[Tips] TIPS MENGELOLA UANG

Uang merupakan hal yang dirasa sensitif oleh masyarakat sekarang ini. Terlebih lagi oleh para aktifis yang notabene memiliki penghasilan pas-pasan, tentu hal ini bisa menjadi hambatan dalam melakukan aktifitas hariannya. Namun dengan pengelolaan keuangan yang maksimal, aktivitas harian aktifis tidak akan terganggu. Lebih dari itu, aktifis dapat menyisihkan uangnya untuk disimpan dalam tabungan.
Berikut beberapa langkah jitu untuk mengatur keuangan agar lebih efektif dan efisien.
· Buatlah rekening dari transaksi keuangan yang mungkin terjadi.
Rekening ini nantinya berguna untuk mengelompokkan transaksi keuangan sehingga pengguna dapat dengan mudah mengevaluasi pengeluarannya. Pembuatan rekening ini terdiri dari rekening utama dengan beberapa subrekening yang dikelompokkan sesuai dengan kebutuhan.
Berikut ini adalah contoh sebuah rekening pribadi.


1. Pendapatan
a. Gaji Associtates KAIL
b. Honor Menulis, dll
2. Konsumsi
a. Air Mineral
b. Beras
c. Asupan Gizi
d. Cemilan, dll
3. Alat Pakai
a. Baju
b. Celana
c. Pakaian Dalam
d. Alat Makan, dll
4. Tempat Tinggal
a. Bayar Kost
b. Administrasi Kependudukan, dll
5. Komunikasi
a. Internet
b. Telepon
c. Surat, dll
6. Transportasi
a. Sepeda
b. Bahan Bakar
c. Ongkos angkot, dll
7. Peralatan Kerja
a. Administrasi
b. Simpanan Data
c. Computer
d. Alat Tulis, dll
8. Kebersihan dan Kesehatan
a. Dokter
b. Obat
c. Kebersihan Pakaian
d. Kebersihan Pribadi, dll
9. Refreshing dan Hobi
a. Buku
b. Alat Musik
c. Jalan-jalan
d. Peliharaan
e. Lainnya


  • Setelah rekening selesai, buatlah anggaran dari pendapatan dan belanja untuk satu bulan ke depan. Hal ini berguna untuk mengevaluasi apakah pengeluaran yang terjadi dalam batas kewajaran yang telah ditentukan atau tidak.
  • Selesai membuat anggaran, masukkan uang sebesar yang telah dianggarkan ke dalam amplop yang merupakan rekening utama. Misalnya rekening utama konsumsi, maka semua anggaran yang berkaitan dengan konsumsi dimasukkan ke amplop yang bertuliskan “Konsumsi”. Lakukan hal yang sama untuk semua rekening utama. Pengamplopan ini bertujuan untuk membatasi penggunaan uang agar tidak mengambil uang secara berlebihan.
  • Tuliskan setiap transaksi yang terjadi pada format tabel seperti berikut:
Tgl
Uraian
Rek
Debit
Kredit
Pada kolom Tgl, diisi dengan tanggal transaksi. Kolom Uraian diisi dengan uraian transaksi. Misalnya transaksi membeli makanan dapat ditulis “Pembelian makanan berupa nasi, sayur dan lauk pauk untuk makan siang”. Penulisan uraian ini usahakan jelas agar tidak membingungkan dalam pembandingan antara anggaran dan transaksi.
Kolom Rek diisi dengan rekening yang terdiri dari 2 digit, yaitu digit pertama adalah rekening utama dan digit kedua adalah subrekening. Misalnya untuk transaksi pembelian makanan merupakan rekening utama dari Konsumsi dengan subrekening Makanan Harian. Maka dalam penulisan di kolom Rek adalah 2C.
Kolom Debit merupakan uang yang masuk atau dengan kata lain merupakan pendapatan pengguna dan kolom Kredit adalah uang yang dikeluarkan oleh pengguna.
  • Pada akhir bulan, kelompokkan setiap transaksi subrekening dan jumlahkan menjadi rekening utama. Misalnya jumlahkan setiap subrekening dari rekening Konsumsi.
  • Bandingkan setiap transaksi rekening utama yang telah terjadi dengan anggaran yang telah dibuat. Dari sini, pengguna dapat mengetahui kondisi keuangannya dan dapat dijadikan bahan penyusunan penganggaran untuk bulan berikutnya.
Dalam catatan keuangan yang dibuat, banyak rekening yang bisa ditambah sesuai kebutuhan dari pribadi masing-masing. Tabel yang digunakan dan langkah-langkah pembuatan laporan keuangan dalam rubrik ini hanya sebagai contoh karena keterbatasan halaman. Untuk itu apabila rekan-rekan aktifis membutuhkan file keuangan lebih lengkap, silahkan hubungi KAIL. Semoga bermanfaat. (Yudha Spiza-Associate KAIL)

[Jalan-jalan] BALAI WARGA MARLINA

Kalau anda mendengar kata Balai Warga jangan membayangkan sebuah bangunan yang kokoh, luas dan lengkap fasilitas. Tempatnya sederhana dengan desain rumah panggung dari bambu, ada papan triplek untuk menulis dan papan informasi, duduk lesehan dan angin segar yang dibiarkan masuk. Balai Warga Marlina adalah salah satu balai yang didirikan oleh masyarakat kampung Muara Baru dan Urban Poor Consorsium (UPC-LSM pendampingan rakyat miskin kota), terletak di salah satu pinggiran kota Jakarta, tepatnya di kampong Muara baru, kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Untuk menuju kesana sangatlah mudah, dari stasiun Kota bisa naik angkot jurusan Muara Baru atau kalau tidak mau repot bisa langsung naik bajaj. Memasuki jalan Marlina, kita akan melihat sederetan rumah penduduk yang padat dan lalu lalang orang di gang sempit dengan berbagai aktivitasnya. Tanya saja Balai Warga Marlina pasti semua orang tahu dan akan berbaik hati menunjukkan arahnya.

Mengapa ada Balai Warga Marlina? Kampung Marlina adalah salah satu kelompok dampingan masyarakat UPC dan salah satu kegiatan warga yang dilakukan disana adalah Kelompok Belajar Anak (KBA). Awal kegiatan KBA dilaksanakan di salah satu rumah warga dengan jumlah anak sekitar 20 orang. Semakin berkembang informasi dan kebutuhan akan ilmu, akhirnya terdaftar 70 anak yang ingin mengikuti kegiatan KBA. Kondisi ini membuat CL Anak dan UPC mengumpulkan orangtua murid untuk membicarakan masalah kegiatan kelompok belajar ini, mulai dari tempat yang sudah tidak dapat menampung murid lagi, kenyamanan proses belajar mengajar dan fasilitas yang tersedia. Didapat satu kesepakatan bahwa warga dan UPC akan membangun suatu balai sebagai sarana belajar. Tanah milik PT Gajah Tunggal yang diklaim sebagai milik Ibu Yayah menjadi pertimbangan lokasi pembangunan balai. Perhitungan biaya diperkirakan 5 juta, dan dana didapat dari swadaya/urunan orang tua murid dan UPC. Urunan warga per murid 10.000 rupiah dan terkumpul sekitar 400.000 rupiah??? Cek lagi. Selama proses pembangunan ternyata biaya yang dikeluarkan membengkak karena Harga bangunan sudah naik (cat, semen, ll) dan perubahan pemakaian asbes sebagai atap untuk faktor keamanan.
Belum lagi warga harus membayar uang keamanan sebesar 400.00 rupiah ke PT.

