Showing posts with label Deta Ratna Kristanti. Show all posts
Showing posts with label Deta Ratna Kristanti. Show all posts

[RUMAH KAIL] PERJALANAN KAIL MEMPRAKTEKKAN KESADARAN AKAN KEMANDIRIAN

Oleh: Deta Ratna Kristanti


Menjadi berdaya merupakan sebuah kemewahan. Menjadi berdaya berarti memiliki kebebasan untuk menentukan arah dan langkah yang dipilih untuk tujuan kehidupan yang lebih berkualitas. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menjadi berdaya adalah menciptakan kemandirian untuk diri sendiri. Jika kita mengusahakan hidup mandiri artinya kita dengan berkesadaran berusaha tidak tergantung pada pihak lain dalam pemenuhan kebutuhan kita. Sebab, jika masih tergantung pada pihak lain,mungkin saja pihak lain tersebut menyumbangkan hal yang berdampak negatif atau tidak sesuai dengan prinsip atau kualitas hidup yang ingin kita capai.

Tentu saja, bukan berarti ketika kita mengupayakan kemandirian, kita menjadi tidak peduli dengan keberadaan pihak lain. Sulit juga membayangkan bahwa kita akan mampu 100% memenuhi semua kebutuhan hidup kita. Yang dapat kita perbuat adalah meningkatkan kesadaran dan aksi kita untuk mengurangi ketergantungan sampai sekecil mungkin. Ingatkah anda dengan salah satu peringatan di pesawat: Pa
kailah dulu masker Anda sebelum menolong yang lain? Kira-kira seperti itulah gambaran kemandirian yang kita upayakan. Ketika kita mampu menolong diri sendiri dan sudah  berdaya, maka kita juga bisa menolong pihak yang lain.

Perkumpulan KAIL didirikan dengan misi dan tujuan untuk membantu para aktivis mengembangkan diri sehingga dapat berkontribusi lebih baik bagi dunia. Oleh karena itu, KAIL sebagai sebuah organisasi perlu mengupayakan kemandirian terlebih dahulu di dalam dirinya sendiri agar mampu menolong para aktivis atau lembaga yang membutuhkan layanannya. Selain itu, setiap upaya kemandirian yang dilakukan KAIL juga bertujuan memberikan kontribusi bagi dunia yang lebih baik, utamanya lingkungan alam dan makhluk di sekitarnya.


Rumah KAIL dan pekarangan yang ditanami tanaman pangan
 
Kesadaran KAIL untuk mengusahakan kemandirian telah berlangsung lama. Selama 17 tahun berkarya, KAIL tidak pernah tergantung pada satu
pun lembaga donor dalam pendanaan program-program internalnya. Hal ini merupakan salah satu upaya KAIL untuk membebaskan diri dari ketergantungan dari pihak yang lain. Jika pendanaan KAIL bergantung pada lembaga donor, mungkin akan mengganggu kontinuitas KAIL untuk berkarya selama ini. Selain itu, ketergantungan tersebut mungkin dapat mengganggu perjalanan KAIL ke arah pencapaian visi dan misi organisasi.

Sejak tahun 2013, KAIL membangun tempat permanen untuk melakukan segala aktivitasnya, yaitu Rumah KAIL. Memiliki tempat yang permanen berarti harapannya KAIL dapat lebih banyak mempraktekkan ide-ide kemandirian yang selama ini telah diketahui. Langkah pertama yang dilakukan KAIL sebagai wujud memprakt
ikkan kemandirian adalah merancang bangunan dengan sistem rumah yang selaras dengan alam. Misalnya, memilih bahan kayu bekas untuk membangun rumah KAIL. Memilih menggunakan ulang bahan bekas sehingga mengurangi timbulan sampah serta menghemat biaya merupakan wujud kemandirian di mana KAIL melepaskan ketergantungan terhadap bahan baru dan barang baru. Selain itu, pembuangan Rumah KAIL juga dirancang tersambung dengan kompor biodigester sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap gas elpiji.


