Showing posts with label Tips. Show all posts
Showing posts with label Tips. Show all posts

[TIPS] SELF AWARENESS DALAM KONFLIK

Oleh: Anastasia Levianti

Setiap hari, kita pasti menghadapi konflik, baik konflik dalam diri sendiri maupun konflik dengan orang lain dan situasi kondisi di luar diri. Inti dari konflik adalah kita mengalami ketegangan akibat perbedaan. Konflik dalam diri terjadi misalnya saat pikiran menyuruh kita untuk tetap terjaga sampai tugas selesai tuntas, sementara badan rasanya lelah dan sangat ingin rebah. Konflik dengan lingkungan terjadi misalnya saat kita menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, ataupun saat kita berbeda sudut pandang dengan rekan tanpa menemukan jalan keluar.
Dalam psikologi, ada setidaknya tiga macam konflik, yaitu approach-approach, approach-avoidance, dan avoidance-avoidance. Konflik approach-approach terjadi saat kita mengalami pertentangan antara dua hal yang sama-sama kita sukai/inginkan/sifatnya positif. Contoh konflik approach-approach misalnya antara tekad meneruskan puasa dengan keinginan makan teratur untuk memulihkan lambung yang luka. Puasa dan makan teratur sama-sama positif sifatnya atau diinginkan.
Konflik approach-avoidance kita alami saat menghadapi pertentangan antara hal yang kita inginkan (arah positif) dengan hal yang kita hindari (arah negatif). Misalnya, seorang perempuan sangat ingin menjadi ibu rumah tangga agar dapat total melayani keluarga, namun sekaligus juga tidak mau bergantung pada suaminya dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Melayani keluarga sifatnya positif atau diinginkan, sementara bergantung secara finansial kepada suami sifatnya negatif atau tidak diinginkan.
Dari paparan di atas, pembaca tentu dapat menduga, bahwa konflik avoidance-avoidance terjadi saat kita mengalami pertentangan antara dua hal yang sifatnya sama-sama negatif atau kita hindari. Contoh dari konflik ini ialah saat kita tidak suka dengan sikap rekan kerja, namun kita juga enggan menyelesaikan tugas tim sendirian. Kita menghadapi dua pilihan yang sama-sama tidak kita inginkan, namun menuntut kita untuk tetap memilih.


sumber: www.dosensosiologi.com

Ketegangan dan ketidaknyamanan yang dirasakan saat berhadapan dengan konflik diinterpretasikan oleh otak kita sebagai sinyal bahaya. Otak kemudian dengan cepat mengambil alih kendali diri untuk melakukan upaya penyelesaian konflik. Upaya pemecahan masalah dapat mengadposi kebiasaan umum yang berlaku menurut akal sehat (common sense), mengikuti cara penyelesaian yang dilakukan oleh orang lain di sekitar kita (vicarious learning), memilih mengikuti dorongan yang paling dominan untuk memperoleh kenyamanan/menghilangkan ketegangan (emotional focus solving), ataupun melakukan analisa sintesa dalam rangka menemukan akar masalah dan menyelesaikannya (problem focus solving).
Ada beberapa rambu yang perlu kita perhatikan saat menimbang sesuatu, agar hasil common sense setidaknya logis dan objektif (Solso, 2005). Beberapa rambu tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Rambu mayoritas: suara terbanyak atau mayoritas belum tentu benar
  2. Rambu atribut popularitas: opini figur populer belum tentu benar
  3. Rambu atribut otoritas: pandangan figur pimpinan, ataupun mematuhi norma tanpa pertimbangan konteks, belum tentu benar
4. Rambu kekuatan/dominan: mematuhi desakan karena takut ancaman, ataupun mengikuti pengaruh orang yang dominan, belum tentu benar
  1. Rambu “kambing hitam”: apapun pandangan kita tentang orang lain dan lingkungan sebetulnya lebih menggambarkan dinamika batin pribadi daripada kenyataan di luar diri   
Vicarious learning atau belajar dengan cara meniru sebenarnya sering kita lakukan. Di Indonesia, praktik belajar dengan cara meniru dikenal dengan singkatan 3M, yaitu memperhatikan, mengikuti, dan memodifikasi (Krismastono, 2019). Agar optimal memperhatikan, kita perlu mengaktifkan panca indera. Misalnya saat belajar memasak, alih-alih hanya melihat dan mendengar video masakan, kita dapat juga menyentuh langsung, mengenali aroma, ataupun mencicipi produk masakan. Perhatian kita juga akan lebih cermat manakala kita mengulanginya beberapa kali, ataupun mendiskusikan hasil observasi kita ini dengan orang lain yang juga melakukan observasi serupa. Pengulangan juga perlu dilakukan saat praktik mengikuti. Seorang pelatih senior menganjurkan agar peserta mengulangi hal yang dipelajari sampai sepuluh kali. Meski ada peserta yang sudah cukup paham setelah pengulangan ketiga sampai kelima, manfaat tetap akan diperoleh bilamana peserta disiplin mengulanginya sampai sepuluh kali. Practices indeed make us perfect, iya kan? Hasil pengulangan akan membantu kita menemukan intisari pembelajaran, yang kemudian menstimulasi kita untuk mengembangkannya melalui elaborasi ide pribadi. 


