[PIKIR] PUJAAN KEPADA ROTI

Oleh : Umbu Justin

Ode to bread

Bread, you rise from flour, water and fire.
Dense or light, flattened or round, you duplicate the mother's rounded womb,
and earth's twice-yearly swelling.
How simple you are, bread, and how profound!
You line up on the baker's powdered trays
like silverware or plates or pieces of paper
and suddenly
life washes over you,
there's the joining of seed and fire,
and you're growing, growing
all at once
like
hips, mouths, breasts,mounds of earth, or people's lives.
The temperature rises, you're overwhelmed by fullness, the roar
of fertility, and suddenly your golden color is fixed.
And when your little wombs were seeded, a brown scar
laid its burn the length of your two halves'
toasted juncture.
Now,
whole,
you are mankind's energy,
a miracle often admired,
the will to live itself.


Lantas
kehidupan itu sendiri
akan mewujud menjadi roti
mendalam dan bersahaja
tak berbatas dan murni.
Semua mahluk hidup
akan mendapatkan bagiannya
atas bumi dan kehidupan
dan roti yang kita santap setiap pagi
rejeki harian setiap orang
akan diagungkan
dan dipandang suci
sebab ia didapat
dari jerih payah paling berharga
dari umat manusia…
(Pablo Neruda)

Antara Makan dan Makna

Makan itu sangat menentukan keberadaan. Setidaknya itulah kesan yang mula-mula kita rasakan jika kita memaparkan berbagai kebutuhan hidup. Dalam Piramida Kebutuhan Manusia yang digagas oleh Abraham Maslow (1954), makan merupakan kebutuhan paling mendasar; ia ada pada kaki piramida sebagai bagian utama dari ketahanan fisikal-biologis. Baru setelah ada cukup makan, manusia bisa beranjak memikirkan pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi nilai rohaninya dari sekedar fisik-biologis. Piramida Maslow tersusun mulai dari yang sangat jasmani, pemenuhan kebutuhan fisik dan biologis, dan berangsur menuju yang bersifat rohani untuk pemenuhan kebutuhan batin. Pada puncak piramida terletak kebutuhan yang paling tinggi. Sifatnya sangat rohani, yang menurut Maslow, adalah aktualisasi diri, yakni ketika manusia mulai berkontemplasi pada makna dan nilai kehidupan. Singkatnya, makan berada di dasar piramida sedangkan makna atau nilai berada di puncak piramida.


Piramida Kebutuhan menurut Abraham Maslow

Pablo Neruda, pegiat humanisme, untuk berjuang bersama rakyat Chile, menulis larik-larik sajak untuk menghormati roti, makanan yang universal, makanan keseharian manusia: Oda al Pan (Ode to Bread). Sepertinya sajak untuk roti ini sejajar dengan gagasan umum piramida Maslow.

Neruda bersyair tentang roti, yang merupakan wujud dari tujuan perjuangan menempuh kehidupan kaum miskin Chile. Adonan yang dibakar hari demi hari adalah roti bagi seluruh kehidupan dari rumah-rumah rakyat jelata. Rakyat tidak meminta kemerdekaan atau kebebasan berpendapat. Mereka tidak menuntut hak-hak politik, kebebasan beribadah, atau bahkan martabat kemanusiaan mereka. Rakyat hanya butuh makan. Mereka hanya perlu roti untuk sekedar hidup. Jika dilihat dalam perspektif motivasi pemenuhan kebutuhan oleh Maslow, rakyat jelata dalam sajak “Pujaan Kepada Roti tersebut benar-benar hidup dan berjuang di wilayah paling dasar piramida.

Apakah benar demikian?

Manusia mahluk Pemakan. Jika kita melihat makan sebagai sebuah tindakan dasariah, kemudian diperluas secara analogis untuk menjangkau seluruh aspek tindakan kita di dunia, dengannya kata makanbisa diartikan dengan mengonsumsi, memakan, menghabiskan, menelan, memangsa, mengambil, memiliki, mencaplok, menguasai dan seterusnya, maka kita memiliki lanskap persoalan yang lebih baik untuk mencerna sajak Pujaan kepada Roti”.

