[JALAN-JALAN] PELATIHAN MEMBANGUN DESA MANDIRI BERKEDAULATAN PANGAN, SEBUAH UPAYA BERBELA RASA KEPADA PETANI

Oleh : Deta Ratna Kristanti

Pada tanggal 27 Februari sd 3 Maret 2018, saya berkesempatan terlibat dalam penyelenggaraan Pelatihan Membangun Desa Mandiri Berdaulat Pangan di Desa Toto Harjo, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Insan Kreatif dan Pecinta Lingkungan (PIKPL) Semanggi dan Pengurus Wakil Cabang (PWC) Nahdhatul Ulama (NU) Lampung Timur ini mengikutsertakan 30 orang petani padi dari tiga desa di wilayah Kecamatan Purbolinggo, yaitu Desa Toto Harjo, Desa Tanjung Inten dan Desa Taman Fajar. 

Pelatihan ini bertujuan mengajak petani untuk membangun desa yang berkedaulatan pangan melalui kedaulatan lahan dan kedaulatan benih, yaitu dengan memberikan wawasan bagaimana melakukan pertanian organik, memberikan pengetahuan  tentang persilangan tanaman padi, serta mengajak para petani untuk mengelola perekonomian melalui koperasi. Pelatihan diisi oleh beberapa narasumber yang berasal dari dalam dan luar Lampung Timur. Narasumber dari luar Lampung Timur antara lain: Bapak Eka Budianta, seorang budayawan dan penulis di Majalah Trubus yang berasal dari Jakarta, Ibu Susen Suryanto, ketua PIKPL Semanggi yang berasal dari Bandung dan Bapak Arif Hidayat dari Gerakan Pemuda Pemudi Bertani yang berdomisili di Jepara. Adapun narasumber yang berasal dari Lampung Timur adalah Bapak Iskandar- seorang penyuluh pertanian, Bapak Suyatno – wirausahawan muda dan Bapak Ngadiyono, petani dan pendamping petani. Pelatihan diselenggarakan di kantor PWC NU Lampung Timur.
Foto bersama peserta dan narasumber
Sumber foto : Dokumen pribadi

Pelatihan ini dibuka tanggal 27 Februari malam oleh perwakilan Ketua PWC NU Kec Purbolinggo, Lampung Timur dan dihadiri oleh seluruh peserta dan narasumber. Pada tatap muka perdana tersebut, Pak Eka Budianta langsung memotivasi peserta untuk membuat tulisan untuk mengungkapkan perasaan, harapan serta cita-cita mereka terhadap kehidupan petani yang mereka jalani saat ini. Pak Eka mengatakan bahwa tulisan-tulisan para peserta akan dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang akan diberi judul DARI PURBOLINGGO UNTUK INDONESIA. Ajakan menulis  ini disambut baik oleh para peserta, yang kemudian mengumpulkan tulisan-tulisan mereka setiap hari kepada panitia. Hingga akhir waktu pelatihan, telah terkumpul tulisan dari 26 orang petani, dan di antara mereka ada yang membuat lebih dari satu tulisan. 
Pelatihan menulis dengan Eka Budianta
Sumber foto : Dokumen pribadi

Bapak Yatno dan Bapak Eka membuka pelatihan hari pertama dengan mengajak peserta untuk memikirkan, mengapa penting membangun desa berkedaulatan pangan. Pak Yatno sebagai putera petani kelahiran Lampung Timur mengajak rekan-rekannya untuk melihat bersama gambaran pola kehidupan perekonomian di sana. Bagaimana kebiasaan para petani menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga murah demi mendapatkan uang secara cepat. Dan ketika uang menipis, para petani membeli beras jatah raskin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hasil produksi padi berkualitas baik tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan para petani tapi malah diutamakan untuk dijual, dan petani sendiri malah makan beras yang kualitasnya jauh di bawah padi yang diproduksi.  Pak Yatno juga mengajak para petani untuk menganalisis bersama pengeluaran sehari-hari para petani, terutama untuk konsumsi barang dan biaya sosial besar yang harus dikeluarkan manakala diadakan selamatan atau hajatan di kampung.  

Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan pemantik: Apakah pola hidup tersebut mendukung atau melemahkan kedaulatan pangan?

Di sisi lain, Pak Eka membahas tentang potensi desa yang beragam. Pak Eka menggugah peserta dengan pertanyaan, apa produk terindah dari sebuah desa? Menurutnya, produk terindah dari sebuah desa adalah warga yang bahagia. Warga yang bisa hidup secara produktif dan sosial. Kampung halaman dengan segala potensinya memberi kesempatan seluas-luasnya pada warga untuk berkarir. Dengan segala kekayaan dan keragaman sumber dayanya, sebenarnya kesempatan untuk mengembangkan berbagai sektor di desa jauh lebih besar dibandingkan di kota.
 Pak Eka mengajak peserta untuk membuka pikiran, bahwa mungkin kesejahteraan dan kebahagiaan warga desa adalah ketika hidup tidak hanya berjalan linear, yaitu tergantung pada usaha pertanian padi, namun dapat juga mengembangkan usaha-usaha di bidang lainnya.

