[Tips] Bersama Arpillera, Aktivis Bercerita


Pada rubrik Jalan-Jalan, telah diulas mengenai asal muasal kerajinan perca Arpillera. Telah kita ketahui pula bahwa seni Arpillera bertujuan untuk mendorong suatu perubahan baik sosial, politik maupun lingkungan hidup. Di negeri asalnya, Chile, Arpillera merupakan alat perjuangan  para ibu untuk melawan rezim militer. 

Saya aktif di GSSI (Garage Sale Sekolah Ibu). GSSI merupakan organisasi non-profit di Bandung yang menitikberatkan fokus perjuangannya pada pengembangan lingkungan yang kondusif bagi anak. Dalam kegiatannya  kami mengunakan Arpillera untuk menyuarakan isu-isu
yang sedang berkembang, misalnya kemanusiaan, lingkungan atau sosial. 

Bermula dari keikutsertaan saya dalam workshop Arpillera yang diadakan Kail pada tahun 2011, saya membuat Arpillera yang menceritakan tentang dunia anak. Dunia yang tidak dapat diulang kembali, yang hendaknya menyenangkan serta penuh warna, kreativitas dan kaya akan ruang belajar di tengah alam.

Kain arpillera yang mencerminkan harapan tentang taman bermain anak

Taman Tongkeng di Bandung


Semenjak itu, saya berjuang untuk ketersediaan taman bermain anak, bersama kain Arpillera buatan saya tersebut. Kain itu selalu saya bawa ke mana-mana, dan menjadi sarana bercerita tentang harapan saya akan tersedianya tempat bermain sambil belajar dengan cara yang menyenangkan. Beberapa pihak tergerak pula untuk turut memperjuangkan keprihatinan yang sama. Alhamdulillah, atas kolaborasi berbagai pihak, di tahun 2013 tercapailah harapan kami, yaitu tersedianya taman ramah anak, Taman Tongkeng di bilangan Patrakomala, Bandung.

Saya pun merasa bahwa ternyata Arpillerabisa dinikmati sekaligus dijadikan alat untuk sarana bercerita pada masyarakat luas. Maka, bersama para ibu lain yang aktif di Sekolah Ibu, kami rutin menyelenggarakan kegiatan membuat Arpillera. Kami di GSSI menjadi senang berkreasi dengan kain perca ini, karena lewat olah seni kain perca ini selain bisa untuk memperjuangkan keprihatinan tertentu, juga menjadi salah satu terapi kesabaran yang manjur bagi kami yang tinggal di kota dengan tingkat stess yang lumayan tinggi. 

Arpillera pun kini menjadi potongan kain yang mempunyai kisah atau cerita menarik tersendiri dari si pembuatnya. Sebagai contoh, Arpillera yang dibuat pada foto di bawah ini terdiri dari susunan 33 buah bunga, yang mencerminkan  keragaman 33 provinsi di Indonesia. Ada pula matahari serta awan dan hujan  yang mencerminkan kondisi iklim di Indonesia yang terdiri dari dua musim. Arpillera ini menyiratkan harapan dari pembuatnya, tentang kesatuan masyarakat di Indonesia yang majemuk ini.

Kain arpillera yang mencerminkan 33 provinsi di Indonesia

Berkaca dari pengalaman tersebut, kiranya berikut ini tips yang dapat saya bagikan untuk pembaca. Pertama, agar bisa digunakan untuk  memberikan penyadaran dan membawa perubahan nyata pada suatu keadaan tertentu, maka Arpilleraini  dibuat dalam satu rangkaian cerita di atas  satu kain dengan berbagai ukuran. Maka, tentukanlah simbol tertentu yang dapat digunakan untuk menggambarkan harapan, misalnya bunga-bunga untuk melambangkan provinsi-provinsi yang ada di Indonesia.

Kedua, tetapkan langkah-langkah selanjutnya, yaitu membagikan cerita dari kain tersebut pada siapapun tanpa kecuali, tanpa rasa malu ataupun gengsi. Perjuangan tentu tidak berhenti setelah kain Arpillera selesai dibuat. Dengan menyebarluaskan kisah dari kain Arpilleratersebut, semakin banyak orang tahu dan tergerak untuk berpihak atau turut berjuang sesuai pesan dari kain Arpilleraitu.

Ketiga, menjaga konsistensi dari misi itu sendiri dengan cara menggalang kerjasama dengan berbagai pihak yang memiliki keprihatinan yang sama. Bisa dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan Arpillera di dalam kelompok. Tujuannya, selain dapat menjaga semangat perjuangan, juga untuk membawa kebersamaan di dalam kelompok itu sendiri.

Akhir kata, meskipun terlihat sederhana, berupa kain bekas yang tak terpakai, namun ternyata ia dapat digunakan sebagai ‘senjata’ untuk menyuarakan harapan-harapan kita tentang lingkungan sekitar, bangsa dan negara kita. Ini Arpillera-ku, mana Arpillera-mu?



