[MEDIA] 71 Tahun Indonesia Merdeka: Narasi dalam Buku

Oleh: Kukuh Samudra 

Kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para pahlawan terdahulu. Mereka berjuang tidak hanya dengan senjata di tangan. Senjata mereka bukanlah tipe yang sekali tusuk musuh mati seketika, atau sekali tembak puluhan peluru berdesir. Waktu tidak membuat senjata ini berkarat. Senjata tersebut tidak lain adalah buku.

Indonesia Menggugat

Seorang insinyur lulusan anyar yang mendapatkan kemewahan pendidikan tinggi diliputi kegelisahan atas nasib bangsanya. Setelah menamatkan studinya di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THB), dia bersama kawan-kawannya mendirikan kelompok diskusi yang dinamakan Algamenee Studieklub. Pemuda tersebut tidak lain adalah Sukarno.

Diskusi rutin mereka adakan dengan tema-tema seputar politik dan kebangsaan. Belanda tidak senang, lantas menangkap mereka dengan dalih mengancam ketertiban dan ketentraman.

Sukarno, yang kelak dikenal sebagai Proklamator kemerdekaan Indonesia bersama tiga orang kawannya yang lain: Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember 1929. Dalam rentang dua bulan, Sukarno harus menulis sendiri pembelaannya. Sang istri, Inggit Ganarsih, berperan besar dalam upaya pembuatan pembelaan tersebut dengan menyuplai bahan bacaan dan alat tulis. Buku dan alat tulis disembunyikan oleh Inggit di balik kebayanya. Sukarno paham betul, latar belakang mereka ditangkap adalah alasan politik. Dasar penangkapan mereka adalah UU pasal 169 tentang penyebaran kebencian terhadap penguasa. Pasal yang sering dijuluki sebagai “pasal karet” karena memiliki ruang penafsiran yang begitu luas sehingga sering digunakan penguasa untuk menjatuhkan lawan politiknya. Sukarno menuliskan dalam pleidoinya : Tak usah kami uraikan lagi, bahwa proses ini adalah proses politik; iya, oleh karenanya di dalam pemeriksaannya, tidak boleh dipisahkan dari soal-soal politik yang menjadi sifat dan azas pergerakan kami, dan jang menjadi nyawanya fikiran-fikiran dan tindakan-tindakan kami . Sukarno ditangkap pihak Belanda karena ditengarai hendak merencanakan kudeta bersenjata. Selain Sukarno terdapat 40 aktivis lain yang ditangkap oleh Belanda. Padahal saat terjadi penangkapan, jelas mereka tidak memiliki senjata barang golok maupun pistol.


Amboi! Golok, bom dan dinamit! Kami dituduh golok-golokan, bom-boman dan dinamit-dinamitan! Seperti tidak ada senjata yang lebih tajam lagi daripada golok, bom dan dinamit! Seperti tidak ada senjata yang lebih kuasa lagi daripada puluhan kapal perang, ratusan kapal udara, ribuan, ketian, milyunan serdadu darat! Seperti tidak ada senjata semangat lagi, yang, jikalau sudah sadar dan bangkit dan berkobar-kobar di dalam kalbu rakyat, lebih hebat kekuasaannya dari seribu bedil dan seribu meriam 

Dalam pembelaannya, Sukarno menyampaikan argumen yang berkaitan dengan politik ekonomi pemerintah Belanda di Indonesia. Pada dasarnya politik ekonomi yang dilakukan oleh Belanda dan negara-negara Eropa lainnya berupa imperialisme. Sukarno secara garis besar membagi imperialisme menjadi dua, yaitu imperialisme kuno dan imperialisme modern. Berdasarkan rentang waktu, imperialisme kuno adalah praktek imperialisme yang berkembang sebelum abad 19, sementara imperialisme modern adalah yang berkembang setelah itu.

Perbedaan antara imperialisme kuno dengan modern tidak lain adalah teknik pemerluasan kapital. Praktek imperialisme tua dicontohkan dengan Kongsi Dagang Belanda, VOC. Mula-mula mereka memperkenalkan diri ingin berdagang, hingga berujung pada pengerukan besar-besaran hasil bumi untuk dijual ke luar negeri. Bumiputera diminta untuk bekerja keras dengan upah serendah-rendahnya, sementara semua keuntungan masuk ke dalam kantong para Meneer.

Praktek imperialisme modern tidak lain adalah anak dari kapitalisme modern. Sementara kapitalisme modern sendiri tidak dapat dilepaskan oleh hadirnya revolusi industri di Eropa.

Revolusi industri telah memungkinkan manusia untuk memproduksi barang secara masal. Dalam rentang waktu tersebut ekonomi Eropa mengalami kemajuan yang sangat pesat. Namun, masalah timbul ketika pertumbuhan ekonomi mulai melambat. Eropa membutuhkan 'pasar' baru. Sasarannya adalah negara-negara dengan perekonomian yang lemah. Buruh dibayar dengan biaya murah agar mendapatkan keuntungan maksimal. Kapital pada akhirnya bergerak, menjalar, mencengkeram negara-negara berkembang.

Lantas apa perbedaan dari imperialisme tua dengan imperialisme modern? Bagi Sukarno sendiri keduanya tidak banyak berbeda.

Imperialisme-tua, sebagai yang kita alami dalam abad-abad sebelum bagian kedua abad ke 19, imperialisme tua dalam hakekatnya adalah sama dengan imperialisme modern: nafsu, keinginan, cita-usaha, kecenderungan, sistem untuk menguasai atau memengaruhi rumah tangga negeri lain atau angsa lain, nafsu untuk melancarkan tangan keluar pagar negeri sendiri. Sifatnya lain. Azas-azasnya lain, penglahirannya lain, tapi hakekatnya sama!

Pembelaan Sukarno lantas dibukukan dan dikenal dengan judul "Indonesia Menggugat". Aksi Massa dan Bebas dari Pembangunan: Ide yang Mengupas Kapitalisme dan Imperialisme dalam Dua Zaman.

Aksi Massa

Empat tahun sebelum Sukarno melayangkan gugatannya di Landraad te Bandung (Pengadilan Negeri Bandung, sekarang dikenal sebagai Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan No. 5), seorang Indonesia lain menulis ihwal yang sama tentang imperialisme. Orang yang dimaksud adalah Tan Malaka, seorang bapak bangsa yang namanya kerap terlupakan akibat praktek rekayasa sejarah oleh rezim penguasa.

Menurut Tan Malaka dalam bukunya yang berjudul Aksi Massa (1926), imperialisme dibedakan menjadi 4 yaitu : a) Imperialisme biadab, yakni menghancurkan sekalian kekuasaan politik bumiputra dan menjalankan pemerintahan yang sewenang-wenang, misalnya adalah Spanyol di Filipina. b) Imperialisme autokratis, yakni yang hampir tak berbeda dengan yang tersebut pasal a seperti Belanda. c) Imperialisme setengah liberal, yakni imperialisme yang memberikan kekuasaan yang sangat terbatas kepada bumiputra yang berkuasa (raja-raja atau kepala negara yang turun-temurun seperti Inggris di India). d) Imperialisme liberal, yakni imperialisme yang memberikan kemerdekaan sepenuhnya kepada tuan tanah yang besar serta kepada borjuasi bumiputra yang mulai naik, misalnya adalah imperialisme Amerika di Filipina.

Sementara dari segi pemerasan ekonomi, modelnya dibedakan juga menjadi 4 :

a) Perampokan terang-terangan, dahulu dilakukan oleh Portugis dan Spanyol.
b) Monopoli, yang dalam praktiknya sama dengan perampokan, masih terus dilakukan oleh Belanda di Indonesia sampai sekarang (± tahun 1926, peny.)
c) Setengah monopoli, mulai dilakukan oleh Inggris di India
d) Persaingan bebas, mulai dilakukan oleh Amerika di Filipina.

Sosok Tan Malaka barangkali tidak terlalu terkenal. Dalam buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia sosok ini disebut mirip legenda. Nama Tan Malaka begitu terkenal di kalangan para pejuang kemerdekaan. Dia telah menulis banyak brosur yang berisi ide-ide perjuangan. Namun, sosok fisiknya tidak pernah tampak. Dua puluh tahun dia berkelana, puluhan nama samaran digunakan sampai-sampai dia merasa aneh ketika suatu saat perlu memperkenalkan diri dengan namanya sendiri.

Dalam Aksi Massa, Tan Malaka mengkaji pergerakan di berbagai negara, terutama di Asia Selatan dan Tenggara, yang kala itu berjuang melawan kekejian struktural para imperialis. Salah satu negara adalah India. Lain Indonesia, India adalah korban dari imperial Inggris. Seperti yang telah dijelaskan, bentuk penjajahan yang dilakukan oleh Belanda dan Inggris pun berbeda. Penjajahan yang dilakukan oleh Belanda pada dasarnya adalah pemerasan keringat sekering-keringnya. Inggris pun bukannya tidak memeras kekayaan alam India, tapi mereka menggunakan cara yang lebih halus.

Akibat Revolusi Industri, perekonomian Inggris maju pesat. Namun, pasar mereka lama-kelamaan mengalami keterbatasan. Lantas mereka menjajah India dan memberlakukan sistem monopoli di mana setiap warga India wajib membeli produk-produk Inggris dengan harga yang setinggi-tingginya. Perekonomian yang mandiri dikendalikan, produk dalam negeri India justru diekspor, sedangkan pribumi dilarang untuk membelinya.

Bebas dari Pembangunan (Staying Alive)

Enam puluh tahun setelah Aksi Massa dituliskan dan Indonesia Menggugat dibacakan, seorang intelektual India bernama Vandana Shiva menuliskan buku berjudul Staying Alive (terjemahan oleh Yayasan Obor Indonesia menjadi Bebas dari Pembangunan). Pemikirannya tampak memiliki benang merah baik dengan Sukarno maupun Tan Malaka. Hal ini dapat dipahami mengingat mereka berasal dari negara yang sepanjang usianya berhadapan dengan upaya-upaya imperialisme.

Vandana Shiva dapat dikatakan menjalani era 'yang berbeda'. Konteks dan nuansa yang dialami berbeda. Dia lahir dan besar ketika bangsanya telah lepas dari penjajahan. Namun sisa-sisa imperialisme pun tetap tampak. Dia menjalar semakin luas, namun lebih halus, lebih tidak kentara.

Akar masalah sosial dan ekonomi, bagi Shiva, merupakan akibat dari kapitalisme. Namun dengan menarik lebih jauh ke belakang, Shiva menyatakan bahwa kapitalisme tidak bisa dipisahkan dengan masalah gender. Kapitalisme telah memisahkan perempuan dari bagian kerjanya. Pengelolaan air, hutan, dan sumber daya alam coba dipisahkan dari perempuan. Pada akhirnya, kekayaan alam dipandang sebatas sebagai sumber daya yang dapat dikuasai sepenuhnya. Kapitalisme tidak pernah mengakui sebagai contoh kasih sayang pada alam, penanaman kembali hutan, atau sifat 'pasif' perempuan. Hal-hal semacam itu dianggap tidak penting karena tidak menghasilkan keuntungan kapital. Mentok kapitalisme menganggap itu penting, tapi tidak pernah memberikan penghargaan sepantasnya Sekali lagi jika tidak menguntungkan, mengapa perlu dihargai?

Rentang masa yang panjang, melalui berbagai sumber penulisan kita bisa melihat bahwa setiap masa memiliki bentuk penindasan yang berbeda-beda, tidak dapat lepas dari semangat zaman. Di masa yang berbeda, di tanah yang terpisah beribu-ribu mil, perlawanan terus didengungkan keadilan terus diperjuangkan.

