[Opini] Jebakan Kehidupan : Faktor Tersembunyi Penghambat Kebahagiaan


Apakah anda merasa sulit untuk berbahagia?
Apakah anda merasa sulit percaya diri?
Apakah anda merasa selalu terjebak masalah dengan pasangan atau rekan kerja dengan karakter yang mirip?
Apakah anda merasa selalu tertimpa berbagai masalah beruntun yang menghambat anda mencapai keberhasilan yang anda idam-idamkan?
Apakah anda merasa emosi negatif anda berulang kali dengan mudahnya terpicu?
Apakah anda merasa mengalami masalah fisik yang tidak ada habisnya?
Apakah anda sulit keluar dari kebiasaan yang buruk, meskipun anda menginginkannya?
Apakah anda tetap sulit merasa puas dan bahagia, meskipun anda sudah mencapai dan memiliki begitu banyak hal?

Jika anda mengalami satu atau lebih ciri-ciri di atas, hati-hatilah, mungkin anda sedang berada di tengah jebakan kehidupan yang menghambat anda mencapai kebahagiaan.

Definisi Kebahagiaan
Menurut Wikipedia, kebahagiaan adalah kondisi mental yang ditandai oleh emosi positif mulai dari perasaan senang sampai sangat bahagia. Kondisi mental inilah yang dicari oleh banyak orang di seluruh dunia. Ada yang mencarinya lewat berbelanja sebanyak mungkin. Ada yang mencarinya dengan beramal sebanyak mungkin. Ada yang mencarinya lewat menulis, lewat menyanyi, lewat jalan-jalan dan banyak lagi jalan menuju kebahagiaan.

Sayangnya lepas dari segala hal yang telah dilakukan orang untuk mencapai kebahagiaan, tidak semua orang mudah mencapai kebahagiaan yang dicarinya. Ada saja sesuatu yang membuat orang tidak berbahagia. Orang lain, situasi yang tidak sesuai dengan keinginan, harga mahal dan banyak hal di luar diri kita yang kita tuduh sebagai biang keladi penyebab ketidakbahagiaan kita. Benarkah demikian?

Pertanyaan selanjutnya adalah, jika begitu banyak orang menginginkan kebahagiaan dan melakukan begitu banyak upaya untuk mencapainya, mengapa tidak semua dapat meraihnya? Apa faktor penghambat mereka mencapai kebahagiaan sejati?

Jebakan Kehidupan – faktor tersembunyi penghambat kebahagiaan
Jeffrey Young, Ph.D and Janet Klosko, Ph.D, dalam bukunya Reinventing Your Life, Breakthrough Program to end Negative Behaviour and Feel Great Againmenjelaskan konsep life trap atau jebakan kehidupan. Di dalam buku tersebut jebakan kehidupan digambarkan sebagai pola hidup negatif yang terjadi berulang-ulang sehingga menghambat kita mencapai apa yang kita inginkan. Jebakan kehidupan ini dapat berawal jauh di masa lalu, saat yang mungkin kita sudah lama melupakannya, dan berulang terus-menerus dengan pola yang tidak disadari sehingga yang kita menjadi terbiasa dengannya. Apalagi pola ini biasanya ini merupakan bagian dari strategi diri kita untuk mempertahankan hidup.

Jenis-jenis Jebakan Kehidupan dan Asal usulnya
Ada 11 jenis jebakan kehidupan yang dituliskan oleh Young and Klosko sebagai berikut:
(1)  Abandonment – Si Takut Sendirian
Ciri-ciri orang dengan jebakan kehidupan abandonment adalah kebutuhan untuk mencari teman, meskipun teman tersebut telah bertindak buruk padanya, dan selalu memaafkan orang lain meskipun orang tersebut telah berulang kali bertindak buruk dan mengecewakannya.
Penyebab utama jebakan kehidupan abandonment adalah kehilangan orang yang dicintai saat kecil. Perasaan kehilangan inilah yang dihindari oleh orang dengan jebakan kehidupan ini. Untuk menghindari perasan kehilangan, orang dengan jebakan kehidupan ini, akan tetap mempertahankan pasangan, kawan, atau rekan kerja yang telah mengkhianatinya meskipun dengan penuh penderitaan.

