[OPINI] REVOLUSI DIRI ADALAH REVOLUSI DUNIA



Pada jaman modern ini, dunia sedang berubah dan berevolusi dengan semakin cepat. Di negara-negara tertentu, mayoritas orang telah dapat hidup bersama tanpa diskriminasi ras atau warna kulit. Kesetaraan gender semakin dapat terlihat pada berbagai aspek kehidupan. Senioritas dan bullying semakin dipandang sebagai sikap yang melanggar martabat luhur manusia. Hal-hal seperti ini jauh lebih sulit kita temukan bila kita menghitung mundur 50-100 tahun ke belakang.

Baik pada lapisan yang luas maupun kecil, perubahan yang terjadi adalah sebuah bagian alami dari proses evolusi makhluk-makhluk yang menghuninya. Dalam tataran hidup manusia, perubahan kesadaran menyebabkan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru yang membuat kita semakin merenungkan batasan diri kita. Sebuah perenungan yang muncul semakin kuat dan menjadi relevan pada saat ini adalah tentang cara hidup kita yang mempengaruhi kehidupan lain di bumi, yang secara tidak langsung juga memengaruhi keberlanjutan jangka panjang kehidupan manusia. Pada sisi lain, kita juga sedang merenungkan tentang orientasi seksual seseorang, dimana kita diajak untuk mendobrak kepercayaan lama bahwa jenis kelamin tertentu pasti memiliki orientasi seksual tertentu.

Secara terus menerus, kita ditantang untuk mengalami transformasi kesadaran secara komunal. Pada saat ini, perkembangan teknologi semakin menghubungkan seluruh pelosok dunia. Teknologi tidak hanya menghubungkan orang, namun juga informasi. Segala macam hal yang disembunyikan menjadi jauh lebih mudah terungkap. Dan ketika terungkap, penyebarannya terjadi secara cepat dan masif.

Keterhubungan ini menjadi sarana yang semakin efektif untuk pihak-pihak yang hendak membawa pembaharuan kesadaran. Kita dapat melihat Greta Thunberg, seorang remaja yang dalam waktu singkat dikenal oleh dunia – hingga mendapat nominasi penghargaan Nobel bidang perdamaian – hanya dengan membuat protes sederhana mengenai pemanasan global dengan duduk diam setiap harinya di depan gedung parlemen Swedia. Dengan namanya yang menjadi besar, ia mengundang berbagai macam perhatian dari seluruh dunia. Ia menjadi tamu pada saluran-saluran TV besar di dunia, menjadi sampul majalah-majalah ternama, hingga berbicara pada konferensi aksi iklim PBB. Semua publisitas ini secara tidak langsung ikut menyebarkan pesannya tentang pemanasan global.

Greta Thunberg (16), aktivis lingkungan hidup, sedang berbicara pada pembukaan UN Climate Action Summit 2019 (Sumber: news.un.org)

Tidak hanya untuk pihak yang hendak menciptakan transformasi, teknologi juga digunakan oleh banyak orang yang masih kolot dengan kepercayaan dan cara hidup yang lama. Maka, tarik menarik antara orang-orang yang ingin membawa perubahan dengan orang-orang yang tidak menginginkan perubahan juga terjadi dengan semakin keras.


Beberapa contoh serangan yang dilancarkan oleh orang-orang pemegang posisi politik terhadap gerakan yang dilakukan oleh Greta Thunberg (Sumber: people.com, twitter.com)

Untuk kita yang memperjuangkan perubahan-perubahan pada aspek dan tataran yang berbeda-beda, bergesekan dengan orang-orang yang tidak mau berubah juga adalah sebuah keniscayaan. Di sisi lain, kita tidak pernah benar-benar tahu kapan perjuangan ini akan berbuah. Maka, terkadang kita mungkin merasa seperti berjalan di tempat, tanpa hasil apapun. Konflik-konflik yang terjadi kadang membuat kita semakin lelah. Kolotnya orang-orang yang tidak ingin berubah menjadi kepahitan, menciptakan ketegangan sendiri di dalam diri kita. Tanpa sadar, kita yang seharusnya menawarkan perubahan ke arah yang lebih baik malah ikut menjadi kaum yang kolot. Perjuangan kita juga berubah menjadi bentuk pemaksaan lain terhadap orang-orang.

Katalis Perubahan yang Prematur

Tidak ada orang yang menyukai perubahan, terutama jika perubahan tersebut menuntut mereka untuk meninggalkan kenyamanan mereka. Meninggalkan hidup lama yang disukai seakan menjadi sebuah kematian untuk orang banyak. Bukti yang mudah kita temukan adalah betapa banyaknya orang (mungkin diri kita sendiri juga mengalaminya pada titik tertentu) yang tidak dapat mendisiplinkan pola makan dan olah raganya sebagaimanapun ia tahu bahwa ia perlu menurunkan berat badan dan menyehatkan tubuhnya. Barangkali contoh seperti ini terlihat sangat sederhana, tetapi ini melambangkan banyak aspek kehidupan manusia.

Manusia berevolusi dengan hasrat mendasar berupa rasa aman. Berbagai macam habit tercipta sebagai bagian dari respon hasrat tersebut. Tubuh membiasakan dirinya dengan beradaptasi untuk merasa aman dan nyaman. Untuk melawannya, pikiran sadar yang membuat berbagai macam rasionalisasi memang berguna. Akan tetapi, karena dorongannya kurang kuat atau kurang konsisten, habit yang telah terbangun sulit untuk digoyahkan. Ditambah dengan sikap-sikap egosentris yang mempunyai berbagai macam agenda tersembunyi, sang ego akan merasa dirugikan pada berbagai tingkat. Maka dari itu, penolakan terhadap perubahan bisa menjadi semakin kuat tergantung pada orangnya.

Untuk kita yang hendak membawa perubahan yang lebih baik ke dalam dunia, tentu mudah untuk melihat ini pada diri orang-orang yang kaku dan kolot pada pendirian lama mereka. Akan tetapi, apakah kita telah mempertimbangkan bahwa hal-hal ini terjadi juga pada diri kita? Apakah kita telah memastikan bahwa sambil kita berjuang menjadi agen perubahan, kita juga terus memperbaharui sistem-sistem lama pada diri kita yang dapat menghalangi kita melakukan pekerjaan yang efektif dan maksimal?