Kompor biodigester

Kubah biodigester yang ditanam di bawah tanah

Area yang cukup luas di Rumah KAIL selain terdapat rumah, juga tanah yang dimanfaatkan untuk kebun. Kebun KAIL dirancang untuk mendukung kemandirian pangan di Rumah KAIL. Berbagai tanaman konsumsi ditanam di area Kebun KAIL, termasuk bumbu-bumbu yang dapat dimanfaatkan untuk membuat masakan menjadi lebih sedap. Saat sedang dilaksanakan pelatihan atau workshop, ataupun rapat-rapat di Rumah KAIL, sebisa mungkin makanan yang disajikan untuk peserta pelatihan maupun staf dan relawan KAIL berasal dari kebun KAIL. Talas, daun singkong, daun, bunga dan buah papaya, cabe rawit, daun pseudo ginseng, serta bumbu-bumbu seperti kunyit, jahe, kencur, dan pandan disulap menjadi minuman jamu yang menyehatkan. Tak ketinggalan buah-buahan seperti pepaya, pisang, jambu, atau nangka menjadi sajian snack sehat jika kebetulan sedang panen.

Kebun KAIL dikelola dengan prinsip selaras dengan alam. Sisa-sisa makanan maupun bagian kulit bahan makanan yang tidak terpakai dibuang kembali ke kebun KAIL hingga menjadi kompos yang meningkatkan kesuburan tanah di kebun KAIL. Perlu diceritakan bahwa awalnya tanah di kebun KAIL adalah tanah berjenis lempung atau seperti tanah liat yang lengket, yang sulit untuk diolah dan ditanami. Di awal pengolahannya, Kebun KAIL membutuhkan media tanam dari luar yang dicampurkan dengan tanah di Rumah Kail, serta melakukan pengomposan langsung di tanah KAIL sehingga pada akhirnya tanah kebun di rumah KAIL menjadi subur sehingga dapat ditanami dan dinikmati hasilnya kemudian.

Beraneka jenis tanaman di kebun KAIL

Kebun KAIL menjadi pintu masuk yang paling memungkinkan untuk mempraktekkan upaya kemandirian di Rumah KAIL karena tanah yang telah diolah, diatur, ditanami, dan dirawat kemudian dapat menghasilkan panen yang bisa dikonsumsi. Untuk memberi perhatian khusus dalam pengelolaan kebun, KAIL membuat sebuah divisi khusus bernama Kebun KAIL. Ada orang- orang yang bertugas memperhatikan perawatan Kebun KAIL. Namun, apakah selanjutnya proses pengelolaan Kebun KAIL menuju kemandirian menjadi mudah? Ternyata tidak.
.
Banyak juga hambatan yang dijumpai yang membuat Rumah KAIL belum dapat mencapai kemandirian pangan dengan upaya maksimal. Ada banyak faktor yang memengaruhi. Salah satunya urusan menyesuaikan jadwal produksi dan panen pangan dengan jadwal pelatihan yang ada di rumah KAIL. Maksudnya bagaimana? Seringkali ketika di KAIL sedang tidak ada jadwal pelatihan atau workshop, buah-buahan yang sudah siap panen jumlahnya banyak. Akibatnya, jumlah panenan terlampau banyak, sedangkan orangnya sedikit. Sementara ketika ada jadwal pelatihan, hasil kebun yang dapat dipanen saat itu jumlahnya sedikit, sehingga mau tidak mau sebagian konsumsi harus dipenuhi
dari warung atau pasar. Staf yang berinisiatif untuk menambah pengetahuan serta waktu untuk bereksperimen belum tersedia sehingga program pengolahan pasca panen yang dapat memanfaatkan hasil kebun yang berlebih ketika panen  juga belum terlaksana. Meskipun sistem sudah dibuat oleh Divisi Kebun KAIL, pada praktiknya ditemui kendala juga karena koordinasi dan komunikasi antar staf yang bertugas tidak terlalu berjalan dengan lancar. Jadi selain sistem yang diatur pada kebun, ternyata ada sistem lain yang terkait, yaitu sistem komunikasi antar staf yang bertugas mengurus Kebun KAIL.

