EDITORIAL PRO:AKTIF ONLINE EDISI AGUSTUS 2017

Para pembaca budiman,

 Kembali kita berjumpa dalam Pro:aktif dan kali ini memasuki edisi Agustus 2017 dengan membawa tema “Berjejaring dalam Keberagaman di Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Bulan Agustus bagi bangsa Indonesia selalu menjadi bulan penting karena peringatan hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus dan selalu mengumandangkan refleksi perjalanan untuk merengkuh kemerdekaan tersebut dengan susah payah. Refleksi kemerdekaan kali ini kiranya perlu membawa kita semua untuk mengingat bahwa bangsa ini dibentuk dari keberagaman dan telah menjadi identitasnya sejak semula. Menilik perkembangan dinamika di masyarakat akhir-akhir ini yang seolah menjadikan keberagaman sebagai sumber pertentangan, tentu mengundang keprihatinan tersendiri, bagaimana kita dapat mewariskan nilai luhur yang arif dalam menyikapi keberagaman?

Pro:aktif edisi Agustus telah mengumpulkan berbagai tulisan yang kiranya dapat menginspirasi anak-anak bangsa ini untuk merayakan keberagaman sebagai nikmat dan karunia Yang Mahakuasa. Di samping itu, yang paling utama adalah ajakan untuk berjejaring dalam keberagaman yang kiranya akan selalu bisa memantik ide-ide brilian memajukan negeri ini.

Kita akan mengawali edisi kali ini dengan rubrik MASALAH KITA yang diisi oleh Dhitta Puti Sarasvati yang menunjukkan kepada kita perihal dinamika yang dihadapi oleh para aktivis saat berinteraksi dengan sesama aktivis. Selain perbedaan karakter, perbedaan paradigma berpikir dan pandangan politik tidak jarang menyulut perdebatan. Situasi demikian tidak harus membuat kita menjadi tersingkir dari pergaulan dengan sesama aktivis atau bahkan hidup ini menjadi terasa begitu menyesakkan. Perbedaan dalam hidup aktivis tak ubahnya dengan realitas kehidupan lainnya, sehingga cara menghadapinya akan sangat penting untuk membuat hidup yang beragam ini memiliki kekayaannya.

Memasuki rubrik PIKIR dengan penulis Sylvania Hutagalung akan membawa kita pada permenungan menyoal arah masa depan peradaban manusia ke depannya. Memakai kacamata arsitektur, namun tidak terbatas pada dunia kearsitekturan itu sendiri, dimana dimensi pembangunan tidak lagi sebatas pada bangunan fisik semata. Perluasan dimensi pembangunan yang perlu dirambah oleh penggiat arsitektur sudah memasuki aspek sosial kemasyarakatan yang semata menyesuaikan kepada kebutuhan zaman. Keterlibatan komunitas dalam pembangunan tidak lagi sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang menuangkan ide di dalamnya. Membawa laporan Biennale tahun 2016 di Venesia sembari mengangkat kondisi dunia arsitektur Indonesia.

Umbu Justin dalam rubrik OPINI mengantarkan para pembaca untuk mengingat kembali jejak sejarah, bagaimana bangsa Indonesia memang sejak semula dibangun oleh keberagaman dan sudah menjadi identitas warga bangsa ini untuk beragam. Walau berbagai tantangan jaman menerpa, terutama dinamika dunia politik yang menjerumuskan bangsa ini pada pertentangan identitas di akar rumput, selayaknya ada yang harus mengingatkan kembali kepada jejak perjuangan merengkuh kemerdekaan agar bangsa ini tetap menjaga keutuhannya. Kebhinnekaan dalam kemerdekaan perlu dikumandangkan lagi agar segenap bangsa Indonesia ini kembali nyaman dalam keberagaman.

Sementara rubrik TIPS mengajak kita untuk merefleksikan manfaat olahraga dalam melebarkan jejaring sosial, sehingga tidak hanya manfaat kesehatan fisik yang didapat. Kukuh Samudra menegaskan kembali bahwa berolahraga tidak hanya memperhatikan aspek fisik semata, namun juga perlu memperhatikan aspek sosialnya dengan melakukannya bersama-sama dalam sebuah komunitas ataupun dalam jejaring pergaulan yang tidak sebatas pada satu jenis olahraga saja.

PROFIL kali ini, Navita Kristi Astuti bercerita tentang organisasi Peace Generation yang secara konsisten berupaya menyebarkan nilai-nilai universal perdamaian seluas-luasnya, terutama melalui pendidikan di sekolah. Organisasi yang berbasis di Bandung ini, didirikan oleh dua insan dari latar kebangsaan yang berbeda, berupaya membuat dunia menjadi lebih damai dengan memunculkan para agen-agen perdamaian di tingkat lokal. Perkenalan ini sekaligus juga memberikan ajakan terbuka untuk berpartisipasi di dalamnya.

Sejenak JALAN-JALAN ke Gedung Indonesia Menggugat yang sarat sejarah perjuangan bangsa Indonesia, karena di gedung ini, salah satu ide kebangsaan dari Bapak Proklamator yakni Ir. Soekarno berkumandang dalam pledoinya, yakni “Indonesia Menggugat”. Reina Ayulia Rosadiana akan menjadi pemandu bagi para pembaca menjelajah ke sudut-sudut ruangan yang ada di sana. Selain itu, para pembaca juga bisa merasakan suasana di dalam Gedung Indonesia Menggugat yang jauh dari gugatan-gugatan kebangsaan karena telah bertransformasi menjadi ruang publik yang menjadi titik temu ide-ide segar dari generasi muda Indonesia.

Fransiska Damarratri menghadirkan film Tabula Rasa dalam rubrik MEDIA kali ini, yang tidak saja menggugah selera makan, melainkan juga menggugah kesadaran kita tentang jalinan keberagaman antar tokoh yang sebetulnya representasi singkat akan identitas hidup ini serta bangsa Indonesia. Keberagaman identitas – baik budaya, logat, bahasa, serta cara berpikir – sebagaimana masakan Minang dalam film tersebut laksana sebuah syarat agar hidup ini semakin nikmat. Analogi perbedaan dalam bumbu-bumbu dan bahan makanan yang diracik sedemikian rupa hingga menghadirkan sensasi kenikmatan di lidah, maka demikian pula kiranya keberagaman dalam hidup.

Pemandu RUMAH KAIL kali ini adalah Any Sulistyowati yang akan mengajak pembaca melihat kebun KAIL yang menerapkan prinsip permakultur. Prinsip ini menekankan keragaman jenis, tidak hanya tanaman namun peran dari makhluk yang ada di dalam kebun agar bisa menjaga kualitas alam di sekitarnya. Tidak hanya soal teknis menanam, melainkan ada isu pemanfaatan ruang agar kebun bisa menjadi tempat bermain, dimana anak-anak sendiri berkenalan dengan kegiatan berkebun pula.
Akhir kata, terbersit harapan agar para pembaca turut menyerap semangat keberagaman yang telah menjadi nafas hidup bangsa ini selama kurang lebih 72 tahun kemerdekaannya.

Salam Bhinneka. Merdeka!

David Ardes Setiady
(Editor)

[PROFIL] PEACE GENERATION : MENYEBARKAN NILAI-NILAI PERDAMAIAN DI DALAM KEBERAGAMAN

Oleh : Navita Kristi Astuti

Sebuah negara berdiri atas keputusan bulat warganya menyatukan diri dan aspirasi di dalam satu kesatuan bangsa, bahasa dan tanah air. Namun, layaknya sebuah keluarga, para anggota saling berbeda sifat dan selera, hal yang sama dihadapi oleh setiap bentuk kesatuan yang menyatakan diri sebagai negara. Negara terdiri dari bermacam-macam sifat dan karakter warganya.

Sifat dan selera yang saling berbeda dari setiap warga dapat menimbulkan gesekan maupun perselisihan apabila tidak dikelola dengan baik. Kita dapat belajar dari pengalaman konflik yang terjadi di Ambon, Poso, Papua, Kalimantan (konflik Dayak-Madura), Aceh maupun Timor Leste. Perbedaan yang ada, baik dari aspek suku, agama, adat istiadat tidak disadari sebagai kekuatan, melainkan telah menjadi bumerang bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Ketika sebuah bangsa dapat menyadari kekuatan dari perbedaan yang ada di antara mereka, maka perbedaan tersebut justru dapat menciptakan energi positif untuk kemajuan negara.