sumber: www.rumahfilsafat.com

Emotional focus coping ditujukan untuk menyalurkan ketegangan agar reda dan tidak berdampak destruktif. Ada beberapa cara penyaluran emosi negatif yang dialami saat konflik. Langkah pertama adalah walk out. Kita dapat minta ijin waktu jeda 5-15 menit ke kamar mandi. Kita dapat membasuh wajah dengan air, menghirup udara segar, dan minum segelas air putih. Gerakan menyediakan waktu untuk pribadi ini dapat membantu kita kembali berpusat kepada prinsip diri, sekaligus melapangkan hati untuk berempati menangkap kebutuhan inti orang lain/inti tuntutan situasi di balik paparan informasi yang tampak di permukaan. Bilamana walkout tidak dimungkinkan, kita dapat menggosok-gosokkan telapak tangan, memijat jari jemari, ataupun mengempitkan kedua telapak tangan di ketiak. Menurut hasil penelitian para ahli healing dalam komunitas capacitar, emosi negatif tersimpan dalam jari-jemari, sehingga gerakan memijat, menekan, mengelus, dan gerakan apapun yang kita lakukan secara sadar terhadap jari jemari kita akan membantu kita melepaskan emosi negatif yang kita rasakan. Intinya adalah kesadaran penuh pada gerakan, dengan cara menyediakan waktu untuk memperhatikan diri sendiri serta melambatkan tempo aktivitas sejenak.
Problem focus coping yang dewasa ini berkembang adalah pemikiran komputasional (Krismastono, 2019). Kita mencoba memecahkan masalah sebagaimana komputer melakukannya. Ada empat tahapan dalam pemikiran komputasional, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, algoritma, dan identifikasi. Dekomposisi kita lakukan dengan cara menguraikan masalah. Masalah yang diuraikan membuat kita merasa lebih ringan dan mudah memahami keadaan masalah yang dihadapi. Misalnya, saat menghadapi tumpukan pekerjaan rumah tangga, sampai kita merasa berat sekali, namun juga tahu bahwa kita harus mengerjakannya, kita dapat memulai penyelesaian dengan cara memecah tumpukan pekerjaan berdasarkan kelompoknya (cucian dipisahkan berdasarkan jenis, dst., sehingga kita menghadapi bukan tumpukan berantakan yang membuat rasa tidak nyaman, melainkan tumpukan rapi yang membangun  kesiapan untuk mulai mengerjakan). Kebiasaan melakukan dekomposisi lambat laun membuat kita mudah mengenali benang merah saat menghadapi masalah. Benang merah atau pengenalan pola di balik paparan informasi ini akan membantu kita lancar memahami algoritma-keterkaitan logis, seperti hubungan sebab akibat langsung di antara dua hal. Identifikasi akar masalah dan solusi pun menjadi mudah kita lakukan. Untuk menyempurnakan hasil pemikiran, kita dapat membiasakan diri melakukan review setiap tahapan dan mengevaluasinya sebelum melakukan eksekusi solusi.
Yuk, kita coba praktik sejenak melalui studi kasus berikut. Ada seorang biasa, berumah tangga dan bekerja dengan mengutamakan nilai-nilai luhur dalam aktivitasnya, yang akhir-akhir ini mengalami kelelahan. Meski tugas demi tugas diselesaikan sesuai standar, namun tugas demi tugas baru datang dengan tempo lebih cepat, sehingga tumpukan hasil kerja tidak memadai bila dibandingkan dengan tumpukan tugas baru yang menanti diselesaikan. Segala upaya optimal pekerja juga kurang dihargai oleh lingkungan sekitarnya. Hasil kerjanya tidak lepas dari kritik dan cemooh, entah itu disampaikan secara langsung dan objektif, ataupun dengan bisik-bisik di belakang kehadirannya dan subjektif. Jiwa raganya sangat lelah.   