Ada banyak ide kemandirian di Rumah KAIL yang belum dapat dipraktikkan secara konsisten hingga saat ini. Dalam rangka menambah pengetahuan tentang pengolahan dan pemanfaatan bahan-bahan alami, serta melepaskan ketergantungan pada produk pabrik, memang pernah diadakan beberapa workshop yang menghadirkan narasumber, misalnya membuat kombucha jus enzim, kimchi, serta pembuatan pembersih alami untuk lantai, kaca, dan meja. Beberapa staf sudah memiliki pengetahuan melalui workshop-workshop tersebut.  Tapi saat ini, praktiknya belum dilakukan di rumah KAIL. Padahal, misalnya cuka kombucha dapat dimanfaatkan sebagai pengganti sabun dalam mencuci piring. Pernah dicoba, namun saat ini tidak lagi.

Dalam hal pengelolaan sampah, Rumah KAIL juga belum sepenuhnya mencapai kemandirian. Memang, sampah organik yang dihasilkan dari dapur Rumah Kail sudah 100% dapat dikembalikan ke kebun dan bermanfaat untuk menambah kesuburan tanah KAIL. Namun, untuk sampah anorganik, meskipun sejak awal KAIL berkomitmen untuk sesedikit mungkin menggunakan barang yang berkemasan plastik. Namun, pada prakteknya tetap masih terkumpul sampah plastik terutama dari pembelian barang-barang yang masih dibutuhkan KAIL dari luar, misalnya plastik pembungkus spidol, kaplet obat-obatan, sisa potongan sampul plastik dan banyak lagi.  Kadang-kadang ketika membersihkan Rumah KAIL ditemukan juga sampah-sampah dari makanan dan minuman berkemasan yang mungkin dibawa angin atau dibuang oleh orang yang lewat di halaman rumah KAIL. Hal ini terkadang menambah sampah yang ada di rumah KAIL. Untuk penanganan sampah non-organik, Rumah KAIL masih tergantung pada tukang sampah atau tempat pembuangan sampah yang ada di sekitar Kail. Meskipun begitu, KAIL tetap mengupayakan untuk mereduksi jumlah sampah non-organik misalnya jika perlu membeli bahan makanan
, staf KAIL akan membawa tas belanja sendiri. Juga ketika membeli makanan di warung, KAIL selalu membawa tempat bekal sendiri untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang masuk ke Rumah KAIL. Rumah KAIL juga mencari warung-warung yang menjual bahan pokok yang dapat dibeli dengan sistem curah, sehingga kebutuhan  beras atau gula dapat dibeli menggunakan wadah sendiri. Setidaknya ini upaya yang dapat dilakukan Rumah KAIL untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan sampah di luar, yaitu dengan sesedikit mungkin menghasilkan sampah anorganik yang perlu dibuang.

Dalam hal sumber air, KAIL juga masih tergantung pada air yang berasal dari mata air yang disalurkan lewat pipa kolektif. Ini berlaku untuk semua keperluan, dari memasak sampai urusan menyiram tanaman. Untuk air minum sehari-hari, KAIL menggunakan air dari keran yang dimasukkan ke filter air dari tanah liat yang kemudian dapat langsung diminum. Namun, jika kegiatan di Rumah KAIL melibatkan puluhan orang, KAIL masih tergantung pada air galon isi ulang. KAIL sebenarnya mempunyai bak tampungan air hujan, tetapi belum berfungsi karena bocor.

Meskipun ide-ide dan pengetahuan tentang kemandirian telah diketahui dan disadari selama bertahun-tahun, dan KAIL telah memiliki tempat sendiri yang permanen, nyatanya tidaklah mudah mewujudnyatakan ide-ide tersebut. Tidak lantas mudah pula melepaskan diri dari ketergantungan pada pihak lain dan menjadi mandiri dalam memenuhi kebutuhan.  Beberapa hambatan di Rumah KAIL antara lain pengetahuan staf yang tidak sama, belum dibangunnya atau dijalankannya sistem untuk masing-masing hal yang diupayakan untuk kemandirian
, serta belum adanya fokus perhatian dan kesediaan yang cukup dari semua orang yang terlibat di KAIL terhadap upaya ini. Saat ini, karena aspek kebun mendapat perhatian paling dominan maka sudah dapat dilihat hasilnya. Jika ingin aspek-aspek lain di rumah KAIL juga berkembang untuk mendukung upaya kemandirian, maka perlu dibangun sistem-sistem pendukung termasuk keterlibatan orang-orang di dalamnya secara bersama-sama.