Salah satu dari segelintir komunitas yang memiliki kesadaran untuk merawat dan mempromosikan nilai-nilai perdamaian di dalam keberagaman negara Indonesia adalah Peace Generation (selanjutnya disebut PeaceGen). Didirikan oleh dua orang dengan latar belakang berbeda, Irfan Amalee yang merupakan warga Indonesia dan Eric Lincoln yang berkewarganegaraan Amerika Serikat, PeaceGen berdiri pada tahun 2007. Kegiatan PeaceGen sehari-hari beralamat di Jalan Suling no. 17, Turangga, Bandung, Jawa Barat.


Pendiri Peace Generation : Irfan Amalee dan Eric Lincoln
Sumber foto : www.peace-generation.org


Fokus Utama : Pendidikan Perdamaian
Sesuai dengan tagline mereka yang tercantum di alamat website www.peace-generation.org , yang berbunyi : To reach peace. Teach Peace. Promoting peace education throughout the globe, PeaceGen menyebarkan nilai-nilai perdamaian di dalam keberagaman melalui pendidikan. Irfan Amalee dan Eric Lincoln memulai misinya dengan membuat modul pendidikan perdamaian. Ide besarnya muncul dari mereka berdua, yang kemudian dikembangkan secara bersama-sama di dalam tim PeaceGen. Urat nadi utama dari modul tersebut adalah pendidikan tentang 12 nilai dasar perdamaian, yaitu : Menerima Diri, Prasangka, Sukuisme, Perbedaan Agama, Perbedaan Jenis Kelamin, Perbedaan Status Ekonomi, Perbedaan Kelompok atau Geng, Memahami Keragaman, Memahami Konflik, Menolak Kekerasan, Mengakui Kesalahan dan Memberi Maaf.

[PIKIR] MASA DEPAN ADA DI KOMUNITAS

Oleh: Sylvania Hutagalung

Menarik atau tidaknya hidup berbanding lurus dengan menarik atau tidaknya pertanyaanmu

Tahun 2016 menjadi tahun istimewa dalam dunia arsitektur, dimana seorang Alejandro Aravena, berturut-turut, tampil dalam dua panggung prestisius arsitektur dunia, yaitu dengan menjadi kurator Venice Architecture Biennale 2016 dan menerima penghargaan Pritzker dalam waktu yang berdekatan. Hal ini cukup mengejutkan karena baru kali ini seorang arsitek yang mempunyai pandangan sosialis mendapat kepercayaan setinggi itu. Apalagi di tengah konteks praktik berarsitektur yang masih didominasi pengaruh neoliberalisme. Dunia arsitektur global seperti mendapat kegairahan baru dengan pertanyaan-pertanyaan kritis Araven yang mencoba “menggoyang” karakter praktik arsitektur hari ini, yang steril dan elit. Tema kuratorialnya pun cukup mengigit dengan mengambil judul, “Reporting from the front.”

Poster utama dari Arsitektur Biennale di Venesia 2016 menceritakan tentang tantangan global praktik arsitektur yang semakin kompleks dan dorongan untuk berkolaborasi lintas batas.

Poster diunduh dari www.labiennale.org/en/architecture/exhibition/
Reporting from the front, atau memberitakan dari garis depan, mempunyai makna bahwa arsitektur, di tengah globalisasi dan keterhubungan nir batas, harus mampu menjadi ‘alat’ yang merekam dan memberitakan kondisi-kondisi nyata yang ada di sekitarnya. Dengan mengambil analogi jurnalistik, arsitek dan kegiatan berarsitekturnya didorong untuk punya keberanian memberitakan, ketajaman dalam mengkritik, juga integritas dalam mengungkapkan fakta dan data. Analogi jurnalistik juga mengandung arti penting, yaitu arsitek menjadi “agen” yang kemudian harus berjejaring untuk bisa melakukan produksi pengetahuan bersama. Hal ini menjadi kunci karena tanpa produksi pengetahuan bersama, kegiatan berjejaring tidak akan memberikan terobosan apapun. Tema kuratorial yang digagas Araven memang banyak dikritik sebagai usaha melebarkan batas arsitektur konvensional. Ilmu arsitektur masih dianggap berada di domain ilmu keteknikan, bukan ilmu sosial atau ilmu budaya. Dengan mendorongnya ke arah ilmu sosial, banyak ahli yang khawatir arsitektur akan kehilangan “giginya”. Aravena juga dicap terlalu ambisius dengan berusaha menjawab tantangan global melalui arsitektur. Seakan arsitektur bisa menjadi pahlawan. Namun, terlepas dari semua pro dan kontra, kita harus mengakui bahwa, inilah, untuk pertama kalinya, perbincangan lintas batas terjadi di atas panggung arsitektur sekelas Venice Biennale.

[MASALAH KITA] MENGHADAPI KEBERAGAMAN SESAMA AKTIVIS

Oleh: Dhitta Puti Sarasvati

Tasya sangat tertarik dengan isu perempuan. Ketertarikannya ini membuatnya bekerja di sebuah LSM yang fokus pada pemberdayaan perempuan, khususnya dalam bidang ekonomi. Sehari-hari Tasya menghabiskan waktunya untuk melatih sekelompok ibu di sebuah kampung untuk menghasilkan produk yang bisa dijual seperti keset dari kain bekas, agenda yang dibuat dari kertas daur ulang, dan sebagainya. Kebetulan, Tasya memperoleh dukungan dari sebuah supermarket retail. Tasya boleh menitipkan karya-karya ibu-ibu di supermarket tersebut. Tasya berasumsi bahwa dengan mendukung ibu-ibu agar memiliki penghasilan sendiri, maka ibu-ibu tersebut akan lebih berdaya.

Suatu hari ada sebuah forum di mana aktivis-aktivis isu perempuan berkumpul. Tasya berkenalan dengan Juwita. Dengan semangatnya Tasya menceritakan apa yang dikerjakannya bersama ibu-ibu di kampung.

Juwita pun menanggapi, “Punya penghasilan tambahan tidak serta merta membuat perempuan berdaya. Saya pernah menemukan kasus di mana perempuan menghasilkan uang lebih banyak dari suaminya. Uangnya diambil, lalu digunakan untuk mabuk-mabukan. Perempuan tetap menderita. Lagi pula, dengan menitipkan produk itu di supermarket, yang diuntungkan adalah supermarket-supermarket itu. Mereka dapat produk dengan biaya murah, lalu dijual dengan harga yang cenderung tinggi. Yang untung? Pemilik modal. Perempuan perlu dibekali pengetahuan yang memungkinkannya melawan sistem patriarkisme dan kapitalisme yang mengekang mereka.” Ilustrasi di atas menggambarkan contoh dua orang aktivis yang merasa bergerak di isu yang sama, tapi sebenarnya berbeda. Walau keduanya sama-sama peduli pada isu pemberdayaan wanita, namun berbeda pandangan mengenai cara untuk membuat mereka lebih berdaya. Hal yang sama bisa terjadi di bidang lain. Ada aktivis pendidikan yang sangat peduli pada pengajaran nilai moral. Baginya, anak harus dibekali dengan kisah-kisah yang mencontohkan kebaikan. Di sisi lain, ada aktivis pendidikan yang merasa anak boleh dibekali dengan bacaan apa saja, yang penting anak diajak berpikir kritis sehingga bisa mengkritisi apapun yang bisa dibaca. Ada aktivis lingkungan yang tidak keberatan memperoleh pendanaan dari lembaga-lembaga internasional untuk kampanye menyelamatkan lingkungan. Di sisi lain, ada aktivis lingkungan yang lebih percaya untuk membangun kekuatan lokal dengan mengajak masyarakat hidup dari apapun yang dimilikinya, meskipun tanpa ‘bantuan luar’.

Dulu, ketika awal menjadi aktivis, dengan lugunya saya pikir semua aktivis sama saja. Yang membedakan hanya ‘fokus isu yang diperjuangkan’. Ada aktivis pendidikan, lingkungan, perempuan, kesehatan, dan banyak lagi. Tujuan yang mau dicapai sama saja. Semua ingin menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik.

