Showing posts with label Agustein Okamita. Show all posts
Showing posts with label Agustein Okamita. Show all posts

[TIPS] Merdeka dari Belenggu Gadget

Oleh: Agustein Okamita

Gadget sering didefinisikan sebagai sebuah perangkat elektronik berukuran kecil yang memiliki kepintaran/kecanggihan tertentu. Saat ini, kata gadget diasosiasikan dengan smartphone, tablet, ipod, atau komputer berukuran kecil yang dapat dibawa ke mana-mana (mobile).

Abad ini dinamakan abad teknologi informasi dan komunikasi, karena semua teknologi yang berhubungan dengan informasi dan komunikasi sedang berkembang dengan sangat pesat. Setiap detik bisa saja muncul gadget baru dengan fitur yang lebih tinggi dari pada sebelumnya. Di abad ini, pemanfaatan gadget juga semakin luas. Jika dulu gadget berupa telepon genggam hanya digunakan untuk komunikasi dan permainan sederhana, sekarang kegunaan gadget sudah sangat bervariasi. Selain sebagai alat komunikasi, gadget juga berguna untuk membantu dalam pekerjaan, mencari informasi, hiburan, dan permainan. Jika sepuluh tahun yang lalu penggunanya terbatas pada orang-orang di perkantoran dan kota besar, dengan perkembangan teknologi penyedia jasa jaringan, saat ini semua kalangan di seluruh dunia dapat menggunakannya. Rentang usia pengguna juga semakin lebar, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Bagi para aktivis, gadget sangat bermanfaat, baik dalam menghubungkan mereka dengan orang-orang yang berada di tempat lain, maupun membantu menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Dengan ukuran dan berat yang membuatnya mudah dibawa ke mana-mana, aktivis dapat mengerjakan berbagai pekerjaan meskipun tidak sedang berada di kantor atau di rumah. Ketika sedang berada di luar rumah/kantor, aktivis tetap dapat berkomunikasi atau melakukan rapat dengan rekan-rekan dengan memanfaatkan berbagai aplikasi teleconference. Komunikasi via aplikasi teleconference dapat dilakukan dengan orang-orang atau kolega yang sedang berada di luar kota atau luar negeri, tanpa harus terlebih dulu menyalakan laptop. Ketika di perjalanan dengan kendaraan umum, kita bisa membalas email, membuka spreadsheet, ataupun aplikasi-aplikasi lain yang membantu kita untuk menyelesaikan tugas-tugas kita. Dengan demikian, waktu-waktu tersebut dapat digunakan untuk melakukan hal-hal yang berguna. Dengan kata lain, gadget adalah pelayan kita yang sangat berguna.

Sebaliknya, jika kita tidak berhati-hati, gadget dapat berbalik menjadi penguasa kita. Ada kalanya orang-orang yang tadinya memanfaatkan gadget untuk membantunya bekerja, menjadi sangat bergantung pada gadget. Mereka menjadi tidak bisa hidup tanpa gadget. Beberapa ciri orang-orang yang ketergantungan pada gadget adalah: mereka lebih suka mengirim pesan lewat gadget/texting daripada berbicara langsung; tidak pernah meninggalkan rumah tanpa membawa gadget; lebih suka menghabiskan waktu bersama gadget daripada berkumpul bersama keluarga dan teman-teman atau melakukan kegiatan fisik yang disukai; meninggalkan momen-momen penting demi gadget; dan tidak bisa berhenti sekalipun sudah mengalami persoalan akibat gadget.

Pernahkah kita merasa seolah-olah mengetahui yang dikatakan oleh teman yang sedang berbicara, tapi ternyata kita tidak mengerti apa yang ditanyakan atau disampaikannya? Hal itu bisa saja terjadi karena pikiran kita sedang fokus pada hal lain daripada kepada teman kita. Demikian juga dengan fokus yang berlebihan kepada gadget. Ketergantungan pada gadget dapat mengakibatkan berbagai hal buruk, misalnya: pekerjaan utama terbengkalai, tidak peduli dengan lingkungan di sekitarnya karena terlalu berfokus pada gadget-nya, bahkan ada yang mengalami kecelakaan karena menggunakan gadget sambil berkendara. Penggunaan gadget yang berlebihan juga dapat mengakibatkan penyakit-penyakit fisik dan psikis, seperti kurangnya konsentrasi, perhatian, atau fokus; persoalan dalam mengingat atau mengambil keputusan; sakit kepala, punggung, dan masalah dalam penglihatan; masalah kesuburan akibat radiasi gadget yang berlebihan; dan lain-lain [1]

Pada satu titik tertentu - ketika kita menjadi sangat bergantung pada gadget -, tanpa kita sadari kita telah dijajah olehnya. Kita terbelenggu dan menjadi seperti boneka yang dikendalikan oleh gadget. Kita menghabiskan terlalu banyak waktu bersamanya dan tidak lagi peduli pada hal yang lain. Kebergantungan pada semua manfaat yang diberikannya, justru membuat kita tidak lagi menjadi orang yang merdeka. Gadget yang sebelumnya kita manfaatkan sebagai pelayan, telah berbalik menjadi penjajah kita.

Tentu saja situasi ini bukanlah tujuan kita ketika ingin memiliki gadget. Keinginan utama kita adalah memanfaatkan gadget untuk mempermudah pekerjaan dan komunikasi. Kita perlu kembali kepada tujuan kita semula.

Lalu bagaimana caranya agar kita menjadi orang-orang merdeka dari belenggu gadget? Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan agar kita dapat hidup merdeka dari ‘jajahan’ gadget:

1. Menetapkan tujuan kita menggunakan gadget 
Apa yang menjadi tujuan kita membeli dan menggunakan gadget? Apakah untuk komunikasi, mencari informasi, alat untuk membantu pekerjaan, hiburan, atau permainan? Setelah tahu tujuan kita, kita lihat aplikasi apa saja yang ada di gadget. Apakah aplikasi itu sudah mendukung tujuan kita? Adakah aplikasi yang keluar dari tujuan kita? Jika ada, sebaiknya aplikasi tersebut di-uninstall. Menghapus aplikasi selain mengurangi waktu yang terbuang untuk melakukan hal yang tidak menjadi tujuan, juga membantu meringankan beban gadget kita.

2. Membuat aturan penggunaan gadget 
Kapan saja kita mengaktifkan gadget? Apakah pagi hari, siang, sore, atau malam? Berapa lama kita akan menggunakannya pada waktu-waktu tersebut? Selanjutnya, tentukan prioritas kita selama waktu tersebut. Contoh: jika saya akan mengaktifkan gadget dua jam di pagi hari, maka dalam dua jam tersebut saya akan memprioritaskan untuk menjawab email-email yang masuk, membalas chat yang penting, atau mengerjakan tugas yang urgent. Di luar jam-jam tersebut, smartphone dapat di-setting agar hanya bisa digunakan untuk menerima telepon.

3. Prioritaskan aktivitas dengan manusia/dunia nyata
Aktivis adalah orang-orang yang banyak berhubungan dengan manusia atau dunia nyata. Kita bisa mendapat banyak informasi dari dunia maya, tetapi tujuan kita adalah membawa perubahan bagi dunia nyata. Untuk itu kita perlu memperbanyak interaksi dengan dunia nyata dan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Keluarga dan orang-orang yang dekat dengan kita, mereka adalah orang-orang yang penting. Tentu kita lebih menyayangi mereka daripada gadget. Oleh karena itu, kita perlu menyediakan waktu untuk berkomunikasi secara fisik dengan mereka.

4. Menguasai diri 
Penguasaan diri adalah salah salah satu tindakan yang sangat penting dalam banyak hal. Menguasai diri adalah menahan keinginan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang berdampak tidak baik bagi diri kita maupun orang lain. Penguasaan diri pada tingkat yang tertinggi adalah penguasaan diri yang tidak bergantung pada situasi, kondisi, maupun pada orang lain, tetapi berasal dari keinginan yang kuat di dalam diri kita.

Bagi sebagian orang menguasai diri dalam satu hal lebih mudah daripada dalam hal yang lain. Bagi beberapa orang, menguasai diri untuk tidak bergantung pada gadget mudah untuk dilakukan, tetapi bagi orang lain hal itu mungkin sangat sulit, demikian pula dalam hal gadget. Kita bisa mulai dengan komitmen untuk “puasa gadget” dengan tidak memegang gadget ketika berkumpul bersama keluarga atau pada akhir pekan. Jika hal itu sudah berhasil dilakukan, kita bisa mencoba lagi dengan memberikan waktu puasa gadget yang lebih panjang. Jika kita berhasil menguasai diri untuk hal-hal sederhana, kita bisa naik level ke tingkat yang lebih tinggi lagi untuk hal-hal yang lebih rumit.