(2)  Mistrust & abuse – si Curigaan
Ciri-ciri utama orang dengan jebakan kehidupan ini adalah selalu berasumsi buruk, sulit mempercayai orang lain, selalu curiga, seing merasa bahwa ia akan dibohongi atau ditipu, atau takut orang mengambil keuntungan dari dirinya.
Penyebab utama jebakan kehidupan ini adalah terlalu sering dibohongi atau dilecehkan di masa kecil yang berujung pada perasaan tidak aman dan ketakutan yang berlebihan.

(3)  Emotional Deprivation – si Dingin
Ciri-ciri utama orang dengan jebakan kehidupan ini adalah dingin, tidak peduli pada orang lain, tidak punya teman dekat atau pasangan atau justru sering berganti teman atau pasangan, atau sering berganti pekerjaan.
Penyebab utama jebakan kehidupan ini adalah kurangnya cinta dan kehangatan di masa kecil. Mungkin karena orang tuanya dingin, anak merasa kurang dicintai dan dimengerti perasaannya. Akibatnya, ia merasa tidak berharga, tidak layak dicintai dan tidak penting.

(4)  Social Exclusion – Si Aneh
Ciri-ciri utama orang dengan jebakan kehidupan ini adalah merasa selalu diasingkan, tidak diterima oleh kelompok, aneh, atau tidak selevel dengan orang lain.
Penyebab utama jebakan kehidupan ini adalah ejekan, penilaian buruk, perlakuan yang menyakitkan oleh orang tua, atau orang-orang terdekat. Perlakuan tersebut menyebabkan orang merasa dirinya buruk, tidak berharga, aneh dan berbeda dari orang lain, dan ada perasan ingin mengasingkan diri, tertutup dan enggan membangun hubungan dengan orang lain.

(5)  Dependence – Si Tergantung
Ciri-ciri utama orang dependen adalah selalu ragu-ragu, bingung, panik, sulit mengambil keputusan dan bertindak mandiri. Ia selalu meminta pertimbangan orang lain dan mengikuti saja apa yang diputuskan oleh orang lain.
Penyebab jebakan kehidupan ini adalah orang tua yang sangat protektif dan otoriter.

(6)  Vulnerability – Si Rentan
Ciri-ciri utama orang dengan jebakan kehidupan vulnerability adalah selalu merasa ragu untuk keluar dari zone nyamannya. Ia merasa kuatir, rapuh, penuh masalah, takut akan ancaman, bencana, dan penyakit.
Jebakan kehidupan ini terutama disebabkan oleh orang tua yang terlalu protektif.

(7)  Defectiveness – Si Kurang Berharga
Ciri-ciri utama orang dengan jebakan kehidupan ini adalah perasan lebih rendah dari orang lain, sering menyalahkan diri, tidak yakin apakah orang menghargai dirinya, dan selalu merasa adanya penolakan.
Jebakan kehidupan ini terutama bersumber dari serangan kritik berkepanjangan di masa kecil, perasaan tidak berharga dan tidak dicintai.

(8)  Failure – Si Gagal
Ciri-ciri utama orang dengan jebakan kehidupan ini adalah ketidakmampuan untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan dalam hidupnya. Ia selalu merasa gagal dalam setiap aspek kehidupan, tidak percaya diri, selalu ragu-ragu dan merasa tidak mampu untuk melakukan sesuatu yang baru. Bahkan, ia bisa melebih-lebihkan kegagalannya, merasa menjadi korban keadaan, padahal ia sendiri justru melakukan tindakan yang (seringkali tanpa ia sadari) malah menyebabkan kegagalan tersebut.
Asal mula jebakan kehidupan ini antara lain adalah sering dicemooh, dianggap bodoh, tidak mampu, tidak trampil maupun malas. Akhirnya ia benar-benar merasa bodoh, tidak mampu, malas, tidak trampil, selalu gagal dan korban keadaan.

(9)  Subjugation – Si Kurang Penting
Orang dengan jebakan kehidupan ini selalu merasa orang lain lebih tahu, lebih ahli, lebih tahu dan harus dituruti. Perasaan sendiri kurang penting dibandingkan orang lain. Seringkali ia menikah dengan orang yang otoriter dan suka mengontrol, dan selalu patuh pada orang tersebut. Ia merasa berbeda pendapat adalah aib dan tabu. Ia merasa bersalah jika berbeda pendapat, takut dihukum atau ditinggalkan, dan membiarkan orang lain mengontrol hidupnya.
Asal mula jebakan kehidupan ini adalah tekanan orang tua semasa kecil yang berujung pada ketakutan untuk tidak patuh.

