[MEDIA] Media Internet dan Parenting

Oleh: Agustein Okamita

Di era internet ini, banyak kemudahan yang kita dapatkan dalam mengakses informasi. Kita bisa memperoleh informasi hanya dengan mengklik mouse di komputer atau menggeser jari di smartphone/tablet yang terhubung dengan internet. Mulai dari resep masakan sampai persoalan politik, semua ada di dalam genggaman kita.

Dunia parenting saat ini juga tidak bisa dilepaskan dari internet. Sebelum era internet, media yang menyajikan informasi tentang keluarga dan parenting masih sangat terbatas. Salah satu contoh media yang saya ingat adalah majalah Ayah Bunda, yang terbit sekitar tahun 1980-anLalu ketika era tabloid dimulai pada akhir tahun 1990-an, mulai muncul beberapa media yang membahas parenting di antaranya adalah tabloid Nakita, Mom and Kiddie, dan lain-lain. Ada juga beberapa majalah lain yang di dalamnya terdapat rubrik keluarga, tetapi tidak selalu berfokus pada tumbuh kembang anak.



Majalah Ayah Bunda.
Sumber: http://www.bimbingan.org/referensi-pilih-majalah-parenting-atau-ayah-bunda.htm
Internet memungkinkan kita untuk memperoleh lebih banyak informasi mengenai parenting. Jika informasi yang kita dapatkan dari media cetak masih terbatas, maka kita bisa mendapatkan informasi yang tidak terbatas dari media online. Ada banyak media cetak tentang parenting yang juga membuat website, agar informasi yang mereka berikan bisa diakses oleh lebih banyak orang. Media online berbahasa Indonesia yang membahas tentang parenting di antaranya Ayahbundatabloid Nakita, dan tabloid Parenting. Ada juga beberapa website atau blog pribadi yang membagikan hal-hal yang berkenaan dengan parenting dan keluarga, misalnya Rumah InspirasiParenting Ayah Edy, dan lain-lain. Jika informasi yang kita butuhkan tidak ada di media-media tersebut, kita bisa mencarinya dengan berbagai mesin pencari (search engine) seperti Google, Bing, Yahoo, dan lain-lain. Kita hanya perlu memasukkan beberapa kata kunci sesuai dengan kebutuhan kita, misalnya ‘potensi dan kecerdasan anak’, ‘penanganan anak autis’, ‘anak dan gadget’, ‘memilih bacaan anak’, dan sebagainya.


http://microsite.tabloid-nakita.com/newsletter/


Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan sebagai orang tua yang melek internet. Informasi-informasi yang terkait dengan parenting seperti pendidikan anak, kesehatan fisik dan emosi anak, pemanfaatan gadget, dan masalah-masalah yang terkait dengan tumbuh-kembang anak, semua bisa kita dapatkan di internet.  Di kota besar, orang tua dengan tingkat kesibukan yang cukup tinggi dan waktu yang terbatas tetap bisa mendapatkan informasi yang berkaitan dengan parenting melalui internet. Seminar-seminar tentang parenting yang dulu harus dihadiri secara fisik, sekarang bisa diadakan secara online. Dengan demikian para orang tua maupun pendidik bisa mengikutinya dari tempat mereka masing-masing tanpa terkendala oleh waktu dan lokasi.

Keuntungan lainnya dari kemajuan teknologi informasi ini adalah pengetahuan dan wawasan tentang parenting yang semakin kaya. Dulu orang tua kita mungkin belajar mengenai parenting hanya dari orang tua mereka atau orang-orang tertentu. Pengetahuan mereka tentang parenting terbatas karena informasi yang mereka peroleh saat itu juga terbatas. Cara mereka membesarkan anak dan mengatasi berbagai persoalan tentang anak-anak dibatasi oleh informasi yang mereka dapatkan saat itu. Dengan adanya internetorang tua bisa mendapatkan banyak wawasan dan berbagai pengetahuan yang lebih luas tentang cara membesarkan anak-anak mereka.

Internet tidak hanya memberikan informasi tentang parenting. Internet juga menjadi wadah para orang tua untuk saling berbagi berbagai masalah tentang parenting. Di media sosial , misalnya Facebook, beberapa orang yang peduli tentang pengasuhan anak membentuk forum atau grup sebagai tempat sharing pengetahuan dan isu terkini tentang parenting. Keanggotaan forum tersebut bisa bersifat umum atau terbatas. Jika forum atau grup itu bersifat umum, semua orang bisa bergabung sebagai member dari grup itu. Jika keanggotaan bersifat terbatas, berarti grup atau forum tersebut hanya menerima anggota dari golongan tertentu. Beberapa contoh grup di Facebook yang berfokus pada parenting dan pendidikan anak secara umum antara lain Komunitas Charlotte Mason IndonesiaIndonesia Homeschoolers, dan lain-lain.

Setelah menjadi member, kita bisa mendapatkan informasi hanya dengan menggeserkan jari di smartphone atau mouse di komputer. Para member di grup bisa membagikan masalah mereka tentang perkembangan anak, lalu member lain bisa menanggapi, memberi masukan, atau bantuan solusi terhadap masalah tersebut. Selain itu, setiap orang di dalam grup juga bisa membagikan informasi mengenai isu-isu yang terkait dengan parenting dan tumbuh kembang anak.

Mari simak diskusi di salah satu grup di media sosial:
“... Bu Ibu, anak saya umurnya 3 tahun, tapi sampai saat ini masih belum bisa bicara. Sudah saya bawa ke terapis A di Jalan T, dan sudah diterapi 3 kali, tapi masih belum ada kemajuan. Ada yang bisa kasih saran?” (Ibu N di kota J)

“Saya membawa anak saya ke pusat terapi anak B di kota saya. Pelayanannya bagus dan orang tua juga diajari untuk menerapi anak sendiri. Alhamdulillah, sekarang sudah ada kemajuan meskipun masih satu dua kata yang keluar dari mulutnya.” (Ibu R di kota K)

 “Jeng @N, coba bawa ke dokter C di klinik X di Jalan W. Tahun lalu saya membawa anak saya ke sana dan setelah beberapa kali penanganan, sekarang anak saya sudah mulai lancar ngomong...” (Ibu P di kota J).

