[PROFIL] MBAH PAIMAN, KISAH SEORANG PETANI BANDEL


Oleh: Kukuh Samudra




Bumi kita saat ini dihuni oleh lebih dari 7 milyar manusia. Sejumlah manusia tersebut semua butuh makan. Kita bisa tetap hidup tanpa membaca buku, tanpa memegang ponsel, atau tanpa berkendaraan. Tapi tidak tanpa makan.

Maka tidak berlebihan sekiranya jika kita sebut petani sebagai profesi yang paling fundamental di bumi ini. Meski demikian kita seringkali kurang apresiatif terhadap profesi tersebut.

Saya dua kali bertemu dengan Mbah Paiman. Lelaki sepuh yang memproklamirkan diri sebagai petani kolot. Pertama, dalam sebuah kegiatan diskusi. Waktu itu saya kagum dengan perawakan Mbah Paiman yang meski sudah berumur 80 tahun namun tetap sehat dan energik. Topik diskusi mengenai pertanian organis hingga masalah penanganan sampah yang kontemporer, dijawabnya secara mendasar.

Perjumpaan yang pertama mendorong saya untuk kenal lebih dalam kepada Mbah Paiman. Saya putuskan untuk sowan ke rumah Mbah Paiman di Dusun Dhani, Desa Pereng, Mojogedang. Sekitar 45 menit berkendara dari pusat Kabupaten Karanganyar.

Waktu itu kami rombongan berempat datang ke rumah Mbah Paiman pukul 21.00. Tidak janjian dahulu. Namun, sepertinya beliau cukup terbiasa menerima tamu malam-malam. Kami diterima dengan sangat ramah. “Biasa, Mas. Kalau ke sini ada yang kadang baru datang jam 11 malam. Saya layani sampai subuh.”

Nama Mbah Paiman di Karanganyar dikenal terkait perjuangannya di bidang pertanian organik. Namun, namanya tidak hanya terkenal pada kalangan penggiat pertanian, dia juga dikenal di kalangan pegiat kesenian dan kebudayaan maupun politisi. Pilihan hidup dan tutur mengenai latar belakang hidupnya, menarik bagi siapapun yang ingin menimba ilmu.

Terdapat cerita di balik pengakuan Mbah Paiman sebagai petani kolot. Kolot yang dimaksud di sini bukan berarti tua seperti dalam bahasa Sunda, tapi lebih dimaksudkan sebagai sifat ngeyel atau memberontak.

Hal yang membuat Mbah Paiman memberontak tepatnya adalah tata cara pertanian yang tidak ramah terhadap alam. Semua bermula pada program revolusi hijau yang diterapkan saat pemerintahan Presiden Soeharto.

Program revolusi hijau dimaksudkan untuk memacu produksi pangan sebagai langkah respon terhadap ledakan penduduk yang tidak terbendung. Isi program revolusi hijau antara lain percepatan produksi dengan menggunakan pupuk kimia dan racun sintetis.

Seketika Mbah Paiman resah. Ketika program itu dicanangkan, dia sedang di penjara di Nusakambangan akibat sebuah kesalahan yang hingga kini dia tidak tahu dengan terang. “Tidak ada pengadilan hingga saat ini,” begitu terangnya.

Dia menjelaskan, bagaimana saat itu, sambil sembunyi-sembunyi bersama tahanan yang lain membahas bahaya dari penerapan program revolusi hijau.Salah satu yang ganjil dari program tersebut adalah ketika tahun 1955, untuk mengatasi wabah malaria, pemerintah menggunakan racun DDT [1]. Namun, segera setelah mengetahui dampak bahaya yang ditimbulkan, pemerintah segere melarang. Mbah Paiman bertanya-tanya, “Tahun 1955, penggunaan racun sintetis sudah dilarang, mengapa pada tahun 1968 diterapkan kembali?”

Mbah Paiman paham betul, meski mungkin dapat memacu produksi pangan dalam jangka pendek, terdapat dampak jangka panjang yang sangat berbahaya jika program tersebut diterapkan. Ada empat simpulan Mbah Paiman jika program revolusi hijau tetap dijalankan: 
a.                   Degradasi lahan, tanah yang subur akan jadi tandus dan ketat
b.                  Banyak macam penyakit yang menyerang manusia karena mengonsumsi tanaman yang terkena residu racun
c.                   Usia manusia akan makin pendek. 
d.                  Rusaknya ekosistem keseluruhan.