Sebuah Refleksi Terhadap Fiksi

Gugatan Sukarno pada sidang yang berlangsung di Landraad te Bandoeng tahun 1930 pada akhirnya tetap ditolak. Keputusan hakim tetap menyatakan Sukarno bersalah. Berangkat dari fiksi, kita bisa membandingkan kisah Sukarno dengan pembelaan Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

Pramoedya Ananta Toer, salah seorang sastrawan terbaik Indonesia yang namanya berulang kali masuk dalam nominasi nobel, menulis sebuah roman legendaris. Roman tersebut sering dikenal sebagai "Tetralogi Buru". Latar belakang julukan roman tidak lepas dari fakta bahwa roman tersebut ditulis di Pulau Buru saat Pramoedya menjadi tahanan politik sejak tahun 1973. Jilid pertama tetralogi tersebut berjudul Bumi Manusia.

Tetralogi buru berlatar belakang abad 20 awal. Tokoh utama roman adalah Minke, seorang anak bangsawan Jawa yang memberontak dengan sistem feodal Jawa yang menurutnya penuh kemunafikan.

Minke yang hidup di Surabaya untuk studi di Hogere Burgerschool (HBS, sekolah menengah jaman penjajahan Belanda) jatuh cinta terhadap Annelies, seorang Indo. Ayah Annelies bernama Herman Mellema adalah orang Belanda totok, sementara ibunya yang dikenal orang sebagai Nyai Ontosoroh adalah pribumi. Ayah Annelies meninggal dengan mewariskan sebuah perusahaan pertanian yang sangat besar.

Perusahaan tersebut dikelola dengan cara-cara modern yang hebatnya dilakukan oleh dua orang perempuan: Nyai Ontosoroh dibantu oleh Annelies sendiri. Sesuatu yang begitu luar biasa, mengingat perempuan waktu itu dianggap hanya pantas untuk mengurusi urusan dapur. Nyai Ontosoroh sendiri diceritakan belajar itu semua secara otodidak.

Diceritakan bahwa Herman Mallema sebetulnya telah memiliki anak di Belanda. Hal yang lumrah pada zaman itu seorang Belanda yang datang ke Indonesia meminang seorang gundik meskipun dia di negeri asalnya telah memiliki istri.

Suatu waktu anak Herman Mallema dari istrinya yang sah datang ke Indonesia atas dasar sebuah tugas kerajaan Belanda. Anak itu bernama Maurist Mellema.

Ketika sampai di Indonesia dia bukan tidak tahu bahwa sang Ayah memilki perusahaan perkebunan di Hindia-Belanda. Maurist Mallema suatu hari datang ke kediaman Nyai Ontosoroh. Menglaim perusahan milik sang ayah, meskipun selama ini perusahaan dibesarkan selayaknya ‘anak sendiri’ oleh Nyai Ontosoroh. Polemik terjadi. Nyai Nyontosoh tidak rela perusahaannya lepas begitu saja. Pertarungan akhirnya mencapai meja hijau..

Berbicara soal hukum, status Maurist sebagai warga Belanda totok menempatkan posisinya sangat kuat dalam perebutan warisan. Apalagi mengingat Nyai Ontosoroh hanya gundik, bukan istri yang sah.

Persidangan berjalan alot. Beritanya tersebar di mana-mana, mengingat perusahaan perkebunan yang dipolemikkan bukan perusahaan kecil. Apalagi isu yang diangkap cukup seksi, menyangkut ras dan kasta sosial. Sebuah pertarungan antara pribumi dengan seorang Belanda totok. Persidangan diikuti dengan taat oleh Nyai Ontosoroh. Dia rela membayar pengacara mahal. Setiap pertanyaan hakim dijawab dengan lantang. Pada akhirnya hakim tetap memutuskan perusahaan jatuh ke tangan Maurist Mellema. Namun, menurut Nyai Ontosoroh, masalah utama bukan sekedar menang-kalah. Hukum di Belanda saat itu tidak bisa disebut adil. Hukum tidak berlaku sama di hadapan manusia. Ia masih memiliki tendensi yang tajam berkaitan dengan ras.

Apa yang dikatakan Nyai Ontosoroh setelah dia kalah dan perusahaannya dirampok dengan begitu keji? Dalam dialog antara dirinya dengan Minke, dia berujar, "Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."

Kisah perlawanan Nyai Ontosoroh sekiranya mirip dengan kisah Sukarno. Sebuah perlawanan yang dilakukan oleh pribumi atas hak-hak yang dirampas. Perlawanan yang dilakukan atas dasar kehormatan dan harga diri meskipun tidak membuahkan kemenangan di pengadilan.

Tetralogi Buru adalah fiksi, sementara Indonesia Menggugat adalah fakta. Apa relevansi sebuah fiksi dengan fakta? Di mana posisi karya fiksi atau sastra? Seno Gumira Ajidarma, seorang sastrawan cum jurnalisme, berujar dalam bukunya yang berjudul Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena jika jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan.”

Kenyataan berkata: peredaran Tetralogi Buru dilarang oleh rezim orde baru karena dianggap menyebarkan paham Marxisme-Leninisme secara tersirat. Novel tersebut dianggap membahayakan stabilitas nasional, meskipun secara garis besar kisah yang disampaikan adalah perjuangan seorang bumiputra dalam melawan penjajah Belanda.

Tetralogi Buru baru beredar lagi setelah orde baru tumbang. Namun, selama pemberedelan terjadi suatu fenomena yang menarik. Buku-buku tersebut kenyataannya masih bisa dibaca meskipun harus sembunyi-sembunyi. Para penjual buku menjual di bawah tangan secara hati-hati, para aktivis penentang orde baru ramai-ramai memfotokopi. Membaca diiringi rasa was-was.

Refleksi 71 Tahun Indonesia melalui Aksara

"Menulis adalah bekerja untuk keabadian," Pramoedya Ananta Toer

Secara etimologi, aksara dalam bahasa sansekerta terbentuk dari dua kata, yaitu A yang berarti tidak, dan Ksara yang berarti mati. Aksara berarti sesuatu yang tidak mati. Aksara membuat abadi, entah itu ide, atau pribadi.

Ide bisa tumbuh dari mana saja, dari siapa saja. Dia akan bergerak bagaikan udara. Beberapa ide muncul lantas tenggelam. Beberapa yang lain tetap hidup abadi. Aksara yang membuat hidup tetap bertahan. Dia yang menjaga ide padu meski arah angin berubah.

Sebuah buku juga bisa menjadi dokumen. Sebuah arsip yang memperlihatkan perjalanan lahir-tumbuh sebuah bangsa. Atau bisa jadi, buku adalah yang membuat bangsa tetap bertahan. Dia yang membuatnya abadi.

Aksi Massa, Indonesia Menggugat, Tetralogi Buru, dan yang paling anyar Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara adalah segelintir jejak pejalanan bangsa Indonesia. Bangsa yang memiliki sejarah akan perlawanan terhadap ketidakadilan. Bangsa yang lahir, tumbuh, dan berkembang untuk mencapai cita-cita yang didambakan.

Selamat ulang tahun Indonesiaku.


Referensi: 


  1. Hartono, Rudi. 2014. Soekarno Dan ‘Indonesia Menggugat’. [Online]. Tersedia: http://www.berdikarionline.com/soekarno-dan-indonesia-menggugat/ [4 Agustus 2016]
  2. Malaka, Tan. 2014. Aksi Massa. Yogyakarta: Narasi.
  3. Poeze, Harry. 2009. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Jilid 1: Agustus 1945-Maret 1946. Trans. Hersri Setiawan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
  4. Shiva, Vandana. 1988. Bebas dari Pembangunan. Trans. Hira Jhamtani. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  5. Sukarno. (tanpa tahun). Indonesia Menggugat. Jakarta: Departemen Penerangan RI


[JALAN-JALAN] HOMESCHOOLING DAY Bandung di Gedung Indonesia Menggugat

Oleh: Agustein Okamita


Pada tanggal 13 Agustus 2016 yang lalu, di Gedung Indonesia Menggugat diadakan acara Homeschooling Day. Event ini diselenggarakan secara swadaya oleh keluarga-keluarga homeschooler di Bandung. 

Homeschooling atau yang juga dikenal dengan pendidikan anak berbasis keluarga adalah pendidikan anak-anak di dalam keluarga. Home education/ homeschooling adalah salah satu gerakan yang muncul ketika para orang tua mulai memikirkan bahwa tanggung jawab untuk mendidik anak-anak ada di pundak orang tua. Dengan berbagai alasan dan resiko yang dipertimbangkan dengan matang, akhirnya mereka memutuskan untuk mendidik anak-anak mereka sendiri di dalam keluarga, ketimbang mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah formal, sampai anak dapat memutuskan sendiri apakah mereka akan bersekolah secara formal atau tetap homeschooling. Keputusan ini merupakan salah satu pilihan merdeka bagi orang tua, maupun bagi anak ketika mereka sudah bisa memutuskan sendiri mengenai pendidikan mereka.

Pemilihan tempat untuk acara Homeschooling Day di Gedung Indonesia Menggugat juga bukan merupakan kebetulan. Gedung Indonesia Menggugat dipilih karena sesuai dengan tema Homeschooling Day kali ini, yaitu: Lejitkan Potensi dengan Berkarya dan Berekspresi untuk Mengisi Kemerdekaan. Gedung ini merupakan tempat di mana Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pernah ditahan. Di gedung ini juga beliau membacakan pledoi yang diberi judul “Indonesia Menggugat”, di hadapan Pengadilan Landraad Bandung. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 1930, kurang lebih 86 tahun yang silam. Hingga saat ini Gedung Indonesia Menggugat ini tetap menjadi pusat kegiatan berkebangsaan bagi semua lapisan masyarakat. Selain sesuai dengan tema Homeschooling Day, semangat kebangsaan dan kemerdekaan yang didengungkan oleh Bapak Proklamator ini selaras dengan semangat keluarga pelaku homeschooling, yang meyakini dan mengamini bahwa kemerdekaan memperoleh pendidikan adalah hak dari seluruh rakyat Indonesia.


Panitia anak di stand penjualan makanan dan minuman
Homeschooling Day kali ini menitikberatkan acara pada Pameran dan Bincang para pelaku Homeschooling. Panitia penyelenggara acara Pameran dan Bincang Homeschooling ini terdiri atas para orang tua dan anak-anak homeschooler di Bandung. Mereka bekerja sama mempersiapkan acara mulai dari perencanaan hari terselenggaranya Homeschooling Day. Panitia orang tua merancang konsep acara yang akan diadakan, dan anak-anak membantu dalam berbagai hal teknis, seperti penyiapan ruangan, dekorasi, mengatur peralatan, konsumsi, stand penjualan makanan, dan acara untuk anak-anak kecil (kids corner). Panitia anak-anak dapat bekerja sama dengan baik di antara mereka dan dengan para orang tua, hal ini membuktikan bahwa anak-anak homeschooler adalah anak-anak yang memiliki kecerdasan emosi dan kemampuan berorganisasi yang cukup baik. Hal ni menepis anggapan bahwa anak-anak homeschooling dikuatirkan tidak mampu berkomunikasi dan bersosialisasi, lebih soliter, dan lain-lain. Melalui kepanitiaan di acara ini mereka justru menunjukkan kedewasaan dalam bekerja sama, mengambil keputusan, dan mengatasi persoalan-persoalan yang nyata di lapangan. Anak-anak juga mendesain kaos yang akan dipakai oleh panitia, membuat gambar untuk banner dan brosur, mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk stand berjualan makanan dan minuman dan lain-lain. Mereka juga membuat booklet yang diberi judul “The World is My School” yang ditulis oleh beberapa anak dan dicetak oleh mereka sendiri. Booklet tersebut dijual dengan harga sepuluh ribu rupiah per buku. Booklet yang dicetak sebanyak 50 eksemplar tersebut habis terjual dalam event itu.

