[Wawancara] Ketika Aktivis Perempuan Menjatuhkan Pilihan

Seseorang adalah teman bagi dirinya sendiri dan karena itu ia bertanggung jawab atas dirinya sendiri: dia sendirilah yang menentukan segala sesuatu tentang dirinya.
(Mahabaratha)
Ungkapan di atas, sejalan dengan sikap para aktivis perempuan. Para aktivis perempuan sepertinya sangat paham bahwa setiap langkah / keputusan yang diambil, lahir dari diri mereka sendiri karena memang mereka yang menginginkannya dan siap dengan segala konsekwensinya. Salah satu contohnya, sikap mereka terhadap pernikahan dan memiliki anak.
Para aktivis perempuan menjatuhkan pilihan mereka. Ada sebagian aktivis perempuan yang memilih melajang dan sebagian lagi memilih menikah / berkeluarga. Untuk fenomena yang kedua, terbagi lagi atas tiga kelompok: ada yang memilih menikah dan meninggalkan aktivitas-aktivitas mereka sebelumnya, memilih menikah namun memilih untuk tidak mempunyai anak dan menikah dan memiliki anak.
Tim redaksi berhasil menghubungi beberapa aktivis perempuan dan membicarakan tentang pilihan yang mereka jalani.


Indrasari Tjandraningsih (Mbak Asih,Peneliti Bidang Perburuhan AKATIGA, Bandung)
Mbak Asih menikah dan mempunyai anak. Ia tetap beraktivitas setelah menikah dan memiliki anak. Sebagai seorang peneliti bidang perburuhan dan sering bepergian ke luar kota atau luar negeri, Mbak Asih sering meninggalkan anak-anaknya. Anak-anak tinggal bersama suami dan pengasuh.
Mbak Asih memberikan pengertian kepada anak-anaknya bahwa, seorang ibu harus bekerja. Bukan untuk kepentingan finansial semata, tetapi juga perihal aktualisasi diri si ibu. Namun kerja itu macam-macam. Nah, diberi pengertian lagi ke anak, bahwa ibu mereka peneliti dan akan sering meninggalkan kalian. Mbak Asih juga menjelaskan ke anak-anaknya bahwa ketika ia meninggalkan mereka itu bukan untuk tamasya, tetapi bekerja. Intinya anak tahu kegiatan ibunya. Apa, kapan, di mana dan bagaimana-nya.
Wardah Hafidz (Mbak Wardah,Koordinator UPLINK, Jakarta)
Seperti halnya Mbak Asih, Mbak Wardah memutuskan untuk menikah. Namun, berbeda dengan Mbak Asih, Mbak Wardah memutuskan untuk tidak memiliki anak. Memutuskan di sini memang setelah melewati pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan.
Mbak Wardah mengatakan bahwa di awal-awal pernikahan, dirinya dan suami memang ingin mempunyai anak. Namun, ketika semakin sibuk dengan aktivitas masing-masing, mereka kembali mempertanyakan keinginan mereka untuk punya anak tersebut. Apakah di tengah kesibukan keduanya yang sedemikian padat, mereka bisa mengurus anak? Anak, menurut Mbak Wardah, selain sebagai hadiah atau anugrah juga adalah amanah. Sebagai amanah, merawat dan mendidik anak itu harus sebaik mungkin. Kalau bisa malah seratus persen waktu dan perhatian. Mbak Wardah dan suami tidak mau setengah-setengah. Kembali melihat kesibukan keduanya, akhirnya mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak. Perhatian dan tenaga seratus persennya, dicurahkan ke aktivitas-aktivitas sosial.
Evelyn (Eppel), Bandung
Sebelum menikah, Eppel sempat aktif sebagai relawan di beberapa LSM. Kemudian, ketika “ada lamaran yang datang”, ia memutuskan menikah dan mempunyai anak. Pada awalnya, Eppel sempat mencoba tetap beraktivitas. Namun, ia merasakan bahwa ruang geraknya dalam beraktivitas jadi terbatas karena ada anak dan ia juga belum rela melepas perawatan anaknya ke orang lain (orang lain di sini bukan hanya pengasuh, tetapi juga anggota keluarga yang lain, seperti ayah ibu atau mertua). Hal ini karena ia ingin membesarkan anaknya dengan cara yang menurutnya terbaik, yang mungkin cara-caranya agak berbeda dengan orang lain. Misalnya dengan home-schooling.
Namun, Eppel mengungkapkan bahwa tidak tertutup kemungkinan bahwa ia akan kembali beraktivitas, di bidang apapun.
Dari ‘curhatan’ tiga perempuan aktivis di atas, tergambar bahwa ternyata tidak terdapat keseragaman pilihan. Hal ini tentunya juga berlaku universal. Pilihan, akhirnya tetap menjadi persoalan personal, masing-masing, berikut alasan-alasan dan konsekuensi-konsekuensinya. Dan yang terpenting adalah apakah pilihan itu benar-benar merupakan pilihan bebas, sadar yang dapat dipertanggungjawabkan dan bukan sekedar mengikuti tuntutan sosial semata (Tim Redaksi)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...