Dari obrolan di atas kita bisa melihat bagaimana para orang tua mendapatkan informasi dan masukan dari orang tua lain yang ada di grup tersebut. Solusi bagi persoalan mereka tidak hanya satu, tetapi ada banyak alternatif solusi yang bisa mereka pilih dengan adanya media sosial tersebut.
Selain menambah informasi dan wawasan tentang isu-isu yang berhubungan dengan parenting, para anggota grup tersebut merasakan manfaat lain, yaitu dukungan moral dan ikatan emosi yang lebih kuat di antara sesama orang tua yang memiliki persoalan yang sama. Mereka tidak lagi merasa sendirian dalam menanggung beban persoalan, karena ternyata di tempat-tempat lain ada juga para orang tua yang memiliki beban yang sama.

Di sisi lain kita juga perlu mewaspadai dampak negatif internet terhadap parenting. Dengan begitu banyak situs yang bertebaran di dunia maya, tidak tertutup kemungkinan bahwa orang tua menjadi bingung memilih tips yang tepat bagi anak-anak mereka. Jika salah memilih, anak-anak justru bisa menjadi korban.

Sebagaimana di dunia nyata, di media sosial online kita juga dihadapkan dengan cermin sosial. Ketika menjadi anggota suatu grup media sosial tertentu, penilaian dan pandangan dari anggota-anggota di dalam kelompok/grup media sosial mungkin menjadi salah satu tolok ukur bagi kita untuk bersikap atau bertindak. Terkadang untuk memutuskan sesuatu bagi anak-anaknya, bisa jadi orang tua tidak ingin terlihat berbeda dari kelompoknya. Akibatnya mereka tidak lagi menjadi dirinya sendiri atau tidak bisa memutuskan apa yang baik menurut mereka bagi anak-anak mereka. Padahal tuntutan atau penilaian anggota grup belum tentu sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut atau kebutuhan anak-anak kita.

Untuk itu, mungkin tips-tips berikut bisa menolong kita agar lebih bijaksana dalam memanfaatkan internet untuk melakukan parenting.

  1. Utamakan nilai-nilai yang kita pegang. Setiap informasi yang kita dapatkan, baik dari situs-situs online maupun media sosial, perlu dibandingkan dengan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga kita. Jika hal itu tidak bertentangan, kita bisa menerapkannya bagi anak-anak kita. Tetapi, kalau itu tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga kita, tentu saja kita tidak perlu menerimanya.
  2. Konsultasikan setiap saran atau informasi di dunia maya dengan pendapat para ahli atau pihak yang cukup mengenal anak-anak kita. Contoh: Untuk masalah kesehatan anak-anak, kita perlu tetap berkonsultasi dengan dokter yang cukup mengenal anak-anak kita atau yang selama ini menangani anak-anak kita, sebelum memutuskan memberi obat atau penanganan yang terbaik bagi mereka.
  3. Tetap berinteraksi dengan orang-orang di dunia nyata. Dunia maya memang tempat yang menarik dan memberikan banyak kesenangan, tetapi orang-orang di sekitar kita adalah keluarga nyata kita dan kita tetap perlu bersosialisasi dengan mereka. Jika perlu membangun komunitas dunia maya, sebaiknya tetap ada interaksi dengan mereka di dunia nyata.

Penutup
Seorang anak membutuhkan dukungan penuh agar bisa bertumbuh secara optimal. Proses mendukung pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sejak bayi sampai menjadi seorang dewasa dikenal dengan istilah parenting.[1]

... It takes a whole village to raise a child (Dibutuhkan seisi desa untuk membesarkan seorang anak)...  African Proverb.

Menurut pepatah di atas, tidak hanya orang tua yang bertanggung jawab dalam membesarkan seorang anak. Dibutuhkan seisi kampung/desa agar seorang anak bisa bertumbuh secara optimal. Setiap orang di dalam sebuah desa berkontribusi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sampai ia menjadi seorang dewasa.


Sumber: http://www.bincangedukasi.com/menanti-ayah-bunda/
Konsep keluarga saat ini sudah mengalami banyak perubahan. Pada masa lalu, satu keluarga terdiri atas ayah, ibu, anak, paman, bibi, kakek, nenek, dan sepupu-sepupu. Mungkin saja di satu desa, seluruh warganya merupakan satu keluarga. Keluarga seperti ini disebut keluarga besar. Dulu ada banyak pihak di dalam keluarga besar yang ikut andil dalam membesarkan anak-anak.

Di zaman sekarang ini, hal itu masih bisa dilakukan dengan adanya internet. Kita bisa mendapatkan informasi dan memperkaya pengetahuan kita tentang parenting melalui internet. Kita juga bisa saling berbagi cara membesarkan anak dengan orang tua-orang tua lain di media sosial online.  Sebagai orang tua, mari kita manfaatkan internet sebaik-baiknya, agar anak-anak kita bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. 

***

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Parenting

[JALAN-JALAN] Liburan ala Aktivis


Di sela-sela kesibukan sebagai seorang aktivis, kadang kita tidak ada waktu untuk rehat sejenak bersama orang-orang terkasih. Apakah itu dengan orang tua, pasangan, anak atau bahkan sahabat. Berlibur adalah salah satu kegiatan menarik yang patut menjadi pertimbangan dalam mengisi waktu luang. Berlibur bukan sekedar tidak ‘bekerja’, tapi benar-benar memanfaatkan waktu dengan mengisi kesenangan dan berkumpul bersama. Mungkin ada yang sekedar jalan-jalan di sekitar kota atau ada juga yang sengaja merencanakan jauh-jauh hari sebelumnya untuk berlibur ke luar kota.


