[OPINI] KONSEKUENSI KEMANDIRIAN



Menjadi mandiri berarti mengambil tanggung jawab penuh terhadap hidup kita. Mengambil tanggung jawab berarti termasuk kesediaan untuk menanggung konsekuensi yang melekat padanya.

Syarat-syarat kemandirian

Anak bungsu saya, Chikara, 4 tahun, sering berkata seperti ini, “Saya sudah besar, jadi mau main game”.  Tapi di lain waktu, ia berkata, “Saya masih kecil, jadi perlu digendong”. “Saya masih kecil, jadi mau ditemani mama”. Kalau saya bertanya, “Loh... kemarin kamu bilangnya sudah besar, kok sekarang kecil lagi?”. Maka ia akan berkata, “Saya besarnya baru sedikit”. Begitulah Chikara.

Sebetulnya dalam hati saya berpikir, saya pun sampai saat ini terkadang seperti Chikara. Ada tarikan ingin menjadi kecil (kurang mandiri) dan menjadi besar (lebih mandiri). Tergantung situasi. Tapi saya sadar bahwa menjadi mandiri atau kurang mandiri adalah pilihan. Di dalam setiap pilihan ada konsekuensi yang melekat kepadanya. Tidak bisa ditawar, tidak bisa ditolak. Konsekuensi datang satu paket dengan pilihannya. Seperti hukum alam. Berjalan otomatis.

Apa sih sebetulnya kemandirian? Apakah kemandirian berarti melakukan segala sesuatunya sendiri? Apakah kemandirian berarti tidak membutuhkan orang lain? Apakah kemandirian berarti tidak boleh lagi merasa kecil, sendirian, ingin ditemani, ingin didukung dan dibantu?

Menurut saya, persoalan utamanya bukan itu. Kemandirian pertama-tama membutuhkan keputusan untuk mandiri secara mandiri. Maksudnya, saya memutuskan sendiri untuk menjadi mandiri. Bukan karena suruhan orang tua, bukan karena tekanan sosial, bukan karena tuntutan keadaan. Saya menjadi mandiri karena saya menginginkannya. Yang kedua, kemandirian termasuk kesediaan untuk menanggung konsekuensi dari kemandirian tersebut secara mandiri. Maksudnya, saya yang memutuskan, saya mengambil tindakan dan saya menanggung semua konsekuensinya sendiri. Bukannya, saya mengambil keputusan, kemudian seseorang harus menanggung konsekuensi tersebut. Entah itu orang tua, teman, anak, atau pun pihak lainnya.
Jika demikian makna kemandirian, apakah yang kita butuhkan agar dapat mandiri?

Stephen Covey dalam bukunya Seven Habits of Highly Effective People menyatakan bahwa setiap manusia memiliki empat anugerah kodrati, yaitu imajinasi, suara hati, kesadaran diri dan kehendak bebas. Untuk menjadi mandiri, kita perlu menggunakan keempat anugerah tersebut.

Pertama-tama, menjadi mandiri membutuhkan kita untuk mengimajinasikan apa yang dimaksud dengan mandiri. Mandiri seperti apakah yang kita bayangkan? Bagaimana kondisi diri kita dan sekeliling kita saat kita menjadi mandiri? Kedua, kita perlu mendengarkan suara hati kita. Syarat agar dapat mendengarkan suara hati secara efektif adalah kejujuran terhadap diri sendiri. Termasuk di dalam kejujuran di sini adalah mengakui apa yang kita rasakan, butuhkan dan inginkan. Jika kita dapat mendengarkan suara hati dengan jujur dan mengikutinya, maka kita akan memiliki hal ketiga, yaitu kesadaran diri. Kesadaran diri mencakup seluruh penerimaan terhadap diri sendiri, kekuatan dan kelemahan. Mengetahui apa yang bisa dan tidak, yang perlu dan tidak perlu untuk diri kita. Hal keempat yang dibutuhkan adalah sepenuhnya menggunakan kehendak bebas kita untuk mengambil tindakan yang akan kita lakukan. Bukan karena suruhan, bukan karena paksaan.