Pembangunan balai memakan waktu cukup singkat hanya satu minggu dengan 3 orang pekerja. Nah pada tanggal 26 Maret 2006 hari Minggu sore Balai Warga Marlina diresmikan dengan kondisi apa adanya dan dinding yang belum dicat karena biayanya kurang. Hal ini tidak menyurutkan semangat warga mulai dari anak-anak, remaja dan orangtua untuk ikut andil mempersiapkan acara peresmian. Ada pentas musik, pemutaran film dan permainan. Warga kemudian berinisiatif meminta saweran ke penonton untuk membeli kekurangan cat dan bahan lainnya, akhirnya terkumpul dana sebesar 195.000 rupiah.

Sampai saat ini kelompok belajar yang jumlah muridnya hampir 70 orang dengan 2 CL Anak sebagai pengajar ini sudah berjalan selama hampir satu tahun. Kelas dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelas sore (pukul 17.00 – 18.00 WIB) dan malam (pukul 19.00 – 20.00 WIB). Peralatan seadanya seperti papan tulis difasilitasi oleh UPC, sedang kapur tulis dan buku swadaya orangtua murid. Dari sinilah muncul rasa memiliki dan tanggung jawab orangtua murid/warga terhadap kelompok belajar dan balai. Ternyata kehidupan anak-anak dikampung Marlina sama dengan anak-anak miskin lainnya, yang terbatas dengan akses pendidikan dan masih haus dengan ilmu dan pengetahuan. Dalam kelompok belajar anak-anak juga dibiasakan untuk menabung lewat buku tabungan.

Selain untuk kelompok belajar, Balai Warga Marlina juga digunakan untuk pelayanan kesehatan alternatif dan pengenalan tanaman obat. Bukan hanya itu, balai warga juga dapat digunakan untuk kepentingan warga lainnya seperti pertemuan warga, rapat RT/RW, arisan bahkan sunatan atau acara perkawinan sekalipun. Kalau anda ingin mencoba, bisa menghubungi Ibu Yayah sebagai penanggung jawab disana. Sstt, mungkin ada diantara pembaca yang penasaran kenapa nama kampung itu kampung Marlina ya? Apakah ini dulunya nama seorang wanita kembang desa disana atau….jangan berasumsi macam-macam, ternyata Marlina itu adalah nama salah satu pabrik di daerah Muara Baru. Loohhh! (Mels)

[Profil] La Via Campesina, gerakan global untuk kedaulatan pangan petani kecil

“Beli gula sih gula import aja, harganya lebih murah loh daripada harga gula lokal... lumayan kan ngirit!”
“Bukannya ngga cinta produk dalam negeri, tapi beras Thailand sudah lebih enak harganya juga ngga jauh beda sama beras kita...”
“Mana bisa menanam pada musim tanam sekarang? Harga pupuk dan bibit makin mahal! Harga panen makin murah saja!”

Begitulah komentar yang sering kita dengar terlontar dari masyarakat kita. Keadaan dengan berlimpahnya produk luar negeri di pasaran lokal, kalah bersaingnya produk lokal hingga ketidakberdayaan petani di suatu negara yang katanya negara agraris.

Masalah ini muncul tak lepas dari perubahan sistem pertanian dari pertanian organik yang menggunakan sarana produksi yang dibuat petani sendiri ke sistem pertanian kimia, yang menggantungkan pada sarana produksi buatan pabrik. Petani mulai tergantung pada Negara dari mulai pengadaan dan harga bibit, pupuk, insektisida dan infrastruktur lainnya. Padahal, dengan sistem pertanian kimia ini, banyak sekali kerugian yang dialami oleh para petani. Beberapa diantaranya adalah rusaknya kesuburan dan struktur tanah, hilangnya keseimbangan alam, rusaknya lingkungan serta rusaknya suatu sistem pertanian yang berkelanjutan.

La Via Campesina
Berangkat dari keprihatinan akan nasib yang dialami oleh petani hampir di seluruh belahan dunia, maka terbentuklah La Via Campesina. La Via Campesina merupakan suatu gerakan yang mengorganisir para petani kecil hingga menengah, para pekerja tani, perempuan desa dan penduduk asli di Asia, Afrika, Amerika dan Eropa. Gerakan ini merupakan gerakan yang bersifat otonomi dan pluralis, tidak terikat oleh kepentingan politik, ekonomi atau kepentingan lain. Sampai saat ini, La Via Campesina bergerak di delapan wilayah,- Eropa, Asia Tenggara, Asia Utara, Asia Timur Laut, Amerika Utara, Wilayah Karibia, Amerika Tengah, Amerika Selatan serta Afrika.

Kedaulatan Pangan
Konferensi La Via Campesina Internasional yang ke-4 diadakan di Sao Paulo, Brazil, tahun .... Tujuan umum dari konferensi ini adalah untuk mengembangkan hubungan antara organisasi-organisasi serta gerakan-gerakan para petani sehingga mereka memiliki kesamaan visi tentang bentuk perjuangan dan siapa lawan mereka; untuk membuat suatu lompatan dalam hubungan internal dan eksternal mereka sendiri dalam melawan situasi internasional.

Dalam konteks ini, isu kedaulatan pangan menjadi isu yang paling penting untuk mengerti proses-proses pengorganisasian dunia petani. Kedaulatan pangan adalah hak yang menyatakan bahwa semua orang berhak untuk mendefinisikan kebijakan sistem pertanian dan kebijakan pangan mereka tanpa adanya pengaruh dari negara lain. Definisi ini merupakan definisi politis penting yang oleh La Via Campesina telah disetujui dalam pertemuan World Food Summit di tahun 1996,- yang berseberangan dengan konsep “Keamanan Pangan” FAO.

Saat ini para petani dunia menghadapi model ekonomi yang berdasarkan pada konsentrasi kekayaan dan kekuasaan yang membuat berakhirnya kemerdekaan dan keamanan pangan secara mendunia; matinya keanekaragaman budaya dan ekosistem-ekosistem yang telah menyangga kehidupan di planet kita ini. Karena alasan ini, La Via Campesina tidak melupakan bahwa prioritas petani baik pria maupun perempuan adalah untuk menghasilkan makanan yang sehat, bebas dari organisme yang sudah dimodifikasi secara genetic (GMOs) dan tidak terlibat dari kepentingan perdagangan yang merusak yang diberikan oleh WTO.