Rezim orde baru ingin program revolusi hijau diterapkan oleh segenap petani yang ada di Indonesia. Bagi yang tidak menjalankan program tersebut, dianggap membangkang. Apalagi melayangkan protes. Dan salah satu orang yang berani menentang program tersebut dan tetap konsisten hingga sekarang salah satunya adalah Mbah Paiman. 

Pilihan hidup menjadi petani telah dijalani Mbah Paiman seumur hidupnya. Hal ini tidak lepas dari perintah orangtuanya yang ingin Mbah Paiman menjadi petani. “Saya tidak boleh sekolah karena saya harus jadi petani. Bapak saya khawatir saya menjadi pegawai negeri, karena pegawai negeri itu pemalas,  tidak mau mencangkul.” tutur Mbah Paiman.

Meskipun tidak boleh bersekolah oleh ayahnya, bukan berarti Mbah Paiman tidak belajar. Dia bertekad untuk menjadikan alam sebagai tempatnya belajar. “Ketika melihat teman saya bersekolah, saya merasa kepingin. Kepingin sekali. Sambil nyangkul sendirian, lama-kelamaan saya menemukan jalan keluar. ‘Sekolah itu tidak hanya di bangku sekolahan, masa alam ini tidak bisa digunakan untuk belajar? Sejak dahulu (leluhur) kita tidak ada sekolahan juga pintar-pintar. Maka saya menempatkan diri bahwa alam semesta harus menjadi guru besar saya. Tanah ini harus menjadi guruku!”

Semangat bertani Mbah Paiman adalah semangat seorang warga yang menyadari bahwa dia hidup di negara agraris. Adalah sebuah ironi menurut Mbah Paiman, negeri yang mendeklarasikan diri sebagai negara agraris, justru mengimpor bahan pangan dari negara lain. Dan sebuah ironi juga bagi sebuah negeri agraris, petaninya tidak sejahtera.

Dalam ranah praktis, Mbah Paiman cukup prihatin dengan kondisi petani saat ini yang kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan sehingga sangat bergantung pada dunia industri.  Mulai dari benih hingga pupuk, petani sekarang harus membeli. Padahal, benih seharusnya dapat dikembangkan dan dihasilkan sendiri dari hasil panen. Sementara untuk mendapatkan pupuk, petani seharusnya dapat membuat sendiri dengan cara mengompos.

Sebagai seorang petani kolot, Mbah Paiman sedih dan jengkel melihat kondisi alam saat ini rusak akibat praktek pertanian yang tidak memperhatikan ekosistem. Penyaluran kesedihan dan kejengkelan Mbah Paiman adalah dengan membuat geguritan (puisi jawa) maupun menulis.

Salah satu tulisannya berjudulRatapan Tangis Burung dan Katak”. Saat ini burung berkicau bukan menyanyi seperti dahulu. Tapi sekarang burung berkicau menangis. Kapan dia kena racun? Dulu kodok yang di sawah, ketika dulu menghibur petani yang mengurus air di sawah. Itu musik alami yang luar biasa. Tapi kalau sekarang dia berbunyi atau bernyanyi, itu sebetulnya menangis. Kapan mati kena racun?” tukasnya.

Mbah Paiman hingga saat ini masih terus bertani. Pagi hari dia ke sawah bersama rombongan petani yang lain. Kadang-kadang dia bertani menggarap ladang yang ada di belakang rumahnya. Dalam bertani dia konsisten menjalankan pertanian organik: tidak menggunakan pestisida kimia, pupuk sintetis, maupun benih GMO (genetically modified organism).

Bagi rekan-rekannya, laku tani yang dijalankan oleh Mbah Paiman itu aneh. Mbah Paiman yang membuat pupuk organis sendiri dan menanam benih dari hasil panen dipandang sebelah mata karena mengikuti teknologi pertanian terkini.

Sementara di satu sisi Mbah Paiman prihatin dengan kebiasaan para kawannya, sesama petani yang tidak paham dampak dari perilaku pertanian mereka terhadap ekosistem alam. Mbah Paiman ingin menyebarkan ilmu dan pemahamannya mengenai pertanian organis kepada kawan-kawannya. Tapi usaha tersebut ternyata tidak mudah. Mula-mula, hanya satu dua orang yang ikut dan tertarik. Saat ini, meski tidak banyak jumlah orang yang ingin ikut belajar dari Mbah Paiman terus bertambah sekitar 5-10 orang.