[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO. 23/ AGUSTUS 2019



Salam Semangat Kemerdekaan!

Di bulan Agustus, bulan kemerdekaan ini, Proaktif Online kembali terbit. Kemerdekaan kali ini diterjemahkan sebagai kemandirian dan kedaulatan diri untuk memilih berbagai hal penting dan kebutuhan mendasar dalam kehidupan. “Mandiri Memilih: Berdaulat untuk Memenuhi Kebutuhan Diri” menjadi tema yang dipilih untuk Proaktif Online edisi no.23/2019 kali ini. Bisa memilih berarti merdeka untuk meningkatkan kualitas hidup, meski pilihan yang diambil tidak umum dipilih oleh masyarakat. Peningkatan kualitas hidup berarti tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun meningkatnya juga kepedulian pada makhluk lain dan keselarasan hidup dengan alam semesta. Para aktivis yang menjadi penulis di edisi kali ini menyadari betul akan hal ini.

Pada rubrik MASALAH KITA, Kristien Yuliarti menceritakan kegelisahannya tentang upaya menjaga kebersihan tanpa mencemari lingkungan. Ia yakin, ada bahan lokal yang ramah lingkungan yang dapat digunakan sebagai alternatif sabun pabrikan. Berkenalanlah ia dengan lerak, berdirilah Omah Hijau sebagai jalan baginya mensosialisasikan lerak. Namun demikian, bergerak sendiri, ternyata tidaklah mudah. Seringkali tanpa teman menjadikan perubahan sulit dilakukan. Inilah permasalahan yang dialami Karina Adistiana, penulis dalam artikel kedua pada rubrik MASALAH KITA. Ternyata kemandirian memilih tidak serta merta membuat perubahan jadi mudah. Psikolog dan aktivis pendidikan ini memaparkan bahwa keberadaan teman dalam melakukan perubahan menjadi aspek penting bagi keberhasilan kita dalam upaya memperjuangkan kedaulatan pangan dan hidup selaras alam.

Di rubrik PIKIR, ada Mayang Manguri yang mengajak kita berpikir bersama dalam memilih gaya hidup. Apakah memilih gaya hidup yang tren di masyarakat membuat kita menjadi berdaulat? Atau pilihan gaya hidup yang lain dan tidak populer, seperti frugal living membuat kita menjadi lebih sejahtera? Ternyata kemandirian dalam memilih pun ada resikonya. Karena, menjadi mandiri berarti bertanggung jawab dengan pilihan hidup kita. Hal inilah yang disampaikan Any Sulistyowati dalam Rubrik OPINI.

Di rubrik TIPS kali ini, Fitri Kusnadi berbagi kiat-kiat berdasarkan pengalamannya ketika memilih menyelenggarakan pendidikan mandiri bagi keluarganya. Konsekuensi bahwa kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap pendidikan dan anak adalah salah satu tips yang disampaikannya. Sedangkan penulis artikel selanjutnya di rubrik TIPS, Rensti Raharti, memaparkan cara-cara menjalankan gaya hidup minim sampah yang sederhana dan dapat dimulai dari rumah, sekaligus memberi contoh gaya hidup ini kepada anak, agar kemandirian dan kedaulatan hidup dapat dilanjutkan pada generasi selanjutnya.

