[PIKIR] Menilik Persoalan Kesehatan di Indonesia

(Berdasarkan hasil wawancara dengan Yanuar Nugroho, Asisten Ahli Kepala UKP4, Jakarta)

Gambar diambil dari http://www.epa.gov/ttn/atw/3_90_024.html
Di era globalisasi dunia saat ini persoalan kesehatan tidak bisa dipandang sebagai persoalan tunggal yang berdiri sendiri, melainkan persoalan multidimensi. Indonesia sebagai negara berkembang kini mengalami perubahan demografi, di mana kelas menengah tumbuh dan menempati jumlah terbanyak dalam statistik kependudukan. Hal ini sedikit banyak telah menyumbang pada persoalan kesehatan yang disebabkan oleh gaya hidup tertentu dengan implikasi-implikasi sosial,
budaya dan politik yang melingkupinya.

Masalah Kesehatan Terpenting di Indonesia Saat Ini
Sebagai negara berkembang, Indonesia masih banyak perlu berbenah. Beragam permasalahan muncul sebagai masalah khas negara berkembang, namun di artikel ini, kami akan menengok lebih jauh persoalan kesehatan dan mengapa persoalan tersebut mengemuka, dilihat dari aspek ekonomi, politik dan sosial budaya.

Hasil wawancara penulis dengan Yanuar Nugroho menyebutkan, ada dua masalah kesehatan yang paling penting dihadapi oleh negara Indonesia saat ini. Pertama, masalah kesehatan yang menimpa paling banyak orang miskin saat ini akibat kemiskinan, serta buruk atau rendahnya akses pada jasa dan prasarana kesehatan. Kedua, masalah kesehatan dengan tingkat prevalensi tinggi yang ternyata dipicu oleh gaya hidup masyarakat kelas menengah.

Kategori masalah kesehatan pertama, yang paling banyak diderita oleh golongan rakyat miskin adalah masalah-masalah kesehatan karena tiadanya atau buruknya sanitasi, kelaparan karena ketakmampuan akses pada sumber makanan yang layak, maupun ketidakmampuan dalam mengakses layanan kesehatan di negara ini. Penyakit seperti tuberkulosisi, malaria, demam berdarah, kurang gizi, dan banyak lainnya, adalah contoh jelas dari kategori ini.

Hal ini menjadi masalah karena kategori pertama ini seringkali luput dari perhatian dunia saat ini. Meskipun target pemberantasan penyakit akibat kemiskinan ini telah dimasukkan dalam agenda organisasi-organisasi kesehatan dunia seperti WHO, namun kenyataannya tidak menjadi prioritas. Hal ini terlihat misalnya di dunia medis dan farmasi. Industri medis dan farmasi dunia cenderung menyasar inovasi mereka justru pada kategori masalah kesehatan kedua, yaitu penyakit dengan tingkat prevalensi tinggi akibat gaya hidup, yakni antara lain diabetes dan penyakit terkait tekanan darah dan jantung.

Namun demikian, sesungguhnya kedua jenis masalahan kesehatan ini sama pentingnya untuk dibenahi. Mari kita tengok faktor-faktor yang menjadi akar masalah dari persoalan di atas dan mengapa penting untuk mencari jalan keluarnya.

Mengurai Latar Belakang Permasalahan Kesehatan di Indonesia dari Aspek Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya
Laju roda perekonomian di Indonesia telah mengangkat bangsa Indonesia keluar dari garis kemiskinan. Ia telah mengantar masyarakat Indonesia pada kemakmuran dan menciptakan populasi masyarakat kelas menengah yang umumnya terdiri dari kalangan pekerja di kota-kota besar. Mereka, secara statistik, menempati jumlah terbanyak masyarakat Indonesia saat ini.
Kelas menengah didefinisikan sebagai golongan masyarakat yang mampu mencukupi kebutuhan di atas kebutuhan dasar/primer (pangan, sandang dan papan). Jadi, mereka tak pusing lagi untuk sekedar memenuhi meja makan mereka dengan nasi dan lauk pauk, atau sekedar membeli pakaian seminggu sekali. Kelas menengah yang mempunyai daya beli untuk memenuhi kebutuhan sekunder (dan secara terbatas tersier) ini jelas tidak termasuk dalam kategori orang miskin, namun juga bukan termasuk dalam kategori kaya (kelas atas).


Persoalan yang dihadapi oleh kalangan kelas menengah yang terkait kesehatan terletak di gaya hidup yang mereka jalani. Kalangan kelas menengah yang umumnya hidup di kota-kota besar, sehari-harinya harus bertarung dengan padatnya lalu lintas untuk berangkat dan pulang dari kantor tempat bekerja. Mayoritas kelas menengah ini menggunakan sepeda motor atau kendaraan umum sebagai sarana transportasi menuju tempat bekerja sehari-hari. Hal ini membuat mereka terpapar (exposed) pada racun polusi udara yang disebabkan oleh padatnya kendaraan yang digunakan di kota besar.

Sempitnya waktu yang mereka miliki karena harus berangkat pagi hari menuju tempat kerja dan pulang larut malam karena mengalami kemacetan di perjalanan menjadikan waktu untuk berolahraga menjadi minim. Belum lagi sarana olahraga, seperti fitness center yang kian mahal di perkotaan, akhirnya hanya dapat digunakan oleh kalangan masyarakat kelas atas.
Kesibukan yang tinggi menjadikan kalangan kelas menengah lebih memilih untuk menyantap makanan siap saji –dan seringkali berkualitas rendah—karena mereka tak sempat memasak sendiri makanan mereka.  Padahal, makanan-makanan seperti seperti mie instan, fried chicken atau burger jelas-jelas mengandung bahan pengawet serta penyedap rasa yang tidak sehat bagi tubuh.

Gaya hidup di ataslah yang kemudian menyebabkan prevalensi penyakit seperti diabetes dan penyakit terkait jantung dan tekanan darah semakin meningkat. Ini bukan jenis penyakit yang bisa dianggap remeh. Pengobatan penyakit-penyakit tersebut sangat menguras kantong, dan tidak ada pengobatan murah untuk jenis penyakit akibat gaya hidup. Maka, jika gaya hidup kelas menengah seperti yang dipaparkan di atas tak segera diperbaiki, hal ini akan menciptakan ‘jebakan dan ancaman’ bagi kelas menengah itu sendiri, yaitu menurunnya tingkat kesejahteraan secara keseluruhan.