Kemerdekaan dimulai dari kesadaran akan keterbelengguan diri dan keinginan untuk bebas dari belenggu tersebut. Jika kita sadar bahwa kita sedang terbelenggu atau terjajah, dan ingin menjadi seorang yang merdeka, kita akan bertindak untuk memerdekakannya. Kemerdekaan bukan hanya berkenaan dengan hal fisik, tetapi juga dengan pola pikir atau pola hidup. Kita bisa awali dengan hal-hal yang sederhana, misalnya dengan penggunaan gadget ini. Gadget bisa menjadi pelayan yang sangat efektif, tetapi juga dapat berubah menjadi penjajah yang sangat berkuasa atas diri dan hidup kita. Bagaimana kita memanfaatkannya, akan mempengaruhi kehidupan kita saat ini dan pada masa yang akan datang.




[1] https://www.online-therapy.com/blog/gadget-addiction-smartphone-tablet/ .

[JALAN-JALAN] HOMESCHOOLING DAY Bandung di Gedung Indonesia Menggugat

Oleh: Agustein Okamita


Pada tanggal 13 Agustus 2016 yang lalu, di Gedung Indonesia Menggugat diadakan acara Homeschooling Day. Event ini diselenggarakan secara swadaya oleh keluarga-keluarga homeschooler di Bandung. 

Homeschooling atau yang juga dikenal dengan pendidikan anak berbasis keluarga adalah pendidikan anak-anak di dalam keluarga. Home education/ homeschooling adalah salah satu gerakan yang muncul ketika para orang tua mulai memikirkan bahwa tanggung jawab untuk mendidik anak-anak ada di pundak orang tua. Dengan berbagai alasan dan resiko yang dipertimbangkan dengan matang, akhirnya mereka memutuskan untuk mendidik anak-anak mereka sendiri di dalam keluarga, ketimbang mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah formal, sampai anak dapat memutuskan sendiri apakah mereka akan bersekolah secara formal atau tetap homeschooling. Keputusan ini merupakan salah satu pilihan merdeka bagi orang tua, maupun bagi anak ketika mereka sudah bisa memutuskan sendiri mengenai pendidikan mereka.

Pemilihan tempat untuk acara Homeschooling Day di Gedung Indonesia Menggugat juga bukan merupakan kebetulan. Gedung Indonesia Menggugat dipilih karena sesuai dengan tema Homeschooling Day kali ini, yaitu: Lejitkan Potensi dengan Berkarya dan Berekspresi untuk Mengisi Kemerdekaan. Gedung ini merupakan tempat di mana Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pernah ditahan. Di gedung ini juga beliau membacakan pledoi yang diberi judul “Indonesia Menggugat”, di hadapan Pengadilan Landraad Bandung. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 1930, kurang lebih 86 tahun yang silam. Hingga saat ini Gedung Indonesia Menggugat ini tetap menjadi pusat kegiatan berkebangsaan bagi semua lapisan masyarakat. Selain sesuai dengan tema Homeschooling Day, semangat kebangsaan dan kemerdekaan yang didengungkan oleh Bapak Proklamator ini selaras dengan semangat keluarga pelaku homeschooling, yang meyakini dan mengamini bahwa kemerdekaan memperoleh pendidikan adalah hak dari seluruh rakyat Indonesia.


Panitia anak di stand penjualan makanan dan minuman
Homeschooling Day kali ini menitikberatkan acara pada Pameran dan Bincang para pelaku Homeschooling. Panitia penyelenggara acara Pameran dan Bincang Homeschooling ini terdiri atas para orang tua dan anak-anak homeschooler di Bandung. Mereka bekerja sama mempersiapkan acara mulai dari perencanaan hari terselenggaranya Homeschooling Day. Panitia orang tua merancang konsep acara yang akan diadakan, dan anak-anak membantu dalam berbagai hal teknis, seperti penyiapan ruangan, dekorasi, mengatur peralatan, konsumsi, stand penjualan makanan, dan acara untuk anak-anak kecil (kids corner). Panitia anak-anak dapat bekerja sama dengan baik di antara mereka dan dengan para orang tua, hal ini membuktikan bahwa anak-anak homeschooler adalah anak-anak yang memiliki kecerdasan emosi dan kemampuan berorganisasi yang cukup baik. Hal ni menepis anggapan bahwa anak-anak homeschooling dikuatirkan tidak mampu berkomunikasi dan bersosialisasi, lebih soliter, dan lain-lain. Melalui kepanitiaan di acara ini mereka justru menunjukkan kedewasaan dalam bekerja sama, mengambil keputusan, dan mengatasi persoalan-persoalan yang nyata di lapangan. Anak-anak juga mendesain kaos yang akan dipakai oleh panitia, membuat gambar untuk banner dan brosur, mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk stand berjualan makanan dan minuman dan lain-lain. Mereka juga membuat booklet yang diberi judul “The World is My School” yang ditulis oleh beberapa anak dan dicetak oleh mereka sendiri. Booklet tersebut dijual dengan harga sepuluh ribu rupiah per buku. Booklet yang dicetak sebanyak 50 eksemplar tersebut habis terjual dalam event itu.

Pameran dan Konser Anak-anak HS
Dalam Homeschooling Day yang diadakan sehari penuh ini terdapat beberapa kegiatan yang berlangsung secara bersamaan, yaitu pameran hasil karya anak-anak homeschooler dan pertunjukan kemampuan anak-anak homeschooler dan seminar mengenai legalitas dan sesi berbagi / bincang keluarga-keluarga pelaku homeschooling. Selain itu, di beberapa lokasi juga ada stand-stand bisnis yang menjual berbagai makanan, minuman, dan buku-buku, yang dikelola oleh orang tua dan anak-anak homeschooler.

Di stand pameran hasil karya anak-anak homeschooler, anak-anak menampilkan hasil karya di antaranya buku-buku hasil tulisan, tas dan rajutan handmade, game dan animasi, lego, gambar, foto, seni melipat kertas sonobe, desain kaos, dekorasi layangan, ayam hasil ternak, dan lain-lain. Selain itu, di panggung anak-anak juga mempertunjukkan kepiawaian mereka dalam berpidato baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggeris, bermain alat musik, seni tari, peragaan P3K dan parade tongkat dari Pramuka Homeschooler, dan pertunjukan-pertunjukan lainnya. Melalui pameran dan pertunjukan bakat ini, para homeschooler ingin menyampaikan bahwa anak-anak homeschooler adalah anak-anak yang juga memiliki segudang prestasi dan kemampuan.

Seminar Legalitas
Acara seminar dan bincang dengan pelaku homeschooler, yang dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah seminar mengenai legalitas homeschooling, yang disampaikan oleh Ibu Dra. Eem Sukaemah, M.Pd., Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat dan Kebudayaan, yang mewakili Dinas Pendidikan Kota Bandung. Di sesi seminar yang dihadiri oleh lebih dari seratus orang peserta ini, Ibu Eem menjelaskan mengenai persyaratan dan proses agar anak homeschooler dapat memperoleh legalitas yang diakui oleh negara Republik Indonesia. Dimoderasi oleh Ibu Yanti Herawati, salah satu orang tua homeschooler, para peserta yang hadir mengajukan banyak pertanyaan dengan antusias. Sesi ini diselingi dengan beberapa pertunjukan anak-anak, baik pertunjukan seni maupun kemampuan berpidato.

Sesi sharing dan bincang dengan keluarga pelaku homeschooling dimulai setelah istirahat makan siang. Pada sesi ini, ada beberapa orang tua yang berbagi mengenai latar belakang dan alasan mereka memilih homeschooling untuk anak-anak mereka, dan bagaimana mereka melakukannya setiap hari. Banyak alasan mengapa orang tua memilih untuk menjadi pelaku homeschooling. Ada keluarga yang memilih menyekolahkan anak-anaknya di rumah karena anak-anaknya adalah anak berkebutuhan khusus, ada juga yang memilih homeschooling demi perkembangan psikologis anaknya, dan ada lagi yang karena alasan pekerjaan orang tua. Dalam sesi ini, salah seorang orang tua homeschooler membagikan pengalaman bagaimana mereka mempersiapkan anaknya hingga diterima perguruan tinggi di luar negeri.

Sharing dan bincang Homeschooler

Di sesi ini juga beberapa orang tua homeschooling berbagi mengenai gaya keluarga mereka melakukan homeschooling. Setiap keluarga homeschooler memang memiliki gaya yang berbeda-beda dalam melaksanakan keseharian mereka, dan tidak ada satupun yang salah, selama hal itu merupakan hal yang terbaik yang dapat mereka lakukan bagi anak-anak mereka. Anak-anak yang dididik dalam keluarga homeschooler mungkin menjadi anak-anak yang unik dan berbeda dengan anak-anak yang bersekolah formal, tapi mereka bukanlah makhluk asing. Mereka juga memiliki kemampuan dan kecerdasan yang istimewa, selayaknya anak-anak lainnya. Dan yang terpenting, kemampuan tersebut dapat berkembang dengan optimal, dengan usaha dan dukungan dari keluarga dan lingkungan, pada waktu yang tepat.