Setiap orang memiliki preferensi dan selera masing-masing. Apa yang anda sukai belum tentu saya sukai, dan sebaliknya. Untuk anda, mengubah diri pada aspek A barangkali mudah. Akan tetapi, hal yang sama belum tentu berlaku pada diri saya. Sama halnya, saya dapat mengubah cara pandang dengan lebih ringan pada aspek B, sedangkan anda tidak. Variasi ini tercipta pada setiap orang berdasarkan cara hidupnya yang dibangun bertahun-tahun lewat pemikirannya, lingkungan keluarga, masyarakat, agama, dan lain-lain.

Tanpa memahami betapa sulitnya mengubah diri kita pada aspek tertentu, kita tidak benar-benar memiliki kemampuan untuk mengubah orang pada aspek yang mudah untuk kita. Kita perlu memahami dengan jelas betapa tidak enaknya ketika kita dipaksa untuk berubah pada titik yang tidak kita sukai. Kemudian, kita perlu melihat bahwa banyak orang tidak suka untuk berubah pada sisi yang kita tawarkan. Kita hanya dapat memiliki kedewasaan untuk menyikapi berbagai macam respon yang datang ketika kita memiliki kemampuan untuk melihat dinamika ini dengan sangat jelas.


Kesadaran Diri Sebagai Sumber Kekuatan Utama

Walaupun penemuan tentang nilai-nilai yang lebih luhur terjadi secara pribadi, penemuan itu tidak melulu datang bersama kesadaran diri yang tinggi pula. Terjadinya pembaharuan pada cara pandang kita terhadap sebuah aspek kehidupan seringkali datang secara terpisah dengan pemahaman untuk menyikapinya dengan paling efektif. Ketika perjuangan ini dilakukan dengan ketidakmatangan diri, pada suatu titik kita akan merasa kelelahan apabila apa yang diperjuangkan tampak tidak berbuah. Fenomena yang diberi nama activism fatigue atau activism burnout ini sering terjadi pada berbagai jenis aktivis sosial yang saat ini sering dikenal dengan Social Justice Warrior (SJW).

Cuplikan artikel mengenai activism fatigue atau activism burnout, fenomena di mana para aktivis sosial mencapai titik jenuh ketika apa yang diperjuangkan tidak menunjukkan hasilnya (sumber: vice.com)

Walaupun activism fatigue ini ditemukan akibat banyaknya SJW yang mengalami hal tersebut, sebenarnya hal ini juga kita alami ketika berusaha mengubah bahkan orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman. Kita dapat mengingat sendiri seberapa banyak momen di mana kita merasa lelah dan heran ketika sahabat dan/atau keluarga kita tidak dapat memahami apa yang kita katakan. Inilah yang sangat penting untuk kita perhatikan; hal ini terjadi di berbagai lapisan, walau menjadi semakin terlihat pada skala yang lebih masif. Jika demikian, kita dapat mengatakan bahwa bibit penyakit ini dimiliki oleh jauh lebih banyak orang dari yang terlihat saat ini.

Segala rasa lelah, stres, dan frustrasi ini tidak pernah disebabkan oleh hasil yang tidak memuaskan. Selayaknya, sebelum mengusahakan perubahan, kita telah memahami bahwa banyak orang sulit berubah secara instan. Maka dari itu, menginvestasikan kepuasan dan kebahagiaan kita pada keberhasilan pekerjaan kita bukanlah sesuatu yang bijak. Ketika kita menempatkan kebahagiaan pada keberhasilan perjuangan yang kita lakukan, secara otomatis kita juga sedang mempersiapkan diri untuk menderita ketika tidak mencapai keberhasilan yang diimpikan.

Bukan merupakan rahasia bahwa manusia yang bahagia secara otomatis menjadi lebih produktif. Maka, dengan mengamati betapa mudahnya kita meletakkan kebahagiaan kita pada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, kita perlu mencari jalan lain agar segala macam pekerjaan kita menjadi lebih efektif. Tentunya, jalan terbaik yang dapat diambil adalah agar kita dapat tetap menghargai diri sendiri dan apa yang kita perjuangkan tanpa terpengaruh tanggapan orang lain. Sumber penghargaan terhadap diri sendiri adalah pemahaman diri, dan pemahaman diri timbul sebagai produk dari kesadaran diri yang tinggi.

Pemahaman diri dan kesadaran diri berbeda dari kepribadian, kelebihan, kekurangan, dan sebagainya yang kita miliki. Seperti tubuh yang terus berubah, aspek-aspek yang kita miliki ini juga terus berubah dari waktu ke waktu. Jika terus berubah, kita tidak dapat benar-benar menjadikan mereka sebagai pegangan hidup. Ketika mereka berubah, kita menjadi kehilangan pegangan dan menjadi goyah kembali. Maka, walaupun termasuk, mereka hanya mengisi bagian yang sangat kecil dari diri kita yang sesungguhnya.


Menemukan Diri yang Sebenarnya

Diri yang sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat esensial dalam menyokong keberadaan diri kita. Jati diri kita penuh dengan kemungkinan yang tak terbatas. Jati diri inilah yang menyadari perubahan segala macam hal, bahkan hingga perubahan sifat dan kepribadian kita dari waktu ke waktu. Diri yang sesungguhnya mengetahui segala kebenaran dan kenyataan, bahkan yang kita sembunyikan di lubuk hati terdalam; namun tetap tidak tercemar sama sekali oleh semuanya itu.

Penemuan akan diri yang sebenarnya sangatlah sederhana. Ini disebabkan karena diri yang sejati tidak pernah terpisah sama sekali dari diri kita. Akan tetapi, tantangan utama bagi orang-orang untuk menyadari realitasnya adalah macam-macam label akan berbagai hal yang sering kita percayai.

Pikiran kita begitu terbiasa untuk mengenali segala hal dengan deskripsi label yang sudah ditetapkan, baik oleh diri sendiri, orang tua, lingkungan, tradisi, dan lain-lain. Akibatnya, kita hanya melihat segala hal secara satu dimensi. Walaupun label-label ini berguna sebagai pengingat dan dalam berkomunikasi, ini menjadi penghalang besar ketika kita mencoba melihat keseluruhannya. Oleh karena itu, diri yang sesungguhnya – yang tidak tercemar oleh apapun – perlu ditemukan dalam keheningan total.

Keheningan berarti bahwa kita terlepas dari berbagai macam kesibukan pikiran kita. Keheningan berbeda dari tidak berpikir. Untuk menghilangkan pikiran, kita perlu menghentikan kerja otak, yang berarti sama dengan mematikan seluruh tubuh. Akan tetapi, keheningan adalah kondisi di mana kita tidak terlibat sama sekali dengan pikiran-pikiran yang lewat. Kita seakan berjarak dari pikiran dan tidak terpengaruh sama sekali olehnya. Kita bahkan tidak perlu mengamati pikiran, melainkan hanya mengizinkan apapun lewat dengan sendirinya. Kita hanya berada dan menetap pada “kekosongan” yang tersisa. Jika kita cukup memperhatikan, bahkan sejenak saja sudah cukup untuk kita menemukan realitas dari esensi diri yang jauh lebih luas dari yang kita bayangkan sebelumnya.