Dari segi politik, kebijakan pemerintah dalam hal kesehatan di Indonesia turut menyumbang pada masalah kesehatan yang telah disebut di atas. Contoh nyata yang terjadi adalah kebijakan seputar ibu hamil dan persalinan. Target pemerintah untuk mengurangi angka kematian ibu (AKI) melahirkan adalah dari 250 menjadi 185 per 100.000 kelahiran. Namun, kenyataan saat ini, AKI justru meningkat ke 359 per 100.000 kelahiran. Ini jelas merupakan masalah kebijakan, yang turut menyumbang pada masalah kesehatan di Indonesia.

Kedua, kebijakan pemerintah terkait pelayanan kesehatan dasar (primary healthcare) atau Puskesmas juga problematik. Aturan pemerintah menyatakan Puskesmas perlu ada untuk setiap lima ribu penduduk. Namun hal ini sulit direalisasikan di wilayah-wilayah terpencil di Indonesia, khususnya di pulau-pulau kecil. Karena total penduduk kurang dari lima ribu, seringkali tidak terbangun Puskesmas di sana. Hal ini menunjukkan, bahwa kebijakan pemerintah yang dijalankan belum berpihak kepada semua masyarakat khususnya mereka yang berada di wilayah yang terpencil.

Ketiga, kebijakan kesehatan pemerintah belum mencakup penanganan prevalensi penyakit akibat gaya hidup. Contoh yang dapat diambil adalah iklan rokok yang banyak tersebar di sekeliling kita saat ini. Padahal, rokok telah diketahui merupakan penyebab utama penyakit kanker paru-paru. Selain itu, kurang ketatnya peraturan dilarang merokok di tempat-tempat umum, seperti bandara maupun terminal angkutan umum, menunjukkan lemahnya kebijakan kesehatan yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia.

Contoh lain adalah maraknya iklan susu formula ibu hamil dan bayi. Alih-alih menyebarkan pengetahuan pentingnya gizi yang bersumber dari bahan-bahan alami bagi ibu hamil dan bayi yang baru dilahirkan, pemerintah seolah-olah membiarkan propaganda susu formula merebak hingga ke klinik-klinik kesehatan ibu dan anak. Alhasil, pengetahuan yang tertanam di benak ibu-ibu Indonesia saat ini justru menganggap susu formula sebagai gizi utama bagi anak mereka. Hal ini menandakan lemahnya kebijakan pemerintah dalam menanamkan pengetahuan akan gizi yang penting bagi pertumbuhan anak.

Kesimpulannya, kebijakan pemerintah nampaknya belum menanamkan upaya gaya hidup sehat untuk memberantas permasalahan kesehatan yang dimaksud di atas.

Dari segi sosial budaya, persoalan kesehatan terkait dengan persoalan dan gagasan mengenai identitas masyarakat modern. Di kelas menengah, kini seseorang dilihat dan dinilai berdasarkan makanan yang dimakan, pakaian yang dikenakan, maupun kendaraan yang ditumpangi. Kita bisa mengambil contoh mall, sebagai sarana unjuk identitas masyarakat modern saat ini. Demi identitas, orang-orang menyerbu mall, menyantap makanan di gerai-gerai makanan bergengsi, yang mereka sendiri tidak tahu apakah makanan tersebut mengandung gizi yang baik atau tidak. Udara yang dihirup di mall juga bukanlah udara yang alami, melainkan berpendingin udara. Godaan diskon di toko-toko pun turut membahayakan isi kantong, karena alih-alih menabung, demi identitas, orang rela untuk menghamburkan uang begitu saja di mall.

Gaya hidup yang terbentuk semata-mata demi sebuah identitas, tentu bukanlah gaya hidup yang sehat. Oleh karena itu, faktor sosial budaya yang digambarkan di atas, turut berperan menyumbang kepada masalah kesehatan di Indonesia.

Pengaruh Persoalan Kesehatan Bagi Kualitas Hidup dan Kualitas Alam
Rangkaian faktor sebab-akibat masalah kesehatan di atas akan mengantar masyarakat Indonesia pada satu keadaan. Di tingkat individu, gaya hidup tidak sehat menghasilkan manusia yang sakit-sakitan. Dan ini mengakibatkan seseorang menjadi kurang produktif. Dalam jangka panjang, semakin banyak orang kurang produktif akan menjadikan masyarakat secara kolektif juga menjadi kurang produktif. Celakanya lagi, masyarakat yang tidak sehat dan tidak produktif ini akan menghasilkan generasi yang sama atau besar kemungkinan lebih buruk dibandingkan generasi sebelumnya. Ini menjadi ‘jebakan kelas menengah’ dalam perspektif yang lain.

Bagi alam, gaya hidup tidak sehat akan menurunkan kualitas alam. Lahan alami berubah fungsi demi memenuhi kebutuhan masyakarat dengan gaya hidup tidak sehat, seperti penanaman monokultur kelapa sawit, peternakan sapi untuk konsumsi daging yang kian meningkat serta pemukiman penduduk akibat pertambahan jumlah penduduk yang pesat. Ekosistem dihancurkan demi perkembangan ekonomi dan gaya hidup modern.

Bagaimana Upaya Untuk Kembali ke Gaya Hidup Sehat?
Demi mencegah penurunan produktivitas masyarakat, kualitas hidup dan kualitas alam, maka seyogianya manusia kembali ke gaya hidup sehat. Tentu hal ini tidaklah mudah, karena menyangkut gaya hidup yang telah mengakar di masyarakat. Namun, semuanya dapat dicoba dalam aktivitas maupun tindakan kecil dalam keseharian kita.

Gambar diambil dari http://www.health.gov/paguidelines/blog/post/A-Vision-for-a-Healthier-More-Prosperous-America.aspx

Lebih memilih repot sedikit memasak makanan yang dikonsumsi setiap hari, membawa bekal buah-buahan ke kantor atau sekolah, menolak junk food atau makanan cepat saji, dapat mulai dilakukan sedikit demi sedikit untuk mengubah gaya hidup kita. Jadikan cara mengonsumi makanan maupun minuman dalam diri kita lebih berkelanjutan.

Kita tidak sendiri. Kita hidup di dalam komunitas. Individu dapat mempengaruhi komunitas. Maka, gaya hidup sehat pun dapat ditularkan ke komunitas di sekitar diri kita masing-masing.
Mendukung upaya-upaya gaya hidup sehat, merupakan salah satu kontribusi pribadi untuk kembali ke gaya hidup sehat. Di Bandung misalnya, kita dapat mendukung gerakan bersepeda ke kantor (bike to work), gerakan car free day maupun gerakan menghidupkan ruang publik yang dicanangkan oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil.

Dalam skala nasional, upaya yang dapat dilakukan adalah mendukung perubahan kebijakan yang mendorong ke arah gaya hidup sehat.

Dalam skala global, upaya yang dilakukan salah satunya adalah turut berperan merumuskan target pembangunan pasca millenium development goals (pasca MDGs) yang dicanangkan oleh Badan PBB.