Peserta Seminar
Secara keseluruhan, acara Pameran dan Bincang Homeschooling ini memberikan dampak yang cukup besar. Hal ini dibuktikan ketika Pramuka Homeschooler Bandung mengadakan latihan pada hari Rabu setelah berlangsungnya event tersebut, banyak sekali peserta baru yang datang dan bergabung. Ternyata ada banyak keluarga homeschooler yang selama ini mencari-cari komunitas dan wadah kegiatan untuk anak-anak mereka, dan akhirnya menemukannya ketika mereka mengikuti acara itu. Dan hal ini juga membuktikan bahwa semakin banyak keluarga yang tertarik dengan homeschooling.

[MEDIA] Mengembangkan Hobi dengan Memanfaatkan Media Internet

Oleh: Agustein Okamita 

Para aktivis adalah orang-orang yang sangat sibuk. Kadang kala, karena kesibukannya, banyak di antara mereka lebih memfokuskan diri pada kegiatan aktivismenya ketimbang dirinya sendiri. Padahal, Steven Covey dalam bukunya “Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif” atau “Seven Habits of Highly Effective People”, mengatakan bahwa salah satu kebiasaan manusia yang efektif adalah ‘mengasah gergaji (sharpen the saw)’. Mengasah gergaji artinya menjaga/memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang dimiliki – yaitu diri sendiri. Ini berarti memiliki program yang seimbang untuk memperbarui empat area di dalam diri: fisik, sosial/emosional, mental, dan spiritual adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Melakukan kegiatan yang menjadi hobi merupakan salah satu cara yang disarankan untuk ‘mengasah gergaji’. Ketika mengerjakan hobi, biasanya kita akan menjadi lebih santai dan gembira. Kondisi santai dan gembira mengurangi rasa stres dan beban di dalam pikiran, yang membantu memperbaiki kondisi mental dan meningkatkan kesehatan emosional kita. Karena itu, sangat baik bagi para aktivis untuk terus mengembangkan hobi dan passion masing-masing. Beberapa hal yang disarankan kepada para aktivis untuk tetap sehat secara emosi dengan cara melakukan hobi antara lain:
  1. Sediakan waktu khusus untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan hobi secara teratur,
  2. Tingkatkan kemampuan atau keterampilan yang berhubungan dengan hobi dengan mempelajarinya lebih dalam, 
  3. Carilah teman-teman yang memiliki hobi yang sama atau bergabunglah dalam sebuah komunitas hobi tersebut, agar Anda lebih terpacu dan bersemangat untuk mengembangkan hobi, 
  4. Manfaatkan media, khususnya internet dan media sosial untuk meningkatkan kemampuan dan saling berbagi dalam kegiatan yang berhubungan dengan hobi tersebut.
Memanfaatkan Media Internet

Djaman sekarang ini, media internet merupakan salah satu alat bantu yang sangat efektif dalam mengembangkan hobi. Jika dulu kita bergantung pada buku-buku yang ada di toko buku atau perpustakaan, atau perlu mengikuti kursus jika ingin menguasai suatu hobi tertentu, sekarang kita bisa mendapatkan banyak informasi dengan memanfaatkan internet.
Jika ingin mencari tahu tentang resep masakan tertentu, para penggemar kegiatan masak-memasak hanya perlu mengetikkan kata kunci yang tepat di mesin pencari, dan wuushh...!! - dalam hitungan detik gambar masakan itu muncul di hadapan kita, disertai informasi mengenai bahan-bahan yang dibutuhkan dan cara-cara memasaknya. Jika ingin tahu tentang cara menanam tanaman tertentu atau cara membasmi hama pada tanaman yang spesifik, para penggemar pertanian dan bercocok tanam saat ini juga tinggal mencarinya di internet. Demikian juga dengan jenis-jenis hobi yang lain. Di dunia maya, semua yang dibutuhkan akan langsung hadir di depan layar komputer/gadget kita.

Di muka bumi ini ternyata ada banyak orang yang murah hati dan senang berbagi, yang mau memberikan informasi dan pengetahuan di internet. Berbagai informasi mereka bagikan, di antaranya adalah informasi-informasi yang berkaitan dengan hobi. Ada berbagai cara mereka berbagi informasi tentang hobi di internet, yaitu dalam bentuk website/blog, video, maupun melalui grup-grup di media sosial.

Berkaitan dengan hobi, ada banyak contoh website atau blog yang bisa kita kunjungi. Beberapa di antaranya yaitu:
  1. Memasak dan kuliner. Beberapa blog/website yang membagikan kumpulan resep masakan serta cara memasaknya, yang sering saya kunjungi antara lain: Diah Didi’s Kitchen (http://www.diahdidi.com/), Dapur Nuqi (http://www.dapurnuqi.com/), Langsung Enak (http://www.langsungenak.com/), http://allrecipes.com/, http://resepmasakanku.com/. 
  2. Craft atau kerajinan tangan. Blog atau website tentang craft atau kerajinan tangan, di antaranya: Kerajinan tangan (http://www.kerajinan-tangan.com/), http://kreasi-kerajinantanganku.blogspot.co.id/, http://www.zhahab.blogspot.co.id/, http://www.allfreecrafts.com/, http://www.ravelry.com/, dan sebagainya. 
  3. Olah raga. Website atau blog berisi informasi tentang olah raga di antaranya: bulutangkis.com, http://karate.snowcron.com, http://www.allabout-swimming.blogspot.co.id/, http://www.wushuindonesia.com/, http://belajarcatur.blogspot.co.id/ dan lain-lain.
Beberapa website/blog di atas saya cantumkan karena muncul di bagian teratas mesin pencari Google, dan yang lainnya adalah website/blog yang sering saya kunjungi. Sebenarnya masih ada banyak website/blog lain yang bisa dilihat, jika kita bisa memilih kata kunci yang tepat. Silakan mencoba sendiri sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing.

Bulutangkis.com

Memanfaatkan Media Sosial

Melakukan kegiatan yang menjadi hobi memang memberikan banyak manfaat. Selain menyalurkan kesenangan dan mengurangi rasa stress, jika dilakukan bersama-sama dalam kelompok atau komunitas, hobi juga akan menambah jumlah teman. Di dalam kelompok, para pehobi tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga saling menyemangati satu sama lain. Ketika kita melakukan hobi dan berada dalam komunitas yang sesuai, kita akan lebih termotivasi untuk mengerjakannya dengan lebih baik lagi, dan termotivasi untuk saling berbagi dengan yang lain.

Selain melalui tulisan blog atau website, cara lain untuk saling berbagi informasi mengenai hobi adalah melalui grup-grup di media sosial. Di grup-grup ini, semua orang bisa saling berbagi, baik pengetahuan mengenai cara melakukan (how to), tips dan trik, maupun informasi tentang kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan keterampilan mereka. Saat ini ada banyak grup media sosial yang bisa digunakan sebagai tempat berbagi, seperti Facebook, Whatsapp, BBM, dan lain-lain. Beberapa grup di media sosial yang berkaitan dengan hobi di antaranya adalah:
  1. Grup di Facebook untuk penggemar pertanian/bercocok tanam: Belajar Bareng Hidroponik (terdapat juga whatsapp group-nya), Kebun Kecil Keluarga, Rumah Hidroponik Bertha Suranto, dan lain-lain. 
  2. Grup di Facebook untuk olah raga tertentu: Bulutangkis dotcom, Satriakusuma Wushu Indonesia, dan lain-lain. 
  3. Grup di Facebook untuk para crafter: Komunitas Merajut Bandung (terdapat juga whatsapp group-nya), Hobbyist Craft Bandung, Mari Belajar Menjahit, Indonesian Knitters, Decoupage Attack, dan sebagainya. 
  4. Grup di Facebook untuk penggemar kuliner/masak-memasak: Langsung Enak, Aneka Kue dan Resep Masakan Enak, dan lain-lain.
Salah satu grup hobi di Facebook yang menarik bagi saya adalah grup Langsung Enak (LE). Di grup ini, ada di antara anggota grup yang sebelumnya tidak bisa membuat kue, akhirnya menjadi mampu membuat kue karena terinspirasi oleh kegiatan anggota-anggota yang lain di grup . Bahkan ada yang akhirnya mendapatkan penghasilan tambahan dari hobi memasak, karena terinspirasi oleh status-status yang di-posting di grup ini .

Grup FB Langsung Enak
Grup ini merupakan salah satu grup yang anggotanya cukup aktif membagikan resep-resep masakan dan tips dan trik memasak masakan tertentu. Ada kalanya mereka mengadakan pertemuan (kopi darat) di kota-kota tertentu untuk mempelajari teknik pembuatan makanan tertentu.

Grup pehobi di Bandung yang juga aktif mengadakan pelatihan bersama adalah Hobbyist Craft Bandung. Menurut Ibu Ade Fidianti yang menjadi administrator grup Hobbyist Craft Bandung, grup ini merupakan wadah para crafter Bandung dan sekitarnya untuk saling berkomunikasi, sharing ilmu, belajar bersama, berbagi info-info tentang pameran atau berbisnis produk craft. Grup Facebook yang sebelumnya bernama “Ibu-ibu Hobby Craft Bandung (IIHC Bandung)” yang dibuat pada tahun 2013 ini mewadahi berbagai hobi yang terkait dengan kerajinan tangan (craft), jadi tidak hanya satu jenis kerajinan saja.

