[PIKIR] Menilik Persoalan Kesehatan di Indonesia

(Berdasarkan hasil wawancara dengan Yanuar Nugroho, Asisten Ahli Kepala UKP4, Jakarta)

Gambar diambil dari http://www.epa.gov/ttn/atw/3_90_024.html
Di era globalisasi dunia saat ini persoalan kesehatan tidak bisa dipandang sebagai persoalan tunggal yang berdiri sendiri, melainkan persoalan multidimensi. Indonesia sebagai negara berkembang kini mengalami perubahan demografi, di mana kelas menengah tumbuh dan menempati jumlah terbanyak dalam statistik kependudukan. Hal ini sedikit banyak telah menyumbang pada persoalan kesehatan yang disebabkan oleh gaya hidup tertentu dengan implikasi-implikasi sosial,
budaya dan politik yang melingkupinya.

Masalah Kesehatan Terpenting di Indonesia Saat Ini
Sebagai negara berkembang, Indonesia masih banyak perlu berbenah. Beragam permasalahan muncul sebagai masalah khas negara berkembang, namun di artikel ini, kami akan menengok lebih jauh persoalan kesehatan dan mengapa persoalan tersebut mengemuka, dilihat dari aspek ekonomi, politik dan sosial budaya.

Hasil wawancara penulis dengan Yanuar Nugroho menyebutkan, ada dua masalah kesehatan yang paling penting dihadapi oleh negara Indonesia saat ini. Pertama, masalah kesehatan yang menimpa paling banyak orang miskin saat ini akibat kemiskinan, serta buruk atau rendahnya akses pada jasa dan prasarana kesehatan. Kedua, masalah kesehatan dengan tingkat prevalensi tinggi yang ternyata dipicu oleh gaya hidup masyarakat kelas menengah.

Kategori masalah kesehatan pertama, yang paling banyak diderita oleh golongan rakyat miskin adalah masalah-masalah kesehatan karena tiadanya atau buruknya sanitasi, kelaparan karena ketakmampuan akses pada sumber makanan yang layak, maupun ketidakmampuan dalam mengakses layanan kesehatan di negara ini. Penyakit seperti tuberkulosisi, malaria, demam berdarah, kurang gizi, dan banyak lainnya, adalah contoh jelas dari kategori ini.

Hal ini menjadi masalah karena kategori pertama ini seringkali luput dari perhatian dunia saat ini. Meskipun target pemberantasan penyakit akibat kemiskinan ini telah dimasukkan dalam agenda organisasi-organisasi kesehatan dunia seperti WHO, namun kenyataannya tidak menjadi prioritas. Hal ini terlihat misalnya di dunia medis dan farmasi. Industri medis dan farmasi dunia cenderung menyasar inovasi mereka justru pada kategori masalah kesehatan kedua, yaitu penyakit dengan tingkat prevalensi tinggi akibat gaya hidup, yakni antara lain diabetes dan penyakit terkait tekanan darah dan jantung.

Namun demikian, sesungguhnya kedua jenis masalahan kesehatan ini sama pentingnya untuk dibenahi. Mari kita tengok faktor-faktor yang menjadi akar masalah dari persoalan di atas dan mengapa penting untuk mencari jalan keluarnya.

Mengurai Latar Belakang Permasalahan Kesehatan di Indonesia dari Aspek Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya
Laju roda perekonomian di Indonesia telah mengangkat bangsa Indonesia keluar dari garis kemiskinan. Ia telah mengantar masyarakat Indonesia pada kemakmuran dan menciptakan populasi masyarakat kelas menengah yang umumnya terdiri dari kalangan pekerja di kota-kota besar. Mereka, secara statistik, menempati jumlah terbanyak masyarakat Indonesia saat ini.
Kelas menengah didefinisikan sebagai golongan masyarakat yang mampu mencukupi kebutuhan di atas kebutuhan dasar/primer (pangan, sandang dan papan). Jadi, mereka tak pusing lagi untuk sekedar memenuhi meja makan mereka dengan nasi dan lauk pauk, atau sekedar membeli pakaian seminggu sekali. Kelas menengah yang mempunyai daya beli untuk memenuhi kebutuhan sekunder (dan secara terbatas tersier) ini jelas tidak termasuk dalam kategori orang miskin, namun juga bukan termasuk dalam kategori kaya (kelas atas).


Persoalan yang dihadapi oleh kalangan kelas menengah yang terkait kesehatan terletak di gaya hidup yang mereka jalani. Kalangan kelas menengah yang umumnya hidup di kota-kota besar, sehari-harinya harus bertarung dengan padatnya lalu lintas untuk berangkat dan pulang dari kantor tempat bekerja. Mayoritas kelas menengah ini menggunakan sepeda motor atau kendaraan umum sebagai sarana transportasi menuju tempat bekerja sehari-hari. Hal ini membuat mereka terpapar (exposed) pada racun polusi udara yang disebabkan oleh padatnya kendaraan yang digunakan di kota besar.