Penutup
Kita semua dapat melihat, betapa jalinan sebab akibat dari berbagai aspek sosial, budaya dan politik berperan dalam menurunkan kualitas kesehatan seorang manusia. Apakah kita sebagai rakyat Indonesia ingin generasi mendatang, anak cucu kita, terjebak dalam pusaran gaya hidup tidak sehat? Apakah kita akan membiarkan kualitas kesehatan jiwa, raga dan lingkungan sekitar anak cucu kita menurun akibat gaya hidup yang tidak sehat? Jawaban terletak di tangan kita semua. Maka, bertindaklah sekarang, masa depan generasi mendatang, ada di tangan kita, saat ini!

[MASALAH KITA] Mengulas Berbagai Masalah Kesehatan Zaman Sekarang


Masalah Kesehatan Zaman Sekarang
Pelatihan Yoga. Foto: dokumentasi KAIL
Kompleksitas persoalan masa kini menyebabkan orang menghadapi banyak masalah kesehatan, baik jasmani dan rohani. Kelangkaan sumber daya, persaingan, obsesi terhadap kesuksesan menyebabkan tekanan hidup yang mendorong timbulnya stress. Stress  yang berkepanjangan akan menyebabkan beban pikiran yang berkepanjangan yang mempengaruhi tubuh kita.
Banyak penyakit masa kini yang muncul akibat beban pikiran. 

Kondisi saat ini juga mendorong munculnya gaya hidup yang tidak sehat, antara lain melalui pola makan yang kurang bergizi, dan kurang berolahraga. Pada masyarakat miskin, mereka mengonsumsi makanan yang kurang bergizi karena tidak mampu membeli bahan makanan yang lebih sehat dan seimbang. Pada golongan ini, menu harian mereka didominasi oleh karbohidrat dan sedikit sayur serta protein nabati, mungkin sedikit protein hewani dan sangat sedikit buah. Untuk mendapatkan rasa enak dan tampilan yang bagus, seringkali mereka mengonsumsi bahan perasa dan pewarna buatan murah meriah yang justru mengurangi kualitas makanan dibandingkan pada kondisi alaminya. Pada kalangan yang lebih kaya, meskipun secara finansial mereka lebih mampu untuk membeli makanan yang lebih bergizi, terkadang pilihan mereka pun tidak bisa dianggap lebih sehat. Secara umum, pada masyarakat masa kini, semakin kaya secara finansial maka semakin banyak dan beragam menu protein hewani yang dikonsumsi dalam diet harian mereka. Diet yang terlalu banyak protein hewani dalam jangka panjang akan menimbulkan berbagai penyakit degeneratif, seperti berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah, yang biaya pengobatannya dapat menguras kantong.
Makanan Sehat. Foto: dokumentasi KAIL
Kondisi lain yang mendorong turunnya kualitas kesehatan kita adalah kurang olahraga. Bagi sebagian besar orang hambatannya adalah keterbatasan waktu dan ketersediaan fasilitas untuk olahraga. Bagaimana para aktivis menyikapi persoalan ini? Dalam Proaktif kali ini, KAIL melakukan survei pada beberapa aktivis untuk mendapatkan tanggapan mereka mengenai isu kesehatan dan gaya hidup. Berikut ini adalah liputannya.

Pentingnya Kesehatan dalam Hidup Kita
Semua aktivis yang mengembalikan survei menganggap kesehatan merupakan hal yang penting/sangat penting atau paling penting dalam hidup. Tubuh yang sehat memungkinkan kita untuk melakukan banyak hal yang penting dalam hidup kita. Tanpa kesehatan, banyak hambatan ataupun keterbatasan yang akan dialami dan bahkan, sampai tidak dapat kita lakukan sama sekali.  Pendapat senada diungkapkan oleh Asep Suhendar, seorang aktivis pendidikan anak dan remaja dari Rumah Pelangi dan Komunitas Sahabat Kota, yang menyatakan bahwa sehebat apapun kita, tanpa kesehatan, kita akan terhambat. Jika kesehatan kita menurun, produktivitas kita pun akan menurun. Meskipun bukan segala-galanya dalam hidup ini, kesehatan merupakan aset yang sangat berharga bagi kita untuk mewujudkan impian kita.

Melanie, salah satu responden menambahkan argumentasi sebagai berikut. Tingginya biaya kesehatan menambahkan daftar alasan mengapa sangat penting bagi kita untuk menjaga kesehatan. Begitu kita sakit, akan ada banyak biaya yang perlu dikeluarkan. Menurutnya, akan jauh lebih mudah dan murah untuk menjaga kesehatan, dibandingkan mengobati setelah jatuh sakit.

Masalah Kesehatan Yang Sering Dialami
Mia, salah seorang responden, menyatakan bahwa kita sering lalai dalam menjaga kesehatan kita dengan cara : melewati jam makan, jarang olah raga, begadang. Bila hal-hal tersebut dilakukan secara terus menerus dan menjadi kebiasaan, maka akan memberikan beban tersendiri bagi tubuh kita. Kita akan kurang istirahat, kekurangan asupan gizi yang berujung pada berkurangnya kemampuan tubuh kita untuk meregenerasi sel-sel tubuh yang menopang kehidupan kita.

Hal-hal lain yang banyak mempengaruhi kesehatan kita adalah stress. Seperti dituliskan oleh Selly Agustina, mahasiswa S2 Universitas Pajajaran dan relawan di beberapa organisasi sosial dan lingkungan di Bandung, keterbatasan waktu untuk mewujudkan semua yang diinginkan telah mendorong praktek lupa makan, lupa tidur yang menjadi beban bagi tubuh kita. Hal ini telah mendorong pula munculnya beban pikiran penyebab stress,yang secara tidak langsung juga ikut mempengaruhi kondisi tubuh kita.
Masalah-masalah kesehatan lain yang dihadapi adalah alergi. Alergi pada sesuatu membatasi kita untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang terkait dengan alergi tersebut. Misalnya alergi debu dan hawa dingin. Jika alergi sering kambuh, maka aktivitas kita akan terhambat. Perlu dilakukan upaya tambahan, baik untuk pencegahan maupun penanganan ketika alergi terjadi.

Masalah besar lainnya di zaman sekarang ini yang mungkin tidak terjadi di masa sebelumnya adalah beredarnya zat-zat kimia buatan di dalam bahan makanan, udara yang kita hirup dan air yang kita minum. Banyak dari zat-zat kimia tersebut menjadi racun dalam tubuh kita apabila kita konsumsi secara terus menerus. Penumpukan racun di dalam tubuh itulah yang akan memicu berbagai penyakit yang menggerogoti kesehatan kita.