Bagaimana penyelesaian studi kasus tersebut dapat dilakukan? Pekerja bisa saja mengikuti saran atasannya untuk lebih rileks dalam bekerja, menyelipkan kesenangan di tengah waktu kerja, dan menambah waktu kerja dengan mengerjakan tugas juga di luar jam kantor (pengaruh otoritas). Pekerja juga bisa meniru teladan atasan lain yang fokus membuat skala prioritas, mengerjakan hanya yang penting saja, dan menyelesaikan pekerjaan yang datang berdasarkan skala prioritasnya (vicarious learning). Ia sendiri dapat menciptakan waktu jeda untuk diam sejenak, lepas dari rutinitas memenuhi tuntutan tugas yang terus bertambah, agar stamina jiwa raganya pulih dan siap kembali beraktivitas menyelesaikan tugas (emotional focus coping). Dalam keadaan siap, ia sadar, bahwa ia perlu melakukan perubahan cara kerja. Pola kerja yang sama tidak cukup memadai untuk memenuhi tuntutan yang terus bertambah. Alternatif saran yang tersedia adalah menambah waktu kerja dan memilah pekerjaan berdasarkan skala prioritas. Ia juga terpikir untuk menjaga tempo kerja, dengan cara tidak mengejar kualitas - kesempurnaan saja yang memakan waktu lama, melainkan memperhatikan juga batasan waktu pengerjaan selama proses penyelesaiannya. Selain itu, ia juga perlu lebih disiplin mengatur kemauan badannya, untuk merelakan waktu istirahatnya digunakan sebagai waktu tambahan penyelesaian tugas (problem focus coping). 
Apakah alternatif solusi di atas berhasil menyelesaikan masalah yang dialami? Sering kali, penyelesaian yang dilakukan tidak cukup memuaskan, karena tidak semua rencana penyelesaian sungguh dapat dilaksanakan dalam keseharian. Pekerja belum terbiasa mengatur kemauan badan, sehingga stamina menambah waktu kerja masih naik turun dan belum konsisten. Sementara itu, tumpukan kerja terus datang bertambah. Tekanan beban kerja tidak dapat diimbanginya dengan peningkatan stamina dan pembentukan kebiasaan kerja baru yang lebih efektif. Jiwa raganya belum terlepas dari kelelahan. Sukacita belum memenuhi aktivitas kerjanya.
Pada titik ini, kita mendapat kesempatan untuk lebih masuk ke dalam diri, melakukan refleksi, untuk menyadari keberadaan aktualita yang lebih hakiki. Untuk dapat masuk ke dalam diri, diperlukan keadaan hening. Kita dapat menciptakan keheningan dengan cara melakukan jeda, yaitu dengan menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan, mencari tempat untuk tenang menyendiri, dan rileks melepaskan semua ketegangan melalui hembusan dan tarikan napas yang teratur. Melalui napas teratur, kita dapat menajamkan indera untuk merasakan situasi dan kondisi di sekitar, meskipun kita tidak aktif mengamati - menginderanya dan tidak terlibat di dalamnya. Melalui kesadaran pada napas teratur, pikiran kita juga akan lebih jinak, tidak agresif memimpin tindakan pemecahan masalah berasarkan keterdesakan/sinyal bahaya yang ditangkap otak. Melalui kesadaran pada napas teratur, pelan-pelan kita melepaskan kelelahan, ataupun keterikatan diri pada tuntutan pemenuhan tugas, yang tanpa sadar membuat kita lelah. Melalui kesadaran pada napas teratur, cakrawala pandang kita meluas, kondisi penuh desakan seperti “kiamat” kini terlihat harmoni ibarat “surga”. Ada keyakinan dalam hati kecil bahwa semua baik-baik saja. Ada gerakan cinta yang lembut untuk mulai dengan tenang aktivitas yang paling diperlukan dalam penyelesaian tugas. Melalui kesadaran diri pada napas teratur, sikap dan tanggapan kita terhadap situasi yang sama (yaitu sama-sama belum memenuhi standar sempurna), akan menjadi lebih bersifat cinta merawat, daripada  rasa tidak suka dan nafsu memperbaikinya. Energi cinta akan menjaga stamina terlepas dari kelelahan buta yang tidak perlu. Energi cinta akan membantu kita untuk sabar bertekun dan damai bersyukur selama bertekun hingga selesai.     


