[OPINI] Proklamasi Sudah, Berdaulat Belum Sepenuhnya! Ironi Negeri Agraris Pengimpor Bahan Pangan

Penulis: Anton Waspo

Tragedi Impor Pangan
Impor pangan sudah menjadi candu bagi pelaku impor. Pernyataan seorang anggota ahli dewan ketahanan pangan nasional ini ada benarnya[i]. Sementara produksi pangan mengalami surplus dibandingkan jumlah konsumsi tetapi impor tetap dilakukan. Mencermati data-data yang diolah oleh Bappenas dalam dokumen RPJMN 2015 – 2019[ii]maka pernyataan itu benar adanya. Pada periode tahun 2009 – 2012, ada surplus beras, cabai dan bawang merah tetapi impor tetap terjadi. Sedangkan untuk kedelai, gula dan daging sapi produksi dalam negeri memang defisit.

Tabel 1. Produksi, Konsumsi dan Impor Bahan Pangan 2009 - 2012
 

Perdebatan tentang data produksi, konsumsi dan impor kerap terjadi. Ini yang menjadi pangkal masalah pertama di tataran kebijakan dan pengambilan keputusan untuk impor. Data produksi pangan yang tidak akurat menjadi pintu untuk memuluskan impor produk pangan.  Ambil contoh produksi beras, bisa jadi uang negara yang sudah dihamburkan untuk membeli beras lebih banyak daripada untuk memperbaiki peningkatan produksi pangan. Sudah jamak dimaklumi, membeli itu lebih murah sehingga membuat malas untuk memproduksi sendiri. Perlu alasan kuat untuk berhenti membeli dan mulai memproduksi sendiri.

Harga Produksi Pangan
Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Kementan membeberkan fakta tentang harga produksi beras di beberapa negara Asia[iii].  Biaya produksi padi per ton pada tahun 2000 di China USD71, India USD 81 , Filipina USD 85, Thailand USD 129 dan Vietnam USD 64. Indonesia dengan kondisi yang relatif sama tetapi biaya produksi beras per ton mencapai USD 82. Hanya sedikit di bawah Filipina dan jauh lebih murah daripada Thailand. Perbedaan efisiensi ini ada pada kebijakan pemerintah dengan memberikan subsidi untuk produksi dan proteksi untuk perdagangan produk lokal.

Pangkal masalah kedua adalah biaya produksi pangan di negara lain memang lebih murah karena kebijakan pemerintahnya mendukung untuk itu.  Miris memang melihat kondisi ini menjelang 70 tahun usia kemerdekaan. Wajar saja jika impor jadi pilihan karena perbedaan harga produksi beras antara di Indonesia dan negara pesaingnya yang cukup lebar, misal dengan Vietnam. Keseriusan untuk memproduksi pangan tentu berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Memproduksi pangan sendiri berkaitan dengan kemandirian,kemudian barulah dapat berbicara kedaulatan. 

Data yang dipublikasikan Kementan RI tentang Ekspor dan Impor tanaman pangan menunjukkan Indonesia belum menjadikan sektor pertaniansebagai sektor prioritas pembangunan ekonominya. Mestinya pemerintah memiliki kebijakan yang kuat di sektor pertanian, sehingga negara tidak selalu tergantungkepada impor.  Akibatnya devisa banyakkeluar, produk lokal sulit bersaing dengan produk impor dan tidak membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian.




Pada sisi lain, kebijakan impor pangan dilakukan atas alasan menjaga stabilitas politik dan keamanan. Jika harga berbagai komoditas pangandibiarkan mahal masyarakat konsumen akan marah sehingga dapat mengganggu stabilitas politik dan keamanan dalam negeri dengan segala dampak negatifnya. Akan tetapi di negeri yang tingkat korupsinya sangatlah parah seperti Indonesia, kebijakan ini patutlah diperdebatkan. Pada saat yang sama tidak tampak ada upaya yang sungguh memperbaiki kondisi ketersediaan pangan.

Pendapat bahwa biaya produksi pangan harus bersaing dengan pasar internasional dapat diikuti asalkan secara bersamaan ada perbaikan setidaknya di kebutuhan dasar yang lain. Bagaimana mungkin pada saat yang sama membeli harga pangan mahal tetapi harus membayar biaya kesehatan dan pendidikan juga mahal? Belum lagi di masyarakat perkotaan yang masih harus membayar air minum dengan harga mahal.

Pada saat usia Negara ini 100 tahun kelak. Artinya  30 tahun lagi, apa yang dapat dipersiapkan agar Indonesia mandiri mencukupi kebutuhan pangan dan berdaulat memproduksi pangan? Rentang antara tahun 1970-an sampai 2000-an menjadikan30 tahun lamanya waktu yang dapat kita pelajari dari dampak yang kita rasakan sekarang : impor pangan karena tidak melindungi lahan produksi dan petani yang memproduksi atas nama perdagangan internasional. Lalu, sekarang 15 tahun kemudian kita masih terbata-bata dan baru mempersiapkan kebijakan perlindungan petani dan perlindungan lahan pertanian.

Menguatkan Produksi Pangan menuju Kedaulatan Pangan
Perdebatan soal data produksi yang menjadi celah argumentasi impor mutlak harus diperbaiki, setidaknya saat ini bila melihat data statistik produksi Kementan sudah mulai ada perbaikan. Data yang ditampilkan selalu dua versi : versi BPS dan versi Kementan.  Tetapi ini bukan yang utama, yang utama adalah pijakan untuk produksi pangan yaitu lahan dan sarana produksinya yang menjadikan biaya produksi yang tidak efisien. Akan tetapi, tidak efisien di sisi produksi bukan jawaban untuk impor bila memperhitungkan kedaulatan pangan.

Perbaikan produksi pangan tentu harus dimulai dari ketersedian lahan untuk produksi. Rencana pemenuhan ketersediaan pangan yang dicanangkan di awal periode pemerintahan SBY untuk mendistrubusikan lahan kepada petani sampai 10 tahun kemudian tidak jelas keputusannya.  Jika ada petani dan buruh tani tidak mampu memproduksi pangan karena tidak ada lagi lahan, maka solusijangka panjangnya tentu penyediaan lahan. Impor pangan dengan harga murah bagi mereka adalah jawaban jangka pendek.