Cara Mengatasi Masalah Kesehatan
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan kita. Dhitta Puti Sarasvati, ibu dosen pegiatan pendidikan, memberikan salah satu tips menuju sehat dengan cara memperbanyak minum air putih dan jus buah. Sebagaimana didukung oleh Ibu Tini dan Melanie, Puti juga mengganggap mempraktekkan pola makan yang lebih sehat, di antaranya dengan memilih makanan-makanan yang kaya serat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, serta mengurangi konsumsi daging adalah salah satu kunci menuju sehat. Masak makanan sendiri juga dianggap penting untuk menjaga kesehatan karena dengan memasak makanan sendiri, kita dapat menjamin kualitas bahan makanan yang digunakan dan penyajiannya.

Konsumsi vitamin juga disarankan untuk menambah amunisi tubuh dalam mempertahankan kesehatan, seperti disampaikan oleh Mia. Tidur cukup dan olah raga secara teratur juga diyakini sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kesehatan kita. Meskipun, sebagaimana diakui oleh Selly, kosistensi pelaksanaannya seringkali tidak mudah karena keterbatasan waktu. 

Pengalaman lain diungkapkan oleh Jessis yang menggunakan obat untuk mengurangi rasa sakit kepala yang secara rutin menyerang. Upaya ini dilakukan ketika upaya lainnya, seperti mencoba tidur dan upaya lainnya tidak berhasil. Upaya-upaya terakhir seperti operasi juga akhirnya dijalani oleh Tini dan Melanie ketika upaya-upaya untuk penyembuhan lainnya sudah tidak ada lagi.

Tumbuhan Sumber Obat-obatan. Foto: dokumentasi KAIL
Untuk penyakit akibat alergi, hal yang perlu dilakukan adalah mencegah situasi yang menyebabkan alergi tersebut. Jika kondisi tersebut terpaksa tidak dapat dihindari maka penanganan situasi alergipun harus dilakukan.  Seperti yang diungkapkan oleh Dyana dan Iwut, pemberian obat oleh dokter (baik diminum, dioles maupun disuntikkan) kerap perlu diambil untuk mengatasi kondisi alergi. Jika ditangani dengan baik, penanganan alergi cukup banyak membantu hidup mereka yang terpaksa hidup dengan alergi.

Cara lain untuk menjaga kesehatan adalah dengan menjaga pikiran agar tetap positif dan sehat. Mia mengungkapkan pengalamannya bahwa ketika ia mengijinkan dirinya untuk menjadi sakit, maka ia akan menjadi sakit beneran. Puti menyatakan bahwa penyakit pikiran ini dapat diatasi dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Senada dengan Puti, Iwut menyatakan banyak berdoa akan membantu kita untuk tetap sehat. Berbeda dengan Puti dan Iwut, Jessis, aktivis lingkungan dari YPBB, memiliki tips yang lain untuk menjaga kesehatan pikiran. Ia menyatakan bahwa menyibukkan diri dengan berbagai hal positif yang akan membantu otak kita agar memikirkan hal-hal yang positif. Jessis juga menuliskan bahwa menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat dapat membantu kita untuk berpikir positif dan tetap sehat.

Chakra. 
Kebahagiaan dalam hidup akan mempengaruhi kondisi kesehatan kita. Kesedihan yang berkepanjangan dapat menyebabkan beban pikiran bagi kita, yang pada akhirnya, turut mempengaruhi kesehatan kita. Jika kita berbahagia, lebih besar kemungkinan bagi kita untuk tetap sehat. Sebagaimana diungkapkan oleh Asep dan Bu Tini, menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan akan membantu kita untuk tetap sehat.

Penutup
Demikianlah ulasan tentang masalah kesehatan dan penyelesaiannya, menurut para responden Proaktif Online. Mudah-mudahan pendapat mereka dapat membantu Anda untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup Anda.
***



[OPINI] Plus Minus Asuransi Kesehatan

Gambar diambil dari http://www.kesehatanmasyarakat.info/?p=338

Sekarang ini tentu kita sudah tidak asing lagi dengan produk asuransi kesehatan. Berbagai perusahaan asuransi menawarkan produk asuransi kesehatan dengan macam-macam fitur yang pada intinya menawarkan kemudahan dan jaminan saat mengakses layanan kesehatan. Mengapa asuransi kesehatan beredar? Dan apa itu asuransi kesehatan?
Asuransi kesehatan muncul ketika biaya kesehatan menjadi mahal. Membengkaknya biaya kesehatan menjadi momok yang mengerikan bagi siapapun. Maksud hati berobat untuk sembuh, namun ketika mendapati biaya berobat melebihi kemampuan untuk membayar, maka penyakit lain malah bertambah. Dunia kesehatan Indonesia, beberapa waktu terakhir ini, menampilkan kasus-kasus yang menyedihkan. Salah satunya adalah peristiwa dibuangnya pasien miskin di RSUD Lampung, alasan yang diketahui adalah pasien tersebut tidak mampu membayar biaya pengobatan yang diterimanya. Mundur ke tahun 2012, seorang pemulung harus merelakan putrinya terkena muntaber hingga menghembuskan nafas terakhirnya, alasannya tidak mampu membayar biaya pengobatan ke puskesmas. Kedua cerita itu hanya sepotong kecil dari situasi dunia kesehatan yang kadang begitu kejam membiarkan nyawa manusia melayang karena tidak mampu membayar. Atas dasar hal itulah, asuransi kesehatan makin menancapkan kehadirannya di tengah masyarakat.

Asuransi kesehatan pada dasarnya seperti produk asuransi lainnya, yakni memberikan jaminan perlindungan dalam dunia kesehatan. Artinya bilamana terjadi sesuatu  secara tidak terduga pada kesehatan kita, asuransi akan menggantikan biaya kesehatan yang dikeluarkan akibat penyakit yang diderita. Biaya yang digantikan ini tidak berlaku sama untuk semua produk asuransi kesehatan, melainkan tergantung jenis dan kebijakan dari perusahaan penyedianya. Ada yang menawarkan penggantian secara penuh, ada yang  memasang batas maksimal penggantian sehingga apabila biaya yang dikeluarkan melebihi batas, pasien pengguna asuransi kesehatan harus mengeluarkan biaya sisanya.

Umumnya, untuk asuransi kesehatan,  perusahaan-perusahaan penyedia asuransi kesehatan bekerja sama dengan pihak rumah sakit. Hal ini berhubungan dengan pengaturan pembiayaan bagi pemegang polis asuransi kesehatan, karena bila tidak ada kerjasama, beberapa rumah sakit akan mengharuskan pasien untuk membayar biaya pengobatan atau bahkan menolak pasien tersebut. Sementara dari pihak perusahaan asuransi, cenderung  mengarahkan pemegang polis untuk berobat ke rumah sakit yang sudah memiliki jaringan dengan mereka. Hal ini kadang menyulitkan pemegang polis terutama terkait dengan lokasi rumah sakit yang dimaksud.