Ketika kita menemukan esensi sesungguhnya dari diri kita, akan terjadi transformasi pada cara pandang, pemahaman, hingga cara menyikapi segala macam situasi. Hal ini dikarenakan sebuah realitas yang sebelumnya seakan tertutupi menjadi tersingkap dengan amat jelas. Maka dari itu, apapun yang tidak melambangkan kesejatian diri kita juga akan dengan mudah kita kenali.

Cara pandang kita terhadap dunia mengindikasikan cara pandang kita terhadap diri sendiri. Saat kita menemukan realitas yang sesungguhnya dari keberadaan diri kita, seketika dunia juga terlihat berbeda. Pada saat yang sama, muncul sebuah kesadaran baru. Setelah itu, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang dapat mengambil kekuatan kita. Kita telah menemukan sumber kekuatan sejati.

Revolusi Diri adalah Revolusi Dunia

Tentunya segala hal ini bukanlah dibuat untuk menentang berbagai macam bentuk perjuangan untuk meningkatkan kualitas kehidupan bersama. Saya secara pribadi adalah orang yang mendukung berbagai gerakan kemanusiaan di dunia. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin memberikan perhatian lebih pada betapa banyaknya orang yang mudah merasa kelelahan dan terhenti di tengah perjuangan mereka.

Artikel ini juga tidak ingin mengatakan bahwa kita tidak seharusnya melakukan berbagai gerakan perubahan. Yang saya ingin katakan adalah jika kita memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, maka kita dapat melakukan gerakan perubahan yang sama tanpa beban yang besar. Dengan tidak membawa beban yang besar, banyak dari kekuatan kita dapat disalurkan untuk memberikan dampak yang lebih besar lagi.

Bayangkan apa yang dapat terjadi jika seluruh pejuang keadilan dan kehidupan memiliki daya yang tidak terbatas. Daya ini bukan hanya untuk berkarya dan bersuara, juga termasuk daya kreativitas dalam menyampaikan pesan-pesan mereka. Bayangkan seberapa efektifnya perjuangan yang akan dilakukan dan seberapa kuatnya dampak yang akan dihasilkan dibandingkan jika orang melakukannya dengan kelelahan.

Revolusi tertinggi di dunia dimulai ketika terjadi revolusi diri. Dan revolusi diri tertinggi terjadi ketika orang menemukan diri yang sejati.

[TIPS] SELF AWARENESS DALAM KONFLIK

Oleh: Anastasia Levianti

Setiap hari, kita pasti menghadapi konflik, baik konflik dalam diri sendiri maupun konflik dengan orang lain dan situasi kondisi di luar diri. Inti dari konflik adalah kita mengalami ketegangan akibat perbedaan. Konflik dalam diri terjadi misalnya saat pikiran menyuruh kita untuk tetap terjaga sampai tugas selesai tuntas, sementara badan rasanya lelah dan sangat ingin rebah. Konflik dengan lingkungan terjadi misalnya saat kita menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, ataupun saat kita berbeda sudut pandang dengan rekan tanpa menemukan jalan keluar.
Dalam psikologi, ada setidaknya tiga macam konflik, yaitu approach-approach, approach-avoidance, dan avoidance-avoidance. Konflik approach-approach terjadi saat kita mengalami pertentangan antara dua hal yang sama-sama kita sukai/inginkan/sifatnya positif. Contoh konflik approach-approach misalnya antara tekad meneruskan puasa dengan keinginan makan teratur untuk memulihkan lambung yang luka. Puasa dan makan teratur sama-sama positif sifatnya atau diinginkan.
Konflik approach-avoidance kita alami saat menghadapi pertentangan antara hal yang kita inginkan (arah positif) dengan hal yang kita hindari (arah negatif). Misalnya, seorang perempuan sangat ingin menjadi ibu rumah tangga agar dapat total melayani keluarga, namun sekaligus juga tidak mau bergantung pada suaminya dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Melayani keluarga sifatnya positif atau diinginkan, sementara bergantung secara finansial kepada suami sifatnya negatif atau tidak diinginkan.
Dari paparan di atas, pembaca tentu dapat menduga, bahwa konflik avoidance-avoidance terjadi saat kita mengalami pertentangan antara dua hal yang sifatnya sama-sama negatif atau kita hindari. Contoh dari konflik ini ialah saat kita tidak suka dengan sikap rekan kerja, namun kita juga enggan menyelesaikan tugas tim sendirian. Kita menghadapi dua pilihan yang sama-sama tidak kita inginkan, namun menuntut kita untuk tetap memilih.


sumber: www.dosensosiologi.com

Ketegangan dan ketidaknyamanan yang dirasakan saat berhadapan dengan konflik diinterpretasikan oleh otak kita sebagai sinyal bahaya. Otak kemudian dengan cepat mengambil alih kendali diri untuk melakukan upaya penyelesaian konflik. Upaya pemecahan masalah dapat mengadposi kebiasaan umum yang berlaku menurut akal sehat (common sense), mengikuti cara penyelesaian yang dilakukan oleh orang lain di sekitar kita (vicarious learning), memilih mengikuti dorongan yang paling dominan untuk memperoleh kenyamanan/menghilangkan ketegangan (emotional focus solving), ataupun melakukan analisa sintesa dalam rangka menemukan akar masalah dan menyelesaikannya (problem focus solving).
Ada beberapa rambu yang perlu kita perhatikan saat menimbang sesuatu, agar hasil common sense setidaknya logis dan objektif (Solso, 2005). Beberapa rambu tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Rambu mayoritas: suara terbanyak atau mayoritas belum tentu benar
  2. Rambu atribut popularitas: opini figur populer belum tentu benar
  3. Rambu atribut otoritas: pandangan figur pimpinan, ataupun mematuhi norma tanpa pertimbangan konteks, belum tentu benar
4. Rambu kekuatan/dominan: mematuhi desakan karena takut ancaman, ataupun mengikuti pengaruh orang yang dominan, belum tentu benar
  1. Rambu “kambing hitam”: apapun pandangan kita tentang orang lain dan lingkungan sebetulnya lebih menggambarkan dinamika batin pribadi daripada kenyataan di luar diri   
Vicarious learning atau belajar dengan cara meniru sebenarnya sering kita lakukan. Di Indonesia, praktik belajar dengan cara meniru dikenal dengan singkatan 3M, yaitu memperhatikan, mengikuti, dan memodifikasi (Krismastono, 2019). Agar optimal memperhatikan, kita perlu mengaktifkan panca indera. Misalnya saat belajar memasak, alih-alih hanya melihat dan mendengar video masakan, kita dapat juga menyentuh langsung, mengenali aroma, ataupun mencicipi produk masakan. Perhatian kita juga akan lebih cermat manakala kita mengulanginya beberapa kali, ataupun mendiskusikan hasil observasi kita ini dengan orang lain yang juga melakukan observasi serupa. Pengulangan juga perlu dilakukan saat praktik mengikuti. Seorang pelatih senior menganjurkan agar peserta mengulangi hal yang dipelajari sampai sepuluh kali. Meski ada peserta yang sudah cukup paham setelah pengulangan ketiga sampai kelima, manfaat tetap akan diperoleh bilamana peserta disiplin mengulanginya sampai sepuluh kali. Practices indeed make us perfect, iya kan? Hasil pengulangan akan membantu kita menemukan intisari pembelajaran, yang kemudian menstimulasi kita untuk mengembangkannya melalui elaborasi ide pribadi. 