Dalam sesi ini, ibu Susen Suryanto pun turut mengajak petani untuk memperhatikan perbedaan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan suatu negara. Ketahanan pangan adalah kondisi suatu negara yang bertahan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pangan warganya. Sejauh negara tersebut memiliki uang, negara dapat memenuhi kebutuhan pangan sekalipun melalui impor. Adapun jika sebuah negara berdaulat pangan, maka negara tersebut punya daya untuk memilih, memiliki serta mengatur pemenuhan kebutuhan pangan warganya. Petani sebagai ujung tombak yang memberikan makan bangsa ini perlu memiliki kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan perlu dimulai dari kedaulatan lahan dan kedaulatan benih. Lahan yang berdaulat artinya petani dapat melepaskan ketergantungan lahan dari pupuk kimia dan mampu memilih cara bertani yang lebih sehat dan ramah lingkungan, yaitu lewat pertanian organik. Berkedaulatan benih, artinya, petani mempunyai daya untuk menghasilkan benih-benih unggul secara mandiri, yang akan menghasilkan produksi pertanian yang meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas.
Salah satu sesi pelatihan petani
Sumber foto : Dokumen pribadi

Sesi selanjutnya disampaikan oleh Pak Iskandar yaitu tentang pengenalan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman padi. Wawasan tentang hal ini perlu disampaikan kepada peserta agar petani dapat mengenali jenis-jenis hama yang menyerang tanaman padi serta penyakit yang mungkin muncul pada tanaman padi. Dengan mengenali, petani dapat melakukan pengendalian hama dan pencegahan penyakit dengan cara-cara yang tidak merusak lahan pertanian.

Topik selanjutnya adalah mengenai teknik pertanian organik, yang disampaikan oleh Ibu Susen Suryanto. Ibu Susen menyampaikan berbagai data perbandingan antara pertanian yang masih tergantung pada pupuk buatan pabrik dengan pertanian  organik, yang berdampak antara lain pada kesuburan tanah. Hal utama yang disoroti Ibu Susen dalam pertanian organik adalah persoalan penggunaan pestisida kimia. Pestisida kimia berdampak pada pemadatan tanah, erosi, penurunan kesuburan tanah dan racun pada hasil produksi yang dikonsumsi manusia. Ibu Susen menawarkan alternatif yaitu membuat pestisida alami, yang ternyata bahannya mudah didapatkan di lingkungan sekitar petani seperti urine sapi, susu segar, terasi, gula serta berbagai rempah seperti jahe, laja, kunyit, kencur, temu ireng dan brotowali. Pestisida alami ini daya kerjanya selektif, hanya mematikan jenis-jenis serangga tertentu sehingga keseimbangan alam tetap terjaga. Selain itu, pestisida alami tidak menimbulkan kekebalan pada serangga hama seperti yang terjadi jika petani menggunakan pupuk kimia buatan. Selain itu, akibat pencemaran tanah, air dan udara dari penggunaan pestisida alami yang ditimbulkan lebih sedikit, dan residu dari pestisida alami ini cepat terurai sehingga hasil pertanian tidak teracuni.

Sesi malam dilakukan setiap hari pelatihan kira-kira pukul 20.00 sd 22.00. Peserta yang telah diberi kesempatan pulang dan beristirahat di sore hari kembali datang ke lokasi pelatihan. Sesi malam adalah sesi diskusi kelompok, di mana peserta berdiskusi dengan sesama peserta dari desanya masing-masing. Topik diskusi terkait dengan materi pelatihan di siang hari. Diskusi hari pertama terkait dengan topik metode budidaya padi yang cocok untuk desa mandiri berdaulat pangan. Diskusi hari kedua mengangkat topik: Bagaimana mewujudkan kemandirian benih untuk mencapai Desa Mandiri Berdaulat Pangan? Sedangkan di hari ketiga, peserta diajak mendiskusikan bagaimana membangun koperasi petani yang mampu mendukung Desa Mandiri Berdaulat Pangan. Meskipun sesi diskusi dilakukan pada malam hari, namun semua peserta hadir di sesi malam tersebut.
Mengikuti sesi pelatihan tentang koperasi bersama Arif Hidayat
Sumber foto : Dokumen pribadi

