[MASALAH KITA] Aktivis dan Hobi : Menjawab Panggilan Tubuh dan Jiwa

Oleh: Navita K. Astuti

Membaca - salah satu jenis hobi
Hobi didefinisikan sebagai aktivitas menyenangkan yang dijalani pada waktu senggang. Meski tak sedikit juga yang justru menekuni hobi sebagai profesi utama. Hobi dijalani untuk menjawab suatu panggilan tertentu yang berasal dari jiwa atau tubuh seseorang. Panggilan tersebut dapat kita terjemahkan sebagai kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk merasa rileks, gembira, nyaman dan bebas. Kebutuhan seseorang untuk menjalani hobi layaknya manusia yang membutuhkan asupan oksigen dari udara untuk menyambung hidup mereka. Namun, sifatnya tentu berbeda antara kebutuhan untuk melakukan hobi dengan kebutuhan akan oksigen atau asupan gizi tertentu bagi tubuh. Ketika pada suatu kurun waktu tertentu manusia tidak menjalani hobi, ia tetap hidup dan mampu beraktivitas seperti biasa. Namun, hidup yang dijalani tanpa diwarnai dengan aktivitas hobi sama sekali, terasa kurang lengkap.

Hidup lengkap dan utuh adalah hidup yang seimbang antara pemenuhan hak dan kewajiban. Diri yang rileks, gembira, nyaman adalah kebutuhan tubuh dan jiwa sekaligus hak setiap orang yang dapat dipenuhi dengan kegiatan hobi. Bagaimana upaya pemenuhan kebutuhan tubuh dan jiwa yang dituangkan dalam aktivitas hobi ini ditanggapi dan diperhatikan?

Artikel ini akan menguraikan bagaimana para aktivis menjawab kebutuhan akan hobi. Kiranya apa yang dialami oleh aktivis yang menjadi narasumber dalam artikel ini ketika menjalani hobi dapat menjadi inspirasi bagi diri pembaca dalam menjawab kebutuhan diri masing-masing akan hobi.

Pentingnya Menjalani Hobi

Levi Anti, seorang psikolog sekaligus ibu dari 4 anak, menyatakan bahwa olahraga zumba dan berjalan kaki, adalah hobinya. Ia melakukan olahraga tersebut dengan tujuan agar merasa nyaman secara fisik dan emosional, sehingga siap sedia dan lancar dalam menjalani tugas-tugas harian. Ia menganggap mengalokasikan waktu untuk menjalani hobi olahraga ini penting, karena ketika aktivitas tersebut berhenti dilakukan, akan berdampak pada kondisi tubuh yang merasa kurang fit, sehingga menghambat kelancaran aktivitas rutin lainnya.

Bahrul Fuad, staf dari Pusat Kajian Perlindungan Anak UI memiliki hobi mendengarkan musik dan menulis. Dengan menjalani hobi tersebut, ia dapat mengeluarkan dan menstrukturkan isi pikirannya ke dalam sebuah tulisan yang harapannya dapat dibagikan kepada orang lain. Mendengarkan musik dilakukannya untuk memberi relaksasi pada pikiran ketika ia sedang mentok dalam melakukan aktivitas hariannya. Bahrul menganggap penting menjalani kegemarannya tersebut, karena turut mendukung dirinya untuk menguraikan kekusutan maupun kelelahan yang dialami saat beraktivitas.

Merajut
Helen (bukan nama sebenarnya), seorang sekretaris di sebuah lembaga pelayanan pendidikan di Jakarta, memiliki hobi merajut, membaca dan menulis. Baginya, membaca itu seperti bernapas. Sebagian besar waktu luangnya ia gunakan untuk membaca. Selain itu, ia memiliki hobi merajut. Ketika Helen menganggap sebuah dukungan perlu dilakukan, maka ia pun menulis. Helen menganggap penting menjalani hobi-hobi tersebut. Dengan membaca, ia dapat mempertajam wawasan yang menjadi minatnya. Dengan merajut, ia mendapatkan ketenangan serta keseimbangan di dalam dirinya yang selama ini menjalani aktivitas rutin dan monoton. Pola-pola rajutan, bagi Helen, adalah tantangan untuk ditaklukkan dan rasanya menyenangkan menemukan bahwa pola yang tampak rumit menghasilkan rajutan yang indah. Dari situ, ia merasa senang mengetahui bahwa dirinya masih bisa berkarya dan mampu bertekun menghasilkan suatu karya.

Selly Agustina, seorang mahasiswa pasca sarjana dari Universitas Padjajaran memiliki hobi memasak. Ia memasak untuk relaksasi serta memberi waktu untuk dirinya sendiri. Ia menganggap hobinya itu penting untuk dijalani, karena setelah segudang kegiatan dilakukan, ia butuh untuk mengendapkan semua pengalamannya. Dengan memasak, ia mendapatkan waktu personal untuk diam dan mendapatkan ruang untuk merefleksikan seluruh aktivitasnya.

Kukuh Samudra, seorang mahasiswa S1 tingkat akhir, memiliki hobi olahraga tenis. Dengan berolahraga tenis, ia merasa senang dan bebas, selain juga mendapatkan kebugaran. Namun demikian, olahraga tenis baginya tidak hanya sekedar kegiatan mencari keringat atau bersenang-senang. Akan tetapi, tenis membantunya untuk membebaskan diri dari beban pikiran, serta melatih akal dan pengendalian emosi.