Oleh karena itu, kedaulatan pangan menandakan partisipasi aktif dari gerakan-gerakan petani dalam proses mendefinisikan sistem pertanian mereka dan kebijakan-kebijakan pangan yang mana kapasitas produksi pangan didasarkan dari sistem produksi yang beragam yang akan menjamin kedaulatan dan kemandirian pangan penduduk dunia. Pada kenyataannya, masalah pelik ini semakin hari semakin problematik. Terlebih dengan adanya kontradiksi yang semakin meruncing seperti adanya kesepakatan perdagangan bebas.

Dengan tidak adanya pajak dan ketiadaan kebijakan kuota dari pemerintah, produksi petani lokal kita harus bersaing harga menghadapi gempuran produk petani luar yang datang. Sulit untuk memenangkan persaingan ini karena modal mereka lebih besar sehingga produk mereka dapat dijual dengan harga relatif lebih murah. Ditambah lagi dengan perdagangan berlandaskan politik dumping, harga produk pertanian di dunia sekarang dijual dengan harga lebih rendah daripada harga produksinya. Hal ini merupakan salah satu penyebab kesulitan untuk pertanian keluarga di seluruh dunia.

Sebagai manusia, sebagai organisasi dan sebagai petani, ada senjata-senjata yang dapat digunakan untuk melawan setan kapitalisme. Kemampuan untuk memegang kendali atas benih, bebas dari pestisida dan pupuk kimia menjadi salah satu kunci penting menuju ke arah kedaulatan pangan. Untuk meraih sukses dalam semua hal-hal ini, para petani yang bergabung dalam La Via Campesina merasa amatlah perlu untuk mengorganisir diri dan membangun gerakan global. Kemampuan untuk mengorganisasir diri tidak dapat diprivatisasi dan akan terus menjadi hak yang dimiliki oleh setiap orang di dunia.
(Sumber: www.viacampesina.org, ditulis oleh Oda)

[Pikir] Dari Kedaulatan Pangan Menuju Keberdayaan Pangan

Dari Kedaulatan Pangan Menuju Keberdayaan Pangan[1]

David Sutasurya[2] & Any Sulistyowati[3]
Kedaulatan pangan adalah suatu pengertian yang didasarkan pada paradigma imperialisme, di mana suatu kekuatan secara paksa mengambil kebebasan negera lain. Pengertian kedaulatan muncul sebagai pengakuan atas hak suatu negara untuk mengendalikan negaranya sendiri. Oleh karena itu dalam "Food Sovereignty: A Righ for All", Pernyataan Politik NGO/CSO pada Forum Kedaulatan Pangan di Roma, 8-13 Juni 2002 yang lalu kedaulatan pangan didefinisikan sebagai,
"HAK setiap orang, kelompok-kelompok masyarakat dan setiap negara untuk menentukan sendiri kebijakan-kebijakan pertanian, ketenagakerjaan, perikanan, pangan dan tanah, sesuai dengan kondisi ekologi, sosial ekonomi dan budaya mereka".
Konsep imperialisme ini kemudian diperluas namun masih menyiratkan konflik vertikal antara negara utara dan selatan atau dalam suatu negera antara pemerintah dan rakyat. Hal ini dapat kita lihat antara lain dalam turunan konsep tersebut menjadi aksi. Misalnya La Via Campesina menyatakan bahwa persoalan bukanlah masalah kekurangan pangan tetapi masalah hak atas pangan. Hak atas pangan ini dapat dicapai antara lain dengan mereformasi perdagangan global, memberikan petani kontrol akan alat-alat produksi dan pertanian berkelanjutan.

Peta Konflik ke Depan

Salah satu ciri dominan peta konflik ke depan, dalam kaitan dengan pangan dapat dijelaskan dari peran perusahaan multinasional. Suatu jaringan lintas negara yang menguasai uang dan produk. MNC membuat konflik antar negara tidak lagi menjadi penting tetapi lebih sebagai salah satu bentuk metoda yang digunakan MNC untuk mencapai tujuannya.
Pengaruh MNC bisa muncul di mana saja dengan banyak alternatif instrumen. Selain melalui jalur ekonomi konvensional (sebagai sebuah perusahaan), mereka memiliki lobby kuat di tingkat negera, perundingan-perundingan internasional (walaupun mereka secara resmi tidak ada wakilnya). Semua itu dapat mereka jalankan dengan basis anggaran yang kuat.
Mereka juga layaknya sebuah negara dengan basis 'rakyat' yang cukup besar dan bersifat lintas negera. Para rakyat ini terlibat, baik sebagai tenaga kerja, konsumen, pemodal, mitra bisnis atau mitra politik. Di tingkat lokal situasinya sering tampak sebagai konflik yang tidak jelas maka kawan dan mana lawan, karena tidak mudah lagi mengidentifikasi keterkaitan antara seseorang dengan suatu perusahaan multinasional, tidak seperti pada konflik antar negera atau ras.
Yang paling mutakhir adalah: Keterkaitan seseorang pada suatu perusahaan multinasional seringkali terjadi secara sukarela, karena yang bersangkutan memperoleh keuntungan dari perusahaan itu. Secara global situasinya mirip dengan yang disebutkan dalam teori imperialisme, di mana kaum buruh ‘non pemilik modal’ disogok oleh kaum pemilik modal. Dengan kenyamanan hidup yang diperolehnya ini, kaum buruh yang disogok ini menjadi apatis dan tidak peduli atau tidak sadar bahwa mereka sebenarnya adalah para budak di bawah hegemoni perusahaan multinasional dan bahwa sogokan hidup yang diperolehnya itu sebenarnya diperoleh melalui penindasan/pemerasan terhadap kelompok non pemodal lainnya. Sogokan ini seringkali muncul sebagai semacam insentif bagi seseorang untuk masuk di bawah hegemoni.