Kebanyakan bagi seorang aktivis, waktu libur dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan dan refreshing dari aktivitas keseharian. Pilihan lokasi liburan menjadi salah satu pertimbangan utama. Ada yang memang pilihan sendiri, diskusi dengan pasangan atau bahkan memenuhi keinginan/minat anak.

Dari hasil wawancara dengan beberapa aktivis, tempat favorit mereka untuk berlibur adalah pergi ke alam terbuka atau daerah wisata alam seperti pegunungan, pantai, dan laut. Tujuannya pun beragam, mulai dari menikmati keindahan alam dan keagungan Tuhan, menikmati udara segar dan menenangkan jiwa. Menyaksikan keindahan alam yang ada dapat membuat kita merasakan kebesaran Tuhan dengan menyaksikan ciptaan-NYA.

Bila lokasi liburan menyesuaikan dengan permintaan anak, biasanya kriteria tempat yang dipilih adalah tempat yang nyaman dan aman untuk aktivitas anak. Ada arena bermain yang ramah anak, terutama yang mengandung  unsur edukasi untuk perkembangan anak. Contohnya mengajak anak ke museum, taman kota, taman hutan raya, outbond, dsb. Selain berwisata, anak-anak juga dikenalkan dengan budaya setempat termasuk potensi yang ada disana. Misalnya tentang jenis hewan dan tumbuhan yang ada, sejarah kawasan tersebut, dan sebagainya.  

Pergi berlibur bisa dilakukan bersama siapa saja. Bagi yang sudah memiliki pasangan atau keluarga, tentunya waktu libur mereka dihabiskan bersama pasangan atau keluarga. Sedang untuk aktivis yang belum berkeluarga, biasanya mereka bersenang-senang bersama kerabat atau sahabat. Bahkan ada juga yang merasa nyaman menikmati liburan sendirian saja. 

Beberapa lokasi yang ada di Bandung bisa menjadi rekomendasi para aktivis untuk mengajak keluarganya berlibur, seperti di kawasan Ciwidey ada Ranca Upas, Situ Patengan, Patuha, dll. Ada tempat-tempat di mana kita bisa memetik stroberilangsung dari kebunnya. Juga ada arena bermain dan melihat kawasan konservasi primata. Lain lagi di kawasan Lembang. Di sana cukup banyak tempat liburan yang menyenangkan, termasuk menikmati keindahan Gunung Tangkuban Perahu.

Tapi kita juga bisa menikmati liburan di rumah dengan cara yang menyenangkan, disesuaikan dengan minat dan hobi masing-masing. Misalnya membuat kue, memasak bersama anak-anak,, berkebun, membuat karya seni atau membaca buku bersama anak-anak. Jadi, berlibur tidak melulu dengan bepergian ke luar kota atau keliling kota. Kita juga bisa melakukannya di rumah. Yang penting kualitas bersama keluarga tetap menjadi prioritas.

Selamat berlibur!

Editorial Pro:aktif Online Edisi April 2015

Salam Inspiratif dan Transformatif!

Apa kabar? Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan sejahtera.

Setelah menyajikan tema tentang Ibu pada edisi sebelumnya, Pro:aktif Online memilih menu yang bertema “Peran Ayah Masa Kini” untuk edisi April 2015 kali ini.

Istilah ayah kerap diasosiasikan pada peran laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Namun, peran ayah terus mengalami perubahan seiring perkembangan jaman. Kini semakin banyak ayah terlibat dalam pekerjaan domestik, termasuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Dalam Proaktif Online edisi April 2015 ini, kami akan mencoba membahas potret kehidupan ayah masa kini dan peran penting mereka bagi keluarga.

Apa saja peran ideal yang diharapkan dari para ayah dan tantangan-tantangan apa yang mereka hadapi dengan kondisi-kondisi mereka yang unik? David Ardes Setiady yang berkolaborasi dengan Navita Kristi mencoba menggambarkan peran ayah masa kini di dalam keluarga. Mari kita simak hasil kerja sama mereka dalam rubrik Masalah Kita.

Dalam rubrik Pikir, Yully Purwanti ikut mewarnai sajian Pro:aktif Online edisi April ini dengan mengajak para ayah untuk mengasuh para buah hatinya. Tulisan yang berjudul “Ayah, Mari Mengasuh...”, membuat kita merenungkan kembali bagaimana peran ayah yang utuh dalam keluarga.

“Meningkatkan kesadaran akan peran ayah melalui cara ayah”, itulah yang dilakukan Idzma Mahayattika dan teman-teman melalui gerakan Ayah ASI Bandung. Siapa mereka, dan apa yang mereka lakukan dalam mendukung keluarga? Simak tulisan hasil wawancara Deta Ratna Kristanti dalam rubrik Profil.

Penelitian internasional yang dimuat di Science Daily edisi 12 Juni 2012, menyebutkan bahwa kasih sayang ayah sama penting—bahkan bisa lebih penting—dengan kasih sayang ibu dalam pembentukan kepribadian anak. Oleh sebab itu semestinya sudah tidak ada lagi alasan bagi setiap ayah untuk cuci tangan dalam pengasuhan serta pendidikan anak. Tulisan Anggayudha Ananda Rasa tentang pentingnya kehadiran Ayah dalam kehidupan seorang anak, disajikan dalam rubrik Opini.

Dalam rubrik Jalan-jalan, Any Sulistyowati mencatat hasil selancarnya di dunia maya untuk meliput kelompok-kelompok pendukung para ayah dalam mengoptimalkan perannya di dalam keluarga. Dalam tulisan ini, penulis menceritakan hasil liputannya tentang misi organisasi-organisai tersebut dan inisiatif-inisiatif yang mereka lakukan untuk mendukung peran ayah sebagai “agen perubahan.”

Dapatkah seorang ayah bertahan dalam perjuangan hidup, sekaligus tetap hadir untuk anak-anaknya? Penggalan kisah kehidupan Chris Gardner yang divisualisasikan dalam film “Pursuit of Happyness”, disajikan dalam rubrik Media oleh Agustein Okamita.