Pendistribusian kembali lahan kepada buruh tani dan petani kecil tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan perbaikan infrastruktur utama seperti irigasi dan akses transportasi untuk distribusi barang dan sarana produksi. Pembatasan alih fungsi lahan dari lahan pangan ke lahan komersial lain juga mutlak dijalankan. Untuk itu UU tentang lahan pertanian abadi masih dapat diharapkan untuk memproteksi serbuan impor pangan.

Selanjutnya,jika sesudah memiliki lahan dan dukungan infrastruktur tetapi semua sarana produksi harus kembali dibeli mengikuti harga pasar juga menjadi sia-sia. Pada titik ini petani hanya akan menjadi tukang tanam. Maka perlu dibarengi dengan kemauan dalam meningkatkan kemampuan petani untuk menggunakan teknologi yang sesuai dengan kondisi alam yang dihadapi. Pengakuan akan kemampuan petani memproduksi dan memperbaiki kualitas benih perlu diletakkan secara proporsional, janganlah buru-buru dicap pencurian hak milik intelektual atas benih. Atau dicap petani bukan ilmuwan sehingga tidak boleh memperbaiki kualitas benih.

Pada saat yang bersamaan, pola konsumsi sebagai bagian dari budaya perlu juga disesuaikan kembali. Gandum bukan pangan asli Indonesia. Tiga puluh tahun sejak tahun 1970 dengan tumpuan pada riset pangan instan dan pemasaran yang masif, kini kita lihat hasilnya. Gandum adalah bagian dari budaya pangan kita. Sayangnya semua impor. Demikian juga beras, bersamaan dengan pendekatan bahwa makanan pokok Indonesia yang bernilai gizi tinggi adalah beras maka inilah jadinya saat ini. Seberapa pun kencang kita ingin memproduksi beras, kebutuhan beras akan selalu naik diiringi peningkatan jumlah penduduk.

Produksi beras yang bertumpu pada daya dukung alam ada batasnya. Sehingga kampanye diversifikasi pangan non beras memang mutlak dilakukan. Pilihan pangan dikembalikan pada kondisi alamnya. Sayangnya yang kita gunakan saat ini baru pendekatan kampanye. Bandingkan pendekatan iklan pemasaran mie instan & roti serta kue yang menjadikan gandum dan olahannya digemari masyarakat.

Pendekatan program pertanian yang represif sudah tidak akan memperoleh tempat di Indonesia, seperti periode sebelum tahun 2000. Membebaskan pilihan petani memproduksi bahan pangan dengan mengikuti selera pasar seperti saat ini juga tidak tepat. Petani yang tidak mampu akan kalah bersaing, konsumen pangan akan merana karena harga mahal. Maka dua sisi ini harus dilakukan berbarengan : (1) melindungi produksi dan produsen pangan dalam negeri untuk memproduksi keberagaman pangan serta (2) menciptakan kebutuhan atas pangan produksi sendiri dengan medium yang tepat.



[i]Khudori ( Kecanduan Impor Pangan Koran Sindo 8 Agustus 2011).
[ii]Studi Pendahuluan RPJMN Bidang pangan dan pertanian 2015 – 2019 Bappenas (2013)
[iii]Kebijakan proteksi dan promosi komoditi beras di Asia dan prospek pengembangannya di Indonesia, Analisis Kebijakan Pertanian Vol.02 No.04 2004 p340 -353




[OPINI] Menelusuri Hakikat Ketahanan Pangan

Penulis: Angga Dwiartama

Memperingati kemerdekaan RI ke-69, menarik untuk menilik makna kemerdekaan dalam kaitannya dengan pangan. Dalam pidato kepresidenannya di tahun 1941, Presiden AS Franklin D. Roosevelt menegaskan bahwa terdapat empat bentuk kemerdekaan yang harus melekat dalam setiap individu – kemerdekaan untuk berpendapat, untuk berkeyakinan, dari ketakutan, dan atas kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan). Penyelenggaraan pemerintahan hendaknya selalu didasari oleh semangat kemerdekaan ini. 

Gambar 1, diambil dari http://inspirasifajardepok.com
Dalam hal ini, ketahanan pangan juga patut mengemban semangat kemerdekaan ini. Ketika kita berbicara tentang ketahanan pangan, kita tidak hanya berbicara tentang tersedianya pangan bagi seluruh populasi. Kita berbicara lebih luas tentang kesejahteraan manusia dalam kaitannya dengan gizi, kesehatan, pengembangan diri dan kehidupan bermasyarakat. Hal inilah yang mendasari Michael Carolan[1], seorang pakar sosiologi pangan dari AS, untuk mempertanyakan hakikat ketahanan pangan (food security): apakah ketahanan atas pangan (secure of food), atau ketahanan melalui pangan (secure through food)?

Ketahanan: ‘atas’ atau ‘melalui’ pangan?
Bila kita cenderung pada definisi yang pertama (ketahanan atas pangan), maka pencapaian ini mungkin akan memuaskan kita. Pasca-Revolusi Hijau, produksi pertanian dunia di awal abad ke-21 telah mampu menghasilkan 17% lebih banyak kalori bagi setiap individu dibandingkan 30 tahun sebelumnya [2]. Indonesia telah berkali-kali mencapai swasembada pangan (sebut saja tahun 1984 dan 2008), meningkatkan konsumsi kalori penduduknya dalam 40 tahun terakhir, dan menurunkan persentase malnutrisi dari 22% di tahun 1991 hingga 9% saja di 2012 [3]. Terlebih, baik Indonesia maupun dunia tengah berupaya keras untuk mendorong produksi pertanian untuk menghasilkan lebih banyak lagi – sebut saja dengan pembukaan lahan pertanian baru, atau melalui teknologi rekayasa genetika yang dapat meningkatkan hasil panen hingga berkali lipat. Singkat kata, dunia telah jauh lebih baik dalam mencapai ketahanan ataspangan.