Info kegiatan craft di grup FB Hobbyist Craft Bandung
Selain informasi internet dan media sosial, jika ada yang membutuhkan tutorial dalam bentuk video, di saluran video Youtube juga bertebaran tutorial-tutorial yang dapat kita pilih sesuai dengan kebutuhan kita. Dengan kata kunci yang tepat, kita akan diarahkan ke berbagai video yang sesuai dengan pencarian kita. Misalnya: How to learn swimming, knitting tutorial, dan lain-lain.

Keuntungan dari kemajuan teknologi ini adalah kecepatan dan jumlah informasi yang didapat dalam waktu yang cukup singkat. Selain itu, informasi yang kita terima sangat tidak terbatas, sehingga dapat dibandingkan satu sama lain dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Berbagai website, blog, dan video tutorial yang dibagikan oleh orang-orang yang senang berbagi, membuat para pehobi serasa dimanjakan dan difasilitasi untuk mengembangkan hobi mereka seluas-luasnya. Komunitas yang mendukung dan saling berbagi juga memberikan dampak positif bagi para pehobi, dan membuat mereka lebih bersemangat dalam melakukan hobi mereka.

[JALAN-JALAN] Lepaskan Stres Anda di Sini

Oleh: Agustein Okamita

Stres merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar yang dihadapi oleh manusia saat ini. Penyebab stres bisa berasal dari berbagai sumber, misalnya pekerjaan, uang, kesehatan, kekhawatiran hubungan, maupun media. Dengan begitu banyaknya sumber stres, orang mulai sulit menemukan waktu bersantai dan melepaskan diri dari stres. Ketika orang mulai mengalami stres kronis, hal itu akan mempengaruhi kesehatan fisik dan mentalnya secara negatif.

Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan hobi merupakan salah satu cara yang baik untuk mengurangi stres. Ketika mengerjakan sesuatu yang menjadi passion atau hobi, kita akan mengerjakannya dengan gembira. Kegembiraan itu membuat pikiran kita lebih segar (fresh) dan menolong untuk berpikir lebih jernih dalam menghadapi persoalan-persoalan yang muncul dalam kehidupan. Hobi dapat dilakukan sendirian maupun bersama-sama dalam sebuah kelompok atau komunitas. Melakukan kegiatan bersama-sama banyak manfaatnya, antara lain membuat kita bisa saling berbagi dengan teman-teman.

Di kota Bandung, banyak sekali komunitas yang dapat menjadi wadah bagi orang-orang untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan hobi atau passion mereka. Di antaranya adalah:

Komunitas Merajut Bandung 

Komunitas Merajut Bandung berawal dari beberapa para perajut yang berkumpul sebulan sekali untuk merajut bersama. Setiap kali berkumpul, mereka berbagi teknik merajut yang baru dan saling mengajar satu dengan yang lain. Dengan mempelajari berbagai teknik merajut, para perajut ini mengembangkan kemampuan merajut mereka dan tidak terpaku pada satu teknik merajut saja. Mereka juga menerima para perajut pemula di dalam kelompok, sehingga para pemula ini dapat belajar cara merajut dari teknik yang paling mudah untuk dikuasai. Setelah kemampuan merajut mereka semakin baik, mereka juga bisa mengajari orang lain untuk merajut.

Seiring kemajuan teknologi informasi dan media sosial, para perajut ini kemudian membuat sebuah grup di Facebook dengan nama Komunitas Merajut Bandung. Grup ini terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar merajut bersama-sama di dalam komunitas. Sekarang kelompok ini dikenal dengan nama Komunitas Merajut Bandung (KMB), sesuai dengan nama grup di Facebook tersebut. Selain membuat grup, KMB juga membuat laman (page) di Facebook untuk memberi wadah bagi para perajut yang ingin memasarkan hasil rajutan mereka secara online.

Selain melakukan kegiatan merajut bersama, Komunitas Merajut Bandung juga menyelenggarakan beberapa acara baik yang bersifat lokal maupun nasional. Beberapa acara yang sudah dilaksanakan adalah Festival Rajut Indonesia (tahun 2012) dan Festival Rajut Bandung (2013). Kedua acara ini diselenggarakan di Bandung. Di Festival Rajut tersebut para perajut dapat memamerkan dan menjual hasil-hasil karya mereka. Melalui acara ini, masyarakat umum juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan informasi mengenai kegiatan merajut. Di sana masyarakat dapat melihat bahwa merajut merupakan salah satu hobi yang positif dan yang dapat menghasilkan karya-karya yang indah dan bermanfaat.

Komunitas Merajut Bandung juga ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh para perajut sedunia, seperti WWKIP (World Wide Knitting and Crochet In Public), di mana para perajut berkumpul di tempat-tempat umum untuk merajut. Merajut adalah salah satu cara yang cukup efektif untuk stress releasing.

Jika Anda bertanya kepada para perajut, apa arti merajut bagi mereka, seperti yang dilakukan oleh Craft Yarn Council dalam #StitchAwayStress Campaign mereka, maka Anda akan mendapatkan berbagai jawaban seperti:

  • Merajut itu menenangkan 
  • Merajut memungkinkan Anda untuk menyelesaikan berbagai hal 
  • Merajut itu terapi 
  • Merajut dapat membantu Anda melalui situasi stress, trauma atau sedih 
  • Merajut membuat Anda menyadari bahwa Anda bisa mengendalikan sesuatu 
  • Merajut itu menghibur 
  • Menyenangkan untuk melihat suatu bentuk yang terjadi/muncul dan mengetahui bahwa Anda membuat kemajuan 
  • Merajut memberikan Anda sesuatu yang Anda dapat kendalikan 
  • dan lain-lain. 

Contoh Rajutan. Foto koleksi pribadi penulis
Sebagai tambahan, kegiatan merajut bersama memotivasi setiap perajut untuk menyelesaikan proyek-proyek rajutan mereka dan belajar teknik merajut yang tidak mereka kuasai sebelumnya, dibandingkan ketika kegiatan merajut dilakukan seorang diri. Selain itu, sambil berkumpul bersama untuk menyalurkan hobi dan passion, para perajut juga bisa berbagi kegembiraan dan --untuk sementara-- bisa mengambil jarak dengan berbagai persoalan kehidupan. Setelah berhasil mengambil jarak dari persoalan mereka, mereka diharapkan dapat melihat persoalan hidup dengan cara pandang yang lebih baik yang berdampak pada menurunnya tingkat stres mereka.

Jendela Ide

Jendela Ide adalah wadah berkumpulnya berbagai komunitas yang mayoritas anggotanya terdiri atas anak-anak dan remaja, untuk menyalurkan hobi, bakat, dan passion mereka. Di Jendela Ide, mereka belajar bermain musik, bernyanyi, melukis, craft, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Selain berkegiatan, anak-anak juga berinteraksi satu sama lain. Dalam mempelajari berbagai hal di Jendela Ide, anak-anak didampingi olehbeberapa orang dewasa yang berperan sebagai fasilitator.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Jendela Ide memang berfokus pada anak-anak dan remaja. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain visual art, body movement, musik, dan lain-lain. Selain menyelenggarakan kegiatan rutin, Jendela Ide juga mengikutsertakan anggotanya untuk tampil dalam berbagai acara, salah satunya di Festival Anti Korupsi yang diselenggarakan di Bandung pada bulan Desember 2015. Pada acara yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, Jendela Ide berpartisipasi dengan mengikutsertakan Suara Anak. Suara Anak adalah sekumpulan anak yang menciptakan dan menyanyikan beberapa lagu ciptaan mereka sendiri. Dalam menciptakan lagu dan berlatih menyanyi, mereka didampingi oleh para fasilitator Jendela Ide.

Suara Anak Jendela Ide di Festival Hutan 2015 THR Juanda Bandung
Foto: koleksi pribadi penulis
Jendela Ide memiliki misi menjadi ruang bagi dialog antar pemuda dari berbagai latar belakang ekonomi, sosial, budaya dan politik, demikian juga anak-anak dengan kebutuhan khusus. Mereka berorientasi pada pribadi manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Jendela Ide berusaha agar anak dan remaja dapat menggunakan kemampuan mereka dan mengembangkan informasi yang diterima, sehingga informasi yang tidak hanya 'dikenal', tapi menjadi sesuatu yang dipelajari, mempertanyakan, dan dapat menjadi bahan untuk hidup mereka untuk memahami secara kritis. Selain itu mereka juga memberikan kesempatan untuk mengambil peran aktif dalam menentukan nilai-nilai dalam kehidupan mereka.