Pablo Neruda bersyair tentang perilaku kekuasaan yang begitu menekan rakyat miskin di negaranya. Kekuasaan politis memakan semua sumber-sumber kekayaan tanah air, mengubah segala sesuatu menjadi bisa dimakan, dilahap dan dihabiskan, termasuk martabat dan hak-hak politik rakyat jelata. Dengan kehilangan segala-galanya, tergerus sampai dasar penghidupannya, maka rakyat jelata hanya berharap pada roti sebagai syarat keberadaan. Hidup yang tidak memiliki ide pembelaan, tanpa harapan, tanpa cita-cita, tanpa nilai dan tanpa pemikiran apa pun. Hidup yang hanya perlu dipertahankan, dijalani dan diteruskan dengan makan roti sehari-hari.

Di sini sajak Pujaan Kepada Roti memiliki nilai kritisnya. Roti itu politis, makan itu politis. Mereka yang menaiki piramida lebih tinggi, yang mulai 'sadar' akan nilai, menyadari bahwa manusia itu sungguh mahluk pemakan, konsumen sejati.
Manusia senantiasa bergegas menuju tempat ia bisa makan, karena itu jika ada yang menguasai roti, ia bisa mendikte bagaimana makan berlangsung. Mereka yang mampu mendikte, baik secara politik, kekuatan ekonomi, kekuatan kekuasaan, kebudayaan, agama, akan memproduksi jenis roti yang melanggengkan permainan konsumerisme mereka. Begitulah bagaimana kekuasan berjalan.

Di puncak-puncak pencapaian kehidupan yang berkelimpahan, para penguasa, politisi, kaum intelektual, kaum agamawan, para pemilik modal dan penggerak perekonomian merayakan kehidupan bukan dari roti saja. Mereka memangsa, melahap kehidupan dengan mendikte. Dari mimbar-mimbar suci, media massa, kata-kata dan ide-ide mereka mengubah dunia menjadi roti kepuasan yang dilahap sampai tak bersisa. Manusia umum, masyarakat biasa yang mampu berpikir, yang bersentuhan dengan ide-ide politik, nilai-nilai, makna, dengan mudah terjebak pada dogma konsumerisme. Piramida kehidupan adalah piramida konsumerisme. Isi pikiran masyarakat bermartabat, yang mengandalkan kontemplasi intelektual ternyata tidak lagi orisinil. Mereka sudah tersihir oleh cerita bahwa hidup harus berhasil mencapai puncak piramida: the pursuit of happiness, mencapai kesejahteraan dengan kesempatan terbaik mengonsumsi isi kehidupan.

Sedangkan di dasar kehidupan, di mana tak ada lagi ide, pemikiran, atau gagasan yang bisa dilahirkan, hiduplah rakyat jelata yang sering tak bisa lagi ditipu oleh mimbar dan media massa karena tidak punya lagi kepedulian pada berlangsungnya dunia, mereka yang hanya butuh roti biasa yang otentik. Roti sebenarnya yang terbuat dari gandum, dari tanaman yang tumbuh di tanah asli, adonan yang dibentuk dan yang dibakar oleh pembuat roti. Rakyat yang berelasi langsung dengan kehidupan, rakyat yang mampu memuja roti yang datang dari sepetak tanah dan api pembakaran.

*******

Seluruh lapisan piramida Maslow hanyalah merupakan kerangka pragmatis untuk membedakan apa yang kita makan. Pada setiap tingkat piramida tersebut tersedia bentuk-bentuk konsumerisme, entah itu rasa aman, relasi, cinta, aktualisasi diri, prestise dan bahkan rasa keberagamaan. Piramida motivasi Maslow tidak berlangsung sebagai sebuah gambaran motivasi yang menggerakkan kita. Kita berada pada jaman dimana motivasi otentik yang seharusnya kita miliki telah digantikan oleh model-model pemenuhan kebutuhan yang didiktekan pada benak kita. Cara pandang kita pada hidup telah diracuni oleh media massa yang membangun suatu jagat raya konsumerisme yang pada akhirnya membahayakan kehidupan. Ada semacam naluri untuk menguasai benak semua manusia dan mematikan motivasi dan kreativitas otentik di dalamnya, dan sebaliknya ada naluri kawanan untuk tunduk dan patuh, kecenderungan untuk tenggelam dalam hipnotis, tersihir, pada kita. Kata kuncinya adalah makan, konsumerisme tak berujung.