Belakangan, saya baru sadar bahwa ‘dunia yang lebih baik’ bagi satu orang bisa sangat berbeda dari ‘dunia yang lebih baik’ menurut orang lain. Ada juga aktivis-aktivis yang punya gambaran serupa tentang ‘dunia yang lebih baik’. Tujuan yang mau dicapai serupa tetapi pendekatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut sangat berbeda. Misalnya, ada yang percaya pada peran negara. Sebaliknya, ada yang cenderung mengabaikan peran negara.


Suasana pertemuan peningkatan kapasitas LSM-LSM di Sumba, bulan Mei 2015, yang difasilitasi oleh KAIL bekerjasama dengan HIVOS. Beragam jenis aktivis, beragam tujuan dan cara masing-masing dalam memperjuangkan keberpihakan mereka. Sumber foto : KAIL

Menghadapi aktivis-aktivis yang berbeda tujuan, ideologi ataupun cara, bukanlah hal yang mudah. Sebagai contoh, dari dulu saya tidak bisa menerima penggusuran paksa. Ini berpengaruh pada pilihan politik saya ketika pilkada belakangan ini. Saya tidak setuju dengan calon pemimpin yang melakukan penggusuran paksa tetapi juga tidak percaya dengan calon lainnya. Saya memilih menjadi golput. Beberapa teman aktivis menuduh saya tidak berpihak pada rakyat karena tidak memilih pemimpin yang dianggap bisa membuat Jakarta lebih baik. Terlepas benar atau tidaknya, pilihan politik saya dilakukan dengan sadar. Tapi, mungkin tidak semua orang bisa mengerti.

[OPINI] KE-BHINNEKA-AN DI DALAM BINGKAI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Oleh: Umbu Justin


"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan."


Pembukaan UUD 1945 menegaskan kemerdekaan sebagai dasar terpenting bagi terbangunnya Bangsa Indonesia. Kata 'kemerdekaan' adalah titik berat dalam setiap paragraf, terus menerus diingatkan dan ditulis berulang agar menjadi catatan bagi seluruh pergerakan kita menuju sebuah negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Gagasan kemerdekaan ini kemudian dimeterai dengan dasar negara, Pancasila, yang pada dasarnya mengandung kedalaman filosofi tentang kemanusiaan universal suatu bangsa Indonesia yang merdeka.

Kemanusiaan yang universal. Sumber foto : KAIL

Menggali Makna Kemanusiaan Universal di Dalam Indonesia Merdeka

Lantas apakah itu suatu kemanusiaan universal yang akan ditumbuhkan dalam Indonesia yang merdeka?

Para Bapak Bangsa, pejuang kemerdekaan dan kaum pergerakan sejak RM Tirto Adhi Soerjo, dr. Wahidin Soedirohoesodo, dr. Soetomo dan kawan-kawan dari Boedi Oetomo, sampai kepada para penyusun Pembukaan UUD 1945 adalah para perenung kemanusiaan universal tersebut. Sebelum negara Indonesia lahir melalui proklamasi, sejarah negeri kepulauan ini senantiasa menghujani benak para perintis tersebut dengan riwayat kemanusiaan yang tertindas oleh kolonialisme, intimidasi, intrik kekuasaan, politik kotor adu domba, kerja paksa, dan berbagai cerita yang memberi beban berat bagi bangsa kita. Dari situ tumbuh cita-cita untuk mengubah arah sang sejarah, dari perbudakan menuju kemerdekaan; Para Bapak Bangsa mulai menuliskan masa depan, suatu doa dan pengharapan akan kemanusiaan universal Indonesia yang merdeka.

Kemanusiaan universal Indonesia bukan sekedar definisi atau ketetapan seperti sebuah nama yang tercantum di KTP maupun akta kelahiran, melainkan merupakan pengalaman nyata manusia-manusia yang hidup, bernapas dan berjuang di bumi Indonesia. Kemanusiaan yang demikian lahir dari sejarah yang kaya akan pengalaman dan perenungan, otentik dan berdenyut bersama jatuh bangunnya para pelakon. Itulah rakyat yang sebenarnya, Marhaen, kata Bung Karno, menunjuk pada seorang petani muda berpeluh di tanah Jawa, “Saidjah dan Adinda”, karya Multatuli, “Minke” atau “Kartini” dalam karya Pramoedya, semua yang ditindas oleh permainan politik kaum oportunis, satu rakyat yang disatukan bukan atas dasar apa pun selain penderitaan.

[OPINI] DEWASA DALAM MENYIKAPI INFORMASI

Oleh : Canggih Hawari

Keresahan menjalari indera
Ketika sengketa di mana-mana
Lupa akan kebersamaan
Seakan mengubur rekam historis

Mungkin, persatuan kita
Ada di penghujung tanduk.

Tidak bisa dipungkiri kalau akhir-akhir ini memang kerap terjadi gesekan-gesekan di sekeliling kita, ketika hidup berjejaring dalam satu kesatuan. Indonesia. Padahal usia Negara ini sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, tahun ini Negara kita berusia 72 tahun. Tapi bukannya persatuan yang dirasa, melainkan konflik ini dan itu yang dialami. 

Nyatanya memang hal-hal tersebut pasti terjadi, mengingat perbedaan akan selalu ada diantara kita. Kemudian, kemudahan penyebaran informasi dengan adanya media sosial dan keyakinan bahwa haknya untuk berbicara dilindungi oleh undang-undang, yang tidak diikuti dengan kedewasaan kita dalam menggunakannya menyulut berbagai konflik di antara kita.

Pertanyaannya adalah apakah memang perseteruan ini tidak dapat dihindari ? dengan memandang persatuan dan rekam historis bangsa ini, maka hal-hal seperti ini seharusnya dapat dihindari. Kebebasan untuk menyatakan pendapat di sini harus diikuti dengan secara bertanggung jawab. Dan bertanggung jawab di sini berkaitan erat dengan kedewasaan. Sehingga gesekan-gesekan yang terjadi di sekitar kita seharusnya dapat dihindari, karena memang perbedaan akan selalu ada. 

Masyarakat dan informasi. Sumber foto : www.pastiguna.com

Ketidakdewasaan kita dalam berinteraksi dan bermasyarakat yang menurutku menyebabkan gesekan-gesekan seperti ini sangat mungkin terjadi. Kemudahan untuk menekan tombol share di media sosial tanpa menelisik lebih dalam, apakah informasi tersebut benar adanya atau tidak, serta ketidakmampuan kita dalam menempatkan diri ketika melihat informasi tertentu, dan keengganan kita untuk belajar memahami menjadi beberapa penyebab dari keadaan yang ada saat ini. Sekali lagi aku tekankan, ketidakdewasaan kita.

[TIPS] BEROLAHRAGA : MENJAGA KEBUGARAN DAN MEMAHAMI KEBERAGAMAN

Oleh : Kukuh Samudra




Kita telah sepakat bahwa olahraga bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran. Dari tubuh yang sehat, lantas berpengaruh terhadap jiwa yang sehat. Seperti adagium Yunani yang terkenal, “Mens sana in corpore sano” yang artinya, “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”.

Manfaat lain dari olahraga yang tidak banyak orang sadari adalah olahraga dapat memperluas pergaulan. Dengan semakin luas pergaulan, semakin banyak orang yang kita temui dan semakin besar peluang kita bertemu dengan bermacam jenis orang. Dari interaksi dengan beragam jenis manusia itulah yang mendorong kita untuk memahami keberagaman. Bagi teman-teman yang hendak atau baru memulai berolahraga, di bawah ini beberapa tips agar kita mendapatkan manfaat optimal dari olahraga. Baik yang berkaitan dengan kebugaran jasmani, maupun yang berkaitan dengan sosial.

1. Pilih olahraga yang sesuai dengan minatmu

Saat ini berbagai macam olahraga beserta fasilitas telah tersedia. Olahraga tersebut ada yang bersifat individu, kelompok, permainan, atau yang bersifat non-permainan. Beberapa orang lebih gemar olahraga kelompok seperti futsal, tetapi beberapa lebih enjoy melakukan olahraga individu seperti bersepeda atau lari. Olahraga permainan biasanya lebih asyik dilakukan, tetapi kita perlu mencari teman atau lawan tanding yang terkadang susah-susah gampang. Contohnya adalah tenis. Sementara ada juga olahraga yang sifatnya bukan permainan seperti lari atau yoga.