Testimoni kelima aktivis tentang manfaat dari hobi yang mereka jalani memperkuat pendapat tentang pentingnya menjalani hobi. Menjalani aktivitas yang digemari turut membantu mereka menyeimbangkan hidup serta melancarkan diri untuk aktivitas-aktivitas lainnya.

Ketika Harapan Tak Sesuai Kenyataan

Ketika hobi dianggap hal yang dibutuhkan untuk dilakukan, maka setiap orang ingin meluangkan waktu untuk melakukannya. Setiap orang mengharapkan memiliki waktu cukup untuk menjalani hobi di sela-sela aktivitas lainnya yang dijalani. Namun, adakalanya, aktivitas lainnya cukup menyedot perhatian dan waktu, sehingga kegiatan hobi terpaksa dikesampingkan. Ketika hal ini terjadi, bagaimana dinamika para aktivis ini menghadapinya? Apa strategi mereka?

Levi Anti, mengalami pertentangan antara kegiatan olahraga yang direncanakan dengan kegiatan lainnya. Semuanya sama-sama ingin dilakukan. Tetapi, tentu ia harus memilih mana yang harus didahulukan. Di saat itu, Levi Anti berpendapat, monolog jujur perlu dilakukan, kegiatan mana yang lebih penting untuk dilakukan. Ketika hobi disadari sebagai sebuah kegiatan yang penting dibandingkan kegiatan yang lainnya, maka prioritas kegiatan akan secara alamiah bergulir memberi tempat untuk pelaksanaan hobi.

Bahrul menyatakan momen menulis seringkali terlewat begitu saja karena kegiatan lain. Ada sedikit rasa sesal karena melewatkan momen menulis, tetapi ia tidak berhenti. Ketika ada setitik waktu di sela kesibukan, ia membuat coretan pada catatannya untuk mengeluarkan ide-ide tulisan yang mengalir di kepala. Di lain waktu, ketika kesibukannya sudah reda, ia akan kembali pada catatan coretannya tersebut dan mengolahnya kembali untuk menjadi suatu tulisan. Helen tidak pernah secara ekstrim mengalami kesulitan untuk melaksanakan hobinya membaca, merajut dan menulis. Baginya, sesibuk apapun dirinya melakukan aktivitas dan kewajiban yang tidak terkait hobi, ia selalu menemukan kembali waktu untuk melaksanakan kegemarannya membaca, merajut dan menulis. Hal ini disebabkan karena dirinya telah menjadikan kegemarannya tersebut sebagai bagian dari dinamika hidupnya.

Selly, melaksanakan hobinya memasak ketika seluruh kewajiban dan aktivitas rutinnya terselesaikan. Dengan pembagian yang tegas antara kewajiban dan hobi memasaknya, Selly termotivasi untuk menuntaskan pekerjaannya, karena sesudah itu ia bisa menghadiahkan waktu bagi dirinya sendiri dengan kegiatan memasak.

Kukuh mengalami kekacauan pada tubuhnya ketika lama tidak melakukan olahraga. Ia merasa lemas, mudah lelah dan tidak fokus dalam berpikir. Ketika tubuhnya memberi sinyal demikian, maka ia mengusahakan untuk segera berolahraga. Untuk mengantisipasi kekacauan yang terjadi, maka ia mengalokasikan waktu untuk tenis satu kali dalam seminggu, tanpa diganggu gugat. Jika pada waktu yang direncanakan ia tidak bisa melaksanakan olahraga tenis, maka ia akan mencari waktu lain untuk melaksanakan olahraga tenis.

Dari penuturan kelima aktivis tentang kendala yang dialami dalam menjalani hobi, ternyata ada beragam upaya yang dilakukan untuk tidak melupakan atau meninggalkan hobi begitu saja. Terlihat bahwa menjalani hobi bagaikan melaksanakan sebuah janji atau komitmen bagi diri sendiri. Ia juga memberi perasaan bermakna sebagai seorang manusia, melalui karya atau aktivitas yang dihasilkan. Bahwa tubuh dan jiwa ini perlu diberi siraman perawatan, layaknya tanaman yang perlu diberi pupuk agar tumbuh sehat dan subur.

Penutup

Meskipun mungkin terlihat sebagai aktivitas yang kurang serius, hobi merupakan kegiatan penting untuk menopang keseimbangan diri seseorang. Menjalani hobi merupakan tanda terima kasih dan sayang kita pada jiwa dan tubuh kita masing-masing. Terpenuhinya kebutuhan jiwa dan tubuh melalui hobi memberi kesempatan bagi seseorang untuk memperbaharui diri dan mengisi diri dengan semangat yang baru untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari. Kita perlu ingat bahwa kita pun perlu peka pada kondisi tubuh dan jiwa kita bilamana ia membutuhkan ‘perawatan’ melalui aktivitas kegemaran. Kendala untuk menjalani hobi tak jarang hadir melalui aktivitas yang terlihat lebih mendesak dan penting. Memprioritaskan kegiatan berhobi untuk menjawab panggilan tubuh dan jiwa, atau mengabaikan panggilan tersebut untuk mengedepankan hal-hal yang dianggap lebih penting, berpulang kembali kepada pilihan hidup kita masing-masing. Mana yang kita pilih untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...