Tini Martini Tapran
Ibu dari 2 anak, pengajar bimbel, kepala sekolah KOBER GSSI, Kepala Sekolah Madrasah Nurul Iman, volunteer YPBB, Kail dan KSK, ketua Yayasan Generasi Semangat Selalu Ikhlas dan baru saja bergabung bersama PKK kota Bandung di Pokja 4 

[Jalan-Jalan] Pendidikan Seni di Kuba : Pendidikan Seni Untuk Semua

Oleh: Dhitta Puti Sarasvati

Anita tinggal di Jakarta. Dia suka menari. Untuk menyalurkan hobinya dia mengikuti sanggar tari dan berlatih dua kali seminggu. Biaya yang harus dikeluarkannya untuk mengikuti sanggar adalah Rp 250.000,- per bulan. Harga tersebut tidak terlalu mahal dibandingkan tempat-tempat kursus menari lainnya.  Dengan harga tersebut dia sudah bisa berlatih dibimbing oleh seorang guru profesional.
Kini sudah 9 tahun Anita berlatih menari.  Anita tahu bahwa dia bukanlah penari yang paling jago. Teman-temannya yang lain lebih lentur juga lebih lincah dalam menari. Terkadang Anita pun lupa gerakan dari tariannya. Pasti dia tidak akan jadi penari profesional. Meskipun begitu, dia akan terus menari. Kalau bisa seumur hidupnya. Dengan begitu dia bisa terus menjaga kebugaran sekaligus bersenang-senang. Yang paling penting, dengan menari Anita merasa lebih hidup. Emosinya tersalurkan, ada tempat baginya untuk melepas pikiran dan berkonsentrasi pada alunan musik dan gerakan tubuh. Dengan menari,
hatinya ikut menari, begitu pula hidupnya. Sayangnya tidak semua orang punya kesempatan seperti Anita. Mampu belajar seni sekadar untuk bersuka cita.

Tidak semua orang akan berprofesi sebagai seniman. Tapi seni punya peranan yang sangat penting bagi manusia, termasuk bagi orang-orang yang tidak bekerja di bidang seni.  Pernah mendengar musik yang lirik  atau melodinya menyentuh hati? Pasti pernah kan? Ada juga musik yang membuat kita sedih, bahagia, bahkan bersemangat. Selain musik, bentuk seni yang lain seperti lukisan, tarian, teater dan sebagainya bisa mempengaruhi emosi kita. Dengan bersentuhan dengan seni, kita bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Itu menggambarkan bahwa seni begitu penting bagi kehidupan manusia.  

Bagaimana memperkenalkan seni kepada orang banyak? Salah satunya adalah melalui pendidikan seni. Pendidikan seni memang tidak harus selalu ditujukan untuk mempersiapkan seseorang menjadi seniman atau pekerja seni. Justru, pendidikan seni harus bisa dinikmati oleh orang banyak. Pendidikan seni tidak boleh mahal agar semuanya bisa ikut belajar.  Tujuannya adalah menjadikan manusia lebih manusiawi melalui perantara seni.





La Colmenita (Teater  Anak-anak Kuba) adalah sebuah lembaga pendidikan seni di Kuba. Didirikan pada tahun 1976 oleh Carlos Alberto Cremata.  Awalnya, La Colmenita hanyalah komunitas kecil di Havana. Di sanalah anak-anak maupun orang dewasa berkumpul dan berlatih teater. Proses latihan biasanya pada sore hari, sepulang anak-anak sekolah. Pada perkembangannya La Colmenita kemudian dikhususkan untuk anak-anak usia 6 sampai 16 tahun. Kini sejumlah 22 cabang La Colmenita tersebar di berbagai daerah lainnya di Kuba.  Di sana anak-anak belajar teater, bernyanyi, menari, termasuk belajar mempersiapkan pertunjukan seni. 

La Colmenita tidak bertujuan mempersiapkan anak-anak menjadi pemain theater profesional. Tempat itu merupakan tempat anak-anak bisa belajar bekerja sama, merasakan kehangatan, serta mengembangkan kreativitas. Menurut Carlos, "Anak-anak tidak mau menjadi pemain teater, mereka ingin bermain peran." Melalui kegiatan bermain peran, maupun tari dan musik, anak-anak bisa mengembangkan kreativitas sehingga potensi mereka bisa berkembang. Mereka akan menjadi manusia yang lebih baik, sebagai individu maupun kelompok. (Stories by Deisy Francis Mexidor dalam http://axisoflogic.com/artman/publish/Article_63919.shtml  )

Di Indonesia, tidak semua anak bisa belajar seni dari seorang guru seni profesional. Jumlah guru seni profesional sangat terbatas. Akibatnya hanya anak-anak tertentu yang bisa mengakses mereka. Mungkin karena mereka besar di lingkungan seniman, atau mereka punya uang yang memadai untuk membayar guru seni.

Di Kuba, guru seni dipersiapkan dengan sangat serius. Ada sekolah khusus untuk calon guru seni di masing-masing provinsi. Siswa-siswa berusia 14 tahun masuk ke sekolah ini untuk belajar menjadi calon guru seni. Tahun 60-an, Fidel Castro, pemimpin Kuba saat itu memang pernah mengumpulkan seniman untuk mendorong terpromosikannya seni musik, seni tari dan seni visual sehingga bisa dijangkai oleh anak-anak di daerah terpencil sekaligus. Salah satunya adalah melalui pendidikan seni di sekolah. Hal ini dilakukan karena seni dipercaya bisa mendorong terjadinya perubahan sosial. 

Dhitta Puti Sarasvati
Dhitta Puti Sarasvati adalah associate KAIL. Sejak 2002 kegiatannya banyak terkait bidang pendidikan, mulai dari mengajar di sekolah, lembaga kursus, perguruan tinggi, maupun memfasilitasi berbagai pelatihan guru. Kini aktif di Ikatan Guru Indonesia.