Apa saja tips untuk menjadi ayah yang dibanggakan oleh anak? Rubrik Tips kali ini melengkapi seluruh rangkaian artikel Pro:aktif Online edisi April 2015 ini. Dalam tulisan ini, Melly Amalia mewawancarai beberapa orang aktivis dan merangkum saran-saran mereka bagi para ayah, agar bisa menjadi ayah yang dibanggakan oleh anak-anak mereka.

Melalui semua artikel di atas, kami berharap kita semua dapat terinspirasi sekaligus bertransformasi, agar lebih baik dalam menjalani peran-peran kita sebagai agen perubahan.

Selamat membaca,

Redaksi

[PIKIR] Ayah, Mari Mengasuh...

Oleh: Yully Purwanti


Di banyak kota besar di Indonesia, salah satu indikator kemapanan ekonomi keluarga, bisa terlihat dari semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Baik yang roda dua, maupun roda empat. Dengan semakin banyak kemudahan untuk memiliki kendaraan yang menunjang mobilitas ini, sementara perluasan, apalagi penambahan ruas jalan tidak berjalan seiring peningkatannya, maka tak heran jika jalanan pun jadi semakin padat alias macet.  

Dampaknya? Jelas, semakin lama waktu tempuh menuju tempat beraktivitas, termasuk perjalanan saat kembali pulang ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga. Sahabat pembaca, begitu besar tantangan para petarung jalanan, khususnya mereka yang tinggal di perbatasan kota,  untuk beraktivitas di tengah kota.

Siapa saja para petarung jalanan ini? Tak terkecuali anak-anak yang berangkat ke sekolah, hingga orang dewasa, para pria - wanita pekerja ataupun pencari kerja, pengusaha kecil, menengah, hingga kelas kakap, baik yang masih melajang maupun yang sudah menikah, di antara mereka terdapat para AYAH dan BUNDA….

Lantas bagaimana dengan di pelosok daerah? Pada sebagian keluarga, para ayah sebagai kepala keluarga, mencari nafkah dengan cara merantau. Jika pun tidak, ada yang punya waktu berkumpul bersama keluarga terbatas beberapa hari sekali, seminggu sekali, sebulan sekali, atau beberapa bulan sekali, tak pasti. Bahkan di beberapa daerah yang potensi TKI-nya besar, para suami yang ditinggal pasangannya, istri mereka, merantau di negeri yang jauh. Sementara ayah belum tentu memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk mengasuh anak-anak dengan cara yang patut, sesuai dengan tahapan usia anak. Sahabat pembaca mungkin sudah tahu, kultur pengasuhan di banyak negara di Asia, diserahkan sepenuhnya kepada para Bunda. Padahal anak-anak, juga butuh ayah mereka. Bukan hanya butuh fisiknya, tapi juga keteladanannya, dan jiwa anak-anak ini pun membutuhkan ayah… inilah yang masih menjadi PR.

Gambaran di atas memberikan ilustrasi yang cukup jelas, bahwa tantangan utama para ayah untuk terlibat dan terikat dalam pengasuhan adalah WAKTU. Dan yang berikutnya, adalah KETERAMPILAN MENGASUH.

Sahabat pembaca, inilah potret keluarga kita kini. Tantangan hidupnya kian besar, pun tantangan dalam pengasuhan anak. Masih begitu banyak anak yang belum sepenuhnya mendapat sentuhan pengasuhan ayah secara utuh. Sebuah penelitian dari salah satu lembaga parenting di Indonesia beberapa tahun silam bahkan mengungkapkan bahwa di negeri kita ini ber-Ayah Ada, ber-Ayah Tiada. Ayah ada secara fisik, tetapi tidak atau minim sekali secara psikologis. Ayah hanya berperan sebagai pencari nafkah, atau ATM, singkatan untuk Ayah Tunai Mandiri. ‘Penyakit’ yang kemudian muncul pada anak-anak yang minim sentuhan ayah pun muncul, yaitu ‘Lapar Ayah’.

Ada banyak peristiwa yang memprihatinkan sebagai dampak ‘Lapar Ayah’ dalam pengasuhan. Berbagai penelitian para psikolog maupun ahli parenting mengungkapkan, bahwa tanpa ayah berperan dalam pengasuhan, anak-anak akan tumbuh sebagai pribadi yang peragu, tidak utuh memahami jati dirinya, tidak berani menghadapi masalah, malah lari dari masalah. Selain itu, mudah terpengaruh dan terlibat dalam tindak kriminal bahkan terjerumus menggunakan obat-obat terlarang. Pada anak perempuan, banyak terjadi kasus hamil di luar nikah dan tidak tahu bagaimana anak-anak laki-laki seharusnya memperlakukan mereka dengan hormat. Amat perih melihat kenyataan seperti ini.

Sebagai orangtua, sebagai pendidik, bunda, tentu juga ayah, akankah kita  diam terpaku dengan keadaan seperti ini? Mari Ayah dan Bunda, bergerak dan melangkah, berbuat agar semakin banyak para ayah yang menyadari peran sesungguhnya sebagai ayah yang utuh seluruh. Bunda tak akan hebat jika tak didukung oleh Ayah yang luar biasa, pun sebaliknya, Ayah tak kan jadi ‘Superman’ jika tidak bergandeng tangan dengan ‘Supermom’. Anak-anak, di masa pertumbuhannya yang sangat berharga, 0 – 15 tahun, membutuhkan keduanya. Bunda, tak seharusnya sendiri dalam pengasuhan….

Sahabat pembaca, sejatinya tidak ada pemisahan peran ayah dan bunda dalam pengasuhan. Anak membutuhkan kasih sayang, bimbingan dan keteladanan keduanya, untuk tumbuh kembang jiwa raganya secara maksimal. Tinggal disesuaikan saja dengan kebutuhan mereka di setiap tahapan usia dan perkembangan anak. Ada masa, antara usia 0-15 tahun anak lebih membutuhkan ibu. Sebaliknya juga ada masa ketika mereka membutuhkan ayahnya.