Apa yang salah dari argumen di atas? Pada kenyataannya, masalah ketahanan pangan lebih dari sekedar tersedianya cukup pangan bagi masyarakat. FAO melaporkan di tahun 2009 bahwa yang menyebabkansatu miliar penduduk dunia mengalami kerawanan pangan bukanlah produksi yang tidak mencukupi, tetapi minimnya aksesmasyarakat atas pangan, entah karena harga pangan yang terlalu tinggi atau penghasilan yang begitu rendah. Di sisi lain, konsumsi kalori yang meningkat tidak bisa menjadi patokan bagi ketercapaian ketahanan pangan. Di banyak negara maju, obesitas akibat pola makan berlebih dan tidak seimbang menjadi isu yang sangat krusial. Di AS, sebagai contoh, lebih dari 30% populasi mengidap obesitas, dan jutaan orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit yang terkait dengan obesitas (kolesterol, serangan jantung, diabetes, dsb.)[4]. Lebih lanjut, di banyak negara berkembang seperti Asia Pasifik dan Afrika, masyarakat dipaksa untuk mengubah jenis dan pola makan mereka (menjadi gandum) dengan dalih ketahanan pangan, yang mengakibatkan terjadinya transformasi budaya dan hilangnya kemandirian atas pangan.Jelas dari sini bahwa strategi pemenuhan pangan yang digembar-gemborkan tidak sepenuhnya dapat mewujudkan ketahanan melalui pangan – rasa aman (secure) untuk hidup secara sehat, layak dan utuh.

Berbagai definisi ‘ketahanan pangan’
Perdebatan tentang hakikat ketahanan pangan bukanlah hal yang baru. Pada tahun 1992 saja, sudah terdapat ratusan definisi yang berbeda tentang ‘ketahanan pangan’. Ketahanan pangan semula didefinisikan dalam kerangka industri: ‘seberapa besar suatu masyarakat memiliki akses terhadap pangan untuk pemenuhan energi mereka’. Ketahanan pangan diukur melalui jumlah kalori yang tersedia dibandingkan dengan kalori yang dibutuhkan. Umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur, atau buah (masing-masing memiliki nilai nutrisi berbeda) direduksi menjadi suatu angka kalori. Hal ini mendorong terjadinya penyeragaman pangan, dan menyempitkan pilihan pangan di dunia menjadi beberapa komoditas saja.
Dalam Revolusi Hijau, peningkatan produksi pertanian dianggap sebagai solusi terbaik dalam mencapai ketahanan pangan. Saat itu, ‘ketahanan pangan’ seringkali disetarakan dengan ‘swasembada pangan’ – seberapa mampu suatu negara menghasilkan pangan untuk konsumsi warganya. Indonesia menggunakan definisi ini untuk menunjukkan pencapaiannya atas ketahanan pangan. Patut disayangkan karena swasembada kemudian dipersempit hanya sebatas pada komoditas ‘beras’ -- di saat kita cukup akan beras, kita tetap harus mengimpor gula dan kedelai dengan harga mahal.Di awal 1990-an, pandangan ini mulai banyak ditentang. Definisi baru untuk ketahanan pangan pun muncul: bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga akses terhadap pangan.

Agaknya, definisi ini menjadi dasar bagi munculnya perdagangan bebas atas pangan. WTO berargumen bahwa ketahanan pangan terletak bukan pada kemampuan suatu negara menghasilkan pangan bagi dirinya sendiri, tetapi pada perdagangan internasional yang memungkinkan pangan dijual dengan harga yang kompetitif, dan pada kemampuan negara untuk mengimpor pangan melalui eksporproduk unggulan mereka. Sederhananya, jika negara-negara bersaing untuk menghasilkan bahan pangan semurah mungkin, maka masyarakat miskin pun dapat mengakses pangan tersebut dengan mudah. Ini, tentu saja, tidak sepenuhnya benar. Negara-negara Afrika, misalnya, menanam tanaman ekspor (cash crops) yang tidak mereka konsumsi sama sekali – bahkan bukan dari keanekaragaman lokal mereka. Melalui logika perdagangan bebas, negara-negara ini mengimpor pangan yang (saat itu) murah sebagai gantinya.  Pada kenyataannya, dengan perubahan iklim yang disertai krisis ekonomi di 2008, harga pangan dunia melonjak dan pertanian mereka gagal, menyebabkan terjadinya kelaparan dan kerusuhan di banyak tempat.

Pada tahun 1996, World Food Summit merumuskan definisi baruatas ketahanan pangan, yaitu “kondisi di mana semua orang, di setiap waktu, memiliki akses fisik dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan dan pilihan pangannya, untuk mencapai kehidupan yang sehat dan aktif”.Definisi ini terlihat lebih menyeluruh. ‘Bergizi’ berarti seimbang dalam nutrisi, dan tidak lagi hanya dalam kalori. ‘Pilihan’ berarti sesuai dengan nilai-nilai budaya masyarakat. ‘Sehat dan aktif’ menunjukkan bahwa ketahanan pangan lebih dari sekedar ketahanan atas pangan, tetapi melalui pangan; bahwa pangan harus dapat membantu terwujudnya kesejahteraan bagi masyarakat untuk menjalani kehidupan pribadi dan sosial yang sehat dan aktif.

Definisi ini, meski lebih baik dari sebelumnya, jelas masih penuh kekurangan. Pertama, ini adalah definisi yang terlalu luas. Banyak pihak kemudian menawarkan konsep yang lebih nyata. La Via Campesina, misalnya, mendeklarasikan konsep kedaulatan pangan (kedaulatan negara dan masyarakat lokal untuk menentukan sistem pangannya sendiri, dengan berbasis pada sumberdaya lokal yang dikelola secara berkelanjutan). Kedua, pada prakteknya ‘ketahanan pangan’ memang sulit diukur. Alhasil, seringkali kita terperangkap kembali ke metode pengukuran konvensional untuk menyatakan seberapa besar kita tahan atas pangan – kalori, hasil panen, atau penghasilan.

Gambar 2; diambil dari http://www.peuples-solidaires.org/

Penutup
Menjadi penting untuk disadari bahwa ketahanan pangan, sebagai suatu konsep, tidak bisa berdiri sendiri, dan karenanya tidak bisa dijadikan tolok ukur atas keberhasilan pangan. Ketahanan pangan adalah bagian dari konsep besar atas kemerdekaan dan keberdayaan masyarakat. Ia harus menjadi semangat bagi pemenuhan pangan yang berorientasi pada kesejahteraan manusia, dan bukan pada kecukupan kalori; pada hidup yang penuh, dan bukan pada perut yang penuh; pada ‘ketahanan’, dan bukan pada ‘pangan’.

