Showing posts with label Profil. Show all posts
Showing posts with label Profil. Show all posts

[PROFIL] CEU NDEN, PENTINGNYA MENCINTAI DIRI BAGI AKTIVIS

Oleh: Lindawati Sumpena


No river can return to its source, yet all rivers must have a beginning”.

Begitulah salah satu pepatah orang Indian[1]. Ketika kita melihat dalam keseharian kita, banyak permasalahan sosial yang membuat hati kita terusik, mulai dari ranah pribadi seperti depresi hingga yang mampu menghasilkan kerugian pada kalangan yang luas seperti korupsi dan penindasan. Semua permasalahan yang telah terjadi memang tidak akan mampu kita kembalikan ke titik awal. Namun, di bawah pohon masalah yang kita lihat tersebut, kita dapat menelusuri hingga ke akarnya di masa lalu. Begitulah yang diyakini oleh seorang aktivis yang bergiat di isu kesadaran diri (self awareness) untuk transformasi diri dan dunia, Nenden Vinna Mutiara Ulfa.



Ceu Nden, begitu dia biasa disebut, menamakan profesi yang dia jalani saat ini adalah life care taker. Dia bersama rekan-rekannya di Initiatives of Changes (IofC) menggagas suatu program bernama Sekolah Rekonsiliasi. IofC adalah suatu gerakan dunia yang mulai lahir paska perang dunia kedua di Oxford dan diinisiasi oleh seorang pastor bernama Frank Buchman. Dilatarbelakangi oleh kegelisahannya saat melihat banyaknya korban kemanusiaan akibat perang, beliau memiliki inisiatif untuk menggagas gerakan rekonstruksi moral dan spiritual yang dinamai Moral Re-Armament (MRA). MRA ini kemudian berubah nama menjadi IofC[2]. Gerakan ini banyak menginspirasi orang-orang di seluruh dunia dengan metodenya yang sangat menyentuh, terutama Quiet Time atau waktu hening. Quiet time hanyalah metode sederhana untuk mengambil jeda sejenak dan berdialog dengan diri.

Quiet Time, metode untuk berdialog dengan diri

Seiring berjalannya waktu, IofC ini digerakkan oleh anggotanya di seluruh dunia dengan gagasan yang berbeda-beda sesuai dengan tiga misi yang IofC perjuangkan, good governance, sustainable living, dan trust building. Di Indonesia, lahir Sekolah Rekonsiliasi delapan tahun yang lalu untuk mencapai misi trust building sekaligus sebagai ruang alternatif bagi individu yang ingin belajar mengolah rasa dan menyembuhkan luka di masa lalu. Ceu Nden menceritakan bahwa gagasannya ini muncul dari pengalaman masa lalunya yang sangat menantang bersama keluarga dan lingkungan sekitar. Dia juga melihat banyaknya luka yang dihidupi orang lahir dari keluarga yang disfungsi, pengalaman dirundung, dan memori masa kecil lain yang menyakitkan. Luka tersebut bisa saja tidak disadari namun mempengaruhi kepribadian dan bagaimana kita merespon pengalaman hidup sehari-hari. Secara metaforis, psikologi mengenal istitah inner child, yaitu sisi kepribadian anak kecil yang seringkali terabaikan dan menyimpan luka-luka di masa lalu. Manusia dapat tumbuh secara biologis dengan baik, namun belum tentu psikologinya demikian. Diri kita bisa saja masih menyimpan jiwa anak kecil yang merasa diabaikan, dibuang, dan kekurangan cinta. Jiwa anak kecil ini membangun hubungan dengan orang lain, menjadi pemimpin, bahkan menjadi orangtua.

Pengalaman di masa lalu juga mempengaruhi bagaimana kita menerima rasa dan merespon konflik yang terjadi. Misalnya, ketika kita marah, keluarga dan lingkungan mengajarkan kita bahwa marah itu adalah sesuatu yang tidak baik. Maka, jika kita berada dalam keadaan marah, kita dianjurkan untuk memendam perasaan tersebut dan mengingkarinya. Padahal, rasa marah bukan sesuatu yang tidak boleh kita miliki. Kita dianugerahi rasa marah untuk mempertahankan diri. Jadi, rasa marah harus dilepaskan. Marah berbeda dengan marah-marah. Ketika seseorang menyakiti kita, kita perlu mengekspresikan rasa marah dan memintanya bertanggungjawab terhadap perbuatan yang dia lakukan. Namun, cara mengekspresikannya harus dengan baik, tidak dengan cara memaki-maki dan melakukan kekerasan.