Sumber: www.vectorstock.com

Jadi, apa yang dapat kita lakukan untuk menghadirkan self-awareness dalam situasi konflik sehari-hari?
1.   Let it flow, ikuti arus yang berjalan:
common sense, vicarious learning, emotional focus solving, problem focus solving, yang tetap saja berakhir pada rasa tak berdaya meski  segala upaya telah dilakukan.
2.   Hentikan sejenak langkahmu sekarang:
pejamkan sejenak matamu yang lelah, rasakan kelelahan seperti sia-sia;
diamlah sejenak bibirmu tak bicara, biarkan kata-kata mematung sementara;
biarkan sejenak pemberontakan rasuki jiwa, dan biarkan dirimu digerakkannya;
hidup memang penuh peluh, untuk siapa saja yang membuatmu penuh;
tapi pernahkah kau berpikir, perlu ada waktu tuk nurani bicara;
jernihkan sejenak pikiran keruhmu, coba sadari manusia yang semakin rapuh;
panjatkan sejenak doa sederhanamu, undanglah Dia masuk ke dalam bingkai hatimu;
rasakan sejenak genggam erat tanganKu, jangan pernah kau abaikan cintaKu (Wiji Tukul).
3.  Loving by serving, cinta merawat yang di hadapan dengan tulus melayani pemenuhan kebutuhan:
Orientasikan diri untuk bertanggung jawab penuh menyelesaikan semua tugas (Yes, I do).
Tangkap tujuan utama, buat skala prioritas kerja berdasarkan dampaknya pada pencapaian tujuan.
Diam (hening) dan bekerjalah. Sabar bertekun dan damai bersyukur.
Doa, meditasi, hening, waktu jeda, akan mengasah pisau kesadaran diri untuk terus hidup dan terus mencinta. 