Rujukan:
[1] Carolan, M. 2013. Reclaiming Food Security. Routledge.
[2]Dillon, H.S. 1999. Trade & Food security in Indonesia. IAMA Conference, Florence.
[3] FAOStat. 2014. http://faostat3.fao.org/
[4] WHO. 2014. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs311/en/



[TIPS] Makanan Sehat Itu Murah

Penulis: Maya A. Pujiati

            Produk organik telah menjadi populer beberapa tahun belakangan ini. Demi kesehatan, orang mau bersusah payah untuk mendapatkannya. Namun seiring dengan popularitasnya yang menanjak, harga produk organik di pasaran ternyata lebih mahal dari sayuran biasa.  Satu ikat kangkung, misalnya,  jika berlabel organik bisa berharga 2 sampai 3 kali lipat daripada kangkung tak berlabel.

            Secara logika, biaya pertanian dengan cara alami seharusnya  lebih murah dibandingkan dengan cara modern. Pupuk dan pestisidanya bisa berasal dari bahan-bahan yang tersedia di alam. Terlebih di masa sekarang,  telah ditemukan berbagai teknik pembuatan kompos dari sampah organik yang sangat mudah dan sederhana. Setiap orang bisa membuatnya dan biaya bertanam bisa semakin berkurang. Penyebab  paling mungkin dari mahalnya produk organik adalah berlakunya hukum pasar: makin diminati, harga makin tinggi.

            Pada dasarnya,  semua itu hanyalah pilihan. Masanubo Fukuoka (praktisi pertanian alami dari Jepang) memberi contoh yang indah tentang hal itu. Ia justru menolak dan marah besar ketika sayur dan buah-buahan organiknya dijual lebih mahal oleh bandar di kota. Fukuoka berprinsip, bertani bukanlah semata untuk mencari keuntungan, melainkan demi sebuah nilai yang lebih tinggi, yaitu berkontribusi dalam menyediakan pangan bagi manusia lainnya. Jika produk pertanian organik menjadi mahal maka hanya orang-orang kaya yang  mau membelinya, sedangkan mereka yang miskin tetap memilih makanan yang tidak sehat. Hal itu tidak adil bagi kemanusiaan1.

Menghindari Mahal
            Sejak kecil saya dibiasakan ibu untuk menyantap makanan alami. Kehidupan di kampung mungkin pada umumnya memang sama seperti itu. Sekalipun mulai dikenal vetsin dengan merek yang sangat klasik dan pewarna makanan serbuk untuk membuat warna makanan camilan menjadi menyala,  namun tingkat penggunaannya relatif lebih kecil dibandingkan sekarang.

            Di masa itu, orang-orang kampung masih mewarisi kebiasaan leluhurnya untuk menanam segala macam kebutuhan pangan di sekitar pekarangan, tanpa pestisida. Menanam dalam skala kecil memang lebih aman dari hama dibandingkan pertanian massal. Bumbu-bumbu dan sayuran, juga kebutuhan protein dari telur dan daging “ditabung” di halaman. Kebutuhan  pupuk dipasok dari kandang  ternak  dan dedaunan kering yang jatuh dari pohon buah-buahan mereka.

Makanan Alami (Foto: dokumentasi penulis)
            Jika menginginkan penambah rasa, orang cukup  menggunakan kaldu ayam kampung atau santan kelapa hasil parutan sendiri dari pohon di kebun sendiri. Kebutuhan lemak tak perlu mengandalkan mentega, namun cukup dengan lemak kambing atau lemak sapi yang dikeringkan. Pewarna dan pewangi makananpun terkumpul di dalam tanaman pandan dan suji yang tumbuh subur di sudut kolam. Itulah kehidupan sehat yang sedang saya coba tiru kembali.

            Persepsi bahwa produk organik itu harus mahal, jelas menjadi gugur jika kita mau melakukan kebiasaan orang-orang di masa lalu semacam itu. Modalnya, hanyalah kemauan.

Berkebun
Terkait berkebun, ada ulasan menarik dari  Nina Planck, dalam bukunya berjudul, “Real Food, Hidup Bebas Penyakit dengan Makanan Alami.”

            Nina yang dibesarkan di daerah pertanian bercerita bahwa pertanian tradisional dan pertanian modern (pabrikan) itu berbeda. Buah-buahan pabrik tidak bisa dipetik saat masak, karena tidak akan bisa bertahan lama dalam perjalanan yang bisa jadi mencapai ribuan mil. Tomat misalnya, dipetik saat “masih hijau” dan “keras” dan dibuat masak dengan gas etilena. Anggur atau buah-buahan dalam keluarga beri bisa tetap segar dan cemerlang warnanya selama 3 minggu karena diberi radiasi. Efek radiasi menguntungkan supermarket namun melenyapkan aneka vitamin penting di dalam buah-buahan2.

            Sayuran dan buah yang ditanam secara massal untuk kebutuhan komersial diproses dengan begitu banyak paparan bahan-bahan kimia yang mengancam kesehatan. Kalau label organik pun tak menjamin kemurnian produk pertanian, maka wajarlah jika orang akhirnya cenderung berusaha menanam sendiri.

Kebun (Foto: dokumentasi penulis)
            Saya belum sepenuhnya mengandalkan pasokan sayuran dari  kebun sendiri. Namun secara prinsip, saya menyadari betapa pentingnya untuk berusaha ke arah itu. Kebun saya yang tetap belum rapi meski selalu saya bayangkan bisa rapi, kini sedang berisi tanaman labu siam, roay/kara (sejenis kacang-kacangan), singkong (untuk diambil daunnya), katuk (sejenis tanaman perdu yang bisa diambil daunnya), cabai rawit, tomat, kacang tanah, bayam merah, bayam belang, pepaya, basil, kemangi, terong ungu, dan oyong (sayuran buah yang tanamannya merambat).

            Hal yang menarik,  anak-anak saya memiliki satu kesan yang sama ketika menyantap sayuran hasil tanam sendiri, yaitu  terasa lebih enak, manis, dan gurih. Jadi, berkebun memang “tetangga dekat” dari  hidup sehat dan kaya makanan lezat.