Rasa lain yang kerap kali dianggap mengganggu adalah rasa sedih. Ketika seseorang bersedih, tak jarang ada perasaan malu untuk mengakuinya. Hal ini kerap kali dialami oleh laki-laki. Laki-laki memiliki kesempatan yang sedikit untuk mengekspresikan kesedihan karena pandangan masyarakat yang menganggap laki-laki yang menangis dianggap merusak citra “maskulin”. Alhasil, laki-laki harus menutupi kesedihannya dengan bersikap tegar dan seolah-olah dia baik-baik saja.

Kemudian, orang juga seringkali mengingkari rasa takut yang dimiliki. Banyak persepsi dari keluarga dan lingkungan sekitar menganggap rasa takut adalah tanda kurangnya kepercayaan atau iman seseorang. Orang yang merasakan ketakutan dilihat sebagai orang yang tidak punya masa depan. Padahal sebaliknya, rasa takut adalah mekanisme kita untuk mengevaluasi diri dan melihat kesempatan hidup yang lebih baik. Jika kita memiliki rasa takut akan ketidakstabilan finansial di masa depan, kita dapat menjadikan itu energi untuk bekerja lebih baik dan menabung. Jika kita merasakan ketakutan untuk tidak memiliki pasangan, kita dapat mengevaluasi diri dan menjadi pribadi dengan karakter yang baik.

Menurut Ceu Nden, segala rasa yang bergejolak dalam hati kita hanyalah sensasi yang lewat. Rasa itu hanya perlu kita akui. Di Sekolah Rekonsiliasi, setiap peserta belajar untuk mengolah rasa dan mencintai diri kita sendiri melalui berbagai metode sederhana yang dapat dilakukan orang lain secara mandiri. Contohnya adalah indepth healing. Kita menulis surat sebagai inner child untuk mengekspresikan apa yang kita rasakan di masa lalu. Kemudian, kita membalas surat tersebut sebagai orangtua dari inner child untuk merespon perasaannya. Metode ini adalah bagian dari latihan berdialog dengan diri untuk menelaah permasalahan yang kita alami dan bagaimana kita seharusnya merespon. Jadi, pertanyaan dan jawaban datang dari diri sendiri. Metode lain adalah membuat genogram. Peserta membuat silsilah keluarga hingga tiga generasi (anak, orangtua, kakek-nenek) dan mencari tahu bagaimana mereka dibesarkan. Sejarah perkembangan mereka akan turut mempengaruhi bagaimana mereka mendidik kita saat kecil.

Sekolah Rekonsiliasi telah berjalan selama delapan tahun dan memiliki program yang berbeda-beda, di antaranya workshop satu hari, sekoci (sekolah cinta), sepasang (sekolah pasangan), dan sekota (sekolah orangtua). Sekoci berfokus untuk mempelajari bagaimana mencintai diri sendiri). Sepasang adalah sarana mengenal pasangan dan mengelola konflik sehingga tercipta hubungan yang harmonis. Sekota (sekolah orangtua) untuk mempersiapkan sistem bagi anak belajar tentang keteladanan.

Sesi sekolah cinta


Tantangan yang selama ini dihadapi adalah proses menerima diri yang sangat berat dan tidak jarang menyakitkan. Peserta harus membuka kembali luka-luka lama yang sudah ditutupi sedemikian rupa berpuluh tahun lamanya. Ada pula mereka yang harus secara terbuka berkonfrontasi dengan orang terdekat mereka, baik orangtua, pasangan, maupun sahabat yang telah berkontribusi pada luka yang mereka miliki. Maka dari itu, program ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang secara sadar mau berproses. Meskipun demikian, kesakitan yang diperoleh selama berproses lambat laun akan terpulihkan dan pada akhirnya kita belajar memaafkan. Kita dapat memaafkan apabila kita merasa marah dan mengetahui penyebab kemarahan kita. Setelah memaafkan, kita dapat mengambil pembelajaran berharga dari apa yang telah kita lalui.

