[RUMAH KAIL] PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP SELARAS ALAM DI RUMAH KAIL

Oleh : Any Sulistyowati

Bumi ini sangat kaya dengan sumber daya alam. Dari generasi ke generasi, manusia telah memanfaatkan alam untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Peningkatan jumlah penduduk telah meningkatkan kebutuhan akan konsumsi sumberdaya alam. Ketersediaan sumberdaya alampun semakin berkurang. Selain itu, sumberdaya yang ada pun kualitasnya makin lama makin berkurang.
Untuk beberapa jenis sumberdaya, jumlahnya sampai pada batas yang sangat mengkhawatirkan. Seperti yang dapat kita lihat untuk sumberdaya yang dapat diperbarui, misalnya kayu-kayu hutan atau ikan-ikan di laut. Pemberian izin untuk pembukaan kawasan hutan alam untuk perkebunan, pertambangan dan pemukiman telah menyebabkan pengurangan luas hutan secara makin cepat. Kayu-kayu di hutan ditebang habis. Penebangan kayu ini tidak hanya mengurangi stok kayu di alam, tetapi juga merusak seluruh ekosistem yang terkait pohon-pohon kayu tersebut. Dengan hilangnya pohon-pohon tersebut, rusaklah habitat berbagai makhluk hidup yang tinggal di sana. Dengan rusaknya habitat, hilang pula keanekaragamaan hayati yang sangat kaya yang semula memenuhi hutan alam tersebut. Demikian juga penangkapan ikan telah menguras stok ikan di laut sekaligus merusak terumbu karang tempat berkembang biaknya ikan-ikan tersebut.  
Kondisi serupa terjadi untuk sumberdaya yang tidak dapat diperbarui. Tambang-tambang telah mengambil begitu banyak mineral dari perut bumi. Kecepatan pengambilannya semakin cepat, sehingga menyebabkan pengurangan ketersediaan sumberdaya  secara besar-besaran serta berbagai kerusakan yang parah pada ekosistem di sekitarnya.
Di sisi lain, konsumsi sumberdaya juga menghasilkan banyak sekali limbah, baik dari sisi jumlah dan ragamnya. Limbah-limbah tersebut tidak mampu lagi diurai oleh alam serta menimbulkan berbagai masalah seperti keracunan dan penurunan kualitas sumberdaya alam. Limbah-limbah ini merupakan buah dari gaya hidup modern yang penuh kemasan, mencari kemudahan dengan produk sekali pakai, serta nafsu berbelanja untuk mengejar tren terbaru.  
Pola hidup di atas telah menyebabkan eksploitasi alam yang masif serta kerusakan-kerusakan alam yang kian parah dalam skala yang makin mengglobal. Krisis tersebut juga menghasilkan dampak-dampak negatif yang mengurangi kualitas hidup manusia. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk memulihkan kondisi alam agar sehat kembali. Perbaikan situasi ini akan membutuhkan kontribusi aktif semua pihak di berbagai tingkatan, baik secara individu maupun secara kolektif.
Menanggapi persoalan di atas, kami pun ingin berkontribusi dalam upaya pemulihan kondisi alam tersebut. Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip selaras alam sebanyak mungkin di dalam perancangan Rumah Kail dan pengelolaan kegiatan-kegiatan yang kami selenggarakan . Kami berharap inisiatif-inisiatif yang kami lakukan dapat memperlambat kerusakan alam sekaligus memperbaiki kualitas alam, minimal di lingkungan di sekitar kami.
Dalam perancangan Rumah Kail, kami memutuskan untuk tidak menggunakan kayu-kayu hutan yang baru. Kami lebih memilih untuk menggunakan kayu-kayu bekas yang kami dapatkan dari tukang loak. Kami juga menggunakan rumah bekas yang dijual pemiliknya karena hampir roboh. Kayu-kayu rumah itu kami pilih bagian yang masih bagus, dikerok lagi dari kotoran-kotoran yang menutupinya sehingga kelihatan warna dan tekstur kayu aslinya.

Rumah KAIL, sebagian besar material pendukungnya berasal dari bahan bekas (Dokumentasi KAIL)