Penulis pernah melihat pengalaman seorang teman dari Swedia yang kebetulan mampir ke Indonesia. Teman tersebut mengalami semacam masuk angin, namun karena tidak biasa mengalaminya, dia masuk rumah sakit untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya. Sebelum masuk ke rumah sakit, dia harus memastikan bahwa rumah sakit yang akan dikunjungi masuk dalam kategori rumah sakit yang akan ditanggung oleh asuransi yang diikutinya. Setelah mendapatkan kepastian, barulah dia berobat di rumah sakit itu.

Gambar diambil dari http://www.asuransi-kesehatan.org/wp-content/uploads/2010/12/asuransi-kesehatan-terbaik.jpg
Bayangkan, bila kita membeli asuransi, lalu dalam suatu keadaan yang mendesak kita harus pergi ke sebuah kota yang rumah sakitnya tidak memiliki jaringan dengan perusahaan penyedia asuransi tersebut. Apakah kita harus terbang ke kota lain yang memiliki rumah sakit yang berjaringan dengan perusahaan asuransi tersebut? Kalau penyakitnya ringan, mungkin masih sempat. Tapi bagaimana kalau penyakit berat atau bahkan penyakit yang bisa mencabut nyawa kita? Tentu sangat merepotkan.

Asuransi kesehatan, dalam sistem yang berlaku sekarang ini, memberikan keringanan dalam biaya pengobatan, terlebih bila kita diharuskan untuk melakukan operasi. Namun dalam prakteknya, perusahaan asuransi selalu mensyaratkan hal berikut ini untuk menjadi pemegang polis :
  1. Riwayat penyakit yang diderita; semakin panjang daftar penyakit yang pernah kita derita, semakin kecil kemungkinan kita dapat menjadi pemegang polis asuransi. 
  2.  Penghasilan; ini bukan syarat yang diajukan oleh asuransi secara tertulis, namun dari kewajiban menyetor sejumlah uang untuk membeli polis asuransi, maka penghasilan adalah syarat yang penting.
    Jadi katakanlah, bila kita cukup sehat untuk menjadi pemegang polis asuransi, namun jika tidak memiliki penghasilan yang mencukupi, maka kita tidak bisa memiliki asuransi kesehatan. Sementara kalau kita memiliki penghasilan yang lebih dari cukup, tapi jika sejarah penyakit yang pernah kita derita atau berada dalam kondisi fisik yang tidak baik, maka kita pun tidak mendapat persetujuan dari perusahaan asuransi untuk memiliki polis. Untuk itu, agar dapat memiliki sebuah polis asuransi, kedua syarat tersebut harus dipenuhi.

    Selain kondisi yang telah disebutkan di atas, perusahaan asuransi juga melihat faktor usia yang akan mempengaruhi besarnya polis yang harus dibayarkan. Logika yang mendasari adalah semakin tua usia seseorang, mereka dipandang memiliki kerentanan terhadap penyakit sehingga kemungkinan besar akan tertimpa resiko terhadap penyakit. Dengan kondisi demikian, perusahaan asuransi akan mengeluarkan uang cukup banyak untuk menjamin resiko yang ditanggung oleh pemegang polis. Maka kompromi yang dilakukan adalah dengan menaikkan harga polis.

    Kecenderungan umum yang terjadi adalah perusahaan asuransi selalu menawarkan produk asuransi kesehatan pada orang-orang yang sehat. Hal ini dikarenakan perusahaan asuransi ingin orang menyimpan uang dalam bentuk polis dan dalam jangka waktu yang cukup panjang tidak menggunakannya. Semakin jarang seorang pemegang polis sakit dalam rentang pelunasan polisnya, maka uang yang ditanamkan akan cukup besar untuk diputar ke dalam bisnis yang lain. Sementara sebaliknya, bila seorang pemegang polis beberapa kali sakit atau mengalami sakit yang parah, maka perusahaan asuransi harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk menanggung pengobatannya. Tentu, sebagai sebuah perusahaan dalam paradigma bisnis, maka yang diupayakan adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

    Sementara pengelolaan dana asuransi kesehatan pada dasarnya menggunakan prinsip subsidi silang. Penjelasannya berikut ini, asuransi kesehatan memiliki rentang waktu pembayaran polis, rata-rata 10 tahun lamanya. Pemegang polis diwajibkan untuk membayar polis asuransi dalam kurun waktu tersebut setiap bulan. Di sini, tergantung kebijakan perusahaan asuransi dalam mengaktifkan perlindungannya. Ada yang langsung mengaktifkan perlindungan terhadap pemegang polis, yang artinya setelah pemegang polis melakukan pembayaran pada bulan pertama lalu tertimpa penyakit, maka perusahaan asuransi akan menanggung biaya pengobatan sesuai dengan kesepakatan. Ada juga yang mensyaratkan bahwa perlindungan hanya terbatas pada penyakit tertentu, misalnya operasi tidak ditanggung. Hal demikian tergantung pada kebijakan asuransi dan hal itu juga bergantung pada model bisnis yang dibangun oleh perusahaan bersangkutan.

    Bagaimanapun modelnya, secara prinsip, mereka yang tidak pernah sakit akan digunakan dananya untuk menanggung yang sakit. Apabila dananya tidak dipergunakan dalam rentang waktu tertentu, maka dananya akan diputar dalam instrumen keuangan yang lain agar menghasilkan profit bagi perusahaan tersebut. Profit tersebut yang kemudian digunakan untuk membayar ongkos operasional dan menggaji para staf. Dulu, pernah ada kasus yang membuat trauma masyarakat Indonesia di tahun 1990-an, di mana asuransi kesehatan akan hangus bila tidak digunakan. Kebijakan ini dibuat oleh Perusahaan Asuransi Bumiputera. Dampak yang dihasilkan cukup membekas di hati para korban sehingga mereka alergi untuk mendengar kata ‘asuransi’. Persoalannya adalah polis yang dibayarkan tidak dapat dicairkan kembali setelah masa  pertanggungan berlalu. Polis yang hangus kemudian menjadi hak perusahaan asuransi.Kondisi ini yang menyebabkan para pemegang polis merasa dirugikan.