Proses mengenal diri, baik fisik, mental, maupun spiritual menjadi penting agar kita memiliki kesadaran diri. Kesadaran diri ini akan menjadi energi bagi kita untuk berusaha mencintai diri sendiri. Proses menerima diri akan mengajarkan kita banyak hal: bagaimana memperjuangkan keadilan dari rasa marah, bersikap empati dari rasa sedih, dan menjadi pribadi yang optimis dari rasa takut. Perubahan dunia yang lebih baik akan muncul dari seseorang yang telah selesai berdamai dengan dirinya sendiri dan siap berkontribusi bagi lingkungan yang lebih luas.



[1] Suku pribumi Amerika.
[2] https://www.iofc.org/our-history

[PROFIL] MBAH PAIMAN, KISAH SEORANG PETANI BANDEL


Oleh: Kukuh Samudra




Bumi kita saat ini dihuni oleh lebih dari 7 milyar manusia. Sejumlah manusia tersebut semua butuh makan. Kita bisa tetap hidup tanpa membaca buku, tanpa memegang ponsel, atau tanpa berkendaraan. Tapi tidak tanpa makan.

Maka tidak berlebihan sekiranya jika kita sebut petani sebagai profesi yang paling fundamental di bumi ini. Meski demikian kita seringkali kurang apresiatif terhadap profesi tersebut.

Saya dua kali bertemu dengan Mbah Paiman. Lelaki sepuh yang memproklamirkan diri sebagai petani kolot. Pertama, dalam sebuah kegiatan diskusi. Waktu itu saya kagum dengan perawakan Mbah Paiman yang meski sudah berumur 80 tahun namun tetap sehat dan energik. Topik diskusi mengenai pertanian organis hingga masalah penanganan sampah yang kontemporer, dijawabnya secara mendasar.

Perjumpaan yang pertama mendorong saya untuk kenal lebih dalam kepada Mbah Paiman. Saya putuskan untuk sowan ke rumah Mbah Paiman di Dusun Dhani, Desa Pereng, Mojogedang. Sekitar 45 menit berkendara dari pusat Kabupaten Karanganyar.

Waktu itu kami rombongan berempat datang ke rumah Mbah Paiman pukul 21.00. Tidak janjian dahulu. Namun, sepertinya beliau cukup terbiasa menerima tamu malam-malam. Kami diterima dengan sangat ramah. “Biasa, Mas. Kalau ke sini ada yang kadang baru datang jam 11 malam. Saya layani sampai subuh.”

Nama Mbah Paiman di Karanganyar dikenal terkait perjuangannya di bidang pertanian organik. Namun, namanya tidak hanya terkenal pada kalangan penggiat pertanian, dia juga dikenal di kalangan pegiat kesenian dan kebudayaan maupun politisi. Pilihan hidup dan tutur mengenai latar belakang hidupnya, menarik bagi siapapun yang ingin menimba ilmu.

Terdapat cerita di balik pengakuan Mbah Paiman sebagai petani kolot. Kolot yang dimaksud di sini bukan berarti tua seperti dalam bahasa Sunda, tapi lebih dimaksudkan sebagai sifat ngeyel atau memberontak.

Hal yang membuat Mbah Paiman memberontak tepatnya adalah tata cara pertanian yang tidak ramah terhadap alam. Semua bermula pada program revolusi hijau yang diterapkan saat pemerintahan Presiden Soeharto.

Program revolusi hijau dimaksudkan untuk memacu produksi pangan sebagai langkah respon terhadap ledakan penduduk yang tidak terbendung. Isi program revolusi hijau antara lain percepatan produksi dengan menggunakan pupuk kimia dan racun sintetis.

Seketika Mbah Paiman resah. Ketika program itu dicanangkan, dia sedang di penjara di Nusakambangan akibat sebuah kesalahan yang hingga kini dia tidak tahu dengan terang. “Tidak ada pengadilan hingga saat ini,” begitu terangnya.