Apabila kita telah sepenuhnya menggunakan keempat anugerah tersebut dan secara konsisten melaksanakan kehendak bebas dan menanggung konsekuensinya, maka kita telah melakukan yang disebut Covey sebagai proaktivitas. Proaktivitas adalah modal awal dari kemandirian.
Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membedakan kebutuhan Chikara untuk bersama saya dengan kebutuhan saya sendiri.  Saya paham bahwa Chikara masih berada dalam tingkatan tergantung pada saya. Jelas, saya ibunya. Saya perlu mendampinginya sampai otak sadarnya cukup berkembang dan bisa mengambil keputusan untuk menjadi mandiri. Tapi apakah saya mandiri?

Saya sadari, saya pun memiliki persoalan. Persoalan yang lebih besar, bahkan. Apakah keputusan saya mendampingi Chikara betul-betul keputusan yang mandiri? Apakah saya sungguh proaktif di dalam menjalankan peran saya sebagai ibu? Apakah saya menjalani peran saya saat ini karena begitulah memang tugas dan peran seorang ibu untuk anaknya yang masih kecil? Apakah saya menjalani peran ini karena takut gunjingan tetangga yang memiliki standar tertentu mengenai pengasuhan anak? Apakah saya menjalani peran ini karena mengharapkan dukungan Chikara di masa tua nanti? Apakah saya takut kehilangan Chikara? Semua itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab untuk mengetahui apakah saya mendiri.

Ternyata menjadi mandiri bukanlah hal yang mudah. Saya senang mendapatkan Chikara sebagai anak saya, tetapi saya juga sering kewalahan menanggung konsekuensi sebagai ibunya. Konsekuensi-konsekuensi tersebut umumnya terkait dengan keterbatasan sumber daya. Salah satunya adalah waktu.

Chikara membutuhkan waktu terfokus dari saya untuk menemaninya. Dia tidak suka disambi. Saya punya banyak kesulitan menyelesaikan pekerjaan selama mengasuh Chikara. Dia bukan anak yang akan diam dan menunggu. Dia aktif mempertanyakan banyak hal dan menuntut jawaban saat itu juga. Dia menyatakan alasan-alasan secara terbuka dan menuntut penjelasan yang masuk akal untuk otaknya. Ia akan senang kalau memahami sesuatu dan mencapai sesuatu. Di tengah situasi yang demikian, saya punya beberapa pilihan: 1) cari pengasuh, 2) memaksanya diam menunggu saya menyelesaikan sesuatu, 3) membuatnya sibuk melakukan hal yang lain, 4) membuatnya terlibat di dalam kegiatan saya. 

Menyusun balok: salah satu kegiatan yang membuat anak sibuk. Sumber foto: koleksi pribadi.


Pekerjaan saya bervariasi dari memasak, mencuci, membereskan rumah, mengurus kebun, mengajar dan mengetik dengan menggunakan komputer. Untuk empat yang pertama, Chikara dapat saya libatkan secara aktif, asalkan ada waktu yang cukup. Asalkan standar saya mengenai kecepatan dan kualitas hasilnya bisa dibuat lebih rendah. Sebagai contoh, ketika memasak kue dilakukan  bersama-sama dengan Chikara, saya perlu merelakan bahwa akan ada hasil cetakan kuenya yang kurang rapi, belepotan atau komposisi bahannya yang tidak presisi. Waktu memasak kue pun bisa jadi lebih lama daripada kalau saya membuatnya sendiri. Tapi pembelajaran untuk Chikara dan waktu yang kami lalui bersama jauh lebih penting daripada rasa dan bentuk kuenya. Di sini, proses lebih penting daripada hasilnya.
Melibatkan anak dalam kegiatan kita - penting untuk perkembangan anak.
Sumber foto: koleksi pribadi.
Untuk dua yang terakhir, mungkin cukup sulit. Di sini, tuntutan hasil mungkin lebih kuat daripada proses bersama anak. Dalam situasi seperti ini, pilihan nomor satu mungkin adalah cara yang paling mudah. Saya akan punya waktu terfokus untuk saya sendiri, dan Chikara akan main dengan terfokus bersama pengasuh. Namun, jika saya terlalu banyak mengambil pilihan nomor satu ini, Chikara lalu protes, “Tapi aku sukanya  main sama kamu”. Hiks.... Menyenangkan dalam situasi normal, tetapi petaka dalam kondisi deadline seabreg kegiatan.