sumber: www.rumahfilsafat.com

Emotional focus coping ditujukan untuk menyalurkan ketegangan agar reda dan tidak berdampak destruktif. Ada beberapa cara penyaluran emosi negatif yang dialami saat konflik. Langkah pertama adalah walk out. Kita dapat minta ijin waktu jeda 5-15 menit ke kamar mandi. Kita dapat membasuh wajah dengan air, menghirup udara segar, dan minum segelas air putih. Gerakan menyediakan waktu untuk pribadi ini dapat membantu kita kembali berpusat kepada prinsip diri, sekaligus melapangkan hati untuk berempati menangkap kebutuhan inti orang lain/inti tuntutan situasi di balik paparan informasi yang tampak di permukaan. Bilamana walkout tidak dimungkinkan, kita dapat menggosok-gosokkan telapak tangan, memijat jari jemari, ataupun mengempitkan kedua telapak tangan di ketiak. Menurut hasil penelitian para ahli healing dalam komunitas capacitar, emosi negatif tersimpan dalam jari-jemari, sehingga gerakan memijat, menekan, mengelus, dan gerakan apapun yang kita lakukan secara sadar terhadap jari jemari kita akan membantu kita melepaskan emosi negatif yang kita rasakan. Intinya adalah kesadaran penuh pada gerakan, dengan cara menyediakan waktu untuk memperhatikan diri sendiri serta melambatkan tempo aktivitas sejenak.
Problem focus coping yang dewasa ini berkembang adalah pemikiran komputasional (Krismastono, 2019). Kita mencoba memecahkan masalah sebagaimana komputer melakukannya. Ada empat tahapan dalam pemikiran komputasional, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, algoritma, dan identifikasi. Dekomposisi kita lakukan dengan cara menguraikan masalah. Masalah yang diuraikan membuat kita merasa lebih ringan dan mudah memahami keadaan masalah yang dihadapi. Misalnya, saat menghadapi tumpukan pekerjaan rumah tangga, sampai kita merasa berat sekali, namun juga tahu bahwa kita harus mengerjakannya, kita dapat memulai penyelesaian dengan cara memecah tumpukan pekerjaan berdasarkan kelompoknya (cucian dipisahkan berdasarkan jenis, dst., sehingga kita menghadapi bukan tumpukan berantakan yang membuat rasa tidak nyaman, melainkan tumpukan rapi yang membangun  kesiapan untuk mulai mengerjakan). Kebiasaan melakukan dekomposisi lambat laun membuat kita mudah mengenali benang merah saat menghadapi masalah. Benang merah atau pengenalan pola di balik paparan informasi ini akan membantu kita lancar memahami algoritma-keterkaitan logis, seperti hubungan sebab akibat langsung di antara dua hal. Identifikasi akar masalah dan solusi pun menjadi mudah kita lakukan. Untuk menyempurnakan hasil pemikiran, kita dapat membiasakan diri melakukan review setiap tahapan dan mengevaluasinya sebelum melakukan eksekusi solusi.
Yuk, kita coba praktik sejenak melalui studi kasus berikut. Ada seorang biasa, berumah tangga dan bekerja dengan mengutamakan nilai-nilai luhur dalam aktivitasnya, yang akhir-akhir ini mengalami kelelahan. Meski tugas demi tugas diselesaikan sesuai standar, namun tugas demi tugas baru datang dengan tempo lebih cepat, sehingga tumpukan hasil kerja tidak memadai bila dibandingkan dengan tumpukan tugas baru yang menanti diselesaikan. Segala upaya optimal pekerja juga kurang dihargai oleh lingkungan sekitarnya. Hasil kerjanya tidak lepas dari kritik dan cemooh, entah itu disampaikan secara langsung dan objektif, ataupun dengan bisik-bisik di belakang kehadirannya dan subjektif. Jiwa raganya sangat lelah.   
Bagaimana penyelesaian studi kasus tersebut dapat dilakukan? Pekerja bisa saja mengikuti saran atasannya untuk lebih rileks dalam bekerja, menyelipkan kesenangan di tengah waktu kerja, dan menambah waktu kerja dengan mengerjakan tugas juga di luar jam kantor (pengaruh otoritas). Pekerja juga bisa meniru teladan atasan lain yang fokus membuat skala prioritas, mengerjakan hanya yang penting saja, dan menyelesaikan pekerjaan yang datang berdasarkan skala prioritasnya (vicarious learning). Ia sendiri dapat menciptakan waktu jeda untuk diam sejenak, lepas dari rutinitas memenuhi tuntutan tugas yang terus bertambah, agar stamina jiwa raganya pulih dan siap kembali beraktivitas menyelesaikan tugas (emotional focus coping). Dalam keadaan siap, ia sadar, bahwa ia perlu melakukan perubahan cara kerja. Pola kerja yang sama tidak cukup memadai untuk memenuhi tuntutan yang terus bertambah. Alternatif saran yang tersedia adalah menambah waktu kerja dan memilah pekerjaan berdasarkan skala prioritas. Ia juga terpikir untuk menjaga tempo kerja, dengan cara tidak mengejar kualitas - kesempurnaan saja yang memakan waktu lama, melainkan memperhatikan juga batasan waktu pengerjaan selama proses penyelesaiannya. Selain itu, ia juga perlu lebih disiplin mengatur kemauan badannya, untuk merelakan waktu istirahatnya digunakan sebagai waktu tambahan penyelesaian tugas (problem focus coping). 
Apakah alternatif solusi di atas berhasil menyelesaikan masalah yang dialami? Sering kali, penyelesaian yang dilakukan tidak cukup memuaskan, karena tidak semua rencana penyelesaian sungguh dapat dilaksanakan dalam keseharian. Pekerja belum terbiasa mengatur kemauan badan, sehingga stamina menambah waktu kerja masih naik turun dan belum konsisten. Sementara itu, tumpukan kerja terus datang bertambah. Tekanan beban kerja tidak dapat diimbanginya dengan peningkatan stamina dan pembentukan kebiasaan kerja baru yang lebih efektif. Jiwa raganya belum terlepas dari kelelahan. Sukacita belum memenuhi aktivitas kerjanya.
Pada titik ini, kita mendapat kesempatan untuk lebih masuk ke dalam diri, melakukan refleksi, untuk menyadari keberadaan aktualita yang lebih hakiki. Untuk dapat masuk ke dalam diri, diperlukan keadaan hening. Kita dapat menciptakan keheningan dengan cara melakukan jeda, yaitu dengan menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan, mencari tempat untuk tenang menyendiri, dan rileks melepaskan semua ketegangan melalui hembusan dan tarikan napas yang teratur. Melalui napas teratur, kita dapat menajamkan indera untuk merasakan situasi dan kondisi di sekitar, meskipun kita tidak aktif mengamati - menginderanya dan tidak terlibat di dalamnya. Melalui kesadaran pada napas teratur, pikiran kita juga akan lebih jinak, tidak agresif memimpin tindakan pemecahan masalah berasarkan keterdesakan/sinyal bahaya yang ditangkap otak. Melalui kesadaran pada napas teratur, pelan-pelan kita melepaskan kelelahan, ataupun keterikatan diri pada tuntutan pemenuhan tugas, yang tanpa sadar membuat kita lelah. Melalui kesadaran pada napas teratur, cakrawala pandang kita meluas, kondisi penuh desakan seperti “kiamat” kini terlihat harmoni ibarat “surga”. Ada keyakinan dalam hati kecil bahwa semua baik-baik saja. Ada gerakan cinta yang lembut untuk mulai dengan tenang aktivitas yang paling diperlukan dalam penyelesaian tugas. Melalui kesadaran diri pada napas teratur, sikap dan tanggapan kita terhadap situasi yang sama (yaitu sama-sama belum memenuhi standar sempurna), akan menjadi lebih bersifat cinta merawat, daripada  rasa tidak suka dan nafsu memperbaikinya. Energi cinta akan menjaga stamina terlepas dari kelelahan buta yang tidak perlu. Energi cinta akan membantu kita untuk sabar bertekun dan damai bersyukur selama bertekun hingga selesai.     