Dia menjelaskan, bagaimana saat itu, sambil sembunyi-sembunyi bersama tahanan yang lain membahas bahaya dari penerapan program revolusi hijau.Salah satu yang ganjil dari program tersebut adalah ketika tahun 1955, untuk mengatasi wabah malaria, pemerintah menggunakan racun DDT [1]. Namun, segera setelah mengetahui dampak bahaya yang ditimbulkan, pemerintah segere melarang. Mbah Paiman bertanya-tanya, “Tahun 1955, penggunaan racun sintetis sudah dilarang, mengapa pada tahun 1968 diterapkan kembali?”

Mbah Paiman paham betul, meski mungkin dapat memacu produksi pangan dalam jangka pendek, terdapat dampak jangka panjang yang sangat berbahaya jika program tersebut diterapkan. Ada empat simpulan Mbah Paiman jika program revolusi hijau tetap dijalankan: 
a.                   Degradasi lahan, tanah yang subur akan jadi tandus dan ketat
b.                  Banyak macam penyakit yang menyerang manusia karena mengonsumsi tanaman yang terkena residu racun
c.                   Usia manusia akan makin pendek. 
d.                  Rusaknya ekosistem keseluruhan.

Rezim orde baru ingin program revolusi hijau diterapkan oleh segenap petani yang ada di Indonesia. Bagi yang tidak menjalankan program tersebut, dianggap membangkang. Apalagi melayangkan protes. Dan salah satu orang yang berani menentang program tersebut dan tetap konsisten hingga sekarang salah satunya adalah Mbah Paiman. 

Pilihan hidup menjadi petani telah dijalani Mbah Paiman seumur hidupnya. Hal ini tidak lepas dari perintah orangtuanya yang ingin Mbah Paiman menjadi petani. “Saya tidak boleh sekolah karena saya harus jadi petani. Bapak saya khawatir saya menjadi pegawai negeri, karena pegawai negeri itu pemalas,  tidak mau mencangkul.” tutur Mbah Paiman.

Meskipun tidak boleh bersekolah oleh ayahnya, bukan berarti Mbah Paiman tidak belajar. Dia bertekad untuk menjadikan alam sebagai tempatnya belajar. “Ketika melihat teman saya bersekolah, saya merasa kepingin. Kepingin sekali. Sambil nyangkul sendirian, lama-kelamaan saya menemukan jalan keluar. ‘Sekolah itu tidak hanya di bangku sekolahan, masa alam ini tidak bisa digunakan untuk belajar? Sejak dahulu (leluhur) kita tidak ada sekolahan juga pintar-pintar. Maka saya menempatkan diri bahwa alam semesta harus menjadi guru besar saya. Tanah ini harus menjadi guruku!”

Semangat bertani Mbah Paiman adalah semangat seorang warga yang menyadari bahwa dia hidup di negara agraris. Adalah sebuah ironi menurut Mbah Paiman, negeri yang mendeklarasikan diri sebagai negara agraris, justru mengimpor bahan pangan dari negara lain. Dan sebuah ironi juga bagi sebuah negeri agraris, petaninya tidak sejahtera.

Dalam ranah praktis, Mbah Paiman cukup prihatin dengan kondisi petani saat ini yang kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan sehingga sangat bergantung pada dunia industri.  Mulai dari benih hingga pupuk, petani sekarang harus membeli. Padahal, benih seharusnya dapat dikembangkan dan dihasilkan sendiri dari hasil panen. Sementara untuk mendapatkan pupuk, petani seharusnya dapat membuat sendiri dengan cara mengompos.

Sebagai seorang petani kolot, Mbah Paiman sedih dan jengkel melihat kondisi alam saat ini rusak akibat praktek pertanian yang tidak memperhatikan ekosistem. Penyaluran kesedihan dan kejengkelan Mbah Paiman adalah dengan membuat geguritan (puisi jawa) maupun menulis.

Salah satu tulisannya berjudulRatapan Tangis Burung dan Katak”. Saat ini burung berkicau bukan menyanyi seperti dahulu. Tapi sekarang burung berkicau menangis. Kapan dia kena racun? Dulu kodok yang di sawah, ketika dulu menghibur petani yang mengurus air di sawah. Itu musik alami yang luar biasa. Tapi kalau sekarang dia berbunyi atau bernyanyi, itu sebetulnya menangis. Kapan mati kena racun?” tukasnya.