Siapa yang tak kenal SHINE?  Platform pendidikan informal yang memberdayakan masyarakat dengan pelatihan-pelatihan terutama produk sehari-hari yang selama ini menimbulkan ketergantungan masyarakat pada produk berkemasan. Dalam rubrik PROFIL, Kandi Sekarwulan mengangkat sepak terjang Ines Setiawan, pendiri dan penggerak SHINE. Kita tentu dapat belajar dan menerima inspirasi dari Ines tentang bagaimana ia bisa sampai kepada pemikiran dan lakunya untuk menjadikan sebanyak mungkin orang berdaulat atas dirinya untuk memenuhi kebutuhan diri.
Sedangkan pada tulisan yang kedua pada rubrik PROFIL, Kukuh Samudra mengangkat kisah Mbah Paiman, seorang petani “kolot” di daerah Karanganyar, yang mempertahankan cara bertani dengan berdaulat: organik, menanam dari bibit hasil panen serta membuat kompos sendiri. Keputusan ini diambil secara mandiri oleh Mbah Paiman, sekalipun dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya.

Pada rubrik MEDIA, Sally Anom Sari mengangkat beberapa film yang mengangkat kemandirian hidup dan pemenuhan kebutuhan diri. Dalam rubrik JALAN-JALAN, Debby Josephine mengajak kita ke sebuah tempat yang mengupayakan kemandirian dan kedaulatan pangan, sebuah tempat di perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, yang bernama Kebun Belakang.

Terakhir, Navita Kristi Astuti bercerita tentang bagaimana selama ini KAIL menjalankan kemandirian di Rumah KAIL, dengan memanfaatkan bagian rumah dan kebun. Masih banyak tantangan untuk mewujudkan KAIL sebagai rumah nol sampah (zero waste). Namun ada beberapa sistem yang telah berjalan di Rumah KAIL yang secara perlahan-lahan tapi pasti ikut mendukung peningkatan kualitas hidup anggota KAIL, relawan dan mitra yang berkunjung maupun makhluk hidup yang lain yang juga tinggal di Rumah KAIL.

Semoga artikel-artikel di dalam edisi ini menambah permenungan bagi para pembaca terkait kemerdekaan dan kedaulatan dalam menentukan kehidupan yang sehat dan selaras alam.
Editor:

[JALAN-JALAN] PELATIHAN MEMBANGUN DESA MANDIRI BERKEDAULATAN PANGAN, SEBUAH UPAYA BERBELA RASA KEPADA PETANI

Oleh : Deta Ratna Kristanti

Pada tanggal 27 Februari sd 3 Maret 2018, saya berkesempatan terlibat dalam penyelenggaraan Pelatihan Membangun Desa Mandiri Berdaulat Pangan di Desa Toto Harjo, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Insan Kreatif dan Pecinta Lingkungan (PIKPL) Semanggi dan Pengurus Wakil Cabang (PWC) Nahdhatul Ulama (NU) Lampung Timur ini mengikutsertakan 30 orang petani padi dari tiga desa di wilayah Kecamatan Purbolinggo, yaitu Desa Toto Harjo, Desa Tanjung Inten dan Desa Taman Fajar. 

Pelatihan ini bertujuan mengajak petani untuk membangun desa yang berkedaulatan pangan melalui kedaulatan lahan dan kedaulatan benih, yaitu dengan memberikan wawasan bagaimana melakukan pertanian organik, memberikan pengetahuan  tentang persilangan tanaman padi, serta mengajak para petani untuk mengelola perekonomian melalui koperasi. Pelatihan diisi oleh beberapa narasumber yang berasal dari dalam dan luar Lampung Timur. Narasumber dari luar Lampung Timur antara lain: Bapak Eka Budianta, seorang budayawan dan penulis di Majalah Trubus yang berasal dari Jakarta, Ibu Susen Suryanto, ketua PIKPL Semanggi yang berasal dari Bandung dan Bapak Arif Hidayat dari Gerakan Pemuda Pemudi Bertani yang berdomisili di Jepara. Adapun narasumber yang berasal dari Lampung Timur adalah Bapak Iskandar- seorang penyuluh pertanian, Bapak Suyatno – wirausahawan muda dan Bapak Ngadiyono, petani dan pendamping petani. Pelatihan diselenggarakan di kantor PWC NU Lampung Timur.
Foto bersama peserta dan narasumber
Sumber foto : Dokumen pribadi