Beli Instan atau Memasak Sendiri?
            Tidak semua bahan pangan bisa disediakan sendiri di kebun. Namun kita tetap harus memilih, makanan jenis apa yang kita beli. Produk siap makan ataukah bahan mentah dan kita memasaknya sendiri?

            Sebagai sebuah perbandingan, harga jajanan instan  makin terjangkau. Makanan jenis keripik atau kerupuk yang dibungkus dalam kemasan menarik bisa dibeli dengan harga seribu atau dua ribu. Akan tetapi, makanan itu  tidak mengenyangkan. Anak-anak akan cenderung melakukan pembelian berulang atau menjajal jenis lainnya dalam waktu yang berdekatan. Alhasil, anggaran jajan sebenarnya bisa jauh membengkak jika dibandingkan dengan membuat camilan sendiri.

            Saya coba contohkan mie instan. Saya sudah tidak ingat persis kapan terakhir kali menyantapnya. Awalnya, kami masih menjadikan mie instan sebagai alternatif hidangan hiburan di akhir pekan atau sebulan sekali. Makan bareng di teras atau di dalam rumah saat hujan turun sangat menyenangkan. Sayangnya, sekalipun sudah ditambahi sayuran kebun di dalam hidangan mie, dampak zat aditifnya tidak hilang begitu saja. Sariawan, batuk, dan radang tenggorokan, paling sering menjadi indikasi ke arah itu pasca makan mie instan.  Karena itu, kami memutuskan berhenti mengonsumsinya.

            Karena anak-anak sudah terlanjur menyukai mie, sebagai penggantinya saya ajak mereka membuat mie sendiri. Anak-anak senang karena lewat kegiatan itu mereka akan punya kegiatan yang menantang.  Dan yang menarik, setelah dihitung-hitung, biaya yang kami keluarkan untuk membuat mie sendiri jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli mie yang sudah siap masak.

            Cukup bermodalkan ¼ kg terigu, 1 butir telur, ½ sdm garam, dan sesendok minyak goreng, kami bisa mendapatkan stok mie yang lebih sehat untuk 6 porsi. Walaupun bahan bakunya tetap diproduksi pabrik, setidaknya dari sisi  bahan, beberapa unsur yang dianggap berbahaya bisa dihilangkan. 

Membuat Mie Bakso (Foto: dokumentasi penulis)

            Anak-anak  juga senang mencoba membuat camilan lain yang mereka sukai. Sebagian adalah makanan modern dan sebagian lainnya makanan tradisional. Saya belikan buku resep makanan tradisional atau mencari resep gratis di internet. Kami sudah mencoba membuat kue cucur, roti,  serabi, urap talas, nagasari, bugis, bakso ayam, siomay, dan bahkan membuat minyak goreng dari santan kelapa. Singkong goreng, ubi rebus, talas kukus, atau kolak labu kuning, juga jadi favorit anak-anak .

            Bagi saya, proses pembuatan makanan di rumah memberikan 3  keuntungan: pertama, anak-anak mendapat makanan yang lebih sehat; kedua, keterampilan mereka juga bertambah; dan ketiga, mengakarkan kebiasaan sehingga lidah mereka dan selera mereka terbentuk melalui pengalaman yang berulang-ulang terjadi.

            Membuat makanan sehat mungkin terlihat ribet dan menghabiskan waktu. Namun semuanya akan menjadi mudah dan terasa setimpal saat kita ingat betapa mahalnya biaya yang harus kita keluarkan jika tubuh kita atau anak-anak kita menjadi sakit.***


Keterangan:
1 Masanubo Fukuoka, “Revolusi Sebatang Jerami”, 2012.
Nina Planck, “Real Food,  Hidup Bebas Penyakit dengan Makanan Alami”,  2006, hal. 133

[TIPS] Makanan Sehat, Badan Sehat

Penulis: Melly Amalia

Saat ini gempuran makanan dari berbagai macam bahan pangan dan olahannya sudah semakin banyak. Slogan makanan sehat sepertinya hanya iming-iming belaka, dan yang lebih dipentingkan adalah rasa makanan tersebut yang lezat. Padahal kalau kita mengkonsumsi makanan yang sehat, akan mempengaruhi kesehatan kita pula. Kalau kita mengkonsumsi makanan sehat, maka berpotensi menjadikan badan sehat. Makanan sehat belum tentu 4 sehat 5 sempurna, tapi kandungan yang ada dalam makanan sehat tersebut kaya akan nutrisi dan bebas dari toksin, bakteri dan bibit penyakit. Makanan sehat memiliki kandungan gizi, kaya serat dan zat yang dibutuhkan oleh tubuh (karbohidrat, vitamin, protein, mineral dan air). Kita perlu lebih cermat dalam memilih bahan makanan dan mengolahnya, sehingga resiko penyakit yang ditimbulkan bisa diminimalisir.
  
Berikut panduan dalam memilih makanan sehat :
Bahan organik. Bahan makanan organik adalah salah satu pilihan terbaik dan sehat, karena proses olahannya tidak menggunakan bahan kimia seperti pestisida. Memang harga pasaran bahan organik lebih mahal dibanding yang biasa, tapi dari segi kualitas bahan organik lebih sehat dan segar. Bila kita belum bisa menjangkau bahan organik, perlu lebih hati-hati dalam memilih makanan atau paling tidak dalam proses mengolahnya agar tidak terpapar pestisida, seperti mencuci sayuran di bawah air mengalir, mengkonsumsi berbagai variasi makanan, dll.

Banyak mengkonsumsi sayur dan buah. Sayur dan buah-buahan banyak mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh seperti antioksidan dan folat. Sebaiknya sediakan selalu sayuran dan buah-buahan dalam keadaan segar. Pilih sayuran terutama daun-daunan dan kacang-kacangan serta variasi sayuran aneka warna dan jenis.