(10)       Unrelenting standards – Si Tidak Toleran
Ciri-ciri orang dengan jebakan kehidupan ini adalah tidak pernah puas, meskipun sudah mengejar dan mencapai banyak hal. Ia bersedia menekan dirinya dan mengorbankan banyak hal lainnya untuk mendapatkan banyak hal seperti karir, cinta, nama baik dan lain-lainnya. Ia merasa harus berhasil, karena kegagalan adalah aib. Hanya dengan berhasil, ia merasa diterima dan dihargai.
Asal mula jebakan kehidupan ini adalah tuntutan orang tua yang tinggi di masa kecil, tekanan untuk menjadi nomor satu atau yang terbaik.

(11)       Entitlement – Si Egois
Ciri-ciri orang dengan jebakan kehidupan entitlement adalah selalu menginginkan sesuatu dengan cepat tanpa peduli situasi dan kondisi. Ia merasa berhak mendapatkan apa yang diinginkan, tanpa peduli dengan orang lain. Ia berkata dan bertindak tanpa mempedulikan pertimbangan dan perasaan orang lain. Ia bisa berperilaku kasar dan meledak-ledak jika apa yang diinginkan tidak diperoleh. Ia tidak bisa disiplin, ikut aturan main sosial, serta semaunya sendiri.
Asal mula jebakan kehidupan ini adalah perlakukan orang tua yang terlalu memanjakan. Orang dengan jebakan kehidupan ini merasa bahwa orang lain akan menghargainya jika mereka mematuhi dan mengikuti apa yang diinginkannya.

Masalah atau pemicu?
Kesebelas jebakan kehidupan di atas adalah faktor-faktor yang banyak menghambat orang mengalami kebahagiaan. Seseorang dapat memiliki satu atau lebih jebakan kehidupan. Kombinasi dari berbagai jebakan kehidupan, membuat kehidupan kita lebih kompleks dari yang kita sadari. Mengapa? Karena jebakan kehidupan membuat kita salah menilai realitas kebutuhan kita saat ini. Kita sibuk membereskan hal-hal yang kita duga sebagai penyebab-penyebab ketidakbahagiaan di masa sekarang, padahal sebabnya ada di masa kecil. Banyak hal yang seringkali kita anggap sebagai penghambat kita mencapai kebahagiaan seringkali hanyalah sebuah pemicu yang membuat otak kita terhubung dengan masalah lain yang lebih mendalam, yaitu kebutuhan kita di masa kecil yang tidak terpenuhi.  Kebutuhan di masa kecil itulah yang menjadi masalah utama dan harus dipenuhi dulu jika kita ingin keluar dari jebakan kehidupan kita.

Pada dasarnya kebutuhan utama seorang anak yang perlu dipenuhi di masa kecil adalah kebutuhan akan keamanan, kestabilan, cinta, pengasuhan dan perhatian, penerimaan dan penghargaan, empati, perlindungan dan pengarahan, pengakuan akan perasaan dan kebutuhan. Jika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dipenuhi semasa kecil, perasaan kekurangan yang saat itu dialami akan terus terbawa, dan mempengaruhi cara berpikir dan tindakan orang tersebut ketika menjadi dewasa. Masalahnya, seringkali cara berpikir yang melandasi tindakan tersebut seringkali tidak disadari. Akibatnya, masalah demi masalah menimpa kita, tanpa kita tahu penyebabnya. Dan kita pun sibuk mengurusi pemicu masalah, tanpa menanggani penyebab utamanya.

Keluar dari jebakan kehidupan
Young dan Klosko merumuskan lima tahap untuk keluar dari jebakan kehidupan sebagai berikut. Pertama, seseorang perlu mengakui adanya jebakan kehidupan tersebut dan memahami bagaimana jebakan kehidupan telah mempermainkan hidup mereka.  Langkah kedua adalah berpikir dan mengingat kembali penyebab jebakan kehidupan tersebut. Pola pikir apa yang ada di dalam benak seseorang sehingga seseorang mengalami jebakan kehidupan tersebut? Jika pola pikir tersebut sudah diketahui maka pola pikir tersebut harus diganti dengan pola pikir baru yang lebih sesuai dengan tujuan hidup kita. Langkah ketiga adalah merasakan kembali emosi negatif yang menjadi penyebab jebakan kehidupan itu dan memeriksa ulang adanya kebutuhan tersebut. Langkah keempat adalah memecah jebakan-jebakan kehidupan tersebut di dalam langkah-langkah yang lebih bisa ditangani. Pada setiap saat tanganilah satu saja jebakan kehidupan. Langkah kelima adalah memaafkan sumber jebakan kehidupan tersebut.

