Showing posts with label Intan Darmawati. Show all posts
Showing posts with label Intan Darmawati. Show all posts

[Tips] Menjadi Bahagia Melalui Emotion Freedom Techniques


Ketika kita mampu mengelola emosi kita, maka kita mampu membebaskan emosi-emosi negatif dan dengan demikian menjadi manusia yang cerdas secara emosional. Bagaimana kita bisa menjadi cerdas secara emosional dan membebaskan emosi-emosi negatif kita? 
Dewasa ini terdapat berbagai metode yang ditemukan untuk mengatasi persoalan-persoalan emosi.  Mulai dari metode konseling psikologis dan psikoterapi konvensional, NLP, hypnoterapi, TAT (Tapas Akupresure) sampai ke EFT (Emosional Freedom Technique).  Masing-masing metode memiliki keunikan dan kelebihannya masing-masing.  Empat metode terakhir yang disebutkan biasanya disebut sebagai metode instan, karena memang dampaknya langsung bisa dirasakan segera sesudah terapi dilakukan. 
Pada kesempatan ini kita akan membahas EFT untuk mengatasi persoalan-persoalan yang terkait emosional.  Masalah-masalah itu bisa terwujud dalam berbagai symptom, seperti: kecanduan, eating disorder, mental blok, phobia, trauma, psikosomatis, dll.
Metode EFT pertama kali diperkenalkan oleh Gary Craig.  Dia memanfaatkan ilmu akupuntur ke dalam terapi.  Konsep EFT didasarkan pada keyakinan bahwa masalah emosional berakar dari gangguan energi tubuh.  Maka, intervensi pada sistem tubuh-dengan menstimulus (dalam EFT lewat tapping/ketukan jari) titik-titik energi/meridian akan menyelaraskan energi tubuh, mengubah kimiawi otak dan selanjutnya mengubah kondisi emosi menjadi lebih positif. Energi sangat berperan dalam hidup kita, karena gangguan pada energi akan menyebabkan gangguan pada emosi dan atau fisik.
EFT pada dasarnya adalah menyelaraskan dan memperbaiki kembali energi dalam tubuh lewat stimulasi pada titik-titik energi yang disebut sebagai meridian pada teori akupuntur.  Bedanya kalau akupuntur menggunakan jarum sebagai alatnya, EFT menggunakan tapping (ketukan ringan dengan jari tangan).  Dengan menyelaraskan energi ini, maka emosi dan atau fisik juga jadi selaras dan sehat. 
Metode EFT sangat mudah dilakukan dan efektif.  Setiap orang bisa melakukannya sendiri dimanapun dan kapanpun.  Kita juga bisa melakukannya untuk orang lain, baik secara langsung dan berhadapan secara fisik maupun tidak secara langsung/dari jarak jauh lewat transfer energi melalui alam bawah sadar (kondisi terhypnosis).  Di Indonesia, EFT sudah digunakan dan dikembangkan oleh banyak praktisi untuk berbagai masalah.  Ahmad Faiz, salah satu praktisi EFT, mengembangkannya menjadi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) dengan menambahkan unsur spiritual. 
Pada dasarnya ada 3 tahapan dalam melakukan 1 siklus EFT.  Tahap pertama disebut dengan “The Set Up”,  tahap kedua: “The Sequence” dan ketiga: ”The 9 Gamut Procedure”.
1.      The Set Up
Tahap pertama ini adalah tahap yang paling penting dari seluruh proses dan menjadi penentu dari keberhasilan proses EFT.  Seperti kita meletakkan baterai kita pada posisi + - di arah yang tepat, tahap pertama ini mempersiapkan sistem energi kita, supaya memastikan energi bekerja pada arah yang tepat.  Kadang-kadang sistem energi kita bisa terhalang oleh sistem kepercayaan yang negatif ataupun blok mental yang biasa disebut sebagai “perlawanan psikologis”.  Misal: saya tidak yakin saya bisa disembuhkan, saya takut masalah saya terlalu berat, dll.   Inti dari tahap pertama ini adalah penerimaan diri walau apapun yang terjadi, dan keyakinan positif bahwa kita akan disembuhkan.  
Tahap ini dilakukan dengan mengetuk “Karate Cop” atau menggosok “Sore Spot/tender spot” (lihat gambar) , sambil mengucapkan kata-kata afirmasi dengan penuh kepasrahkan sebanyak 3 kali.  Jika anda merasa lebih yakin, bisa ditambahkan dengan kalimat doa yang biasa anda ucapkan di depan kata afirmasi berikut ini:
“Walaupun saya _________(masalah yang dikeluhkan), saya bisa menerima diri saya sepenuhnya dan seutuhnya.

2.       
The Sequence
Tahap ini adalah tahap penyelarasan energi.  Penyelarasan dilakukan dengan mengetuk titik-titik akhir pada meridian utama tubuh.  Ketukan dilakukan dengan tangan yang biasa digunakan (kanan atau kiri), menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.  Titik-titik yang akan ditekuk ada di sebelah kanan dan kiri tubuh.  Maka, tidak masalah bagian tubuh sebelah mana yang anda ketuk, juga tidak masalah jika anda mengetuknya berpindah dari bagian tubuh sebelah kanan ke kiri atau sebaliknya.  Pada setiap titik, ketuk minimal 7 kali sambil mengucapkan kata pengingat.  Kata pengingat adalah masalah yang anda keluhkan.  Ucapkan sambil anda fokus dan rasakan kembali masalah itu.  Misal: jika anda sakit kepala, fokus pada sakit kepalanya dan rasakan sakitnya.  Sambil anda ucapkan “sakit kepala” terus-menerus, ketuk sebanyak 7 kali titik-titik berikut (lihat gambar):




The 3. 9 Gamut Procedure
Ini adalah sentuhan akhir bagi otak kita, lewat gerakan mata, gumaman, dan berhitung.  Saat mata digerakkan, lewat syaraf-syaraf penghubung, beberapa bagian dari otak terstimulasi.  Saat kita menggumamkan lagu, otak kanan kita terstimulasi.  Sedangkan saat kita berhitung, otak kiri kita terstimulasi juga.
Tahap ini dilakukan dengan melakukan 9 langkah berikut ini sambil mengetuk titik gamut (lihat gambar):

a.      Tutup mata
b.      Buka mata
c.       Lihat ke kanan paling bawah tanpa menundukkan kepala
d.      Lihat ke kiri paling bawah tanpa menundukkan kepala
e.      Putar bola mata searah jarum jam
f.        Putar bola mata berlawanan jarum jam
g.      Gumamkan lagu selama 2 menit (lagu yang membuat bahagia, misal: Happy Birthday)
h.      Hitung 1 sampai 5
i.        Gumamkan lagu lagi selama 2 menit.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, setelah tahap 3, ulangi tahap 2.
Selamat melakukan!