Foto 1 - Lari pagi di GOR Saparua, Bandung (dokumen pribadi)
Kegiatan lari (jogging) dapat dilakukan sendiri maupun berkelompok. Dengan berkelompok, kegiatan lari menjadi sarana mengenal keberagaman serta meningkatkan motivasi untuk menyehatkan raga.

[MEDIA] MENGURAI BERAGAM RASA DI TABULA RASA

Oleh: Fransiska Damarratri

Tahun            : 2014
Durasi           : 107 menit
Sutradara      : Adriyanto Dewo
Produksi       : Lifelike Pictures
            Pemeran        : Dewi Irawan, Jimmy Kobagau,
Yayu Unru, Ozzol Ramdan

“Bawangnya bawang impor. Dia murah tapi hambar. Ah, kalau ini bawang lokal, rasanya tajam. Cium! Hasil dari tanah kita sendiri. Kamu bingung kenapa bawang impor itu lebih murah daripada bawang lokal? Mak juga bingung."

Itulah sepenggal percakapan Mak dan Hans ketika subuh-subuh berbelanja di sebuah pasar kota Jakarta. Hans, berkulit legam dan berambut keriting, sedang memakai kaos berpola celup-ikat warna-warni, yang baru dibeli dari uang saku Mak. Selanjutnya mereka pulang membawa beragam barang. Hans memikul beras di pundaknya. Ia bersikeras tidak mau memanggil becak. “Ah tidak usah Mak! Kita harus hemat,” serunya sembari menyeberang jembatan.

Gambar 2 Hans tergeletak semalaman di atas jembatan penyeberangan kereta. Sumber: tabularasafilm.com

Jembatan seakan menjadi perumpaan visual yang kerap muncul di film Tabula Rasa (2014) besutan Adriyanto Dewo. Jembatan menjadi jalur para karakter menuju pengalaman-pengalaman baru. Hans, yang dimainkan dengan menyentuh dan jenaka oleh aktor dari Wamena, Jimmy Kobogau, beberapa kali beradegan di atas jembatan. Pertama kali, kita menjumpai Hans memanjat pagar jembatan dan hendak melompat menjelang serangkaian kereta commuter yang sedang melaju. Kedua, Hans ternyata terjatuh ke belakang dari percobaan bunuh diri tersebut dan terlelap hingga pagi. Di situ lah Mak dan Uda Natsir menemukannya.

[JALAN-JALAN] GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT : RUMAH BAGI SEMUA

Oleh : Reina Ayulia

Berkunjung ke Kota Bandung tak lengkap rasanya apabila tidak beromantisria dengan bangunan bersejarah dan berbagai peristiwa penting di dalamnya yang dapat menumbuhkan kecintaan kita terhadap Indonesia. Banyak sekali peristiwa yang terjadi pada masa sebelum kemerdekaan yang begitu inspiratif dan dapat diaktualisasi ke kehidupan kita dewasa ini. Kota Bandung selalu mengingatkan kita kepada seorang proklamator kemerdekaan Indonesia yang tumbuh dan berkembang di tatar Priangan ini, siapa lagi jika bukan Presiden RI yang pertama, Soekarno.

Pada tahun 1930 terjadi sebuah peristiwa penting yang menjadi nafas baru pergerakan kemerdekaan Indonesia. Empat anak muda Indonesia bernama Soekarno, Gatot Mangkoepradja, Maskoen, dan Soepriadinata diadili di muka pengadilan Landraad di Bandung atas tuduhan yang serius yakni makar, sebuah upaya merobohkan kolonialisme Hindia Belanda yang berkuasa pada masa itu. Soekarno membuat sebuah naskah pledoi yang menggambarkan situasi politik internasional dan akibatnya pada masyarakat Indonesia di bawah penjajahan kolonialisme. Naskah tersebut diberi judul ‘Indonesia Menggugat’, naskah pledoi yang luar biasa hebat dalam analisisnya. Umurnya waktu itu tidak lebih dari 29 tahun, ia tulis dalam sempitnya dinding penjara Banceuy, Bandung untuk ia bacakan di depan para pengadil Belanda.

Gedung ini telah ada sejak tahun 1907 yang berfungsi sebagai tempat tinggal (Hartono, 2006). Pada tahun 1917 atas instruksi pemerintah kolonial Hindia-Belanda rumah tinggal ini beralih fungsi menjadi pengadilan (landraad) hingga Jepang merebut Bandung dari Belanda. Pada masa Kemerdekaan Indonesia gedung ini sempat digunakan dengan berbagai fungsi seperti kantor Palang Merah Indonesia (1947-1949), kantor KPP Pusat (1949-1955), Bagian Keuangan Kantor Pelayanan dan Kas Otonom, Sekretariat Provinsi Jawa Barat (1955-1970) dan Bidang Metrologi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat (1970-2003). Setelah kosong satu tahun kemudian di tahun 2004 dilakukan pemugaran dan selesai tahun 2005 (Hartono, 2006).

Gedung ini berstatus sebagai aset Pemprov Jabar dan merupakan Bangunan Cagar Budaya Kota Bandung yang pengelolaannya di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat (Disbudpar). Atas inisiatif dari sekelompok masyarakat, gedung ini diajukan untuk bisa diaktivasi oleh publik sebagai monumen bersejarah, museum dan ruang publik. Di tahun 2005 ini juga menandai pemberian nama Gedung Indonesia Menggugat (GIM), pemberian nama ini nampaknya untuk tetap menjaga bara semangat perjuangan dan perlawanan atas kesewenang-wenangan.

GIM sendiri terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 5, letak gedung yang agak menjorok ke dalam terkadang bisa mengecoh siapapun yang hendak datang namun tak awas pada plang yang terdapat di muka gerbang masuk. Di GIM ada sebuah ruangan yang tata ruangnya disesuaikan dengan saat Soekarno membacakan pledoi, kemudian agak masuk ke dalam ada sebuah ruang mirip aula besar yang sering digunakan untuk diskusi dan berbagai kegiatan lainnya. Sebenarnya jika sedang tidak terburu-buru mengejar agenda diskusi, di kiri-kanan menuju aula ada petikan-petikan pledoi Soekarno, lalu apabila sedikit cermat dalam membaca pledoi kita akan menemukan Soekarno muda gemar baca buku kiri. Sedang di sebelah kanan bangunan terdapat kafetaria kecil untuk sekedar mengisi perut jika jumud dengan diskusi formal di aula atau sekedar ngopi murmer ala sachetan yang bisa menjadi penghangat tukar wacana bersama kawan.

[RUMAH KAIL] KERAGAMAN DI KEBUN KAIL

Oleh : Any Sulistyowati

Sejak tahun lalu KAIL telah mengembangkan halamannya menjadi sebuah kebun. Kebun tersebut berisi beraneka ragam tanaman. Ada tanaman sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, bunga-bungaan dan berbagai pohon kayu. Kebun tersebut dirancang dengan menggunakan prinsip-prinsip Permakultur.

Beragam tanaman di kebun KAIL. Sumber foto : KAIL


Mengapa Permakultur?

Menurut wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Permaculture, permakultur adalah sebuah sistem pertanian yang memanfaatkan pola-pola dan bentuk-bentuk yang ada di alam. Pola-pola dan bentuk-bentuk ini kemudian diadaptasi untuk perancangan berbagai sistem yang dibutuhkan manusia, seperti pertanian, pembuatan bangunan, dan bahkan sistem ekonomi. Hasil akhir yang diharapkan dalam jangka panjang adalah sebuah sistem pertanian yang kompleks dengan produksi pangan dan materi yang tinggi tetapi dengan input yang minimal.