Bersama kelompok tani yang diikutinya, Mbah Paiman menjual hasil panen beras yang dihasilkan dengan label beras organis. Beras yang dijual ini telah lulus sertifikasi organis dan dikemas berbeda untuk membedakan dengan beras lain yang bukan organis.Sementara dari ladang, Mbah Paiman memperoleh hasil panen seperti pisang dan buah-buahan lain yang dia konsumsi sendiri.
Mbah Paiman sendiri membuka diri bagi siapapun yang ingin belajar bertani secara organis. Siapa saja dari mulai peneliti atau mahasiswa yang ingin bertanya sekilas mengenai pertanian organis, hingga yang ingin magang dan praktek. Mulai dari wawancara yang berdurasi satu jam, hingga yang live in untuk beberapa pekan.

Ada kala kita merasa jenuh, capai, atau bosan ketika sedang berusaha atau memperjuangkan sesuatu yang kita yakini. Di saat seperti itu, coba untuk pergi ke suatu tempat dan temukan orang yang membuat kita kembali bersemangat. Tidak selalu tempat yang jauh, tapi barangkali justru tempat yang dekat yang selama ini justru luput dari pengamatan. Mbah Paiman, 80 tahun, petani kolot.  Terus berjuang melakukan pertanian selaras alam.


[1] (diklorodifeniltrikloroetana/dichlorodiphenyltrichloroethane) merupakan senyawa yang digunakan untuk mengendalikan populasi serangga umumnya pada iklim panas. Bagaimanapun beberapa serangga mengembangkan sifat resistensi terhadap DDT dan dapat diwariskan pada keturunannya. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/DDT).
Bahan racun DDT sangat persisten (tahan lama, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin sampai 100 tahun atau lebih), bertahan dalam lingkungan hidup sambil meracuni ekosistem tanpa dapat didegradasi secara fisik maupun biologis (Sumber: http://www.kelair.bppt.go.id/sib3popv25/POPs/DDT/ddt.htm)
 


[PROFIL] INES SETIAWAN (SHINE) MENDORONG KEBERLANJUTAN MELALUI PENDIDIKAN INFORMAL


Oleh: Kandi Sekarwulan

 
Bulan Mei 2019 lalu, sempat tersebar kabar bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah climate deniers (penyangkal krisis iklim) terbesar di dunia. Media-media seperti Jakarta Post dan Vice  menyebutkan, 1 dari 5 orang di Indonesia tidak percaya bahwa krisis lingkungan di bumi disebabkan aktivitas manusia.

Walau menyedihkan, fakta ini sulit disangkal mengingat kesadaran dan kepedulian lingkungan bangsa Indonesia memang rendah. Indonesia adalah pemilik sungai paling kotor di dunia, juga negara ke-2 penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan. Di sisi lain, pendidikan di Indonesia yang masih menganut pola konvensional sama sekali jauh dari pengembangan kesadaran lingkungan yang serius. Kampanye dan edukasi yang ada belum berhasil menyadarkan orang Indonesia untuk menjaga lingkungan.

Adalah Ines Setiawan, seorang pendidik asal Tangerang, yang tergerak untuk memperbaiki permasalahan tersebut. Bekerja sebagai pengajar pada sebuah sekolah internasional di bilangan BSD, Beliau mendirikan suatu platform pendidikan untuk mewadahi idealismenya terkait permasalahan pendidikan. Lembaga tersebut dinamainya SHINE, singkatan dari Sustainable Hyper-platform for Indonesian Network of Educators. Karena ketertarikannya pada sains, lembaga ini dimaksudkan Ines untuk mengedukasi sains dengan cara yang menyenangkan serta bermakna.

Didirikan pada tahun 2014, SHINE tidak langsung aktif karena kesibukan pribadi Ines sebagai pengajar. Namun seiring perubahan manajemen di sekolah, beliau merasakan berbagai ketidaknyamanan saat mengajar, termasuk keterpaksaan menurunkan mutu pendidikan akibat kebijakan sekolah yang tidak mendukung. Hal ini memotivasinya menciptakan perubahan melalui jalur luar sekolah, yaitu SHINE. Dorongan lebih jauh diperoleh Ines dari seorang kawan yang bekerja di Australian Rural Development Program. Kawan tersebut mengajak SHINE bekerja sama dalam sebuah program kepemimpinan yang ternyata sangat inspiratif. Kerjasama tersebut menjadi titik awal bagi Ines untuk memulai kelas-kelas pertamanya di SHINE.