Dirangkum dan diterjemahkan oleh: Intan Darmawati.
Untuk penjelasan lebih lanjut, kunjungi: www.emofree.com

[PROFIL] Lusia Ping: Sang Penyambung Generasi Dayung


Menyusuri Sungai Mendalam di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kita akan menemui masyarakat Daya’ subsuku Kayaan yang mendiami kampung-kampung di sepanjang sungai. Secara garis besar, mereka memiliki 2 budaya besar, yaitu budaya ngayau dan budaya dayung [1] . Rupanya budaya yang lebih berkembang kemudian di masyarakat Kayaan Mendalam adalah budaya dayung.
Istilah dayung, pada mulanya memiliki tiga arti. Pertama, sebagai sebuah bentuk doa yang dilantunkan dengan irama tertentu dan berbentuk syair dengan sajak yang berpola. Kedua adalah orang yang melakukan dan memimpin segala ritus keagamaan dalam upacara adat mereka dengan melantunkan dayung, yaitu mereka yang berperan sebagai imam; disebut dayung juga. Hampir semua dayung dalam sepanjang sejarah Kayaan, adalah perempuan. Ketiga, istilah dayung ini pada jaman dahulu dikenakan juga pada mereka yang memiliki kemampuan untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit. Dayung mengobati ini kebanyakan juga perempuan.

Sejarah dayung, baik dalam arti sebuah doa maupun imamnya, berkaitan erat dengan sejarah (upacara) Dange [2].

Begitu sentralnya peran dan posisi seorang dayung, maka fungsi ini tidak bisa dijalankan oleh sembarang orang. Karena itulah, posisi seorang dayung dalam masyarakat sangat terhormat dan penting. Sekarang, setelah agama resmi masuk di bumi Mendalam, peran dan kedudukan dayung-pun bergeser. Walaupun agama sekarang berusaha mengakomodir adat dan tradisi dulu, tapi kedudukannya menjadi lebih subordinat.

Justru akhirnya yang terjadi pada para dayung sekarang adalah multi beban, karena mereka tetap harus menjalankan fungsi domestik, fungsi produksi (berladang, berkebun dan kadang menganyam), fungsi sosial kemasyarakatan, dan sekaligus fungsi religiositas (sebagai dayung). Apalagi kalau mereka kebetulan juga adalah guru. Tidak jarang terjadi konflik-konflik juga, tapi mereka tetap bertahan.

Dalam konteks inilah, sosok seorang Lusia Ping, atau yang biasa dikenal dengan Bu Ping hadir dan bermakna. Bu Ping, seorang perempuan yang berusia sekitar 40 tahun, sehari-hari berprofesi sebagai guru sekolah dasar sekaligus petani. Bersuamikan seorang pensiunan guru yang beretnis Jawa, mereka kebetulan tidak memiliki anak. Yang menarik dan menonjol dari sosok perempuan Kayaan satu ini adalah perannya sebagai dayung.

Ketika Dange dan segala ritualnya mulai diakomodir oleh agama resmi, Bu Ping, sebagai perempuan muda waktu itu, yang bukan seorang dayung adat, menjadi tokoh di garis depan bersama dengan nenek Tipung-sang dayung aya’ (dayung besar/senior) untuk kembali menghidupkan dan melestarikan adat mereka. Walaupun belum berstatus dayung, Bu Ping mengambil posisi sebagai motivator dan penggerak serta “penyambung generasi para dayung”. Ia belajar dan menggali kembali serta mengumpulkan kebijakan lokal yang sempat hilang, belajar dari subjek sejarah yang masih hidup waktu itu, yakni nenek Tipung dan beberapa tokoh adat yang sudah tua. Kearifan tradisional yang dituangkan dalam dayung dan hidup dalam dayung itu mulai dicatat dan dibukukan.

Para dayung ini melakukan proses kaderisasi dan pembelajaran dengan cara-cara yang informal, dengan tradisi lisan dan dilakukan sambil melakukan pekerjaan-pekerjaan sehari-hari perempuan. Bahkan dalam sakitnya yang cukup parah, nenek Tipung masih juga menyediakan dirinya untuk belajar bersama Bu Ping, yang akan meneruskan kembali pada dayung-dayung muda (dayung uk) lainnya. Sambil berbaring, duduk di atas tikar, mereka belajar. Nenek Tipung melantunkan dan mempraktekkan dayung, diikuti Bu Ping, sambil dihafalkan dan dicatat. Demikian berulang-ulang sampai betul-betul menguasai. Semua ini dilakukan di sela-sela waktu mereka yang sangat padat dan sibuk, terutama dengan banyaknya peran yang dipikul perempuan.