Mbah Paiman hingga saat ini masih terus bertani. Pagi hari dia ke sawah bersama rombongan petani yang lain. Kadang-kadang dia bertani menggarap ladang yang ada di belakang rumahnya. Dalam bertani dia konsisten menjalankan pertanian organik: tidak menggunakan pestisida kimia, pupuk sintetis, maupun benih GMO (genetically modified organism).

Bagi rekan-rekannya, laku tani yang dijalankan oleh Mbah Paiman itu aneh. Mbah Paiman yang membuat pupuk organis sendiri dan menanam benih dari hasil panen dipandang sebelah mata karena mengikuti teknologi pertanian terkini.

Sementara di satu sisi Mbah Paiman prihatin dengan kebiasaan para kawannya, sesama petani yang tidak paham dampak dari perilaku pertanian mereka terhadap ekosistem alam. Mbah Paiman ingin menyebarkan ilmu dan pemahamannya mengenai pertanian organis kepada kawan-kawannya. Tapi usaha tersebut ternyata tidak mudah. Mula-mula, hanya satu dua orang yang ikut dan tertarik. Saat ini, meski tidak banyak jumlah orang yang ingin ikut belajar dari Mbah Paiman terus bertambah sekitar 5-10 orang.

Bersama kelompok tani yang diikutinya, Mbah Paiman menjual hasil panen beras yang dihasilkan dengan label beras organis. Beras yang dijual ini telah lulus sertifikasi organis dan dikemas berbeda untuk membedakan dengan beras lain yang bukan organis.Sementara dari ladang, Mbah Paiman memperoleh hasil panen seperti pisang dan buah-buahan lain yang dia konsumsi sendiri.
Mbah Paiman sendiri membuka diri bagi siapapun yang ingin belajar bertani secara organis. Siapa saja dari mulai peneliti atau mahasiswa yang ingin bertanya sekilas mengenai pertanian organis, hingga yang ingin magang dan praktek. Mulai dari wawancara yang berdurasi satu jam, hingga yang live in untuk beberapa pekan.

Ada kala kita merasa jenuh, capai, atau bosan ketika sedang berusaha atau memperjuangkan sesuatu yang kita yakini. Di saat seperti itu, coba untuk pergi ke suatu tempat dan temukan orang yang membuat kita kembali bersemangat. Tidak selalu tempat yang jauh, tapi barangkali justru tempat yang dekat yang selama ini justru luput dari pengamatan. Mbah Paiman, 80 tahun, petani kolot.  Terus berjuang melakukan pertanian selaras alam.


[1] (diklorodifeniltrikloroetana/dichlorodiphenyltrichloroethane) merupakan senyawa yang digunakan untuk mengendalikan populasi serangga umumnya pada iklim panas. Bagaimanapun beberapa serangga mengembangkan sifat resistensi terhadap DDT dan dapat diwariskan pada keturunannya. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/DDT).
Bahan racun DDT sangat persisten (tahan lama, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin sampai 100 tahun atau lebih), bertahan dalam lingkungan hidup sambil meracuni ekosistem tanpa dapat didegradasi secara fisik maupun biologis (Sumber: http://www.kelair.bppt.go.id/sib3popv25/POPs/DDT/ddt.htm)
 


[PROFIL] INES SETIAWAN (SHINE) MENDORONG KEBERLANJUTAN MELALUI PENDIDIKAN INFORMAL


Oleh: Kandi Sekarwulan

 
Bulan Mei 2019 lalu, sempat tersebar kabar bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah climate deniers (penyangkal krisis iklim) terbesar di dunia. Media-media seperti Jakarta Post dan Vice  menyebutkan, 1 dari 5 orang di Indonesia tidak percaya bahwa krisis lingkungan di bumi disebabkan aktivitas manusia.