Pilihan nomor dua kadang-kadang terjadi dalam keadaan darurat, tapi Chikara akan cepat bosan dan kemudian melakukan hal-hal yang akhirnya menambah pekerjaan saya tanpa dia dan saya sadari di awal . Misalnya mengacak-acak sesuatu yang harus saya bereskan kemudian. Istilah mengacak-acakpun sebetulnya perlu dipertanyakan. Mungkin istilah tersebut tepat dari sudut pandang saya. Dari sudut pandang Chikara, mungkin lebih tepat dikatakan sebagai mengeksplorasi benda-benda baru yang menarik perhatiannya. Yang tanpa ia sadari benda-benda itu sebetulnya merupakan bagian dari pekerjaan saya, bukan mainannya.

Nomor tiga bisa berjalan baik, tetapi akan membutuhkan waktu untuk mempersiapkannya. Pertama-tama, perlu dipilih apa kegiatan yang akan dilakukan Chikara. Kedua, perlu dibayangkan berapa lama ia akan tahan melakukan kegiatan tersebut sendiri. Ketiga, apakah kegiatan tersebut membutuhkan pendamping? Keempat, bahan apa saja yang diperlukan? Kapan dan berapa lama menyiapkannya? Kelima, apakah ada akibat yang perlu saya tanggung setelah aktivitas selesai? Misalnya beres-beres. Beres-beres artinya pekerjaan. Pekerjaan perlu waktu untuk mengerjakannya.

Bermain: membuat anak sibuk tetapi jangan lupa ajari ia untuk membereskannya kembali
Sumber foto: koleksi pribadi.

Itu adalah contoh-contoh konsekuensi dari pilihan tindakan saya nomor satu sampai empat. Tetapi semua itu adalah konsekuensi dari pilihan saya menjadi ibunya. Kalau saya sungguh mandiri, berarti saya dengan bahagia menanggung konsekuensi tersebut. Menjadikannya bagian dari hidup saya.

Kesalingtergantungan – tingkatan lebih lanjut dari kemandirian

Apabila kita telah mencapai kemandirian, maka kita dapat melanjutkan perjalanan hidup kita menuju kesalingtergantungan. Kesalingtergantungan hanya dapat terjadi dalam relasi dua orang yang mandiri.  Apabila salah satu tergantung dari yang lain, maka relasi tersebut disebut sebagai ketergantungan. Kesalingtergantungan adalah kunci menuju sinergi. Sinergi adalah kondisi di mana kerjasama antara sejumlah orang menghasilkan kinerja yang lebih besar dari apabila kinerja seluruh anggota tersebut dijumlahkan. Dalam sinergi terjadi apa yang tidak mungkin dilakukan apabila setiap orang yang berelasi berdiri sendiri.

Di dalam kesalingtergantungan, setiap orang sebetulnya dapat hidup secara mandiri. Masing-masing akan baik-baik saja di dalam hidupnya. Tetapi, mereka masing-masing merasa tidak cukup dengan sekedar baik-baik saja. Mereka haus akan capaian yang lebih besar di dalam hidup mereka dan secara kreatif ingin mewujudkan impian tersebut. Mereka kemudian bersepakat untuk bekerjasama untuk mencapai impian bersama secara bersama-sama. Mereka memutuskan untuk saling membantu satu sama lain untuk mencapai impian bersama. Mereka ada satu untuk yang lain, tetapi tetap oke apabila suatu saat yang satu meninggalkan yang lain.