Bebas dari zat aditif, pengawet dan pewarna kimia. Hindari penggunaan zat aditif pada makanan seperti MSG (Mono Sodium Glutamat), ini sejenis penyedap makanan/mecin yang banyak terdapat pada makanan kemasan atau makanan jadi. Selain zat aditif, banyak bahan berbahaya seperti boraks dan formalin yang terkandung dalam makanan. Kita perlu lebih cerdas dan cermat dalam memilih. Biasanya bahan ini banyak terdapat pada olahan makanan seperti baso, tahu, mie, lontong dan ikan. Kita dengan mudah bisa membedakan mana makanan yang mengandung borkas atau formalin, misalnya pada tahu atau lontong. Bila teksturnya kenyal dan tidak mudah pecah, kemungkinan mengandung boraks/formalin. Pada jajanan anak, perlu diwaspadai pula karena banyak mengandung pengawet, perasa dan pewarna kimia. Sebaiknya anak tidak dibiasakan untuk jajan, apalagi jajan sembarangan tanpa tahu kandungan yang ada dalam makanan atau minuman tersebut. Bila Anda ragu-ragu, sebaiknya tidak usah dibeli. Dalam olahan kue atau bolu pun perlu waspada. Banyak pengawet dan pengembang pada bolu yang juga mengandung bahan kimia berbahaya. Kalau kita terbiasa tidak menggunakan bahan pengawet dan perasa berbahaya, lidah kita akan cukup jeli untuk merasakan dan membedakan mana makanan yang aman atau tidak.

Hindari Junk Food, produk olahan daging dan makanan ringan. Makanan yang dijual di luar biasanya banyak mengandung garam, lemak dan gula yang tinggi. Kalau kita ingin merasakan makanan junk food, kita pun bisa memasaknya sendiri dirumah. Pada produk olahan seperti sosis dan nugget, senyawa nitrat yang digunakan sebagai pengawet produk ini, dalam jumlah berlebihan berpotensi mengganggu kelancaran aliran darah. Sekarang mudah didapat resep cara membuat sosis, nugget dan sejenisnya yang bisa kita modifikasi dengan tambahan sayuran dan tanpa pengawet/penyedap. Untuk makanan ringan, seperti gorengan, kue manis dan biskuit bisa kita alihkan dengan mengkonsumsi buah-buahan. Perlahan kurangi makanan ringan sampai benar-benar mampu tidak mengkonsumsi lagi.

Biasakan memasak makanan sendiri. Meski sekarang ini banyak dijual makanan/minuman yang sangat menggiurkan dan lezat di lidah, tapi lebih baiklagi bila kita memasak dan mengolahnya sendiri. Belum tentu makanan lezat tersebut makanan sehat. Kalau kita memasak sendiri, kita akan terlibat langsung dalam proses pembelian bahan baku, pengolahan dan penyajiannya. Kalau kita mengolah masakan sendiri, pastikan bebas dari penggunaan zat penyedap seperti MSG dalam bentuk apapun. Gunakan bumbu rempah dan kaldu yang kita olah sendiri. Hal ini dapat membuat kita merasa aman dan nyaman dalam menyantap makanan sehat hasil olahan sendiri.

Olahan makanan sehat. Pengolahan makanan yang sehat sangat mempengaruhi kondisi tubuh kita. Jika kita salah dalam mengolah bahan makanan tersebut, maka bisa jadi akan menimbulkan bakteri yang menyerang tubuh. Jadi kita perlu tahu bagaimana baiknya mengolah makanan yang baik dan benar. Misalnya dalam mengolah brokoli menjadi sayur olahan, baiknya memasak brokoli tidak terlalu matang supaya kandungan nutrisi yang ada dalam sayur tersebut tidak hilang atau berkurang. Juga makanan olahan yang digoreng, yang  banyak mengandung lemak jenuh akan menjadi salah satu penyebab tingginya kolesterol. Bila dirasa perlu memasak daging atau ayam, masaklah hingga matang agar bakteri atau parasit yang ada di dalamnya mati. Jadi akan semakin baik bila semakin sedikit proses yang dilewati bahan-bahan tersebut sebelum disajikan. Yang perlu diperhatikan adalah cara memasak, suhu makanan saat disajikan dan bahan makanan yang mudah dicerna.



Menanam sayuran sendiri. Dengan menanam bahan makanan sendiri, kita merasa puas karena tahu asal sumber makanan yang kita makan. Apalagi itu berasal dari tanaman lokal dan bebas pestisida, tinggal tanam-petik-masak. Biasakan mengkonsumsi makanan lokal, hal ini akan mengurangi jejak ekologis kita dalam pengadaan sumber makanan.

Pembiasaan gaya hidup sehat dari sisi memilih makanan yang sehat, akan membuat tubuh kita sehat. Selain itu perlu didukung pula dengan olah raga teratur, tidur cukup, makan teratur dan tidak merokok. Bila kita terbiasa bergaya hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan sehat, berpikir sehat insya Allah akan memperpanjang hidup kita. Kitalah yang menentukan arah hidup kita, ingin tetap sehat atau mudah sakit. Ingin makanan sehat atau sekedar makanan yang lezat tapi belum tentu sehat. Pilihannya ada dalam diri kita masing-masing.

[MEDIA] Pangan, Kedaulatan dan Ketahanan. Resensi Majalah dan Buku


Pangan, kedaulatan dan ketahanan. Resensi majalah dan buku
Majalah pertanian berkelanjutan “Petani” terbit pertama kali di tahun 2001 dan saat itu bernama “Majalah Salam”. Majalah ini menjadi sarana berbagi pengetahuan, inovasi, dan aktivitas antar tenaga penyuluh lapangan, petani, dan orang-orang yang bekerja di bidang pertanian berkelanjutan. Majalah ini terbit empat kali setahun dan didistribusikan ke seluruh Indonesia. Target pembaca majalah ini adalah kelompok petani, LSM, pemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga penelitian. Edisi terakhir Majalah Petani terbit di bulan Maret 2011.
Ada dua edisi yang menyoroti masalah ketahanan pangan dan kedaulatan pangan:
Majalah SALAM No. 2 (http://www.agriculturesnetwork.org/magazines/indonesia/2-rawan-pangan). Edisi ini menyoroti masalah rawan pangan yang terjadi di Indonesia. Secara khusus artikel yang disajikan memuat contoh-contoh sistem pertanian berkelanjutan yang memiliki potensi mengatasi masalah rawan pangan.