Editorial Pro:aktif Online, edisi Agustus 2013



Salam inspiratif dan transformatif!

Pro:aktif Online edisi Agustus 2013 kembali hadir dengan tema “Anak dan Tantangan Jaman”.

Perbincangan soal anak seperti tak ada habisnya untuk dibahas. Apalagi, dengan segala perubahan dan percepatan yang dialami dunia dalam hal teknologi dan informasi, segala hal terkait mengasuh dan membesarkan anak mendapat imbasnya juga. Oleh karena itu, tema kali ini fokus kepada permasalahan seputar anak serta tantangan yang dihadapi oleh para orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka bertumbuh dan belajar di masa kini.

Mari kita tengok lebih jauh lagi butir-butir inspirasi dari edisi kali ini!

Pada rubrik Pikir, terdapat dua artikel. Pertama, artikel yang ditulis oleh Andy Sutioso, pemerhati pendidikan dan pendiri Rumah Belajar Semi Palar Bandung. Beliau memaparkan realita yang dihadapi oleh anak-anak di masa kini. Mulai dari berkurangnya ruang bermain dan belajar pada anak, hingga perkembangan teknologi yang dihadapi anak masa kini. Artikel kedua, ditulis oleh Navita, mengulas berbagai jenis pola asuh yang bisa diterapkan pada anak, serta berbagai kemungkinan karakter anak yang dihasilkan dari jenis-jenis pola asuh tersebut.

Pada rubrik Masalah Kita, Melly Amalia dan David Ardes menuliskan hasil wawancara tertulis terhadap beberapa orang tua mengenai hal-hal apa saja yang menjadi tantangan mereka dalam mengasuh dan membesarkan anak, serta bagaimana para orang tua tersebut menyiasati pola pengasuhan di masa kini.

Selanjutnya, pada rubrik Opini, Dominika Oktavira Arumdati (Ira), praktisi homeschooler dan permaculture di Yogyakarta mengungkapkan betapa pentingnya para orang tua untuk menjadi melek media dan teknologi, agar dapat memahami perkembangan teknologi digital, serta dapat mendampingi putra-putri mereka bertumbuh di era digital.

Kemudian, di rubrik Tips, Ardanti Andiarti aktivis pendidikan di Bandung, mengupas berbagai langkah inspiratif bagi para orang tua dalam membangun kepedulian sosial pada anak di jaman yang semakin individual ini.

Berikutnya, pada rubrik Media, kita dapat menemukan pemaparan Agustein Okamita, seorang ibu dari dua anak homeschooler serta relawan kami di Kuncup Padang Ilalang (KAIL), tentang pengalamannya berinternet bersama kedua anaknya. Dari artikel ini, kita juga dapat mengetahui beberapa alamat website yang bermanfaat untuk digunakan sebagai media pembelajaran bagi anak.

Rubrik Profil kali ini diisi oleh sebuah komunitas yang menawarkan kegiatan alternatif dan edukatif bagi anak-anak di perkotaan, yaitu Komunitas Sahabat Kota (KSK) yang beralamat di Kota Bandung.

Rubrik Jalan-Jalan diisi oleh David Ardes Setiady, staff kami di Kuncup Padang Ilalang. Ia menuliskan hasil kunjungannya ke Sanggar Waringin yang berlokasi di dekat terminal angkutan umum Stasiun Besar Bandung. Membaca artikel ini, kita akan dibuat terkejut oleh ulasannya, betapa tempat yang dahulu memiliki sejarah kelam, kini telah disulap menjadi sebuah tempat bermain dan belajar bagi anak-anak jalanan maupun warga di sekitarnya.

Akhir kata, kami sebagai redaksi Pro:aktif Online mengucapkan selamat membaca, selamat menemukan butir-butir inspirasi dari edisi “Anak dan Tantangan Jaman” ini!

[PROFIL] Komunitas Sahabat Kota


Apa yang akan terjadi puluhan tahun ke depan jika tidak ada orang yang peduli akan lingkungan hidupnya? Hal ini patut kita pikirkan bersama. Tidak hanya kita saja yang akan merasakan manfaat lingkungan dan hidup di dalamnya, namun anak cucu kita juga akan merasakan hal yang sama. Tapi bagaimana jika kondisi lingkungan yang kita nikmati sekarang berbeda dengan apa yang akan anak cucu kita rasakan nanti?
Maka,  kita sebagai manusia yang hidup di dalamnya harus menjaga kondisi lingkungan dan berusaha untuk melestarikannya. Atas dasar tersebut didirikanlah sebuah organisasi sosial yang begerak dalam bidang pendidikan informal mengenai lingkungan kota yang dikemas secara menarik bagi anak-anak. Mengapa anak-anak? Pendidikan mengenai lingkungan kota harus diterapkan sejak dini, mereka harus mengetahui kondisi dan memiliki rasa cinta terhadap lingkungannya. Maka saat mereka beranjak dewasa
dan memegang peran penting di lingkungannya, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menjaga dan melestarikan lingkungannya.
Komunitas Sahabat Kota (KSK) dibentuk sejak tahun 2007 oleh 6 pemuda dari Bandung. Pada awalnya program KSK dibuat untuk mengisi libur panjang anak-anak menjadi Petualangan Jelajah Kota yang menyenangkan. Anak-anak diajak berjalan-jalan mengelilingi kota untuk mengamati bagaimana kondisi lingkungan kota. Mereka diajak untuk berpikir secara kritis dalam mengambil peran aktif untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka.