Saat ini saya dan Chikara berada dalam hubungan di mana Chikara tergantung pada saya. Tetapi saya tahu, itu hanya sementara. Dari waktu ke waktu, ia akan berkembang dan menjadi lebih mandiri dalam segala hal. Dari waktu ke waktu, kebutuhannya akan saya akan berkurang dan ia akan menjadi lebih sibuk dengan dunianya sendiri. Secara bertahap kami akan mentransformasi relasi kami dari ketergantungan menjadi kesalingtergantungan. Saya membayangkan sekitar dua puluh tahun lagi, saya dan Chikara akan melakukan sesuatu bersama-sama sebagai dua pribadi yang mandiri. Kami akan menghasilkan hal-hal yang luar biasa bersama-sama.

Panen wortel bersama - salah satu kegiatan yang disukai anak,
sekaligus memberikan pengalaman tentang kemandirian dalam menghasilkan pangan.
Sumber foto: koleksi pribadi.
Bagaimana dengan empat puluh tahun lagi? Saya akan berusia delapan puluh enam tahun, dan Chikara empat puluh empat tahun. Apakah saya tetap bisa mandiri? Saya berharap, ya, saya ingin tetap menjadi orang yang mandiri. Saya ingin tetap dapat memutuskan hidup saya sendiri di usia itu. Saya masih tetap ingin dapat menghasilkan karya dan mewujudkan impian-impian saya. Nah, keputusan inipun ada konsekuensinya. Dan konsekuensi ini, terkait dengan hidup saya yang sekarang. Kalau saya masih ingin berkarya di usia delapan puluh enam tahun, maka saya perlu cukup sehat pada waktu itu. Kalau saya mau sehat di usia tersebut, maka saya perlu menjaga kesehatan sejak sekarang!

Jika saya ingin relasi saya dengan Chikara adalah kesalingtergantungan di usia delapan puluh enam, maka saya punya PR besar yang perlu saya lakukan sejak sekarang. Salah satu ciri dari kesalingtergantungan adalah tidak ada rasa bersalah, tidak ada takut, tidak ada kuatir. Konsekuensi dari kesalingtergantungan adalah Chikara dan saya perlu bebas dari rasa takut, kuatir dan bersalah, jika ia memilih hidupnya sendiri dan tidak “mengurus saya” di usia delapan puluh enam sesuai dengan standar yang berlaku di masyarakat saat itu. Chikara perlu bebas dari semua rasa itu dan percaya bahwa saya mendukung pilihan hidupnya dan saya akan baik-baik saja.

Nah, saya rasa ini lebih kompleks daripada konsekuensi menjadi sehat yang saya ceritakan tadi. Untuk menjadi sehat, saya cukup berurusan dengan diri saya sendiri. Menetapkan pilihan dan konsisten melaksanakannya. Mentransformasi hubungan ketergantungan menjadi salingtergantung dan mempertahankannya selama empat puluh tahun adalah sesuatu yang luar biasa. Komitmen ini bukan hanya menyangkut saya, tetapi juga Chikara dan hubungan saya dengannya. Ini akan menyangkut keputusan dan kesadaran akan nilai-nilai yang perlu ditanamkan, kebiasaan-kebiasaan yang perlu dibangun, pengalaman-pengalaman bersama yang membuktikan kesungguhan relasi dan banyak lagi. Pastilah ada jatuh bangun yang perlu dilalui. Konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada dan dijalani dengan bahagia.

Latihan kemandirian

Yang saya ceritakan di atas adalah hanyalah satu contoh sederhana dari keputusan yang kita ambil secara mandiri. Kita dapat membangun kemandirian mulai dari banyak hal lain. Keputusan akan makanan yang ingin kita makan, udara yang ingin kita hirup, karya yang ingin kita hasilkan, pasangan hidup yang hendak kita pilih, rumah yang hendak kita tinggali, kebun yang hendak kita lihat dan banyak lagi, dan berbagai aspek kehidupan yang hendak kita jalani. Apapun pilihannya, semoga betul-betul diputuskan secara mandiri dan dijalani dengan penuh tanggung jawab dan sukacita.