Penyerahan Kedaulatan secara sukarela

Saat ini semakin disadari peran MNC dan kebijakan neoliberal yang dipromosikannya melalui berbagai jalur dalam berbagai produk pangan (salah satu yang mutakhir adalah makanan rekayasa genetik). MNC membuat berbagai pabrik di berbagai tempat, memperkerjakan banyak tenaga kerja (biasanya dipilih di tempat yang paling murah). Ini kemudian menjadi basis pengaruhnya di tingkat lokal.
Konflik seringkali tidak terjadi melalui penindasan langsung tetapi melalui insentif agar pihak yang ditindas menyerahkan diri ke dalam hegemoni mereka. Prosesnya dilakukan melalui berbagai cara halus seperti 'penyogokan' dengan gaji besar kaum non pemodal yang berstatus sebagai staff/karyawan. Walaupun tentu saja keuntungan jauh lebih besar akan tetap diperoleh pemodal dan uang yang digunakan oleh penyogok sering diperoleh melalui penindasan/pemerasan kelompok lain (buruh atau petani) ataupun dengan menciptakan kebergantungan (yang seringkali tidak perlu) kepada produk mereka.
Dengan menggunakan sistem insentif bagi para pekerja dan penciptaan kebergantungan konsumen sebagai senjata utama, tidak sulit bagi MNC untuk mengakui kedaulatan pangan tanpa sedikitpun merubah intensitas hegemoni mereka. Dalam hal ini situasinya adalah mereka tidak 'merebut' kedaulatan tetapi masyarakatlah yang secara sukarela meyerahkan kedaulatannya di bawah hegemoni MNC.
Lalu apakah perjuangan menegakkan kedaulatan pangan menjadi efektif dalam situasi demikian ?

Masyarakat sipil yang manja

Taktik memanjakan sekelompok masyarakat (dengan menguras sumberdaya masyarakat yang lain sehingga tidak terlalu mengurangi keuntungan yang diperoleh pemilik modal) adalah metoda baru yang perlu diwaspadai. Kelompok masyarakat yang dimanjakan inilah yang diharapkan memiliki daya beli yang cukup tinggi untuk produk-produk 'mewah' produksi MNC.
Tercipta sekelompok masyarakat yang hidup mewah dan apatis. Mereka merasa hidup mereka berkecukupan sehingga tidak merasa ada sesuatu yang salah. Misalnya,masalah pemerasan kelompok masyarakat yang lain untuk menghidupi kemewahan ini tanpa mengurangi keuntungan yang diperoleh pemodal tidak disadari atau terlalu dipikirkan. Mereka bahkan merasa hidup mereka bergantung pada pemodal dan tak dapat hidup tanpa mereka. Menjadi karyawan (baca: setengah budak) menjadi cita-cita kebanyakan golongan muda di Indonesia.
Kebergantungan juga tercipta antara masyarakat dan pemerintah. Hal ini dilakukan semula melalui pengambilan paksa kedaulatan di berbagai tempat melalui berbagai kebijakan[4]. Akibatnya masyarakat terbuai untuk bergantung pada pemerintah, tanpa bersikap kritis tentang siapa yang mendapatkan keuntungan terbesar pada situasi ini. Setiap ada masalah mereka bergantung pada pemerintah. Sementara itu sikap apatis yang semakin meluas ini membuat kotnrol terhadap berbagai elemen pemerintahan semakin lemah dan yang mengambil keuntungan adalah (sekali lagi) para pemodal. Akibatnya timbullah berbagai kebijakan yang sangat aspiratif kepada pemodal karena merekalah yang melakukan proses sistematis kepada berbagai elemen pemerintah. Sementara itu perkembangan sentralisasi kebijakan membuat proses mengakses kebijakan menjadi semakin mahal sehingga akhirnya para pemodallah yang paling memiliki sumberdaya untuk itu.
Contoh pada sektor pangan : kebergantungan pada BULOG untuk distribusi dan penyimpanan pangan, kebergantungan pada pemerintah untuk manajemen air.

Konflik kota-desa, penghisapan oleh kota, kehancuran bagi semua

Fenomena masyarakat sipil yang manja melalui proses penyogokan yang dananya diperoleh melalui eksploitasi kelompok masyarakat lain (yang menjadi korban), saat ini terkristalisasi menjadi kelompok masyarakat kota dan masyarakat desa. Urbanisasi adalah salah satu ciri masyarakat industri, meningkat pesat sejak pusat-pusat industri terbentuk pada awal revolusi industri dan sekarang semakin meningkat.
Orang kota khususnya kalangan menengah ke atas dapat diklasifikasi sebagai masyarakat sipil manja yang disogok. Sebagian besar dari mereka adalah masyarakat apatis yang hidup dalam hedonisme. Bagaimana sumberdaya untuk menyogok kelompok masyarakat ini diperoleh?
Revolusi hijau adalah teknologi yang muncul untuk melayani masyarakat kota. Intensifikasi produksi pangan sebenarnya dibutuhkan untuk memasok makanan untuk masyarakat kota yang tidak menanam makanannya sendiri. Masyarakat desa, apalagi petani kecil dan buruh tani, tidak mendapat keuntungan dari produksi makanan ini, malah kualitas hidupnya terus menurun. Pestisida, pupuk kimia dan sistem irigasi dll semakin menurunkan kualitas lingkungan pedesaan. Melalui kebijakan makanan murah, orang desa 'dipaksa' untuk mensubsidi orang kota secara finansial. Sementara itu para pemilik hegemoni justru dapat meningkatkan akumulasi modalnya.
Revolusi hijau adalah juga proses sentralisasi produksi. Input pertanian diperoleh secara tersentralisasi pada beberapa pabrik pupuk dan pestisida. Saat ini bahkan benih diproduksi secara tersentralisasi dengan dipromosikannya bioteknologi modern (rekayasa genetik dan kultur jaringan). Air diperoleh secara tersentralisasi pada bendungan-bendungan besar. Siapakah yang mendapatkan keuntungan pada proses produksi padat modal ini? Tentu saja para pemodal yang didukung oleh para semi-budak. Sentralisasi ini sekarang semakin mengkristal menjadi sentralisasi global di tangan MNC.
Para semi budak ini tidak sadar bahwa mereka hanya mendapatkan keuntungan untuk sementara. Kualitas lingkungan yang terus menurun pada akhirnya akan menurunkan produksi pangan itu sendiri dan setelah itu harga makanan akan semakin mahal. Dalam kondisi ini para semi budak akan menjadi miskin (daya belinya menurun karena makanan semakin mahal), sementara itu para pemodal masih akan mampu membayar, atau dengan cara tertentu mengambil keuntungan dari situasi ini.
Sebaliknya masyarakat desapun mulai terpengaruh dengan gaya hidup kota ini, apalagi dengan gencarnya propaganda di media yang mengiklankan gaya hidup ini. Masyarakat desa dan orang-orang miskin, yang miskin informasi dan pengetahuan adalah korban paling besar dari iklan produk pangan yang kurang berkualitas. Sementara sistem produksi pertanian desa diubah untuk menghasilkan pangan bagi masyarakat perkotaan; masyarakat desa ingin mengkonsumsi produk makanan orang kota, misalnya aneka produk makanan instan yang kualitasnya diragukan.