Kembali pada piramida Maslow, antara Makan dan Makna, bentuk konsumerisme yang akut ini telah menihilkan nilai Makna pada mekanisme buta konsumerisme. Manusia tidak lagi berpikir atau berkontemplasi secara sadar. Yang ada hanya pola-pola konsumerisme yang sesuai dengan lapisan-lapisan piramida. Ketidakmampuan berkontemplasi pada kehidupan, hilangnya daya mencari makna membuat konsumerisme menjadi tak terukur, tak terpikirkan dan tidak bisa dievaluasi.

Kita memiliki semuanya secara palsu, teknologi dan berbagai kemajuan, budaya, agama, politik, kekayaan, makanan, harga diri, aktualisasi diri, citra diri, rasa aman. Semuanya palsu karena kita memakan makna yang didiktekan oleh sejumlah kekuatan yang efektif memanipulasi kesadaran kita. Tongkat sihir media massa membelokkan perhatian kita dari ancaman nyata kehidupan. Dari pewaris kehidupan kita dicuci otak menjadi pemangsa yang memakan habis kehidupan dengan membayar dan memperkaya kekuasaan: corrupted to corrupting -dirusak untuk menjadi perusak.

Tetapi korban konsumerisme bukan hanya kita yang berpikir dan para pemakan jelata. Bumi yang dikuras, dimakan oleh mesin konsumerisme ini tidak pulih lagi. Ia kehilangan begitu banyak kualitas untuk mendukung kehidupan yang adalah cirinya yang sangat unik di jagat raya ini. Polusi, berkurangnya keragaman hayati, dan hilangnya relasi otentik antara manusia dengannya adalah ancaman keberlangsungan yang nyata.

Ada sebuah istilah yang mengandung ironi tentang kehadiran manusia di bumi,
anthropocene, sebuah epos yang dimulai dari revolusi pertanian 15.000 tahun yang lalu sampai sekarang dan masih berlanjut, di mana kita berlaku sebagai pemangsa kehidupan. Manusia mempengaruhi kondisi geologis bumi secara signifikan, menginisiasi kemusnahan keberagaman hayati dan memperlakukan bumi sebagai properti, obyek konsumerisme, yang tak terbarukan.


Sumber foto : www.anthropocene.info
Anthropocene adalah kisah epik hilangnya relasi otentik antara manusia dengan bumi, dengan segenap jagat kehidupan. Tetapi katakanlah bumi memiliki daya hidup yang hebat, ia melewati berbagai kemusnahan dan terus berlanjut, terus memulai baru! Mungkin daya hidup bumi mampu mengatasi polusi atau musim dingin nuklir akibat ulah manusia, tetapi manusia tidak bisa berlanjut.

Makan dan menjadi makanan. Manusia harus mengembalikan relasi otentik tersebut. Relasi otentik itu adalah makan, ia ada dalam budaya makan kita. Caranya adalah berhenti menilai makan sebagai sebuah tindakan konsumerisme, melahap tanpa akhir yang membahayakan seluruh kehidupan. Kita harus berhenti menjadi pemangsa buta yang tersihir oleh dikte politik penguasa dan perusahaan-perusahaan kaya. Kita berhenti menghapal pola-pola konsumsi yang menghabiskan sumber daya dan membangun kesadaran makan yang otentik, yang berbasis relasi dengan totalitas kehidupan.

Bumi yang memberi kita makan,
bumi yang akan diwariskan kepada anak cucu kita.
Bumi memberi kita makan, semua mahluk diberi makan. Kita pun memberi makan bumi dan segenap kehidupan. kita berbagi, menjadi roti, menjadi makanan bagi sesama penghuni kehidupan. Di sini makan menjadi makna. Makna dari hidup adalah seni menjadi makanan, menjadi roti, seni berbagi, menjadi bermanfaat. Bumi menjadi roti bagi kita, dan atas cara yang sama kita pun menjadi roti sebab kita pun adalah bumi. Bumi adalah kehidupan, begitu juga kita sebab kita ini pun bumi. Menjadi bumi itu inklusif, kita semua adalah satu bumi yang sama yang unik di jagat raya. Di sini makan menjadi tindakan sakral. Makan itu berbagi, daya dinamis yang saling menghidupkan. Makan itu seperti cinta yang sebenarnya: saling berbagi, saling mendukung, menerima dan juga memberi dan semakin berlipat ganda.




No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...