    Dalam kondisi sekarang, hal tersebut tidak  berlaku lagi, yakni ketika polis telah jatuh tempo, dana yang telah dikumpulkan dapat dicairkan kembali. Bahkan beberapa perusahaan memberikan bonus kepada pemegang polis, bila selama masa pertanggungan tidak pernah terjadi kerugian. Kondisi ini mungkin bisa dikatakan sebagai hasil pembelajaran para perusahaan asuransi, atau strategi pemasaran yang dilakukan untuk menarik para nasabah. Jadi, bila kita membeli polis asuransi, maka kita tidak perlu kuatir bahwa polis akan hangus.

    Sebagai penutup, asuransi kesehatan bagi beberapa orang adalah pilihan yang paling masuk akal dalam mengamankan hidup, mempertimbangkan biaya kesehatan yang mahal. Di sisi lain, dalam sistem keuangan yang berlaku saat ini di mana segalanya bertumpu pada uang, maka menekan pengeluaran keuangan dalam jangka panjang melalui pembelian polis menjadi sangat masuk akal pula. Namun, yang perlu disadari dalam membeli asuransi kesehatan adalah pola hidup kita sendiri. Selama pola hidup yang kita miliki seimbang, antara apa yang kita makan dan keluarkan, maka kita tidak perlu kuatir akan menderita sakit parah sehingga nantinya biaya pengobatan menjadi mahal. Maka kiranya tidak arif bila kita mengambil keputusan membeli asuransi kesehatan karena kekuatiran belaka. Kita harus memikirkan dengan akal sehat dan sadar bahwa asuransi kesehatan adalah instrumen pendukung dalam kehidupan masa kini untuk memudahkan kehidupan keuangan masa kini.


    [MEDIA] Dikepung oleh Zat Aditif yang Berbahaya pada Makanan!

    Oleh: Tim YPBB

    Pelatihan Zat Aditif Pada Makanan. Foto: dokumentasi YPBB
    Pendidikan dan pelatihan adalah salah satu pilar Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) dalam menjalankan kampanye gaya hidup organis bagi kalangan menengah ke atas perkotaan di kota Bandung. Salah satu materi pelatihan yang pernah dibawakan adalah tentang Bahaya Zat Aditif pada Makanan.

    Bila diamati dengan seksama, makanan yang kita makan sehari-hari mengandung bahan makanan yang sehat dan juga yang tidak sehat. Pemahaman tentang baik atau tidaknya makanan tersebut kemudian diperkuat dengan pembahasan tentang zat aditif. Zat aditif adalah bahan-bahan yang ditambahkan pada makanan di luar tujuan memberikan gizi utama (karbohidrat, protein, dan lemak).

    Indonesia memiliki banyak zat aditif tradisional. Namun, sekarang banyak sekali zat aditif buatan dengan nama kimia yang asing dan tidak kita kenal. Banyaknya zat aditif buatan ini, ternyata salah satunya,disebabkan oleh adanya kebutuhan dari industri untuk memproduksi makanan dalam jumlah besar yang akhirnya perlu disebarkan secara luas ke seluruh Indonesia. Industri tersebut saling bersaing menarik perhatian konsumen dan juga menghasilkan banyak kemasan yang sulit didaur ulang.

    Bagaimana cara kita membedakan zat aditif yang aman dan yang berbahaya? Padahal nama zat aditif itu banyak yang asing dan tidak dikenal. Tim YPBB memberikan solusinya yaitu Kamus Zat Aditif.
    Bila kita kesulitan dalam memahami sebuah kata dalam bahasa Inggris, maka yang kita lakukan biasanya adalah mencari artinya di dalam kamus bahasa Inggris. Nah, kamus zat aditif ini pun sama fungsinya. Cara menggunakan kamus cukup sederhana. Simulasi penggunaan kamus dilakukan dalam pelatihan-pelatihan untuk mengenali bahwa kebanyakan produk yang dianalisis tidak sehat karena paling tidak,mengandung satu atau dua zat aditif yang berbahaya dan mengakibatkan macam-macam penyakit.


    Peserta pelatihan juga diperkenalkan dengan berbagai jenis zat aditif. Seperti misalnya terkait zat aditif yang jelas dilarang oleh pemerintah tapi masih tersebar cukup luas,contohnya  boraks dan formalin; zat aditif yang diijinkan tapi beresiko, seperti MSG dan siklamat,dan zat aditif yg berbahaya jika berlebihan dikonsumsi seperti gula dan garam.
    Menemukan Zat Aditif Pada Makanan
    Foto: dokumentasi YPBB

    Jadi, ternyata kita “dikepung” oleh zat aditif berbahaya pada makanan! Untunglah, dengan menggunakan Kamus Zat Aditif,kita bisa mengetahui makna di balik nama asing tersebut, otomatis memiliki informasi kesehatan dan juga kita jadi bisa memutuskan: apakah kita akan mengonsumsi sebuah makanan atau tidak.
    Selain itu, apalagi yang bisa kita lakukan?

    Yuk, mari mulai mengubah pola hidup kita untuk mengurangi kebutuhan bahan aditif yang berbahaya dengan membeli makanan segar dan lokal, beralih ke pewarna alami, membiasakan diri dengan beragam rasa pada pemanis dan juga memasak makanan sendiri untuk meyakinkan bahwa sebanyak mungkin zat aditif yang digunakan adalah yang aman.

    [TIPS] Tips Hidup Sehat dan Hemat

    Oleh: Melly Amalia

    Dalam menjalankan aktivitas rutinnya, seorang aktivis harus selalu dalam kondisi fit dan sehat, baik secara jasmani dan rohani. Apalah artinya bila tubuh kuat, tapi jiwanya rapuh. Begitu pula sebaliknya, jiwa kuat tapi tubuh kita mudah lelah, stres dan tidak semangat. Bagaimana ingin mencapai mimpi bila hidupnya dikelilingi oleh kondisi yang rentan dengan penyakit. Saya percaya  bahwa semua orang ingin mempunyai
    hidup yang sehat. Nah, gaya hidup menjadi kunci dalam pencapaian hidup yang sehat. Tidak perlu mahal kok.

    Gaya hidup masyarakat saat ini membuka peluang munculnya berbagai macam penyakit, mulai dari ragam jenis makanan sampai pengaruh lingkungan yang tidak sehat. Saya sangat mengerti tubuh saya dan peka mengetahui bila tubuh ini mulai mengalami gejala sakit dengan mengenali tanda-tandanya. Biasanya kalau waktu tidur saya sangat sedikit, pastinya kepala merasa pusing dan ada rasa tidak nyaman beraktivitas. Yang saya lakukan adalah saat itu juga saya perlu memejamkan mata dan beristirahat sejenak. Hal-hal lainnya yang menjadi kebiasaan adalah perbanyak minum air putih dan mengolah masakan sendiri tanpa menggunakan zat aditif seperti MSG. Setidaknya saya mencoba mencegah penyakit-penyakit tersebut hinggap di tubuh saya. Karena kalau saya sakit, maka saya tidak dapat menjalankan aktivitas dan dampaknya bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Satu hal lagi yang paling penting menurut saya, kita harus berpikiran positif untuk menghindari penyakit hati. Semua jenis penyakit bersumber dalam pikiran dan hati kita.