Sistem ini mula-mula dikembangkan oleh David Holmgren dan Bill Molisson sejak tahun 1978. Pada awalnya istilah permakultur mengacu pada permanen agrikultur (pertanian permanen), tetapi kemudian berkembang dan meluas menjadi permanen kultur, yang mencakup pula aspek sosial dan ekonomi.
Dalam permakultur digunakan pendekatan cara berpikir sistem yang menyeluruh (https://permacultureprinciples.com/). Pendekatan ini tidak hanya memperhatikan elemen-elemen, tetapi juga sangat menekankan pada hubungan antar elemen. Dengan pendekatan ini diharapkan akan dihasilkan sinergi, yaitu hasil keseluruhannya lebih besar daripada penjumlahan masing-masing bagian-bagian. 
Sistem permakultur dikembangkan dengan menggunakan tiga prinsip utama, yaitu (1) peduli pada bumi/alam, (2) peduli pada sesama manusia, (3) pembagian keuntungan yang adil. Tiga prinsip utama ini kemudian diturunkan menjadi prinsip-prinsip perancangan permakultur yang lebih praktis, dalam bentuk strategi perancangan dan pengelolaan lahan. Strategi-strategi yang digunakan di dalam permakultur sangat bervariasi sesuai dengan kondisi alam dan budaya masing-masing. (https://permacultureprinciples.com/).

Zonasi di kebun KAIL

Salah satu keunikan permakultur adalah adanya sistem zonasi. Sistem zonasi dibuat untuk memaksimalkan hasil dengan minimum upaya pengelolaan. Zonasi dibuat dengan nomor 0 sampai 5, yang didasarkan pada intensitas pengelolaan dan jaraknya dari rumah sebagai pusat pengelolaan permakultur. Semakin jauh dari rumah, semakin besar nomor zonasinya. 

Editorial Pro:aktif April 2017

Selamat berjumpa kembali di Pro:aktif Edisi April 2017 ini. Sudah 4 bulan perjalanan waktu kita di tahun 2017, dengan berbagai peristiwa yang terjadi, baik di sekitar kita maupun di dunia. Edisi kali ini, Pro:aktif Online mengangkat tema “Mengenal Diri Bagi Aktivis”.
Proses mengenal diri merupakan proses yang tidak berujung dan terjadi pada siapapun juga, tak pandang usia, jenis kelamin, apalagi pekerjaan dan jalan hidup. Seorang aktivis sekalipun tidak terlepas dari proses mengenal diri, baik yang disadari maupun yang berlalu begitu saja. Terlebih berbagai bidang kerja dan layanan yang diberikan oleh seorang aktivis, memerlukan pengenalan diri yang bisa membuatnya bertahan pada isu yang dikerjakan atau malah menemukan “panggilan hidup” yang selama ini dicari. Proses mengenal diri bukan berarti bahwa sebelumnya kita tidak kenal “siapa diri kita”, melainkan mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengenal dan memahami diri sendiri.
Edisi April 2017 ini mencoba mengupas berbagai sudut pandang yang  disajikan oleh para kontributor penulis Pro:aktif Online, yang diawali dengan rubrik PIKIR yang diisi oleh Umbu, yang akan membawa kita pada masa lampau dimana dua orang pangeran beda kebangsaan, yakni Hamlet dan Diponegoro disandingkan. Rangkaian kata yang disusun oleh Umbu mengajak kita untuk menemukan diri di pusat keberadaan, dengan metafora bahwa kitalah sang penyair yang mewujudkan eksistensi kita dengan sajak kehidupan yang menyelami seluruh sisi kehidupan agar indera kita semakin tajam menyerap realitas di sekitar kita.
Rubrik PIKIR yang kedua, ditulis oleh penulis yang sama. Kali ini Umbu mengetengahkan sebuah upaya untuk mengingatkan kita bahwa berpegang pada nilai-nilai perikemanusiaan berarti melepaskan diri dari berbagai label yang melekat. Melalui tokoh Raden Mas Minke, kita diingatkan soal realita kehidupan yang selalu berpotensi melahirkan penindasan karena dinamika kekuasaan antar kelas. Siapapun yang terbangun dan terpanggil untuk membela nilai-nilai perikemanusiaan tersebut, berempati pada kaum tertindas, berjuang karena memang “sudah sepantasnya saya berjuang”. Di sini, Umbu juga mengingatkan kita pada siapa Raden Mas Minke sebagai tokoh sejarah yang dilupakan oleh bangsa Indonesia.
Rubrik OPINI menghadirkan tulisan dari Anastasia Levianti yang dalam setiap baris tulisannya adalah proses refleksi itu sendiri, mencoba menyadarkan kita betapa pentingnya proses tersebut bagi seorang aktivis. Pilihan-pilihan atas isu yang dikerjakan, kepedulian atas isu sosial, maupun sumber stres pada bidang pekerjaan saat ini dapat ditemukan dengan menempatkan diri sebagai sumber masalah yang sekaligus juga sumber solusi. Rutinitas yang dijalani tanpa menyadari tujuan dari aksi yang dilakukan berpotensi menyesatkan seorang aktivis yang  kemudian bisa terjebak pada mengutamakan sarana, ketimbang tujuan yang hendak dicapai. Refleksi diri diharapkan menjernihkan kembali, mana yang sesungguhnya sarana dan mana yang menjadi tujuan yang seharusnya dilayani oleh sarana tersebut.
Rubrik MASALAH KITA yang ditulis oleh Siska mengulas konsep diri sebagai pusat refleksi, dimana apa yang ada di dalam pikiran kita  kemudian diwujudkan pada aksi-aksi yang dilakukan di dunia nyata. Konsep diri akan membantu kita membentengi diri dari persoalan-persoalan yang tidak perlu karena kita mengenal dan menerima batasan / kelemahan diri pada isu yang dikerjakan atau aksi yang dijalankan. Proses refleksi tidak dimaksudkan untuk meniadakan kelemahan, namun justru memampukan kita untuk memahami bahwa adanya kelemahan tersebut menjadi alarm ketika kita sudah melewati batas dan perlu menarik diri. Di samping itu, penguatan konsep diri tidak selalu tentang refleksi ke diri sendiri namun juga bercermin pada jalan hidup tokoh-tokoh dunia yang telah tertuang pada buku otobiografi.
Rubrik PROFIL kali ini, ada Alvieni Angelica yang mengajak kita berkenalan dengan Capacitar, sebuah organisasi nirlaba yang terbentuk di bumi Amerika Latin oleh seorang biarawati bernama Sr. Mary Hartmann, CSA. Capacitar memiliki tujuan utama memberdayakan manusia dalam aspek self-healing atau daya penyembuhan diri. Capacitar meyakini bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh kehidupan secara holistik. Penyakit-penyakit pada manusia seringkali timbul karena oleh trauma maupun luka batin yang belum tuntas.  Metoda penyembuhan yang menyerap dan mengadaptasi berbagai teknik tradisional dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan modern kemudian dibagikan kepada siapapun yang membutuhkan, untuk mendorong semakin tersebarnya pengetahuan tersebut.
Rubrik MEDIA, ditulis oleh Any Sulistyowati, memberikan perspektif lain tentang dunia internet yang justru sangat bermanfaat untuk membuat kita semakin kenal siapa kita. Terbukanya informasi dan pengetahuan secara bebas, berdampak pada semakin mudahnya kita mengakses ilmu psikologi populer dan bermanfaat. Berbagai tes pemetaan kepribadian, mulai dari yang sudah cukup dikenal seperti Personality Plus dan MBTI, hingga Eneagram akan membantu kita mengidentifikasi “tipe kepribadian apakah saya?”. Dengan bantuan internet, hasil tesnya bisa langsung dilihat disertai penjelasan yang cukup mudah untuk dipahami.
Rubrik JALAN-JALAN pertama dipandu oleh Debby Josephine yang akan membawa para pembaca pada beberapa tempat asyik di kota Bandung yang kiranya tidak terduga, namun bisa membuat Anda semakin mengenal diri Anda. Menjelajah tempat-tempat tersebut tidak dapat dipisahkan dari aktivitas yang sebaiknya Anda lakukan sembari berada di tempat tersebut.
Rubrik JALAN-JALAN kedua ada Yanti Herawati yang menjadi pemandu Anda menjelajah di suatu wilayah Bumi Parahyangan yang juga tidak terduga. Sebuah areal yang mungkin tidak akrab di telinga Anda, namun penjelajahan yang semakin dalam akan membuat segalanya menjadi tidak asing lagi. Memilih sebuah jalur perjalanan yang tidak biasa, mungkin akan membawa keraguan pada diri Anda, yang kemudian akan terkikis seiring dengan penemuan diri di perbatasan laksana tepi tebing yang siap membuat Anda terjun bebas semakin dalam pada diri sendiri.
Rubrik TIPS menghadirkan Dyah Synta, seorang guru yoga yang membagikan tips melakukan gerakan (asana) yang bisa membawa kita pada relaksasi serta menjadi proses pengenalan diri melalui penghayatan atas bentuk-bentuk asana yang kita lakukan. Yoga sungguh adalah tentang diri sendiri, karena kita tidak melakukannya untuk dilihat dan dinilai oleh orang lain, melainkan sebuah bentuk komunikasi diri kita yang lainnya , seperti pemikiran, perasaan, dan energi.
Rubrik RUMAH KAIL kali ini mengajak para pembaca berkeliling dari perspektif seorang Melly Amalia dalam menjelajah diri melalui salah satu bagian Rumah Kail. Tidak hanya bangunan fisik dari rumah tersebut, namun juga dari kegiatan-kegiatan yang telah menjadi satu bagian dari rumah itu sendiri. Di manakah Anda akan menemukan spot yang nyaman untuk berefleksi di Rumah Kail?
Akhir kata, semoga para pembaca semakin mengenali diri sendiri melalui artikel-artikel yang ada pada edisi “Mengenal Diri Bagi Aktivis”. Kiranya hidup aktivisme kita semakin positif melalui refleksi.