Kini, KSK dengan gerakan Come Out and Play-nya aktif mengajak anak-anak untuk belajar dan bermain di ruang kota dengan program-program utama, yaitu Kidsventure Club, Alun Ulin dan Sahabat Kota Summer Camp. Kidsventure Club merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap bulan, di sini anak-anak diajak belajar dan bermain untuk mengeksplorasi kota dengan tema yang berbeda setiap bulannya.
Program lainnya ialah Alun Ulin. Alun Ulin berasal dari bahasa Sunda 'Alun-alun Keur Ulin' yang berarti pusat kumpul dan bermain. Pada program ini anak-anak diarahkan sebagai co-designer ruang bermain mereka, di sini mereka akan menjadi user, tester, informant, dan partner design. Anak-anak akan diberi workshop co-design dengan metode design thinking, storytelling dan pendekatan ESD (Education for Sustainable Development) yang merupakan dasar dari aktivitas Sahabat Kota.
Sahabat Kota Summer Camp ialah program yang dirancang sekali dalam setahun untuk mengisi liburan anak-anak dengan kegiatan yang menyenangkan dan edukatif. Mereka akan menjelajahi dan mengeksplorasi kota dalam beberapa hari untuk memacu mereka agar memiliki critical thinking dan kepedulian terhadap lingkungan kotanya.


Selain kegiatan di atas, KSK juga memperluas kerjasamanya dengan pihak luar dalam upaya menciptakan kota ramah anak. Beberapa proyek kerjasama dengan pihak luar tersebut antara lain Baraya Sakola, Petualangan Banyu dan Visual Artist for City Movement.
Baraya Sakola merupakan proyek kerjasama dengan beberapa sekolah dasar dan komunitas anak di Kota Bandung. KSK bekerjasama dengan organisasi-organisasi tersebut agar program-program KSK dikenalkan sebagai pengisi mata pelajaran atau ekstra kurikuler.
Petualangan Banyu merupakan proyek kerjasama dengan salah satu komunitas yang bergerak di bidang lingkungan, yaitu Greeneration Indonesia. Proyek Petualangan Banyu merupakan proses pembuatan serial film animasi edukatif dengan basis ESD untuk anak-anak usia 6-12 tahun yang mengambil tema lingkungan, seperti energi, sampah dan air. Film animasi ini pertama kali dibuat pada tahun 2009.
Proyek ketiga adalah Visual Arts for City Movement. Dalam proyek ini KSK bekerjasama dengan seorang seniman, yaitu Oma Anna, untuk menciptakan karya seni visual yang merepresentasikan sebuah kota yang ideal. Karya seni visual ini berupa notebook hasil buatan tangan Oma Anna. Keuntungan yang didapatkan dari penjualan notebook tersebut akan diberikan kepada anak-anak yang memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah dalam program-program KSK.
Akhir kata, bagi Anda yang tertarik untuk bergabung dalam kegiatan bersama Komunitas Sahabat Kota, dapat langsung menghubungi Wilma Zulianti, Public Relations Sahabat Kota di nomor 0821 3016 3053 atau dapat mendatangi alamat kantor mereka di Jl. Cisaga no. 6, Bandung.

(Tim Komunitas Sahabat Kota)

[PIKIR] Pola Pengasuhan Anak di Masa Kini

Perubahan dan Tantangan Jaman

Dunia yang kita hidupi ini senantiasa berubah dari masa ke masa. Beragam inovasi ilmu pengetahuan telah menciptakan kemajuan teknologi yang memudahkan manusia dalam melakukan berbagai hal, mulai dari alat transportasi hingga sumber informasi maupun perangkat komunikasi.Misalnya, jika dahulu manusia mengandalkan surat menyurat melalui pos untuk berkomunikasi jarak jauh dengan seseorang, sekarang mereka dapat melakukannya dengan berkomunikasi langsung melalui telepon atau menuliskannya di surat elektronik atau e-mail. Jika dahulu manusia menggunakan hewan-hewan sebagai alat bantu untuk mempermudah transportasi, kini, setelah penemuan mesin dan bahan bakar, manusia dapat menempuh perjalanan dengan mobil, motor bahkan pesawat terbang.
Dunia semakin canggih. Segalanya serba mudah dan cepat. Tak perlu berlama-lama
menunggu pak pos datang mengantarkan surat yang telah satu minggu sebelumnya ditulis oleh kerabat kita. Dengan teknologi internet, mengirim surat dapat dilakukan dengan hanya beberapa detik saja. Untuk menyegarkan diri dengan menonton sebuah pertunjukan, tak perlu pula kita bersusah payah pergi ke gedung teater. Di rumah, kita bisa duduk enak menonton tayangan televisi. Bahkan, dengan perkembangan gadget seperti saat ini, anak-anak hanya cukup duduk dan memainkan permainan kesukaan mereka pada sebuah kotak kecil bernama ‘tablet’ atau smartphone.
Perubahan pada teknologi dan peradaban manusia tentunya menyebabkan perubahan pola pikir pada manusia secara individu maupun di dalam keluarga. Jika dahulu para orang tua dianggap sebagai yang paling mengetahui dan anak sebagai pihak yang wajib mendengarkan dan melaksanakan apapun yang dikatakan orang tua, maka di masa kini, keadaannya sudah berbeda. Informasi bisa didapatkan di mana saja, dalam berbagai media seperti majalah, koran, televisi, radio hingga internet. Dengan beragam media tersebut, anak bisa mendapatkan pengetahuan dari sumber selain orang tua mereka.
Derasnya arus informasi dari luar membawa beberapa perubahan pada pola pengasuhan di dalam keluarga, sehingga orang tua dituntut untuk menyeimbangkan perubahan-perubahan tersebut. Pola asuh di jaman dahulu, yang terkenal dengan gaya disiplin dan kaku, tak lagi berlaku di jaman sekarang yang serba cepat dan terbuka. Alih-alih menjadi manusia berkualitas dan bertanggung jawab, anak kita justru berada di bawah ancaman kenakalan remaja atau kurang rasa percaya diri jika diberi pola pengasuhan yang kaku dan keras.
Oleh karena itu, bagaimana menyikapi perubahan jaman, dikaitkan dengan hubungan antara pola asuh di dalam keluarga dengan perkembangan karakter anak akan menjadi fokus pembahasan di dalam artikel ini.