Kelas pertama SHINE adalah workshop membuat keju bersama anak-anak, bertempat di rumahnya sendiri. Dihadiri oleh sejumlah anak, kelas tersebut mendapat respon yang baik sehingga dibuatlah kelas selanjutnya. Sejak saat itu, kegiatan edukasi SHINE terus bergulir dan berkembang. Terhitung hingga saat ini (Juli 2019), kelas-kelas SHINE telah melayani sekitar 11.000 orang mulai dari anak, dewasa hingga keluarga. Ragam materinya pun semakin banyak, mulai dari kelas produk susu, sabun, coklat, awetan buah, jamur, hingga bioplastik, juga kelas peningkatan kapasitas seperti kewirausahaan dan literasi keuangan, serta berbagai ekskursi/kunjungan lapangan.

Tentang pendekatan organisasi, Ines mengaku memilih wirausaha sosial atau sociopreneur. Keputusan ini diambil karena pengalaman saat melakukan kegiatan sosial yang sepenuhnya bergantung pada donasi dirasa kurang berhasil. “Saya belajar, pendidikan yang terlalu komersil memang memberatkan orang. Tetapi jika pendidikan sepenuhnya gratis atau bergantung pada donasi, orang jadi tidak menghargai prosesnya. Kualitas tenaga pendidik juga tidak bisa dijamin.” ,demikian paparnya.

Melalui bentuk sociopreneur, Ines menjelaskan, SHINE dapat memberikan manfaat lebih bagi masyarakat dan lingkungan. Manfaat pertama adalah SHINE mampu mengedukasi cara-cara hidup berkelanjutan/ramah lingkungan yang sangat aplikatif bagi pesertanya. Sehingga, tanpa perlu berpanjang-panjang membahas permasalahan lingkungan, para peserta kelas SHINE telah menerapkan berbagai aspek berkelanjutan secara tak sadar. Contohnya, dengan membuat awetan buah, para ibu rumah tangga dapat mengurangi jejak karbon di rumah, memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus menyelesaikan permasalahan limbah makanan (memanfaatkan buah-buahan yang tidak terjual di pasar). Membuat sabun minyak jelantah, misalnya, selain mengurangi limbah juga dapat menjadi sumber pemasukan bagi keluarga, dan lain sebagainya.

Menurut Ines, selain manfaat langsung dari edukasi, terdapat pula manfaat lanjutan yaitu adanya pemberdayaan masyarakat. Banyak di antara peserta SHINE yang mengembangkan bisnis berbekal keahlian yang diperoleh dari kelas. Para peserta yang telah ahli juga difasilitasi untuk menjadi pengajar SHINE, dan dapat menyelenggarakan kelas-kelas baru di daerah masing-masing.

Walaupun saat ini SHINE telah bekerja sama dengan berbagai institusi dan perusahaan besar, Ines tetap percaya bahwa  pendidikan yang terjangkau sangat penting. “Di tempat lain, orang bisa membayar 600.000 rupiah untuk satu kali workshop sabun. Yang mahal sebenarnya bukan pendidikan, tapi sewa tempat, goodie bag, konsumsi, dan lain sebagainya. Kalau ada klien yang ingin fasilitas seperti itu, kami bisa berikan, tetapi (jika tidak diminta), kami tetap harus memberikan akses untuk orang-orang lain yang tidak sanggup membayar mahal. Di SHINE, kami peras seminim mungkin biaya-biaya yang tidak perlu, sehingga bagian terbesar biayanya untuk membayar tenaga pendidik dengan layak. Hanya dengan cara itu kami bisa memberikan pendidikan yang berkualitas namun terjangkau, sekaligus menghargai pendidiknya,” jelasnya.