    Ada banyak cara untuk mencapai hidup sehat yang tidak selalu harus mahal. Hampir semua orang bisa melakukannya, asal punya kemauan yang kuat. Berikut tips murah meriah untuk hidup sehat :

    1. Istirahat yang cukup, minimal 6-8 jam. Hal ini akan memberikan ruang untuk tubuh kita beristirahat, memulihkan dan mengembalikan tenaga. Saat bangun, tubuh kita sudah kembali segar dan siap beraktivitas kembali. Tau gak sih? Ternyata kurang istirahat bisa menyebabkan penuaan dini loh!

    2. Minum air putih secukupnya, atau tidak berlebihan. Artinya, tidak lebih dari 0,03 liter per kg berat badan kita. Misalnya seseorang berat badannya 5- kg, maka konsumsi air minum yang diperbolehkan tidak lebih dari 1,5 liter per hari. Jadi kebutuhan minum air putih tiap orang berbeda, tergantung ukuran tubuh dan kebutuhannya. Umumnya tubuh kita memerlukan 2,7-3,7 liter air yang berasal dari makanan (20%) dan air yang kita minum sekitar 2-3 liter air atau sekitar 8-10 gelas per hari. (Sumber : http://www.tipscaraterbaik.com/ukuran-minum-air-putih-perhari-yang-benar.html)
    Tanamkan dalam pikiran kita bahwa ‘air putih adalah minuman sehat dan kesukaan saya’. Hindari minuman yang bersoda dan beralkohol. 

    3. Konsumsi makanan sehat seperti sayuran dan buah. Sayuran dan buah-buahan banyak mengandung vitamin yang tidak bisa tergantikan oleh sebuah vitamin atau suplemen. Perbanyak makan sayur dan buah akan membuat tubuh kita sehat dan kuat .Hindari makanan yang diawetkan, junkfood,cepat saji dan olahan makanan yang mengandung zat aditif seperti MSG. Biasakan memasak sendiri menggunakan bumbu/rempah alami. Selain sehat, juga menghemat pengeluaran.
    4. Olahraga teratur minimal 15-20 menit. Olahraga yang dilakukan secara rutin dan teratur akan terasa dampaknya. Selain tubuh menjadi fit dan segar, olahraga juga mengurangi stres dan menghindari resiko penyakit. Sebentar tidak masalah, asalkan rutin dilakukan. Banyak jenis olahraga yang murah meriah dan tidak memerlukan biaya yang mahal, misalnya jalan kaki, lari santai, bersepeda atau naik turun tangga dengan memanfaatkan taman-taman kota di sekitar kita.

    5. Hindari rokok. Banyak orang yang tahu akan bahaya rokok, tapi banyak pula yang mengabaikannya. Selain berbahaya bagi kesehatan, rokok pastinya akan menguras kantong kita. Alangkah baiknya bila anggaran membeli rokok dialihkan ke hal-hal yang lebih bermanfaat, misalnya membuat menu makanan yang sehat di dapur bersama keluarga atau teman.

    6. Berpikiran positif. Selalu berpikiran positif terhadap hidup yang kamu jalani. Hindari pikiran negatif yang ada dalam diri kamu, termasuk juga orang-orang negatif yang ada dalam lingkaran kamu. Saatnya untuk berkembang dan bebas dari penyakit. Kalau kita terbiasa berpikiran positif, maka kita akan banyak-banyak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan.

    Ternyata tidak terlalu sulit ya bila kita ingin mendapatkan hidup yang sehat. Semua ada di sekitar kita dan tidak memerlukan biaya yang mahal. Yang perlu diingat adalah kita menjalani pola hidup yang sehat secara seimbang. Yang sewajarnya saja dan mudah untuk dilakukan. Ayo mulai hidup sehat!

    ******

    [JALAN-JALAN] Taman-Taman Kota di Bandung, Pendukung Gerakan Hidup Sehat Warga

    Oleh: Selly Agustina

    Banyak penelitian yang mengatakan bahwa kualitas hidup masyarakat perkotaan lebih rendah dari masyarakat perdesaan. Pertambahan penduduk yang sangat tinggi di kota seringkalimelampaui kemampuan daya dukung lingkungannya, sehingga berimbas pada kualitas hidup manusia yang semakin rendah. Semakin meningkat jumlah populasi maka semakin banyak sumber daya alam yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan juga semakin banyak limbah yang dihasilkan. Pada tahun 1990, hanya 14 persen dari penduduk dunia yang tinggal di kota besar. Tahun 2008, penduduk yang tinggal di kota meningkat menjadi 50 persen. PBB memperkirakan jumlah penduduk dunia yang tinggal di kota besar akan meningkat menjadi 70 persen. Hal ini menimbulkan berbagai
    permasalahan sosial, ekonomi, keamanan, kesejahteraan, ketersediaan lahan, air bersih, kebutuhan pangan, serta dapat berdampak pada kerusakan lingkungan dan kesehatan warganya.

    Kepadatan penduduk mendorong peningkatan kebutuhan akan lahan permukiman, alat transportasi, dan kawasan industri yang menggunakan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) sehingga mengakibatkan kadar CO2 dan CO di udara semakin tinggi. Udara kota yang kurang sehat karena polusi kendaraan bermotor dan industri akan menurunkan kualitas kesehatan warganya. Polusi di perkotaan mempengaruhi kesehatan manusia sejak masih di dalam kandungan. Ibu hamil yang terpapar polutan akan menurunkannya pada janin yang dikandung sehingga rentan terhadap penyakit. Misalnya polutan yang bernama Xenoestrogen, dialirkan ke dalam darah bayi sehingga para anak yang tinggal di kota-kota besar sudah terkena polusi sejak di dalam kandungan. Zat ini banyak ditemukan pada asap kendaraan bermotor maupun asap pabrik yang berakibat dapat memicu obesitas, hiperaktif, pubertas dini, masalah kesuburan, kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker prostat. Selain itu, ibu yang tinggal di daerah perkotaan ditemukan melahirkan bayi yang lebih sensitif terhadap alergi dibanding bayi yang lahir dari ibu di daerah perdesaan.