Sempitnya waktu yang mereka miliki karena harus berangkat pagi hari menuju tempat kerja dan pulang larut malam karena mengalami kemacetan di perjalanan menjadikan waktu untuk berolahraga menjadi minim. Belum lagi sarana olahraga, seperti fitness center yang kian mahal di perkotaan, akhirnya hanya dapat digunakan oleh kalangan masyarakat kelas atas.
Kesibukan yang tinggi menjadikan kalangan kelas menengah lebih memilih untuk menyantap makanan siap saji –dan seringkali berkualitas rendah—karena mereka tak sempat memasak sendiri makanan mereka.  Padahal, makanan-makanan seperti seperti mie instan, fried chicken atau burger jelas-jelas mengandung bahan pengawet serta penyedap rasa yang tidak sehat bagi tubuh.

Gaya hidup di ataslah yang kemudian menyebabkan prevalensi penyakit seperti diabetes dan penyakit terkait jantung dan tekanan darah semakin meningkat. Ini bukan jenis penyakit yang bisa dianggap remeh. Pengobatan penyakit-penyakit tersebut sangat menguras kantong, dan tidak ada pengobatan murah untuk jenis penyakit akibat gaya hidup. Maka, jika gaya hidup kelas menengah seperti yang dipaparkan di atas tak segera diperbaiki, hal ini akan menciptakan ‘jebakan dan ancaman’ bagi kelas menengah itu sendiri, yaitu menurunnya tingkat kesejahteraan secara keseluruhan.

Dari segi politik, kebijakan pemerintah dalam hal kesehatan di Indonesia turut menyumbang pada masalah kesehatan yang telah disebut di atas. Contoh nyata yang terjadi adalah kebijakan seputar ibu hamil dan persalinan. Target pemerintah untuk mengurangi angka kematian ibu (AKI) melahirkan adalah dari 250 menjadi 185 per 100.000 kelahiran. Namun, kenyataan saat ini, AKI justru meningkat ke 359 per 100.000 kelahiran. Ini jelas merupakan masalah kebijakan, yang turut menyumbang pada masalah kesehatan di Indonesia.

Kedua, kebijakan pemerintah terkait pelayanan kesehatan dasar (primary healthcare) atau Puskesmas juga problematik. Aturan pemerintah menyatakan Puskesmas perlu ada untuk setiap lima ribu penduduk. Namun hal ini sulit direalisasikan di wilayah-wilayah terpencil di Indonesia, khususnya di pulau-pulau kecil. Karena total penduduk kurang dari lima ribu, seringkali tidak terbangun Puskesmas di sana. Hal ini menunjukkan, bahwa kebijakan pemerintah yang dijalankan belum berpihak kepada semua masyarakat khususnya mereka yang berada di wilayah yang terpencil.

Ketiga, kebijakan kesehatan pemerintah belum mencakup penanganan prevalensi penyakit akibat gaya hidup. Contoh yang dapat diambil adalah iklan rokok yang banyak tersebar di sekeliling kita saat ini. Padahal, rokok telah diketahui merupakan penyebab utama penyakit kanker paru-paru. Selain itu, kurang ketatnya peraturan dilarang merokok di tempat-tempat umum, seperti bandara maupun terminal angkutan umum, menunjukkan lemahnya kebijakan kesehatan yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia.

Contoh lain adalah maraknya iklan susu formula ibu hamil dan bayi. Alih-alih menyebarkan pengetahuan pentingnya gizi yang bersumber dari bahan-bahan alami bagi ibu hamil dan bayi yang baru dilahirkan, pemerintah seolah-olah membiarkan propaganda susu formula merebak hingga ke klinik-klinik kesehatan ibu dan anak. Alhasil, pengetahuan yang tertanam di benak ibu-ibu Indonesia saat ini justru menganggap susu formula sebagai gizi utama bagi anak mereka. Hal ini menandakan lemahnya kebijakan pemerintah dalam menanamkan pengetahuan akan gizi yang penting bagi pertumbuhan anak.

Kesimpulannya, kebijakan pemerintah nampaknya belum menanamkan upaya gaya hidup sehat untuk memberantas permasalahan kesehatan yang dimaksud di atas.