[TIPS] BERTANGGUNG JAWAB ATAS SAMPAHMU



Salah satu tren gaya hidup yg dipilih banyak orang saat ini adalah Zero Waste life style. Kesadaran hidup minim sampah menurut saya sangat perlu dilakukan saat ini. Banyak isu yang menaruh perhatian pada masalah sampah yang sudah mengancam keberlangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain. Sayangnya, masih ada yang melakukan sebatas mengikuti tren tanpa kesadaran untuk mencapai dampak yang lebih luas. Misalnya, membeli barang baru untuk mendukung aktivitas zero waste-nya ketimbang menggunakan apa yang tersedia, menjadi tidak sejalan dengan semangat zero waste jika pada akhirnya menimbulkan barang lain yang tidak dapat digunakan.

Cara hidup yang minim menghasilkan sampah sebenarnya dimulai dari saya kecil dari kebiasaan yang ditanamkan oleh orangtua. Sedari kecil saya hidup di kota kecil di pulau ujung timur Indonesia. Keterbatasan akses dan juga gaya hidup, membantu kami untuk mengutamakan sumber dan bahan yang tersedia. Saya juga sudah dikenalkan dengan sistem pengelolaan sampah, walau sebatas organik dan anorganik saja. 

Saya tidak mengenal jajan karena tidak tersedia pedagang makanan jadi. Sekolah dan rumah yang jaraknya sangat dekat, membuat saya punya waktu untuk pulang makan siang. Orangtua saya bekerja dan disediakan fasilitas mess yang lengkap menyajikan makanan selama 24 jam. Jika kami bosan makanan rumah dan ingin menu yang berbeda, kami akan menikmati santapan di mess. Alternatif lain adalah bertukar makanan dengan keluarga lain yang berasal dari daerah lain. Selain makanan, kami juga sering bertukar barang (pakaian dan buku). Setiap keluar rumah, selalu tersedia botol minum dan minimal sekotak penganan ringan di dalam tas, bahkan saat bepergian keluar kota sekalipun.

Seiring perkembangan dan tuntutan kehidupan, juga karena kami pindah ke Ibukota, gaya hidup pun turut berubah. Saya menyesuaikan diri dengan ritme kota modern yang serba cepat, penuh persaingan, tergesa, individualis, dan praktis. Seakan hampir tanpa ruang untuk memberi kebaikan dan selaras dengan alam.

Berpindah kota beberapa kali, mengalami banyak pengalaman dan situasi yang berbeda-beda, kami (saya dan suami) mulai tersadar akan pentingnya menjalani hidup yang lebih selaras dengan lingkungan alam. Kami sadar dan merasa perlu mengubah cara hidup kami untuk memberi kesempatan kepada anak kami melihat bahwa di dunia ini banyak hal baik dan bisa berdampak baik. Kami sendiri yang bertanggungjawab atas pilihan dan tindakan diri sendiri.

Kekhawatiran juga muncul dengan deraan informasi tentang masalah yang banyak terj
adi dalam berkehidupan di masyarakat secara umum dan permasalahan lingkungan hidup secara khusus. Kami melihat bahwa dunia dan perubahan di atasnya bisa membawa dampak negatif bagi anak. Namun sadar bahwa tindakan kita sebagai manusia bisa membawa perubahan ke arah yang baik, maka kami berani berangkat dari situ.

Sebagai orangtua, kami berusaha memberi teladan dengan segenap kepala, hati, dan tangan kami dengan konsisten melaksanakan apa yang kami yakini baik yang akan berdampak baik juga adanya. Kami membuat rencana, memperhitungkan dampak, dan merepotkan diri sedikit dengan persiapan sebelum berkegiatan. Harapan kami kebiasaan sederhana dengan dampak luas akan tertanam dalam diri anak.