Bagaimana dengan kehidupan anda sendiri? Semoga anda tidak mengalami satu atau lebih dari jebakan kehidupan di atas, dan walaupun ternyata mengalami, mudah-mudahan anda dapat segera menyadari dan keluar dari sana. Mudah-mudahan dengan demikian anda menjadi lebih mudah berbahagia!
(Any Sulistyowati)

[Media] Menengok Proyek Kebahagiaan dari Sustainable Seattle

Uang, kapal pesiar, banyak uang, uang dan keamanan di masa tua. Itulah jawaban yang keluar dari lima orang responden Amerika yang diberi pertanyaan, “Apakah yang membuatmu bahagia?”. Wawancara ini dilakukan oleh wartawan televisi King5 News di Seattle, Amerika Serikat. Ketika pertanyaan serupa diberikan oleh wartawan Aljazeera di tempat umum  di Seattle, jawaban yang muncul adalah sehat dan kemampuan untuk memberikan kembali ke masyarakat.
Meskipun kebahagiaan diinginkan secara universal, bentuk dan nuansanya amatlah bervariasi secara budaya, filosofis dan sejarah. Kebahagiaan dapat berupa sesuatu yang dianggap hedonisme budaya barat, kepuasan materi bagi masyarakat miskin Afganistan atau ketenangan bagi para pemeluk Budha misalnya. Dari jawaban responden di Amerika akan pertanyaan apa yang membuatmu bahagia, uang hampir mendominasi jawaban mereka. Seolah uang berbanding lurus dengan kebahagiaan. Di banyak negara maju yang berfokus pada perkembangan ekonomi, begitulah hipotesisnya. Benarkah? Menurut Penncock, seorang pakar kesehatan umum di Vancouver,
meskipun negara maju mengalami fakta perkembangan ekonomi di 20-25 tahun terakhir, persentase individu yang menyatakan dirinya puas dengan hidupnya sama saja dan bahkan menurun dalam kurun waktu yang sama. Bhutan, yang merupakan salah satu negara yang paling terisolasi dan berkembang, masuk dalam 10 besar negara paling bahagia di dunia dengan parameter kesehatan, kesejahteraan serta akses untuk pendidikan. 
Kerajaan Bhutan memang pelopor untuk masalah kebahagiaan di dunia. Di tahun 1972, Bhutan menjadi negara pertama yang mengukur kemajuan negaranya menggunakan Gross National Happiness (GNH) alih-alih menggunakan Gross Domestic Product (GDP). Pusat Kajian Bhutan telah menyusun survei ilmiah yang secara holistik mendefinisikan sembilan area kebahagiaan. Kesejahteraan materi berupa uang hanyalah salah satu diantaranya. Kesejahteraan psikologis, kesehatan, keseimbangan waktu, vitalitas dan hubungan sosial, akses pada seni dan budaya, pendidikan dan pengembangan kapasitas, standar hidup, pemerintahan yang bersih serta vitalitas ekologi merupakan delapan area kebahagiaan lainnya. Raja Wangchuck diusianya yang ke-16 bahkan mengubah Bhutan menjadi negara republik demokratis untuk memenuhi indikator GNH ini. SurveiGNH dapat memetakan kebahagiaan Bhutan dalam suatu ukuran yang memungkinkan kebijakan ekonomi menyeimbangkan kebutuhan spiritual dan materi sesuai dengan nilai-nilai negara yang kental dipengaruhi agama Budha. Di tahun 2011, PBB membuat kebahagiaan sebagai suatu indikator kunci untuk agenda pembangunan di seluruh dunia.
Walaupun secara etimologi kebahagiaan lebih lekat dengan keberuntungan, ilmu kebahagiaan menjelaskan tindakan menentukan 40% kebahagiaan kita dan bahwa kebahagiaan dapat dibuat dan terbentuk dalam kebiasaan. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, orang mulai terlibat dalam kegiatan pemicu kebahagiaan seperti meditasi, aktivisme, partisipasi budaya, dan lain sebagainya. Tak hanya di tingkatan individu; komunitas, universitas, pusat riset, pemerintah serta juga institusi mulai menciptakan ruang publik, profesional serta pribadi agar tercipta kehidupan yang lebih berbahagia. Dalam kasus Bhutan, di tingkat pemerintahan sudah diciptakan ruang untuk terciptanya kebahagiaan warga negaranya.
Sementara di belahan negara yang lain, suatu organisasi bernama Sustainable Seattle (S2) juga mulai mengembangkan alternatif lain selain GDP; yaitu indikator lokal kebahagiaan. Terinspirasi dari Bhutan, S2 mencoba membuat alternatif dari trend global. Di tahun 1991, Sustainable Seattle menjadi organisasi pertama di USA yang mengembangkan indikator lokal kebahagiaan sebagai pilihan lain dari GDP. Saat ini Sustainable Seattle telah menjadi rujukan dan inspirasi untuk lebih dari 100 kota di Amerika dan banyak kota di seluruh dunia. S2 diakui sebagai organisasi berkelanjutan selama lebih dari 20 tahun sejarah berdirinya. 