Sumber : http://tkalirsyad.blogspot.com/2011/02/seperti-apa-sih-pola-asuh-yang-benar.html



Pola asuh orang tua

Diana Blumberg Baumrind, seorang pakar psikologi dan perkembangan anak di New York, Amerika Serikat mempelajari hubungan antara pola asuh yang diterapkan orang tua dengan perkembangan karakter anak-anaknya.Penelitian yang dilakukan pada tahun 1971berhasil menyimpulkan empat jenis pola pengasuhan anak di dalam keluarga, antara lain :

(1)   Permissive Indulgent Parenting Style
Pola asuh seperti ini dilakukan oleh orang tua yang selalu memenuhi keinginan anak-anaknya, namun tanpa disertai adanya pengendalian.Kehangatan kasih sayang orang tua diberikan kepada anak secara berlebihan, bahkan ketika anak melakukan kesalahan, orang tua tidak memberi teguran.

Anak yang diasuh dengan pola seperti ini akan menjadi pribadi yang manja, mudah menyerah apabila menemui kesulitan, serta mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.

Bila dikaitkan dengan perkembangan dunia saat ini, anak yang terbentuk dari pola pengasuhan di atas kemungkinan akan mengalami kesulitan. Misalnya, ketika semua orang berlomba-lomba berjuang mencari pekerjaan yang layak, anak dengan karakter manja dan mudah menyerah akan berada pada posisi paling belakang. Karena ia lebih mementingkan diri sendiri, apa yang ia pikirkan bukanlah bagaimana mengatasi perjuangan hidup, tetapi kenikmatan bagi dirinya semata.

(2)   Permissive Uninvolved Parenting Style

Berbeda sedikit dengan pola di atas, pola Permissive Uninvolved tidak disertai dengan kehangatan kasih sayang. Anak diberikan segala hal yang diinginkan, namun tidak disertai kehangatan kasih sayang maupun perhatian dari orang tua. Dalam hal ini orang tua hanya mencukupi kebutuhan anak dari segi materi saja, misal : uang, pakaian, mainan atau gadget yang canggih.

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini akan tumbuh sebagai anak dengan perasaan minder, tak berharga karena tidak diperhatikan. Tak jarang pula anak dengan pola asuh seperti ini jatuh dalam jebakan kenakalan remaja dan narkoba.

Orang yang tidak menghargai dirinya sendiri akan menganggap segala aspek di dalam dirinya sebagai sesuatu yang negatif. Maka, dikaitkan dengan perkembangan dunia saat ini, tentu orang dengan karakter seperti ini juga akan tertinggal jauh menghadapi persaingan ketat kehidupan. Rasa tak percaya diri akan mengungkung dirinya dari perjuangan menghadapi kerasnya kehidupan. Ia akan selalu merasa tak mampu dibandingkan orang lain.

(3)   Authoritarian Parenting Style

Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang diterapkan orang tua yang senantiasa memaksakan kehendak dan pemikirannya kepada anak-anaknya, tanpa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Bila anak-anak melakukan kesalahan, senantiasa diberi hukuman. Kesalahan yang disengaja maupun tak disengaja selalu diganjar dengan hukuman, tanpa ada pembahasan tentang kesalahan yang dilakukan.

Anak yang diasuh dengan pola seperti ini akan menjadi pribadi yang menjalankan segala sesuatu bukan karena keinginannya, tetapi karena takut pada anggapan orang lain, atau takut pada hukuman. Seringkali anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan tidak memiliki konsentrasi yang baik dalam belajar.

Apabila dikaitkan dengan perkembangan jaman, orang yang senantiasa takut pada anggapan orang lain akan selalu berada di bawah bayang-bayang orang lain. Ia tidak bisa menjadi pemimpin, dan selama hidupnya 

(4)   Authoritative Parenting Style
                            
Pola asuh Authoritative adalah pola asuh yang memberi ruang pada kebebasan berpendapat pada anak. Dibandingkan dengan pola asuh authoritarian yang mengedepankan posisi hirarki antara orang tua dan anak, sebaliknya, pola asuh authoritative mengutamakan posisi yang egaliter antara orang tua dan anak. Anak diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri, sekaligus diberi bimbingan tentang nilai dan norma-norma. Hukuman dan hadiah (reward and punishment) berlaku di dalam pola pengasuhan ini, disertai penjelasan berdasarkan apa yang sudah dilakukan oleh anak.
Anak dengan pola asuh seperti ini tumbuh sebagai anak mandiri dan percaya diri. Ia juga memiliki rasa solidaritas yang tinggi terhadap sesamanya.