Sangatlah penting diketahui dan dilaksanakan, bahwa pada 1000 hari usia anak (mulai sejak proses pembuahan janin hingga anak berusia sekitar 2 tahun), untuk mengupayakan semaksimal mungkin kecukupan gizi dan nutrisi serta pengasuhan anak yang ditangani sendiri oleh ayah bundanya. Bukan orang lain. Kenapa? Karena 1000 hari pertama kehidupan anak ini menentukan kualitas sumber manusia saat anak ini dewasa kelak. Oleh karena itu pendidikan anak usia dini adalah kunci untuk membangun karakter anak yang tangguh dan memiliki budi pekerti.[i]

ayah 1 - foto kredit: Sherly Novita
Saya yakin, jika para pembaca, Ayah dan Bunda, sadar dan sungguh memahami hal ini, tak akan dengan mudah menyerahkan atau menitipkan pengasuhan anak-anak mereka kepada orang lain, meski masih keluarga sendiri. Setidaknya, sebelum menitipkan anak, akan benar-benar memastikan terlebih dahulu ilmu, pengalaman dan yang terpenting akhlak orang yang dititipi buah hatinya, tentu haruslah baik serta menerapkan pola asuh yang telah disepakati bersama oleh ayah dan bunda. Tidak mudah ya? Benar. Namun percayalah, dengan kesadaran penuh perannya sebagai orangtua, bunda, juga ayah, akan mampu menjalani dan menikmati setiap proses dalam masa perkembangan putra-putri yang mereka kasihi.

Kembali pada peran ayah. Jadi apa sih peran ayah seutuhnya, jika lebih dari sekadar mencari nafkah? Sahabat pembaca, ayah adalah figur dunia luar yang penuh tantangan. Maka ayah perlu memakai banyak ‘topi’ untuk mengajarkan kepada anak-anak bagaimana menaklukan banyak tantangan itu. Beragam ‘topi’ yang ayah kenakan ini akan membantu perkembangan pribadi anak, baik sosial, emosional maupun intelektualnya. Ayah juga menumbuhkan motivasi (bersikap positif), kesadaran dirinya, identitas (fisik – seksualitas) dan keterampilan (kognitif) yang berpengaruh pada perkembangan dalam setiap tahapan usia anak. Peran ayah yang paling kuat terletak pada dukungannya terhadap prestasi anak dan hubungan sosialnya yang harmonis. Hal ini akan memberikan dampak signifikan di masa dewasanya kelak, di kehidupan pribadinya maupun bermasyarakat.

ayah 2 - foto kredit: Sherly Novita
Apa saja ‘topi’ ayah? Berikut ini beberapa diantaranya:

·         ‘Topi’ Ayah Penghibur
 “Dalam mengasuh, ayah dapat berperan sebagai entertainer (penghibur) dengan memanfaatkan anggota tubuhnya sendiri, sehingga tidak perlu membeli mainan.”Ayah bisa menggunakan ekspresi wajah dan mata yang lucu, gerakan tangan bahkan kaki. Tak perlu ‘jaim’ (jaga image). Yang penting fun! Ayah bisa sambil mendongeng, menumbuhkan karakter positif anak untuk percaya diri dan berani berekspresi.

·         ‘Topi’ Serba Ada Ayah
Dalam keadaan terbatas sekalipun, apalagi jika berkecukupan, ayah utamanya berupaya memenuhi kebutuhan materi / fisik dan keuangan anak, yang antaranya untuk biaya sekolah, membeli peralatan dan perlengkapan belajar sehingga anak merasa aman serta dapat belajar dengan lancar di rumah dan di sekolah.

·         ‘Topi’ Guru Ayah
Sebagai guru, tugas ayah adalah mendidik. Artinya menolong anak agar ia menjadi dewasa. Dewasa secara fisik, akal dan jiwanya. Tanda minimal kedewasaan anak adalah dapat membedakan yang baik dari yang buruk, serta anak dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai dengan tahapan usianya.

·         ‘Topi’ Motivator Ayah
Sebagai motivator, ayah memberikan dukungan dan penghargaan (apresiasi) pada minat, potensi pribadi atau hal-hal positif yang menjadi perhatian anak. Minat yang berkembang dengan baik dengan dukungan dan keterlibatan ayah bukan semata secara materi, melainkan secara moril akan mewujudkan keterampilannya lebih serius. Membantu anak lebih bersemangat menjalani hari-harinya, juga membantunya lebih siap menghadapi kegagalan.

·         ‘Topi’ Persahabatan Ayah
Anak memerlukan teman yang membuatnya merasa nyaman dan terbuka mengungkapkan isi hati, pikiran dan persoalan yang tengah dihadapinya. Sebagai teman, ayah bisa bergurau dan bergaul secara sehat. Tidak berjarak dan bersikap santai. Bersahabat. Memahami anak dari sudut pandangnya, sekaligus menyisipkan wawasan / masukan yang bisa membuat berpikir lebih dewasa.

·         ‘Topi’ Pelatih Ayah
Agar berhasil dalam kehidupannya, antaranya anak perlu berlatih dan mendapat bimbingan ke mana ia akan melangkah. Berlatih untuk fisiknya memerlukan disiplin, berlatih untuk psikisnya harus pantang penyerah. Ayah mengambil peran sebagai pelatih (coach) tanpa mengenal lelah. Karena untuk melatih perlu komitmen dan konsistensi melakukan dari waktu ke waktu, sesuai perkembangan usia anak.

·         ‘Topi’ Tong Sampah & Penasehat Ayah
Dalam keseharian banyak hal dialami anak terutama mereka yang menjelang remaja. Pengalaman buruk dan tidak menyenangkan membutuhkan bantuan orang lain minimal sekadar mendengarkan curahan hati anak. Ayah menjadi rujukan berbagai masalah yang dihadapi anak yang paling mudah dijangkau. Ayah juga diharapkan mampu menasehati, tanpa harus bersikap menggurui.