Walau menyedihkan, fakta ini sulit disangkal mengingat kesadaran dan kepedulian lingkungan bangsa Indonesia memang rendah. Indonesia adalah pemilik sungai paling kotor di dunia, juga negara ke-2 penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan. Di sisi lain, pendidikan di Indonesia yang masih menganut pola konvensional sama sekali jauh dari pengembangan kesadaran lingkungan yang serius. Kampanye dan edukasi yang ada belum berhasil menyadarkan orang Indonesia untuk menjaga lingkungan.

Adalah Ines Setiawan, seorang pendidik asal Tangerang, yang tergerak untuk memperbaiki permasalahan tersebut. Bekerja sebagai pengajar pada sebuah sekolah internasional di bilangan BSD, Beliau mendirikan suatu platform pendidikan untuk mewadahi idealismenya terkait permasalahan pendidikan. Lembaga tersebut dinamainya SHINE, singkatan dari Sustainable Hyper-platform for Indonesian Network of Educators. Karena ketertarikannya pada sains, lembaga ini dimaksudkan Ines untuk mengedukasi sains dengan cara yang menyenangkan serta bermakna.

Didirikan pada tahun 2014, SHINE tidak langsung aktif karena kesibukan pribadi Ines sebagai pengajar. Namun seiring perubahan manajemen di sekolah, beliau merasakan berbagai ketidaknyamanan saat mengajar, termasuk keterpaksaan menurunkan mutu pendidikan akibat kebijakan sekolah yang tidak mendukung. Hal ini memotivasinya menciptakan perubahan melalui jalur luar sekolah, yaitu SHINE. Dorongan lebih jauh diperoleh Ines dari seorang kawan yang bekerja di Australian Rural Development Program. Kawan tersebut mengajak SHINE bekerja sama dalam sebuah program kepemimpinan yang ternyata sangat inspiratif. Kerjasama tersebut menjadi titik awal bagi Ines untuk memulai kelas-kelas pertamanya di SHINE.

Kelas pertama SHINE adalah workshop membuat keju bersama anak-anak, bertempat di rumahnya sendiri. Dihadiri oleh sejumlah anak, kelas tersebut mendapat respon yang baik sehingga dibuatlah kelas selanjutnya. Sejak saat itu, kegiatan edukasi SHINE terus bergulir dan berkembang. Terhitung hingga saat ini (Juli 2019), kelas-kelas SHINE telah melayani sekitar 11.000 orang mulai dari anak, dewasa hingga keluarga. Ragam materinya pun semakin banyak, mulai dari kelas produk susu, sabun, coklat, awetan buah, jamur, hingga bioplastik, juga kelas peningkatan kapasitas seperti kewirausahaan dan literasi keuangan, serta berbagai ekskursi/kunjungan lapangan.

Tentang pendekatan organisasi, Ines mengaku memilih wirausaha sosial atau sociopreneur. Keputusan ini diambil karena pengalaman saat melakukan kegiatan sosial yang sepenuhnya bergantung pada donasi dirasa kurang berhasil. “Saya belajar, pendidikan yang terlalu komersil memang memberatkan orang. Tetapi jika pendidikan sepenuhnya gratis atau bergantung pada donasi, orang jadi tidak menghargai prosesnya. Kualitas tenaga pendidik juga tidak bisa dijamin.” ,demikian paparnya.

Melalui bentuk sociopreneur, Ines menjelaskan, SHINE dapat memberikan manfaat lebih bagi masyarakat dan lingkungan. Manfaat pertama adalah SHINE mampu mengedukasi cara-cara hidup berkelanjutan/ramah lingkungan yang sangat aplikatif bagi pesertanya. Sehingga, tanpa perlu berpanjang-panjang membahas permasalahan lingkungan, para peserta kelas SHINE telah menerapkan berbagai aspek berkelanjutan secara tak sadar. Contohnya, dengan membuat awetan buah, para ibu rumah tangga dapat mengurangi jejak karbon di rumah, memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus menyelesaikan permasalahan limbah makanan (memanfaatkan buah-buahan yang tidak terjual di pasar). Membuat sabun minyak jelantah, misalnya, selain mengurangi limbah juga dapat menjadi sumber pemasukan bagi keluarga, dan lain sebagainya.