Peran kegiatan perdagangan

Agenda liberalisasi perdagangan yang dilancarkan atas dukungan para perusahaan multinasional sebagai pemilik modal dan pemerintah yang mengadopsinya dalam bentuk berbagai kebijakan pembangunan ikut memperparah kesenjangan antara kota-desa dan negara kaya -miskin. Liberalisasi perdagangan mengandaikan bahwa setiap negara memiliki kesempatan dan kekuatan yang sama dalam sistem perdagangan (lapangan permainan yang seimbang/even playing field). Persaingan akan didasarkan pada siapa yang paling kompetitif, dialah yang akan menang. Setiap negara memiliki keunggulan komparatif yang berbeda dengan negara yang lain. Agar efisien, negara-negara dituntut menjadi spesialis menurut keunggulan komparatif masing-masing. Sebagai hasil akhirnya, total output secara global akan maksimal.
Dalam kasus pangan, misalnya, paradigma ini menggeser paradigma swasembada pangan di tingkat negara menjadi di tingkat regional/global. Misalnya untuk menjamin kecukupan pangan, Indonesia tidak perlu memproduksi sendiri seluruh beras yang dibutuhkan, tetapi melihat di pasar internasional. Apabila harga beras lebih murah di pasar internasional, maka lebih baik Indonesia memproduksi produk-produk hasil industri yang lebih mahal dan membeli beras. Dengan demikian Indonesia akan memperoleh surplus dari perdagangan tersebut.
Kenyataannya kebijakan liberalisasi perdagangan ini tidak menyelesaikan masalah pangan dan kelaparan, tetapi justru menimbulkan masalah baru. Pertama, terbukanya pasar domestik pada produk pangan impor yang biasanya murah karena seringkali di negara asalnya disubsidi besar-besaran justru menyebabkan petani lokal (yang sudah terjebak pada mekanisme pasar modern) kehilangan daya saing. Akibatnya, ia tidak dapat bertahan dalam profesinya sebagai produsen pangan dalam jangka panjang karena tidak dapat bertahan hidup dengan profesinya sebagai petani. Dalam jangka panjang, kemampuan seluruh negara untuk memproduksi pangan di dalam negeri terancam. Kedua, begitu masuk dalam sistem ekonomi pasar, maka diperlukan sebagai alat tukar. Padahal saat ini uang pun menjadi komoditi yang diperdagangkan; yang nilainya berfluktuasi. Konsekuensinya harga panganpun akan berfluktuasi sesuai dengan nilai mata uang serta hukum permintaan dan penawaran. Akan ada saat-saat di mana harga makanan begitu murah dan sebaliknya di saat lain sangat mahal. Hal ini mungkin tidak masalah untuk kalangan atas, yang hanya menggunakan sebagian kecil penghasilannya untuk pangan; tetapi ini akan bermasalah sangat besar untuk kalangan bawah (mayoritas penduduk) yang sebagian besar penghasilannya digunakan untuk membeli pangan.
Ketergantungan pada sistem uang
Ekonomi modern menggunakan uang sebagai alat tukar yang praktis. Implikasinya, sistem ekonomi ini menghitung segala sesuatu dalam satuan uang. Misalnya GNP/GDP untuk menghitung tingkat keberhasilan pembangunan suatu negara dan ukuran penghasilan dalam bentuk sejumlah uang tertentu untuk mengukur tingkat kemiskinan sebuah keluarga/komunitas. Sistem ini seringkali bias dan salah mengartikan realita. Petani-petani subsisten di komunitas-komunitas asli seperti Baduy mungkin memiliki sedikit sekali uang; tetapi kualitas hidupnya bisa jadi jauh lebih baik dari buruh di kota yang digaji di atas UMR. Dari segi pangan, petani-petani subsisten akan lebih aman posisinya dibandingkan dengan kaum buruh di kota yang sangat tergantung dari pangan murah hasil subsidi pemerintah dan penindasan kaum tani. Mereka ini sangat rentan pada kenaikan harga pangan, misalnya jika subsidi pangan dihapus atau harga BBM naik.
Masyarakat kota tidak memiliki mekanisme keamanan pangannya dalam jangka panjang dan menyimpan tabungannya dalam bentuk uang. Demikian juga pola revolusi hijau telah mengubah kebiasaan para petani modern dari budaya menabung dalam bentuk ternak, pohon buah-buahan dan hasil panennya menjadi dalam bentuk uang.
Padahal sistem uang ini telah terhubung secara global. Akibatnya, apa yang terjadi pada Bursa Saham di Tokyo atau New York akan mempengaruhi petani kopi di Timor. Dalam sistem yang sekarang, uang tidak sekedar menjadi alat tukar, tetapi juga komoditi. Artinya membeli uang untuk dijual lagi untuk memperoleh keuntungan berupa uang. Saat ini ekonomi uang mencakup 2/3 dari seluruh total ekonomi global dan nilainya berkembang jauh melebihi sektor riil yang menopangnya.
Sebagai komoditi, nilai uang juga berfluktuasi. Jika kita mendasarkan sistem tabungan kita pada uang, konsekuensinya nilai tabungan kita akan berfluktuasi pula sesuai dengan nilai uang. Celakanya, yang paling diuntungkan dengan sistem uang ini adalah para pemilik modal dan masyarakat banyak yang menanggung akibatnya. Contoh yang paling dekat adalah krisis moneter tahun 1999, di mana George Soros disebut-sebut sebagai salah satu kambing hitamnya. Dalam krisis tersebut, dalam waktu singkat penghasilan riil sebagian besar masyarakat Indonesia menurun hanya menjadi sekitar sepertiga sampai seperempat kali penghasilan semula, meskipun secara nominal angkanya naik.

