[OPINI] Mental Blocking vs Kesehatan Emosi

Oleh: Anastasia Levianti 

Pernahkah Anda merasakan amarah luar biasa terhadap seseorang? Apakah amarah itu mendorong Anda melakukan tindakan tertentu secara intens? Pernahkah Anda merasa sangat suka terhadap seseorang atau sesuatu, sehingga ketagihan ingin terus bersamanya secara berlebihan? Atau, pernahkah Anda merasakan ketakutan besar sehingga Anda menghindari hal tersebut setiap kali berhadapan dengannya? Satu jawaban Ya, menunjukkan Anda memiliki mental blocking.

Mental blocking adalah sebuah kondisi mental yang terbatas atau terhalang, sehingga aktivitas mental tidak lancar. Batasan atau halangan itu terbentuk akibat pengalaman masa kecil, yang tanpa sadar, Anda hayati menyakitkan. Misalnya, anak yang ditinggal tidur sendiri tanpa ditemani, merasa ketakutan, dan mengalami serangan panik, akan tumbuh menjadi pribadi yang takut, tidak nyaman, dan gelisah saat berada sendirian tanpa teman, tanpa melakukan suatu aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu, atau tanpa sesuatu hal lain yang dapat ia jadikan sandaran. Situasi ketidakpastian membuatnya resah. Ia lalu mencari-cari sumber ketenangan dari luar, berupa teman, bacaan, kegiatan, dan lain sebagainya. Tanpa ia sadari, ia melekat (terpaku, menempel erat, sulit lepas) pada kebutuhan akan rasa aman-nyaman.

Mental blocking dan kelekatan ini beragam macamnya. Apapun itu, hal tersebut menjebak Anda dalam pemahaman keliru atas peristiwa baru yang dihadapi pada masa sekarang. Contohnya, seorang staf terluka oleh kritik dari pimpinannya. Ia merasa pimpinan terlalu fokus menyoroti hasil kerjanya, seperti mencari-cari kesalahan. Ia merasa bagaimanapun hasil kerjanya, tidak pernah sempurna, dan selalu saja ada perbaikan yang harus ia lakukan. Dalam contoh ini, peristiwanya adalah bawahan menerima saran-kritik dari atasan. Namun bawahan menghayatinya secara berlebihan, yaitu sebagai kritikan yang terus menerus dan tidak mungkin pernah absen, sampai ia kelelahan karena diri tidak pernah sempurna. Saran-kritik atasan, mencungkil mental blocking bawahan, dimana ia sendiri sebetulnya (nyata terjadi, tapi tidak disadari / diakui) selalu merasa ada cacat yang tidak dapat disembuhkan.

Jebakan mental blocking-kelekatan hampir selalu muncul dan mencemari cara seseorang merasa, berpikir, dan bertindak. Saat menghadapi situasi negatif di kehidupan sosial kemasyarakatan, seperti bencana alam dan ketidakadilan, jebakan tersebut menjadi tenaga pendorong dari respon yang muncul, yaitu antara lain mengabaikan, menyerang, atau memperbaiki. Respon mengabaikan muncul karena diri tidak merasakan getaran emosi terhadap situasi di hadapan. Diri terpisah, atau berjarak, dengan situasi. Pendapatnya sekedar basa-basi. Andaikata pun muncul perasaan, yang ia kira rasanya kuat, itu sebetulnya adalah pikiran tentang perasaan, bukan perasaan sesungguhnya. Ia pikir, ia merasa marah, sehingga melontarkan kritik pedas. Atau ia pikir, ia merasa iba, sehingga menyatakan bela sungkawa. Bagaimanapun, tindakannya hanya sampai tataran pikiran, sebatas diskusi, atau tulisan, tidak ada aksi nyata untuk memulihkan situasi negatif yang ia hadapi, sebagaimana orang asing yang sekedar memberi petunjuk praktis tentang cara mengobati luka kepada seorang anak yang jatuh dan menangis kesakitan, tanpa bersegera mendatangi anak dan menolong mengobatinya. Tanpa sadar ada mental blocking yang membuatnya tidak peka dan tidak lancar bertindak.