Selamat menemukan diri.

[PROFIL] SEJARAH DAN PERKEMBANGAN CAPACITAR

Berbagai peristiwa hidup yang tidak bisa diduga seringkali membawa dampak psikologis yang beragam bagi setiap orang. Keunikan karakter, struktur perkembangan otak, dan sejarah bagaimana seseorang dibesarkan mempengaruhi tingkat resiliensi atau daya lenting seseorang dalam menghadapi berbagai tekanan hidup. Gaya hidup serba cepat, penuh kompetisi, individualis, serta minimnya hubungan sosial karena kemajuan teknologi tanpa disadari telah menjadi makanan sehari-hari setiap orang. Selain itu, kondisi alam yang tidak stabil saat ini juga berkontribusi menghadirkan berbagai bencana, seperti banjir dan gempa bumi. Belum lagi para penguasa (pemerintah) di berbagai negara yang kerap membuat ancaman perang selalu siaga di depan mata. Paduan kondisi hidup ini membuat manusia semakin rentan terhadap masalah psikologis yang lama kelamaan bertransformasi menjadi sakit fisik dan ketidakmampuan untuk menjalani rutinitas sehari-hari. Sementara itu, tenaga psikolog meupun kesehatan mental lainnya sangatlah terbatas. Berkaca pada situasi ini, maka sangatlah penting untuk bisa membekali masyarakat di mana saja dengan kemampuan untuk membantu diri mereka sendiri, salah satunya ialah dengan memberikan pembekalan teknik-teknik penyembuhan diri (self-healing) yang praktis dan menembus batas budaya, bahasa, agama dan pendidikan yang dikenal sebagai karya Capacitar.

[PIKIR] MENJALANKAN PERIKEMANUSIAAN

Oleh: Umbu

… ia menyewa taksi ke Bandung dan minta diturunkan di jalan Braga. Hari sudah malam. Ia meninjau-ninjau dan mengintip-ngintip ke dalam kantor redaksi Medan. Tak seorang pun dikenalnya. Ia ragu-ragu untuk masuk, juga tidak berusaha untuk bertanya. Kemudian ia pergi berjalan kaki….

Seperti burung patah sayap ia berjalan merasuk, memasuki sebuah dangau kosong di pinggir jalan … ia mengenangkan segala-galanya yang sudah lewat. Betapa kedekut Tanah Air dan bangsanya pada dirinya. Di Hindia ini betapa orang mudah melupakan, seperti tulang- belulang paling keras pun, rapuh melenyap oleh kelembapan tanah tropis…

(Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer)

—— Menjalankan Peri-kemanusiaan

Sebuah perspektif bagi para relawan

Kemanusiaan kita terikat pada berbagai narasi, bukan saja pada kisah-kisah besar alam semesta, kisah penciptaan baik dalam mitologi, agama, pada cerita ilmiah tentang jadinya galaksi dan bintang-bintang, evolusi, dan terbangunnya spesies manusia, sejarah, kebangsaan, suku golongan dan sebagainya—tetapi juga pada kisah-kisah kecil yang spesifik seperti sejarah keluarga, kisah pribadi, detail keseharian, pada cerita tentang kejadian-kejadian personal, karakter, sifat-sifat dan bahkan pandangan hidup pribadi. Tentang setiap kita, selalu bergantung pertanyaan tentang siapakah kita, berdasarkan asal-usul, suku, asal tanah air, ikatan keluarga, sejarah pendidikan dan seterusnya. Bahkan secara pribadi, setiap orang menginginkan hidupnya terbangun dari sebuah narasi yang bermakna — kita seakan selalu ingin menuliskan otobiografi yang sungguh memberi nilai pada kemanusiaan, kita ingin bercerita tentang kisah kita dan ingin menjawab pertanyaan besar tentang siapakah kita dalam narasi yang bermakna.

[PIKIR] MENEMUKAN DIRI DI PUSAT KEBERADAAN

Oleh: Umbu

“To be or not to be, that is the question..” 
 Hamlet, Act III, Scene 1, William Shakespeare 


Pangeran Hamlet dari Denmark dalam cerita drama Shakespeare berbicara pada dirinya sendiri, sebuah soliloqui, atas rasa tak berdaya menjalani kehidupan dan mempertimbangkan apakah sebaiknya ia mengakhiri hidupnya. Ia merasa putus asa terjebak pada tekanan hidup akibat terbunuhnya sang ayah oleh pamannya dan keinginan untuk membalas dendam. Sekali pun terujar dalam sebuah frame yang sangat melankolis, kalimat tersebut menginspirasi begitu banyak karya sastra dunia sesudahnya dan menjadi sebuah warisan literer yang sering diungkap kembali justru sebagai afirmasi eksistensial untuk memberi semangat pada perjuangan memenangkan kehidupan.

Di Indonesia kita mengenal penggalan puisi Chairil Anwar: “Sekali berarti, sudah itu mati”, Sajak Diponegoro, 1943, — sebagai sebuah pernyataan semangat untuk menjadikan hidup yang cuma sekelebat ini tidak berlalu begitu saja. Hidup yang meski cuma secuil dalam pergolakan dunia yang serba absurd, pantas jadi cara untuk memperjuangkan makna.

Dalam soliloqui Hamlet dan sajak Diponegoro kita melihat ciri kehidupan yang paling penting, ketika dihadapkan pada persoalan bereksistensi manusia selalu berhadapan dengan realitas krisis hidup dan mati, bukan sekedar bernyawa atau tak bernyawa, tetapi soal makna yang pantas mengisi jalannya hidup. Begitu individu menyadari eksistensinya, ia sekaligus menangkap makna, bukan dalam konsep atau pengertian, melainkan dalam rasa, dalam seluruh atmosfer keberadaan yang melingkupinya. Rasa berada yang intens, yang hanya bisa tertangkap sepenuhnya ketika seseorang menghadapi kondisi ekstrim, entah sesuatu yang sangat menakjubkan atau pun menakutkan. Di hadapan realitas yang mengancam kehidupan, seseorang merasa berada di batas hidup dan mati, entah ia akan putus asa atau melakukan tindakan ekstrim untuk menyelamatkan hidupnya. Di hadapan sesuatu yang sangat menakjubkan, sesuatu yang melampaui daya tangkapnya, seseorang akan merasa kecil, hilang, dan tak berarti. Hamlet merasa putus asa dan cenderung memilih tidur dalam kematian agar realitas berlalu tanpa tanggung jawabnya, sedangkan penyair sajak Diponegoro yang telah melalui semua penindasan mampu melihat celah sempit bagi masa depan bangsanya yang harus ia perjuangkan dengan menghimpun roh sang pahlawan.