Majalah SALAM No. 27

Edisi ini mengangkat tema kedaulatan pangan. Gerakan yang mendukung kedaulatan pangan sejatinya adalah gerakan yang memperjuangkan hak atas pangan dan hak petani (skala kecil). Pangan yang sehat, aman, dan terjangkau seharusnya tersedia bagi semua orang; termasuk petani sebagai produsen bahan pangan. Sayangnya, hak-hak ini sering kali diabaikan oleh negara karena negara lebih berpihak pada industri pertanian dan pasar. Hal ini terlihat dari kebijakan pemerintah yang tidak melindungi hak petani atau pelaksanaan yang buruk dari kebijakan yang melindungi petani. Agar kedaulatan pangan bisa tercapai, aspek-aspek seperti peran serta perempuan, pertanian skala kecil, dan inovasi bidang pertanian harus diperhatikan juga. 

Kedua edisi ini bisa dibaca secara online dengan mengikuti link yang sudah diberikan. Pada kedua edisi ini, ada juga ulasan seputar buku-buku bacaan yang terkait dengan isu ketahanan pangan, pada rubrik “Lentera Pustaka”.

REVIEW BUKU FOOD RULES –Michael Pollan
Food Rules: An Eater’s Manual. New York: Penguin Press. 2009. ISBN 978-0143116387.Pedoman Bagi Para Penyantap Makanan.


 Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Opus dalam Bahasa Indonesia. Michael Pollan adalah penulis yang memiliki rekam jejak panjang dalam menulis isu seputar pangan yang sehat dan berkelanjutan. Buku-bukunya yang lain yang juga mengulas isu pangan adalah In Defense of Food – An Eater’s Manifesto” dan “Omnivore’s Dillema”. 
Dalam buku setebal 165 halaman ini, Anda akan mendapatkan tips sederhana untuk memilih pangan yang baik bagi kesehatan Anda sekaligus juga cara makan yang sehat. Bersiaplah untuk mendapatkan tips kontroversial seperti:
(1) Hindari makanan yang diiklankan di televisi, (2)Semakin putih warna roti yang Anda makan, makin cepat Anda akan meninggal, (3). Jangan makan makanan yang tidak ada pada masa nenek Anda hidup.
Lewat buku ini Michael Pollan mengajak konsumen menjadi lebih kritis dan cerdas dalam memilih jenis makanan yang dikonsumsi. Hanya makanan yang berasal dari bahan-bahan alamilah yang terbaik bagi tubuh kita. Makanan olahan pabrik yang penuh bahan pengawet dan bahan artifisial justru akan membahayakan kesehatan kita.
Ajakan untuk mengonsumsi bahan-bahan alami dan dihasilkan di dalam negeri juga akan membantu petani, khususnya petani skala kecil yang merupakan penyuplai hampir 80% bahan pangan di Indonesia.

REVIEW BUKU THE ROUGH GUIDE TO FOOD – How to make the right food choice
The Rough Guide To Food – How to make the right food choice. New York: Penguin Books. 2009. ISBN 13: 978-1-84836-001-3


Meski fokus penulisan buku setebal 311 halaman ini adalah negara Inggris, kita bisa belajar bagaimana cara industri makanan, agribisnis, dan supermarket beroperasi. Terutama di era globalisasi yang salah satu cirinya adalah standardisasi operasi di berbagai belahan dunia, maka model yang disajikan di buku ini juga bisa ditemui di Indonesia.
Pada bagian awal buku ini, pembaca diajak untuk melihat hal-hal yang merusak alam dan kesehatan konsumen sebagai akibat dari cara industri makanan dan agribisnis beroperasi saat ini. Buku ini dengan berani mengatakan bahwa pangan yang tak sehat sama dengan keuntungan melimpah bagi industri (unhealthy food = healthy profit). Isu seperti GMO (genetically modified organism), pencemaran pestisida dan pupuk kimia pada sumber-sumber air, juga dibahas dengan jelas di buku ini.   

Selain mengkritisi penerapan kapitalisasi di sektor pangan dan pertanian, buku ini juga menyajikan alternatif yang lebih berkelanjutan dan sehat bagi konsumen. Contohnya seperti urban gardening, produk-produk Fair Trade, gerakan locavore(menghindari bahan pangan impor) dan memanen langsung dari alam (foraging) menjadi pengetahuan menarik yang bisa dicoba di konteks Indonesia.

[JALAN-JALAN] Bandung Berkebun

Penulis: Melly Amalia

Ada satu komunitas di Bandung yang mengajak orang-orang khususnya warga Bandung untuk berkebun. Gerakan ini sudah dimulai sejak tahun 2011 yang digagas oleh Ridwan Kamil, walikota Bandung saat ini. Diawali dari Jakarta Berkebun dan sampai saat ini sudah ada 30 kota berkebun (Bandung, Banten, Jogja, Bogor, Solo, Madiun, Pontianak, Aceh, Bali, dll) dan 8 kampus yang bersama-sama bergerak di bawah gerakan nasional Indonesia Berkebun. Cita-cita komunitas ini sederhana tapi gaungnya sangat besar yaitu mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk senang berkebun. Melalui berkebun, komunitas ini berupaya memanfaatkan ruang-ruang yang awalnya tidak produktif dan terbatas menjadi area produktif sehingga tercipta kualitas ruang kota yang baik.





KEGIATAN dan PROGRAM .BdgBerkebun
Kegiatan rutin yang dilakukan dan dapat melibatkan siapa saja yang tertarik bergabung adalah acara ngebon(berkebun) di kebun Laboratorium .BdgBerkebundi daerah Tubagus Ismail. Biasanya kegiatan ini diadakan setiap Sabtu atau Minggu setiap bulannya. Tempat lainnya yang menjadi kebun laboratorium adalah Sekolah Alam Bandung di Dago, Dago Pakar dan jl. Sukamulya Indah di Pasteur. Yang agak membedakan antara Sukamulya dengan lainnya adalah yang mengelola kebunnya warga masyarakat sendiri. Kegiatan yang ditawarkan .BdgBerkebunbukan melulu tentang berkebun tapi banyak ide-ide kreatif lainnya yang masih berkaitan dengan berkebun misalnya belajar membuat kompos, membuat orang-orangan sawah dari barang bekas, membuat instalasi berkebun dengan memanfaatkan barang bekas, terkadang mereka berkumpul untuk sekedar masak dan makan bersama. Tentunya bahan masakan yang didapat itu dari hasil panen kebun, bahan makanan lokal yang dipetik sendiri, diolah sendiri dan dimakan bersama-sama. Semua orang terlibat dalam tahapan kegiatan tersebut. Menarik bukan?