Pelatihan ini dibuka tanggal 27 Februari malam oleh perwakilan Ketua PWC NU Kec Purbolinggo, Lampung Timur dan dihadiri oleh seluruh peserta dan narasumber. Pada tatap muka perdana tersebut, Pak Eka Budianta langsung memotivasi peserta untuk membuat tulisan untuk mengungkapkan perasaan, harapan serta cita-cita mereka terhadap kehidupan petani yang mereka jalani saat ini. Pak Eka mengatakan bahwa tulisan-tulisan para peserta akan dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang akan diberi judul DARI PURBOLINGGO UNTUK INDONESIA. Ajakan menulis  ini disambut baik oleh para peserta, yang kemudian mengumpulkan tulisan-tulisan mereka setiap hari kepada panitia. Hingga akhir waktu pelatihan, telah terkumpul tulisan dari 26 orang petani, dan di antara mereka ada yang membuat lebih dari satu tulisan. 
Pelatihan menulis dengan Eka Budianta
Sumber foto : Dokumen pribadi

Bapak Yatno dan Bapak Eka membuka pelatihan hari pertama dengan mengajak peserta untuk memikirkan, mengapa penting membangun desa berkedaulatan pangan. Pak Yatno sebagai putera petani kelahiran Lampung Timur mengajak rekan-rekannya untuk melihat bersama gambaran pola kehidupan perekonomian di sana. Bagaimana kebiasaan para petani menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga murah demi mendapatkan uang secara cepat. Dan ketika uang menipis, para petani membeli beras jatah raskin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hasil produksi padi berkualitas baik tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan para petani tapi malah diutamakan untuk dijual, dan petani sendiri malah makan beras yang kualitasnya jauh di bawah padi yang diproduksi.  Pak Yatno juga mengajak para petani untuk menganalisis bersama pengeluaran sehari-hari para petani, terutama untuk konsumsi barang dan biaya sosial besar yang harus dikeluarkan manakala diadakan selamatan atau hajatan di kampung.  

Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan pemantik: Apakah pola hidup tersebut mendukung atau melemahkan kedaulatan pangan?

Di sisi lain, Pak Eka membahas tentang potensi desa yang beragam. Pak Eka menggugah peserta dengan pertanyaan, apa produk terindah dari sebuah desa? Menurutnya, produk terindah dari sebuah desa adalah warga yang bahagia. Warga yang bisa hidup secara produktif dan sosial. Kampung halaman dengan segala potensinya memberi kesempatan seluas-luasnya pada warga untuk berkarir. Dengan segala kekayaan dan keragaman sumber dayanya, sebenarnya kesempatan untuk mengembangkan berbagai sektor di desa jauh lebih besar dibandingkan di kota.
 Pak Eka mengajak peserta untuk membuka pikiran, bahwa mungkin kesejahteraan dan kebahagiaan warga desa adalah ketika hidup tidak hanya berjalan linear, yaitu tergantung pada usaha pertanian padi, namun dapat juga mengembangkan usaha-usaha di bidang lainnya.

Dalam sesi ini, ibu Susen Suryanto pun turut mengajak petani untuk memperhatikan perbedaan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan suatu negara. Ketahanan pangan adalah kondisi suatu negara yang bertahan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pangan warganya. Sejauh negara tersebut memiliki uang, negara dapat memenuhi kebutuhan pangan sekalipun melalui impor. Adapun jika sebuah negara berdaulat pangan, maka negara tersebut punya daya untuk memilih, memiliki serta mengatur pemenuhan kebutuhan pangan warganya. Petani sebagai ujung tombak yang memberikan makan bangsa ini perlu memiliki kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan perlu dimulai dari kedaulatan lahan dan kedaulatan benih. Lahan yang berdaulat artinya petani dapat melepaskan ketergantungan lahan dari pupuk kimia dan mampu memilih cara bertani yang lebih sehat dan ramah lingkungan, yaitu lewat pertanian organik. Berkedaulatan benih, artinya, petani mempunyai daya untuk menghasilkan benih-benih unggul secara mandiri, yang akan menghasilkan produksi pertanian yang meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas.
Salah satu sesi pelatihan petani
Sumber foto : Dokumen pribadi