Hampir semua bagian Rumah Kail menggunakan bahan bekas. Selain kayu bekas, kami juga menggunakan barang bekas seperti genteng, keramik untuk lantai, kloset sampai kaca untuk jendela dan pintu. Tantangan dalam penggunaan barang bekas untuk rumah adalah seringkali kami tidak bisa mendapatkan barang dengan corak, warna dan ukuran yang sama. Menjadi tantangan tersendiri untuk memadupadankannya sehingga tetap berfungsi baik dan cantik. Misalnya dalam kasus atap, karena gentengnya berbeda-beda ukurannya, kami perlu menghabiskan cukup banyak waktu untuk bongkar pasang agar tidak bocor. Demikian juga dengan keramik untuk lantai.
Untuk perabot, kami menggunakan kayu dari bekas peti kemas yang kami beli dengan harga murah sekali di pusat pembongkaran peti kemas. Peti-peti itu kemudian kami bongkar dan kami mendapatkan papan-papan dan balok-balok yang dapat digunakan untuk membuat meja, kursi dan lemari. Masalahnya kayu--kayu peti itu masih kasar, sehingga perlu diserut dulu sebelum dapat dijadikan perabot. Untuk itu, beberapa tukang lokal kami undang untuk menyerut dan membuat berbagai perabot di Rumah Kail. Selain perabot, kayu-kayu peti kemas ini juga diolah menjadi panel dinding dan pintu Rumah Kail.
Kami juga menanam banyak pohon di kebun Kail termasuk berbagai pohon kayu dan bambu untuk cadangan material apabila dibutuhkan perbaikan rumah atau perabot di masa yang akan datang. Saat ini ada beberapa tiang teras dan bangku-bangku taman menggunakan kayu-kayu yang kami panen dari kebun sendiri.

Pohon-pohon di kebun Rumah KAIL

Untuk menghemat listrik, Rumah Kail dirancang dengan banyak bukaan. Lewat bukaan tersebut, sinar matahari dapat masuk dan menerangi ruangan. Selain untuk mendapatkan cahaya, bukaan ini juga memungkinkan udara segar masuk ke ruangan. Dengan rancangan rumah semacam ini, kami dapat menghemat listrik untuk penerangan dan tidak memerlukan penyejuk udara.
Untuk mengoptimalkan penggunaan sumberdaya di Rumah Kail, kami merancang pemenuhan berbagai kebutuhan rumah mengikuti siklus materi dan energi yang ada. Sebagai contoh, kami memasang biodigester di toilet, yang mendaur ulang tinja-tinja dan sampah makanan yang dihasilkan para pengunjung Rumah Kail menjadi pupuk untuk kebun dan gas yang kami gunakan memasak. Hanya saja, karena jumlah pengunjung yang menginap masih sedikit, maka gas yang dihasilkan pun masih sedikit. Jadi kami masih memperlukan bahan bakar cadangan dari gas LPG.
Kami juga memanfaatkan siklus air dan siklus hasil kebun. Semua air limbah di Rumah Kail disalurkan ke kebun. Kami membuat sistem penampungan air hujan untuk menyirami kebun. Kebun-kebun itu akan menghasilkan makanan dan minuman yang kami konsumsi selama kegiatan. Sisa-sisa makanan itu kemudian kami kembalikan ke kebun, lewat bak kompos, rumah cacing, atau diberikan sebagai pakan bebek dan marmut, yang kemudian menghasilkan kotoran untuk dijadikan pupuk untuk kebun.
Pemanfaatan siklus di dalam perancangan rumah merupakan salah satu upaya mengubah limbah yang menimbulkan masalah menjadi sumberdaya yang memberikan manfaat untuk alam dan manusia. Dengan memanfaatkan siklus, diharapkan jumlah limbah yang mencemari alam dapat berkurang.
Selain lewat rancangan rumah, kami juga menerapkan prinsip yang sama untuk kegiatan-kegiatan Kail. Kami berusaha sedapat mungkin mengurangi jejak ekologis dari kegiatan kami, dengan cara:  (1) menyajikan sebanyak mungkin makanan lokal, terutama produk dari kebun Kail, (2) menghindari penggunaan makanan kemasan plastik, sebaliknya digunakan daun pisang, yang pada akhir kegiatan akan diletakkan di tempat pengomposan atau diberikan ke hewan peliharaan kami, yaitu untuk marmut dan bebek, (3) mempromosikan penggunaan transportasi umum dan penggunaan mobil bersama (nebeng) untuk semua peserta yang datang ke Rumah Kail; (4) mendaur ulang limbah dari acara Kail sebanyak mungkin seperti kertas dll; (6) menghemat penggunaan sumber daya, misalnya dengan mengurangi penggunaan kertas dengan menggunakan materi kegiatan versi elektronik, survei dan evaluasi online, serta sertifikat elektronik.

Kebun Kail merupakan salah satu sumber pangan langsung dari alam

Semua acara di Rumah Kail, (walaupun materinya bukan mengenai isu lingkungan) merupakan media untuk memperlihatkan pilihan-pilihan gaya hidup yang lebih selaras alam bagi para peserta. Kami berharap bahwa lewat Rumah Kail dan kegiatan-kegiatan Kail, kami dapat menunjukkan betapa mudah dan asyiknya hidup selaras alam.  Jadi ketika pulang dari Rumah Kail, semua akan berpikir, “Hidup selaras alam, mengapa tidak?”

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...