Sahabat pembaca,
Terlibat dan terikatnya ayah dalam mengasuh anak-anak bukan berarti mengecilkan peran pengasuhan yang bunda berikan kepada anak-anak. Sekali lagi anak-anak membutuhkan keduanya. Pengasuhan anak, tak perlu dikotak-kotakkan. Yang terpenting antara bunda dan ayah dapat saling berbagi dan saling mengisi menjalankan kesepakatan dalam mengasuh ananda.

Tulisan sederhana ini mungkin memunculkan sudut pandang yang berbeda pada setiap pembaca,mengingat pengasuhan anak dalam tiap keluarga adalah salah satu wilayah yang personal dan berbeda dalam setiap keluarga. Berharap masih bisa memberikan manfaat.

Mari Ayah, bersama Bunda, kita asuh anak-anak kita…


ayah 3 - foto kredit: Sherly Novita




[i] Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN),  Fasli Jalal pada Rapat Kordinasi Nasional Bunda PAUD tahun 2013, di Hotel Sahid Jakarta, 11/11/2013.


[PROFIL] Ayah ASI Bandung


Sumber gambar: https://roisz.wordpress.com/2014/01/25
dua-tahun-aab/
“Meningkatkan kesadaran akan peran ayah melalui cara ayah.” Itulah yang dilakukan Idzma Mahayattika dan teman-teman melalui gerakan Ayah ASI Bandung. Dengan adanya gerakan ini, diharapkan akan semakin banyak ayah yang peduli dan mau terlibat dalam pengasuhan anak-anaknya.

Idzma, co-founder Ayah ASI Bandung, lebih suka menyebut gerakan ini sebagai Komunitas Ayah ASI Bandung. Meskipun Ayah ASI Bandung muncul setelah adanya gerakan ID Ayah ASI, namun menurut Idzma, bentuknya berbeda. “Kalau ID Ayah ASI menyatakan diri sebagai social media movement, sedangkan Ayah ASI Bandung bentuknya lebih cocok disebut komunitas. Juga, karena Bandung itu kota komunitas, maka kampanye Ayah ASI Bandung lebih mudah dengan cara menggandeng komunitas-komunitas yang melibatkan para ayah. Jadi kerjasama antar komunitas,” jelas Idzma.

Komunitas Ayah ASI Bandung menempatkan diri sebagai teman ngobrol pada ayah. Yang dikampanyekan sebenarnya isu parenting, namun penyampaiannya dikemas dengan mengikuti gaya ayah. “Ayah itu tidak suka diceramahi, lebih suka ngopi, bersepeda, kegiatan yang cowok banget lah,” kata ayah dari tiga anak ini. Berbekal pemahaman akan kebiasaan dan perasaan para ayah inilah, kampanye Ayah ASI Bandung dijalankan dengan pendekatan yang berbeda dengan seminar-seminar parenting yang biasa digelar. Ayah ASI Bandung memanfaatkan momen-momen santai para ayah untuk menyelipkan isu-isu tentang pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak.  Selama ini, cara yang umumnya dilakukan untuk mengampanyekan parenting kepada para ayah dinilai Idzma jauh dari efektif. Jumlah ayah yang dengan sukarela mau hadir dalam acara-acara parenting jumlahnya sedikit sekali. Mengapa demikian? “Dalam banyak acara parenting, yang membawakan kebanyakan perempuan, lalu ayah yang hadir ditunjuk-tunjuk, ayah harusnya dukung ibu, ayah harus begini, harus begitu. Ayah jadi malas untuk ikut lagi. Ayah merasa dituntut, dan mereka tidak suka,” jelas Idzma.

Padahal, peran ayah untuk mendukung ibu sejak kehamilan dan pasca melahirkan sangatlah penting. Dalam hal menyusui misalnya, tanpa peran dan dukungan ayah, keberhasilan ibu menyusui hanya sekitar 26%. Sedangkan, dengan keterlibatan ayah, keberhasilan ibu menyusui dapat meningkat hingga 98%. “Masa-masa awal ibu menyusui adalah masa yang berat untuk ibu. Masalahnya banyak. ASI tidak keluar, payudara membengkak dan luka, jam tidur yang tidak teratur, banyaklah. Pada masa-masa seperti ini, tanpa dukungan dari Ayah, peluang susu formula masuk besar sekali. Seorang ibu secara alamiah ingin memenuhi kebutuhan bayinya. Pada saat ia kelelahan, dan ASI yang keluar sedikit, ibu tidak bisa lagi berpikir panjang dan jernih. Maka memilih susu formula jadi solusi jangka pendek. Lain halnya jika ayah terlibat. Sebagai orang yang mendampingi ibu, ayah bisa berlaku lebih tenang dan berpikir lebih panjang,” kata Idzma. Hal kedua yang ingin disasar Ayah ASI Bandung adalah keberlanjutan dari keterlibatan ayah dalam mengasuh anak. Jika sejak kelahiran anak, ayah sudah terlibat, maka ayah akan melanjutkan keikutsertaannya mengasuh anak. “Sudah terlibat selama dua tahun di awal, masa tidak berlanjut?" tambah Idzma.