Proses kaderisasi ini kemudian diteruskan dengan merekrut para perempuan muda untuk melanjutkan tongkat estafet sejarah dayung. Bu Ping jugalah yang mempunyai peran besar dalam merekrut, memotivasi, bernegosiasi dan mendorong para perempuan ini untuk mau belajar adat dan sejarah mereka lagi. Pekerjaan ini diakui tidak mudah oleh Bu Ping, karena pada mulanya orang takut untuk mulai lagi menggali adat, dan karena tidak sembarang orang bisa menjadi dayung. Mereka takut nenek moyang mereka marah kalau tidak dilakukan sama persis dengan adat dulu. Mulai dengan 6 orang teman, Bu Ping tidak putus asa. Belum lagi mereka menemui kesulitan untuk belajar apa yang dulu sudah ditinggalkan. Ketakutan dan rasa malu serta tidak percaya diri dari rekan-rekan mudanya ini disikapi dengan sabar oleh Bu Ping. Ia tidak pernah memaksa seseorang untuk melakukan apa yang dia inginkan. Tapi dengan membiarkan mereka menemukan sendiri, diikuti dengan proses negosiasi dan diskusi, serta teladan yang tiada henti. Untuk itu beliau perlu memahami karakter rekan-rekannya, sehingga proses kaderisasi ini bisa berjalan mulus. Seperti yang dikatakan,” Kita tidak usah menunjukkan marah atau ngomel. Kita mau mendidik orang, nanti orang malah lari.”

Kesabaran dan tekatnya terbukti membuahkan hasil. Tahun ke-2 uji coba proses inkulturasi adat dange dalam liturgi resmi agama sudah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Makin banyak orang yang berminat untuk belajar dan bergabung. Perasaan takut dan malu juga mulai bisa diatasi.

Para dayung sekarang sudah bisa belajar dengan catatan, tidak harus menghafal, dan tidak harus dijadikan dayung lewat mimpi atau penyakit. Motivasi menjadi dayung sekarang lebih berdasarkan karena minat, hobbi ataupun keharusan untuk menjaga tradisi. Tapi banyak juga yang mau menjadi dayung, karena dayung merupakan doa, dan karena kehidupan religius mereka masih sangat pekat maka lewat doalah mereka memperoleh kelegaan, kedamaian dan pengharapan. Bu Ping sendiri merasa: “enak rasanya kalau berdoa dengan berdayung, sambil bernyanyi dan menari. Rasanya meresap...”

Dalam kehidupan religius, yang paling aktif dan berperan adalah para perempuan. Merekalah yang paling setia dan yang mengambil tanggungjawab terbesar. Tapi hal ini tidak berarti mereka tidak peka dan kritis terhadap masalah-masalah sosial, keagamaan dan masalah lingkungan di sekitar mereka.

Adalah beberapa orang yang masih punya kesadaran dan kekritisan, yang mau melihat dan memperjuangkan kembali keberlangsungan hidup di lingkungan Kayaan Mendalam. Bu Ping, sebagai salah satunya, ikut serta dalam momen itu. Sebagai contoh, pada tahun 1999, sekitar 300 orang Kayaan berdemonstrasi ke DPRD untuk menuntut dicabutnya HPH dan HTI, dan melarang mereka beroperasi lagi di wilayah Mendalam. Para perempuan ikut serta dari awal proses hingga akhir. Mereka menari di depan kantor DRPD dengan menggunakan pakaian adat.
Bu Ping, nenek Tipung (yang tanggal 29 April 2004 lalu meninggal), serta para perempuan Kayaan ini juga menyadari dan mengalami akibat dari kerusakan lingkungannya, tidak hanya hutan, tapi juga air sungai. Kekritisan dan peran serta mereka yang teramat besar dalam sejarah hidup masyarakat Kayaan patut diberi acungan jempol. Kesetiaan dan perjuangan mereka yang tak kenal lelah untuk terus mengembangkan budaya kehidupan selayaknya kita dukung. Bu Ping, beserta perempuan-perempuan Kayaan yang ada nun jauh di Mendalam sana, telah memberi kita teladan bagaimana membangun sebuah proses belajar bersama yang lebih arif, tidak otoriter dan penuh kekerasan, sekaligus kritis dan konsisten.

Catatan:
[1] Budaya ngayau adalah budaya yang berkaitan dengan peperangan (yang lebih bersifat fisik) untuk memerangi dan mengalahkan musuh, biasanya menggunakan senjata seperti parang, yang disebut mandau. Secara spesifik, musuh biasanya dikalahkan dengan memolong leher mereka (cara seperti inilah yang dikenal dengan me-ngayau). Sedangkan budaya dayung adalah budaya yang berkaitan dengan segala bentuk kehidupan religiositas mereka.
[2] Dange adalah upacara terpenting dan terbesar bagi masyarakat Kayaan Mendalam. Dange adalah sebuah upacara pesta panen, yang merupakan ungkapan syukur mereka atas hasil panen, dan segala berkat dan rahmat yang telah mereka terima selama satu tahun. Sekaligus, mereka meminta berkat dan perlindungan untuk masa tanam yang akan datang.
(Intan Darmawati)

[MEDIA] Resensi Film: MONA LISA SMILE


Judul : Mona Lisa Smile
Tahun : 2004
Produksi : Columbia Pictures dan Sony Pictures Entertainment
Produser : Elaine Goldsmith; Thomas Paul Schiff; Deborah Schindler
Sutradara : Mike Newell
Pemain : Julia Roberts; Kirsten Dunst; Julia Stiles; Maggie Gylenhaal

Latar belakang cerita ini didasarkan pada tahun 1953, di mana pembakuan peran gender (masih) sangat ketat dipegang. Seperti sudah dimulai oleh pendahulu mereka pada abad 18, pada masa ini jugalah para feminis liberal telah memulai gerakannya. Feminisme liberal sedikit banyak dipengaruhi oleh pemikiran liberalisme dan modernisme yang menekankan kebebasan individual. Para pemikir dan aktivis yang tergolong dalam feminisme gelombang ini melihat adanya kebijakan yang tidak adil, dengan adanya perbedaan kesempatan serta hak antara perempuan dan laki-laki. Pendidikan yang mengembangkan rasionalitas hanya diberikan pada laki-laki, di mana intelektual laki-laki dianggap superior dan pekerjaan perempuan “hanyalah” sebagai istri dan ibu – dan dianggap tidak penting.