Jendela Ide memang tidak secara spesifik mencantumkan stress releasing sebagai tujuan dari komunitas mereka. Akan tetapi setiap kegiatan yang dilakukan di Jendela Ide dapat memunculkan kegembiraan sehingga diharapkan dapat mengurangi tingkat stress. Kegiatan di Jendela Ide memberi ruang kepada anak-anak dan remaja untuk mengekspresikan dirinya dan untuk belajar menemukan cara-cara yang sesuai bagi dirinya untuk bergembira dan mengurangi tekanan-tekanan dalam hidup.

Tempat-tempat untuk Membantu Melepaskan Stress 

Di kota Bandung juga banyak tempat yang dibuat sebagai sarana untuk mengurangi stress. Dua di antaranya adalah HanAra Wellbeing Center dan Yoga Leaf. HanAra Well-being Center yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto 68 Bandung ini menawarkan berbagai program yang efektif untuk membantu membersihkan meridian tubuh dari setiap penghalang sehingga memungkinkan kehidupan energi (Chi) untuk bebas mengalir. The HanARa Way adalah proses yang sederhana dan dapat diverifikasi dirancang untuk mengisi ulang energi kehidupan tubuh, yang jika dilakukan setiap hari akan mengaktifkan kembali kecerdasan tubuh bawaan kita di penyembuhan diri yang berkelanjutan. 

Masyarakat umumnya mengenal yoga sebagai aktivitas latihan utama asana (postur) yang merupakan bagian dari hatta yoga. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif, biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan, olah tubuh dan meditasi, yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun. Selain manfaat-manfaat di atas, yoga juga dapat membantu untuk melepaskan stress. Di Yoga Leaf, kita bisa mempelajari teknik-teknik dan gerakan yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh fisik dan teknik – teknik pernapasan dan meditasi yang dapat memberikan ketenangan pikiran.

Selain tempat-tempat yang disebutkan di atas, ada banyak pilihan tempat yang dapat membantu mengurangi kondisi stres yang Anda alami. Demikian juga, terdapat sangat banyak komunitas di Kota Bandung yang bermanfaat untuk menyalurkan hobi dan secara tidak langsung membantu untuk mengurangi stres, di antaranya komunitas olah raga bela diri, komunitas olah raga bersepeda, komunitas yoga, komunitas pencinta bunga, dan lain-lain. Kita bisa mencari dan memilih untuk ikut dalam komunitas yang sesuai dengan hobi kita, atau membuat komunitas sendiri bersama orang-orang yang dekat dengan kita.


***

[MEDIA] Media Internet dan Parenting

Oleh: Agustein Okamita

Di era internet ini, banyak kemudahan yang kita dapatkan dalam mengakses informasi. Kita bisa memperoleh informasi hanya dengan mengklik mouse di komputer atau menggeser jari di smartphone/tablet yang terhubung dengan internet. Mulai dari resep masakan sampai persoalan politik, semua ada di dalam genggaman kita.

Dunia parenting saat ini juga tidak bisa dilepaskan dari internet. Sebelum era internet, media yang menyajikan informasi tentang keluarga dan parenting masih sangat terbatas. Salah satu contoh media yang saya ingat adalah majalah Ayah Bunda, yang terbit sekitar tahun 1980-anLalu ketika era tabloid dimulai pada akhir tahun 1990-an, mulai muncul beberapa media yang membahas parenting di antaranya adalah tabloid Nakita, Mom and Kiddie, dan lain-lain. Ada juga beberapa majalah lain yang di dalamnya terdapat rubrik keluarga, tetapi tidak selalu berfokus pada tumbuh kembang anak.



Majalah Ayah Bunda.
Sumber: http://www.bimbingan.org/referensi-pilih-majalah-parenting-atau-ayah-bunda.htm
Internet memungkinkan kita untuk memperoleh lebih banyak informasi mengenai parenting. Jika informasi yang kita dapatkan dari media cetak masih terbatas, maka kita bisa mendapatkan informasi yang tidak terbatas dari media online. Ada banyak media cetak tentang parenting yang juga membuat website, agar informasi yang mereka berikan bisa diakses oleh lebih banyak orang. Media online berbahasa Indonesia yang membahas tentang parenting di antaranya Ayahbundatabloid Nakita, dan tabloid Parenting. Ada juga beberapa website atau blog pribadi yang membagikan hal-hal yang berkenaan dengan parenting dan keluarga, misalnya Rumah InspirasiParenting Ayah Edy, dan lain-lain. Jika informasi yang kita butuhkan tidak ada di media-media tersebut, kita bisa mencarinya dengan berbagai mesin pencari (search engine) seperti Google, Bing, Yahoo, dan lain-lain. Kita hanya perlu memasukkan beberapa kata kunci sesuai dengan kebutuhan kita, misalnya ‘potensi dan kecerdasan anak’, ‘penanganan anak autis’, ‘anak dan gadget’, ‘memilih bacaan anak’, dan sebagainya.


http://microsite.tabloid-nakita.com/newsletter/


Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan sebagai orang tua yang melek internet. Informasi-informasi yang terkait dengan parenting seperti pendidikan anak, kesehatan fisik dan emosi anak, pemanfaatan gadget, dan masalah-masalah yang terkait dengan tumbuh-kembang anak, semua bisa kita dapatkan di internet.  Di kota besar, orang tua dengan tingkat kesibukan yang cukup tinggi dan waktu yang terbatas tetap bisa mendapatkan informasi yang berkaitan dengan parenting melalui internet. Seminar-seminar tentang parenting yang dulu harus dihadiri secara fisik, sekarang bisa diadakan secara online. Dengan demikian para orang tua maupun pendidik bisa mengikutinya dari tempat mereka masing-masing tanpa terkendala oleh waktu dan lokasi.

Keuntungan lainnya dari kemajuan teknologi informasi ini adalah pengetahuan dan wawasan tentang parenting yang semakin kaya. Dulu orang tua kita mungkin belajar mengenai parenting hanya dari orang tua mereka atau orang-orang tertentu. Pengetahuan mereka tentang parenting terbatas karena informasi yang mereka peroleh saat itu juga terbatas. Cara mereka membesarkan anak dan mengatasi berbagai persoalan tentang anak-anak dibatasi oleh informasi yang mereka dapatkan saat itu. Dengan adanya internetorang tua bisa mendapatkan banyak wawasan dan berbagai pengetahuan yang lebih luas tentang cara membesarkan anak-anak mereka.

Internet tidak hanya memberikan informasi tentang parenting. Internet juga menjadi wadah para orang tua untuk saling berbagi berbagai masalah tentang parenting. Di media sosial , misalnya Facebook, beberapa orang yang peduli tentang pengasuhan anak membentuk forum atau grup sebagai tempat sharing pengetahuan dan isu terkini tentang parenting. Keanggotaan forum tersebut bisa bersifat umum atau terbatas. Jika forum atau grup itu bersifat umum, semua orang bisa bergabung sebagai member dari grup itu. Jika keanggotaan bersifat terbatas, berarti grup atau forum tersebut hanya menerima anggota dari golongan tertentu. Beberapa contoh grup di Facebook yang berfokus pada parenting dan pendidikan anak secara umum antara lain Komunitas Charlotte Mason IndonesiaIndonesia Homeschoolers, dan lain-lain.

Setelah menjadi member, kita bisa mendapatkan informasi hanya dengan menggeserkan jari di smartphone atau mouse di komputer. Para member di grup bisa membagikan masalah mereka tentang perkembangan anak, lalu member lain bisa menanggapi, memberi masukan, atau bantuan solusi terhadap masalah tersebut. Selain itu, setiap orang di dalam grup juga bisa membagikan informasi mengenai isu-isu yang terkait dengan parenting dan tumbuh kembang anak.

Mari simak diskusi di salah satu grup di media sosial:
“... Bu Ibu, anak saya umurnya 3 tahun, tapi sampai saat ini masih belum bisa bicara. Sudah saya bawa ke terapis A di Jalan T, dan sudah diterapi 3 kali, tapi masih belum ada kemajuan. Ada yang bisa kasih saran?” (Ibu N di kota J)

“Saya membawa anak saya ke pusat terapi anak B di kota saya. Pelayanannya bagus dan orang tua juga diajari untuk menerapi anak sendiri. Alhamdulillah, sekarang sudah ada kemajuan meskipun masih satu dua kata yang keluar dari mulutnya.” (Ibu R di kota K)

 “Jeng @N, coba bawa ke dokter C di klinik X di Jalan W. Tahun lalu saya membawa anak saya ke sana dan setelah beberapa kali penanganan, sekarang anak saya sudah mulai lancar ngomong...” (Ibu P di kota J).

Dari obrolan di atas kita bisa melihat bagaimana para orang tua mendapatkan informasi dan masukan dari orang tua lain yang ada di grup tersebut. Solusi bagi persoalan mereka tidak hanya satu, tetapi ada banyak alternatif solusi yang bisa mereka pilih dengan adanya media sosial tersebut.
Selain menambah informasi dan wawasan tentang isu-isu yang berhubungan dengan parenting, para anggota grup tersebut merasakan manfaat lain, yaitu dukungan moral dan ikatan emosi yang lebih kuat di antara sesama orang tua yang memiliki persoalan yang sama. Mereka tidak lagi merasa sendirian dalam menanggung beban persoalan, karena ternyata di tempat-tempat lain ada juga para orang tua yang memiliki beban yang sama.