Keberdayaan Pangan

Telah dijelaskan di atas bahwa taktik utama yang digunakan oleh para pemegang hegemoni saat ini adalah menciptakan insentif bagi kebergantungan masyarakat pada mereka. Insentif ini dijalankan melalui penyogokan melalui gaji besar untuk para karyawan atau iming-iming hasil produksi masksimal untuk para petani. Pemerintahpun menjadi pendukung mereka dengan janji perolehan pajak yang besar dan terbukanya lapangan kerja yang besar.
Padahal gaji itu diperoleh sebagai hasil penghisapan kalangan marginal (biasanya buruh dan petani) dan penciptaan produk yang memanjakan orang kota, antara lain dengan pemanjaan lidah dan kemudahan hidup, yang produksi dan penggunaannya biasanya juga merusak lingkungan dan mengandalkan kebergantungan konsumen dan produsen. Sementara untuk para petani; sejarah telah membuktikan bahwa peningkatan produksi dalam sistem pasar kapitalisme tidak akan menguntungkan petani dalam jangka panjang. Hal ini sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan, yang menyebutkan bahwa jika produksi meningkat maka harga akan turun. Mengikuti hukum ini, jika produksi berlebih dengan sendirinya harga akan turun yang artinya keuntungan petani akan ikut turun. Jika terjadi kelebihan produksi, maka petani akan merugi.
Sementara itu para pemegang hegemoni terus memperkuat diri dengan :
1. produk/teknologi yang semakin tersentralisasi secara global; yang paling canggih sentralisasi produksi benih dengan teknik rekayasa genetika dan kultur jaringan.
2. mengembangkan lobi-lobi politik untuk menciptakan iklim kebijakan yang kondusif seperti : hak paten, pendagangan bebas dan berbagai aspek ekonomi neoliberal lainnya yang menguntungkan mereka.
Dalam kondisi seperti ini, tidak ada proses perebutan kedaulatan secara kasat mata. Yang terjadi adalah penciptaan situasi yang mendorong penyerahan kedaulatan secara sukarela dan penciptaan pagar-pagar yang merupakan 'pemaksaan' penyerahan kedaulatan secara sangat halus dan canggih.
Dan pada akhirnya sekarang para pemegang hegemoni dalam keadaan yang cukup siap untuk mengakui secara formal kedaulatan tanpa kehilangan sedikitpun hegemoni de facto mereka. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat telah kehilangan kemampuan mereka untuk merealisasikan kedaulatan mereka.
Di sinilah letak pertempuran yang sebenarnya, selain mengembangkan strategi defensif[5] untuk menjaga kedaulatan pangan, saat ini sudah mendesak untuk melakukan proses pengembangan keberdayaan pangan. Yaitu: kemampuan masyarakat untuk menyediakan sendiri pangannya.
Masyarakat di sini adalah masyarakat tingkat akar rumput sampai tingkat yang paling kecil (sampai tingkat keluarga atau individu). Hal ini penting mengingat bahwa perang kedaulatan sekarang sudah tidak lagi pada tingkat negara tetapi di tingkat lokal menjadi konflik horisontal antar anggota masyarakat.
Pengembangan keberdayaan pangan ini akan membuat MNC kehilangan senjatanya. Ia akan kehilangan pasar karena masyarakat tidak lagi membutuhkan produknya. Ia akan kehilangan tenaga kerja karena masyarakat tidak lagi membutuhkan sogokan dari dirinya.

Bagaimana Mengembangkan Keberdayaan Pangan?

Kedaulatan pangan pada dasarnya dikembangkan dengan membuat masyarakat di tingkat akar rumput (termasuk di kota) dapat memproduksi makanan untuk dirinya sendiri, dengan demikian :
1. Situasi eksploitasi kota desa dihilangkan sehingga hilang kebutuhan untuk mengembangkan pertanian intensif yang merupakan lahan bisnis para pemegang hegemoni. Pestisida kimia dan bibit unggul yang hanya dapat dikembangkan oleh produksi intensif modal tidak dibutuhkan lagi.
2. Sebanyak mungkin memproduksi pangan untuk kebutuhan sendiri. Jika perlu pangan dari luar; maka dipilih yang diproduksi selokal mungkin. Dengan demikian yang memperoleh keuntungan dari proses produksi pangan adalah kita sendiri dan masyarakat di sekitar kita.
3. Mengurangi kebergantungan akan ekonomi uang dengan:
§ Meminimalkan kegiatan perdagangan yang selanjutnya akan mengerutkan ekonomi uang. Hal ini akan membuat para pemegang hegemoni semakin kehilangan kesempatan untuk meningkatkan akumulasi modal dalam bentuk uang.
§ Mengembangkan sistem pertukaran produk tanpa menggunakan uang, antara lain dengan sistem barter dalam komunitas-komunitas di tingkat lokal.
Membuat orang kota menghasilkan makanan sendiri dianggap mengurangi kesejahteraan orang desa. Hal ini tampaknya benar dalam kerangka ekonomi pertanian kapitalis. Padahal meskipun penghasilan orang desa dari segi uang meningkat, kualitas hidupnya justru menurun. Makanan bahkan perlu dianggap sebagai common resources sehingga tercipta kestabilan ketersediaan pangan dalam jangka panjang. Dalam sistem ini, makanan tidak akan terpengaruh oleh ketidakstabilan ekonomi. Uang akan semakin sedikit tetapi kualitas hidup semakin meningkat.
Pertanian bukan lagi menjadi kegiatan produksi dengan tenaga spesialis petani tetapi lebih merupakan kegiatan domestik semua orang. Petani bukan lagi menjadi profesi. Dengan ekoteknologi dapat dibuat sistem pertanian yang menghemat waktu dan tenaga sehingga waktu masyarakat dapat dialokasikan untuk berbagai kegiatan kebudayaan, pengetahuan dan spiritual yang akan meningkatkan kualitas masyarakat. Hal ini ditopang dengan sistem pendidikan yang merata yang akan meningkatkan kualitasi intelektual masyarakat.
Dalam percaturan ekonomi-politik saat ini ada berbagai peluang yang dapat kita ambil untuk mengembangan keberdayaan pangan :
1. Kembangkan ekonomi berbasis common knowledge yang tidak bisa dijangkau oleh IPR.
2. Setiap pengetahuan baru cepat-cepat didesimenasi sehingga cepat menjadi common knowledge. Hal ini dapat dengan mudah didukung oleh sistem komunikasi elektronik yang sudah berkembang pesat saat ini[6].
3. Kembangkan ekonomi berbasis sumberdaya dan lingkungan lokal. Pengetahuan tradisional masyarakat Indonesia sangat kaya akan berbagai alternatif teknologi untuk mengembangkan ekonomi seperti ini. Teknologi seperti ini tidak terjangkau oleh IPR.
Untuk lebih memuluskan strategi di atas, kita juga dapat melakukan sejumlah perubahan kebijakan makro. Dari segi kebijakan, kondisi makro apa yang mendukung terjadinya keberdayaan pangan ini?
1. Harga pangan harus merefleksikan biaya produksi yang sebenarnya. Saat ini harga pangan murah karena subsidi dari pemerintah atau melalui eksploitasi terselubung terhadap kaum tani. Dengan harga pangan yang baik, minimal mencerminkan biaya produksi, akan mendorong semakin banyak orang untuk meproduksi pangan. Ini akan mengurangi urbanisasi dan membuat sektor ekonomi di desa-desa bergerak. Untuk kota sendiri akan menguntungkan karena mengurangi kepadatan penduduk yang membebani sumber daya kota.
2. Alokasikan luasan lahan yang cukup untuk petani, terutama untuk produksi pangan. Banyak petani kecil, terutama di Jawa tidak dapat hidup dari sektor pertanian karena lahannya terlalu kecil, sementara itu banyak lahan-lahan kosong dalam bentuk villa tanpa penghuni, padang rumput liar maupun alang-alang dimiliki oleh orang-orang kaya. Banyak lahan pertanian kelas satu yang semula untuk memproduksi pangan diubah untuk industri, perkebunan atau pertanian cash crop berorientasi ekspor karena dianggap lebih menguntungkan. Ini adalah bentuk-bentuk pemborosan penggunaan sumberdaya.
3. Desentralisasi produksi pangan. Desentralisasi produksi pangan akan meminimalisir biaya penyediaan dan distribusi pangan di tingkat nasional. Biaya tersebut antara lain biaya transportasi dan pergudangan dan penyediaan input-input pertanian. Daerah dapat menentukan sendiri kebijakan pangannya dan sedapat mungkin memproduksi kebutuhannya sendiri sampai di tingkat keluarga atau komunitas. Dengan demikian, misalnya beban daerah-daerah penghasil beras untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional dapat berkurang. Ini menuntut cara baru pengelolaan Negara Kesatuan Republik Indonesia di bidang ekonomi; terutama pangan.
4. Pertanian yang didukung oleh teknologi lokal yang terdesentralisasi; misalnya pertanian organis. Pertanian organis tidak membutuhkan pupuk dan pestisida kimia; apalagi membeli benih transgenik buatan pabrik. Petani dapat membuat sendiri asupan pertaniannya; alat produksinya. Pertanian organis juga mensyaraktkan petani memiliki luasan lahan tertentu agar optimal. Dari karakteristiknya pertanian organis akan mendobrak hegemoni perusahaan multinasional penjual pupuk dan pestisida kimia. Hanya saja, yang perlu dicermati dalam pengembangan pertanian organis ini adalah jangan sampai terjebak pada paradigma lama; yang mengakibatkan perusahaan multinasional menjual pupuk dan pestisida alami dan menjadi pedagang utama produk pertanian organis untuk pasar ekspor. Jika ini yang terjadi pertanian organis akan kehilangan esensinya.
***