Katherine Watson, tokoh yang diperankan oleh Julia Robert ini mewakili feminis liberal abad 20 yang menginginkan perubahan lebih baik bagi perempuan, lewat pendidikan. Sebagai seorang guru sejarah seni, Katherine datang ke Wellsley College, sebuah sekolah khusus perempuan yang terkenal sangat konvensional, untuk membuat perubahan! Pemikiran, gaya hidup, pendekatan dan cara mengajarnya yang di luar pakem menantang institusi dan segenap penghuninya untuk melihat melampaui apa yang dibayangkan dan dikonstruksikan selama ini. Sekolah yang reputasinya terkenal dan dianggap sukses karena berhasil mendidik anak-anak perempuan menjadi istri yang baik ini, terguncang dengan adanya sebuah pemikiran dan pendidikan “alternatif”, yang coba diusung dan diwakili oleh sosok Katherine ini.

Keluar dari konstruksi sosial dan menentukan pilihan secara bebas dan kritis memang tidak semudah membalikkan tangan. Menjadi pendobrak dan motivator bagi proses perubahan ini lebih tidak mudah lagi. Pergulatan seorang Katherine Watson dalam mewujudkan idealismenya mendapat tantangan dan pengkayaan lewat pertemuannya dengan murid-murid perempuan. Sebuah tawaran yang bagi sekelompok orang dianggap membebaskan dan adil, mungkin ditanggapi sebagai ancaman oleh mereka yang terlanjur diuntungkan dalam sistem seks/gender yang melenakan dan telah menghegemoni ini.

Film ini menyuguhkan kisah cukup menarik, serta didukung oleh para artis yang bermain cukup bagus, walaupun dengan bumbu-bumbu yang khas Hollywood, namun kiranya tetap layak untuk kita tonton. Nampaknya isu dan perjuangan para feminis liberal sejak abad 18 dan berkembang sampai abad 20 ini masih relevan dalam kehidupan kita. Perjuangan para feminis gelombang pertama ini nampaknya belum kunjung usia dan terwujud sesuai cita-cita. Lewat film ini kita bisa lebih mengenal sebagian pemikiran dan perjuangan feminis liberal abad-20. Sedikit banyak, kita jadi teringat juga dengan tokoh perempuan kita, yang masuk dalam golongan ini, yaitu RA.Kartini. Mungkin film ini bisa ditonton dan direfleksikan dalam rangka merayakan hari Kartini, sebagai ganti lomba kebaya dan merangkai bunga! (intan)

[JALAN-JALAN] “Suara Perempuan Untuk Perubahan”: Pendidikan Pemilih Perempuan 2004

Pelatihan Pendidikan Pemilih Bagi Perempuan 2004, yang diselenggarakan oleh Sekretariat JMP-KWI dan bipelwan PGI di 23 kota di Indonesia Februari-Maret 2004 yang lalu, mengambil tema “Suara Perempuan untuk Perubahan”. Sesuai dengan tujuan pelatihan, yaitu memberdayakan suara perempuan untuk membuat perubahan (transformasi sosial) menuju demokratisasi. Oleh karena itu, modul dan silabuspun dibuat konsisten dengan pilihan metode dan alur proses yang dibuat separtisipatif mungkin, dan mampu memberdayakan suara perempuan, melalui dan menuju demokratisasi.

Metode yang digunakan selalu dimulai dengan penggalian informasi dari para partisipan, dan membuat partisipan terlibat aktif. Proses dimulai dengan introduksi tentang latar belakang, tujuan dan garis besar alur proses pelatihan; kemudian perkenalan serta penggalian harapan dan motivasi. Pada sesi ini diharapkan terjadi keterbukaan; semangat berbagi dan bekerjasama antar partisipan, panitia dan fasilitator. Selain itu juga digali motivasi dan harapan ikut pelatihan serta apa yang bisa menjadi kontribusi masing-masing peran selama dan setelah pelatihan ini.

Dalam suatu pelatihan yang partisipatif, situasi yang kondusif perlu dibangun. Lewat sesi sebelumnya pengkondisian sudah dimulai, dan dilanjutkan dengan dibuatnya kesepakatan bersama yang akan berlaku selama proses supaya dapat berjalan lancar dan berhasil memenuhi harapan semua pihak. Jadwal dan aturan main selama pelatihan disusun bersama, sehingga masing-masing terlibat dan bertanggungjawab terhadap keberhasilan proses. Ini adalah salah satu ciri pendidikan orang dewasa.

Setelah suasana mulai cair, masuk sesi pemetaan masalah dan kebutuhan lokal, masing-masing partisipan diajak untuk kritis serta peka dalam memahami masalah (sosial-politik) juga kebutuhan lokal baik secara makro maupun yang spesifik perempuan di masing-masing level kebutuhan. Curah pendapat dan sharing serta proses analisis ini kemudian dikelompokkan dan dipetakan sesuai kategori, dengan tetap memperhatikan keunikan masing-masing wilayah. Dari peta ini partisipan mencoba melihat keterkaitannya dengan Pemilu serta proses demokrasi secara umum.

Kaitan antara peta masalah dan kebutuhan lokal dengan pemilu ini mengarah pada kebutuhan untuk memahami Pemilu 2004 secara khusus. Pada sesi ini diharapkan terbangun pemahaman dan kesadaran pentingnya proses demokratisasi dan transformasi sosial bagi seluruh masyarakat, dan kaitannya dengan Pemilu. Pada sesi ini, diberikan tambahan informasi dari nara sumber yang berkaitan dengan Pemilu 2004, yaitu dari KPU dan Panwaslu. Pada sesi pemahaman tentang sistem Pemilu, khususnya teknis pencoblosan, partisipan mendapat pengalaman langsung dengan simulasi.

Kemudian masuk tahap kesadaran kritis dan pemahaman akan pentingnya partisipasi aktif perempuan dalam proses demokrasi dan transformasi sosial-politik; makna suara dan keterwakilan perempuan; serta apa peluang, tantangan, hambatan serta implikasi sistem Pemilu 2004 bagi perempuan.

Dari sini proses bergulir pada kesadaran dan pemahaman akan pentingnya etika politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada sesi ini partisipan mencoba melihat etika politik yang menjadi landasan dalam memilih.