Pameran dan Konser Anak-anak HS
Dalam Homeschooling Day yang diadakan sehari penuh ini terdapat beberapa kegiatan yang berlangsung secara bersamaan, yaitu pameran hasil karya anak-anak homeschooler dan pertunjukan kemampuan anak-anak homeschooler dan seminar mengenai legalitas dan sesi berbagi / bincang keluarga-keluarga pelaku homeschooling. Selain itu, di beberapa lokasi juga ada stand-stand bisnis yang menjual berbagai makanan, minuman, dan buku-buku, yang dikelola oleh orang tua dan anak-anak homeschooler.

Di stand pameran hasil karya anak-anak homeschooler, anak-anak menampilkan hasil karya di antaranya buku-buku hasil tulisan, tas dan rajutan handmade, game dan animasi, lego, gambar, foto, seni melipat kertas sonobe, desain kaos, dekorasi layangan, ayam hasil ternak, dan lain-lain. Selain itu, di panggung anak-anak juga mempertunjukkan kepiawaian mereka dalam berpidato baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggeris, bermain alat musik, seni tari, peragaan P3K dan parade tongkat dari Pramuka Homeschooler, dan pertunjukan-pertunjukan lainnya. Melalui pameran dan pertunjukan bakat ini, para homeschooler ingin menyampaikan bahwa anak-anak homeschooler adalah anak-anak yang juga memiliki segudang prestasi dan kemampuan.

Seminar Legalitas
Acara seminar dan bincang dengan pelaku homeschooler, yang dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah seminar mengenai legalitas homeschooling, yang disampaikan oleh Ibu Dra. Eem Sukaemah, M.Pd., Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat dan Kebudayaan, yang mewakili Dinas Pendidikan Kota Bandung. Di sesi seminar yang dihadiri oleh lebih dari seratus orang peserta ini, Ibu Eem menjelaskan mengenai persyaratan dan proses agar anak homeschooler dapat memperoleh legalitas yang diakui oleh negara Republik Indonesia. Dimoderasi oleh Ibu Yanti Herawati, salah satu orang tua homeschooler, para peserta yang hadir mengajukan banyak pertanyaan dengan antusias. Sesi ini diselingi dengan beberapa pertunjukan anak-anak, baik pertunjukan seni maupun kemampuan berpidato.

Sesi sharing dan bincang dengan keluarga pelaku homeschooling dimulai setelah istirahat makan siang. Pada sesi ini, ada beberapa orang tua yang berbagi mengenai latar belakang dan alasan mereka memilih homeschooling untuk anak-anak mereka, dan bagaimana mereka melakukannya setiap hari. Banyak alasan mengapa orang tua memilih untuk menjadi pelaku homeschooling. Ada keluarga yang memilih menyekolahkan anak-anaknya di rumah karena anak-anaknya adalah anak berkebutuhan khusus, ada juga yang memilih homeschooling demi perkembangan psikologis anaknya, dan ada lagi yang karena alasan pekerjaan orang tua. Dalam sesi ini, salah seorang orang tua homeschooler membagikan pengalaman bagaimana mereka mempersiapkan anaknya hingga diterima perguruan tinggi di luar negeri.

Sharing dan bincang Homeschooler

Di sesi ini juga beberapa orang tua homeschooling berbagi mengenai gaya keluarga mereka melakukan homeschooling. Setiap keluarga homeschooler memang memiliki gaya yang berbeda-beda dalam melaksanakan keseharian mereka, dan tidak ada satupun yang salah, selama hal itu merupakan hal yang terbaik yang dapat mereka lakukan bagi anak-anak mereka. Anak-anak yang dididik dalam keluarga homeschooler mungkin menjadi anak-anak yang unik dan berbeda dengan anak-anak yang bersekolah formal, tapi mereka bukanlah makhluk asing. Mereka juga memiliki kemampuan dan kecerdasan yang istimewa, selayaknya anak-anak lainnya. Dan yang terpenting, kemampuan tersebut dapat berkembang dengan optimal, dengan usaha dan dukungan dari keluarga dan lingkungan, pada waktu yang tepat.

Peserta Seminar
Secara keseluruhan, acara Pameran dan Bincang Homeschooling ini memberikan dampak yang cukup besar. Hal ini dibuktikan ketika Pramuka Homeschooler Bandung mengadakan latihan pada hari Rabu setelah berlangsungnya event tersebut, banyak sekali peserta baru yang datang dan bergabung. Ternyata ada banyak keluarga homeschooler yang selama ini mencari-cari komunitas dan wadah kegiatan untuk anak-anak mereka, dan akhirnya menemukannya ketika mereka mengikuti acara itu. Dan hal ini juga membuktikan bahwa semakin banyak keluarga yang tertarik dengan homeschooling.

[RUMAH KAIL] Merdeka dari Uang di Rumah KAIL

Oleh: Melly Amalia - Koordinator Rumah KAIL

Sejak berdiri sampai sekarang, KAIL banyak berinteraksi dengan para aktivis. Banyak dari para aktivis ini memiliki berbagai tujuan hidup yang mulia, yaitu membuat perubahan dunia ke arah yang lebih baik di berbagai bidang. Masalahnya, kerja-kerja yang mereka lakukan seringkali tidak menghasilkan banyak uang. Jangankan banyak, batas cukup pun seringkali tidak terpenuhi. Kerja-kerja untuk membuat perubahan yang dibutuhkan seringkali merupakan kerja-kerja inisiatif baru yang belum dikenal orang, belum dianggap penting dan bahkan belum diketahui keberadaannya sebagai profesi. Jangankan mendapatkan dukungan finansial, kerja-kerja untuk membangun kesadaran akan pentingnya yang dilakukan itupun sudah membutuhkan energi tersendiri. Uang seringkali menjadi batu sandungan terbesar dari para aktivis untuk mempertahankan idealismenya.

Permakultur
Sebagai kelompok pendukung para aktivis, KAIL mencoba menerapkan berbagai inisiatif untuk melepaskan diri sebanyak mungkin dari ketergantungan akan uang. Meskipun belum banyak hasil yang bisa dilihat, setidak-tidaknya ada beberapa prinsip yang sudah diterapkan di berbagai aspek organisasi KAIL. Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

Sistem Barter untuk Mengikuti Kegiatan-kegiatan KAIL

Di dunia modern ini, untuk mengikuti berbagai kegiatan, khususnya berbagai kegiatan pengembangan diri, kita perlu membayar dengan uang. Dengan demikian akses ke ilmu pengetahuan pun berbanding lurus dengan kemampuan membayar. Sebaliknya, kepemilikan ilmu pengetahuan akan meningkatkan peluang untuk menghasilkan uang. Di dalam sistem semacam ini, terjadilah lingkaran yang terus memperkuat, yang punya uang tambah pintar, yang pintar tambah kaya, yang kaya bisa membayar untuk menjadi lebih pintar dan seterusnya. Terjadilah jurang yang makin besar antara mereka yang kaya dan yang miskin.

Hari Belajar Anak
Di KAIL, kesenjangan itu berusaha dikurangi. Pelatihan-pelatihan dan kegiatan-kegiatan KAIL tidak harus diakses dengan menggunakan uang. Tetapi pelatihan-pelatihan dan kegiatan-kegiatan itu tidak ada yang gratis. Semua yang terlibat berkontribusi. Uang digunakan sebagai salah satu cara untuk mempermudah pemberian kontribusi. Jika uang tidak dimiliki, maka ada seribu satu cara lain yang bisa digunakan untuk memberikan kontribusi dan bisa berkegiatan di KAIL.

Salah satu cara pemberian kontribusi adalah dengan menggunakan barter dengan jam relawan. Pelatihan-pelatihan dan kegiatan-kegiatan di KAIL dapat diakses dengan memberikan kontribusi sejumlah jam kerja untuk melakukan berbagai kegiatan yang ada di KAIL. Kegiatan-kegiatan itu beraneka macam, mulai dari mengurus tanaman di kebun KAIL, menjadi panitia (EO/petugas dokumentasi) di berbagai kegiatan KAIL, menerjemahkan berbagai media pembelajaran KAIL, menjadi pembicara/mentor/fasilitator, mengurus perpustakaan, sampai mengurus Rumah KAIL. Barter ini juga sangat fleksibel dilakukan dengan mempertimbangkan dan menyesuaikan ketersediaan waktu, keahlian dan minat masing-masing. Cara lain untuk memberikan kontribusi adalah dengan memberikan barang. Barang yang diberikan bisa berupa berbagai bahan makanan untuk keperluan konsumsi kegiatan KAIL, baik makanan jadi maupun bahan mentah. Untuk sumbangan dalam bentuk ini, syaratnya cuma satu, yaitu tidak menghasilkan sampah.

Jenis barang lain yang bisa disumbangkan adalah pohon, benih dan bibit untuk ditanam di kebun KAIL, berbagai perlengkapan rumah tangga untuk melengkapi perlengkapan Rumah KAIL, berbagai peralatan pendidikan untuk digunakan di kegiatan-kegiatan KAIL, buku untuk melengkapi perpustakaan KAIL dan banyak lagi. Semua barang tersebut tidak melulu harus baru, barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan pun, akan diterima.

Bentuk kontribusi lain yang juga bisa diberikan adalah akses. Misalnya dengan memberikan KAIL akses gratis ke berbagai sumber pengetahuan yang akan memperkaya layanan KAIL, akses gratis ke berbagai kebutuhan KAIL, akses untuk memperluas dampak kegiatan-kegiatan KAIL dan sebagainya.

Skema Subsidi Silang antar Program KAIL, antar Individu, antar Komunitas.

Dalam kondisi tertentu, untuk melaksanakan program KAIL agar tetap berjalan, ada juga yang menggunakan skema subsidi silang antar program. Salah satu tujuannya adalah supaya lebih banyak orang bisa mendapatkan akses layanan KAIL dan dapat memberikan manfaat lebih banyak. Bentuk subsidi silang bisa dilakukan dengan sesama program KAIL, antara KAIL dan individu yang mempunyai ketertarikan dengan layanan KAIL, atau pun KAIL dengan komunitas atau lembaga yang dari sisi pendanaan tidak punya tapi bila komunitas atau lembaga tersebut mendapatkan layanan KAIL akan berpengaruh besar terhadap perubahan positif yang diharapkan.

Pelatihan Cara Berpikir Sistem
Contohnya adalah, ada satu kelompok yang minta difasilitasi oleh KAIL dan KAIL merasa banyak kesesuaian visi misi dengan kelompok tersebut. Sehingga KAIL perlu mendukung program-program yang dilakukan oleh kelompok itu, salah satunya dalam bentuk dukungan layanan pelatihan. Selain itu, setiap orang yang hadir diharapkan dapat berkontribusi dalam bentuk apapun. Ada yang membawa bahan mentah makanan seperti beras, telur, dll, ada yang memberikan waktunya untuk memasak dan mengolah bahan mentah menjadi masakan, ada yang mencuci piring dan bersih-bersih, juga ada yang mengelola kebun KAIL.

KAIL ingin membuat itu semua menjadi mudah dan akan banyak orang bisa merasakan manfaat layanan yang KAIL berikan. Semua bentuk kontribusi akan kami terima. KAIL ingin mengajak semua orang untuk proaktif agar bisa mendapatkan akses segala aspek pembelajaran dengan adil dan setara. Terutama me-merdeka-kan diri dari uang!

Editorial Proaktif Online Edisi April 2016

Pada Pro:aktif Online edisi Desember 2015, KAIL mengangkat topik tentang kesehatan mental. Salah satu cara membangun dan menjaga kesehatan mental kita adalah dengan mengurangi stres. Berbagai tulisan di internet mengatakan bahwa salah satu cara untuk mengurangi stres adalah melakukan hobi atau aktivitas yang menyenangkan sesuai minat. Penelitian berjudul Real-Time Associations Between Engaging in Leisure and Daily Health and Well-Being yang dilakukan Zawadzki, dkk. (2015), menunjukkan hasil bahwa subjek penelitian yang secara rutin melakukan aktivitas rekreasi menyatakan bahwa mereka memiliki mood yang lebih baik, semangat yang lebih tinggi, dan tingkat stres yang lebih rendah. Aktivitas rekreasi dalam penelitian ini dideskripsikan sebagai aktivitas khusus yang dipilih sendiri (self-selected) dan memberikan kepuasan sendiri (self-rewarding) yang dilakukan di luar jam kerja.