[1] Disiapkan untuk Seminar dan Lokakarya Membangun Kedaulatan Pangan Berbasis Gerakan Rakyat, Jakarta, 7-8 Mei 2003.
[2] Direktur Eksekutif Yayasan Biosains dan Bioteknologi.
[3] Peneliti ELSPPAT.
[4] Misalnya kebijakan pangan murah semasa orde baru.
[5] Sekalipun tidak menjadi satu-satunya yang esensial perjuangan ini tetap penting mengingat para pemegang hegemoni secara formal tetap akan berusaha tidak mengakui kedaulatan untuk mengangkat posisi tawar mereka.
[6] Teknologi yang fitrahnya bersifat nontersentralisasi ini sangat ideal karena tidak dapat dikuasai oleh siapapun. Namun di tingkat internasioal tetapi perlu diwaspadai setiap usaha penguasaan teknologi ini.

[Masalah Kita] Seputar Pangan Kita

Kebanyakan dari kita yang tinggal di kota besar tentu tidak pernah kesulitan memperoleh pangan. Tinggal jalan sedikit ke warung, atau jauh sedikit ke pasar, atau mau yang lebih keren mentereng tanpa becek, di mall-mall, di situ menumpuk makanan berlimpah. Berbagai jenis dan ukuran. Semua tersedia. Padahal kalau kita melihat kota kita, apa yang kita lihat di sekeliling kita. Bangunan, mobil, jalan raya! Mungkin ada satu dua pohon, tetapi bukan pohon yang menghasilkan makanan yang kita lihat di pasar atau supermarket itu.

Bagaimana semua makanan itu bisa ada di kota, padahal kota sama sekali bukan penghasil pangan?
Kekuatan uanglah yang membuat itu terjadi. Kekuatan uang yang dimiliki masyarakat kota, membuat semua makanan terbaik di desa pergi ke kota. Para petani menjual produk terbaiknya ke kota dan memakan sisa-sisanya. Demikian juga halnya di tingkatan internasional, Indonesia mengekspor semua produk pangan terbaiknya ke negara maju dan mengirim produk kualitas duanya ke supermarket di kota-kota besar dan menyisakan yang tidak terjual untuk di makan oleh petani, yang menanamnya.

Pernahkah kita terbayang, kalau suatu saat para petani di desa serentak berubah pikiran. Daripada kujual produk terbaikku, lebih baik kumakan sendiri. Apa jadinya kalau tidak ada yang menyediakan makanan ke kota kita? Bisakah kita hidup tanpa makanan? Pasti kita yang di kota ini yang kelaparan, bukan? Pastilah ada kerusuhan!

Mengapa ada pemikiran bahwa petani akan berubah pikiran?
Pertama, penggunaan pupuk kimia dan pestisida selama puluhan tahun telah membuat tanah-tanah petani makin rusak. Jadi produktivitasnya makin menurun. Kalau petani menghasilkan begitu sedikit, tentulah ia mementingkan untuk menyimpannya sendiri untuk di makan daripada di jual. Lalu kita yang di kota akan makan apa?

Kedua, pertanian yang menggunakan bahan kimia itu bisa berjalan dengan adanya minyak bumi yang disubsidi. Saat ini kita sudah melihat bagaimana pemerintah sedikit demi sedikit mengurangi subsidi minyak bumi dan kita telah melihat bagaimana itu berpengaruh terhadap harga pangan dan produk lain. Kenaikan yang sekarang sebetulnya tidak terlalu menguntungkan petani, karena sebagian besar untuk kenaikan BBM yang mengangkut makanan itu dari desa ke kota. Dan banyak ahli telah menghitung bahwa sebetulnya harga yang diterima petani itu sangat murah, artinya sebetulnya tidak cukup untuk mendukung kehidupannya secara layak. Jadi, kalau kita mau adil kepada para petani yang telah mendukung hidup kita melalui produksi pangannya, maka sebetulnya kita harus membayar pangan kita lebih mahal dari yang kita bayar sekarang.

Bagi mereka yang tinggal di kota dan kebetulan kaya, mungkin pengeluaran pangan tidak terlalu masalah. Apalagi bagi mereka yang terbiasa keluar masuk kafe. Yang pengeluaran sekali makannya mungkin sama dengan pengeluaran untuk makan satu keluarga di batas garis kemiskinan sebulan! Yang sengara tentu mereka yang rata-rata, apalagi yang miskin, yang pengeluaran untuk makannya lebih dari 50% dari seluruh penghasilannya. Kerasa deh, pengetatan ikat pinggang kalau harga pangan naik.

Sebetulnya, mungkin nggak sih kota menyediakan pangannya sendiri? Jawabannya bisa. Berikut ini ceritanya.

Mungkin cerita ini seperti mimpi, tetapi itu beneran terjadi di satu negara bernama Kuba dan terutama di ibu kotanya yang bernama Havana.