Setiap aspek kegiatan sehari-hari bukan tanpa risiko sampah. Kami berusaha merencanakan setiap kegiatan sambil juga belajar menahan diri. Tantangan besar dari hidup minim sampah adalah pola konsumsi instan dan praktis yang sudah menjadi bagian dari perkembangan diri dan kemudian terasa sebagai kebutuhan. Kita semua tahu, seiring perkembangan industri, penyumbang sampah terbanyak saat ini adalah kemasan praktis terutama yang terbuat dari plastik karena tidak bisa diurai alam secara langsung. Sebenarnya kemasan tersebut banyak yang dapat digunakan kembali atau didaur ulang. Tetapi banyak pula yang hanya sekali pakai dan berakhir menjadi sampah.
Ada beberapa cara yang kami coba lakukan untuk menuju minim sampah dalam kegiatan kami sehari-hari. 
  

1. Menyusun menu makanan selama 1-2 minggu ke depan

Menu makan sehari-hari direncanakan dan diusahakan memasak sendiri. Belanja bahan disusun dan diatur supaya tidak ada yang mubazir karena disimpan lebih lama dari daya tahan bahan itu sendiri. Membawa wadah dan kantung sendiri asat belanja di pasar tradisional maupun supermarket. Kami sering mendapati pedagang di pasar berujar senang jika pembeli tidak menggunakan plastik yang mereka sediakan karena itu berarti juga menghemat pengeluaran belanja plastik mereka. Wadah juga membantu kami mengorganisir penyimpanan nantinya di rumah sehingga turut menghemat waktu.

Saat memilih jajan, kami juga belajar menahan diri untuk tidak impulsif dan lebih merencanakan jajan kami (kecuali pada saat darurat). Sedapat mungkin kami rencanakan apakah akan makan di tempat atau membawa pulang. Selain alat makan pakai ulang, di tas tersedia setidaknya 1-2 wadah kecil untuk membungkus makanan yang tidak habis atau saat keinginan jajan impulsif mendera.

Selain itu berusaha mandiri pangan dengan menanam tanaman sayur dan buah juga turut berdampak baik. Melakukan pengawetan daging, sayur, dan buah dengan cara sederhana skala rumahan. Seperti menggunakan metoda pengasapan, pengasinan/pemanisan/pengasaman, membuat makanan instan untuk stok pribadi (contoh: nugget, sosis, fruit jam dan jelly), dll. Sebagai konsumsi pribadi tentu akan lebih ekonomis dan sehat. 


Keju cheddar buatan sendiri

2. Memilah sampah.

Memilah barang dan sampah sebenarnya tampak sepele, tapi dampaknya besar jika paling tidak di ranah rumahtangga sudah bisa melakukannya. Tumpukan sampah di TPA bisa berkurang drastis. Kami sudah berusaha melakukan sejak 3 tahun belakangan. Memilah sederhana semampu kami dengan memisahkan dan mengelola sampah anorganik (plastik, kertas, kaca, kaleng), dan organik. Sampah anorganik dibedakan berdasarkan jenisnya; yang masih bisa digunakan/diolah kembali, dan tidak bisa. Sedapat mungkin dibersihkan dan diatur/dikemas sedemikian rupa untuk mengurangi volume. Kemasan plastik dicuci bersih lalu ditiriskan, untuk menghilangkan bau dan risiko munculnya serangga atau binatang. Botol plastik dicuci dan ditiriskan, ditipiskan/digepengkan, lalu dikumpulkan dalam satu wadah. Demikian juga sampah kertas, kemasan kotak dibuka dan diratakan untuk memudahkan disusun. Sampah organik dimasukkan dalam komposter sederhana atau dikubur dalam tanah.

Sedikit butuh usaha menjelaskan pada tamu yang berkunjung, karena kami perlu tetap konsisten tapi tanpa membuat tamu merasa digurui atau tersinggung. Tentu juga sambil berharap mereka tergerak melakukan hal yang sama. Dalam kondisi bepergian, kami kumpulkan sampah dan simpan di tas jika tidak menemukan tempat sampah. Alternatif pengelolaan sampah anorganik bisa bekerjasama dengan pemulung dan juga bank sampah yang sudah banyak bertumbuh sekarang ini. Atau bisa juga bekerjasama dengan komunitas perajin yang membuat aneka kerajinan dari plastik bekas pakai.