Pro:aktif Online edisi April 2016 mengangkat tema Hobi dari sudut pandang aktivisme. Disandingkan dengan pekerjaan aktivis yang biasanya merupakan kerja-kerja panjang yang membutuhkan pemikiran dan kerja keras dan membuat perubahan, maka hobi bisa dianggap sebagai kegiatan mengisi kembali baterai energi. Karena itu, pemilihan hobi yang sesuai perlu dipertimbangkan. Di Rubrik Tips, penulis menyampaikan beberapa tips pertimbangan memilih hobi yang sesuai dengan diri kita.

Ketika telah memiliki hobi yang sesuai dengan diri kita pun, ternyata masih ada kendala ketika menjalankan hobi. Rubrik Masalah Kita mencoba mengulas kendala-kendala yang dihadapi aktivis berkaitan dengan kegiatan menjalankan hobi mereka serta bagaimana cara para aktivis menyiasati kendala-kendala yang mereka hadapi.

Sementara itu, penulis di Rubrik Opini mengajak kita menempatkan hobi sebagai kegiatan yang membebaskan sehingga dapat menjadi nutrisi bagi jiwa raga. Jangan sampai kegiatan hobi yang seharusnya melegakan berubah menjadi seperti beban.

Dalam Rubrik Pikir, penulis mengajak pembaca untuk melihat hobi lebih jauh dari sekadar kegiatan pengisi waktu luang dan rekreatif. Kegiatan-kegiatan aktivisme yang dilakukan dengan semangat hobi bisa jadi lebih berdaya mendorong perubahan. Hal ini sejalan dengan aktivitas gerakan yang dilakukan sosok Profil kita kali ini, di mana aktivitas hobi dalam hidupnya menjadi jembatan untuk berbagi dan bergerak menggiatkan terjadinya perubahan.

Bagi para pembaca yang membutuhkan informasi tentang tempat mengeksplorasi, menyalurkan dan mengembangkan hobi di Bandung, silahkan membaca ulasan di Rubrik Jalan-Jalan. Demikian juga jika Anda tertarik untuk mencari hobi baru dan mengembangkan hobi Anda, silahkan menengok Rubrik Media, yang menyajikan informasi tentang laman-laman hobi di dunia maya.

Mulai edisi April 2016 ini, ada rubrik baru di majalah Pro:Aktif Online, yaitu Rubrik tentang Rumah KAIL. Rubrik Rumah KAIL akan berbagi tentang berbagai hal yang diterapkan di Rumah KAIL sebagai upaya mendukung hidup berkelanjutan. Pada edisi kali ini, Koordinator Rumah KAIL berbagi tentang sistem penanganan sampah yang dijalankan di Rumah KAIL.

Selamat membaca. Semoga hobi membuat Anda lebih banyak berkarya.

[PROFIL] Merawat Hobi, Merawat Hidup

Oleh: Deta Ratna Kristanti 

Apa aktivitas yang Anda bayangkan akan Anda lakukan saat Anda mencapai usia 60 tahun? Atau saat Anda sudah pensiun dari pekerjaan Anda saat ini?

Foto Ibu Susen - dengan talas raksasa di Tahura
Sambil membayangkan, penulis mengajak Anda menemui sosok seorang ibu berusia 61 tahun yang masih aktif berkegiatan di berbagai tempat. Ibu Susann Suryanto, biasa dipanggil Ibu Susen, dulu berprofesi sebagai Dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran hingga pensiun 8 tahun yang lalu. Ibu Susen juga merupakan pendiri Perhimpunan Insan Kreatif dan Pecinta Lingkungan (PIKPL) Semanggi, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan. Saat ini, ibu Susen aktif sebagai penasehat di Perkumpulan Pecinta Tanaman di Kotamadya Bandung, Ketua 1 di Ikatan Perangkai Bunga cabang Jawa Barat serta beberapa kegiatan lainnya. Aktivitas lain yang sedang dikerjakan Ibu Susen saat ini adalah menyusun Buku 101 Pesona Pohon di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda Bandung, berdasarkan penelusuran/ identifikasi terhadap 112 tanaman di Tahura yang dilakukannya pada tahun 2013. Ibu yang selalu antusias bercerita ini juga memproduksi beberapa makanan tanpa monosodium glutamat (MSG), pengawet, pemanis dan perasa buatan. Ibu Susen memproduksi makanan sehat setelah di’curhat’i beberapa kawannya yang kesulitan menemukan makanan sehat saat makan di luar rumah. Ibu Susen lalu berkesimpulan bahwa kalau ingin aman makan makanan sehat berarti makanannya perlu diproduksi sendiri. Maka kemudian Ibu Susen memutuskan untuk membuat makanan sehat.

Punya Hobi Seawal Mungkin

Foto Ibu Susen - dengan Kriuk
(produk makanan sehat)
Dalam ceritanya kepada KAIL, Ibu Susen menuturkan bahwa ia memiliki banyak hal yang ia senangi untuk dikerjakan. Namun dua hal yang paling ia senangi adalah kegiatan yang berhubungan dengan tanaman dan memasak. Menurut Ibu Susen, hobi memasak sudah dia geluti sejak lama. Hampir setiap ia mendapatkan kesempatan berkunjung dan mencicipi masakan dari berbagai daerah atau menemukan makanan baru, dia akan bertanya atau mereka-reka bumbunya, lalu mencobanya sendiri di rumah. Karena hobinya itu, Bu Susen terbiasa untuk membuat makanan sendiri sesuai dengan keinginannya. Tentunya, termasuk makanan sehat dan bergizi. Ibu Susen pun senang jika dapat membuatkan makanan sehat bagi keluarga, kerabat maupun sahabat-sahabatnya. Baginya, membuatkan makanan sehat merupakan bagian dari tujuannya menularkan kebiasaan hidup sehat.

Hobi Ibu Susen yang kedua berhubungan dengan tanaman. Ini adalah hobi yang sangat ia senangi, karena rasa cintanya yang besar terhadap tanaman. Ibu Susen tidak hanya mengagumi dan merawat tanaman, namun juga mencari tahu nama Latin (nama ilmiah yang berlaku di seluruh dunia) serta kegunaan tanaman-tanaman yang ia jumpai. Ibu Susen menuturkan, setiap ia melewati hutan atau jalan dengan banyak tanaman, ia selalu merasa ditemani oleh tanaman-tanaman yang dijumpainya.

Sejak kapan Ibu Susen memiliki hobi mengulik dan merawat tanaman? Ternyata, sejak kecil Ibu Susen sudah mulai menyenangi kegiatan menanam dan berkebun. Ini karena ayahnya suka menanam berbagai tanaman dan Ibu Susen senang ikut ayahnya berkebun. Di rumahnya, ayah dari Ibu Susen menanam dan merawat berbagai jenis tanaman, antara lain pohon loquat, jambu mawar, belimbing, pandan, bunga soka, delima, suji, cokelat, bunga cempaka gondok, bunga cempaka pisang, apel, kucai, mawar, laos, sirsak, delima, cengkeh, dan bumbu-bumbu dapur. Dengan begitu banyak tanaman di kebunnya, Ibu Susen jadi tahu dan bisa belajar rupa dari macam-macam tanaman itu, meskipun ketika itu ia belum tahu namanya. Ketika belajar di perguruan tinggi, barulah Ibu Susen belajar nama-nama Latin dari tanaman-tanaman yang ia kenali sejak kecil. Ibu Susen bersemangat sekali belajar nama-nama Latin tanaman karena akhirnya ia bisa mengetahui nama serta kegunaan tanaman-tanaman yang ia kenali sejak kecil tersebut. Sangking bersemangatnya, ketika berangkat kuliah dulu, Ibu Susen berjalan dari rumahnya di Jalan Mundinglaya, Bandung ke kampus di Jalan Dipati Ukur sambil menghafalkan nama-nama Latin dari pohon-pohon yang ia temui di sepanjang jalan. Benar-benar hobi ya!

Seperti yang dituturkan kepada KAIL, Ibu Susen berpendapat bahwa aktivitas-aktivitas yang berpotensi menjadi hobi harus dikenalkan sejak dini dan secara total. “Contohnya, ketika anak belajar berkebun, ya biarkan anak itu kotor-kotoran. Ya, itulah alam. Terlibatlah, karena itu sesuatu yang nyata” kata Bu Susen. Tidak selalu pula, hobi mesti dikembangkan lewat kursus atau les. “Saya tidak pernah kursus. Dapat membuat sesuatu yang indah, misalnya , membuat landscape, itu keluar dari diri saya sendiri, setelah lama saya menekuni (hobi). Karena saya tahu, oh karakter tanaman jenis ini cocoknya ditaruh di ruangan, karakter tanaman ini harus kena sinar matahari, karakter tanaman ini harus dekat jendela. Karena saya betul-betul jadi kenal (tanaman) seperti sahabat. Ya, saya menganggap tanaman-tanaman itu sahabat saya,” cerita Ibu Susen.

Alangkah Menyenangkan Punya Pekerjaan Sesuai Hobi

Hobi digambarkan Ibu Susen sebagai aktivitas yang disukai, dan ketika mengerjakannya, orang yang memiliki hobi tersebut tidak memiliki beban. Malahan dari hobi yang kita kerjakan, kita memperoleh input yang positif untuk diri kita, misalnya perasaan senang, semangat, dan antusias. Dalam perjalanan hidupnya, Ibu Susen juga bertemu dengan banyak orang, bahkan aktivis, yang tidak memiliki hobi, dan ini menjadi keprihatinan Bu Susen. Menurut Ibu Susen, orang-orang ini biasanya masih menjadi pengikut (followers) saat mengerjakan aktivitas tertentu, dan bukan menekuni sesuatu karena kecintaan yang tumbuh dari hatinya. Misalnya saja, aktivitas yang dilakukan adalah karena tuntutan pekerjaan atau kebutuhan dari tempat kerjanya saat itu. Tapi sebetulnya kalau orang itu mau membuka diri, mungkin bisa jadi hobinya tersebut menjadi aktivitas yang ia lakukan selama hidupnya, yang menyenangkan dan bisa dikembangkan seumur hidupnya. Jadi ketika memasuki masa pensiun, aktivitas hobi tersebut bisa ia kembangkan, memberikan inspirasi dan semangat untuk dirinya. Ibu Susen sendiri merasa prihatin dengan sebagian kawan lamanya yang dulu terlihat begitu aktif dan eksis di pekerjaannya, namun ketika pensiun mereka merasa kehilangan segalanya dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang karena pekerjaan itu sudah dihilangkan. “Saya meragukan kecintaan mereka pada apa yang mereka geluti semasa bekerja dulu. Mungkin hanya karena tuntutan pekerjaan. Sekarang mereka tidak tahu harus berbuat apa. Sangat menyedihkan, kan.”

Dari pengalaman teman-temannya itulah, Bu Susen berpendapat, seseorang wajib memiliki hobi. Karena hobi adalah sesuatu yang melekat dengan diri orang tersebut. Ya memang mungkin ketika masih bekerja, waktu untuk melakukan hobi itu terbatas. Namun ketika seseorang memasuki usia pensiun, hobi itu bisa menjadi sesuatu yang mengisi dirinya. “Karena hidup manusia perlu diisi dengan sesuatu yang berarti. Berarti bagi dirinya, bagi orang lain, dan makhluk lain. Sehingga orang merasa ‘Aku ada artinya’. Tanaman-tanaman yang kuurus, ketika kurawat dengan penuh kecintaan dan tumbuh subur, ia kembali memberikan semangat kepadaku.”