Sumber: www.vectorstock.com

Jadi, apa yang dapat kita lakukan untuk menghadirkan self-awareness dalam situasi konflik sehari-hari?
1.   Let it flow, ikuti arus yang berjalan:
common sense, vicarious learning, emotional focus solving, problem focus solving, yang tetap saja berakhir pada rasa tak berdaya meski  segala upaya telah dilakukan.
2.   Hentikan sejenak langkahmu sekarang:
pejamkan sejenak matamu yang lelah, rasakan kelelahan seperti sia-sia;
diamlah sejenak bibirmu tak bicara, biarkan kata-kata mematung sementara;
biarkan sejenak pemberontakan rasuki jiwa, dan biarkan dirimu digerakkannya;
hidup memang penuh peluh, untuk siapa saja yang membuatmu penuh;
tapi pernahkah kau berpikir, perlu ada waktu tuk nurani bicara;
jernihkan sejenak pikiran keruhmu, coba sadari manusia yang semakin rapuh;
panjatkan sejenak doa sederhanamu, undanglah Dia masuk ke dalam bingkai hatimu;
rasakan sejenak genggam erat tanganKu, jangan pernah kau abaikan cintaKu (Wiji Tukul).
3.  Loving by serving, cinta merawat yang di hadapan dengan tulus melayani pemenuhan kebutuhan:
Orientasikan diri untuk bertanggung jawab penuh menyelesaikan semua tugas (Yes, I do).
Tangkap tujuan utama, buat skala prioritas kerja berdasarkan dampaknya pada pencapaian tujuan.
Diam (hening) dan bekerjalah. Sabar bertekun dan damai bersyukur.
Doa, meditasi, hening, waktu jeda, akan mengasah pisau kesadaran diri untuk terus hidup dan terus mencinta. 

[MEDIA] NEW MEDIA DAN KEMANDIRIAN BERPIKIR

Oleh: Jeremia Bonifasius Manurung

Media adalah tentang banyak hal. Namun ketika berbicara tentang media, kita tidak bisa menghindari percakapan tentang salah satu fungsi media sebagai alat penyampai pikiran atau ide. Media bukan hanya melaporkan kejadian semata yang berisi akidah 5w dan 1h. Mereka juga menyampaikan ide dan konteks. Ide dan konteks yang coba disampaikan kadang menyelimuti kejadian yang diberitakan, atau kadang malah secara halus disembunyikan di dalam berita. Sebuah berita bisa saja menceritakan kejadian orang meninggal. Namun tentu hal yang ditangkap oleh audiens akan sangat berbeda antara meninggal karena ditabrak atau meninggal karena terorisme. Akan ada ide-ide atau pun konteks yang coba dibangun oleh media denga memanfaatkan kejadian atau peristiwa tertentu.
 
Karena sifatnya yang seperti itu, media dimanfaatkan oleh segelintir orang sebagai senjata ampuh untuk menyebarkan ide tertentu yang menguntungkan mereka. Mereka yang mempunyai media adalah mereka yang mempunyai power. Ini sudah jadi pengetahuan awam. Namun perlu diketahui bahwa power disini adalah netral. Media bisa menjadi sangat baik namun juga menjadi sangat buruk. Beberapa kampanye atau bahkan revolusi bisa dimulai dari media. Di sisi lain, pengalihan isu, penggiringan opini, sampai hoax juga dihasilkan oleh media.

Audiens tidak menyadari  operasi seperti itu. Mereka yang mengoperasikan media mengerti bahwa manusia adalah makhluk emosional. Manusia cenderung terlalu cepat untuk percaya atau tidak percaya pada hal-hal yang membuat mereka cepat merasa senang atau sedih. Dengan menembak dahulu emosi seseorang, media membuat orang tersebut seperti terblok untuk bisa berpikir rasional. Kombinasikan hal ini dengan modal besar yang bisa membuat bombardir ide terjadi secara masif dan frekuensi tinggi, maka media menjadi alat berdaya tinggi.