Respon menyerang muncul karena diri merasa tidak nyaman, mual, marah, dan rasa penolakan lainnya. Diri tegang, dan terdorong segera mencari penyaluran. Tindakannya menyerang, atau melawan situasi di hadapan. Ia menghakimi secara keras figur yang bertanggung jawab atas situasi negatif, dengan mengedepankan idealisme atau norma secara menggebu dan kaku. Ia anggap ia bertindak benar sebagai penolong atau pahlawan. Ia tidak sadar, bahwa caci maki dan perlawanan yang ia nyatakan sebetulnya adalah mekanisme pertahanan diri atas mental blockingnya yang tersembunyi, yang mekanismenya berupa pengkambinghitaman orang lain. Pada saat itu, diri tidak sadar akan keberadaan mental blocking, atau masih menolak, dan tidak siap mengakui bahwa diri sesungguhnya terluka. Seumpama orang bercermin, dan melihat bayangan dirinya yang buruk di cermin, lalu tidak terima dan marah berlebihan pada inakurasi cermin, bahkan sampai memecah cermin untuk menghilangkan bayangan buruk yang tampak, demikian jugalah orang yang terluka oleh pihak lain, tidak sadar akan mental blocking tersembunyi, dan cenderung meghakimi orang lain sebagai biang keladi. Tindakan heroiknya pun menjadi destruktif. Seperti masuk ke dalam lingkaran setan, ia terjebak dalam jatuh-bangun upaya keras yang melelahkan jiwa, dan tidak merasakan pertumbuhan dalam hasil kerjanya.


Respon memperbaiki didorong oleh getaran rasa belas kasih pada kondisi negatif yang dihadapi. Getarannya tidak menggebu dan terburu-buru, karena tidak ditunggangi oleh kepentingan mental blocking untuk mencari penghiburan atau membangun pengukuhan diri. Sebaliknya, getaran rasa belas kasih bersifat halus dan lembut, murni-jernih tanpa keraguan, menuntun tindak dengan lancar dalam menghadapi situasi yang secara kasat mata termasuk kacau balau, satu langkah demi satu langkah bergulir, dan menghadirkan proses tumbuh kembang atau menghasilkan buah perbaikan yang nyata. Tindakan konstruktif jauh dari riya-riya keramaian, maupun ekspansi untuk pemekaran ego atau harga diri. Proses perbaikan berlangsung alami dan kebanyakan secara diam-diam, hasil perbaikannyalah yang menunjukkan eksistensi.

Mari kita telusuri 3 contoh pengalaman hidup berikut ini. X1 (37 tahun, ibu rumah tangga) merasa terusik saat menyadari kesenjangan kesejahteraan antara dirinya dengan yang lebih miskin. Ia merasa kasihan dan ingin berbagi. Ia berpikir untuk memberi pelajaran Bahasa Inggris, Calistung, Prakarya, dan fasilitas perpustakaan sederhana bagi anak-anak kampung di sekitar rumahnya. Ia juga berpikir untuk menyelenggarakan pelatihan pengolahan sampah secara mandiri bagi warga kampungnya. Namun ia terhambat untuk merealisasikan pikirannya. Ia takut memulai. Enggan dan malas. Khawatir privasi dan kepentingan pribadi terusik. Ia membiarkan konflik terjadi dalam diri, antara aktif berbagi dengan lingkungan miskin dengan menjaga stabilitas kehidupan keluarga sendiri. Saat menyusun perencanaan aktivitas berbaginya, muncul perasaan bersemangat, juga bangga, seolah ia sudah berbuat baik dan benar. Ia enggan mendalami kesulitan eksekusi rencana, lalu berhenti sampai rencana kasar. Ia berpikir, konflik akan bergulir dan kehidupan secara alamiah akan menentukan penyelesaiannya. Ia yakin angannya akan diwujudkan suatu saat nanti, bila situasi mendesak, atau kesempatan disodorkan, atau saatnya sudah tiba. Kini yang ia lakukan adalah fokus mengurus rumah dan keluarga secara mandiri, sambil tetap menjaga kontak seperlunya saja dengan warga kampung. Ia merasa aman, mantap, kokoh, dan mulai melirik kembali perwujudan angannya. Tetap belum muncul jawaban lebih rinci. Tetap enggan mendalami. Biarkan. Komentar: X1 melekat pada kebutuhan akan rasa nyaman, dan ketakutan akan sakit pertumbuhan. Kelekatan membatasi ruang geraknya. Alih-alih bertindak, ia sibuk dengan aktivitas berpikir, yang tidak esensial. Tindakannya belum berbuah signifikan.