Bila dikaitkan dengan perkembangan saat ini, anak dengan pola pengasuhan ini mampu bertahan dalam ketatnya persaingan, karena memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Berkat kemandiriannya, ia mampu melesat dalam karir maupun tujuan hidupnya, karena ia tak perlu bergantung pada pertolongan orang lain.

Banyak faktor berperan dalam pembentukan karakter anak. Salah satunya, adalah pola pengasuhan orang tua.Oleh karena itu, ayah dan ibu perlu menentukan pola asuh yang paling baik bagi pembentukan karakter anak, terutama karakter yang tangguh dalam menghadapi tantangan jaman. Pertanyaan bagi para orang tua sekarang, pola asuh manakah yang paling efektif dalam menghasilkan karakter anak yang mampu menghadapi perkembangan jaman?

Sumber : http://www.balitasehat.net/artikel/Psikologi/Balita/10.pola.asuh.untuk.anak.cerdas/001/007/1080/1


Pola asuh dan karakter yang tangguh menghadapi tantangan jaman

 Mari kita tengok sebentar karakter apa saja yang dimiliki para tokoh yang sukses di jaman sekarang. Sebutlah alm. Steve Jobs dengan produk Apple-nya,atau Michael Jordan, sang pemain basket nomor satu di Amerika. Tak ketinggalan pula J.K. Rowling, penulis buku Harry Potter yang terkenal. Dapat dikatakan, mereka adalah orang-orang yang sukses mengatasi tantangan serta melaluinya dengan baik.
Kunci utama kesuksesan orang-orang tersebut salah satunya terletak pada rasa percaya diri serta upaya yang gigih untuk mencapai tujuannya. Contohnya, Michael Jordan, sempat tak dipilih bermain oleh timnya dalam pertandingan bergengsi di negerinya. Namun, berkat kegigihan dan upaya tanpa kenal lelah, ia berhasil membuktikan pada sang pelatih bahwa ia dapat diandalkan. Begitu pula Steve Jobs, berkat keyakinan dan kreativitas yang tinggi, ia membawa komputer Apple yang awalnya hampir bangkrut, ke posisi atas penjualan komputer dunia.
Percaya diri, mandiri, tak kenal menyerah adalah karakter-karakter yang diperlukan seseorang untuk menghadapi kerasnya tantangan kehidupan kapanpun dan dimanapun. Semua itu tidak muncul begitu saja dalam diri seseorang, melainkan sebuah pembiasaan semenjak kecil. Lagi-lagi, pola asuh yang tepat turut ambil bagian dalam pembiasaan dan penanaman karakter sejak dini.

Penutup

Berbagai pola asuh serta karakter yang mungkin terbentuk dari pola asuh tertentu telah dijabarkan. Jenis karakter yang kiranya mampu menghadapi tantangan jaman  telah diulas. Maka kini, saatnya bagi para orang tua untuk menentukan, pola asuh mana yang kiranya dapat menghasilkan karakter anak yang mampu menghadapi tantangan jaman.
Kunci keberhasilan pengasuhan juga terletak pada konsistensi ayah dan ibu di rumah dalam menjalankan pola pengasuhan yang telah disepakati. Sebaiknya jangan berganti-ganti pola pengasuhan, karena hal ini akan menyebabkan kebingungan pada anak. Contohnya, di hari tertentu, ayah dan ibu memberi kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pendapat atas sesuatu hal, namun di hari lain, ayah dan ibu tidak memberikan kesempatan tersebut. Tentu hal ini akan menyebabkan rasa bingung, sedih, dan merasa tak dihargai pada anak.
Akhir kata, pilihan untuk menggunakan pola pengasuhan manapun terletak di tangan ayah dan ibu sendiri. Para orang tua tentu bisa memilih berbagai macam jenis pola pengasuhan untuk anak. Hendaknya, pilihan pola asuh tersebut sebaiknya disesuaikan berdasar karakter dasar dari anak. Apapun pilihan pola asuhnya, kita juga harus ingat, bahwa ini semua dilakukan demi masa depan sang anak. Karena anak semata-mata adalah titipan Tuhan dan kita tak mungkin selalu ada dan melindungi anak-anak kita di masa yang akan datang. 