New Media

Bila kita kuliti lagi, proses penyampaian ide dan konteks dalam media terjadi tidaklah serta merta. Ada proses pengumpulan data, pengolahan, dan kemudian eksploitasi data dalam bentuk analisa yang nantinya disajikan ke publik. Mereka memberikan konteks dan ide memanfaatkan kejadian yang kemudian diolah entah itu secara logis atau seolah-olah logis.

Menurut Zen RS (CEO Narasi) dalam sebuah workshop tentang New Media yang dihelat secara terbatas, New media, atau media baru bukan hanya tentang perubahan bentuk media seperti misalnya dari yang awalnya cetak jadi elektronik. Ia lebih dalam dari itu. New media adalah tentang prilaku baru institusi apapun (tidak hanya media konvensional yang umumnya dicitrakan sebagai penyampai berita) yang bisa menggali atau mengumpulkan data/ide/kejadian, mengolahnya, lalu kemudian mengeksploitasinya dengan cara baru.

Intinya adalah di cara pengumpulan, pengolahan, dan eksploitasi yang  baru. Umumnya, cara baru yang mereka lakukan adalah dengan berbagai teknik terbaru entah itu artificial intelegence, machine learning, atau  software dan aplikasi digital lainnya. Alat-alat itu mereka gunakan sehingga aktivitas-aktivitas di atas bisa mereka kerjakan dengan kecepatan dan dalam skala yang sulit dibayangkan. Dahulu, media memerlukan banyak wartawan untuk menggali informasi. Saat ini, mereka hanya butuh satu orang ahli IT dengan kemampuan di atas rata-rata dan dampak yang dihasilkan bisa berkali lipat dari banyak wartawan digabung sekalipun. Siapa sangka bahwa tim berisi empat orang bisa mengekstrak, mengolah, dan mengeksploitasi informasi hingga bisa memenangkan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat?


Artikel The Guardian yang menjelaskan tentang cara kerja Cambridge Analytica  memanfaatkan data untuk kepentingan kampanye politik.

Cara Kerja New Media

Ada banyak hal baru yang dikerjakan new media jika dibandingkan dengan old media. Pertama cara mendapatkan informasi. New media mendapatkan informasi dari “pencurian data” melalui berbagai cara.  Mereka “membajak” akun kita, mengekstraksi semua data bahkan data teman kita juga.
Dalam menganalisa data, saat ini sudah ada artificial intelligence dan machine learning yang membuat data bisa diolah dengan kecepatan tinggi dan dalam skala yang amat besar. Banyak sekali informasi dan keputusan yang bisa dihasilkan dari situ.

Ujungnya, eksploitasi data bukan hanya tentang analisis dari data yang coba ditampilkan atau disajikan ke konsumen. Namun sampai konsumen itu sendiri dijadikan sasaran kesimpulan analisis. Mereka bisa menarget mana konsumen yang harus disodorkan dengan artikel yang mana dan mana konsumen yang harus disodorkan artikel yang lainnya.

Mengakali New Media

Mengapa kita perlu mengakali new media? Memangnya apa yang membuat mereka harus diakali?
Menggunakan new media, kita kan keranjinga  sesuatu yang di-setting oleh orang lain, informasi privat  menjadi barang yang mudah diketahui, dan yang paling penting adalah proses pengambilan keputusan yang tak lagi didasarkan pemikiran yang mandiri. Tentu kita tidak mau menjadi “korban” dari itu semua.

Sebagai contoh, tim yang memenangkan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikt sebelumnya juga bekerja mengampanyekan brexit.  Setelah diadakan referendrum Brexit, pencarian “What is Brexit” dan “What is Eurpean Union”  menjadi  top google trend di Inggris Raya. Bisa disimpulkan bahwa propaganda lebih dulu masuk ke orang-orang Inggris sebelum mereka  benar-benar berpikir dan mengambil keputusan matang tentang Brexit.


Tren pencarian google di Inggris Raya.


Sebelum masuk ke dalam aksi untuk mengakali new media kita harus paham dulu apa yang mereka lakukan. Bagaimana mereka bisa mengekstraksi data pribadi kita dan bagaiamana mereka bisa membombardir kita dengan informasi yang bertujuan khusus untuk membuat mereka bisa mencapai kepentingan mereka.

Mereka ingin kita mengambil keputusan berdasarkan emosi. Mereka ingin kita berpikir sesuai koridor yang mereka siapkan melalui bombardir informasi dalam skala yang masif dan frekuensi tinggi. Hal itu membuat kita membiarkan emosi mengambil alih kendali pengambilan keputusan dan mengesampingkan kesadaran. Ketika kesadaran kita sudah hilang, keputusan yang kita ambil tidaklah merdeka. Keputusan tersebut terikat pada hal-hal remeh dan tidak utama.

Untuk menjaga kesadaran pertama-tama kita perlu mandiri dalam berpikir. Kita perlu tahu cara kerja new media yang membuat kita tidak mandiri dalam berpikir. Ketidakmandirian kita dalam berpikir bisa diruntuhkan oleh New Media karena mereka paham diri kita. Melalui data yang mereka dapatkan entah itu secara legal atau ilegal, mereka jadi tahu tiap-tiap orang yang mereka target.

Di sini kita harus mengerti bagaimana menjaga privasi kita sehingga mereka tidak seenaknya bisa mengekstraksi data kita. Lebih dalam, lagi kita perlu juga pelajari algoritma-algoritma pengambilan data yang mungkin mereka lakukan. Intinya, kita perlu menjadi lebih pintar dari teknologi yang dipakai para media baru ini.

Kemudian, yang paling penting, kita perlu benar-benar tidak membiarkan emosi menjadi kendali diri yang menyetir bagaimana kita mengambil keputusan. Sesuatu yang membuatmu senang, sedih, atau marah terlalu cepat justru patut kamu ragukan. Tentu rasa-rasa di atas akan sangat sulit dikendalikan. Kita tidak bisa memilih emosi apa yang kita rasakan karena emosi adalah hal yang spontan. Namun kita bisa memilih aksi apa yang mau kita lakukan dengan emosi tersebut. Dengan kesadaran dan sedikit menahan diri untuk disetir emosi, kita bisa kembali ke alam rasio sebelum memilih tindakan yang mau kita ambil.