Berdasar pada proses dalam sesi-sesi sebelumnya, partisipan bersama-sama mendiskusikan dan menyusun kriteria-kriteria parpol dan caleg yang dapat dijadikan tolak ukur untuk menentukan pilihan secara bebas dan kritis dalam Pemilu 2004. Kriteria yang ditetapkan sesuai dengan situasi, permasalahan dan kebutuhan lokal masing-masing. Dari kriteria ini mereka membuat analisis parpol dan caleg berdasarkan informasi yang ada.

Hasil analisis menunjukkan adanya kesenjangan antara kondisi riil perpolitikan dengan kriteria ideal yang mereka buat dan dengan prinsip-prinsip etika politk yang diinginkan bersama. Karena itu, disusun strategi tindak lanjut dalam jangka panjang dan pendek untuk mensikapi kesenjangan tersebut. Pada sesi ini diharapkan dibuatnya kontrak politik, terbangunnya simpul-simpul jaringan perempuan dan komunitas basis perempuan yang dapat berfungsi sebagai “perlawanan” dan menjalankan fungsi pengawasan-kontrol.

Sebagai strategi jangka pendek, dipilih program sosialisasi. Karena itu para partisipan belajar bersama teknik memfasilitasi dan pengenalan metode pelatihan.

Keseluruhan acara ditutup dengan evaluasi bersama, yang diharapkan dapat memberikan umpan balik dan masukan bagi perbaikan proses pelatihan selanjutnya. Evaluasi menjadi penting artinya bagi sebuah proses belajar bersama, di mana fasilitator dan partisipan dengan rendah hati mau menerima masukan serta kritik yang membangun; dalam suasana yang terbuka dan setara. Dari hasil evaluasi partisipan di 23 kota, hampir semua partisipan merasa bahwa proses pelatihan dan metode yang digunakan sangat partisipatif dan membantu untuk berproses bersama. Di beberapa kota, berubahnya jadwal nara sumber menyebabkan alur proses menjadi terganggu. Alur menjadi tidak runut/sistematis lagi, apalagi kalau penjelasan dari nara sumber tidak sesuai dengan tujuan/sasaran dari sesi.

Sebagai fasilitator yang menyusun modul, dan memfasilitasi pelaksanaan pelatihan, kita diharapkan memiliki kreativitas dan fleksibilitas yang tinggi, terutama ketika menghadapi situasi yang di luar perencanaan kita. Baik itu berkaitan dengan nara sumber ataupun dengan dinamika partisipan.
(intan)

[MASALAH KITA] Pergulatan dan Dialektika Aktivis Perempuan

Dengan makin kuatnya tuntutan arus demokrasi, dibarengi krisis yang melanda negeri ini, yang makin diperparah dengan tanggapan pihak penguasa lewat rekayasa dan teror kekerasan; kesadaran dan gerakan masa rakyat yang selama ini mengalami ketidakadilan dan ketertindasan menjadi makin terlihat. Termasuk para ibu yang tergabung dalam SIP (Suara Ibu Peduli) mulai memasuki kancah publik dengan memakai isu domestik untuk memperjuangkan keprihatinan mereka. Isu SARA yang dipakai untuk menghidupkan kerusuhan di berbagai wilayah di negeri ini, yang berpuncak pada tragedi Mei 1998 makin memperkuat solidaritas para perempuan dan juga laki-laki untuk bergerak. Aktivis-aktivis muda dan tua bangkit kembali, bersama-sama bergerak menantang teror, rekayasa dan kekerasan ini. Realita ketidakadilan sosial yang dialami mulai dikaitkan dan dimintakan pertanggungjawaban lewat ideologi negara dan agama serta budaya.

Kail berkesempatan mewawancarai 7 orang ibu yang aktif dalam JMP (Jaringan Mitra Perempuan) tentang pergulatan dan tanggapan mereka dalam menyiasati konstruksi sosial (melalui keluarga, budaya dan negara) mengenai Ke"ibu"an mereka, khususnya dalam menjalankan peran mereka sebagai aktivis.

Konstruksi sosial mengenai “Ibu”
Dari ketujuh responden, konstruksi sosial keluarga-lah yang pertama-tama mereka alami dan paling berpengaruh bagi pembentukan gender mereka, yang tercerap dalam wacana, pikiran, pemahaman, sikap dan tindakan mereka baik secara pribadi maupun sosial. Dari keluargalah (terutama dari ibu dan relasinya dengan ayah dan kakek mereka), mereka belajar untuk menjadi seorang perempuan, dan kelak menjadi seorang istri dan ibu. Ajaran, larangan dan nilai-nilai yang disosialisasikan kadangkala tidak eksplisit, tapi menjadi contoh hidup yang harus mereka teladani. Dari ketujuh responden ini kebetulan lima dari mereka kebetulan berasal dari Jawa Tengah (orang Jawa), sehingga budaya Jawa yang patriarkhis mendominasi skenario hidup mereka. Dua orang lainnya yang beretnis Tionghoa juga mengungkapkan bagaimana tradisi menjadi unsur yang dominan dalam konstruksi sosial mereka.


Sumber gambar: Kompas, 1 Oktober 2003, halaman 2.

Pada konteks Indonesia, negara mengambil alih pendefinisian makna warga negara perempuannya. Pada masa Orba, perempuan diideologikan dengan bahasa yang mempesona dan diberi peranan mendukung dalam (proyek) pembangunan. Pengideologian ini berhasil membentuk identitas perempuan dalam berbagai bentuk pemuliaan semu dengan ciri utamanya adalah kepatuhan. Konstruksi keibuan ini merupakan perpaduan konsep budaya Jawa dan Belanda (Sears, Laurie. Introduction: Fragile Identities, dalam Sears, L (Ed). Fantasizing The Feminine in Indonesia. London: Duke University Press. 1996. Hal 33). Selama ini negara cenderung memanipulasi konsep perempuan sebagai "istri", " ibu", atau keduanya, tergantung kebutuhan. Misalnya melalui Dharma Wanita, peran perempuan jelas-jelas secara struktural dianggap sebagai pendukung karir suami, seolah-olah perempuan tidak memiliki pekerjaan dan karir sendiri. Demikian pula mobilisasi massa perempuan untuk mensukseskan program pembangunan, baik secara sukarela maupun paksaan, melalui program PKK, Posyandu dan Keluarga Berencana.
Konstruksi sosial tentang perempuan, khususnya sebagai istri dan ibu ini disadari betul oleh para aktivis ini, dan banyak dari mereka yang menginternalisasinya selama ini. Misalnya, Bu Pratiwi harus siap dengan resiko dicerca atas pemberontakannya sebagai aktivis sebagai konsekuensi dari menjadi bagian dari keluarga yang termasuk birokrat.