Di sisi lain kita juga perlu mewaspadai dampak negatif internet terhadap parenting. Dengan begitu banyak situs yang bertebaran di dunia maya, tidak tertutup kemungkinan bahwa orang tua menjadi bingung memilih tips yang tepat bagi anak-anak mereka. Jika salah memilih, anak-anak justru bisa menjadi korban.

Sebagaimana di dunia nyata, di media sosial online kita juga dihadapkan dengan cermin sosial. Ketika menjadi anggota suatu grup media sosial tertentu, penilaian dan pandangan dari anggota-anggota di dalam kelompok/grup media sosial mungkin menjadi salah satu tolok ukur bagi kita untuk bersikap atau bertindak. Terkadang untuk memutuskan sesuatu bagi anak-anaknya, bisa jadi orang tua tidak ingin terlihat berbeda dari kelompoknya. Akibatnya mereka tidak lagi menjadi dirinya sendiri atau tidak bisa memutuskan apa yang baik menurut mereka bagi anak-anak mereka. Padahal tuntutan atau penilaian anggota grup belum tentu sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut atau kebutuhan anak-anak kita.

Untuk itu, mungkin tips-tips berikut bisa menolong kita agar lebih bijaksana dalam memanfaatkan internet untuk melakukan parenting.

  1. Utamakan nilai-nilai yang kita pegang. Setiap informasi yang kita dapatkan, baik dari situs-situs online maupun media sosial, perlu dibandingkan dengan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga kita. Jika hal itu tidak bertentangan, kita bisa menerapkannya bagi anak-anak kita. Tetapi, kalau itu tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga kita, tentu saja kita tidak perlu menerimanya.
  2. Konsultasikan setiap saran atau informasi di dunia maya dengan pendapat para ahli atau pihak yang cukup mengenal anak-anak kita. Contoh: Untuk masalah kesehatan anak-anak, kita perlu tetap berkonsultasi dengan dokter yang cukup mengenal anak-anak kita atau yang selama ini menangani anak-anak kita, sebelum memutuskan memberi obat atau penanganan yang terbaik bagi mereka.
  3. Tetap berinteraksi dengan orang-orang di dunia nyata. Dunia maya memang tempat yang menarik dan memberikan banyak kesenangan, tetapi orang-orang di sekitar kita adalah keluarga nyata kita dan kita tetap perlu bersosialisasi dengan mereka. Jika perlu membangun komunitas dunia maya, sebaiknya tetap ada interaksi dengan mereka di dunia nyata.

Penutup
Seorang anak membutuhkan dukungan penuh agar bisa bertumbuh secara optimal. Proses mendukung pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sejak bayi sampai menjadi seorang dewasa dikenal dengan istilah parenting.[1]

... It takes a whole village to raise a child (Dibutuhkan seisi desa untuk membesarkan seorang anak)...  African Proverb.

Menurut pepatah di atas, tidak hanya orang tua yang bertanggung jawab dalam membesarkan seorang anak. Dibutuhkan seisi kampung/desa agar seorang anak bisa bertumbuh secara optimal. Setiap orang di dalam sebuah desa berkontribusi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sampai ia menjadi seorang dewasa.


Sumber: http://www.bincangedukasi.com/menanti-ayah-bunda/
Konsep keluarga saat ini sudah mengalami banyak perubahan. Pada masa lalu, satu keluarga terdiri atas ayah, ibu, anak, paman, bibi, kakek, nenek, dan sepupu-sepupu. Mungkin saja di satu desa, seluruh warganya merupakan satu keluarga. Keluarga seperti ini disebut keluarga besar. Dulu ada banyak pihak di dalam keluarga besar yang ikut andil dalam membesarkan anak-anak.

Di zaman sekarang ini, hal itu masih bisa dilakukan dengan adanya internet. Kita bisa mendapatkan informasi dan memperkaya pengetahuan kita tentang parenting melalui internet. Kita juga bisa saling berbagi cara membesarkan anak dengan orang tua-orang tua lain di media sosial online.  Sebagai orang tua, mari kita manfaatkan internet sebaik-baiknya, agar anak-anak kita bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. 

***

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Parenting

[MEDIA] The Pursuit of Happyness - Kehadiran Seorang Ayah

Perjuangan Hidup
Chris Gardner adalah seorang bapak yang memiliki seorang anak, mereka tinggal di San Fransisco, USA. Sehari-hari, Chris berprofesi sebagai penjual alat kesehatan. Isteri Chris, Linda, bekerja sebagai pelayan di sebuah hotel. Kehidupan keluarga ini cukup sederhana. Mereka tinggal di sebuah rumah sewaan bersama anak laki-laki mereka, Christopher.

Sumber gambar: https://cronk3rdhoureng12.wikispaces.com/Pursuit+of+Happyness
Chris menjual portable bone-density scannersatau alat pemindai kerapatan tulang. Alat tersebut memberikan hasil yang sedikit lebih baik daripada x-ray scanners, tetapi harganya lebih mahal dua kali lipat. Penjualan alat ini tidak selalu berjalan mulus karena harganya yang mahal. Selain itu, banyak rumah sakit dan dokter merasa tidak memerlukan alat seperti itu.

Penghasilan Chris tidak menentu karena bergantung pada keberhasilannya menjual scanner itu. Jika bisa menjual dua buah alat dalam satu bulan, penghasilan Chris cukup untuk membayar sewa rumah dan pajak. Tetapi tak jarang juga Chris tidak bisa menjual satu alat pun.

Suatu hari, ketika sedang berjalan menuju sebuah rumah sakit untuk menawarkan alat kesehatan, Chris bertemu dengan Jay Twistle. Pertemuan itu memberi kesempatan pada Chris untuk bertanya tentang pekerjaan Jay. Jay adalah salah seorang stockbroker (makelar saham) di perusahaan Dean Witter. Ketika perusahaan itu membuka kesempatan untuk mengikuti pelatihan menjadi stockbroker di sana, Chris mengirimkan lamaran. Ia mendapat panggilan untuk wawancara dengan para direkturnya. Akan tetapi, sebelum tiba hari wawancara, Chris mengalami persoalan berat. Polisi mendatangi rumahnya dan menangkapnya.

Peristiwa itu terjadi saat Chris akan menawarkan alat pemindai di sebuah rumah sakit. Rumah sakit itu tidak memiliki tempat parkir, sehingga Chris memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Karena parkir di tempat yang salah, Chris harus membayar denda. Chris tidak bisa membayar denda, sehingga polisi menangkap dan menjebloskannya ke dalam penjara. Dia harus menginap di penjara selama beberapa hari, dan keluar pada hari dia akan diwawancara oleh para direktur perusahaan saham itu. Dia datang ke tempat wawancara dengan mengenakan pakaian yang dikenakannya saat ia ditangkap oleh polisi.

Chris lulus wawancara dan ditawari untuk ikut dalam pelatihan stockbroker  yang diadakan oleh perusahaan Dean Witter. Pelatihan itu gratis, tetapi dia tidak dibayar sepeser pun. Karena tidak digaji selama masa training yang berlangsung enam bulan, awalnya Chris menolak untuk ikut pelatihan itu. Akhirnya ia bersedia untuk ikut, setelah Jay membujuknya.

Ketidakpastian penghasilan Chris dan tuntutan kehidupan membuat isterinya merasa kepahitan. Linda sering mengeluh dan marah kepada Chris, yang dianggapnya tidak mampu memberi nafkah bagi keluarga mereka. Pada suatu hari, Linda berkata bahwa ia akan meninggalkan Chris dan pindah ke New York untuk bekerja di restoran kakaknya. Chris mengizinkan Linda pergi, tetapi meminta Linda membolehkannya untuk mengasuh anak mereka. Linda sepakat bahwa Chris yang akan merawat Christopher, lalu ia pergi meninggalkan suami dan anaknya.

Sambil mengikuti pelatihan untuk menjadi stockbroker, Chris tetap harus menjual alat kesehatannya, agar dia dan anaknya tetap bisa makan. Kehidupan memang tidak selalu berjalan lancar. Pada suatu waktu, Chris dan anaknya terpaksa meninggalkan rumah sewaan karena pemilik rumah mengusirnya. Mereka diusir karena Chris tidak membayar uang sewa selama beberapa bulan.

Karena tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar sewa rumah, mereka terpaksa menjadi tuna wisma. Mereka harus pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap hari, sambil membawa barang-barang milik mereka. Kadang-kadang mereka harus menginap di stasiun atau di tempat-tempat yang dirasa aman. Setelah berpindah-pindah tempat, akhirnya mereka bisa tinggal di barak-barak penampungan yang disediakan oleh sebuah gereja untuk para tuna wisma. Ini cukup melegakan, meskipun untuk mendapatkan tempat penginapan itu mereka harus antri dalam barisan yang panjang.