Jalan idealis yang ditempuh Ines tidak lepas dari berbagai kendala. Sistem SHINE yang sangat terbuka dan inklusif terkadang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Sempat terjadi konflik ketika ada orang yang membeli bahan-bahan pelatihan dari SHINE dengan harga murah, kemudian menjual pelatihannya sendiri dengan harga komersil. Ada juga orang yang mengadakan pelatihan dengan mengatasnamakan SHINE tanpa berkoordinasi sebelumnya. Namun, bagi Ines, permasalahan semacam ini dirasa tidak terlalu mengganggu, karena Ines percaya hanya usaha baik yang akan berkelanjutan. “Usaha yang dilakukan dengan curang, lama-lama orang tidak percaya, sehingga akan mati dengan sendirinya.”

Pendidikan yang diberikan oleh SHINE dirasa memberikan manfaat yang besar para peserta, khususnya dalam bidang kemandirian pangan. Dalam berbagai post-nya di Facebook – media sosial yang dipilih menjadi platform untuk menyebarluaskan program dan nilai-nilai SHINE – Ines seringkali menyampaikan, mencukupi kebutuhan gizi keluarga tidak harus mahal. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup, orang bisa memanfaatkan potensi alam dan lingkungan sekitar untuk mendapatkan makanan yang enak, bergizi serta berkualitas tinggi. Jika tidak sanggup membeli daging, ada jamur dan sumber-sumber protein nabati lain yang dapat ditumbuhkan di rumah. Jika keju atau coklat bagus yang dijual di supermarket terlalu mahal, dengan sedikit pengetahuan kita bisa membuat sendiri makanan tersebut, bahkan mendapatkan hasil yang bebas pengawet ataupun bahan aditif lain. Juga dengan sedikit wawasan botani, kita bisa memanfaatkan tumbuhan liar sebagai bahan makanan (disebut juga foraging/meramban). Pendidikan yang sesuai konteks dan kebutuhan dapat memberdayakan orang, sehingga mereka mempunyai berbagai pilihan dalam mewujudkan hidup berkualitas.

Ines Setiawan mungkin termasuk tipe manusia yang langka. Di saat kebanyakan orang mengeluh dan menuntut pemerintah untuk memperbaiki nasib mereka, beliau memilih untuk bergerak menciptakan perubahan dari lingkaran terkecil. Menurut pendapatnya, “Siapapun pemimpinnya, pasti akan kewalahan kalau rakyatnya malas dan mau enaknya sendiri.”. Setiap orang berhak dan perlu memperjuangkan hidupnya sendiri, tanpa harus bergantung pada pemerintah, atasan atau siapapun. Caranya adalah dengan selalu mendidik dan mengembangkan kapasitas diri. Bahkan pengetahuan sains sederhana, selama dipahami dan diterapkan dengan baik, dapat membantu mewujudkan hidup yang berkualitas.

***

[RUMAH KAIL] UPAYA DAN TANTANGAN MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN HIDUP MELALUI RUMAH KAIL



Belum lama ini, kita merasakan pemadaman listrik di sebagian pulau Jawa, termasuk Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Yang terjadi selama pemadaman tersebut, dalam aktivitas rumah tangga, orang-orang menjadi terbatas aktivitasnya, misalnya, tidak dapat menanak nasi menggunakan penanak nasi yang bertenaga listrik. Kebutuhan air pun tersendat, karena sebagian besar menggunakan pompa air untuk mengalirkan air dari saluran pipa air ke dalam rumah. Beberapa orang yang menggunakan kompor listrik tidak dapat melakukan aktivitas memasak. Untuk memesan makanan via ojek online, tidak bisa, karena sinyal HP mengalami gangguan akibat pemadaman listrik, atau ponsel sudah terlanjur kehabisan daya, tidak bisa mengisi daya karena pemadaman listrik. Betapa besar ketergantungan manusia pada listrik!

Ketergantungan yang cukup besar kepada suatu benda, seringkali membuat kita mati kutu, ketika benda tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jika pada paragraf di atas contoh yang disebutkan sebagai sumber ketergantungan adalah listrik, maka sebetulnya ada lebih banyak hal di dunia ini yang menimbulkan ketergantungan. Seperti ketergantungan seseorang pada produk makanan, pakaian atau gadget tertentu. Ketergantungan tersebut seringkali menutupi kesadaran bahwa sesungguhnya kita punya kemampuan untuk memilih. Memilih apa? Memilih untuk hidup lebih berkualitas sesuai dengan kemauan kita, lebih bahagia, lebih sehat dan selaras dengan alam. 