Mulai dari satu aspek kemandirian yang kita jalani, kemudian kita dapat memperluasnya ke aspek-aspek yang lain. Dalam jangka panjang, akan ada lebih banyak aspek kemandirian yang dapat kita pilih dan akhirnya, secara bertahap, kemandirian akan menjadi bagian penting dari kehidupan kita.

***









[TIPS] BERTANGGUNG JAWAB ATAS SAMPAHMU



Salah satu tren gaya hidup yg dipilih banyak orang saat ini adalah Zero Waste life style. Kesadaran hidup minim sampah menurut saya sangat perlu dilakukan saat ini. Banyak isu yang menaruh perhatian pada masalah sampah yang sudah mengancam keberlangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain. Sayangnya, masih ada yang melakukan sebatas mengikuti tren tanpa kesadaran untuk mencapai dampak yang lebih luas. Misalnya, membeli barang baru untuk mendukung aktivitas zero waste-nya ketimbang menggunakan apa yang tersedia, menjadi tidak sejalan dengan semangat zero waste jika pada akhirnya menimbulkan barang lain yang tidak dapat digunakan.

Cara hidup yang minim menghasilkan sampah sebenarnya dimulai dari saya kecil dari kebiasaan yang ditanamkan oleh orangtua. Sedari kecil saya hidup di kota kecil di pulau ujung timur Indonesia. Keterbatasan akses dan juga gaya hidup, membantu kami untuk mengutamakan sumber dan bahan yang tersedia. Saya juga sudah dikenalkan dengan sistem pengelolaan sampah, walau sebatas organik dan anorganik saja. 

Saya tidak mengenal jajan karena tidak tersedia pedagang makanan jadi. Sekolah dan rumah yang jaraknya sangat dekat, membuat saya punya waktu untuk pulang makan siang. Orangtua saya bekerja dan disediakan fasilitas mess yang lengkap menyajikan makanan selama 24 jam. Jika kami bosan makanan rumah dan ingin menu yang berbeda, kami akan menikmati santapan di mess. Alternatif lain adalah bertukar makanan dengan keluarga lain yang berasal dari daerah lain. Selain makanan, kami juga sering bertukar barang (pakaian dan buku). Setiap keluar rumah, selalu tersedia botol minum dan minimal sekotak penganan ringan di dalam tas, bahkan saat bepergian keluar kota sekalipun.

Seiring perkembangan dan tuntutan kehidupan, juga karena kami pindah ke Ibukota, gaya hidup pun turut berubah. Saya menyesuaikan diri dengan ritme kota modern yang serba cepat, penuh persaingan, tergesa, individualis, dan praktis. Seakan hampir tanpa ruang untuk memberi kebaikan dan selaras dengan alam.

Berpindah kota beberapa kali, mengalami banyak pengalaman dan situasi yang berbeda-beda, kami (saya dan suami) mulai tersadar akan pentingnya menjalani hidup yang lebih selaras dengan lingkungan alam. Kami sadar dan merasa perlu mengubah cara hidup kami untuk memberi kesempatan kepada anak kami melihat bahwa di dunia ini banyak hal baik dan bisa berdampak baik. Kami sendiri yang bertanggungjawab atas pilihan dan tindakan diri sendiri.

Kekhawatiran juga muncul dengan deraan informasi tentang masalah yang banyak terj
adi dalam berkehidupan di masyarakat secara umum dan permasalahan lingkungan hidup secara khusus. Kami melihat bahwa dunia dan perubahan di atasnya bisa membawa dampak negatif bagi anak. Namun sadar bahwa tindakan kita sebagai manusia bisa membawa perubahan ke arah yang baik, maka kami berani berangkat dari situ.

Sebagai orangtua, kami berusaha memberi teladan dengan segenap kepala, hati, dan tangan kami dengan konsisten melaksanakan apa yang kami yakini baik yang akan berdampak baik juga adanya. Kami membuat rencana, memperhitungkan dampak, dan merepotkan diri sedikit dengan persiapan sebelum berkegiatan. Harapan kami kebiasaan sederhana dengan dampak luas akan tertanam dalam diri anak.