Menurut Ines, selain manfaat langsung dari edukasi, terdapat pula manfaat lanjutan yaitu adanya pemberdayaan masyarakat. Banyak di antara peserta SHINE yang mengembangkan bisnis berbekal keahlian yang diperoleh dari kelas. Para peserta yang telah ahli juga difasilitasi untuk menjadi pengajar SHINE, dan dapat menyelenggarakan kelas-kelas baru di daerah masing-masing.

Walaupun saat ini SHINE telah bekerja sama dengan berbagai institusi dan perusahaan besar, Ines tetap percaya bahwa  pendidikan yang terjangkau sangat penting. “Di tempat lain, orang bisa membayar 600.000 rupiah untuk satu kali workshop sabun. Yang mahal sebenarnya bukan pendidikan, tapi sewa tempat, goodie bag, konsumsi, dan lain sebagainya. Kalau ada klien yang ingin fasilitas seperti itu, kami bisa berikan, tetapi (jika tidak diminta), kami tetap harus memberikan akses untuk orang-orang lain yang tidak sanggup membayar mahal. Di SHINE, kami peras seminim mungkin biaya-biaya yang tidak perlu, sehingga bagian terbesar biayanya untuk membayar tenaga pendidik dengan layak. Hanya dengan cara itu kami bisa memberikan pendidikan yang berkualitas namun terjangkau, sekaligus menghargai pendidiknya,” jelasnya.

Jalan idealis yang ditempuh Ines tidak lepas dari berbagai kendala. Sistem SHINE yang sangat terbuka dan inklusif terkadang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Sempat terjadi konflik ketika ada orang yang membeli bahan-bahan pelatihan dari SHINE dengan harga murah, kemudian menjual pelatihannya sendiri dengan harga komersil. Ada juga orang yang mengadakan pelatihan dengan mengatasnamakan SHINE tanpa berkoordinasi sebelumnya. Namun, bagi Ines, permasalahan semacam ini dirasa tidak terlalu mengganggu, karena Ines percaya hanya usaha baik yang akan berkelanjutan. “Usaha yang dilakukan dengan curang, lama-lama orang tidak percaya, sehingga akan mati dengan sendirinya.”

Pendidikan yang diberikan oleh SHINE dirasa memberikan manfaat yang besar para peserta, khususnya dalam bidang kemandirian pangan. Dalam berbagai post-nya di Facebook – media sosial yang dipilih menjadi platform untuk menyebarluaskan program dan nilai-nilai SHINE – Ines seringkali menyampaikan, mencukupi kebutuhan gizi keluarga tidak harus mahal. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup, orang bisa memanfaatkan potensi alam dan lingkungan sekitar untuk mendapatkan makanan yang enak, bergizi serta berkualitas tinggi. Jika tidak sanggup membeli daging, ada jamur dan sumber-sumber protein nabati lain yang dapat ditumbuhkan di rumah. Jika keju atau coklat bagus yang dijual di supermarket terlalu mahal, dengan sedikit pengetahuan kita bisa membuat sendiri makanan tersebut, bahkan mendapatkan hasil yang bebas pengawet ataupun bahan aditif lain. Juga dengan sedikit wawasan botani, kita bisa memanfaatkan tumbuhan liar sebagai bahan makanan (disebut juga foraging/meramban). Pendidikan yang sesuai konteks dan kebutuhan dapat memberdayakan orang, sehingga mereka mempunyai berbagai pilihan dalam mewujudkan hidup berkualitas.

Ines Setiawan mungkin termasuk tipe manusia yang langka. Di saat kebanyakan orang mengeluh dan menuntut pemerintah untuk memperbaiki nasib mereka, beliau memilih untuk bergerak menciptakan perubahan dari lingkaran terkecil. Menurut pendapatnya, “Siapapun pemimpinnya, pasti akan kewalahan kalau rakyatnya malas dan mau enaknya sendiri.”. Setiap orang berhak dan perlu memperjuangkan hidupnya sendiri, tanpa harus bergantung pada pemerintah, atasan atau siapapun. Caranya adalah dengan selalu mendidik dan mengembangkan kapasitas diri. Bahkan pengetahuan sains sederhana, selama dipahami dan diterapkan dengan baik, dapat membantu mewujudkan hidup yang berkualitas.

***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...