Dari aktivitas twitter @AyahASI_Bandung, terlihat bahwa selain mengampanyekan pentingnya peran ayah, Ayah ASI Bandung juga menyediakan diri sebagai wadah para ayah untuk eksis – menunjukkan kebanggaannya bermain bersama anak dengan mengunggah foto di twitter, - wadah berkegiatan dan kumpul bersama para ayah, hingga menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar parenting.  Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para ayah, dianggap Idzma sebagai salah satu keberhasilan kampanye Ayah ASI Bandung. “Dulu, hanya ibu-ibu yang sering bertanya seputar hal pengasuhan anak. Sekarang para ayah mulai bertanya-tanya. Para ayah menemukan wadah yang nyaman untuk berbagi dan bertanya. Karena sesungguhnya mereka juga ingin tahu, tapi selama ini tidak tahu mau membahas dengan siapa.  Ya, kegiatannya tetap ngopi-ngopi, jalan dengan Land Rover mereka misalnya. Gaya  obrolannya tetap khas para laki-laki.  Tapi kalau saya dan teman-teman Ayah ASI sudah ngobrol tentang parenting, paling tidak sedikit-sedikit mereka juga dengarlah. Lalu mulai ikut mengobrol dan bertanya.”
Menurut Idzma, pembentukan figur laki-laki yang peduli pengasuhan anak juga efektif mendorong keberhasilan kampanye parenting.  “Kalau dulu, figur laki-laki yang peduli dan membahas parenting itu rapi, klimis, berkemeja, kayak kak Seto. Sekarang, siapa yang menyangka, rambut gondrong dan tampang sangar juga bisa jadi ayah keren. Kalau jalan-jalan di mal, ada anak kecil manggil, 'Mamaaaa...!', orang lain lihat, ah, biasa, manggil mamanya. Tapi kalau ada anak yang manggil, 'Ayah!' lalu ayahnya menghampiri, orang lain lihat apa? Wah,  itu ayah keren! Begitu, kan...?” katanya.

Sekarang, target Idzma dan teman-teman meluas pada kaum muda yang belum menikah. Mareka ingin para lelaki muda juga punya kesadaran sejak dini akan pentingnya peran ayah, sehingga mereka akan terlibat langsung dalam pengasuhan anak ketika membentuk keluarga kelak. Ayah ASI Bandung menggelar acara-acara parenting di lokasi-lokasi yang berdekatan dengan kampus, mendekati mahasiswa dan mahasiswi. “Kemarin waktu menggelar acara di Salman –ITB, setelah acara para mahasiswi curhat. Mereka bilang, ‘Wah, Kak, lelaki yang peduli anak beginiKak, masa depanku!’  Artinya, laki-laki yang mau terlibat itu juga menjadi pertimbangan mereka dalam memilih pasangan hidup. Makanya Ayah ASI Bandung sedang mencoba menjaring para mahasiswa untuk mau datang ke acara-acara kami,” kata Idzma. Tambahnya lagi, “Selama ini orang-orang mungkin tidak punya role model ayah yang terlibat. Bukan tidak ada, ayah-ayah mungkin terlibat tapi tidak terlihat. Karena budaya atau alasan lain, ayah-ayah pada generasi terdahulu, tidak terbiasa  menunjukkan secara terbuka, bagaimana ia peduli dan mengasuh anaknya. Sekarang trend-nya tidak begitu. Bagaimana seorang laki-laki gayanya tetap cowok, asyik ikut kegiatan cowok, tapi juga keren karena  peduli dan terlibat dalam pengasuhan anak.”

“Dengan cara-cara yang dilakukan Ayah ASI Bandung selama ini, ayah akan melihat bahwa keterlibatan dalam pengasuhan anak itu adalah hal yang menyenangkan,” kata Idzma bersemangat.


Untuk mengetahui lebih lanjut dan mengikuti kegiatan Ayah ASI Bandung, ikuti twitter @AyahASI_Bdg atau email ke: ayasibdg@gmail.com

[MASALAH KITA] – Peran Ayah Dalam Keluarga Masa Kini


Pengantar


Foto: dokumen pribadi Navita
Peran seorang ayah kerap diasosiasikan dengan peran sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah yang harus berada di luar rumah. Selain itu, sosok ayah yang dingin dan kurang dekat dengan anak-anaknya kerap menjadi pemandangan umum dalam keluarga di Indonesia. Namun, seiring dengan perkembangan jaman dan dinamika sosial masyarakat, peran ayah dalam keluarga sedikit demi sedikit mulai bergeser. Desakan finansial sedikit banyak telah menempatkan ayah dan ibu sebagai pencari nafkah untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan keluarga. Pada situasi yang lain, seorang ayah tidak lagi harus mencari nafkah dengan berada di luar rumah, bekerja bisa dilakukan dari dalam rumah, maka di sini ayah bisa turut berperan dalam mengerjakan tugas rumah tangga “yang biasanya” dikerjakan oleh para ibu. Secara umum, para ayah semakin banyak terlibat dalam pekerjaan domestik yang biasanya hanya dikerjakan oleh para ibu, seperti mengasuh dan mendidik anak.
Dalam edisi Proaktif Online kali ini, kami menyebarkan kuesioner kepada beberapa responden untuk mendapatkan gambaran mengenai peran ayah masa kini di dalam keluarga. Bagaimana tantangan yang dihadapi oleh para ayah tersebut dengan kondisi yang unik, serta menjadi bahan permenungan kita bersama tentang posisi dan peran ayah dalam keluarga masa kini.

Tugas Rumah Tangga : Keterlibatan Ayah dan Fleksibilitas
Dewasa ini, ayah dan ibu yang bekerja menjadi pemandangan yang semakin umum di Indonesia. Salah satu faktor penyebabnya adalah desakan ekonomi yang menuntut ibu untuk turun tangan dalam menambah pemasukan bagi neraca keuangan rumah tangga. Untuk itu, kami mengajukan pertanyaan kepada responden tentang bagaimana pembagian tugas rumah tangga di antara ayah – ibu.
Pada umumnya, para responden tidak memaparkan prinsip pembagian tugas yang jelas. Pembagian tugas tidak lagi didasarkan pada peran gender, di mana ayah wajib mencari nafkah sementara ibu yang wajib mendidik dan mengasuh anak. Umumnya para responden, sebagai ayah, terlibat dalam tugas rumah tangga. Namun skala keterlibatannya yang berbeda-beda sesuai kesepakatan dengan pasangannya masing-masing.
Di sinilah peran ayah menunjukkan fleksibilitas, di mana ayah tidak lagi sebatas sebagai pencari nafkah semata yang tidak terlibat dalam tugas rumah tangga. Seorang ayah bisa saja mencuci pakaian, memandikan anak, menemani anak belajar, menidurkan anak. Ayah semakin hadir dalam kehidupan anak-anak. Keterlibatan ayah dapat dimungkinkan karena pekerjaan tidak lagi mengharuskan seseorang untuk keluar dari rumah.
Dalam hal pembagian tugas rumah tangga, seluruh responden menyatakan terlibat dalam pekerjaan domestik rumah tangga, terutama dalam hal pengasuhan anak.