“Menurut saya, memang yang paling ideal itu, sebaiknya orang itu bekerja di hobinya, dan hobinya bisa menghasilkan untuk kehidupannya. Tapi hati-hati juga, kadang karena ambisinya, banyak permintaan yang berhubungan dengan karya dari hobinya, lalu orang bisa jadi kejenuhan dan kehilangan apa yang tadinya dirasakan indah dari hobinya itu ya,” tambah Ibu Susen.

Hobi untuk Berbagi

Ibu Susen mengajak orang-orang untuk memiliki hobi sepanjang usianya. “Jadilah lansia yang produktif,” pesannya pada rekan-rekan sebayanya. Menurut Ibu Susen, dengan tetap merawat hobi, orang yang sudah pensiun pun bisa berbagi dengan temannya. Bisa membagi hasil dari hobinya, ataupun ilmunya. Berbagi hobi bisa mengisi waktu para pensiunan dengan sesuatu yang bermakna. Bagi Ibu Susen, kita dapat berbagi hobi, ataupun menjadikan hobi sebagai media untuk berbagi. Misalnya ketika kecil, Ibu Susen memiliki hobi mengumpulkan perangko. Tetangganya pun demikian. Di waktu-waktu tertentu, mereka bertemu untuk bertukar perangko. Dengan kegiatan tukar-menukar perangko, ada berbagai hal yang bisa dibagi, misalnya pengetahuan dan rasa pertemanan. Demikian juga dengan tanaman. Di rumahnya yang tak berlahan, Ibu Susen membangun vertical garden dengan menjepitkan pot-pot tanaman pada jalur-jalur besi yang didesainnya sendiri. Model vertical garden semacam ini ternyata menginspirasi teman-teman Bu Susen yang datang ke rumah untuk membuat model yang serupa. Dengan posisi rumah Bu Susen yang juga berada di pinggir jalan, masyarakat umum juga dapat dengan mudah mendapat ide menanam dengan memanfaatkan ruang sempit seperti yang dilakukan Ibu Susen. Di Perkumpulan Pecinta Tanaman, Ibu Susen dapat berbagi tanaman yang ia punya kepada teman-temannya sesama anggota dan juga sebaliknya.

Hobi sebagai Gerakan untuk Perubahan

Selain untuk berbagi, hobi juga dapat menjadi gerakan untuk membawa perubahan. Sebagai contoh, Bu Susen membuat vertical garden di rumahnya dengan dua tujuan. Yang pertama, menyaring debu-polusi udara dan polusi suara, terutama dari asap dan suara kendaraan bermotor yang lalu lalang di depan rumah. Kedua, memberi inspirasi pada orang-orang yang melihat vertical garden tersebut, terutama untuk orang-orang yang tidak punya lahan. “Tidak usah masyarakat menanam tanaman hias seperti saya, kalau masyarakat mau menanam sayur-sayuran dalam pot, saya kira yang seperti ini bisa cukup untuk konsumsi satu keluarga, tanpa harus membeli ke pasar,” ujar Ibu Susen. “Saya kira, sekarang mulai banyak juga yang membuat vertical garden di RT dan RW mereka. Ini bisa jadi satu gerakan sosial.”

Foto Ibu Susen - Vertical Garden3
Selain menginspirasi lewat rancangan vertical garden, dari hobinya yang sudah menghasilkan pemetaan dari 112 tanaman hutan di Tahura dan akan segera dibukukan, Ibu Susen berharap dapat mendorong generasi muda untuk mengenal kekayaan pohon-pohon di Tahura dengan bantuan para regulator dan pendidik. Lebih jauh lagi, Ibu Susen ingin tanaman-tanaman yang ada di Tahura tidak hanya dikenal oleh masyarakat Bandung dan Jawa Barat, namun dapat menjadi aset nasional. Karena itu Ibu Susen sedang mengusahakan supaya dilakukan perbanyakan atas tanaman-tanaman tersebut. “Kegunaan dan khasiat pohon-pohon ini luar biasa. Terhadap tanaman ini bisa dilakukan perbanyakan dengan cara konvensional maupun modern dengan tissue culture (kultur jaringan). Harapannya, tanaman-tanaman ini bisa dibagikan ke daerah-daerah di provinsi di seluruh Indonesia, sehingga masyarakat luas dapat memanfaatkannya untuk kehidupan mereka. Sebagai contoh, ada sekitar 80% tanaman yang saya petakan adalah zat pewarna alami. Di daerah NTT yang menghasilkan tenunan, zat pewarna alami ini bisa sangat dibutuhkan, sebab saat ini tenunan di sana sudah mulai diracuni dengan zat pewarna sintetik. Itu karena mereka tidak memiliki bahan. Ketika saya berkunjung ke salah satu daerah di NTT, untuk pewarna alami mereka hanya bisa bergantung dengan bahan yang ada di halaman rumahnya. Kalau kita dapat mendorong bupati atau pemerintah daerah agar membuat lahan-lahan pinggir jalan menjadi arboretum, maka kita bisa menanam mengkudu, misalnya, yang merupakan pewarna coklat alami. Saya kira akan memudahkan rakyat untuk mencari bibitnya. Membuat arboretum pewarna alami yang dibutuhkan masyarakat NTT. Saya kira begitu,” tutur Ibu Susen. Ibu Susen juga melihat bahwa hasil hutan seperti biji dan serat tanaman dapat memberi inspirasi kepada para generasi muda untuk menghasilkan karya-karya kreatif yang mendunia.

Bagi sosok Ibu Susen, menjalankan hobi memang bukan sekadar pengisi waktu senggang yang menyenangkan. Lebih jauh, hobi kita dapat berkembang menjadi inspirasi, menjadi gerakan untuk perubahan besar, bahkan di skala dunia. Ibu Susen menekankan pada hobi sebagai aktivitas yang dikerjakan dengan hati. Sebab jika dikerjakan dengan hati, segala aktivitasnya akan total dan dalam. ”Sebab hati punya akalnya sendiri, yang akan bisa berkembang ke mana-mana,” ujarnya. Di mata Ibu Susen, seorang pelaku hobi memang sepantasnya merupakan aktivis, yang akan merawat dan mengembangkan kegiatan hobinya dengan tak putus-putus, untuk berbagi serta memberi manfaat yang semakin besar bagi dunia.

***

[PIKIR] Ketika Menjadi Aktivis Adalah Hobi

Oleh: Tarlen Handayani 

Memasak: salah satu jenis hobi
Hobi seperti apakah yang cocok untuk para aktivis? Pertanyaan ini muncul ketika saya diminta menulis soal hobi untuk para aktivis untuk laman ini. Saya kira, siapa pun, dari latar belakang apapun, baik aktivis maupun bukan, bisa bebas memilih hobi untuk dijalaninya. Karena hobi adalah pilihan bebas. Ia menjadi aktivitas yang dikerjakan dengan senang hati di waktu luang. Apapun bentuk kegiatannya, selama aktivitas itu bisa memberikan kesenangan bisa disebut hobi.

Sebelum membicarakan bagaimanakah hobi untuk para aktivis ini, saya akan terlebih dahulu membicarakan soal hobi, terutama yang hobi yang merupakan keterampilan tangan. Selain memberikan kesenangan, aktivitas ini bisa melatih kemampuan motorik dan keahlian dalam membuat sesuatu. Misalnya saja menjahit, merajut, automotif, pertukangan, apapun kegiatan yang membutuhkan keterampilan tangan.

Banyak orang merasa, aktivitas ini terlalu merepotkan untuk dilakukan, membuang waktu, tenaga, uang dan tidak ada gunanya, karena pekerjaan jauh lebih penting dari kegiatan di waktu luang. Tapi banyak pula yang kemudian justru ketika menekuni hobi, pekerjaan menjadi tidak lagi menarik bahkan seringkali hobi menggantikan pekerjaan. Sebenarnya, tidak harus seekstrem itu. Banyak juga yang kemudian bisa menemukan keseimbangan dari pekerjaan dan hobi di waktu luang. Hobi menjadi penyeimbang, ketika hidup tidak hanya melulu soal pekerjaan.


Jika ditelisik lebih jauh, hobi bukan sekedar perkara mengisi waktu luang. Ada banyak kesempatan untuk belajar mengaktualisasikan diri lewat kegiatan hobi. Sejak memilih hobi apa yang kita sukai untuk dijalani, itu seperti menemukan sebagian ‘jati diri’. Karena banyak kegiatan hobi yang mencerminkan minat, bakat, karakter serta kepribadian kita. Misalnya, untuk orang yang menyukai aturan, logika dan pengulangan, merajut mungkin cocok untuk dilakukan. Sementara untuk orang yang senang kebebasan dan ekspresi suka-suka, membuat kolase mungkin lebih bisa dinikmatinya.

Lewat hobi, kita juga belajar membangun ide dan gagasan serta mengeksekusinya menjadi sesuatu yang nyata. Bahkan bukan sekedar eksekusi, karena pada perjalanannya, mencoba dan gagal menjadi hal yang lumrah terjadi. Ketika kita punya ide membuat baju hangat rajutan. Kita akan membayangkan bentuknya, mencari polanya lalu mulai merajutnya. Meski seringkali hasilnya meleset dari yang kita bayangkan. Pilihan alat yang tidak tepatlah, salah memilih bahan dan membaca pola, banyak penyebab yang membuat hasil tidak sesuai harapan.

Namun bagi orang-orang yang menekuni hobi, harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan ini, tidak membuat patah semangat. Karena ada kecintaan, antusiasme serta loyalitas pada aktivitas seperti ini. Ketika gagal, bukan berarti menyerah, namun jadi semangat untuk mencoba kembali sampai menemukan hasil yang diharapkan. Bahkan seringkali, hasil bukanlah tujuan, namun proses mencoba, gagal lalu berhasil itu yang membuat kegiatan di waktu luang ini menjadi penyeimbang pelipur stres. Lewat hobi, kita bisa mengasah daya tahan kita untuk mencoba terus dan bangkit dari kegagalan. Hal yang seringkali ditemukan, dari proses mencoba terus ini, kita seringkali menemukan cara yang lebih tepat dan efisien ketika mengeksekusi gagasan. Karena ketahanan yang terbangun, memberi kesempatan kepada kita untuk menganalisis dan merevisi kesalahan-kesalahan.

Hobi juga kerap mengajarkan para pelakunya menghargai jerih payah diri sendiri dari karya sesederhana apapun itu. Karena kita tahu, di balik sebuah hasil yang terlihat sederhana, kerapkali prosesnya tidaklah sederhana bahkan tidak jarang sangatlah rumit. Ketika kita bisa mengapresiasi diri sendiri, tentunya akan lebih mudah bagi kita untuk mengapresiasi karya orang lain.

Hobi juga membuat kita bisa lebih mengapreasi waktu. Setiap orang memiliki waktu yang sama 24 jam. Tidak ada yang diberi waktu lebih dari itu. Tapi mengapa ada orang yang bisa meluangkan waktu untuk hobi dan tidak? Karena sesungguhnya waktu luang adalah ‘state of mind’, kesadaran dan cara kita memandang waktu itu itu sendiri. Selalu ada yang luang di antara yang penuh, selalu ada jeda di antara waktu yang berhimpitan. Persoalannya ada pada: apakah kita bersedia memanfaatkan jeda dan keluangan itu untuk menjalankan hobi kita?

***

Berkaitan dengan pertanyaan awal di tulisan ini, soal hobi untuk para aktivis, sesungguhnya pertanyaan yang menarik bukan seperti apa kegiatan yang cocok sebagai hobi para aktivis ini. Bayangkan jika aktivisme merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan perubahan sosial dan politik dan dilakukan oleh para aktivis ini dilakukan dengan semangat hobi, mungkin saja hasilnya akan sangat berbeda, ketimbang dilakukan sebagai pekerjaan.