    Hal lainyang tidak kalah penting dari dampak hidup di perkotaan adalah masalah kesehatan psikologis. Warga kota cenderung dilanda stres karena tekanan pekerjaan di kantor belum lagi kesibukan yang tinggi menyebabkan kegiatan rekreasi berkurang. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bayi yang lahir dan tumbuh di kota besar berpotensi menghadapi berbagai masalah kesehatan, baik secara fisik maupun mental yang serius. Dr. Glyn Lewis dari Institute of Psychiatry di London, menyebutkan bahwa penyakit otak seperti Skizofrenia terjadi dua kali lebih tinggi terhadap pria yang lahir dan dibesarkan di area perkotaan. Masyarakat perkotaan juga memiliki resiko 39 persen lebih besar merasakan depresi dan gangguan bipolar, serta 21 persen meningkatkan rasa panik dan fobia berlebihan. Wanita muda yang tumbuh di perkotaan juga memiliki resiko lima kali lebih besar terkena masalah gangguan makan seperti bulimia.

    Masalah fisik dan psikis yang sering dialami masyarakat di perkotaan saat ini sebenarnya dapat dikurangi dengan cara memberdayakan ruang-ruang publik terutama Ruang Terbuka Hijau sebagai pusat kegiatan warga di waktu senggang. Baru-baru ini Kota Bandung tengah heboh dengan renovasi beberapa taman sebagai area publik. Sebut saja Taman Lansia, Taman Pustaka Bunga, Taman Fotografi dan yang paling banyak dibicarakan khalayak yaitu Taman Jomblo. Mengapa pemerintah Kota Bandung menganggap bahwa taman merupakan hal yang strategis perlu segera dibenahi? Karena selain untuk memenuhi amanat Undang-Undang yang mengharuskan luas Ruang Terbuka Hijau minimal 30%, juga untuk memenuhi aspek kesehatan fisik dan psikologis warga kota. Taman kota diharapkan menjadi replika kecil dari hutan alam, banyak flora dan fauna yang juga bisa hidup di sebuah taman. Kita tahu bahwa pohon bisa menghasilkan oksigen dan menyimpan cadangan air. Hal ini sangat berguna untuk mencegah banjir saat musim hujan atau kekeringan saat musim kemarau. Selain itu, hewan-hewan yang hidup di dalamnya menjagakeanekaragaman hayati di perkotaan dan berfungsi sebagai penyeimbang alam.

    Dengan banyaknya area-area publik yang bisa dengan mudah diakses setiap saat, diharapkan semakin banyak orang yang beraktivitas dan berekreasi sekadar untuk melepas ketegangan dari penatnya rutinitas sehari-hari. Kegiatan rekreasi terbukti efektif untuk mencegah dan mengurangi gejala stres atau depresi. Seseorang yang berkunjung ke taman kota akan dapat merasakan berbagai manfaat sekaligus, mulai dari merasakan udara bersih hingga bersosialisasi dengan warga kota lainnya. Menghidupkan kembali taman kota sebagai pusat kegiatan warga secara tidak langsung akan berkontribusi pada perkembangan komunitas dan gerakan anak muda.

    Foto : Dokumentasi kegiatan Hari Belajar Anak yang diselenggarakan oleh Kail, dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus 2013
    Di Bandung, saat ini terdapat sejumlah komunitas yang seringkali melakukan kegiatan di taman kota antara lain : Komunitas Aleut, Komunitas Bandung Berkebun, Komunitas Taman Kota, Komunitas Sahabat Kota, Komunitas Fotografi, dan lain-lain. Mereka sadar akan pentingnya taman kota sebagai media perkembangan masyarakat, dengan atau tanpa campur tangan pemerintah. Kegiatan komunitas-komunitas ini difokuskan pada pengembangan kualitas manusia, baik melalui program-program bersifat intelektual, sosial dan lingkungan.

    Galih Sedayu, seorang penggagas komunitas fotografi di Bandung, menuturkan bahwa komunitasnya rutin berkegiatan minimal tiga kali dalam seminggu di Taman Cempaka untuk menggelar kelas fotografi, workshop, diskusi dansarasehan. Bahkan dengan keluarga pun, Kang Galih (begitu biasanya saya menyapa) sering melakukan kegiatan sarapan bersama. Dengan adanya fasilitas internet yang mendukung kegiatan belajar serta public furniture yang eye catching, menarik banyak warga datang ke taman untuk sekadar berkumpul, bermain atau melakukan kegiatan edukasi. Menurutnya, fungsi sosial sebuah taman kota saat ini semakin terlihat jelas.

    foto dari blog pribadi Galih Sedayu: http://fotografius.wordpress.com/pembicara-fotografi/
    Untuk mendukung kegiatan warga di taman kota, diperlukan sarana dan prasarana yang mendukung antara lain toilet umum, tempat sampah, mushola, dan lain-lain. Sayangnya perawatan fasilitas publik di Bandung sangat mengecewakan seiring kurangnya kesadaran dan rasa memiliki dari para warganya . Di Taman Lansia sendiri, saya melihat banyak sekali sampah berserakan dan toilet umum yang kurang terawat dengan baik. Dalam hal ini, fungsi komunitas dan kelompok masyarakat sangat penting dalam menjaga keindahan dan fasilitas di taman kota.

    Dampak renovasi taman juga dirasakan sangat menyenangkan dan sangat menguntungkan oleh Bu Tini, pendiri komunitas GSSI. Namun Bu Tini juga menyayangkan kondisi beberapa taman kota yang kurang terawat karena masalah sampah yang berserakan. Ibu rumah tangga yang aktif di pelbagai komunitas di Bandung ini, hampir bisa dipastikan berkunjung ke taman kota minimal seminggu sekali, berkeliling ke Taman Cempaka, Taman Pustaka Bunga, Taman Tongkeng, Taman Ganeca, dan lain-lain. Beliau merasakan dampak positif dari renovasi taman kota tematik terhadap perkembangan keluarga dan komunitasnya. Biasanya Bu Tini bersama anak-anaknya dan para relawan serta Kober (Kelompok Belajar) melakukan aktivasi taman dengan membawa roda baca, bermain bersama sampai rapat sembari ber-potluck. Peran komunitas seperti inilah yang diharapkan juga mendukung perawatan taman-taman kota.

    Beberapa waktu ke belakang, sekelompok anak muda berpartisipasi dalam merenovasi taman Musik di Jalan Belitung dengan mendesain,mengecat, dan membersihkan sendiri taman. Mekanisme seperti ini secara otomatis akan menimbulkan rasa memiliki di antara pengguna fasilitas publik tersebut.  Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian tanpa dukungan dan peran serta warganya. Selain itu, pihak swasta pun dilibatkan dalam pendanaan pembangunan fasilitas di taman kota melalui alokasi dana CSR-nya. Sudah selayaknyalah semua pihak saling bekerjasama dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat di perkotaan. Kita mendapat manfaat dari adanya taman kota, maka kita sendiri yang perlu menjaga keberlanjutannya.


    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...