Titik balik
Chris Gardner bukanlah seorang yang bodoh. Ketika remaja, dia dijuluki oleh teman-temannya sebagai ‘ten-gallons head’ (orang yang kepalanya berisi), karena pintar. Di kelasnya dia selalu berada di peringkat pertama sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah. Chris pernah berpikir bahwa kepintarannya dapat membawanya ke mana saja dia mau. Dia berpikir bahwa dunia akan berpihak padanya kalau dia cerdas. Tetapi kenyataan yang terjadi tidaklah demikian.

Chris tidak pernah memberitahukan masalah keuangannya kepada teman-temannya, sehingga mereka tidak tahu bahwa Chris hidup berpindah-pindah. Meskipun menjadi tuna wisma, Chris tetap bekerja dan belajar dengan giat. Setelah mengikuti ujian, Chris dinyatakan lulus dan diterima bekerja sebagai stockbroker di Dean Witter. Sejak saat itu kehidupannya mulai membaik.

Ayah yang hadir
Film “Pursuit of Happyness” diambil dari sekelumit kisah nyata kehidupan Chris Gardner. Film ini menceritakan peristiwa ketika Chris mengalami masalah keuangan dan bahkan pernah menjadi tuna wisma, yang berlangsung kurang lebih selama satu tahun.

sumber gambar: www.popmatters.com
Hal yang menarik dari kehidupan Chris Gardner ini adalah, dia sangat memperhatikan anaknya dan selalu ada untuknya. Kehadirannya sebagai ayah terlihat dalam kesehariannya. Setiap pagi sebelum memulai pekerjaannya, Chris mengantar anaknya ke sekolah yang sekaligus menjadi tempat penitipan anak. Setelah mengantar Christopher, baru Chris memulai aktivitasnya pada hari itu. Sepulang dari bekerja, Chris menjemput anaknya dari tempat penitipan, dan mereka bersama-sama pulang ke rumah. Kadang-kadang mereka berjalan-jalan di taman bersama-sama dan menikmati kebersamaan mereka.

Chris Gardner pertama kali bertemu dengan ayah kandungnya pada usia 28 tahun. Pengalaman masa kanak-kanak yang sulit karena ayah tirinya membuat Chris berjanji untuk tidak meninggalkan anak-anaknya. Dia pernah bertekad, jika ia memiliki anak-anak, maka anak-anaknya harus mengenal siapa ayahnya dan mengetahui bahwa ayah tidak pernah meninggalkan mereka.[i]

Meskipun tidak mengenal figur seorang ayah yang baik ketika kanak-kanak, Chris tetap bertekad menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya. Selama masa-masa yang berat dalam kehidupannya dan ketika menjadi tuna wisma, tidak pernah sekali pun Chris meninggalkan anaknya. Meskipun harus berpindah-pindah tempat berteduh setiap hari, Christopher tetap ikut bersamanya.

Saat ini Chris Gardner adalah CEO dari perusahaan brokerage (penjualan saham) Gardner Rich & Co di Chicago, yang berbasis di Illinois, USA. Chris juga berprofesi sebagai seorang entrepreneur, stockbroker, dan motivator. Chris Gardner adalah dermawan yang mensponsori banyak organisasi amal, terutama Program Cara dan United Methodist Church Glide Memorial di San Francisco, di mana ia dan anaknya diterima pada saat sangat membutuhkan tempat berlindung. Chris membantu pembangunan rumah-rumah sederhana bagi orang-orang berpenghasilan rendah dan membuka kesempatan pekerjaan bagi orang-orang di San Fransisco, tempat dia pernah menjadi seorang tuna wisma. [ii]



[i] http://www.chrisgardnermedia.com/chris-gardner-biography.html
[ii] http://en.wikipedia.org/wiki/Chris_Gardner



[TIPS] Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga

Kenaikan harga bahan bakar minyak beberapa waktu ini membuat harga-harga semakin melambung. Hampir semua orang merasakan akibat dari kenaikan harga-harga itu. Para ibu rumah tangga berteriak, “Bagaimana kami bisa membeli bahan-bahan makanan yang semakin mahal?” Bapak-bapak mengeluh karena beban mereka semakin berat oleh kenaikan biaya hidup. Banyak anak yang terpaksa berhenti bersekolah karena keuangan orang tua mereka hanya cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Penambahan penghasilan yang tidak signifikan terhadap kenaikan harga membuat persoalan keluarga semakin bertambah rumit.
Sebagian orang berusaha untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar agar kebutuhan mereka bisa tercukupi. Mereka mencari pekerjaan tambahan atau membuat usaha bisnis untuk menaikkan pendapatan. Ada kalanya usaha mereka berhasil, tapi tidak sedikit pula yang gagal. Ketika usaha-usaha untuk memperbaiki situasi tersebut tidak berhasil, banyak orang yang marah dan mengutuk keadaan. Tidak sedikit keluarga yang cekcok dan pecah karena persoalan keuangan rumah tangga yang berlarut-larut. Bahkan ada orang-orang yang stres dan depresi karena tidak bisa mengatasi masalah keuangannya.
Solusi lain untuk mengatasi persoalan keuangan adalah dengan melakukan pengelolaan keuangan. Uang yang ada dikelola atau diatur pengeluarannya, sehingga diharapkan dapat mencukupi semua kebutuhan hidup. Tidak tertutup kemungkinan bahwa dengan pengaturan yang benar akan ada kelebihan uang yang bisa ditabung atau dijadikan modal kerja.
Peran Ibu dalam Pengelolaan Keuangan
Peran ibu-ibu dalam pengelolaan keuangan keluarga sangat signifikan. Memang ada sebagian suami-isteri yang menyepakati bahwa keuangan keluarga mereka diatur oleh ayah, dan ada juga yang sepakat untuk masing-masing pihak mengelola keuangan sendiri. Akan tetapi, sebagian besar keluarga biasanya menyerahkan pengaturan keuangan kepada ibu.
Pengelolaan keuangan merupakan salah satu kecakapan yang perlu dikuasai oleh para ibu agar kelangsungan hidup keluarga mereka dapat terus berjalan. Meskipun demikian, sebagian besar ibu tidak secara khusus mendapat bekal keterampilan untuk mengatur keuangan keluarga, mereka mungkin belajar dari pengalaman orang tua atau teman-teman mereka. Sebagian di antara mereka belajar secara otodidak dengan trial and error setelah berumah tangga beberapa waktu lamanya. Hanya sebagian kecil yang secara khusus mempelajari keterampilan pengelolaan keuangan rumah tangga.
Sebelum berkeluarga saya tidak menganggap pengelolaan keuangan sebagai suatu hal yang mendesak untuk dilakukan. Keuangan saya terlihat baik-baik saja, saya tidak pernah merasa kurang, dan saya masih bisa membeli barang-barang yang saya inginkan. Setelah berkeluarga dan memiliki anak-anak saya baru merasakan perlunya pengelolaan keuangan.
 Tips-tips dalam Mengelola Keuangan
Ada banyak tips yang pernah saya dapatkan tentang pengelolaan keuangan keluarga, baik dari seminar-seminar, internet, maupun dari teman-teman yang berbagi tentang pengaturan keuangan. Mungkin kita sudah pernah mendengar atau mempraktekkan sebagian dari tips-tips tersebut. Beberapa tips yang bisa dicoba untuk dipraktekkan adalah sebagai berikut:
1.      Catat dan evaluasi pengeluaran setiap hari selama satu bulan terakhir
Mungkin kita tidak menyadari bahwa selama ini kita sudah menggunakan sebagian besar uang untuk memuaskan keinginan ketimbang memenuhi kebutuhan. Untuk itu kita perlu mengevaluasi berapa banyak uang yang kita belanjakan untuk memenuhi kebutuhan dan berapa banyak yang kita gunakan untuk memuaskan keinginan kita.
Hal ini bisa kita lakukan dengan mencatat secara rinci semua pengeluaran setiap hari selama sebulan dalam sebuah buku atau catatan digital. Pada bagian kanan catatan bisa ditambahkan kolom bertuliskan “kebutuhan/keinginan”. Setelah semua pengeluaran selesai dicatat, jumlahkan semua pengeluaran yang bersifat kebutuhan dan pengeluaran yang bersifat keinginan secara terpisah. Periksalah hal-hal apa saja yang merupakan keinginan, dan berapa pengeluaran kita untuk hal itu. Lakukan tindakan yang sama untuk barang-barang/hal-hal yang bersifat kebutuhan. Tuliskan kesimpulan dari pengeluaran tersebut di akhir catatan pengeluaran bulan itu.
Contoh Tabel Catatan Pengeluaran Keuangan
Setelah mencatat semua pengeluaran yang dilakukan, tuliskan di bagian bawah catatan tersebut:Gambar 1. Contoh tabel catatan pengeluaran setiap hari
  • a.      Jenis pengeluaran yang bisa dihilangkan, misalnya: rokok
  • b.      Jenis pengeluaran yang bisa dikurangi, misalnya: makan/minum di kafe
  • c.       Jenis pengeluaran yang bisa diganti dengan alternatif lain, misalnya: minuman soda diganti dengan air putih