3. Membuat sendiri beberapa kebutuhan yang disesuaikan dengan kemampuan.

Kebutuhan sehari-hari yang dapat dibuat sendiri antara lain bahan pembersih. Kebutuhan pembersih beragam varian dan jumlahnya tergantung tujuan pemakaian. Banyak pembersih yang mengandung komposisi tidak ramah lingkungan. Jika memungkinkan, kita bisa membuat sendiri sabun (mandi maupun pencuci) dan sampo, juga pembersih serbaguna dari eco-enzyme yg terbuat dari sisa bahan organik dapur. Mudah dan ekonomis.

Atau membeli dari bulk store dengan membawa kemasan sendiri. Di Indonesia keberadaan toko seperti ini belum banyak tersedia, masih terbatas di kota besar. 

Sabun kopi buatan sendiri
Eco-enzyme cleaner yang terbuat dari kulit jeruk

Di samping memilah sampah, barang di rumah juga dipilah untuk dimanfaatkan kembali. Wadah sampah bisa menggunakan kotak kemasan atau kardus besar. Hal lainnya yang bisa dilakukan adalah vermak pakaian (repurpose) menjadi pakaian anak, tas, selimut, keset, atau alat kebersihan. Ide-ide untuk memanfaatkan kembali barang sudah banyak beredar dan mudah sekali diakses di internet. Memberikan barang layak pakai yang sudah amat jarang digunakan kepada orang lain yang membutuhkan, menyelenggarakan garage sale, atau bertukar barang dengan teman dekat bisa ditempuh untuk memperpanjang usia penggunaan barang. 

Sabun serbaguna dari minyak jelantah

4. Hemat energi dan cermat memanfaatkan alat elektronik di rumah.

Jika hendak membeli, pilihan alat elektronik yg hemat energi dan berkapasitas daya listrik rendah sudah banyak tersedia di pasaran. Namun jika sudah terlanjur memiliki, perlu bijak menggunakan sesuai dengam kapasitasnya, juga mematikan dan melepas sambungan listriknya saat tidak digunakan. Alat elektronik yang tetap tersambung meskipun tidak digunakan akan mengkonsumsi daya listrik walau dalam jumlah yang sangat kecil. Selain itu, juga menjaga alat dari kerusakan dan meminimalisir risiko korsleting. Melakukan perawatan rutin juga memperpanjang usia alat serta memperkecil risiko. Mengusahakan peralihan dari tergantung pada daya listrik yang tersedia dengan daya listrik yang dapat diusahakan sendiri. Seperti menggunakan alat elektronik bersumberdaya energi sinar matahari dari yang kapasitas kecil seperti lampu taman atau lampu meja.
Lampu taman energi sinar matahari

Menjalani gaya hidup minim sampah adalah cara hidup dengan penuh kesadaran untuk mengurangi dampak yg salah satunya berupa sampah. Tidak perlu dilakukan di titik extreme sampai tidak menggunakan plastik sekali pakai atau tidak menghasilkan sampah sama sekali, atau mengusahakan semua serba dibuat sendiri. Tapi menyesuaikan dengan sebisa yang kita mampu. Penting memiliki kesadaran bahwa ada dampak dari tindakan kita. Berkegiatan dengan keluarga dan teman yang memiliki kesadaran yang sama tentu akan mendukung pilihan gaya hidup kita. Kita bisa saling berbagi saran dan pengalaman terkait hidup minim sampah.

Secara umum cara yang kami lakukan sehari-hari masih dianggap aneh oleh banyak orang. Saat membeli makanan jadi misalnya, kami terbiasa langsung menyodorkan kotak makanan karena sudah dipersiapkan. Sering ada yang bertanya, kenapa kami merepotkan diri menyiapkan begitu banyak alat sementara sudah disediakan pihak penjual. Tentunya kami dengan senang hati akan menjelaskan alasan kami. Semoga bisa menggerakkan keinginan di dalam diri orang lain yang mendengarkan.