Dari segi sosial budaya, persoalan kesehatan terkait dengan persoalan dan gagasan mengenai identitas masyarakat modern. Di kelas menengah, kini seseorang dilihat dan dinilai berdasarkan makanan yang dimakan, pakaian yang dikenakan, maupun kendaraan yang ditumpangi. Kita bisa mengambil contoh mall, sebagai sarana unjuk identitas masyarakat modern saat ini. Demi identitas, orang-orang menyerbu mall, menyantap makanan di gerai-gerai makanan bergengsi, yang mereka sendiri tidak tahu apakah makanan tersebut mengandung gizi yang baik atau tidak. Udara yang dihirup di mall juga bukanlah udara yang alami, melainkan berpendingin udara. Godaan diskon di toko-toko pun turut membahayakan isi kantong, karena alih-alih menabung, demi identitas, orang rela untuk menghamburkan uang begitu saja di mall.

Gaya hidup yang terbentuk semata-mata demi sebuah identitas, tentu bukanlah gaya hidup yang sehat. Oleh karena itu, faktor sosial budaya yang digambarkan di atas, turut berperan menyumbang kepada masalah kesehatan di Indonesia.

Pengaruh Persoalan Kesehatan Bagi Kualitas Hidup dan Kualitas Alam
Rangkaian faktor sebab-akibat masalah kesehatan di atas akan mengantar masyarakat Indonesia pada satu keadaan. Di tingkat individu, gaya hidup tidak sehat menghasilkan manusia yang sakit-sakitan. Dan ini mengakibatkan seseorang menjadi kurang produktif. Dalam jangka panjang, semakin banyak orang kurang produktif akan menjadikan masyarakat secara kolektif juga menjadi kurang produktif. Celakanya lagi, masyarakat yang tidak sehat dan tidak produktif ini akan menghasilkan generasi yang sama atau besar kemungkinan lebih buruk dibandingkan generasi sebelumnya. Ini menjadi ‘jebakan kelas menengah’ dalam perspektif yang lain.

Bagi alam, gaya hidup tidak sehat akan menurunkan kualitas alam. Lahan alami berubah fungsi demi memenuhi kebutuhan masyakarat dengan gaya hidup tidak sehat, seperti penanaman monokultur kelapa sawit, peternakan sapi untuk konsumsi daging yang kian meningkat serta pemukiman penduduk akibat pertambahan jumlah penduduk yang pesat. Ekosistem dihancurkan demi perkembangan ekonomi dan gaya hidup modern.

Bagaimana Upaya Untuk Kembali ke Gaya Hidup Sehat?
Demi mencegah penurunan produktivitas masyarakat, kualitas hidup dan kualitas alam, maka seyogianya manusia kembali ke gaya hidup sehat. Tentu hal ini tidaklah mudah, karena menyangkut gaya hidup yang telah mengakar di masyarakat. Namun, semuanya dapat dicoba dalam aktivitas maupun tindakan kecil dalam keseharian kita.

Gambar diambil dari http://www.health.gov/paguidelines/blog/post/A-Vision-for-a-Healthier-More-Prosperous-America.aspx

Lebih memilih repot sedikit memasak makanan yang dikonsumsi setiap hari, membawa bekal buah-buahan ke kantor atau sekolah, menolak junk food atau makanan cepat saji, dapat mulai dilakukan sedikit demi sedikit untuk mengubah gaya hidup kita. Jadikan cara mengonsumi makanan maupun minuman dalam diri kita lebih berkelanjutan.

Kita tidak sendiri. Kita hidup di dalam komunitas. Individu dapat mempengaruhi komunitas. Maka, gaya hidup sehat pun dapat ditularkan ke komunitas di sekitar diri kita masing-masing.
Mendukung upaya-upaya gaya hidup sehat, merupakan salah satu kontribusi pribadi untuk kembali ke gaya hidup sehat. Di Bandung misalnya, kita dapat mendukung gerakan bersepeda ke kantor (bike to work), gerakan car free day maupun gerakan menghidupkan ruang publik yang dicanangkan oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil.

Dalam skala nasional, upaya yang dapat dilakukan adalah mendukung perubahan kebijakan yang mendorong ke arah gaya hidup sehat.

Dalam skala global, upaya yang dilakukan salah satunya adalah turut berperan merumuskan target pembangunan pasca millenium development goals (pasca MDGs) yang dicanangkan oleh Badan PBB.

Penutup
Kita semua dapat melihat, betapa jalinan sebab akibat dari berbagai aspek sosial, budaya dan politik berperan dalam menurunkan kualitas kesehatan seorang manusia. Apakah kita sebagai rakyat Indonesia ingin generasi mendatang, anak cucu kita, terjebak dalam pusaran gaya hidup tidak sehat? Apakah kita akan membiarkan kualitas kesehatan jiwa, raga dan lingkungan sekitar anak cucu kita menurun akibat gaya hidup yang tidak sehat? Jawaban terletak di tangan kita semua. Maka, bertindaklah sekarang, masa depan generasi mendatang, ada di tangan kita, saat ini!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...