X2 (37 tahun, karyawan swasta) menghadapi perubahan lingkungan kerja, dari kepala departemen sebuah perusahaan elektronik skala nasional di pusat kota ke staf perusahaan kecil milik perorangan di daerah pedalaman. Selama 2 bulan pertama, ia tidur di jok mobil. Ruang pribadi berAC menjadi ruang tengah rumah kecil beratap seng tanpa kipas dan AC. Intinya, perusahaan lama memberikan kenyamanan lebih dalam segala hal (jabatan, fasilitas, penghormatan, pengakuan prestasi, dipercaya). Menghadapi situasi itu, perasaan yang dominan muncul adalah menolak. Ia terpikir untuk kembali ke perusahaan lama walaupun itu berarti menyerah sebelum maju berperang. Namun ia tidak langsung bertindak mengikuti perasaan dan pikirannya. Ia memutuskan untuk diam sejenak, mengembalikan posisi diri ke titik nol atau netral, mengembalikan seluruh alam sadar akan tujuan semula, menyadari sepenuhnya mengapa semua ini perlu dilakukan, dan melihat bahwa mundur bukanlah solusi untuk melangkah ke depan. Ia pun menerima kenyataan di tempat baru. Ia melakukan introspeksi diri. Ia tunjukkan kemampuan terbaik, terus belajar dan mengembangkan diri. Hasilnya, ia survive dan berkembang pesat. Meskipun sekarang, kenangan masa indah jaman dulu datang saat sedang meghadapi kesulitan atau masalah. Komentar: X2 berorientasi pada kebutuhan akan rasa nyaman dan pengakuan. Orientasi ini mengarahkan perhatiannya pada pilihan-pilihan tertentu. Hanya saja, ia tidak langsung memilih dan bertindak sesuai orientasinya. Ia memutuskan diam, dan menempatkan diri sebagai pengamat, dimana orientasi menjadi salah satu objek pengamatan, di samping hal-hal lain yang juga ada. Tanpa dibatasi kelekatan, ia bebas memilih tindakan sesuai tujuan. Pola orientasi-mawas diri-refleksi-bertindak objektif terus berulang. Hal ini menunjukkan ada mental blocking yang belum sembuh benar, yang sejauh ini ia abaikan, agar tidak fatal mengganggu aktivitas kehidupannya.

X3 (33 tahun, Penanggung Jawab Komisi Penyiaran Indonesia di salah satu propinsi) pernah kecanduan alkohol dan narkoba. Ia berpisah dengan keluarga selama 3 bulan untuk menjalani proses rehabilitasi. Hambatan utama yang ia rasakan adalah ketidakpercayaan orang terdekat bahwa ia bisa sembuh, sementara ia berharap mendapat dukungan dari mereka. Ia berpikir keras dalam rangka berupaya sembuh dan membuktikan kepada mereka bahwa ia bisa dipercaya. Proses jatuh bangun ini membuatnya depresi, merasakan keterpurukan yang medalam, dan kehilangan banyak tenaga. Untuk mengatasi keterpurukannya ini, ia mengulangi lagi upaya koreksi diri, serta secara terus menerus melakukan doa dan kontemplasi untuk memahami tujuan dan langkah hidup perwujudannya. Ia juga tegas memutuskan hubungan dengan kenangan masa lalu, memusatkan perhatian pada keberadaan diri saat sekarang, mengakui kelemahan diri yang ada, mengenali dan gembira mengembangkan kelebihan yang ada, serta memaafkan dan menerima perilaku orang lain secara apa adanya. Ada kalanya solusi lancar dijalankan. Namun ada kalanya juga godaan untuk berhenti melakukan solusi kuat menghasut. Ia masih berjuang menjalankan solusi secara konsisten untuk mewujudkan tujuan hidupnya. Komentar: X3 serupa dengan X2, dimana tindakannya berpola orientasi-mawas diri-refleksi-bertindak objektif. Keduanya memilih untuk mengabaikan mental blocking, sehingga langkah perbaikan masih dapat dilakukan, meski kadang terhambat atau tertatih-tatih.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, perlukah mental blocking dihilangkan? Dan bila perlu, bagaimanakah caranya? Mental blocking berdampak pada tafsir keliru atas peristiwa di hadapan karena terbatas tempurung masa lalu. Apabila jebakan mental blocking disadari saat ia muncul, diri menerima dan mengakui jebakan ini, sehingga kondisi emosi bersifat netral atau obyektif, maka dampak negatif tersebut dapat diantisipasi kemunculannya. Namun apabila tidak, maka dampak negatif akan muncul terus menerus, bertumpukan, sehingga menimbulkan kondisi emosi negatif, atau sulit bahagia. Pada saat seseorang frustrasi berkepanjangan dengan kehidupannya, ia perlu minta bantuan terapis (dengan kompetensi teknik regresif), untuk menghilangkan mental blocking tersembunyi dalam diri.