Terakhir, apalagi bila keputusan yang kita ambil cukup penting dan akan memengaruhi hidup kita, bolehlah kita menghabiskan sedikit lebih banyak waktu untuk melakukan check and recheck. Cari berbagai macam informasi dari sumber kedua, ketiga, dan seterusnya. Kalau perlu kita coba lihat cara pandang  yang bahkan kita tidak sukai sama sekali. Untuk bisa melengkapi aksi ini, kita juga perlu banyak belajar tentang sesat pikir (logical fallacy) dan cara pengambilan keputusan secara abduktif, induktif, atau deduktif. Dengan demikian kita punya kemampuan atau sense yang lebih lengkap untuk menentukan mana yang lebih bisa dipercaya atau tidak.

Memang tidak mudah. Namun kita bisa mulai melatih diri dari hal yang sederhana. Ketika kita bisa mendapatkan informasi dengan mudah dan ketersediaan informasi yang teramat melimpah seperti saat inilah, kita perlu sangat meningkatkan kemampuan kita agar kita bisa mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan valid, rasional, dan mandiri.

[JALAN-JALAN] TRADISI DAN FILOSOFI MASAYARAKAT BELU TENTANG KEMANDIRIAN DAN SELF AWARENESS

Oleh: Eventus Ombri Kaho


Tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan daerah merupakan sebuah kekayaan hakiki yang dapat membentuk karakter dasar kehidupan manusia. Kebudayaan manusia mengandung berbagai  nilai luhur yang dapat menentukan eksistensi manusia itu sendiri. Melalui sebuah budaya, pribadi dan cara hidup manusia bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang arif, bijaksana, bermoral, dan bernilai. Dalam hal ini, boleh dikatakan bahwa kebudayaan dapat  melahirkan sekaligus menunjukkan harkat, derajat, dan martabat manusia sebagai pribadi  yang unik dan berbeda dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Identitas itulah yang menentukan siapa sebetulnya subyek tersebut. Identitas itu pun turut memengaruhi kemandirian dan self-awareness dari pribadi tersebut misalnya dalam kebudayaan orang Timor yang menjunjung tinggi budaya persahabatan penyerahan diri kepada Yang Ilahi dalam dinamika hidup. Mereka mandiri dengan identitas itu, tanpa campur tangan atau doktrinisasi dari mana pun. Maka wajar jika ada klaim bahwa ini adalah suatu budaya yang original di dalam masyarakat Timor dan Belu pada umumnya.

Masyarakat Belu, menyadari relasi antara manusia dengan Rai Klaran, Rai Kukun dan Ama Maromak. Kesadaran tersebut membentuk perilaku mandiri yang tercermin dalam adat istiadat yang mereka jalani.

Orang Belu yang tinggal di pulau Timor memiliki budaya dan kepercayaan asli. Maka mereka selalu berusaha dan berjuang untuk menciptakan suatu kehidupan yang baik, sejahtera, dan bahagia dalam dinamika keharmonisan hidup. Hal ini tampak dalam penghayatan konsep Tri-relasi yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka. Konsep Tri-relasi itu yakni pertama, orang  Belu hingga saat ini sangat menjaga dan menjunjung tinggi relasi dengan sesamanya yang ada di sekitar mereka. Relasi ini terjadi di dunia nyata yang disebut mikrokosmos atau Rai Klaran.[1]Kedua, orang Belu menjalin relasi yang harmonis dengan alam semesta dan roh-roh nenek moyang yang diyakini ada dan mendiami dunia yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra manusia. Dunia ini dalam bahasa Tetun Timor disebut  Rai Kukun.[2] Ketiga, mereka menjalin relasi dengan Wujud Tertinggi atau Ama Maromak yang berada di dunia sakral, jauh di atas lapisan langit ketujuh. Dunia ini disebut sebagai makrokosmos yang dalam Bahasa Tetun Timor disebut Lalean.[3]

Konsep tersebut dilatarbelakangi oleh sebuah filosofi kata Belu itu sendiri. Kata Belu berarti sahabat, teman, kawan. Masyakat suku Belu adalah sekelompok orang yang mendiami Kabupaten Belu yang merupakan sebuah kabupaten dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timor (NTT). Wilayah Kabupatan Belu ini terletak pada bagian tengah pulau Timor yang sekarang ini telah terpecah menjadi dua wilayah di bawah negara berbeda, yakni daerah Timor Barat, adalah wilayah negara Indonesia dan daerah Timor Timur, yang sekarang ini dikenal dengan sebutan Negara Timor Leste. Wilayah Belu tersebut hingga saat ini dibagi menjadi empat rumpun besar berdasarkan suku-suku yang memiliki kesamaan budaya dan tradisi–tradisi tertentu. Ada empat rumpun budaya terbesar yang mendiami pulau Timor yang menggunakan rumpun bahasa Tetun. Keempat rumpun besar itu sebenarnya dibagi berdasarkan bahasa daerah yang dimilikinya, yakni daerah yang berbahasa Tetun (Ema Fehan), berbahasa Bunak (Marae), berbahasa Kemak,  dan berbahasa Dawan (khususnya Dawan R Manulea). Meskipun di Belu terdapat empat bahasa daerah, namun bahasa Indonesia telah menjadi bahasa yang pemersatu yang digunakan dalam kehidupan sehari–hari. Bahasa Tetun merupakan bahasa universal yang dapat diterima dan digunakan oleh 90% penduduk di kabupaten Belu dan Malaka. Bahkan bahasa Tetun ini pun  digunakan juga oleh masyarakat di negara Timor Leste. Berkat bahasa Tetun inilah maka orang Belu dan Malaka dapat disebut sebagai Ema Tetun.

Allah, alam, dan manusia merupakan sebuah konsep budaya yang membuat kata “Belu itu kian utuh dan integral. Konsep Tri-relasi  dalam masyarakat Belu tersebut memiliki ruh yang dahsyat yang membuat masyarkat Belu selalu percaya bahwa tiga hal tersebut selalu ada di dalam kehidupan sehari hari. Konsep ini bisa diamati pada tungku untuk masak dan tempat untuk menyimpan sesajen atau dalam istilah orang Belu adalah  te’in tula.