Lakukan catatan itu untuk pengeluaran yang bersifat keinginan maupun yang bersifat kebutuhan.  Anda bisa menambahkan komentar/catatan di bawah bagian tersebut dengan tulisan “Dengan menghilangkan atau mengurangi pengeluaran ini aku bisa menghemat sebesar Rp …. / bulan atau Rp …. / tahun.”
2.      Usahakan dan pertahankan kualitas hidup yang baik
Kualitas hidup yang baik merupakan impian setiap orang. Hal itu bisa saja berupa kesehatan jasmani dan rohani, pendidikan yang cukup, kebahagiaan keluarga, dan lain-lain.
Ketika mulai bekerja dan punya penghasilan sendiri, saya mulai membeli pakaian, sepatu, pembersih, dan lain-lain, yang bermerek tertentu dan harganya lebih mahal daripada yang biasa saya beli. Saya mulai sering makan di luar, dan lebih memilih daging untuk lauk pauk daripada tahu, tempe, dan sayuran. Saya berpikir dengan melakukan semua itu maka kualitas hidup saya akan lebih baik.
Sebenarnya kita dapat mencapai kualitas hidup yang baik tanpa harus mengeluarkan uang berlebih. Misalnya dalam hal makanan, mungkin sekali-sekali kita boleh makan daging, tetapi dengan mengonsumsi tahu dan tempe kita tetap bisa mendapatkan asupan protein yang cukup dengan harga murah. Jika memasak makanan di rumah, kita mungkin bisa melibatkan anggota keluarga yang lain untuk ikut ambil bagian. Kegiatan memasak bersama dapat memperkuat ikatan emosional antar anggota keluarga, yang berarti juga meningkatkan kualitas hidup. Kita bisa mencari cara-cara yang lebih kreatif dalam melakukan kegiatan lainnya dengan meminimalkan keterlibatan uang di dalamnya.
Gambar 2. Memasak bersama, mempererat ikatan emosi anggota keluarga
foto: dokumen penulis

Di sisi lain, penghematan juga tidak berarti kita harus menurunkan kualitas hidup kita. Jika dengan tujuan berhemat akhirnya kita hanya mengonsumsi mi instan setiap hari, tentu saja hal itu tidak akan membuat kualitas hidup kita lebih baik. Makanan seperti mi instan biasanya dibubuhi pengawet agar tahan lebih lama dan tidak cepat membusuk dalam penyimpanan. Pengawet dan zat aditif berbahaya yang ada dalam makanan berkemasan justru akan mengganggu kesehatan kita. Pada akhirnya bukan hanya kualitas hidup kita yang akan menurun, kita juga akan mengeluarkan lebih banyak biaya untuk pengobatan jika kita jatuh sakit.
3.      Lakukan perencanaan keuangan jangka panjang
Perencanaan keuangan jangka pendek mencakup perencanaan untuk sebulan atau beberapa bulan ke depan, misalnya biaya sekolah anak setiap bulan atau semester. Perencanaan jangka panjang bisa berupa tabungan untuk membeli rumah atau kendaraan, tabungan pensiun, tabungan untuk biaya kuliah anak, asuransi kesehatan/jiwa, dan lain-lain. Jika  pemasukan kita berasal dari penghasilan yang diterima sebulan sekali, kita bisa merencanakan berapa uang yang akan kita sisihkan setiap bulan. Jika sesekali kita mendapatkan uang berlebih, sebaiknya kita sisihkan sebagian besar uang tersebut untuk menambah jumlah tabungan kita.
Kita juga bisa menabung atau berinvestasi dalam bentuk surat berharga/saham, tanah, emas, dan lain-lain, yang dapat dijual kembali pada saat kita membutuhkan. Pilihlah investasi yang memiliki nilai jual cenderung meningkat pada masa yang akan datang.
Perencanaan seperti ini membutuhkan tekad dan disiplin. No pain no gain bisa menjadi prinsip kita. Kita mungkin harus sangat berhemat dan membatasi pengeluaran-pengeluaran lain yang kurang penting.
4.      Berbagi dengan yang lain
Jika kita bisa mengurangi pengeluaran untuk hal-hal yang tidak merupakan kebutuhan, ada kemungkinan kita bisa menabung dalam jumlah tertentu. Bagaimana jika kita mengalokasikan sebagian dari uang itu untuk membantu orang lain?
Ada beberapa teman yang mengalokasikan sebagian penghasilannya untuk membangun organisasi sosial kemasyarakatan yang bergerak dalam peningkatan kualitas orang-orang muda dan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Ada juga teman lain yang membantu yayasan sosial yang melayani anak-anak di daerah-daerah pedalaman. Sebenarnya yang menjadi persoalan bukan berapa besar bantuan yang kita berikan, tetapi dengan pemberian itu kita belajar tentang kepedulian sosial dan berempati terhadap masalah orang lain.
5.      Belajar untuk merasa cukup
Menurut definisi www.thefreedictionary.com, rasa cukup (contentment) adalah rasa puas dan bahagia dengan apa yang ada. Rasa cukup bukanlah perasaan yang kita dapatkan ketika semua kebutuhan kita sudah terpenuhi. Ketika semua sudah kita dapatkan, bisa saja kita masih merasa kekurangan dan tidak pernah puas.
Banyak di antara kita yang merasa kuatir akan kekurangan, meskipun sebenarnya semua kebutuhan kita sudah tercukupi. Akhirnya kita berusaha untuk bekerja lebih keras agar uang terus mengalir ke dalam pundi-pundi kita. Mungkin itu membuat kita mendapatkan lebih banyak uang, tetapi seringkali mengorbankan banyak hal yang lebih berharga, seperti waktu untuk keluarga, kesehatan fisik maupun mental, atau kesempatan untuk menikmati semua yang sudah dikaruniakan kepada kita. Perasaan tidak cukup inilah yang membuat kita selalu kuatir dan tidak bahagia.
Hal lain yang berkaitan dengan rasa cukup adalah pilihan gaya hidup. Kita bisa memilih untuk hidup sederhana atau ikut dalam arus trend sekarang. Ada beberapa orang yang memilih berpenampilan sederhana dan tidak berlebihan. Mereka tidak memaksakan diri untuk membeli barang-barang mewah atau gadget terbaru jika tidak dibutuhkan, meskipun sebenarnya mampu untuk membelinya. Ada keluarga yang mengambil langkah yang kurang populer seperti mendidik sendiri anak-anaknya di rumah (homeschooling) atau menyekolahkannya di sekolah yang biasa-biasa saja, sementara keluarga yang lain berlomba-lomba memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang bergengsi dan mahal.  Beberapa ibu memilih memasak makanan di rumah dan mengonsumsi makanan yang sederhana tetapi lengkap kebutuhan gizinya daripada makan di luar yang belum tentu terjamin kebersihan apalagi kandungan nutrisinya.
Rasa cukup terkait dengan rasa syukur. Ketika kita bisa mengucap syukur dengan apa yang ada, kita akan merasa bahagia dengan apa yang ada. Kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh banyaknya uang atau harta yang kita miliki, tetapi karena kita bisa menikmati semua yang dianugerahkan kepada kita.
Penutup
Sebagaimana keterampilan-keterampilan lainnya, kemampuan dalam pengelolaan uang sangat menolong para ibu untuk mendukung kelangsungan hidup keluarganya. Kecakapan dalam mengatur keuangan sangat membantu dalam perencanaan kehidupan keluarga jangka pendek maupun jangka panjang, bahkan menghindarkan keluarga dari berbagai masalah yang berhubungan dengan uang.
Ada orang yang berpenghasilan tidak besar, tetapi karena mampu mengatur keuangan dan mengelola hidupnya dengan baik, mereka dapat hidup dengan kecukupan. Beberapa orang bisa menabung untuk meraih impian dan cita-cita, bahkan melakukan sesuatu yang memberi manfaat bagi orang lain. Di pihak lain, ada juga orang-orang yang berpenghasilan besar dan terlihat mewah kehidupannya, tetapi akhirnya jatuh miskin atau tidak bisa menikmati harta kekayaannya, karena tidak mengatur keuangan dengan serius.
Saya sendiri juga mengalami bahwa mengelola keuangan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Mengikuti pelatihan dan seminar tentang pengelolaan keuangan belum cukup jika kita tidak mempraktekkannya. Dalam praktek pasti ada trialdan error, dan ada situasi di mana kita merasa gagal atau tidak mampu mengelola uang dengan benar. Akan tetapi ketika kita sudah semakin terlatih dan melakukannya secara disiplin, kita akan mendapatkan manfaat yang tidak sedikit.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...