Pergulatan dan Dialektikanya
Konstruksi sosial yang ditanamkan ternyata membawa dampak yang berbeda dan ditanggapi secara berbeda pada masing-masing individunya. Beberapa dari mereka bahkan seringkali dihinggapi rasa bersalah dan merasa bukan perempuan, bahkan menjadi "sakit jiwa" karena konsep ke-ibu-an yang dikonstruksikan bagi mereka.

Bagi Bu Pratiwi misalnya, konstruksi ini membuat dia frustasi dan sempat merasa bukan perempuan (sempurna) karena tidak bisa mengurus rumah dan tidak bisa masak; karena konsep perempuan ideal yang selama ini diajarkan adalah bahwa perempuan mesti bisa mengurus urusan rumah, memasak, mencuci dan menjahit. Perasaan ini makin kuat ketika belum kunjung punya anak. Tapi setelah ada perubahan pandangan, ternyata hidup menjadi perempuan dirasakan lebih nyaman, tidak ada keharusan yang ditentukan dari luar, sehingga tidak menjadi kaku. Proses perubahan paradigma itu membuat ia lebih menerima orang apa adanya. Perubahan ini diperoleh dari kecintaannya pada buku, lewat pergaulan dengan teman-teman aktivis perempuan, lewat pergaulan dengan JMP dan dengan mengobrol. Suami Bu Pratiwi yang orang Kalimantan, sedikit banyak juga berperan dalam proses penerimaan diri dan perubahan paradigma ini. Budaya dan pribadi sang suami yang tidak mengambil peran stereotipe dan kaku tentang seorang suami dan bapak, walaupun dengan kekeraskepalaannya sendiri, telah membangun sebuah dialektika tersendiri bagi kehidupan keluarga mereka sebagai sesama aktivis.
Bu Lim, sebaliknya, dengan suami yang sangat patriarkhis, mengalami pergulatan yang lebih berat untuk berdialektika dengan pemahaman barunya tentang relasi perempuan dan laki-laki. Aktivitas dan perjuangannya sebagai aktivis perempuan tidak berarti dia bisa mengubah atau mempengaruhi suaminya semudah itu. Perlu ada strategi dan negosiasi tertentu sehingga sedikit demi sedikit mereka berproses bersama menuju relasi yang lebih setara. Pengakuan akan eksistensi diri dan perjuangannya hanya bisa dicapai dengan strategi yang tidak frontal, tidak dengan marah-marah, tapi justru dengan kepekaan dan pengenalan diri pasangannya, fleksibilitas dan kelincahan berbahasa.
Strategi dan negosiasi yang cerdik ini juga diterapkan oleh Yani dalam menghadapi suaminya yang patriarkhis dan cenderung tidak setia. Hanya dalam hal pendidikan anak, mereka bisa mencapai kesepakatan, dan hal inilah yang menjadi titik berangkat bagi Yani untuk mempertahankan keluarganya. Pengalamannya hidup dalam konstruksi keluarga Jawa yang patriarkhis dan feodal, yang ia internalisasi pada paruh waktu kehidupan rumah tangganya, ternyata membuat ia merasa menjadi "sakit jiwa", terguncang dan capek sekali. Ia malah menjadikan dirinya orang lain, menjadi terasing dari dirinya sendiri. Kesempurnaan peran istri yang ia jalankan dari idealisasi konsep istri dan ibu yang dikonstruksikan budaya, keluarga dan negara tidak membuat ia terlepas dari korban ketidakadilan dari suaminya dan keluarganya. Pengalaman menyakitkan ini untungnya tidak ia tanggapi dengan berputus asa dan pasrah saja. Didukung oleh rekan-rekan aktivisnya, ibunya dan terutama keyakinan dan kemauan dirinya, Yani bisa mengubah pengalaman ketertindasannya menjadi momen untuk memberdayakan kembali dirinya. Proses jatuh bangun yang ia alami tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bertahan dan membantu orang lain untuk berjuang juga. Kunci dari proses pendewasaannya adalah kerelaan dan kerendahan hati untuk memberi kesempatan bagi dirinya dan orang lain untuk mendapatkan yang terbaik, kerendahan hati untuk belajar dan tetap memiliki harapan. Semuanya berasal dari kekuatan Iman dan Kasih.
Lain lagi dengan Bu Wati, dialektika relasinya dengan suami dan anak, serta dengan keluarga kedua belah pihak terjadi lewat percakapan yang muncul karena kebutuhan praktis. Misalnya masalah pembagian peran dalam rumah tangga serta tanggung jawab dan pengambilan keputusan. Beruntung memang, suaminya relatif mudah diajak berkompromi dan berproses bersama, walaupun proses ini tidak terlepas dari konflik dan tegangan. Masalah aktivitas di luar rumahnya yang menuntut mobilitas tinggi telah dinegosiasikan jauh sebelumnya dengan suaminya, sehingga tidak lagi menjadi potensi konflik di kemudian hari.
Perasaan bersalah seringkali kali menjadi bagian dari diri Bu Ambar ketika konstruksi itu ia internalisasi. Otonomi diri dianggap identitik dengan egoisme, dan itu berlawanan dengan kasih - yang seharusnya dimiliki oleh seorang ibu. Tuntutan-tuntutan yang diberikan pada seorang ibu dirasakan olehnya terlalu berat dan membebani, merasa terbelenggu, tertekan dan merasa "diperbudak". Kesadaran akan ketidakadilan gender akibat konstruksi budaya khususnya, mulai dirasakan lewat bacaan dan cerita tentang perempuan Jawa; terutama juga lewat pengalaman konkretnya. Selanjutnya kesadaran itu mulai disosialisasikan lewat tulisan-tulisan dan lewat aktivitasnya di JMP.
Perasaan bersalah juga hinggap di hati Bu Sri, karena ia tidak bisa memasak. Tapi ini harus ia bayar dengan mengkompensasikan dengan kesempurnaan pekerjaan rumah tangga lainnya dan dengan memberikan pekerjaan memasak ini pada pembantunya. Ketakutan kalau-kalau ia tidak bisa membahagiakan suaminya serta ketakutan untuk menentukan, serta keharusan untuk berbasa-basi makin dirasakan melelahkan. Keterlibatannya di JMP telah membawa perubahan, termasuk cara berelasi dengan suaminya. Ia menjadi lebih berani untuk menentukan sikap, lebih terbuka dan bisa mengambil posisi sebagai pribadi. Perubahan ini dirasakan lebih membebaskan, tidak lagi tertekan; bisa mendengarkan orang lain dan menghargai mereka. Selain itu juga belajar menerima perbedaan dan tidak memaksakan kehendak, lebih inklusif dan tidak feodal. Yang penting bagaimana aktivitas di luar rumah tidak membuat keadaan di rumah menjadi berkonflik.