Bayangkan, upaya-upaya perubahan dilakukan dengan penuh suka cita, dedikasi, rasa cinta, daya tahan untuk tidak menyerah ketika gagal dan tentunya semangat untuk terus mencoba dan menemukan metode yang tepat. Juga ketika perubahan tidak melulu sesuatu yang besar dan hebat. Dengan semangat hobi, upaya-upaya kecil, sederhana dan tampak tidak heroik namun memiliki ketahanan dan konsistensi untuk terus menerus dilakukan, bisa menjadi pondasi kuat dari upaya perubahan itu sendiri. Apalagi di era ketika media sosial menjadi panggung eksistensi yang riuh, perubahan sederhana dalam hening justru sering kehilangan apresiasi.

Jika untuk mencapai perubahan setiap orang bisa melakukannya dengan caranya masing-masing, itu berarti setiap orang bisa menyebut dirinya sebagai aktivis. Apapun yang kita lakukan pasti memiliki dampak dalam seluruh sendi kehidupan. Dan itu artinya pula, bahwa perubahan bisa dilakukan setiap hari, setiap saat, dalam waktu luang maupun dalam waktu yang penuh, selama ada dalam kesadaran bahwa sekecil apapun yang kita lakukan bisa berkontribusi pada perubahan.

Jadi jika ditanya hobi seperti apa yang cocok untuk para aktivis? Jawabannya bisa jadi, menjadi aktivis adalah hobi itu sendiri.


***


[MASALAH KITA] Aktivis dan Hobi : Menjawab Panggilan Tubuh dan Jiwa

Oleh: Navita K. Astuti

Membaca - salah satu jenis hobi
Hobi didefinisikan sebagai aktivitas menyenangkan yang dijalani pada waktu senggang. Meski tak sedikit juga yang justru menekuni hobi sebagai profesi utama. Hobi dijalani untuk menjawab suatu panggilan tertentu yang berasal dari jiwa atau tubuh seseorang. Panggilan tersebut dapat kita terjemahkan sebagai kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk merasa rileks, gembira, nyaman dan bebas. Kebutuhan seseorang untuk menjalani hobi layaknya manusia yang membutuhkan asupan oksigen dari udara untuk menyambung hidup mereka. Namun, sifatnya tentu berbeda antara kebutuhan untuk melakukan hobi dengan kebutuhan akan oksigen atau asupan gizi tertentu bagi tubuh. Ketika pada suatu kurun waktu tertentu manusia tidak menjalani hobi, ia tetap hidup dan mampu beraktivitas seperti biasa. Namun, hidup yang dijalani tanpa diwarnai dengan aktivitas hobi sama sekali, terasa kurang lengkap.

Hidup lengkap dan utuh adalah hidup yang seimbang antara pemenuhan hak dan kewajiban. Diri yang rileks, gembira, nyaman adalah kebutuhan tubuh dan jiwa sekaligus hak setiap orang yang dapat dipenuhi dengan kegiatan hobi. Bagaimana upaya pemenuhan kebutuhan tubuh dan jiwa yang dituangkan dalam aktivitas hobi ini ditanggapi dan diperhatikan?

Artikel ini akan menguraikan bagaimana para aktivis menjawab kebutuhan akan hobi. Kiranya apa yang dialami oleh aktivis yang menjadi narasumber dalam artikel ini ketika menjalani hobi dapat menjadi inspirasi bagi diri pembaca dalam menjawab kebutuhan diri masing-masing akan hobi.

Pentingnya Menjalani Hobi

Levi Anti, seorang psikolog sekaligus ibu dari 4 anak, menyatakan bahwa olahraga zumba dan berjalan kaki, adalah hobinya. Ia melakukan olahraga tersebut dengan tujuan agar merasa nyaman secara fisik dan emosional, sehingga siap sedia dan lancar dalam menjalani tugas-tugas harian. Ia menganggap mengalokasikan waktu untuk menjalani hobi olahraga ini penting, karena ketika aktivitas tersebut berhenti dilakukan, akan berdampak pada kondisi tubuh yang merasa kurang fit, sehingga menghambat kelancaran aktivitas rutin lainnya.

Bahrul Fuad, staf dari Pusat Kajian Perlindungan Anak UI memiliki hobi mendengarkan musik dan menulis. Dengan menjalani hobi tersebut, ia dapat mengeluarkan dan menstrukturkan isi pikirannya ke dalam sebuah tulisan yang harapannya dapat dibagikan kepada orang lain. Mendengarkan musik dilakukannya untuk memberi relaksasi pada pikiran ketika ia sedang mentok dalam melakukan aktivitas hariannya. Bahrul menganggap penting menjalani kegemarannya tersebut, karena turut mendukung dirinya untuk menguraikan kekusutan maupun kelelahan yang dialami saat beraktivitas.

Merajut
Helen (bukan nama sebenarnya), seorang sekretaris di sebuah lembaga pelayanan pendidikan di Jakarta, memiliki hobi merajut, membaca dan menulis. Baginya, membaca itu seperti bernapas. Sebagian besar waktu luangnya ia gunakan untuk membaca. Selain itu, ia memiliki hobi merajut. Ketika Helen menganggap sebuah dukungan perlu dilakukan, maka ia pun menulis. Helen menganggap penting menjalani hobi-hobi tersebut. Dengan membaca, ia dapat mempertajam wawasan yang menjadi minatnya. Dengan merajut, ia mendapatkan ketenangan serta keseimbangan di dalam dirinya yang selama ini menjalani aktivitas rutin dan monoton. Pola-pola rajutan, bagi Helen, adalah tantangan untuk ditaklukkan dan rasanya menyenangkan menemukan bahwa pola yang tampak rumit menghasilkan rajutan yang indah. Dari situ, ia merasa senang mengetahui bahwa dirinya masih bisa berkarya dan mampu bertekun menghasilkan suatu karya.

Selly Agustina, seorang mahasiswa pasca sarjana dari Universitas Padjajaran memiliki hobi memasak. Ia memasak untuk relaksasi serta memberi waktu untuk dirinya sendiri. Ia menganggap hobinya itu penting untuk dijalani, karena setelah segudang kegiatan dilakukan, ia butuh untuk mengendapkan semua pengalamannya. Dengan memasak, ia mendapatkan waktu personal untuk diam dan mendapatkan ruang untuk merefleksikan seluruh aktivitasnya.

Kukuh Samudra, seorang mahasiswa S1 tingkat akhir, memiliki hobi olahraga tenis. Dengan berolahraga tenis, ia merasa senang dan bebas, selain juga mendapatkan kebugaran. Namun demikian, olahraga tenis baginya tidak hanya sekedar kegiatan mencari keringat atau bersenang-senang. Akan tetapi, tenis membantunya untuk membebaskan diri dari beban pikiran, serta melatih akal dan pengendalian emosi.

Testimoni kelima aktivis tentang manfaat dari hobi yang mereka jalani memperkuat pendapat tentang pentingnya menjalani hobi. Menjalani aktivitas yang digemari turut membantu mereka menyeimbangkan hidup serta melancarkan diri untuk aktivitas-aktivitas lainnya.

Ketika Harapan Tak Sesuai Kenyataan

Ketika hobi dianggap hal yang dibutuhkan untuk dilakukan, maka setiap orang ingin meluangkan waktu untuk melakukannya. Setiap orang mengharapkan memiliki waktu cukup untuk menjalani hobi di sela-sela aktivitas lainnya yang dijalani. Namun, adakalanya, aktivitas lainnya cukup menyedot perhatian dan waktu, sehingga kegiatan hobi terpaksa dikesampingkan. Ketika hal ini terjadi, bagaimana dinamika para aktivis ini menghadapinya? Apa strategi mereka?

Levi Anti, mengalami pertentangan antara kegiatan olahraga yang direncanakan dengan kegiatan lainnya. Semuanya sama-sama ingin dilakukan. Tetapi, tentu ia harus memilih mana yang harus didahulukan. Di saat itu, Levi Anti berpendapat, monolog jujur perlu dilakukan, kegiatan mana yang lebih penting untuk dilakukan. Ketika hobi disadari sebagai sebuah kegiatan yang penting dibandingkan kegiatan yang lainnya, maka prioritas kegiatan akan secara alamiah bergulir memberi tempat untuk pelaksanaan hobi.

Bahrul menyatakan momen menulis seringkali terlewat begitu saja karena kegiatan lain. Ada sedikit rasa sesal karena melewatkan momen menulis, tetapi ia tidak berhenti. Ketika ada setitik waktu di sela kesibukan, ia membuat coretan pada catatannya untuk mengeluarkan ide-ide tulisan yang mengalir di kepala. Di lain waktu, ketika kesibukannya sudah reda, ia akan kembali pada catatan coretannya tersebut dan mengolahnya kembali untuk menjadi suatu tulisan. Helen tidak pernah secara ekstrim mengalami kesulitan untuk melaksanakan hobinya membaca, merajut dan menulis. Baginya, sesibuk apapun dirinya melakukan aktivitas dan kewajiban yang tidak terkait hobi, ia selalu menemukan kembali waktu untuk melaksanakan kegemarannya membaca, merajut dan menulis. Hal ini disebabkan karena dirinya telah menjadikan kegemarannya tersebut sebagai bagian dari dinamika hidupnya.

Selly, melaksanakan hobinya memasak ketika seluruh kewajiban dan aktivitas rutinnya terselesaikan. Dengan pembagian yang tegas antara kewajiban dan hobi memasaknya, Selly termotivasi untuk menuntaskan pekerjaannya, karena sesudah itu ia bisa menghadiahkan waktu bagi dirinya sendiri dengan kegiatan memasak.

Kukuh mengalami kekacauan pada tubuhnya ketika lama tidak melakukan olahraga. Ia merasa lemas, mudah lelah dan tidak fokus dalam berpikir. Ketika tubuhnya memberi sinyal demikian, maka ia mengusahakan untuk segera berolahraga. Untuk mengantisipasi kekacauan yang terjadi, maka ia mengalokasikan waktu untuk tenis satu kali dalam seminggu, tanpa diganggu gugat. Jika pada waktu yang direncanakan ia tidak bisa melaksanakan olahraga tenis, maka ia akan mencari waktu lain untuk melaksanakan olahraga tenis.

Dari penuturan kelima aktivis tentang kendala yang dialami dalam menjalani hobi, ternyata ada beragam upaya yang dilakukan untuk tidak melupakan atau meninggalkan hobi begitu saja. Terlihat bahwa menjalani hobi bagaikan melaksanakan sebuah janji atau komitmen bagi diri sendiri. Ia juga memberi perasaan bermakna sebagai seorang manusia, melalui karya atau aktivitas yang dihasilkan. Bahwa tubuh dan jiwa ini perlu diberi siraman perawatan, layaknya tanaman yang perlu diberi pupuk agar tumbuh sehat dan subur.

Penutup

Meskipun mungkin terlihat sebagai aktivitas yang kurang serius, hobi merupakan kegiatan penting untuk menopang keseimbangan diri seseorang. Menjalani hobi merupakan tanda terima kasih dan sayang kita pada jiwa dan tubuh kita masing-masing. Terpenuhinya kebutuhan jiwa dan tubuh melalui hobi memberi kesempatan bagi seseorang untuk memperbaharui diri dan mengisi diri dengan semangat yang baru untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari. Kita perlu ingat bahwa kita pun perlu peka pada kondisi tubuh dan jiwa kita bilamana ia membutuhkan ‘perawatan’ melalui aktivitas kegemaran. Kendala untuk menjalani hobi tak jarang hadir melalui aktivitas yang terlihat lebih mendesak dan penting. Memprioritaskan kegiatan berhobi untuk menjawab panggilan tubuh dan jiwa, atau mengabaikan panggilan tersebut untuk mengedepankan hal-hal yang dianggap lebih penting, berpulang kembali kepada pilihan hidup kita masing-masing. Mana yang kita pilih untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

[OPINI]: Hobi yang Membebaskan

Oleh: Caroline Najoan

“Hobi kamu apa?”, “Kamu sekarang sedang senang ngapain?”, “Waktu luang kamu pilih diisi dengan apa?” adalah pertanyaan yang sering kita dengar atau lontarkan pada teman yang baru kita kenal. Bisa jadi sekadar lontaran basa-basi, mencari topik pembicaraan netral sebagai pembuka interaksi sosial, atau benar-benar ingin tahu. Pertanyaan yang sama juga kita lontarkan pada diri kita dari waktu ke waktu. Jawabannya pun akan bervariasi, mulai dari melamun hingga mengoleksi mobil mewah. Tak jarang jawabannya adalah “Tidak tahu.” atau “Masih bingung.” Hobi memang selalu asyik untuk ditelaah. Setiap orang senang menekuninya, kadang lebih tekun berhobi daripada bekerja. Beruntunglah mereka yang hobinya juga merupakan pekerjaannya. Uniknya, manusia adalah satu-satunya mahluk yang memilih untuk mempunyai hobi tertentu.