(Navita Kristi Astuti)

[PIKIR] Menilik Realita Anak Jaman Sekarang


Sesuai judulnya, tulisan ini mengajak kita mengamati situasi anak kita melalui perspektif waktu. Kalau kita ingin bicara mengenai realita anak-anak kita jaman sekarang, tentunya kita perlu melongok bagaimana hal-hal yang sama terjadi di waktu-waktu yang lalu– setidaknya sewaktu kita kecil dulu. Hari ini, kita ada di dalam situasi di mana teknologi sudah merasuk ke segala sisi kehidupan dan juga menjangkau berbagai sisi kehidupan anak-anak kita. Tulisan pendek ini akan menyoroti apa dan bagaimana dampak-dampak yang muncul dari berbagai perubahan yang ada bagi proses tumbuh kembang anak-anak kita saat ini.
Kita coba mulai dari telaah singkat situasi dulu dan sekarang. Sewaktu saya duduk di bangku SD dulu, tidak banyak ditemui rumah yang memiliki pesawat telepon sendiri.
Hari ini di kota-kota kecil bahkan di pelosok, kita sudah melihat anak-anak memegang telepon genggamnya sendiri. Perangkat yang tidak hanya bisa menelepon tapi dengan layar sentuhnya sudah bisa mengakses internet dan segala konten yang terhubung melaluinya. 
Dulu hanya beberapa keluarga yang cukup mampu yang memiliki televisi di rumahnya, di mana di sore hari keluarga bisa asyik menyaksikan tayangan dari satu saja kanal siaran yang tersedia: TVRI, itupun dalam tayangan hitam dan putih. Saat ini, banyak rumah sudah bisa menyaksikan tayangan dari pilihan puluhan kanal TV kabel di layar datar pesawat TV lengkap dengan audio surround ibarat di ruang bioskop.  
Dulu sewaktu kecil, saya begitu beruntung bisa bermain menjelajah sawah dan tegalan, serta tidur-tiduran di saung milik pak Tani. Sekarang untuk berkegiatan di luar rumah-pun menjadi sulit karena banyaknya motor lalu lalang, dan ruang ruang terbuka di perkotaan yang berubah menjadi bangunan. Anak-anak kita sekarang mengisi waktu luangnya di rumahnya, di ruangan tertutup kamarnya sendiri atau di mal-mal sewaktu akhir pekan. 
Situasi sudah begitu berubah, hanya dalam tempo kurang dari satu generasi. Sebuah rangkaian perubahan yang luar biasa cepat sehingga kita pun manusia tergopoh-gopoh memahami dan memaknainya. Apakah hal-hal tersebut yang lazimnya kita pandang sebagai kemajuan kemudian menjelma menjadi kebaikan, tentunya sangat menjadi pertanyaan. 

Dunia Bermain dan Belajar Anak-anak

              Anak-anak kita yang tinggal di kota (kita bicara dalam konteks kota Bandung) setidaknya kehilangan sangat banyak hal. Ruang terbuka yang aman dan memadai adalah salah satu di antaranya. Padahal proses tumbuh kembang mereka membutuhkan ruang gerak dan eksplorasi jasmaniah yang kaya. Anak-anak di usia 0-7 tahun perlu mendapat kesempatan memahami tubuh dan lingkungan sekitarnya secara jasmani. Mereka perlu banyak sekali berlari-lari, memanjat pohon, tersandung dan terjerembab. Mereka perlu mengalami bersentuhan langsung dengan alam sekitarnya, bermain batu-batuan dan dedaunan, melangkah di atas tanah dan kerikil, menapak di atas rumput dan dedaunan…


KEGIATAN BERKEBUN DI SEMI PALAR | DOK : SEMI PALAR    
                 Saat ini, anak-anak bahkan di usia 2-3 tahun sudah banyak kita lihat duduk tenang memangku gadget, memainkan permainan di atas layar datar menggunakan jari-jemarinya. Alih-alih bermain bola sepak di lapangan, anak-anak kita duduk diam di dalam ruangan. Jari-jarinya yang bermain ‘winning eleven’ di atas layar tablet. Hilang sudah pengalaman bermain yang begitu kaya. Pengalaman multisensori yang mereka dapatkan dari menendang dan mengoper bola, tersandung jatuh terdorong, berlari sekencang-kencangnya mengejar bola sudah hilang. Begitu juga kesempatan untuk mengalami derasnya arus emosi yang meruap bersama teman satu tim saat menang maupun bagaimana berdamai dengan dirinya untuk menerima kekalahan. Hal-hal seperti ini yang sekarang semakin menghilang dari alam belajar anak-anak kita. 



ANAK BERMAIN LAYANGAN DI ATAS ATAP RUMAHNYA, DI SISI SUNGAI CIKAPUNDUNG | DOK : PRIBADI 

Waktu dan Ruang Bertumbuh yang Menghilang

Di sisi lain, anak-anak kita juga banyak kehilangan waktu bersama orangtuanya. Saat ini sudah ada layanan-layanan ‘pendidikan’ yang ditawarkan bagi anak mulai dari usia 6 bulan. Usia anak bersekolahpun semakin muda. Di usia 2 tahun, orangtua sudah sibuk menemukan sekolah bagi anaknya. Jam sekolah-pun semakin lama semakin panjang. Kalaupun tidak, anak-anak pergi dari satu les privat ke les privat lainnya – dimulai dari usia TK. Di sisi lain tuntutan kehidupan modern, terutama secara ekonomi juga membuat orangtua serba sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarga – belum lagi menanggapi kebutuhan gaya hidup yang tak habis-habisnya. Semakin tipis sudah kesempatan orangtua membagikan waktu, kebersamaan dan perhatian bagi anak-anaknya. 
Sementara itu tayangan TV dan filem-filem dengan beragam tema serta tampilan serba menarik telah menjauhkan  anak-anak kita dari dongeng sebelum tidur dan bermain bersama orangtua. Perubahan-perubahan ini sudah mengikis habis alam dongeng dan imajinasi yang dulu banyak dihantarkan oleh orangtua kita saat sebelum tidur ataupun di kesempatan-kesempatan lain. Kakek dan nenek yang dulu senang sekali mendongeng dan berbagi cerita kepada cucunya, saat ini tergantikan oleh tokoh-tokoh lucu yang direkayasa industri hiburan lengkap dengan baju, boneka dan tasnya sekaligus. Kita lupa bahwa banyak sekali nilai kehidupan dan hantaran keindahan yang dibawakan oleh dongeng cerita rakyat dan sejenisnya. Tanpa disadari orangtua semakin terlena membiarkan anak-anak mereka hidup di dalam ruangan di hadapan layar kaca dan berbagai perangka elektroniknya.