Bagi para ibu yang aktivis ini, perjuangan visi mereka sebagai aktivis tidak terlepas dari proses dialektika mereka dalam rumah tangga mereka sendiri. Keberhasilan mempengaruhi dan membawa perubahan yang lebih baik dalam relasi mereka sendiri, tidak berarti bahwa sekarang giliran mereka untuk mendominasi atau sewenang-wenang, tapi justru lebih pada penghormatan, kesetaraan dan penerimaan serta keterbukaan akan orang lain.

Akhir Kata….
Pilihan menjadi seorang aktivis tidaklah mudah. Dilahirkan menjadi seorang perempuan dalam budaya dan sistem yang patriarkhis juga tidak mudah. Maka, menjadi perempuan sekaligus aktivis menjadi kesulitan dan tantangan tersendiri, apalagi jika ia memperjuangan keadilan dan perubahan bagi ketertindasan kaumnya sendiri. Konflik dan pergulatan yang dihadapi membutuhkan proses panjang dan kerjasama dari pasangannya, dari masyarakat dan perlu dukungan dari institusi negara, budaya dan juga agama. Siasat dan strategi yang tidak konfrontatif, kreatif dan fleksibel dibutuhkan dalam usahanya untuk mendekonstruksi simbol dan pemaknaan konsep yang terlanjur dianggap kodrat selama ini.

Upaya transformasi dan perubahan paradigma ini hanya mungkin ditempuh dengan berjejaring dan membangun solidaritas bersama dalam gerakan bersama: perempuan dan laki-laki. Semuanya mungkin untuk dilaksanakan dan bertahan, karena ada roh yang menggerakkan mereka. Seperti yang dikemukakan Pratiwi, bahwa ia melakukan semuanya ini karena dorongan hati, serta kepedulian terhadap manusia. Kepedulian ini juga yang menggerakkan Wati, karena ia ingin lebih banyak orang yang punya kepedulian terhadap masalah-masalah yang kita hadapi, sehingga tercipta dunia baru yang lebih adil. Visi ini diteguhkan oleh semangat dan ajaran yang ia yakini, yaitu tentang Kasih dan pengampunan.

Semoga saja semangat kasih yang demikian kuat didengungkan dan dimaknai dalam rekonstruksi konsep ke-ibu-an para aktivis ini juga bergema dan menyemangati kita dan para aktivis lainnya, tidak hanya terbatas pada relasi antar perempuan dan laki-laki, tapi juga relasi kita dengan alam lingkungan kita!

(Intan Darmawati)

[TIPS] Mengatasi Kaki Yang Pegal dan Telapak Kaki Yang Pecah-pecah

Sebagai aktivis yang mempunyai aktivitas dan mobilitas tinggi, kita kerapkali tidak punya waktu untuk memperhatikan diri kita sendiri. Perjalanan ke lapangan dan perjalanan lain yang biasa kita tempuh sebagai bagian dari konsekuensi aktivitas kita, tanpa kita sadari mempengaruhi kesehatan kita, yang selanjutnya bisa berdampak pada kinerja kita juga.
Kaki, sebagai salah satu bagian tubuh kita yang sangat menunjang aktivitas kita sebagai aktivis patut kita beri perhatian juga. Setelah perjalanan jauh, dalam kondisi cuaca yang kering dan berdebu, ataupun hujan, kaki kita seringkali menjadi capek, telapaknya pecah-pecah, lembab ataupun berkeringat sehingga mengeluarkan bau tidak sedap. Untuk mengurangi rasa pegal dan pecah-pecah, ada sedikit tips yang mungkin bisa bermanfaat bagi rekan-rekan.

Bahan-bahan yang perlu dipersiapkan:
Air suam-suam kuku dalam baskom atau ember
Amplas untuk kaki atau batu apung
Sikat gigi bekas
Kain lap kering
Garam
Caranya:
1. Masukkan garam secukupnya pada air suam-suam kuku dalam baskom, lalu celupkan kaki selama 10 menit. Kalau mau, bisa sambil menghidupkan dupa atau aroma terapi lainnya sehingga kita terbantu untuk bersantai/rileks. Selain menggunakan aroma terapi siap pakai yang dapat dibeli di toko-toko, aroma terapi bisa dibuat sendiri dengan membakar kulit jeruk.
2. Angkat kaki kiri, lap dengan kain kering dan amplas tumit dan bagian kaki yang pecah-pecah. Kemudian sikat sela-sela kuku yang mungkin diselipi tanah atau kotoran. Lakukan yang sama dengan kaki yang satunya. Untuk membantu mempercepat pemulihan, pijat telapak kaki dan betis dengan lotion kaki.