Jadi sebenarnya apa sih hobi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “hobi” adalah kegemaran, kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Wikipedia mengatakan bahwa hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Rekreasi secara harafiah berarti membuat ulang adalah kegiatan yang dilakukan untuk penyegaran kembali jasmani dan rohani seseorang. Kegiatan ini dilakukan dengan sengaja.

Bila kita berangkat dari kedua definisi ini, maka bisa kita pastikan bahwa hobi adalah kegiatan yang menyenangkan dan mendatangkan manfaat bagi diri kita. Setiap orang akan memilih hobi berdasarkan minat, selera, dan kesenangan masing-masing. Bisa saja seseorang memilih hobi di dalam ruangan atau di alam bebas, hobi yang berkaitan dengan seni atau olah pikir, hobi yang dilakukan sendiri atau bersama kelompok. Hobi bisa dilakukan dengan alat atau tanpa alat. Melukis memerlukan kertas, cat, dan kuas. Ada temanku yang hobinya menyimak pembicaraan penumpang angkot bila ia dalam perjalanan pulang dari tempat kerja. Tingkat ekstrimnya suatu hobi juga bisa menjadi diskusi yang menarik. Hobi mengumpulkan kartu pos tentu tidak seekstrim hobi balap mobil.

Manfaat yang diperoleh tiap orang juga akan berbeda, meskipun hobinya sama, bahkan manfaat itu juga akan dirasakan oleh orang lain. Dua orang yang sama-sama memiliki hobi traveling akan menemukan pengalaman berharga yang berbeda, satu orang bisa terkesan karena pertemuan dengan seorang warga desa yang sangat suka mengobrol, sementara orang yang lain terkesan karena warna langit yang berbeda dengan yang setiap hari ditemui di kota tempat tinggalnya. Dari sekian banyak manfaat bagi diri kita, hobi bisa mendatangkan keuntungan finansial karena karya yang dihasilkan dari hobi laku terjual, kepuasan emosional karena hobinya ternyata meditatif, ruang sosialisasi meluas karena hobinya melibatkan orang banyak.

Hobi bisa dibilang salah satu nutrisi yang diperlukan oleh manusia agar hidupnya sehat dan lengkap. Ibaratnya, seseorang hanya mengonsumsi karbohidrat saja, maka tubuhnya akan mengalami berbagai gangguan. Ia memerlukan asupan serat, mineral, dan berbagai zat gizi lain dalam takaran yang seimbang. Begitu pula dalam keseharian kita, pekerjaan utama tentu merupakan fokus perhatian. Pekerjaan pilihan kita, yang paling menyenangkan sekalipun suatu saat akan mengalami kejenuhan. Kita perlu rehat sejenak agar kesegaran dan energi baru bisa mengalir dalam fisik dan mental, sehingga dalam bekerja pun kita punya sudut pandang yang lebih segar. Ide-ide, pemecahan masalah bisa muncul ketika kita menjalankan hobi. Misalnya, seorang pe-hobi bersepeda bisa saja mendapatkan pencerahan ketika ia menyusuri jalur-jalur baru di hutan atau seorang pe-hobi gitar menemukan ide untuk proyek arsitekturnya ketika melihat partitur musik yang membentuk pola geometris yang unik.

Banyak alasan seseorang memilih hobi tertentu. Keinginan mencoba hal baru adalah salah satunya. Tiba-tiba muncul keisengan untuk mencoba origami, ternyata setelah berhasil membuat beberapa bentuk, seseorang merasa tertantang untuk mencoba bentuk-bentuk yang lebih rumit. Bahkan menciptakan sendiri langkah-langkah origami untuk membuat bentuk-bentuk yang belum pernah ada. Inspirasi dari karya orang lain juga mendorong seseorang untuk menekuni hobi. Misalnya, ketika melihat pameran foto, saja seseorang tertarik untuk memakai smartphone untuk menangkap momen dalam gambar-gambar. Kepuasan pada saat ia melihat hasilnya tentu akan mendorong sang pe-hobi baru ini untuk melakukan eksplorasi lebih jauh. Bisa juga seseorang mempunyai hobi baru karena terbawa teman-teman atau mode. Media sosial yang ada saat ini seperti Instagram dan Pinterest bisa menjadi sumber inspirasi dan ide untuk para pe-hobi. Dengan mudah kita bisa mendapatkan tutorial untuk berbagai jenis hobi, tautan komunitas yang berfokus pada hobi tertentu, dan berbagai pameran atau workshop yang berkaitan dengan hobi kita saat ini. Juga bisa menjadi ajang berbagi teknik dengan sesama pe-hobi. Ada orang-orang yang merasa harus punya hobi yang keren dan kekinian. Sekarang banyak orang menyatakan bahwa dirinya mempunyai hobi berkebun, terbawa oleh tren hidup yang serba organik dan melindungi bumi. Berapa banyak yang akan bertahan karena benar-benar mendapatkan kepuasan dari hobi berkebunnya dan berapa banyak yang berhenti dalam hitungan minggu karena berkebun ternyata butuh kesabaran dan ketekunan? Ada juga orang yang memilih hobi sesuai dengan tempat tinggal dan ketersediaan waktu. Beberapa teman memilih masak sebagai hobi karena tidak perlu meninggalkan rumah terlalu lama, hanya ke pasar dan sisa waktu bisa tetap bersama keluarga. Ada juga yang hobi yoga, mereka melakukan ashanas di ruang tamu apartemen saja sudah cukup.

Namun ada saat-saat tertentu dimana hobi tersebut menjadi beban. Kita tidak bisa menafikkan bahwa untuk melakukan hobi, kita perlu meluangkan waktu. Banyak orang malah mengalami stres pada saat tidak bisa menjalankan hobi yang paling diminatinya. Misalnya, seorang pekerja kantoran yang super sibuk mempunyai hobi mendaki gunung. Ia menjadi stres pada saat pekerjaan tidak memungkinkan dirinya untuk mengambil cuti atau memakai akhir minggu untuk pergi mendaki gunung. Dalam situasi inilah mungkin ia perlu memikirkan hobi lain agar ia tetap mempunyai kesempatan untuk memberi gizi untuk jiwa dan raganya. Hobi juga bisa menjadi beban bila seseorang merasa harus menggunakan peralatan-peralatan canggih dengan harga yang mahal. Memang benar untuk beberapa hobi tertentu penggunaan alat-alat agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Kamera yang canggih tentu akan membantu sang pe-hobi fotografi untuk membuat foto-foto yang indah, tapi kemampuan menangkap momen bukan tergantung pada alat tapi pada diri sang fotografer. Seorang penulis tak perlu mengandalkan laptop paling canggih, cerita akan tetap mengalir dari dalam benak dan hati meskipun ia menggunakan bolpen seharga seribu lima ratus dan buku tulis sekolah. Hobi juga akan menjadi beban ketika mulai ada keinginan pencapaian tertentu. Ingin cepat menyelesaikan baju hangat rajutan akan menjadi tekanan sehingga pe-hobi rajut tidak lagi menikmati prosesnya. Pujangga puisi yang kejar tayang menerbitkan antologi tidak lagi mencecap kata-kata yang ditulisnya, baris-baris puisi tak lagi menyuarakan isi hatinya dengan lantang. Hal-hal inilah yang nantinya mendorong kita untuk meninggalkan hobi yang dulu ditekuni karena tidak lagi memberikan kepuasan. Ada pula pe-hobi yang jadinya bersaing satu sama lain atau memerlukan apresiasi dari orang lain untuk hasil pencapaian mereka. Hal ini akan membebani mereka. Ada yang lucu dalam berhobi. Salah satu teman saya hobi membuat gelang persahabatan. Ia memulainya dari ketertarikan pada pola-pola gelang persahabatan yang ia lihat di internet. Teman-temannya sangat menyukai hasil buatan sang pe-hobi, mereka lalu ramai-ramai memesan padanya. Awal-awalnya sang pe-hobi senang sekali karena pesanan membanjir, lama-lama ia jadi terbeban dan akhirnya sama sekali tidak mau lagi membuat gelang persahabatan lagi.

Berbeda dengan pekerjaan, hobi bisa ditinggalkan kapan saja dan pada suatu saat dimulai lagi. Seorang ibu meninggalkan hobi membuat boneka karena melahirkan bayinya. Namun setelah sang anak sudah lebih besar, sang ibu kembali menciptakan boneka-boneka baru. Boneka-boneka itu sebagian dijual oleh sang ibu, dan ada pula yang dimainkan oleh putranya. Hobi juga bisa berganti kapan saja, sesuai dengan keinginan sang pe-hobi. Seorang pe-hobi komik suatu saat bosan dan menjual semua koleksi komiknya lalu menekuni hobi baru yaitu memelihara reptil. Komik sudah tidak membawa kepuasan seperti dulu, sang pe-hobi menemukannya ketika ia merawat ular dan iguananya.

Hobi yang membebaskan merupakan nutrisi yang terbaik bagi jiwa dan raga kita. Proses memilih yang bebas, proses menekuni yang bebas, bebas dari keterikatan pada peralatan, hasil dan apresiasi orang lain, bebas untuk melibatkan siapapun, bebas untuk melakukannya kapanpun, bebas untuk berhenti menekuni dan berganti hobi. Kebebasan dalam berhobi ini akan membawa pula kebebasan dalam berkreasi dan meluaskan kesenangan yang kita dapatkan, beserta segala manfaat lain yang datang bersamanya.

Selamat bebas berhobi!

[TIPS] Tips Memilih Hobi untuk Aktivis

Oleh: Any Sulistyowati

Kesukaan berkebun bisa dibangun sejak anak-anak
Menurut Wikipedia, hobi adalah kegiatan yang dilakukan secara rutin untuk memberikan kesenangan di waktu luang. Yang termasuk di dalam hobi antara lain adalah mengumpulkan benda-benda koleksi, terlibat dalam kegiatan kreatif, seni, olah raga atau melakukan kesenangan lainnya. Setelah melakukan hobi, seseorang akan mencapai keterampilan terkait dengan hobi tersebut. Banyak orang sudah memiliki hobi sejak masa kanak-kanak. Hobi ini dapat terus berlanjut, berubah seiring dengan semakin variatifnya jenis kegiatan yang diketahui seseorang, atau justru terhenti karena semakin sedikit waktu luang yang dimiliki.

Biasanya memang, makin bertambah usia, semakin sedikit waktu luang yang dimiliki seseorang. Hal ini terus berlanjut sampai pensiun. Ketika itu terjadi, waktu luang menjadi tiba-tiba begitu banyak, sementara mungkin kawan-kawan kita mulai sedikit karena mungkin sudah punya kesibukan sendiri, tinggal di tempat yang jauh atau bahkan sudah meninggal dunia. Pilihan hobi yang dapat dipilih juga makin terbatas, sementara kemampuan kita untuk mempelajari sesuatu yang baru juga sudah mulai berkurang.

