail dalam sandang yang berkelanjutan.

Berdasarkan pengalaman Kail dalam mendorong sandang yang berkelanjutan, maka ide-ide kegiatan berikut ini akan terus dipraktekkan di Rumah Kail:
  • Jika ada pakaian yang bahannya masih bagus tetapi tidak bisa dipakai lagi, bisa didaur ulang untuk dijadikan lap tangan, cempal, keset, dan lain sebagainya
  • Kain sisa proses menjahit yang tak terpakai namun masih bagus bisa diubah dengan sedikit kreativitas menjadi perca hias, kain penutup meja (taplak), gorden, boneka kain, sampul buku, hiasan kaleng ,arpillera, dan sebagainya.
  • Jika ada relawan yang memiliki kecintaan di bidang produksi sandang berkelanjutan maupun pemanfaatan produk sandang ramah lingkungan yang bisa berbagi ilmu atau keterampilan, akan diundang untuk mengenalkan minat mereka, seperti proses membatik, proses menenun, proses kerajinan perca, dan lain-lainnya.

Salah satu upaya mempromosikan sandang berkelanjutan adalah menyelenggarakan bazaar pakaian bekas layak pakai. Upaya ini telah berjalan selama lima tahun, dan selalu dikemas dalam perayaan Hari Ulang Tahun KAIL dan Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia di bulan Agustus. Melalui para relawan maupun mitra-mitranya, Kail mengumpulkan sebanyak-banyaknya sumbangan pakaian bekas yang masih layak pakai, kemudian dijual secara murah kepada warga sekitar Rumah Kail maupun para relawan yang hadir untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Tujuan dari kegiatan ini tentunya adalah untuk meneruskan umur pakai dari sandang.

Suasana persiapan bazaar Rumah Kail

Kegiatan bazaar pakaian bekas layak pakai di Rumah Kail

Selain bazaar murah, Kail menyimpan kain perca yang dapat digunakan untuk menghasilkan produk-produk terkait sandang yang dibutuhkan di Rumah Kail, antara lain untuk dijadikan keset, lap, cempal, taplak maupun hiasan ruangan. 

Kegiatan yang pernah dilaksanakan oleh Kail dalam pemanfaatan sisa-sisa perca antara lain mengadakan kegiatan keterampilan bersama ibu-ibu dari Kampung Cigarugak yaitu membuat taplak, cempal dan keset dari kain perca. Melalui kegiatan ini, warga sekitar mendapatkan keterampilan baru, dan juga mempelajari prinsip sandang berkelanjutan melalui kegiatan daur ulang bahan, yaitu kain perca.

Selain itu, Kail mengadakan kegiatan mengolah perca yang disebut dengan seni arpillera. Seni arpillera ini, selain mengusung prinsip sandang berkelanjutan, juga merupakan media penyembuhan batin dari trauma. Bila ditengok ke belakang, pada awal mulanya, arpillera merupakan bentuk protes para ibu terhadap kediktatoran Jendral Auguste Pinochet dari Chile yang menyebabkan puluhan ribu orang terbunuh atau hilang karena penculikan. Para ibu di Chile berkumpul untuk menyatakan duka dan perlawanan mereka dengan membuat arpillera. Gambar-gambar yang muncul dari arpillera tersebut merupakan perwujudan perlawanan mereka terhadap kediktatoran pemerintah di masa itu.
Contoh karya arpillera di Rumah Kail


Arpillera sebagai penyemarak dinding Rumah Kail

Artikel mengenai seni arpillera ini juga dapat dibaca di link berikut ini (https://proaktif-online.blogspot.com/search?q=arpillera). Selain sebagai bentuk protes damai, seni arpillera merupakan sarana penyaluran perasaan, penenangan batin serta proses pengabadian sebuah peristiwa.

Demikian seluk beluk pemanfaatan sandang berkelanjutan di KAIL. Kami berharap agar manfaat dan inspirasi dari kegiatan yang kami laksanakan dapat juga menginspirasi warga sekitar maupun para agen perubahan di luar sana.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...