Setiap aspek kegiatan sehari-hari bukan tanpa risiko sampah. Kami berusaha merencanakan setiap kegiatan sambil juga belajar menahan diri. Tantangan besar dari hidup minim sampah adalah pola konsumsi instan dan praktis yang sudah menjadi bagian dari perkembangan diri dan kemudian terasa sebagai kebutuhan. Kita semua tahu, seiring perkembangan industri, penyumbang sampah terbanyak saat ini adalah kemasan praktis terutama yang terbuat dari plastik karena tidak bisa diurai alam secara langsung. Sebenarnya kemasan tersebut banyak yang dapat digunakan kembali atau didaur ulang. Tetapi banyak pula yang hanya sekali pakai dan berakhir menjadi sampah.
Ada beberapa cara yang kami coba lakukan untuk menuju minim sampah dalam kegiatan kami sehari-hari. 
  

1. Menyusun menu makanan selama 1-2 minggu ke depan

Menu makan sehari-hari direncanakan dan diusahakan memasak sendiri. Belanja bahan disusun dan diatur supaya tidak ada yang mubazir karena disimpan lebih lama dari daya tahan bahan itu sendiri. Membawa wadah dan kantung sendiri asat belanja di pasar tradisional maupun supermarket. Kami sering mendapati pedagang di pasar berujar senang jika pembeli tidak menggunakan plastik yang mereka sediakan karena itu berarti juga menghemat pengeluaran belanja plastik mereka. Wadah juga membantu kami mengorganisir penyimpanan nantinya di rumah sehingga turut menghemat waktu.

Saat memilih jajan, kami juga belajar menahan diri untuk tidak impulsif dan lebih merencanakan jajan kami (kecuali pada saat darurat). Sedapat mungkin kami rencanakan apakah akan makan di tempat atau membawa pulang. Selain alat makan pakai ulang, di tas tersedia setidaknya 1-2 wadah kecil untuk membungkus makanan yang tidak habis atau saat keinginan jajan impulsif mendera.

Selain itu berusaha mandiri pangan dengan menanam tanaman sayur dan buah juga turut berdampak baik. Melakukan pengawetan daging, sayur, dan buah dengan cara sederhana skala rumahan. Seperti menggunakan metoda pengasapan, pengasinan/pemanisan/pengasaman, membuat makanan instan untuk stok pribadi (contoh: nugget, sosis, fruit jam dan jelly), dll. Sebagai konsumsi pribadi tentu akan lebih ekonomis dan sehat. 


Keju cheddar buatan sendiri

2. Memilah sampah.

Memilah barang dan sampah sebenarnya tampak sepele, tapi dampaknya besar jika paling tidak di ranah rumahtangga sudah bisa melakukannya. Tumpukan sampah di TPA bisa berkurang drastis. Kami sudah berusaha melakukan sejak 3 tahun belakangan. Memilah sederhana semampu kami dengan memisahkan dan mengelola sampah anorganik (plastik, kertas, kaca, kaleng), dan organik. Sampah anorganik dibedakan berdasarkan jenisnya; yang masih bisa digunakan/diolah kembali, dan tidak bisa. Sedapat mungkin dibersihkan dan diatur/dikemas sedemikian rupa untuk mengurangi volume. Kemasan plastik dicuci bersih lalu ditiriskan, untuk menghilangkan bau dan risiko munculnya serangga atau binatang. Botol plastik dicuci dan ditiriskan, ditipiskan/digepengkan, lalu dikumpulkan dalam satu wadah. Demikian juga sampah kertas, kemasan kotak dibuka dan diratakan untuk memudahkan disusun. Sampah organik dimasukkan dalam komposter sederhana atau dikubur dalam tanah.