Tradisi Hamis Batar pada masyarakat Belu


Kemanusiaan perlu dimurnikan dalam sebuah konsep budaya yang jelas. Ketika saya masih berumur delapan tahun, ibu saya selalu mengingatkan untuk memberikan sesuatu ke orang lain dalam jumlah tiga. Mungkinkah karena itu menyimbolkan tiga elemen itu? Atau karena konsep lain? Pencarian akan makna itu, muncul sebuah pertanyaan yang paling hakiki, yakni apakah saya sanggup untuk melebihi dua aspek lainnya? Konsep Tri-relasi direalisasikan dalam kehidupan kebudayaan. Salah satu tradisi yang setiap tahun dirayakan besar–besaran adalah tradisi hamis batar. Tradisi hamis batar adalah sebuah tradisi yang dilakukan ketika jagung sudah mulai matang dan sebelum menjadi kering, yang harus dipersembahkan kepada para leluhur terlebih dahulu. Praktiknya adalah setiap kepala suku akan berkumpul untuk memutuskan tanggal dan hari yang tepat untuk merayakan tradisi keagamaan itu. Setelah diputuskan kapan akan dilaksanakan, maka langkah selanjutnya adalah membersihkan setiap rumah adat. Ketika tiba hari yang telah ditentukan oleh para kepala suku tersebut, maka setiap orang wajib membawa jagung muda yang layak untuk dipersembahkan kepada para leluhur dan Super Being. Jagung itu kemudian dimasak pakai sasanan  (periuk). Sasanan  yang dimaksudkan di sini adalah sasanan dari tanah liat alias wajan. Alasan utama untuk memakai wajan ini adalah karena masakannya jauh lebih gurih dan tidak ada bahan kimia. Alasan berikutnya ialah karena wajan selalu dibuat dari tanah liat dan tanah sebagai bagian dari kosmologi. Langkah selanjutnya ketika semua masyarakat sudah memasak dan mempersembahkan kepada para leluhur dan Super Being itu, maka saatnya jagung dipersembahkan di setiap kuburan (terutama untuk keluarga) dan setelah disimpan di kuburan, semua orang punya hak untuk mengambil jagung muda yang tadi dipersembahkan di kuburan tersebut. Jagung yang dipersembahkan masih dalam keadaan mentah. Setiap orang yang sudah diinisiasi dalam ritual di rumah adat wajib mengikuti acara hamis batar. Karena proses inisiasi itu melibatkan para leluhur, maka perjanjian itu harus cara ini, maka mereka tidak boleh makan jagung muda selama masa di mana jagung masih muda.

Uma mane, rumah adat masyarakat Belu, tempat pelaksanaan tradisi Hamis Batar

Konsep ini membuat orang Belu pada umumnya menjadi pribadi–pribadi yang semakin tahu siapa identitas mereka. Ada dua aspek refleksi yang paling penting, yakni:


1.      Aspek personal-komunal

Apa yang dimaksud  dengan aspek personal? Maksud utama dari aspek personal-komunal tersebut adalah sikap untuk mempertahankan identitas kebudayaan di tengah arus modern yang semakin canggih sekaligus menghilangkan identitas siapa aku sebenarnya. Pluralitas membuat setiap individu semakin tidak percaya dengan budayanya, terutama identitas yang melekat pada dirinya. Dengan kata lain kemunduran atas pengakuan identitas itu semakin menghilangkan sebuah pengakuan akan identitas yang seharusnya sudah mandiri. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh masyarakat Belu. Kesadaran diri dan kemandirian menjadi sebuah pilar besar dari sebuah kebudayaan. Orang Belu punya kesadaran yakin dan percaya bahwa hidup mesti ada dasar yang kuat baik itu kemandirian, kesadaran diri, atau kepekaan. Aspek-aspek itu pada akhirnya akan menciptakan suatu kehamonisan dalam dinamika hidup. Dan itulah sesungguhnya hidup. Makna kemandirian bagi orang Belu adalah ketika identitas mereka melebur dalam keberagaman tanpa menghilangkan identitas mereka. Kesadaran diri bahwa identitas mereka unik dan berbeda dengan yang lain menjadi aspek untuk menciptakan sebuah relasi yang kemudian mereka sebut sebagai belu yang artinya sahabat.

2.      Aspek antropologis-relijius

Aspek antropologis dan relijius menjadi dua faktor yang juga penting di dalam kebudayaan orang Belu. Sudah seharusnya setiap kebudayaan memiliki dua aspek ini. Kesadaraan diri orang Belu akan kehadiran orang lain dan Super Being menjadi sangat penting di dalam dinamika kehidupan sehari-hari.  Kemandirian mereka sebagai subjek akhirnya tampak dalam perilaku mereka setiap saat. Sedangkan kesadaran diri yang tampak nyata adalah dalam kegiatan kebiasan relijius dan konsep yang dihayati, yakni bahwa kosmos adalah aku dan aku adalah kosmos. Maka kepemilikan kosmos adalah sebuah korelasi panjang yang saling menyatu.

Masyarakat Belu  kaya akan sebuah kebudayaan yang berlimpah makna filosofis. Semua aspek kehidupan selalu dikaitkan dengan aspek filosofis. Semua dapat dijelaskan dengan rasional. Bukankah itu kinerja dari filsafat? Orang Belu kini tidak lagi menjadi objek tapi menjadi subjek di dalam mempertontonkan kebudayaan yang kaya akan nilai antropologisnya sekaligus aspek relijiusnya. Refleksi yang mendalam ini membuat orang Belu menjadi human being yang memiliki perjuangan yang tak kunjung selesai. Mereka masih bisa bertahan dengan konsep tersebut walaupun dunia semakin modern, dan egoisme yang mulai merasuki kehidupan banyak orang.  . Orang Belu tetap menjadikan kata belu sebagai sebuah identitas untuk menjalin kerjasama yang baik, serta rasa perhatian terhadap sesama, lingkungan, dan  Super Being. Zaman modern menamai konsep ini sebagai kolaborasi.



[1] Rai Klaran  terdiri dari dua suku kata  Rai  yang artinya tanah dan Klaran  yang artinya tengah.  Rai Klaran  adalah sebutan untuk Bumi, tempat hidup dan dunia hidup manusia yang nyata. Di sebut sebagai Rai Klaran  karena memakai konsep “ langit-bumi- di bawah bumi “.
[2] Rai Kukun  kalua ditrejamahkan secara harafiah berarti suatu dunia yang gelap. Tetapi dalam konteks Bahasa kepercayaan asli orang Belu, Rai Kukun  dipahami sebagai dunia yang berbeda dengan dunia manusia. Dunia ini tidak diplihat dengan panca indra manusia.  Rai Kukun  diyakini sebai tempat berdiamnya makhluk-mahkluk halus seperti jin – jin,  dan roh – roh arwah nenek moyang yang telah meninggal dunia.
[3] Laean adalah suatu dunia yang melebihi  Rai Klaran  dan Rai Kukun. Lalean  adalah suatu dunia yang berada di atas sana dan dihuni oleh Wujud Tertinggi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...