Sesi selanjutnya disampaikan oleh Pak Iskandar yaitu tentang pengenalan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman padi. Wawasan tentang hal ini perlu disampaikan kepada peserta agar petani dapat mengenali jenis-jenis hama yang menyerang tanaman padi serta penyakit yang mungkin muncul pada tanaman padi. Dengan mengenali, petani dapat melakukan pengendalian hama dan pencegahan penyakit dengan cara-cara yang tidak merusak lahan pertanian.

Topik selanjutnya adalah mengenai teknik pertanian organik, yang disampaikan oleh Ibu Susen Suryanto. Ibu Susen menyampaikan berbagai data perbandingan antara pertanian yang masih tergantung pada pupuk buatan pabrik dengan pertanian  organik, yang berdampak antara lain pada kesuburan tanah. Hal utama yang disoroti Ibu Susen dalam pertanian organik adalah persoalan penggunaan pestisida kimia. Pestisida kimia berdampak pada pemadatan tanah, erosi, penurunan kesuburan tanah dan racun pada hasil produksi yang dikonsumsi manusia. Ibu Susen menawarkan alternatif yaitu membuat pestisida alami, yang ternyata bahannya mudah didapatkan di lingkungan sekitar petani seperti urine sapi, susu segar, terasi, gula serta berbagai rempah seperti jahe, laja, kunyit, kencur, temu ireng dan brotowali. Pestisida alami ini daya kerjanya selektif, hanya mematikan jenis-jenis serangga tertentu sehingga keseimbangan alam tetap terjaga. Selain itu, pestisida alami tidak menimbulkan kekebalan pada serangga hama seperti yang terjadi jika petani menggunakan pupuk kimia buatan. Selain itu, akibat pencemaran tanah, air dan udara dari penggunaan pestisida alami yang ditimbulkan lebih sedikit, dan residu dari pestisida alami ini cepat terurai sehingga hasil pertanian tidak teracuni.

Sesi malam dilakukan setiap hari pelatihan kira-kira pukul 20.00 sd 22.00. Peserta yang telah diberi kesempatan pulang dan beristirahat di sore hari kembali datang ke lokasi pelatihan. Sesi malam adalah sesi diskusi kelompok, di mana peserta berdiskusi dengan sesama peserta dari desanya masing-masing. Topik diskusi terkait dengan materi pelatihan di siang hari. Diskusi hari pertama terkait dengan topik metode budidaya padi yang cocok untuk desa mandiri berdaulat pangan. Diskusi hari kedua mengangkat topik: Bagaimana mewujudkan kemandirian benih untuk mencapai Desa Mandiri Berdaulat Pangan? Sedangkan di hari ketiga, peserta diajak mendiskusikan bagaimana membangun koperasi petani yang mampu mendukung Desa Mandiri Berdaulat Pangan. Meskipun sesi diskusi dilakukan pada malam hari, namun semua peserta hadir di sesi malam tersebut.
Mengikuti sesi pelatihan tentang koperasi bersama Arif Hidayat
Sumber foto : Dokumen pribadi

Dalam pelatihan di hari kedua, tiga dari empat sesi pelatihan yang dijadwalkan di siang hari adalah membahas topik tentang pemuliaan tanaman, dengan  pemateri Ibu Susen Suryanto. Ibu Susen Suryanto adalah pensiunan dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Bandung jurusan Pemuliaan Tanaman. Pemuliaan tanaman atau plant breeding adalah ilmu, teknologi dan seni untuk mengubah susunan gen dan kromosom tanaman dalam usaha mendapatkan kultivar baru yang lebih unggul. Dalam pelatihan ini,  ilmu pemuliaan tanaman diberikan kepada petani agar petani mampu memperoleh bibit-bibit padi organik yang unggul sehingga dapat meningkatkan produksi dan kualitas padi yang mereka tanam.