Inilah dilemanya. Ketika masih muda, begitu banyak tuntutan atau godaan untuk melakukan banyak hal. Waktu terbanyak biasanya habis untuk bekerja. Waktu luang yang tersisapun kadang sudah habis untuk berbagai acara keluarga atau berbagai kegiatan sosial. Waktu untuk diri sendiri, apalagi sekedar untuk bersenang-senang menjadi semakin langka. Hidup menjadi begitu serius. Berbagai bentuk stres atau tekanan batin pun mulai menghampiri. Seringkali bahkan ditambah dengan berbagai penyakit fisik maupun psikosomatis.

Asumsi dari pola hidup di atas adalah, sebagaimana pepatah, berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tetapi apakah memang hidup harus demikian? Haruskah kita mengorbankan masa kini, untuk memperoleh kebahagiaan di masa yang akan datang? Tidak bisakah kita berbahagia mulai dari saat ini dan juga nanti? Hidup seperti apakah yang betul-betul kita inginkan? Apakah memang harus mengorbankan diri dulu untuk kebahagiaan kita di masa depan? Jawabannya: belum tentu.

Di manakah posisi hobi? Hobi membantu kita untuk mengurangi stres, membuat kita santai sejenak dari rutinitas hidup kita yang serius ke sesuatu yang membuat kita senang atau memiliki perasaan positif lainnya. Jeda ini membuat otak kita jernih dan segar serta siap kembali mengerjakan rutinitas dengan tingkat energi yang baru yang lebih tinggi dari sebelumnya. Apabila dihitung, kegiatan hobi memang mungkin akan mengurangi waktu bekerja kita. Tetapi pengurangan waktu ini belum tentu akan mengurangi kinerja kita. Meskipun secara total, jam kerja kita berkurang, bisa jadi dengan memberi jeda untuk melakukan hobi, efektivitas kerja kita semakin meningkat. Dengan demikian justru kita menjadi semakin produktif dan menghasilkan lebih banyak hal dalam waktu kerja yang semakin pendek.

Bagaimana dengan aktivis? Kerja-kerja aktivis biasanya merupakan kerja jangka panjang yang membutuhkan pemikiran dan kerja keras untuk membuat perubahan dunia ke arah yang lebih baik. Di dalam kerja semacam itu, tentu ada banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan-tantangan ini potensial memberikan tekanan batin pada para aktivis. Untuk itu mereka perlu memperkuat mental dan fisik mereka. Salah satu caranya adalah dengan mengatur waktu mereka. Di antara waktu-waktu produktif mereka, mereka perlu meluangkan waktu untuk mengisi baterai energi mereka. Salah satu caranya adalah dengan meluangkan waktu untuk melakukan hobi.

Mewarnai_contoh hobi untuk mengurangi stress
Hobi apa yang cocok untuk para aktivis? Ada banyak sekali jenis kegiatan hobi yang dapat dipilih oleh para aktivis. Apapun kegiatan yang dipilih, berikut ini adalah hal-hal yang mungkin perlu dipertimbangkan sebelum memilih hobi.

1. Tentukan tujuan
Sebelum memilih hobi, tentukan dahulu apa tujuan melakukan hobi tersebut. Hal-hal penting apa yang ingin dicapai dari hobi tersebut. Ada orang yang melakukan hobi untuk bersenang-senang. Ada yang ingin mencari selingan atau menyegarkan pikiran dan tenaga dari kepenatan rutinitas kerja. Ada pula yang melakukan hobi untuk mendapatkan kawan baru, ketrampilan baru atau suasana baru. Apapun tujuan melakukan hobi, tuliskanlah.

2. Pilih kegiatan yang disukai
Setelah menuliskan tujuan, tulislah daftar kegiatan yang dapat dipilih sebagai hobi yang memenuhi syarat untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu hal penting yang membuat pelaksanaan hobi berjalan lancar dan bertahan dalam waktu panjang adalah kecintaan pada hobi tersebut. Jika kita menyukai kegiatan tersebut, kita cenderung ingin melakukannya kembali. Karena itulah sebuah kriteria penting yang perlu diperhatikan ketika menuliskan daftar kegiatan tersebut adalah kesukaan atau kegemaran kita. Kegiatan-kegiatan apa yang akan membuat kita bahagia? Kegiatan apa yang jika dilakukan akan membuat semangat dan segar kembali? Kegiatan-kegiatan itu bisa jadi berhubungan dengan kegiatan rutin , tetapi bisa jadi sama sekali tidak berhubungan. Apapun itu, pastikan kegiatan yang dipilih benar-benar disukai.

3. Rasakan manfaat hobi
Selain kegemaran, hal lain yang membuat seseorang bertahan dalam melakukan hobi adalah manfaat yang didapatkan dari hobi tersebut. Manfaat ini bisa saja telah dituliskan ketika menetapkan tujuan; tetapi bisa jadi manfaat ini baru disadari dan dirasakan setelah hobi tersebut dilakukan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Semakin banyak manfaat yang didapatkan dari hobi, semakin besar motivasi untuk melanjutkan hobi tersebut. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan panduan ketika mencari manfaat dari hobi. Apakah hobi tersebut akan meningkatkan kualitas hidup kita? Jika ya, kualitas hidup apa yang bertambah dengan melakukan hobi tersebut? Atau apakah hobi tersebut justru mengurangi kualitas hidup kita? Jika ya, kualitas hidup apa yang hilang dari pelaksanaan hobi tersebut? Adakah hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut? Apakah hobi tersebut akan meningkatkan kualitas alam? Dengan cara apa? Atau apakah justru merusak alam? Bagaimana hal ini dapat dicegah? Adakah cara lain untuk melakukan hobi tetapi dengan cara yang tidak merusak alam? Apakah hobi tersebut akan membuat kualitas hubungan dengan orang-orang penting dalam hidup kita menjadi lebih baik? Adakah hubungan baru yang dapat dibangun dari hobi tersebut? Hubungan macam apa yang dapat ditingkatkan dengan pelaksanaan hobi tersebut? Atau apakah justru sebaliknya, hobi tersebut makin menjauhkan kita dari banyak orang yang kita cintai? Jika ya, bagaimana cara mengantisipasinya? Buatlah jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas dan tuliskan semua hal positif yang didapatkan dari hobi tersebut di dalam daftar manfaat hobi. Periksalah apakah manfaat tersebut benar-benar dirasakan setiap kali melakukan hobi tersebut? Jika, ya, jadikan hal itu sumber motivasi untuk melakukan hobi tersebut.

4. Perhatikan ketersediaan waktu
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memilih hobi adalah ketersediaan waktu. Banyak orang memulai hobi, tetapi kemudian berhenti karena tidak memiliki waktu untuk melakukan hobi tersebut. Untuk itu alokasi waktu untuk hobi menjadi penting. Jangan sampai karena alokasi waktunya kurang, hobi tersebut dijalankan dengan tidak tuntas yang berujung pada kekecewaan atau frustrasi. Jika ini terjadi, tujuan hobi untuk mencari kesenangan tentu tidak tercapai. Sebagai bahan awal untuk berpikir, sebelum memulai sebuah hobi, daftar pertanyaan berikut mungkin dapat membantu. Sejauh mana hobi tersebut penting untuk kita? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan hobi tersebut? Apakah kita benar-benar memiliki waktu yang dibutuhkan? Apa resikonya jika waktu tersebut tidak tersedia? Berapa banyak waktu yang benar-benar dapat dialokasikan untuk hobi tersebut? Bagaimana cara kita memastikan bahwa waktu untuk hobi tersebut tersedia? Adakah waktu untuk hal-hal lain yang harus dikurangi atau dibuat lebih efisien? Adakah waktu untuk hal-hal penting lain yang dapat digabung dengan waktu untuk hobi kita? Apakah kita benar-benar dapat menikmati hobi di waktu-waktu yang kita sediakan?

Agar pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab dengan baik, pertama-tama kita perlu mengenali struktur penggunaan waktu kita sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat daftar penggunaan waktu kita setiap hari. Kemudian, perhatikan kebutuhan waktu untuk hobi yang kita pilih. Pikirkan bagaimana waktu untuk hobi dapat kita masukkan ke dalam jadwal tersebut. Pahami kapan dan seberapa sering hobi tersebut harus dilakukan. Ada jenis-jenis hobi yang fleksibel kebutuhan waktunya, ada pula yang harus dilakukan di waktu-waktu tertentu. Contoh jenis hobi dengan kebutuhan waktu fleksibel adalah mengumpulkan benda koleksi, membuat kue atau berkebun. Untuk kegiatan-kegiatan tersebut, kita dapat mengatur waktu kita sendiri. Sebaliknya ada pula hobi yang harus dilakukan pada waktu tertentu, misalnya menonton sepak bola, atau mengikuti kelas tari salsa. Untuk jenis hobi yang kedua ini, tidak ada jalan lain kecuali menyediakan waktu sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah ada. Untuk hobi jenis ini, kita perlu melakukan pengaturan jadwal. Pada waktu yang dibutuhkan untuk melakukan hobi, adakah kegiatan-kegiatan lain yang sudah dijadwalkan pada waktu tersebut? Kegiatan-kegiatan tersebut mungkin dapat kita pindahkan ke jadwal yang lain atau sebaliknya kita perlu memeriksa apakah pelaksanaan hobi tersebut bisa dipindahkan ke waktu yang lain.

5. Sediakan sumber daya
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memilih hobi adalah ketersediaan sumber daya. Yang dimaksud dengan sumber daya di sini adalah uang dan barang yang harus disediakan untuk melakukan hobi tersebut. Apakah hobi tersebut menghasilkan uang? Atau justru menghabiskan uang? Dapatkah hobi tersebut dibiayai? Apakah kita memiliki uang tersebut? Atau apakah kita harus berhutang? Apakah hobi tersebut harus dibiayai terus menerus secara rutin? Atau cukup sekali investasi? Bagaimana kita akan membiayainya? Hal-hal tersebut perlu dipertimbangkan sebelum kita memutuskan memilih hobi tertentu. Jangan sampai setelah mengeluarkan uang banyak untuk dana awal hobi, ternyata kemudian hobi tersebut tidak dapat berlanjut. Apakah kebutuhan akan uang untuk membiayai hobi dapat digantikan dengan sumber daya lain? Jika ada benda hanya harus dibeli, apakah kita dapat menggunakan bahan bekas? Atau apakah kita dapat memperolehnya secara gratis dari orang lain? Atau apakah kita dapat berbagi biaya atau barang yang dibutuhkan dengan kawan-kawan?

6. Ajaklah kawan untuk melakukan hobi bersama
Hal terakhir yang perlu diperhatikan ketika memilih hobi adalah bersama siapa kita dapat melakukannya. Tergantung dari jenis hobinya, ada kegiatan-kegiatan yang lebih cocok dilakukan sendiri dan ada kegiatan-kegiatan yang cocok dilakukan bersama kawan. Untuk hobi yang cocok dikerjakan bersama, tentu akan sangat menyenangkan apabila dilakukan bersama dengan orang-orang yang kita sukai. Orang-orang ini belum tentu keluarga dekat atau teman sekantor, tetapi bisa jadi kawan bermain sejak kecil, atau kawan baru atau sahabat yang terasa sehati ketika membahas hobi tersebut. Bersama mereka, kita bisa lebih bersemangat dan senang melakukan hobi tersebut. Sebaliknya, diharapkan kualitas hubungan dengan mereka bisa lebih baik dengan pelaksanaan hobi tersebut bersama-sama.

Berkebun_salah satu pilihan hobi untuk aktivis
Itulah beberapa tips dalam memilih hobi. Kita bisa memutuskan, mulai memiliki hobi dari sekarang atau menunggu sampai tua nanti. Kita bertanggung jawab pada pilihan hidup kita sendiri. Kehidupan kita di masa mendatang akan tergantung dari apa yang kita lakukan saat ini. Semoga dengan hobi, hidup kita bisa lebih menyenangkan dan membahagiakan. Dan itu menjadi salah satu sumber energi untuk melakukan karya-karya yang luar biasa sebagai aktivis.

***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...