Mungkin saja,  manusia di zaman ini memang tidak 100% dapat menghasilkan produk-produk kebutuhan hidupnya sendiri. Berbagai kondisi, misalnya, sumberdaya, waktu dan tenaga, membuat manusia mengalami kesalingtergantungan dengan pihak lain untuk mendapatkan produk-produk kebutuhan hidupnya. Namun sejauh mana kesalingtergantungan ini, antara sesama manusia maupun hubungan antara manusia dan alam memberikan manfaat bagi kedua belah pihak? Sejauh mana hubungan saling membutuhkan itu justru saling mengisi, bukan mengeksploitasi salah satu di antaranya? Apakah benar, dengan menyadari dan membuka peluang untuk memilih pola dan gaya hidup,  kita justru memiliki kualitas hidup yang tinggi dan tetap menjaga harmonisasi kita dengan alam?

Rumah KAIL dan Material Pendukungnya

Sejak Rumah KAIL dibangun tahun 2013, hingga saat ini di Kampung Cigarukgak, KAIL mengutamakan langkah-langkah yang mendukung kepada kemandirian. Sejak awal, kemandirian tersebut tercermin dalam proses memilih dan menentukan rancangan bangunan dan pemilihan material untuk bangunan.  Rumah KAIL dibangun dengan menggunakan bahan bekas. Hingga saat Rumah KAIL sudah berdiri, KAIL berupaya mandiri dengan memilih material pendukung yang digunakan saat pelaksanaan kegiatan-kegiatan di  Rumah KAIL. Misalnya, menggunakan perabot makan yang dapat dicuci dan dipakai ulang daripada perabot makan yang sekali pakai. Menggunakan kertas bekas print yang bagian belakangnya masih kosong untuk menulis saat pelatihan, dibandingkan menggunakan kertas baru. Membuat meja dan kursi yang berasal dari kayu bekas layak pakai sehingga jika rusak di kemudian hari, sampahnya tidak membebani bumi.

Berbagai upaya telah dilakukan KAIL  dalam mewujudkan kemandirian hidup yang selaras dengan alam di Rumah KAIL maupun lingkungan sekitar. Ada kalanya upaya tersebut membawa hasil yang memuaskan. Namun ada kalanya meski usaha telah dikerahkan, namun belum membawa hasil yang diharapkan hingga saat ini. Itu artinya, proses pembelajaran masih belum selesai.

Tantangan Pola Hidup di Masyarakat Sekitar Rumah KAIL

Rumah KAIL menjunjung nilai praktek hidup yang selaras dengan alam. Dalam kegiatan sehari-hari, Rumah KAIL mengupayakan penggunaan produk-produk alami, dan sebisa mungkin menghindari terbuangnya sampah, terutama sampah anorganik (sampah yang tak dapat diurai) ke tanah. Materi yang bersifat organis, seperti sisa-sisa makanan dijadikan kompos atau ditimbun di dalam tanah sebagai sumber makanan biota tanah.

Masyarakat di sekitar Rumah KAIL belum memiliki sistem pembuangan sampah yang terorganisir. Sehingga, banyak rumah tangga di lingkungan sekitar Rumah KAIL mengambil jalan pintas untuk meniadakan sampah yaitu dengan membakarnya. Namun demikian, pembakaran sampah menimbulkan dampak yang buruk. Selain asapnya menyebabkan polusi udara,  unsur hara pada tanah yang digunakan sebagai tempat membakar sampah akan hilang. Apabila ada material plastik yang turut dibakar, maka asap pembakarannya menghasilkan racun yang dapat memicu penyakit bagi manusia yang menghirupnya. Kebiasaan membakar sampah di sekitar Rumah KAIL menjadi tantangan bagi KAIL untuk mengedukasi masyarakat sekitar tentang bagaimana pengelolaan sampah yang lebih selaras dengan alam.