Pergeseran di Dunia Pendidikan

Sekarang ini semakin banyak lembaga pendidikan yang menawarkan hal-hal yang umumnya dikorelasikan dengan kecanggihan / kemajuan pendidikan. E-learning adalah salah satunya. Anak-anak di sekolah diajak belajar dengan menggunakan komputer atau tablet di usia semuda mungkin. Seakan hal itu adalah sesuatu yang canggih dan modern. Sebelum kita bersepakat dengan hal tersebut, kita perlu menelaah dulu hal tersebut secara kritis. Apakah betul media digital tepat untuk anak-anak? Apa dampaknya bagi mereka? Kapan sebaiknya mereka bersentuhan / berkenalan dengan hal itu. Apa yang kurang dengan media yang kita kenal selama ini – buku-buku, misalnya. Apakah memang buku-buku perlu digantikan dengan media komputer. 
Saya akan coba ulas dari satu sisi, bagaimana media belajar sangat memengaruhi terbangunnya pola pikir anak. Media digital memang menawarkan banyak kemudahan bagi penggunanya. Media ini memiliki kemampuan untuk mengindeks, mencari teks (search) dan lain sebagainya. Penggunanya dapat mencari informasi dengan cepat (instan). Perlu kita sadari betul bahwa hal ini dapat sangat memperlemah terbangunnya pola pikir anak. Padahal di era sekarang di mana anak-anak kita kebanjiran informasi, mereka perlu punya kemampuan untuk menyaring dan mengolah informasi. Hal lain yang sering tidak disadari adalah bahwa komputer dan perangkat sejenisnya beroperasi dalam mode multi tasking dan multimedia. Saat bermain komputer, anak dengan mudah beralih aplikasi / atau mereset permainan saat mereka kalah atau menghadapi kesulitan. Hal ini juga sangat melemahkan kemampuan anak untuk bisa memusatkan perhatian dan menyelesaikan satu hal sampai tuntas.
Di sisi lain, buku adalah media paling tepat untuk bisa membangun pola pikir anak dengan baik. Melalui buku, anak dapat banyak berlatih untuk fokus, memusatkan perhatian dan merangkai makna. Melalui buku, anak harus bergerak dari baris kalimat ke baris kalimat  berikutnya, dari halaman ke halaman berikutnya. Berpikir secara runut dan terstruktur dan mengimajinasikan apa yang terekam dalam teks agar dapat bermakna bagi dirinya. Walaupun tampak sederhana, buku adalah media pembelajaran yang sangat kaya bagi anak.


JABA WASKITA : JAM BACA WAWASAN KISAH DAN CERITA DI SEMI PALAR | DOK : SEMI PALAR 


Penutup

Kecanggihan-kecanggihan teknologi yang seringkali kita korelasikan dengan kemajuan, ternyata berdampak sangat besar pada proses tumbuh kembang anak-anak kita. Proses yang semestinya berjalan alamiah dan penuh kewajaran. Kita jangan pernah melupakan bahwa alam punya tempo dan ritmenya sendiri. Kita dan anak-anak kita – manusia - adalah juga bagian dari alam. Anak-anak kita punya tempo dan ritmenya sendiri dalam menumbuhkembangkan segala aspek kediriannya secara utuh dan seimbang. 
Proses perubahan yang sangat cepat memang membuat kita semua, juga sebagai orangtua, menjadi gamang menanggapi dan merespon situasi dengan tepat. Dalam hal pendidikan anak-anak kita, kita perlu sangat berhati-hati merespon perubahan. 
Ruang tulisan ini memang sangat terbatas untuk membahas masalah ini secara memadai, mudah-mudahan apa yang tertuang di atas ini memberikan gambaran tentang situasi kita, terutama anak-anak kita, di dunia yang sedang berubah dengan cepatnya. Bagaimanapun pilihan untuk merespon perubahan ini ada di diri kita masing-masing. 


Bandung, 9 September 2013

(Andy Sutioso)



Andy Sutioso, lahir dan tinggal di Bandung, bersama istri dan dua orang anak. Latar belakang pendidikan adalah bidang arsitektur, sejak 14 tahun yang lalu memilih bergiat di komunitas dan memperdalam tentang pendidikan, khususnya pendidikan holistik. Memiliki banyak minat termasuk di dalamnya seni budaya, lingkungan hidup, spiritualitas, sejarah dan teknologi. Waktu luangnya diisi bersepeda, membaca, blogging dan potret memotret. Sejak 2004 merintis Rumah Belajar Semi Palar, (www.semipalar.sch.id) sekolah formal dengan pendekatan pendidikan holistik di Bandung.     


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...