Sedikit butuh usaha menjelaskan pada tamu yang berkunjung, karena kami perlu tetap konsisten tapi tanpa membuat tamu merasa digurui atau tersinggung. Tentu juga sambil berharap mereka tergerak melakukan hal yang sama. Dalam kondisi bepergian, kami kumpulkan sampah dan simpan di tas jika tidak menemukan tempat sampah. Alternatif pengelolaan sampah anorganik bisa bekerjasama dengan pemulung dan juga bank sampah yang sudah banyak bertumbuh sekarang ini. Atau bisa juga bekerjasama dengan komunitas perajin yang membuat aneka kerajinan dari plastik bekas pakai.

3. Membuat sendiri beberapa kebutuhan yang disesuaikan dengan kemampuan.

Kebutuhan sehari-hari yang dapat dibuat sendiri antara lain bahan pembersih. Kebutuhan pembersih beragam varian dan jumlahnya tergantung tujuan pemakaian. Banyak pembersih yang mengandung komposisi tidak ramah lingkungan. Jika memungkinkan, kita bisa membuat sendiri sabun (mandi maupun pencuci) dan sampo, juga pembersih serbaguna dari eco-enzyme yg terbuat dari sisa bahan organik dapur. Mudah dan ekonomis.

Atau membeli dari bulk store dengan membawa kemasan sendiri. Di Indonesia keberadaan toko seperti ini belum banyak tersedia, masih terbatas di kota besar. 

Sabun kopi buatan sendiri
Eco-enzyme cleaner yang terbuat dari kulit jeruk

Di samping memilah sampah, barang di rumah juga dipilah untuk dimanfaatkan kembali. Wadah sampah bisa menggunakan kotak kemasan atau kardus besar. Hal lainnya yang bisa dilakukan adalah vermak pakaian (repurpose) menjadi pakaian anak, tas, selimut, keset, atau alat kebersihan. Ide-ide untuk memanfaatkan kembali barang sudah banyak beredar dan mudah sekali diakses di internet. Memberikan barang layak pakai yang sudah amat jarang digunakan kepada orang lain yang membutuhkan, menyelenggarakan garage sale, atau bertukar barang dengan teman dekat bisa ditempuh untuk memperpanjang usia penggunaan barang. 

Sabun serbaguna dari minyak jelantah

4. Hemat energi dan cermat memanfaatkan alat elektronik di rumah.

Jika hendak membeli, pilihan alat elektronik yg hemat energi dan berkapasitas daya listrik rendah sudah banyak tersedia di pasaran. Namun jika sudah terlanjur memiliki, perlu bijak menggunakan sesuai dengam kapasitasnya, juga mematikan dan melepas sambungan listriknya saat tidak digunakan. Alat elektronik yang tetap tersambung meskipun tidak digunakan akan mengkonsumsi daya listrik walau dalam jumlah yang sangat kecil. Selain itu, juga menjaga alat dari kerusakan dan meminimalisir risiko korsleting. Melakukan perawatan rutin juga memperpanjang usia alat serta memperkecil risiko. Mengusahakan peralihan dari tergantung pada daya listrik yang tersedia dengan daya listrik yang dapat diusahakan sendiri. Seperti menggunakan alat elektronik bersumberdaya energi sinar matahari dari yang kapasitas kecil seperti lampu taman atau lampu meja.
Lampu taman energi sinar matahari

Menjalani gaya hidup minim sampah adalah cara hidup dengan penuh kesadaran untuk mengurangi dampak yg salah satunya berupa sampah. Tidak perlu dilakukan di titik extreme sampai tidak menggunakan plastik sekali pakai atau tidak menghasilkan sampah sama sekali, atau mengusahakan semua serba dibuat sendiri. Tapi menyesuaikan dengan sebisa yang kita mampu. Penting memiliki kesadaran bahwa ada dampak dari tindakan kita. Berkegiatan dengan keluarga dan teman yang memiliki kesadaran yang sama tentu akan mendukung pilihan gaya hidup kita. Kita bisa saling berbagi saran dan pengalaman terkait hidup minim sampah.