Dalam pelatihan di hari kedua, tiga dari empat sesi pelatihan yang dijadwalkan di siang hari adalah membahas topik tentang pemuliaan tanaman, dengan  pemateri Ibu Susen Suryanto. Ibu Susen Suryanto adalah pensiunan dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Bandung jurusan Pemuliaan Tanaman. Pemuliaan tanaman atau plant breeding adalah ilmu, teknologi dan seni untuk mengubah susunan gen dan kromosom tanaman dalam usaha mendapatkan kultivar baru yang lebih unggul. Dalam pelatihan ini,  ilmu pemuliaan tanaman diberikan kepada petani agar petani mampu memperoleh bibit-bibit padi organik yang unggul sehingga dapat meningkatkan produksi dan kualitas padi yang mereka tanam.

Materi yang disampaikan Ibu Susen cukup banyak dan merupakan pengetahuan baru bagi peserta. Selain ilmu genetika terkait usaha menghasilkan kultivar unggul, di dalam sesi ini juga disampaikan berbagai teknik-teknik persilangan padi. Penjelasan Ibu Susen digenapkan oleh Bapak Ngadiyono, pelatih petani lokal yang juga berkemampuan melakukan persilangan padi. Istilah atau teknik persilangan padi yang disampaikan Ibu Susen, yang mungkin masih asing di telinga peserta, diterjemahkan oleh Bapak Ngadiyono menjadi langkah-laingkah yang mudah untuk ditangkap peserta. Sesi sore di hari kedua ditutup dengan kegiatan praktek belajar menyilangkan padi, dengan Ibu Susen dan Bapak Ngadiyono sebagai fasilitatornya.

Beranjak ke hari ketiga, pelatihan dibuka dengan praktek penyerbukan tanaman padi yang difasilitasi oleh Pak Ngadiyono. Praktek penyerbukan harus memperhatikan waktu (sinar matahari) dan kesiapan organ penyerbukan jantan dan betina pada tanaman padi. Pada sesi kedua, peserta diberi wawasan pengetahuan tentang koperasi, bagaimana sistem dan pengelolaan koperasi, yang dibawakan oleh Bapak Arif Hidayat. Wawasan tentang sistem perkoperasian perlu disampaikan kepada peserta sebab banyak informasi salah tentang koperasi yang beredar di masyarakat, pun mendengar pengalaman orang lain bahwa koperasi hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Pak Arif sekaligus meluruskan bahwa koperasi adalah milik bersama sehingga pengelolaan koperasi melibatkan seluruh anggota. Sesi kemudian dilanjutkan dengan materi Analisis Usaha Tani yang disampaikan oleh Pak Iskandar. Peserta diajak untuk menganalisis usaha tani yang selama ini dilakukan oleh masing-masing orang.
Belajar menyilangkan padi organik
Sumber foto : Dokumen pribadi

Pelatihan di hari terakhir dibuka dengan praktek pembuatan kompos di salah satu lokasi terdekat milik salah satu petani. Semua peserta menjalani proses pembuatan pupuk kompos tersebut, mulai dari pengangkutan kotoran sapi, mencacah gedebog pisang, mengambil daun-daunan kering sampai dengan pengadukan kompos. Kegiatan dilanjutkan dengan pengetesan unsur hara dalam larutan mikroorganisme lokal (MoL) menggunakan alat rakitan sederhana yang terdiri dari pipa paralon, kabel dan lampu bohlam. Berbagai larutan dijejerkan untuk dites satu persatu unsur haranya. Jika ujung kawat kabel dicelupkan dalam larutan dan bohlam menyala, berarti ada kandungan zat hara di dalam larutan MoL tersebut. Semakin terang nyala bohlamnya, berarti semakin tinggi pula kandungan zat haranya.
Belajar membuat kompos
Sumber foto : Dokumen pribadi

Sesi pelatihan hari tersebut ditutup dengan presentasi dari masing-masing desa tentang rencana tindak lanjut yang ingin dilakukan segera setelah pelatihan selesai. Para pemateri dan kelompok memberikan tanggapan atas presentasi masing-masing desa. Kegiatan pelatihan Membangun Desa Mandiri Berdaulat Pangan yang telah diselenggarakan dalam 4 (empat) hari ditutup dengan upacara penutupan, pemberian bibit padi organik dan kenang-kenangan serta apresiasi kepada seluruh tim yang terlibat dalam pelatihan.

Demikianlah pengalaman saya terlibat dalam Pelatihan Membangun Desa Mandiri Berdaulat Pangan yang sudah dilaksanakan di Desa Totoharjo, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur. Semoga di masa yang akan datang, semakin banyak rekan-rekan aktivis yang berbela rasa dan mendukung perjuangan para petani dalam membangun desa mandiri yang berdaulat pangan.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...