Tahun 1993, S2 mengeluarkan set indikator keberlanjutan yang pertama. Indikator yang mengukur Masyarakat Berkelanjutan ini berbentuk laporan dengan 20 indikator yang dipelajari dengan detil. Indikator keberlanjutan ini terus berevolusi, disusul oleh set kedua yang dikeluarkan dua tahun setelahnya. S2 mengeluarkan set ketiga indikator keberlanjutan regionalnya di tahun 1998. Setelah merilis Indikator 1998, Sustainable Seattle memutuskan untuk meninjau kembali program indikator-nya. Hanya menerbitkan indikator seperti yang dilakukan di tahun 93, 95 dan 98 membuat Dewan prihatin upaya tersebut tidaklah cukup. Program yang sukses perlu melibatkan dukungan aksi oleh warga negara, bisnis dan pembuat kebijakan sehingga mempengaruhi tren yang didokumentasi oleh indikator.
Bekerja dengan indikator sendiri cukup menantang karena indikator amatlah bervariasi sebagaimana sistem yang dimonitornya. Meskipun demikian, ada beberapa karakteristik serupa yang dimiliki oleh indikator yang efektif; relevan, menampilkan nilai-nilai komunitas, menarik untuk media lokal, terukur secara statistik, mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan logis, dapat diandalkan, terdepan serta relevan dengan kebijakan.
Ada dua pendekatan umum untuk mengembangkan indikator untuk seluruh populasi (misalnya, kota, negara, atau negara). Salah satu pendekatan bergantung pada para ahli untuk menentukan indikator yang sesuai untuk mengukur tren. Yang lainnya bergantung pada pendekatan akar rumput dan terikat pada nilai-nilai warga negara. Banyak program menggunakan kombinasi dari keterlibatan warga dikombinasikan dengan saran dari para ahli teknis. Dalam model Sustainable Seattle, nilai-nilai dan kebutuhan warga negara mendorong proses namun data ilmiah dan metode memberikan dasar untuk indikator sehingga ukuran yang dipilih dapat dimengerti dan valid.
Set indikator yang keempat baru diterbitkan sembilan tahun setelah yang ketiga. Sustainable Seattle juga menerbitkan kartu Laporan Komunitas Berkelanjutan untuk dua lingkungan (RT) sebagai proyek pilotnya. Di ulang tahunnya yang ke-20, bersama para mitranya, S2 menciptakan model Happiness Initiative dari hasil survei dan pengukuran untuk kebahagiaan serta keadilan sosial sehingga dapat direplikasi di kota manapun di Amerika. S2  terinspirasi oleh Deklarasi Kemerdekaan yang menyatakan bahwa “setiap orang berhak atas hak yang melekat padanya, kebebasan, hidup dan mengejar kebahagiaan.”
Happiness Initiative (HI) menyediakan perangkat, bantuan teknis, pendidikan, kampanye kesadaran serta layanan untuk mendukung proyek kebahagiaan. HI menawarkan suatu cara berpikir mengenai kesejahteraan dan memulai konservasi berkelanjutan untuk semua faktor yang mempengaruhi kesejahteraan dalam hidup di komunitas, tempat kerja atau bahkan di kampus. Di bulan Juni 2011, lebih dari 7000 orang sudah mengerjakan surveinya. Survei HI mengukur kondisi dan kepuasan hidup respondennya dalam 10 area kebahagiaan. Area tersebut adalah; kesejahteraan materi, kesehatan fisik, keseimbangan waktu, kesejahteraan psikologis, pendidikan dan pembelajaran, kualitas dan vitalitas lingkungan, vitalitas budaya, pemerintahan, vitalitas komunitas, pengalaman kerja.
Hasil survey menunjukkan bahwa rata-rata skor dari kesembilan parameter di Seattle sama atau lebih besar daripada di tempat-tempat lain di luar Seattle. Kesejahteraan psikologis diwakili dengan indikator tingkat bunuh diri, kesejahteraan materi diwakili oleh GDP area metropolitan, kesehatan diwakili oleh tingkat obesitas, vitalitas komunitas oleh laporan kekerasan, vitalitas budaya oleh persentase populasi orang non kulit putih yang teridentifikasi, tata pemerintahan oleh kehadiran pemilih di pemilihan presiden yang terakhir, vitalitas ekologis oleh emisi gas rumah kaca dan keseimbangan waktu oleh waktu tempuh rata-rata ke tempat kerja.
S2 menawarkan layanan berupa kuliah, seminar serta konsultasi. Donasi yang diharapkan dibedakan berdasarkan siapa yang menjadi klien mereka. Ketika klien mereka adalah suatu kelompok mahasiswa misalnya, donasi yang dipatok hanya sepersepuluh donasi untuk klien korporasi perjamnya. Kesemua bentuk layanan S2 pada dasarnya meliputi langkah-langkah melakukan suatu inisiatif kebahagiaan.
 