Dalam kegiatan luar rumah seperti di sekolah dan komunitas, seringkali masih menuntut kepraktisan dan kemudahan. Kegiatan berkumpul rutin yang disertai sajian penganan dan minuman, ringan maupun besar. Masih menggunakan kemasan pembungkus makanan, wadah dan alat makan dan minum sekali pakai, dan sisa makanan yang berpotensi sampah. Penyajian makanan dan minuman juga tetap diusahakan tanpa menggunakan bahan non organik yang sekali pakai. Sebagai peserta, selalu berusaha ingat untuk membawa satu set alat makan dan minum sederhana. Sebagai pihak penyelenggara pun juga perlu berusaha dan sadar untuk turut mengurangi potensi sampah dari sajian.

Hidup minim sampah harus bisa dilakukan dalam berbagai situasi. Kami sering melakukan perjalanan keluar kota dengan menggunakan moda transportasi massal. Mengatur jam kepergian sedapat mungkin disesuaikan dengan jam makan dan tidur. Di dalam tas selalu tersedia alat makan dan minum sederhana, ditambah kantung untuk menampung sampah sementara. Botol minum dengan kapasitas besar tentu lebih praktis. Di berbagai lokasi bandar udara sudah menyediakan stasiun pengisian ulang air minum. Kalaupun ingin membeli minuman, bisa juga membeli air minum kemasan botol kaca yg isinya dipindahkan ke botol kami.
Jajan di restoran dan membawa penganan pulang

Memiliki kesadaran memilih cara hidup ramah lingkungan dengan berusaha minim sampah adalah tujuan yang baik dan mulia. Namun tentunya perlu memahami kapasitas diri masing-masing. Tips yang saya bagikan dalam tulisan ini adalah hasil pembelajaran diri dan melalui berbagai proses selama bertahun-tahun. Bukan proses yang mudah dan kami pun masih akan terus belajar untuk menyesuaikan dengan kondisi yang juga terus berubah. 

Menurut pengamatan saya, ada kaitan erat antara hidup minim sampah dengan berdaulat sumber daya. Daya upaya untuk hidup sehat dan tetap minim sampah bisa dimulai dari memilih sumber pangan sehat yang mudah kita temui dengan harga terjangkau, atau bisa kita usahakan sendiri misalnya dengan bertanam sederhana di rumah. Kita bisa bergantung pada kearifan lokal mengenai sumber daya dan komunitas dalam masyarakat untuk saling berbagi. Salah satu contohnya, beberapa tahun belakangan ada tren menggunakan garam himalaya yang dipercaya memiliki lebih banyak manfaat. Proses mendapatkannya membuat harganya menjadi mahal. Belum lagi transportasi yang membawanya ke Indonesia, selain memakan biaya, juga mungkin menimbulkan jejak karbon yang tinggi. Sementara, petani garam lokal banyak tersebar di sepanjang garis pantai di Indonesia tentu dengan harga yang lebih terjangkau. Apakah benar, sebegitu jauhnya perbedaan manfaat garam Himalaya dengan garam lokal, sehingga kita harus memilih menggunakan garam impor tersebut? Sudahkah pilihan itu diteliti dan ditimbang dengan baik? Padahal, dengan memilih memilih garam lokal, selain ekonomis, juga turut mendukung kedaulatan garam. Ada banyak hal yang bisa kita pertimbangkan di samping persoalan konsumsi.

Mungkin saja masih banyak sumber daya di sekitar kita yang perlu dieksplorasi untuk mendukung gaya hidup minim sampah. Kita bisa mulai dengan menggunakan apa yang ada di sekitarmu dari rumah kita sendiri. Selamat menentukan pilihan!


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...