Lahan pembakaran sampah rumah tangga di dekat Rumah KAIL


Sementara itu, KAIL selalu meminta semua pengunjung Rumah KAIL, baik itu peserta pelatihan, staf dan relawan KAIL, maupun tamu untuk membawa kembali sampah anorganik yang mereka bawa ke Rumah KAIL.Di Rumah KAIL sengaja tidak disediakan fasilitas kotak sampah anorganik. Aturan ini mengedukasi pengunjung agar sebisa mungkin tidak membawa makanan dan minuman yang berkemasan plastik ke Rumah KAIL. Jika KAIL perlu memesan makanan ringan untuk konsumsi kegiatan, KAIL memilih jenis makanan yang tidak berkemasan plastik. Jika makanan tersebut adalah makanan yang berbungkus, KAIL akan memilih kue dengan bungkus daun pisang, misalnya nagasari atau lemper. Ketika akan membeli makanan, KAIL membawa  kotak makan untuk wadah kue-kue tersebut. Ketika memesan makanan, KAIL akan menitipkan kotak makanan terlebih dahulu kepada si penjual, agar mengurangi plastik atau kresek pembungkus. KAIL juga mengupayakan untuk memesan makanan di tetangga sekitar Rumah KAIL. Selain berguna untuk menjalin silaturahmi, pemesanan makanan di tetangga sekitar Rumah KAIL juga bertujuan agar sisa material organis yang mungkin digunakan sebagai bahan makanan dibuang masih di sekitar Rumah KAIL, sehingga mendukung  meluasnya area tanah subur di sekitar Rumah KAIL. Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk mengurangi jejak karbon yang mungkin ditimbulkan jika memesan makanan dari tempat yang jauh.  Jadi, untuk satu aksi yang dipilih dengan mandiri, ada banyak tujuan yang disasar.  Tentu saja, dengan membiasakan tidak memilih makanan dan minuman berkemasan, kita juga berlatih untuk membebaskan diri dari bentuk ketergantungan terhadap makanan dan minuman berkemasan anorganik.

Pilihan Makanan yang Lokal dan Sehat

Dalam memenuhi kebutuhan pangan, baik untuk operasional sehari-hari maupun kegiatan pelatihan, Rumah KAIL pun berupaya mandiri dengan penyediaan pangan dari kebun sendiri. Ada berbagai tanaman di Kebun KAIL yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, walaupun belum 100%. Kebun tersebut dijalankan dengan prinsip ramah lingkungan dan berkelanjutan, yaitu menggunakan material organis yang berasal dari kebun itu sendiri, maupun hasil olahan biodigester untuk menjaga kesuburan tanah. Proses-proses kemandirian Rumah KAIL dalam pemenuhan kebutuhan pangan, dapat dilihat pada artikel ini: http://proaktif-online.blogspot.com/2018/04/rumah-kail-kebun-pangan-di-rumah-kail_20.html .


Untuk mengupayakan hidup yang lebih sehat, selain memperkenalkan makanan yang berkemasan minim sampah, KAIL juga memilih untuk sebisa mungkin menyajikan makanan dan minuman berjenis lokal yang enak dan sehat dalam kegiatan-kegiatan di Rumah KAIL. Kue nagasari, kacang dan singkong rebus, rujak tahu, bubur kacang hijau, buah-buahan, bandrek dan jamu adalah beberapa penganan ringan yang sering muncul dalam kegiatan pelatihan di Rumah KAIL. Tumis daun pseudo-ginseng dan perkedel talas merupakan hasil Kebun KAIL yang kerap menjadi sajian lauk makan siang di Rumah KAIL. Sesekali, makanan-makanan ini masih disajikan berdampingan dengan gorengan tahu isi dan cireng buatan tetangga Rumah KAIL. Namun, sudah dapat dipastikan bahwa semua makanan-makanan ini dibuat tanpa menggunakan MSG, pengawet dan pemanis/ pewarna buatan.

Perlu dicatat, KAIL juga menularkan prinsip-prinsip hidup berkelanjutan dan selaras dengan alam ini kepada anak-anak yang tinggal di sekitar Rumah KAIL. Dalam kegiatan Hari Belajar Anak yang diselenggarakan setiap bulan, anak-anak diajak untuk mengurangi jajanan berkemasan dengan mengenalkan snack sehat dan minim sampah.  Cukup mengejutkan awalnya, ternyata snack kesukaan anak-anak adalah buah-buahan. Jika disajikan buah potong seperti pepaya, pisang dan buah naga,  biasanya piring langsung licin tandas, tak bersisa. Merupakan hal yang penting bagi KAIL bahwa anak-anak pun terpapar dengan prinsip-prinsip hidup sehat dan selaras dengan alam, karena anak-anak justru merupakan generasi yang akan meneruskan kehidupan hingga puluhan tahun ke depan. Seperti apa pengalaman yang mereka terima saat ini, tentunya berperan dalam pola hidup yang akan mereka jalankan saat dewasa nanti.