(Hilda Lionata)

[Tips] Menjadi Bahagia Melalui Emotion Freedom Techniques


Ketika kita mampu mengelola emosi kita, maka kita mampu membebaskan emosi-emosi negatif dan dengan demikian menjadi manusia yang cerdas secara emosional. Bagaimana kita bisa menjadi cerdas secara emosional dan membebaskan emosi-emosi negatif kita? 
Dewasa ini terdapat berbagai metode yang ditemukan untuk mengatasi persoalan-persoalan emosi.  Mulai dari metode konseling psikologis dan psikoterapi konvensional, NLP, hypnoterapi, TAT (Tapas Akupresure) sampai ke EFT (Emosional Freedom Technique).  Masing-masing metode memiliki keunikan dan kelebihannya masing-masing.  Empat metode terakhir yang disebutkan biasanya disebut sebagai metode instan, karena memang dampaknya langsung bisa dirasakan segera sesudah terapi dilakukan. 
Pada kesempatan ini kita akan membahas EFT untuk mengatasi persoalan-persoalan yang terkait emosional.  Masalah-masalah itu bisa terwujud dalam berbagai symptom, seperti: kecanduan, eating disorder, mental blok, phobia, trauma, psikosomatis, dll.
Metode EFT pertama kali diperkenalkan oleh Gary Craig.  Dia memanfaatkan ilmu akupuntur ke dalam terapi.  Konsep EFT didasarkan pada keyakinan bahwa masalah emosional berakar dari gangguan energi tubuh.  Maka, intervensi pada sistem tubuh-dengan menstimulus (dalam EFT lewat tapping/ketukan jari) titik-titik energi/meridian akan menyelaraskan energi tubuh, mengubah kimiawi otak dan selanjutnya mengubah kondisi emosi menjadi lebih positif. Energi sangat berperan dalam hidup kita, karena gangguan pada energi akan menyebabkan gangguan pada emosi dan atau fisik.
EFT pada dasarnya adalah menyelaraskan dan memperbaiki kembali energi dalam tubuh lewat stimulasi pada titik-titik energi yang disebut sebagai meridian pada teori akupuntur.  Bedanya kalau akupuntur menggunakan jarum sebagai alatnya, EFT menggunakan tapping (ketukan ringan dengan jari tangan).  Dengan menyelaraskan energi ini, maka emosi dan atau fisik juga jadi selaras dan sehat. 
Metode EFT sangat mudah dilakukan dan efektif.  Setiap orang bisa melakukannya sendiri dimanapun dan kapanpun.  Kita juga bisa melakukannya untuk orang lain, baik secara langsung dan berhadapan secara fisik maupun tidak secara langsung/dari jarak jauh lewat transfer energi melalui alam bawah sadar (kondisi terhypnosis).  Di Indonesia, EFT sudah digunakan dan dikembangkan oleh banyak praktisi untuk berbagai masalah.  Ahmad Faiz, salah satu praktisi EFT, mengembangkannya menjadi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) dengan menambahkan unsur spiritual. 
Pada dasarnya ada 3 tahapan dalam melakukan 1 siklus EFT.  Tahap pertama disebut dengan “The Set Up”,  tahap kedua: “The Sequence” dan ketiga: ”The 9 Gamut Procedure”.
1.      The Set Up
Tahap pertama ini adalah tahap yang paling penting dari seluruh proses dan menjadi penentu dari keberhasilan proses EFT.  Seperti kita meletakkan baterai kita pada posisi + - di arah yang tepat, tahap pertama ini mempersiapkan sistem energi kita, supaya memastikan energi bekerja pada arah yang tepat.  Kadang-kadang sistem energi kita bisa terhalang oleh sistem kepercayaan yang negatif ataupun blok mental yang biasa disebut sebagai “perlawanan psikologis”.  Misal: saya tidak yakin saya bisa disembuhkan, saya takut masalah saya terlalu berat, dll.   Inti dari tahap pertama ini adalah penerimaan diri walau apapun yang terjadi, dan keyakinan positif bahwa kita akan disembuhkan.  
Tahap ini dilakukan dengan mengetuk “Karate Cop” atau menggosok “Sore Spot/tender spot” (lihat gambar) , sambil mengucapkan kata-kata afirmasi dengan penuh kepasrahkan sebanyak 3 kali.  Jika anda merasa lebih yakin, bisa ditambahkan dengan kalimat doa yang biasa anda ucapkan di depan kata afirmasi berikut ini:
“Walaupun saya _________(masalah yang dikeluhkan), saya bisa menerima diri saya sepenuhnya dan seutuhnya.