Secara umum cara yang kami lakukan sehari-hari masih dianggap aneh oleh banyak orang. Saat membeli makanan jadi misalnya, kami terbiasa langsung menyodorkan kotak makanan karena sudah dipersiapkan. Sering ada yang bertanya, kenapa kami merepotkan diri menyiapkan begitu banyak alat sementara sudah disediakan pihak penjual. Tentunya kami dengan senang hati akan menjelaskan alasan kami. Semoga bisa menggerakkan keinginan di dalam diri orang lain yang mendengarkan.

Dalam kegiatan luar rumah seperti di sekolah dan komunitas, seringkali masih menuntut kepraktisan dan kemudahan. Kegiatan berkumpul rutin yang disertai sajian penganan dan minuman, ringan maupun besar. Masih menggunakan kemasan pembungkus makanan, wadah dan alat makan dan minum sekali pakai, dan sisa makanan yang berpotensi sampah. Penyajian makanan dan minuman juga tetap diusahakan tanpa menggunakan bahan non organik yang sekali pakai. Sebagai peserta, selalu berusaha ingat untuk membawa satu set alat makan dan minum sederhana. Sebagai pihak penyelenggara pun juga perlu berusaha dan sadar untuk turut mengurangi potensi sampah dari sajian.

Hidup minim sampah harus bisa dilakukan dalam berbagai situasi. Kami sering melakukan perjalanan keluar kota dengan menggunakan moda transportasi massal. Mengatur jam kepergian sedapat mungkin disesuaikan dengan jam makan dan tidur. Di dalam tas selalu tersedia alat makan dan minum sederhana, ditambah kantung untuk menampung sampah sementara. Botol minum dengan kapasitas besar tentu lebih praktis. Di berbagai lokasi bandar udara sudah menyediakan stasiun pengisian ulang air minum. Kalaupun ingin membeli minuman, bisa juga membeli air minum kemasan botol kaca yg isinya dipindahkan ke botol kami.
Jajan di restoran dan membawa penganan pulang

Memiliki kesadaran memilih cara hidup ramah lingkungan dengan berusaha minim sampah adalah tujuan yang baik dan mulia. Namun tentunya perlu memahami kapasitas diri masing-masing. Tips yang saya bagikan dalam tulisan ini adalah hasil pembelajaran diri dan melalui berbagai proses selama bertahun-tahun. Bukan proses yang mudah dan kami pun masih akan terus belajar untuk menyesuaikan dengan kondisi yang juga terus berubah. 

Menurut pengamatan saya, ada kaitan erat antara hidup minim sampah dengan berdaulat sumber daya. Daya upaya untuk hidup sehat dan tetap minim sampah bisa dimulai dari memilih sumber pangan sehat yang mudah kita temui dengan harga terjangkau, atau bisa kita usahakan sendiri misalnya dengan bertanam sederhana di rumah. Kita bisa bergantung pada kearifan lokal mengenai sumber daya dan komunitas dalam masyarakat untuk saling berbagi. Salah satu contohnya, beberapa tahun belakangan ada tren menggunakan garam himalaya yang dipercaya memiliki lebih banyak manfaat. Proses mendapatkannya membuat harganya menjadi mahal. Belum lagi transportasi yang membawanya ke Indonesia, selain memakan biaya, juga mungkin menimbulkan jejak karbon yang tinggi. Sementara, petani garam lokal banyak tersebar di sepanjang garis pantai di Indonesia tentu dengan harga yang lebih terjangkau. Apakah benar, sebegitu jauhnya perbedaan manfaat garam Himalaya dengan garam lokal, sehingga kita harus memilih menggunakan garam impor tersebut? Sudahkah pilihan itu diteliti dan ditimbang dengan baik? Padahal, dengan memilih memilih garam lokal, selain ekonomis, juga turut mendukung kedaulatan garam. Ada banyak hal yang bisa kita pertimbangkan di samping persoalan konsumsi.

Mungkin saja masih banyak sumber daya di sekitar kita yang perlu dieksplorasi untuk mendukung gaya hidup minim sampah. Kita bisa mulai dengan menggunakan apa yang ada di sekitarmu dari rumah kita sendiri. Selamat menentukan pilihan!


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...