Mengolah sendiri kopi hasil kebun di Rumah KAIL



Tantangan Alam di Sekitar Rumah KAIL

Halaman belakang Rumah KAIL tepat bersisian dengan sebuah sungai kecil, yang merupakan bagian dari sub-DAS (Daerah Aliran Sungai) Cikeruh, yang kemudian menyatu dengan bagian DAS Citarum. Beberapa bagian dari tebing yang bersisian dengan sungai telah terkikis sedikit demi sedikit akibat kikisan air sungai saat alirannya deras. Pun tanah bagian atas pernah mengalami longsor agak banyak, disebabkan tiadanya akar-akar pohon yang mengikat struktur tanah tersebut. Sementara di tempat lain di sekitar Rumah KAIL, staf KAIL pernah menyaksikan penebangan pohon untuk pembangunan rumah yang lokasinya persis di tepi sungai. Praktek penebangan pohon untuk berbagai keperluan, tanpa tanggung jawab untuk menanami kembali masih terjadi di sekitar Rumah KAIL, padahal seperti yang dipaparkan sebelumnya, bahaya longsor mengintai. Menjadi tantangan bagi KAIL untuk menggugah kepedulian dan kesadaran masyarakat tentang bahaya yang mungkin terjadi, bukan sekarang, tapi di kemudian hari.

Sungai di halaman belakang Rumah KAIL


KAIL merancang kebun dengan prinsip berkelanjutan. Bagian terluar Kebun KAIL dirancang dengan kondisi alam menyerupai ekosistem hutan atau zona liar, di mana siklus alam memegang peranan utama. Akar tanaman yang tumbuh di zona liar Kebun KAIL, seperti pala, aren dan bambu saat ini menjadi penahan laju air di tanah yang dapat mempercepat erosi dan longsor.

Tantangan lainnya dalam perawatan kebun, antara lain tantangan kondisi tanah dan sumber daya manusia dalam pengelolaan kebun. Jenis tanah di Kebun KAIL sebenarnya merupakan jenis tanah lengket seperti tanah liat. Setelah diolah dan dirawat, tanah di Kebun KAIL menjadi subur untuk ditanami. Terutama di musim hujan, kebun KAIL menghasilkan panen cukup banyak dan beragam, sehingga hasil tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di Rumah KAIL. Namun, di musim kemarau, sebagian tanah menjadi kering dan pecah-pecah. Tidak terlalu banyak  panenan yang dapat dimanfaatkan dari Kebun KAIL.

Sistem di Rumah KAIL sesungguhnya telah disiapkan untuk mandiri dalam perawatan kebun, yaitu dibangunnya biodigester sebagai pengolahan kotoran sehingga menghasilkan material organis yang dibutuhkan untuk kesuburan tanaman. Namun demikian, biodigester belum berfungsi sepenuhnya, karena belum cukupnya jumlah kotoran yang dihasilkan dari WC atau toilet di Rumah KAIL  yang dapat diolah oleh biodigester, sehingga penggunaannya belum maksimal.
Dalam perawatan Rumah KAIL, KAIL menghadapi tantangan lainnya, yaitu dalam menghadapi rayap dan tikus. KAIL mengupayakan untuk tidak menggunakan obat-obatan kimia untuk mengusir hewan-hewan tersebut . Upaya yang pernah dilakukan adalah menggunakan cairan tembakau untuk mengusir rayap.  

Penutup

Upaya KAIL untuk mewujudkan pilihan hidup berkualitas dan selaras dengan alam masih terus dilakukan. Berbagai tantangan masih dihadapi KAIL dan belum semuanya dapat teratasi. Melalui praktek di Rumah KAIL, masing-masing anggota KAILpun tengah berproses dan belajar untuk  mengembangkan kemandirian menentukan pilihan-pilihan untuk mencapai hidup yang lebih berkualitas . Dan semoga, nantinya, tidak hanya di KAIL saja hidup yang berkualitas tinggi dan selaras alam dapat diwujudkan, namun juga dapat dicapai di lingkungan sekitar dan menjangkau tempat-tempat yang lebih luas lagi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...