Adakah upaya pencegahan yang dapat dilakukan agar mental blocking tidak kembali muncul atau tidak bertambah kuat? Tanda utama dari munculnya mental blocking adalah adanya kondisi emosional kaku (perasaan sangat kuat, sulit ditahan, berdaya-desak, sehingga hampir selalu mendorong tindakan, yang dilakukan secara berlebihan, sehingga menimbulkan dampak merusak atau negatif). Saat tanda tersebut dialami, langkah utama yang dapat dilakukan diri adalah menyediakan waktu dan tempat sesegera mungkin untuk berdiam diri. Selama diri diam, intensitas rasa dan ketegangan awalnya akan meningkat, lalu lambat laun mengendap, mencuatkan getaran saripati yang alamiah menuntun tindak.

Langkah diam dipaparkan dalam versi lain oleh seorang bhiksu, yang masa kecilnya sering diserang panik intensif, namun saat usia 30-40 tahun dinilai Goleman memiliki kecerdasan emosional sangat tinggi, dimana getaran rasanya setiap saat serupa dengan getaran rasa seorang ibu yang baru saja melihat anak pertamanya lahir. Menurut bhiksu tersebut, ada 3 macam respon saat diri mengalami perasaan negatif (panik, takut, marah, dan lain-lain, yang intinya tidak diinginkan untuk dialami, atau segera ingin diusir hilang). Tiga respon itu adalah (1)tidak fokus, melupakan atau mengabaikan, namun lalu mengalihkan diri dari situasi di hadapan ke kegiatan hiburan, (2)fokus menganalisa masalah dan mencari solusi, (3)menyadarinya, dan dibolehkan tetap ada, lalu dirangkul untuk bersama dengan bagian diri yang lain untuk tetap berhadapan dengan situasi hidup di depan mata. Respon pertama dan kedua menempatkan diri sebagai budak dari perasaan, karena setiap kali perasaan muncul, ia memerintahkan diri untuk menanganinya saat itu juga, entah dengan cara mengusir perasaan segera melalui aneka hiburan, ataupun berhenti mengerjakan tugas dan menelaah perasaan itu dulu hingga tenang. Sementara respon ketiga menempatkan diri sebagai tuan atas perasaan yang dialami, yang menuntun rasa untuk tetap berani menghadapi situasi.

Pertanyaan yang akhirnya muncul hanyalah, “Maukah diri ini diam satu jenak, mengayomi rasa negatif, lalu menuntunnya berhadapan dengan situasi nyata?” Satu perilaku, diulang dengan perilaku kedua, dilakukan ulang terus dalam setiap kesempatan, lambat laun akan menjadi kebiasaan, dan menghasilkan kondisi emosi yang sehat.



Referensi/ Daftar Pustaka:
  1. Tolong Saya-Saya Lelah Karena Merasa Tidak Sehat, terjemahan dari Help Me-I'm Tired of Feeling Bad, by Paul Vereshack, M.D. 
  2. Refleksi harian penulis

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...