Peran Ayah  Ideal yang Diharapkan di Masa Kini
Setiap pria dulunya adalah seorang anak yang memiliki kesan tersendiri tentang ayahnya, yang sedikit banyak menjadi dasar ataupun pedomannya untuk mengambil perannya ketika menjadi ayah. Peran ayah yang lebih fleksibel dan lebih terlibat dalam tugas rumah tangga, terkait erat dengan pemahaman akan peran sebagai ayah dalam keluarga. Interaksi antara kesan (kenangan) dan kesadaran gender, sepertinya berpengaruh pada pemahaman tentang peran ayah di dalam keluarga. Para responden, secara umum, mengamini bahwa peran ayah ideal adalah sebagai mitra bagi istri dan sebagai teman bagi anak.
Hal ini teridentifikasi dari pernyataan-pernyataan sebagai berikut :
  •           Menjadi rekanan yang sejajar bagi istri
  •           Ayah harus hadir di tengah urusan keluarga dengan prinsip : ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani
  •           Ayah dan ibu mengurus anak secara bersama
  •           Bisa berkomunikasi dengan anak
  •           Sebagai sahabat, teman, saudara
  •           Menjadi pendengar yang baik
  •           Intens memberikan perhatian dan pendampingan

Para responden juga menyadari bahwa peran ayah yang ideal adalah terlibat dalam proses tumbuh kembang anak, intinya adalah hadir dalam hidup mereka. Kehadiran tersebut terwujud dalam komunikasi yang terjalin di setiap hari, di sinilah ayah berperan sebagai teman bagi anak. Namun hubungan pertemanan ini menghendaki ayah yang tegas, bukan keras dalam artian otoriter, sebagaimana yang diungkapkan oleh 2 orang responden.

Father and child in arms
Tantangan Menjadi Seorang Ayah
Menjadi seorang ayah seperti yang diharapkan menemukan tantangannya pada setiap pribadi dan keluarga. Tantangan yang bervariasi yang diungkapkan oleh para responden, di antarnya :

  • Soal waktu untuk bersama dengan keluarga (istri dan anak). Ketersediaan waktu yang dimiliki seorang ayah dipengaruhi oleh beban pekerjaan yang ia kerjakan ataupun manajemen waktu yang dilakukan. Menyediakan waktu bagi keluarga, termasuk di dalamnya adalah hadir di dalam proses tumbuh kembang anak, hadir di kala anak membutuhkan sosok ayahnya. Terkadang dengan jenis pekerjaan yang menuntut waktu di luar rumah, hal pengasuhan anak terpaksa dipindahtangankan atau membutuhkan bantuan dari tenaga pengasuh.
  • Soal pengendalian emosi.Terkadang pada saat beban kerja sedang tinggi, ataupun pada kondisi yang kurang menyenangkan, bersikap tenang dan berkepala dingin menjadi tantangan. Terutama pada saat menghadapi anak-anak. Tidak jarang, anak-anak mendapatkan pelampiasan emosi negatif orang tua tanpa sempat memahaminya dengan bijaksana. Pengendalian emosi ini mungkin terkait dengan persoalan pengenalan diri dalam pribadi sang ayah. Salah seorang responden mengemukakan bahwa dengan mengenal diri akan membantu ayah untuk dapat berpartisipasi dalam mengelola keluarganya dengan baik.
  • Soal nilai-nilai yang berbeda dari lingkungan pergaulan.Setiap anak-anak tidak dapat terhindarkan untuk bergaul dengan lingkungan tempat tinggalnya, di mana interaksi nilai-nilai terjadi dan kemungkinan memiliki pertentangan dengan nilai-nilai yang telah diajarkan kepada anak-anak.
  • Soal gadget smartphoneDewasa ini hampir semua keluarga memiliki smartphoneyang menawarkan berbagai fitur canggih, terutama untuk hiburan. Terkoneksi dengan internet setiap hari, kerap menyita perhatian orang tua dari perhatian. Di sisi lain, ketika anak-anak terpapar dengan smartphone menyebabkan mereka jauh dari realitas hidup sehari-hari dan kurang bergerak. Hal ini turut menurunkan kualitas kesehatan anak-anak. Disiplin dalam penggunaan smartphonedan kesepakatan antara ayah-ibu menjadi kunci dalam penegakan disiplin tersebut.
Tantangan-tantangan tersebut mungkin tidak dialami oleh semua ayah (keluarga), karena setiap keluarga memiliki tantangannya masing-masing.

Penutup
Dengan berbagai tantangan kehidupan di jaman sekarang ini, peran seorang ayah di dalam keluarga tidak lagi cukup sebatas pencari nafkah. Keterlibatan ayah dalam mengasuh anak dan mendampingi mereka dalam proses tumbuh kembang menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Di samping itu, relasi antara ayah-ibu semakin mengarah pada hubungan kemitraan yang setara, di mana ayah dan ibu bekerja sama untuk mengelola rumah tangga dengan pembagian tugas yang fleksibel.
Ke depannya, peran ayah dan ibu merupakan hasil kesepakatan di antara pasangan, bukan sesuatu yang diharuskan oleh masyarakat. Bagaimanapun, ayah dan ibu adalah yang paling mengerti apa yang mereka hadapi di dalam hidup sehari-hari. Ayah pun diharapkan dapat semakin hadir dalam hidup anak-anaknya.


Ayah - ibu - anak

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...