Terapi ini dilakukan agak sering untuk yang kondisi kakinya agak parah (kira-kira 3 hari sekali), dan diperjarang frekuensinya seiring dengan membaiknya kondisi kaki.

Selamat mencoba!
(intan)

[JALAN-JALAN] Pendidikan Pemilih untuk Perempuan

Menjelang Pemilu 2004 yang lalu, seorang staff Kail, Intan Darmawati, berkesempatan menjadi fasilitator pelatihan untuk pemilih perempuan di Makassar, Manado dan Tahuna. Berikut ini cerita lengkapnya.

Menjelang pemilu 2004 yang lalu, saya berkesempatan bergabung dalam tim kerja Panitia Pendidikan Pemilih Bagi Perempuan, sebagai koordinator fasilitator. Program ini merupakan kerjasama JMP-KWI dan Bipelwan PGI, yang dilakukan dalam empat tahap, di 23 kota dan 1090 lokasi di seluruh Indonesia.

Pelatihan diawali dengan TOT (pelatihan untuk para calon fasilitator) yang diadakan di tiga kota, yaitu Jakarta, Makassar dan Denpasar. Ketiga pelatihan ini melibatkan sekitar 150 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Para peserta inilah yang akan menjadi fasilitator lokal dan panitia lokal serta sosialisator pada pelatihan-pelatihan tahap selanjutnya.

Saya sendiri berkesempatan untuk memfasilitasi di Makassar, di mana para pesertanya berasal dari daerah Sulawesi, Kalimantan Timur, Maluku dan Maluku Utara, serta Papua. Hanya ada satu orang peserta laki-laki di antara 49 orang peserta perempuan dari berbagai usia dan latar belakang. Keberagaman ini sungguh memperkaya dinamika proses pelatihan, terutama ketika penggalian dan pemetaan masalah serta kebutuhan. Perbedaan wawasan dan kepekaan akan persoalan gender untungnya bisa dijembatani melalui sesi ini, sehingga peta permasalahan yang muncul sungguh bisa menjadi bahan yang signifikan dan membantu dalam sesi selanjutnya, yaitu ketika mereka menyusun kriteria untuk partai politik dan calon legislatif; serta diharapkan dapat menjadi tawaran agenda untuk mereka perjuangkan.

Walaupun masalah yang muncul ada yang berbeda, tapi ada beberapa masalah, terutama yang menyangkut kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan, secara spesifik muncul dan menjadi keprihatinan utama di masing-masing wilayah. Masalah-masalah di satu wilayah ternyata juga punya kaitan dengan wilayah lainnya. Misalnya masalah HIV/AIDS dan prostitusi di Papua, tidak terlepas dari permasalahan di Minahasa. Keprihatinan bersama ini pada gilirannya menggugah kesadaran dan kebutuhan akan pentingnya solidaritas dan terbentuknya jaringan kerjasama para perempuan, serta terbangunnya komunitas basis perempuan.

Selain di Makassar, saya juga memfasilitasi proses pelatihan di Manado dan Tahuna. Saya merasa pelatihan ini disambut dengan antusias oleh para peserta di ketiga kota yang saya terlibat langsung tersebut. Demikian pula dengan yang dialami kawan-kawan fasilitator mitra di 20 kota lainnya. Jadwal dan materi yang padat tidak mengendorkan semangat atau membuat mereka menyerah. Mereka tetap semangat sampai akhir sesi, dengan keinginan yang kuat untuk bisa mensosialisasikan kembali apa yang mereka peroleh ke komunitas mereka masing-masing. Memang sepulang dari pelatihan ini setiap peserta bertanggungjawab untuk mensosialisasikan materi pelatihan ini ke minimal 60 orang.
Di Tahuna, sebuah kota di Kepulauan Sangihe, para perempuan yang hampir semuanya adalah ibu-ibu, antusiasmenya tidak kalah dengan mereka yang ada di Manado dan Makassar. Walaupun pada awalnya banyak yang masih takut untuk berbicara, tapi mulai sesi pemetaan masalah, mereka mulai berani bicara dan mengemukakan pendapat.

Untuk menjamin berlangsungnya proses yang sungguh-sungguh partisipatif dan dari perspektif peserta, metodologi pelatihan menjadi sangat penting. Alur pelatihan dibuat dengan mulai dari peta masalah dan kebutuhan lokal (dan perempuan); lalu dikaitkan dengan signifikansinya dengan Pemilu. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tentang Pemilu 2004 itu sendiri dan Kepentingan Perempuan di dalamnya. Setelah itu mereka merefleksikannya berdasarkan pertimbangan etis politis. Dari semua itu, mereka memperoleh bekal untuk membuat kriteria ideal partai politik (parpol) dan calon legislatif (caleg). Berdasarkan kriteria inilah mereka kemudia bersama-sama belajar menganalisis parpol dan caleg; sehingga mereka bisa menentukan pilihannya secara bebas dan kritis. Tentunya, peluang dan tantangan ini kemudian ditindaklanjuti dengan membuat strategi jangka pendek maupun jangka panjang.

Pendidikan Pemilih ini dalam jangka panjang bertujuan mempersiapkan perempuan dalam pendidikan politik. Pelatihan yang mengambil tema "Suara Perempuan untuk Perubahan" ini memang ingin konsisten dengan tujuannya, yaitu memberdayakan suara perempuan untuk membuat perubahan (transformasi sosial) menuju demokratisasi.

Secara keseluruhan, pelatihan ini boleh dikatakan berhasil, walaupun di sana-sini ada keterbatasan dan kelemahannya. Apalagi respon yang hangat dan penuh semangat dari para peserta, terutama yang di daerah-daerah, telah menjadi pemacu semangat juga bagi para fasilitator yang telah menempuh perjalanan jauh. Semoga saja pendidikan dan penyadaran seperti ini tidak berhenti sebatas program apalagi hanya sebuah proyek saja!

(Intan)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...