Tahun 90-an, Kuba menghadapi krisis pangan besar-besaran. Pasalnya, pada tahun itu Soviet runtuh dan tidak mampu mendukung lagi perdagangan dengan Kuba seperti sebelumnya. Sebelumnya, pertanian Kuba sangat berorientasi ekspor dengan produk unggulan utama tebu. Jadi semua lahan pertanian ang subur-subur ditanami tebu. Tebu ini dibeli oleh Soviet, sebagai sekutunya sesama negara komunis sebagai dukungan politik. Soviet juga menjual minyak ke Kuba dengan harga setengah harga pasar internasional dan menyediakan bahan pangan bagi Kuba. Dengan dukungan Soviet ini, Kuba hidup berkelimpahan dan kalau dilihat dari indeks pembangunan manusia, Kuba termasuk salah satu yang tertinggi di dunia, dapat disejajarkan dengan negara-negara maju dan apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang. Minyak impor dari Soviet inilah salah satu sumber enerji yang menghidupi pertanian modern Kuba yang bisa disetarakan dengan pertanian di Eropa atau Amerika.

Tanpa dukungan Soviet, Kuba tidak punya minyak, tidak ada pupuk kimia, tidak ada pestisida, tidak ada impor pangan lagi. Singkatnya, Kuba kelaparan. Satu-satunya produk yang masih ada adalah tebu karena memang semua lahan terbaik diperuntukkan untuk tebu. Pedesaan Kuba memang masih menghasilkan makanan, tetapi makanan itu tidak bisa diangkut ke kota karena tidak ada BBM. Rakyat Kuba ada dalam masalah besar.

Krisis memang membuat orang menjadi kreatif. Dengan dorongan untuk bertahan hidup, orang-orang di perkotaan mulai menanami halaman rumahnya dengan tanaman pangan. Padahal sebelumnya menanam tanaman pangan di halaman depan rumah adalah terlarang hukumnya di kota Havana karena dianggap identik dengan potret kemiskinan. Setelah krisis ini, pemerintah mencabut larangan itu dan justru memberikan dukungan penuh kepada masyarakat yang ingin memproduksi pangannya sendiri. Pertanian perkotaan mulai merebak di Havana.

Saat ini, kalau kita berjalan-jalan di Havana, kita akan dengan mudah menemukan lahan-lahan pertanian di sela-sela gedung bertingkat. Pohon buah-buahan di taman-taman kota dan sayur-sayuran sebagai pengganti tanaman hias di depan rumah. Havana yang dulu menjadi penerima pangan dari desa-desa di seluruh Kuba, kini mampu memproduksi setidaknya 60% dari seluruh kebutuhan pangannya. Semua di produksi dengan cara organis. Bukan untuk “gaya” ataupun alasan ramah lingkungan, tetapi memang karena bahan-bahan yang dibutuhkan untuk bertani ala kimia sudah tidak tersedia lagi.

Dalam setiap lahan di perkotaan, kita akan menemukan bahwa dalam setiap petakannya ditanam berbagai jenis tanaman pangan. Kombinasinya dipilih sehingga semuanya bisa hidup berdampingan saling berbagi dan mendukung kehidupan satu sama lain. Demikian juga antara petani dan konsumen. Di Kuba tidak dikenal pajak. Pajak para petani ini diberikan sebagai apa yang disebut “community service”, layanan kepada masyarakat. Bentuknya, adalah menyediakan bahan makanan yang diambilkan dari sebagian hasil produksinya untuk anak-anak sekolah atau rumah-rumah jompo di daerah tersebut. Siswa-siswa tersebut sesekali mereka berkunjung ke kebun untuk belajar Biologi dan Pertanian serta untuk mengenal lebih dekat kehidupan petani yang menyediakan pangan mereka. Para siswa tersebut merasa memiliki kebun dan lebih menghargai kerja para petani.

Setiap lahan kosong yang tidak ditanami dibagikan kepada rakyat yang mau bertani. Siapa pun yang ingin memproduksi pangan berhak mendapatkan lahan. Lahan-lahan tebu terbaik diubah menjadi lahan tanaman pangan. Satu lagi yang menarik, Kuba tidak lagi menggantungkan pangannya pada satu jenis makanan pokok, seperti beras untuk Indonesia. Rakyat Kuba tidak lagi hanya makan roti yang gandumnya diimpor dari negara-negara subtropis, tetapi juga kembali ke makanan-makanan asli seperti talas dan umbi-umbian lainnya. Mereka tidak lagi tergantung pada daging, tetapi mulai lebih banyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan.

Dengan kebijakan baru ini Kuba bisa kembali bangkit dari keterpurukannya. Tingkat konsumsi pangan meningkat setelah sempat terpuruk di tahun 90-an. Kuba menjadi makin mandiri dalam penyediaan produksi pangannya, tidak tergantung pada sedikit jenis pangan, kembali ke beragaman pangan yang diperoleh dari tanaman asli dan pertaniannya dilakukan selaras alam. Kota Havana menghijau dengan kebun buah dan sayuran. Tidak sekedar koleksi dinding beton semata.

Bayangkan kalau ini terjadi di Indonesia. Jakarta, katakanlah. Bayangkan kalau di lapangan Monas, rumput-rumputnya diganti menjadi kebun aneka buah-buahan dan di bawahnya kebun aneka talas dan umbi-umbian. Mungkin pemda kota Jakarta tidak perlu mengeluarkan biaya operasional sekian banyak untuk menjaga agar rumputnya tetap pendek sementara pada waktu yang sama dapat menyediakan pangan dan penghasilan bagi banyak orang. Bayangkan kalau halaman-halaman rumah mewah ditanami makanan atau tanah-tanah kosong ditanami tanaman pangan. Mungkin hasilnya bisa cukup untuk membantu orang yang busung lapar. Apalagi kalau lapangan golf, apartemen mewah dan real estate yang tidak berpenghuni digusur menjadi lahan untuk pangan. Indonesia dijamin tidak akan kelaparan. Jadi tidak ada lagi satu gedung mewah tingkat sepuluh yang hanya dihuni satu atau dua hari per bulan sementara kolong jembatan penuh sesak orang-orang mencari penghidupan.

Di banding Kuba, Indonesia sebetulnya punya lebih banyak pilihan. Dari sisi sumber daya alam sebetulnya kita jauh sekali di atas Kuba. Minyak ada, kenaekaragaman hayati hanya bersaing dengan Brazil yang punya Hutan Amazone. Sangat aneh, kalau kita mendengar ada orang yang sampai kelaparan. Ada begitu banyak anak yang kurang gizi. Apalagi mereka itu adalah anak-anak petani yang di atas kertas merupakan produsen pangan. Jelas-jelas ini masalah negara salah urus. Yang akhirnya jadi masalah kita semua. Entah bagaimana penyelesaian akhirnya. Yang pasti, setidaknya, kita bisa menanam tanaman pangan mulai dari halaman rumah sendiri. Jadi, kalau nanti ada krisis seperti di Kuba atau setidaknya pemerintah menaikan lagi harga BBM yang berimbas pada kenaikan harga pangan, sebagian pangan sudah kita produksi sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi…ayo kita mulai!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...