Selain kegiatan rutin diatas, komunitas .BdgBerkebun juga mempunyai berbagai program lainnya yang berupa kegiatan agent dan event. Yang dimaksud dengan agent adalah siapapun yang ingin lahan tidak produktif didaerahnya ingin dimanfaatkan menjadi kebun, dapat bergabung menjadi agent berkebun. Ada beberapa peluang belajar dan berbagi yang bisa diikuti dengan menjadi agent berkebun seperti Akademi Agen Berkebun dan Bandung Belajar Berkebun. Selain itu juga mengadakan event seperti Urban Farming Workshop, mengisi stand di acara-acara lingkungan, dll. Program lainnya adalah Urban Farming Installation (UF-I), School Urban Farming (S-UF) dan Kampong Urban Farming (K-UF), Campus Urban Farming(C-UF), Unused Land, Street Urban Farming, Office Urban Farming dan pengadaan Merchandise yang kreatif. Intinya .BdgBerkebun ingin mengajak dan menginspirasi masyarakat kota Bandung bahwa berkebun itu mudah dan dapat dilakukan di mana saja dengan menjadikan lahan yang ‘menganggur’ menjadi lahan produktif dan menghasilkan.


Dalam keseharian kegiatannya, yang ditanam sebagian besar adalah jenis sayur-sayuran yang masa tanamnya relatif singkat dan bisa langsung dikonsumsi seperti kangkung, bayam, pakcoy, timun, kacang panjang dan salada. Ini bisa menjadi penyemangat bagi orang-orang yang baru belajar berkebun. Selain itu, juga ada tanaman buah, tanaman hias dan tanaman antipolutan. Pengadaan bibit tanaman bersumber dari mitra, donatur, sponsor dan dari anggota. Bagi .BdgBerkebunkalau mau berkebun di kota itu hanya membutuhkan sedikit lahan kosong, ada kemauan dan kreativitas.

CIRI KHAS .BdgBerkebun
Bandung dengan karakteristik morfologi kota yang “akrab” (ke mana-mana mudah), generasi muda yang aktif dan kreatif. Maka di .BdgBerkebun lebih menonjolkan inovasi dan kreativitas dalam berkebun yang disebut sebagai Creatifarming TM(creative-farming), baik melalui kegiatannya maupun instalasi berkebunnya. Bahwa berkebun di kota bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja karena mudah dan dapat memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita, seperti pemanfaatan barang bekas, dll.


ANGGOTA .BdgBerkebun
Anggota .BdgBerkebun yang terdaftar sekitar 200 orang, tapi yang aktif ada sekitar 30 orang. Biasanya dalam kegiatan insidentil hampir semua anggota hadir. Mereka terdiri dari berbagai kalangan usia dan profesi, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua. Untuk menjadi anggota dan mengikuti kegiatan .BdgBerkebun, tidak dipungut biaya apapun, yang penting tidak takut bermain dengan tanah dan terpapar sinar matahari. Mudah ya syaratnya? Peluang bergabung sangat terbuka lebar dan bisa mengambil peran di kegiatan rutin ngebon, menjadi EO event dan program, serta jadi agen berkebun. Sedang basecamp-nya terletak di Bale-bale, Jl Bukit Pakar Timur No.86, Dago Pakar, Bandung.
Yang menjadi tantangan bagi .BdgBerkebun  dalam menjalankan programnya adalah soal SDM dan pendekatan yang berbeda di tiap kalangan masyarakat.

KERJA SAMA
Beberapa sekolah dan lembaga yang sudah bekerjasama dengan .BdgBerkebun adalah TK Bintang Ceria, SD Semi Palar, SD Pardomuan, SD IT Rabbani, Universitas Pasundan, UPI, Unpad dan masih banyak lagi. Juga ada beberapa kelompok warga diantaranya RW 04 Taman Sari, RW 03 Kelurahan Merdeka, Cigadung, dll.  Yang tidak kalah pentingnya, saat ini juga sedang menjalani program Bandung Kampung Urban Farming bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung.



.BdgBerkebun dan KEDAULATAN PANGAN
Kedaulatan pangan adalah ranah kebijakan pemerintah dalam mengimpor /tidak pangan dalam skala nasional. Komunitas .BdgBerkebunmengkampanyekan untuk berkebun di lahan kosong/lingkungan perkotaan masing-masing. Kampanye ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan terbengkalai di kota sekaligus mengangkat isu pangan kepada khayalak umum.  Mereka juga berkolaborasi dengan komunitas lain yang mendukung produk lokal untuk kemandirian pangan. Dan lagi tujuan kampanye ini adalah mengangkat isu bukan secara langsung menyelesaikan persoalan pangan yang ada di indonesia.

Harapan komunitas .BdgBerkebun adalah agar warga umum dan generasi muda Indonesia terinspirasi untuk berkebun di lahan-lahan terbengkalai kota, menghargai kota dan tanah di dalamnya, serta tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang persoalan pangan di Indonesia. Kenapa generasi muda? Karena siapa tahu mereka menjadi pengambil keputusan kebijakan pangan di masa depan.

Ada yang cukup menggelitik rasa penasaran saya dengan adanya tulisan “.BdgBerkebun, ada tanda titik di depan kata Bdg (.) dan menggunakan Bdg sebagai singkatan dari kota Bandung, bukan ditulis lengkap menjadi Bandung. Kata mereka, inisebagai trademark bahwa Bandung sebagai kota kreatif. Bentuknya baku seperti yang terlihat pada logo. Yang membuat idenya adalah salah satu komunitas kreatif di Bandung. Hal tersebut diharapkan menjadi spirit .BdgBerkebun untuk menyebarluaskan idenya. Benar-benar kreatif ya!


Nah, siapapun yang menemukan lahan tidak produktif bisa sama-sama digarap menjadi lahan yang produktif dengan melakukan berkebun di kota (Urban Farming). Hal ini merupakan salah satu cara mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan melalui aksi nyata dan pastinya membangun kemandirian dalam ketahanan pangan. Yuuk kita ngebon!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...