[MASALAH KITA] BERSAMA PARA AKTIVIS DAN RELAWAN: SEBUAH PERCAKAPAN MENGENALI DIRI


“Kenalilah dirimu!” ujar filsuf Socrates dalam dialognya, Phaedrus. "Aku tidak punya waktu luang untuk menjelaskan hal-hal yang luas dan besar itu. Sebuah hal yang aneh bagiku untuk meneliti hal-hal itu ketika aku saja belum bisa mengenali diriku sendiri.”

KONSEP DIRI DALAM SUDUT PANDANG PSIKOLOGI
Mengenali diri adalah penting karena diri kita sendirilah yang mempengaruhi bagaimana kita memahami dunia. Konsep diri, dalam sudut pandang ilmu Psikologi, mempengaruhi kerja-kerja dan pandangan kita. Alvieni Angelica, seorang Psikolog dan pegiat di Capacitar Indonesia, menjelaskan bahwa di dalam konsep diri ada berbagai kumpulan ide antara lain self-image[i], ideal self[ii], self-esteem[iii]. Lebih lanjut, konsep diri adalah bagaimana seseorang memandang, mempersepsikan dan mengevaluasi dirinya.

Konsep diri terbentuk dari pengalaman awal kita sebagai janin, lingkungan pertumbuhan seperti rumah dan sekolah, interaksi dengan orang-orang terdekat hingga pengalaman-pengalaman hidup yang kita lalui. Otak manusia terdiri dari otak bahasa (otak berpikir) dan otak emosi. Pengalaman-pengalaman di atas membentuk konsep diri di dalam otak emosi kita, bahkan sebelum otak berpikir tumbuh sempurna.

Banyak mekanisme diri yang mengubah ide-ide internal kita menjadi sebuah aksi di dunia nyata. Salah satunya, menurut Alvieni adalah proses proyeksi/formasi. Dalam proses proyeksi ini, manusia seringkali mengubah kelemahan dirinya menjadi tampilan sebaliknya. Kelemahan yang kita mudah amati di orang lain, seringkali adalah kelemahan diri kita juga. Sebagai contoh: seseorang yang sangat sensitif terhadap kritik orang lain justru menjadi seorang motivator yang mampu mengubah cara pandang orang lain untuk berpikir positif.

Dalam bekerja maupun berkegiatan di berbagai bidang, siapa saja termasuk aktivis pasti mengalami proses pembentukan maupun pengenalan konsep diri. Menurut Alvieni, salah satu cara untuk mengenal diri sendiri adalah dengan berlatih kesadaran. Di sela-sela kesibukan kita, menyisihkan waktu untuk refleksi dan berlatih kesadaran adalah penting.

BAGAIMANA PARA AKTIVIS MEREFLEKSIKAN DIRI?


Hal serupa diceritakan oleh Sri Suryani, seorang arsitek yang bekerja di Divisi Tata Ruang Ciliwung Merdeka. Dalam berproses mendampingi penggusuran warga Bukit Duri bersama rekan-rekan satu tim, Sri mengutarakan bahwa salah satu komponen penting adalah penyadaran diri. Sebagai pribadi, Sri mencoba menyadari seberapa luas konflik yang terjadi, apa saja yang dia alami dan keterbatasan diri baik sebagai anggota tim kerja maupun dalam keprofesian arsitek. Kesadaran itulah yang membentuk kerja dan pikirnya sehingga terwujud dalam suatu keberpihakan tertentu.

[OPINI] AKTIVIS BEREFLEKSI


Apa tujuan Anda menekuni aktivitas keberpihakan dan membela kaum lemah?
Menegakkan keadilan?
Membantu sesama memperoleh haknya?
Menciptakan damai dan bahagia dalam kehidupan sekarang?
Memenuhi panggilan hidup?
Mengikuti teladan idola?
Menekuni kesempatan yang terberi?
Balas jasa atas pembelaan yang sebelumnya sudah diterima?
Atau, Anda belum memiliki tujuan spesifik secara jelas? Anda sekedar mengikuti arus hidup di depan mata, sambil menunggu pekerjaan yang tepat untuk Anda tekuni. Perlukah aktivis memiliki, ataupun menyadari tujuan dari keberpihakan dan aksinya? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita hayati terlebih dahulu dua kondisi berikut.

Ada seorang pemuda yang ditugaskan untuk menyelamatkan sebuah desa di seberang hutan. Hal pertama yang ia lakukan dalam perjalanan menuju desa itu adalah mencari pohon yang sangat tinggi. Setelah menemukan pohon yang dirasanya paling tinggi, ia pun memanjat hingga puncak dan berupaya melihat desa yang menjadi arah tujuannya. Ternyata, pohon yang ia panjat masih kalah tinggi dengan rimbunan pohon di tengah hutan, sehingga pandangannya terhalang ke arah desa. Namun ia cukup puas, karena ia tahu sasaran terdekat yang perlu ia wujudkan. Ia masuk ke tengah hutan. Setibanya di rimbunan pohon tinggi, ia memanjat kembali salah satu pohon, dan kali ini, ia dapat memandang leluasa ke arah desa. Ia melihat rintangan-rintangan yang akan ia lalui. Ia turun, melakukan persiapan menghadapi rintangan, dan fokus melanjutkan perjalanan hingga sampai tujuan.

[TIPS] YOGA SEBAGAI CERMINAN DIRI

Oleh: Dyah Synta


Untuk sebagian besar orang, yoga adalah salah satu alternatif olah raga yang menyenangkan. Umumnya dilakukan di dalam ruangan sehingga tidak perlu terhambat oleh cuaca, termasuk salah satu olah raga yang low impact sehingga terkesan mudah untuk dilakukan, dan tidak memerlukan peralatan khusus sehingga lebih murah. Sekitar enam tahun yang lalu, saya sendiri adalah salah satu orang yang mulai tertarik untuk melakukan yoga karena alasan-alasan tersebut.

[MEDIA] MEMAHAMI DIRI MELALUI DUNIA MAYA

Oleh: Any Sulistyowati

Di zaman modern ini, berbagai jenis informasi dapat dengan mudah kita peroleh melalui dunia maya. Salah satu cara termudah dan murah antara lain dengan mengakses layanan-layanan gratisan di internet. Di internet, tersedia berbagai informasi sesuai kebutuhan kita. Informasi tersebut dikemas dalam berbagai bentuk seperti teks tertulis/dokumen, video, suara, maupun kartun/ilustrasi. Metodenya pun beragam, mulai dari pengisian kuesioner, mendengarkan ceramah narasumber, membaca artikel, mengikuti petunjuk yang ada dalam video, dan lain-lain. Tidak terkecuali berbagai informasi / metode untuk memahami diri. Memahami diri adalah salah satu proses yang sangat penting bagi seorang manusia. Lewat proses pemahaman diri, seseorang dapat mengidentifikasi kekuatan-kekuatan dirinya, talenta-talenta yang dimilikinya serta menggunakannya secara bijaksana untuk mencapai impian-impiannya. Salah satu bagian penting dari proses pemahaman diri adalah penerimaan diri.

Melalui proses penerimaan diri, kita akan terbantu untuk memiliki konsep diri yang lebih positif. Proses ini memungkinkan kita untuk memilih bidang ilmu yang sesuai, karir yang tepat, kegiatan-kegiatan yang bermakna, serta pasangan hidup yang cocok. Singkatnya, dengan pemahaman diri yang tepat, kita bisa lebih baik dalam menyusun strategi menjalani kehidupan. Salah satu cara untuk memahami diri adalah dengan mengenal tipe-tipe kepribadian. Ada cukup banyak konsep tipe-tipe kepribadian yang dikenal saat ini. Dengan mengenali tipe-tipe kepribadian, seseorang dapat lebih baik memetakan pola-pola yang ada di dalam hidupnya dan membuat langkah-langkah antisipatif untuk menjalani kehidupan. Ia dapat mengenali hal-hal positif yang dimiliki serta mengasahnya sehingga berkembang ke arah yang makin mendewasakan dirinya. Ia juga dapat mengenali hal-hal yang mungkin dianggap negatif atau kelemahan tipe tersebut serta berlatih untuk menggunakan hal-hal negatif tersebut untuk hal-hal yang sangat positif di dalam kehidupannya.