Materi yang disampaikan Ibu Susen cukup banyak dan merupakan pengetahuan baru bagi peserta. Selain ilmu genetika terkait usaha menghasilkan kultivar unggul, di dalam sesi ini juga disampaikan berbagai teknik-teknik persilangan padi. Penjelasan Ibu Susen digenapkan oleh Bapak Ngadiyono, pelatih petani lokal yang juga berkemampuan melakukan persilangan padi. Istilah atau teknik persilangan padi yang disampaikan Ibu Susen, yang mungkin masih asing di telinga peserta, diterjemahkan oleh Bapak Ngadiyono menjadi langkah-laingkah yang mudah untuk ditangkap peserta. Sesi sore di hari kedua ditutup dengan kegiatan praktek belajar menyilangkan padi, dengan Ibu Susen dan Bapak Ngadiyono sebagai fasilitatornya.

Beranjak ke hari ketiga, pelatihan dibuka dengan praktek penyerbukan tanaman padi yang difasilitasi oleh Pak Ngadiyono. Praktek penyerbukan harus memperhatikan waktu (sinar matahari) dan kesiapan organ penyerbukan jantan dan betina pada tanaman padi. Pada sesi kedua, peserta diberi wawasan pengetahuan tentang koperasi, bagaimana sistem dan pengelolaan koperasi, yang dibawakan oleh Bapak Arif Hidayat. Wawasan tentang sistem perkoperasian perlu disampaikan kepada peserta sebab banyak informasi salah tentang koperasi yang beredar di masyarakat, pun mendengar pengalaman orang lain bahwa koperasi hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Pak Arif sekaligus meluruskan bahwa koperasi adalah milik bersama sehingga pengelolaan koperasi melibatkan seluruh anggota. Sesi kemudian dilanjutkan dengan materi Analisis Usaha Tani yang disampaikan oleh Pak Iskandar. Peserta diajak untuk menganalisis usaha tani yang selama ini dilakukan oleh masing-masing orang.
Belajar menyilangkan padi organik
Sumber foto : Dokumen pribadi

Pelatihan di hari terakhir dibuka dengan praktek pembuatan kompos di salah satu lokasi terdekat milik salah satu petani. Semua peserta menjalani proses pembuatan pupuk kompos tersebut, mulai dari pengangkutan kotoran sapi, mencacah gedebog pisang, mengambil daun-daunan kering sampai dengan pengadukan kompos. Kegiatan dilanjutkan dengan pengetesan unsur hara dalam larutan mikroorganisme lokal (MoL) menggunakan alat rakitan sederhana yang terdiri dari pipa paralon, kabel dan lampu bohlam. Berbagai larutan dijejerkan untuk dites satu persatu unsur haranya. Jika ujung kawat kabel dicelupkan dalam larutan dan bohlam menyala, berarti ada kandungan zat hara di dalam larutan MoL tersebut. Semakin terang nyala bohlamnya, berarti semakin tinggi pula kandungan zat haranya.
Belajar membuat kompos
Sumber foto : Dokumen pribadi

Sesi pelatihan hari tersebut ditutup dengan presentasi dari masing-masing desa tentang rencana tindak lanjut yang ingin dilakukan segera setelah pelatihan selesai. Para pemateri dan kelompok memberikan tanggapan atas presentasi masing-masing desa. Kegiatan pelatihan Membangun Desa Mandiri Berdaulat Pangan yang telah diselenggarakan dalam 4 (empat) hari ditutup dengan upacara penutupan, pemberian bibit padi organik dan kenang-kenangan serta apresiasi kepada seluruh tim yang terlibat dalam pelatihan.

Demikianlah pengalaman saya terlibat dalam Pelatihan Membangun Desa Mandiri Berdaulat Pangan yang sudah dilaksanakan di Desa Totoharjo, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur. Semoga di masa yang akan datang, semakin banyak rekan-rekan aktivis yang berbela rasa dan mendukung perjuangan para petani dalam membangun desa mandiri yang berdaulat pangan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...