[MASALAH KITA] Mengapa hanya sedikit perempuan yang menjadi aktivis?


David kuliah di Jurusan Biologi, di mana 70% mahasiswanya adalah perempuan, tetapi dari sekitar enam tahun masa studinya, hanya sekali perempuan menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Biologi. Setelah itu ia membuat LSM yang memiliki program relawan, yang mayoritas perempuan. Dari ratusan relawan yang kemudian direkrut menjadi staff, yang kemudian berkomitmen dan bertahan lebih dari lima tahun semua laki-laki. Ia juga berkawan dengan banyak aktivis yang juga perempuan, dan sayangnya… setelah menikah, mereka berhenti. Fenomena apakah ini?

Fenomena serupa ternyata tidak hanya terjadi pada dunia aktivis saja, namun juga terjadi dalam panggung politik bangsa kita, di mana mayoritas penduduknya juga perempuan. Sampai-sampai dalam pemilu tahun 2004, setiap partai harus memiliki calon perempuan minimal 30%.
Meskipun ada pesimisme apakah perempuan-perempuan itu benar-benar memiliki perspektif gender, sebagai langkah awal keputusan ini perlu disambut baik. Hal serupa terjadi di sektor ekonomi, pendidikan, agama dan teknologi. Beberapa institusi internasional telah membuat aturan keseimbangan gender di organisasinya. Demikian juga beberapa perusahaan internasional yang selama ini dianggap wilayah kerja laki-laki, misalnya perusahaan-perusahaan tambang, mulai mengutamakan peluang kerja bagi perempuan-perempuan. Meskipun demikian tetap saja, sektor-sektor tersebut didominasi oleh laki-laki. Apakah tidak ada perempuan yang cukup berkualitas untuk mengisi posisi-posisi penting di sektor-sektor tersebut?

Gadis Arivia dalam bukunya Filsafat berperspektif Feminis menuliskan hal serupa juga terjadi di dunia filsafat. Filsafat yang tercatat dalam sejarah sejak zaman Yunani, hampir semua laki-laki. Dalam buku tersebut, ia menuliskan bahwa hal tersebut tidak berarti perempuan tidak berkualitas atau tidak mampu berfilsafat, melainkan sengaja dipinggirkan dari panggung filsafat melalui aturan main yang ada.

Bagaimana dengan peluang yang terbuka luas, misalnya di sektor ekonomi dan politik tadi? Jawabannya, hidup kita tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik. Demikian juga ketika seorang perempuan membuat keputusan untuk terlibat/tidak terlibat dalam satu kegiatan, misalnya memilih pekerjaan. Keputusannya tidak akan semata-mata ditentukan oleh faktor ekonomi dan peluang yang ada. Dalam melakukan pilihan aksi, seorang aktivis perempuan dipengaruhi oleh banyak hal. Sedikitnya ada tiga faktor yang memiliki pengaruh cukup besar bagi pengambilan keputusan seorang aktivis perempuan, yaitu: keluarga, budaya dan agama.

Keluarga
Entah itu nasib, takdir atau pilihan bebas, banyak perempuan yang mengutamakan keluarga di atas karirnya. Banyak sekali perempuan yang berhenti berkarir setelah menikah, sibuk dengan pekerjaan domestik dan melupakan perannya dalam kehidupan sosial. Karir mereka identik dengan sukses suami dan anak-anak mereka. Seringkali jika sang suami dan anak-anak gagal, perempuan yang disalahkan karena dianggap tidak becus sebagai istri dan ibu.

Nilai inilah yang banyak menghantui banyak perempuan, ketika mereka harus mengambil pilihan-pilihan hidup, misalnya pekerjaan. Yang paling menjadi pertimbangan seringkali adalah apakah pekerjaan ini cocok untuk kehidupan anak-anak dan suami mereka, dan bukannya apakah pekerjaan ini cocok untuk mereka. Hidup mereka berpusat pada suami dan anak-anak, dan bukannya pada panggilan mereka sendiri.

Sangat bagus, jika ada perempuan yang akhirnya dapat mengkombinasikan pilihan hidupnya dengan kepentingan suami dan anak-anaknya. Membagi hidup secara seimbang antara karir dengan keluarganya. Sayangnya, sangat sedikit perempuan yang dapat hidup dengan cara ini.

Budaya
Budaya merupakan faktor kedua yang mempengaruhi keputusan seorang perempuan. Kalaupun keluarga intinya (suami dan anak-anak) mendukung pilihannya, belum tentu ia berani menghadapi cermin sosial yang berasal dari masyarakat yang lebih luas. Pertama, mungkin akan ada tekanan dari keluarga besar, ayah, ibu, mertua, nenek, kakek, paman, bibi dkk. Kedua, kalaupun keluarga besar sudah ok, masih ada tekanan dari tetangga/masyarakat tempat tinggal/kerja nya.
Tekanan ini dapat dilancarkan dengan berbagai alasan, misalnya care, peduli atau sayang sampai takut tersaingi alias sirik. Meskipun tampaknya berbeda, sayangnya keduanya berujung sama, peminggiran perempuan dari pilihan hidup dan karyanya.

Agama
Agama merupakan faktor yang paling sulit dilawan dalam konstruksi sosial yang meminggirkan perempuan. Misalnya, ketika Megawati akan menjadi presiden, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa yang diangkat ke permukaan bukannya apakah ia sungguh-sungguh memiliki kapasitas sebagai presiden, tetapi jenis kelaminnya. Karena dalam agama Islam yang harus menjadi pemimpin adalah laki-laki.

Dalam banyak agama besar, hak untuk menjadi pemimpin dan mendalami agama masih didominasi oleh laki-laki. Gereja Katolik masih melarang perempuan menjadi imam. Demikian juga dengan agama Islam. Agama Budha di banyak negara juga menerapkan pola yang sama, yang menjadi biku adalah laki-laki.

Lalu apa yang harus dilakukan?
Lepas dari segala analisis yang rumit-rumit mengenai penyebab segala hal tersebut, perempuan tetap harus mengambil sikap. Sebagaimana juga laki-laki dan semua orang, perempuan paling berhak atas pilihan hidupnya, atas masa depannya, atas pilihan karirnya. Pilihan-pilihan itu hendaknya didasarkan pada potensi maksimal perannya sebagai bagian dari umat manusia, panggilan/perutusan uniknya untuk berkarya di dunia ini. Bukannya, ditentukan oleh keluarga, masyarakat atau bahkan agama.

Pertama-tama, ia harus menjernihkan dan mendengarkan suara hatinya, menemukan arah hidupnya, apa perannya sebagai manusia. Kedua, ia butuh keberanian untuk menghadapi cermin sosial. Berani berkata tidak, untuk sesuatu yang menghambat pelaksanaan visi dan misi hidupnya. Tentu saja ini sulit, apalagi pada tahap awal. Karena itu langkah ketiga menjadi penting, yaitu menemukan komunitas sevisi. Dalam komunitas sevisi, perempuan akan menemukan dukungan dalam bentuk persahabatan, sharing pengalaman, pengetahuan atau bahkan sekedar tempat curhat. Ini akan menguatkan perjalanan beratnya melaksanakan misi hidup. Yang terakhir dan terpenting adalah hidup dengan komitmen. Karena tanpa komitmen yang kuat segala cita-cita akan sia-sia. Komitmen juga berarti kesediaan menanggung resiko akibat pilihan-pilihan yang diambilnya, misalnya stereotipe dari masyarakat, konflik dengan keluarga dan bahkan mengorbankan hidupnya sendiri untuk cita-cita yang lebih besar.
(Any Sulistyowati)


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...