2.       
The Sequence
Tahap ini adalah tahap penyelarasan energi.  Penyelarasan dilakukan dengan mengetuk titik-titik akhir pada meridian utama tubuh.  Ketukan dilakukan dengan tangan yang biasa digunakan (kanan atau kiri), menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.  Titik-titik yang akan ditekuk ada di sebelah kanan dan kiri tubuh.  Maka, tidak masalah bagian tubuh sebelah mana yang anda ketuk, juga tidak masalah jika anda mengetuknya berpindah dari bagian tubuh sebelah kanan ke kiri atau sebaliknya.  Pada setiap titik, ketuk minimal 7 kali sambil mengucapkan kata pengingat.  Kata pengingat adalah masalah yang anda keluhkan.  Ucapkan sambil anda fokus dan rasakan kembali masalah itu.  Misal: jika anda sakit kepala, fokus pada sakit kepalanya dan rasakan sakitnya.  Sambil anda ucapkan “sakit kepala” terus-menerus, ketuk sebanyak 7 kali titik-titik berikut (lihat gambar):




The 3. 9 Gamut Procedure
Ini adalah sentuhan akhir bagi otak kita, lewat gerakan mata, gumaman, dan berhitung.  Saat mata digerakkan, lewat syaraf-syaraf penghubung, beberapa bagian dari otak terstimulasi.  Saat kita menggumamkan lagu, otak kanan kita terstimulasi.  Sedangkan saat kita berhitung, otak kiri kita terstimulasi juga.
Tahap ini dilakukan dengan melakukan 9 langkah berikut ini sambil mengetuk titik gamut (lihat gambar):

a.      Tutup mata
b.      Buka mata
c.       Lihat ke kanan paling bawah tanpa menundukkan kepala
d.      Lihat ke kiri paling bawah tanpa menundukkan kepala
e.      Putar bola mata searah jarum jam
f.        Putar bola mata berlawanan jarum jam
g.      Gumamkan lagu selama 2 menit (lagu yang membuat bahagia, misal: Happy Birthday)
h.      Hitung 1 sampai 5
i.        Gumamkan lagu lagi selama 2 menit.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, setelah tahap 3, ulangi tahap 2.
Selamat melakukan!

Dirangkum dan diterjemahkan oleh: Intan Darmawati.
Untuk penjelasan lebih lanjut, kunjungi: www.emofree.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...