[JALAN-JALAN] 5 TEMPAT INI BISA JADI PILIHAN ANDA UNTUK MENGENAL DIRI LEBIH DALAM LAGI!

Oleh: Debby Josephine


“The better you know yourself, the better your relationship with the rest of the world.” 

-Toni Collette-

Kemampuan mengenal diri secara utuh diketahui memiliki banyak manfaat bagi diri sendiri yang mana akan bermanfaat juga bagi sekitar. Kemampuan mengenal diri secara utuh artinya Anda mampu melihat diri sebagai entitas yang dipengaruhi oleh ilahi yang berada dalam jiwa Anda dan bentuk fisik yang Anda miliki saat ini, kemudian secara sadar menerimanya. Dengan kemampuan ini maka Anda dapat menentukan jalan hidup Anda sekaligus berkompromi dengan kelebihan dan kekurangan diri. Apalagi, jika Anda adalah pelaku perubahan yang secara aktif dan tekun menjalani visi misi untuk dunia yang lebih baik, maka terlebih dahulu masuk dan kenalilah diri Anda lebih dalam lagi.

Kemampuan mengenal diri secara utuh dapat diasah melalui berbagai cara, Anda dapat mencoba dan memilih cara yang seperti apa yang cocok untuk Anda. Salah satu cara yang dapat membantu Anda mengenal diri secara utuh adalah melakukan interaksi dengan diri sendiri dan merefleksikan perjalanan hidup Anda. Sesi interaksi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara di berbagai tempat, yang terpenting adalah Anda melakukannya sendirian – bukan berarti Anda mengusir orang di sekitar Anda – tetapi dengan melihat sekitar Anda, masuklah ke dalam diri dan gali lebih dalam tentang diri Anda. Berikut adalah 5 tempat dan jenis kegiatan yang bisa jadi pilihan untuk berinteraksi dengan pikiran, tubuh, dan jiwa Anda:

1. Rumah/Kamar Pribadi
Begitu padatnya kegiatan yang Anda lakukan baik itu rutinitas sehari-hari maupun perjuangan-perjuangan yang Anda lakukan menyebabkan sedikitnya waktu yang Anda luangkan untuk memperhatikan tempat Anda tinggal, baik itu di rumah ataupun kamar pribadi Anda. Padahal ruang pribadi ini dapat membantu merefleksikan diri Anda dan mengisi ulang energi Anda yang tersita setelah berkegiatan seharian.

Luangkanlah waktu khusus untuk mengenali setiap sudut tempat tinggal Anda. Carilah tempat yang paling nyaman dan diamlah di sana untuk beberapa saat. Sapalah dan hargai tempat itu sebagai tempat yang memberikan Anda perlindungan dan kenyamanan. Perhatikan tempat tersebut, bagaimana teksturnya, warnanya, dan apa saja yang mata Anda tangkap di sudut tersebut? Kemudian, berinteraksilah dengan tempat tersebut. Anda dapat duduk, bersujud, merebahkan diri, sampai berguling-guling dan rasakan betapa sudut yang Anda tempati saat ini hadir untuk Anda. Jika sudah, tanyakan kembali pada diri Anda, apa yang dimiliki tempat tersebut sehingga membuat Anda nyaman? Mengapa tempat tersebut nyaman?

[JALAN-JALAN] BUMI PARAHYANGAN, SINGGASANA JELITA SARANA MENGENAL DIRI

Oleh: Yanti Herawati

Bumi Parahyangan, Singgasana Jelita Sarana Mengenal diri Alam selalu mengundang keingintahuan. Memandang pegunungan dan perbukitan yang mengelilingi dataran tinggi Kota Bandung, akan memancing tanya. Ada apakah di sana? Bagaimana medan untuk mencapainya? Bagaimana bentang alam seperti itu bisa terjadi? Apakah kita sanggup berjalan mencapai singgasana Parahyangan ini? Semuanya berkecamuk dalam benak. Pertanyaan dan keraguan yang wajar dan alami.

Keraguan memulai perjalanan hanya sulit di awalnya. Lepaskan pikiran dari beban prasangka. Gembira dan nikmati berjalan sesuai kemampuan sendiri. Bersandarlah pada kekuatan pikiran dan bantuan Tuhan. Keyakinan, keberanian, kebulatan tekad akan berproses seiring langkah menjejak bumi. Jika menyerah sebelum mulai, kita akan terpasung pada asumsi pikiran-pikiran yang menegasikan potensi diri. Kita akan menemukan sisi diri yang lain tatkala mampu mendorong batas-batas diri atau memutus belenggu pikiran yang membatasi.

Berjalan di alam, menyusuri jalan yang landai, menurun, menanjak, berliku. Deburan air terjun, sungai jernih mengalir, kubah lava menggetarkan, gua gamping menakjubkan, taman batu mempesona, tebing ibarat agar raksasa, lembah hijau sejuk, danau jernih melenakan adalah keajaiban ciptaan Yang Maha Kuasa. Berjalan dan berpeluh membuat jiwa egois dan sombong dalam diri seolah melebur. Kelelahan bercampur kenikmatan sujud syukur, ketika badan tiba di singgasana jelita Sang Pencipta.

Setiap langkah berat, nafas tersengal, lelah keringat akan tersapu oleh kesejukan dan keagungan alam. Alam mengantar pikiran, batin, dan raga saling berdialog panjang tentang kehidupan yang telah dijalani. Ibarat drama dalam benak penjelajah. Rasa marah, dendam, sakit hati, putus asa, harapan, dosa, kesalahan, kekuatan, ketabahan, kemalasan dan berbagai sifat-sifat dalam diri seolah dihadirkan. Kita akan menemukan makna relasi dengan teman, keluarga, orang yang kita cintai dan Tuhan. Kita akan menemukan nilai dan kualitas hubungan kita dengan mereka.

Lingkungan buatan pun memberi andil untuk berkontemplasi. Kampung padat dinamika perjuangan manusia, artefak dan bangunan Belanda hampir 2 abad lalu, dan lain sebagainya. Objek-objek buatan manusia ratusan tahun silam bukti pencapaian peradaban manusia. Bagaimana manusia bertahan hidup dalam kerasnya peradaban menjadi perenungan tersendiri.

Noorduyn, seorang sarjana Belanda menemukan naskah kuno di Perpustakaan Bodleian, Oxford Inggris (1627). Naskah ini berisi catatan perjalanan Pangeran Jaya Pakuan, putra raja Istana Pakancilan. Dia mencari Ilmu dengan menempa diri di alam, berjalan kaki selama 4 tahun. Ia menyusuri Pulau Jawa dan Bali, termasuk Bumi Parahyangan. Bujangga Manik julukan lain Pangeran, menuliskan kisah perjalanannya dalam bentuk puisi mistik bernafaskan Shiwaisme (Hawe Setiawan, Amanat Gua Pawon, hal 23, 2004). Puisi ini memuat sekitar 450 topomini (nama-nama tempat), 90 gunung, dan 50 sungai.

Seorang Pastur dan Psikolog Belanda MAW Brouwer mengungkapkan pesona tanah Parahyangan dengan ungkapan populer: “Tuhan menciptakan tanah Parahyangan tatkala tersenyum” (Her Suganda, Kawasan Kars Citatah: Pusaka Masyarakat Sunda, Amanat Gua Pawon, hal 15, 2004). Dahulu kala dataran tinggi Bandung adalah danau Bandung Purba, pusat tanah Parahyangan yang dikelililingi pegunungan dan perbukitan. Dataran tinggi atau plateau Bandung ini menyimpan hikayat geologi dan cerita rakyat yang menarik.

Aliran Ci Mahi, Curug Tilu, Curug Layung, Curug Bubrug, Curug Cimahi, dan Curug Panganten

Sedikitnya ada 6 air terjun indah di sepanjang aliran Ci Mahi. Dari Curug Tilu di hulu hingga Curug Panganten di hilirnya (Pemukiman Katumiri, Cimahi). Lokasi keenam curug ini berjauhan. Untuk menikmatinya sambil merenung, disarankan satu curug dalam satu perjalanan. Kecuali Curug Bubrug yang bisa ditempuh sekali jalan dengan Curug Tilu.

Curug Tilu


Curug Panganten
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...